i
Penulisan Hukum (Skripsi)
Disusun dan Diajukan untuk
Melengkapi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Oleh:
HANAFI DWI ATMOJO NIM. E0008350
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
v
INTERNASIONAL DITINJAU DARI BAB V-VII PIAGAM PBB 1945. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tindakan DK PBB terkait dengan perannya dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara serta mengkaji kesesuaian tindakan DK PBB dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara Berdasarkan Bab V-VII Piagam PBB.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif bersifat preskriptif. Jenis data yang digunakan yaitu data sekunder. Sumber data sekunder yang digunakan mencakup bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan teknik studi pustaka dan data lain yang bersumber dari internet. Tindakan DK PBB dalam menangani krisis nuklir Korea Utara adalah melakukan penyelidikan, menganjurkan serta mendukung Six Party Talks, dan memberikan sanksi kepada Korea Utara dengan Resolusi 1698, 1718, dan 1874. Tindakan DK PBB tersebut berlandaskan pada Pasal 24 ayat (1) Bab V, Pasal 33 ayat (1) dan (2) Bab VI , Pasal 34 Bab VI, Pasal 39 Bab VII, 41 Bab VII Piagam PBB.
vi
OF VIEW. Faculty of Law Sebelas Maret University Surakarta
This study aims to identify and describe the action done by UN Security Council related to its role in dealing with the nuclear crisis in North Korea as well as assessing the suitability of the UN Security Council action in dealing with the nuclear crisis in North Korea with the provisions of Chapter V-VII of the UN Charter.
This research is prescriptive normative law. The type of data used is secondary data, which are consist primary legal materials, legal materials and secondary and tertiary legal materials. Data collection techniques used are library research techniques and other data sourced from the internet.
UN Security Council action in addressing the North Korean nuclear crisis are investigated, recomended and supported the Six Party Talks, and provide sanctions against North Korea with Resolution 1698, 1718, and 1874. UNSC action is based on Article 24 paragraph (1) Chapter V, Article 33 paragraph (1) and (2) Chapter VI, Article 34, Chapter VI, Article 39 of Chapter VII 41 Chapter VII of the UN Charter.
vii
(Septa fajar Adi Kusuma)
Nobody Perfect (Hanafi Dwi Atmojo)
Remember the force will be with you, always (Star Wars)
viii
Allah SWT yang memberi segala kenikmatan dan karunia-Nya, selalu memberi yang terbaik buat saya.
Ibuku Sulistyawati serta Ayahku Sulanji yang paling aku cintai, terima kasih doa, bimbingan, dan kasih sayangnya hingga saya bisa mewujudkan harapan meskipun tidak semuanya dapat saya penuhi, ucapan terima kasih tidak cukup untuk membalas segala yang telah diberikan kepadaku, semoga Allah SWT selalu memuliakan Bapak dan Ibu di dunia dan akhirat, Amin.
Kakakku Novandhi Setyawan dan Reni Widyowati serta Amirna Dewi Suryani, Shaquell Bhadrika Louvin.
Sahabat-sahabatku yang telah memberikan arti hidup ini dan selalu membuatku tersenyum.
ix
alam atas segala anugrah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum (skripsi) ini yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang ilmu hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, dengan judul : Peranan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara Yang berdampak terhadap stabilitas keamanan dunia internasional ditinjau dari Bab V-VII Piagam PBB 1945.
Penelitian hukum ini didasarkan pada kewenangan yang diberikan Piagam PBB kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) sebagai Organisasi Internasional yang mempunyai peran serta kewenangan untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional sesuai dengan prinsip-prinsip dan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk menyelidiki setiap sengketa atau perselisihan internasional, untuk merekomendasikan metode penyelesaian perselisihan sesuai ketentuan. Dalam menjalankan tugasnya DK PBB berwenang untuk menentukan adanya ancaman terhadap keamanan internasional, penyelidikan dan pengenaan sanksi kepada negara yang telah melakukan pelanggaran terhadap Keamanan Internasional serta melanggar prinsip-prinsip yang terdapat dalam Piagam PBB. Dalam melakukan tugasnya, khususnya dalam menangani krisis nuklir DK PBB dibantu oleh organisasi internasional yaitu Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Penulis menyadari bahwa penulisan hukum (skripsi) ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, motivasi, dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta, beserta seluruh Pembantu Rektor ;
2. Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, beserta seluruh Pembantu Dekan; juga selaku
x
memberi ijin dan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penulisan hukum ini sekaligus selaku dosen pembimbing pertama dengan segala kesabarannya yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penulisan hukum ini ;
4. Ayub Torry Satriyo Kusumo, S.H.,M.H, selaku dosen pembimbing kedua dengan segala kesabarannya yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penulisan hukum ini ;
5. Aminah,S.H.,M.H, selaku pembimbing akademik yang telah membimbing;
6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum UNS yang telah memberikan bekal ilmu selama masa perkuliahan yang akan sangat berguna ke depannya ; 7. Kedua orang tuaku Bapak Sulanji, S.Pd., Ibu Sulistyawati, S.Pd., kedua
kakak-kakakku Novandhi Setyawan, S.E., Reni Widyowati, S.ST., dan Keponakanku Shaquell Bhadrika Louvin yang selalu memberikan cinta, kasih sayang, doa, semangat, dukungan, kepercayaan dan segalanya dari jauh ;
8. Amirna Dewi suryani ;
9. Sahabat-sahabatku Dimas Yuda Asmara, Putut Eko Cahyono, Prasetyo Adi Nugroho, Septa Fajar, Erwan Adi, Tabah dan Mbak Damay ;
10. Sahabat seperjuangan dalam penulisan hukum (Skrips) Hukum Internasional Shelma Yusminar Hajar, Stefanus Donatumar, Mohammad Ali Potera Lesmana;
11. Sahabatku Astri Dyah Utami, Nityadin Pradinantia, Danny Saputra; Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulisan hukum (skripsi) ini langsung maupun tidak langsung.
xii
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv ABSTRAK ... v ABSTRACT ... vi MOTTO ...vii PERSEMBAHAN ... viii KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Metode Penelitian ... 6
F. Sistematika Penulisan Hukum ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori... 11
1. Tinjauan Umum Tentang Organisasi Internasional ... 11
a. Pengertian Organisasi Internasional ....……….. 11
b. Wewenang Organisasi Internasional ..………... 13
c. Prinsip-prinsip yang dianut dalam organisasi internasional ... 14
d. Klasifikasi Organisasi Internasional ….………... 15
e. Pendirian Organisasi Internasional ………..………….. 17
2. Tinjauan Umum tentang Perserikatan Bangsa Bangsa ...……….. 18
xiii
...………... 25
b. Isi dalam Mukadimah Piagam PBB ………...…..………….… 26
c. Kekuatan mengikat Piagam PBB dalam hukum internasional .. 26
4. Tinjauan umum tentang Dewan keamanan (DK) ... 27
a. Kewenangan Dewan Keamanan ... 28
b. Hak istimewa... 29
c. Sanksi Dewan Keamanan ... 29
d. Prosedur Pemungutan suara ... 30
5. Tinjauan umum tentang penyelesaian sengketa internasional ... 31
a. Pengertian sengketa internasional ... 31
b. Macam-macam sengketa internasional ... 32
c. macam-macam penyelesaian sengketa internasional ... 32
6. Tinjauan tentang nuklir ... 37
7. Tinjauan Umum Badan Tenaga atom Internasional (IAEA) ... 38
a. Sejarah berdirinya ... 38
b. Tugas IAEA ... 38
B. Kerangka Pemikiran ... 40
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 42
1. Gambaran dan kronologis mengenai krisis nuklir di Korea Utara .. 42
B. Pembahasan ………..…... 49
1. Tindakan yang dilakukan DK PBB terkait dengan perannya dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara ... 49
xiv
(Six Party Talks) ... 53 c. Penyelesaian di bawah DK PBB ... 71 2. Kesesuaian tindakan DK PBB dalam menangani krisis nuklir
di Korea Utara dengan ketentuan ynag tercantum dalam
Bab V-VII Piagam PBB ...…... 76
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan ………....………….. 85 B. Saran ………..…...……... 86 DAFTAR PUSTAKA ... 87 LAMPIRAN
xv
GAMBAR 1 : Kerangka Pemikiran ...…………..………….. 40 GAMBAR 2 : Peta lokasi pabrik pengolahan nuklir Korea Utara ... 44 GAMBAR 3 : Struktur Dewan Keamanan PBB ...77
DAFTAR TABEL
TABEL 1 : Kronologis krisis nuklir Korea Utara ... 46 TABEL 2 : Isi usulan Amerika Serikat ... 57
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keamanan merupakan cita-cita dari setiap negara di dunia. Perbedaan kepentingan suatu negara kadangkala akan menciptakan suatu sengketa antar negara, sengketa antar negara ini berpeluang merusak perdamaian. Untuk menjaga keamanan dan perdamaian maka dibentuklah sebuah organisasi internasional yang sifatnya permanen, yaitu Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tujuan utama dari PBB adalah untuk melindungi umat manusia dari bahaya ancaman perang, dan piagam PBB memuat ketentuan-ketentuan secara terperinci mengenai pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional (Sumaryo Suryokusumo, 1987:8). Pada umumnya, dalam melangsungkan hidup manusia memerlukan bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia harus bekerja sama, berdampingan, dan hidup dengan damai. Namun, kadang terjadi benturan kepentingan dalam mencapai tujuannya. Demikian pula halnya dengan negara yang ingin bekerja sama dengan negara lain, adakalanya, benturan kepentingan pun tidak dapat dihindari, oleh sebab itu dibentuk PBB.
Saat ini isu senjata nuklir dan krisis nuklir sedang menjadi perhatian masyarakat dunia internasional. Kekhawatiran negara-negara tentang penggunaan nuklir untuk pengembangan dan penggunaan senjata nuklir mendorong lahirnya traktat internasional di bidang persenjataan nuklir. Salah satu traktat internasional dalam bidang persenjataan nuklir adalah Treaty on the Non Proliferation of Nuclear Weapon (NPT) yang ditandatangani oleh para peserta perjanjian tanggal 1 Juli 1968 (Kemlu, http://www.kemlu.go.id/Pages/IIssueDisplay.aspx?IDP=16&l=id).
Pelaksanaan traktat NPT di awasi oleh Badan Tenaga Atom Internasional/ International Atomic Enegy Agency (IAEA) yang bertugas mengawal dan mengawasi terhadap semua peralatan, bahan-bahan dan
instalasi nuklir. Badan Tenaga Atom Internasional ini merupakan sebuah badan otonom di bawah kendali PBB (Anonim,http://www.bbc.co. uk/ indonesian/news/story/2005/10/printable/051007_elbaradeisw.shtml), dimana setiap tahun melaporkan tentang kegiatannya kepada Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB (DK PBB). Negara-negara peserta NPT mempunyai kewajiban untuk memberi akses bagi IAEA terhadap setiap program nuklir yang akan maupun tengah dijalankan sehingga diharapkan laporan IAEA tersebut dapat meyakinkan negara lain bahwa program nuklir negara peserta NPT hanya ditujukan untuk kepentingan damai, yakni untuk pembangkit energi listrik, bukan untuk pembuatan senjata nuklir.
Proliferasi senjata nuklir menjadi perdebatan internasional setelah adanya Traktat Non Proliferasi 1968. Proliferasi adalah pengembangan, pengembangan nuklir diperbolehkan untuk beberapa pengecualian seperti pengembangan energi dan pendidikan. Salah satu isu yang masih berkembang adalah program nuklir Korea Utara.
Senjata nuklir telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Semenanjung Korea selama lebih dari 50 tahun. Program nuklir Korea Utara dimulai oleh Kim Il Sung yang mencoba untuk meluncurkan program nuklirnya sendiri. Program nuklir Korea Utara dimulai pada tahun 1964-an di daerah Yongbyon dengan bantuan dari Uni Sovyet. Selama lebih dari dua dekade, antara tahun 1970-an dan 1980-an, Cina ikut membantu dan berperan serta di dalam program nuklir Korea Utara ini. Latar belakang pemimpin Korea Utara ini untuk mengembangkan senjata nuklir adalah dikarenakan pada saat Perang Korea pada tahun 1950-1953 yang pada saat itu musuh dari Korea Utara yaitu Korea Selatan mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat yang pada saat itu mempunyai Nuklir (Norris. http://www.thebulletin.org /article_nn.php?art_ofn=ma03norris ).
Program nuklir Korea Utara berkembang dan memunculkan kekhawatiran bagi dunia internasional. Kekhawatiran itu muncul dari reaktor grafit yang dibangun Korea Utara. Reaktor grafit tersebut memiliki teknologi memproduksi pembelahan plutonium. Hasil pembelahan plutonium dapat
digunakan sebagai bahan pembuatan persenjataan. Kekhawatiran masyarakat internasional berhasil diredakan untuk sementara ketika Korea Utara menandatangani Perjanjian Pelarangan Pengembangan Persenjataan Nuklir pada bulan Desember 1985 (cuming.http://www.mtholyoke.edu/acad/intrel/ cumings.htm).
Krisis nuklir di Semenanjung Korea bermula pada bulan Maret 1993 ketika Korea Utara mengumumkan pengunduran dirinya dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Pada bulan Juni 1994, Korea Utara setuju untuk menunda pengunduran dirinya dari NPT setelah mengadakan pembicaraan dengan perwakilan dari pihak Amerika Serikat. Namun, akhirnya Korea Utara mengumumkan pengunduran dirinya dari NPT pada 10 Januari 2003. Situasi semakin rumit ketika pada tanggal 4 Juli 2006 Korea Utara melakukan uji coba sedikitnya enam rudal, termasuk rudal jarak jauh Taepodong (Anonim.http://www.nautilus.org/0684KCNA.html).
Korea Utara kembali mengejutkan dunia dengan mengklaim bahwa mereka sukses melakukan uji coba nuklir bawah tanahnya Pada 9 Oktober 2006, Korea Utara berhasil melakukan uji coba nuklir pertamanya, yang diuji pada sebuah terowongan di pantai timur, dan ledakan yang terjadi menimbulkan gempa berkekuatan 4,2 Mb (body wave magnitude) yang langsung mendapatkan banyak protes dari negara tetangga terdekatnya, yaitu Korea Selatan dan Jepang (Anonim. http://www .nautilus. org/0684KCNA .html).
Uji coba ini merupakan ancaman terhadap stabilitas regional dan mengancam stabilitas keamanan dunia internasional, serta melanggar kehendak DK-PBB. Pada saat itu, Korea telah mendapat kecaman keras dari masyarakat internasional dan PBB, untuk segera menghentikan program nuklirnya dan secara damai kembali dalam NPT. Tahun 2008 Korea Utara mau menuruti kehendak masyarakat internasional untuk menghentikan uji coba senjata nuklirnya. Belum satu tahun, pada Mei 2009 Korea Utara meluncurkan rudal diatas Jepang yang diklaim sebagai rudal pengecek cuaca (virgiany,http://witnyvirgiany .blogspot.com2009/10/
implikasi-perkembangan-senjata-nuklir.html). Peluncuran rudal ini menjadi penyebab kemarahan dunia internasional terhadap Korea Utara, karena dengan nyata telah menunjukkan adanya ancaman terhadap perdamaian negara lain. Oleh karena itu, mereka meminta kepada DK PBB agar Korea Utara dijatuhkan sanksi berdasarkan Bab VII (Tujuh) dari Piagam PBB yang mengatur mengenai ancaman terhadap ketentraman dan tindakan untuk melakukan agresi, maka ditetapkan sanksi embargo kepada Korea Utara. Perwakilan Energi Atom Internasional melaporkan bahwa uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara telah mengancam rezim anti pengembangan bahan nuklir dan juga telah menciptakan konflik keamanan yang cukup serius, tidak hanya pada kawasan Asia Timur tetapi juga untuk seluruh masyarakat Internasional (Anonim,http://kanakini.blogspot.com/2011/12/dilematis-nuklir-korea
utara.html).
Saat ini krisis nuklir di Korea Utara sedang ditangani oleh PBB. PBB merupakan organisasi internasional yang salah satu tujuan utamanya adalah menciptakan perdamaian dan keamanan internasional sesuai dengan Pasal 1 Piagam PBB 1945 (Huala Adolf, 2004:95). Ada ketentuan yang harus dipatuhi oleh DK PBB dalam melaksanakan tugasnya agar permasalahan tidak berkembang menjadi suatu konflik yang semakin serius. Ketentuan tersebut tercantum dalam Piagam PBB 1945 Bab V, bab VI, dan bab VII. Dalam Bab V Pasal 24 dijelaskan mengenai fungsi dan kekuasaan dari DK PBB, dalam Bab VI mengatur mengenai penyelesaian pertikaian secara damai, dan dalam Bab VII mengatur tindakan-tindakan yang berkaitan dengan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan. Instrumen hukum tersebut merupakan acuan dan dasar hukum yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh DK PBB dalam menangani krisis nuklir Korea Utara dan menyelesaikan sengketa internasional.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis mengadakan penelitian terhadap peran DK PBB dalam menangani krisis nuklir Korea Utara dalam skripsi yang berjudul PERANAN DEWAN KEAMANAN PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA ( DK PBB ) DALAM MENANGANI KRISIS NUKLIR DI KOREA UTARA YANG BERDAMPAK TERHADAP STABILITAS KEAMANAN DUNIA INTERNASIONAL DITINJAU DARI BAB V-VII PIAGAM PBB 1945
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Tindakan apa yang dilakukan DK PBB terkait dengan perannya dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara ?
2. Apakah tindakan DK PBB dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara sudah sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Bab V- VII Piagam PBB ?
C. Tujuan Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilakukan oleh penulis agar dapat menyajikan data akurat sehingga dapat memberi manfaat dan mampu menyelesaikan masalah. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian mempunyai tujuan obyektif dan tujuan subyektif sebagai berikut:
1. Tujuan Obyektif
a. Untuk mendeskripsikan tindakan apa yang dilakukan DK PBB terkait dengan perannya dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara.
b. Untuk mengkaji kesesuaian tindakan DK PBB dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara dengan ketentuan yang tercantum dalam Bab V-VII Piagam PBB.
2. Tujuan Subyektif
a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam bidang hukum internasional khususnya mengenai peran DK PBB dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara yang berdampak terhadap stabilitas keamanan dunia internasional ditinjau dari Bab V-VII Piagam PBB.
b. Memenuhi persyaratan akademis guna memperoleh gelar S1 dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
Penulis berharap bahwa kegiatan penelitian dalam penulisan hukum ini akan bermanfaat bagi penulis maupun orang lain. Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan hukum ini antara lain:
1. Manfaat teoritis
a. Memberikan sumbangan pemikiran dan menambah khasanah pustaka kajian Hukum Internasional pada umumnya dan Hukum Organsisasi Internasional pada khususnya.
b. Menambah informasi semua pihak mengenai perkembangan krisis nuklir di Korea Utara dan peran DK PBB.
c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukannya.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti.
b. Untuk mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir ilmiah sekaligus untuk mengetahui kemampuan penulis dalam menerapkan ilmu yang diperoleh.
E. Metode Penelitian
Penelitian hukum dimulai dengan melakukan penelusuran bahan hukum sebagai dasar untuk membuat suatu keputusan hukum terhadap kasus-kasus hukum yang konkret. Pada sisi lainnya, penelitian hukum juga merupakan kegiatan ilmiah untuk memberikan refleksi dan penilaian terhadap
keputusan-keputusan hukum yang telah dibuat terhadap kasus-kasus hukum yang pernah terjadi atau akan terjadi (Johny Ibrahim, 2006:299). Metode penelitian Skripsi ini adalah :
1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Metode penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya. Logika keilmuan yang ajeg dalam penelitian hukum normatif dibangun berdasarkan disiplin ilmiah dan cara-cara kerja ilmu hukum normatif, yaitu ilmu hukum yang objeknya hukumnya itu sendiri (Johny Ibrahim, 2006:57). Sebagai konsekuensi pemilihan topik permasalahan hukum, maka tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif, yakni penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau norma-norma dalam hukum positif (Johny Ibrahim, 2006:295).
2. Sifat Penelitian
Ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif dan terapan (Peter Mahmud Marzuki, 2009:22). Ilmu hukum yang bersifat preskriptif berarti ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan, ilmu hukum menetapkan standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam aturan hukum. Sifat preskriptif dari penelitian ini yaitu penulis mempelajari konsep hukum mengenai peran DK PBB, kemudian menelaah peran DK PBB dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara serta kesesuaian tindakan yang dilakukan DK PBB terhadap Piagam PBB.
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang akan digunakan adalah pendekatan perundang-undang. Suatu penelitian hukum normatif tentu harus menggunakan pendekatan perundang-undangan karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral
suatu penelitian (Johny Ibrahim, 2006:32). Dalam penelitian ini, pendekatan perundang-undangan dilakukan terhadap instrumen internasional yang mengatur peran serta tugas DK PBB.
4. Jenis dan sumber bahan hukum
Dalam penelitian hukum tidak mengenal adanya data (Peter Mahmud Marzuki, 2009:141), yang ada dalam penelitian hukum adalah bahan hukum. Bahan hukum terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yakni bahan hukum yang terdiri atas peraturan perundang-undangan berdasarkan hierarkinya. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks yang ditulis oleh para ahli hukum yang berpengaruh, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum, yurisprudensi, dan hasil-hasil simposium mutakhir yang berkaitan dengan topik penelitian. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kasus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain (Johny Ibrahim, 2006:295).
Bahan hukum primer yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Piagam PBB 1945;
b. Treaty on the Non Proliferation of Nuclear Weapon (NPT);
c. Resolusi 1695 tentang pelarangan pengiriman barang-barang yang berkaitan dengan rudal dari Korea Utara;
d. Resolusi DK PBB 1718 tentang penjatuhan sanksi keuangan dan senjata terhadap Korea Utara;
e. Resolusi DK PBB 1874 tentang penjatuhan sanksi kepada Korea Utara.
Bahan hukum sekunder yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku tentang Hukum Organisasi Internasional, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Hukum Internasional, Jurnal-jurnal, Majalah, Pendapat para ahli, yang terangkum dalam makalah-makalah.
Bahan hukum tersier yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Kamus, dan data-data lain yang bersumber dari internet.
5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Teknik pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik studi pustaka. Pengumpulan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier diinventarisasi dan diklasifikasi dengan menyesuaikan masalah yang dibahas. Bahan hukum yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dipaparkan, disistemisasi, kemudian dianalisis untuk menginterpresentasikan hukum yang berlaku (Johny Ibrahim, 2006:296).
6. Teknik Analisis Bahan Hukum
Teknik analisis yang digunakan adalah metode penalaran hukum. Metode penalaran hukum adalah kegiatan penalaran ilmiah terhadap bahan-bahan hukum yang dianalisis dapat menggunakan penalaran deduksi, induksi, dan abduksi. Teknis analisis bahan hukum yang digunakan penulis ini adalah dengan metode deduktif, yaitu cara berpikir berpangkal pada prinsip-prinsip dasar. Kemudian Penelitian menghadirkan objek yang akan diteliti yang akan digunakan untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus. Cara pengolahan bahan hukum dilakukan secara deduktif yakni menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan konkret yang dihadapi (Johny Ibrahim, 2006:393). Penulis menganalisis permasalahan yang bersifat umum yaitu krisis nuklir Korea Utara, kemudian penulis menghadirkan objek yang diteliti yakni peran Dewan Keamanan PBB dan terakhir adalah fakta yang bersifat khusus yakni tindakan Dewan Keamanan PBB dalam menangani krisis Nuklir Korea Utara serta kesesuaian tindakan Dewan Keamanan PBB dengan Piagam PBB.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penulisan hukum serta untuk mempermudah pemahaman mengenai seluruh isi penulisan hukum ini,
maka peneliti menjabarkan dalam bentuk sistematika penulisan hukum yang terdiri dari 4 (empat) bab dimana tiap-tiap bab terbagi kedalam sub-sub bagian yang dimaksud untuk memudahkan pemahaman mengenai seluruh isi penulisan hukum ini. Sistematika penulisan hukum ini terdiri dari pendahuluan, tinjauan pustaka, pembahasan, dan penutup. Adapun sistematika penulisan hukum ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan latar belakang permasalahan dari topik dan permasalahan yang diangkat didalam penulisan hukum, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan hukum.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab tinjauan pustaka penulisan hukum ini, penulis membagi bab tinjauan pustaka menjadi dua sub-bab yaitu kerangka teori dan kerangka pemikiran. Kerangka teori terdiri dari teori-teori yang relevan dengan penelitian hukum ini yaitu : tinjauan umum mengenai Hukum Organisasi Internasional, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Perserikatan Bangsa-bangsa, Piagam PBB, Dewan Keamanan PBB, Ketenagaan nuklir. BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berisi uraian mengenai hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh dari proses penelitian. Berdasarkan rumusan masalah yang dibahas dalam bab ini yaitu tindakan apa yang dilakukan DK PBB terkait dengan perannya dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara serta kesesuaian tindakan DK PBB dalam menangani krisis nuklir di Korea Utara dengan ketentuan yang tercantum dalam Bab V- VII Piagam PBB.
BAB IV PENUTUP
Berisi uraian mengenai kesimpulan yang diperoleh dari hasil pembahasan dan proses meneliti, serta saran-saran yang dapat penulis kemukakan kepada para pihak yang terkait.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori1. Tinjauan Umum Tentang Organisasi Internasional a. Pengertian Organisasi Internasional
Organisasi internasional diperlukan dalam rangka kerjasama dan mencari kompromi untuk meningkatkan kesejahteraan serta memecahkan persoalan bersama serta mengurangi pertikaian yang timbul. Organisasi internasional juga diperlukan dalam menjajagi sikap bersama dan mengadakan hubungan dengan negara lain. Dapat dicatat bahwa ciri organisasi internasional yang mencolok ialah merupakan suatu organisasi yang permanen untuk melanjutkan fungsinya yang telah ditetapkan. Organisasi itu mempunyai instrumen dasar (constituent instrument) yang akan memuat prinsip-prinsip dan tujuan, struktur maupun cara organisasi itu bekerja. Organsisasi Internasional adalah suatu organisasi yang dibentuk dengan perjanjian internasional oleh dua negara atau lebih berisi fungsi, tujuan, kewenangan, asas, struktur organisasi (Sefriani, 2011:142).
Organisasi internasional dibentuk berdasarkan perjanjian, dan biasanya agar dapat melindungi kedaulatan negara, organisasi itu mengadakan kegiatannya sesuai dengan persetujuan atau rekomendasi serta kerjasama, dan bukan semata-mata bahwa kegiatan itu haruslah dipaksakan atau dilaksanakan (Sumaryo Suryokusumo, 1990:10). Pada intinya organisasi internasional adalah sebuah lembaga yang dibentuk berdasar perjanjian dan menjalin kerjasama antar negara. Organisasi internasional juga berisi fungsi, tujuan, kewenangan, asas, dan struktur dari organisasi itu sendiri. Organisasi internasional tidak semata-mata untuk dipaksakan.
Adapun pengertian organisasi internasional menurut para ahli, sebagai berikut
1) Bowet D.W
Tidak ada suatu batasan mengenai organisasi publik internasional yang dapat diterima secara umum. Pada umumnya organisasi ini merupakan organisasi permanen yang didirikan berdasarkan perjanjian internasional yang kebanyakan merupakan perjanjian multilateral daripada perjanjian bilateral yang disertai beberapa kriteria tertentu mengenai tujuannya (Ade Maman Suherman, 2003:46).
2) Starke
Starke hanya membandingkan fungsi, hak dan kewajiban serta wewenang dari lembaga internasional dengan negara yang modern, starke berpendapat “In the first place, just as the function of the modern state and the rights, duties and powers of its instrumentalities are governed by a branch of municipal law called state constitutional law, so international institution are similiarly conditioned by a body of rules may will be described as international constitutional law”(Ade Maman Suherman, 2003:46).
3) Sri Setianingsih Suwardi
Organisasi internasional merupakan wadah negara-negara dalam menjalankan tugas bersama, baik dalam bentuk kerjasama yang sifatnya koordinatif maupun subordinatif (Sri Setianingsih Suwardi, 2004:5).
4) Boer Mauna
Boer Mauna sendiri dalam bukunya ―Hukum Internasional; pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Era Dinamika Global‖ membahas mengenai pengertian organisasi internasional menurut pasal 2(1) Konvensi Wina 1969 tentang perjanjian internasional, yang mana dalam pasal itu disebutkan bahwa organisasi internasional adalah organisasi antar pemerintah. Menurut Boer Mauna, definisi yang diberikan konvensi ini sangat semnpit karena hanya membatasi diri pada hubungan antar pemerintah. Menurutnya, definisi ini mendapat tantangan dari para penganut definisi yang luas termasuk NGO‘s (Boer Mauna, 2000:419). 5) T. May Rudy
T.May Rudy berpendapat bahwa secara sederhana organisasi internasional dapat didefinisikan sebagai “Any Cooperative arrangement instituted among states, usually by a basic agreement, to perform some mutually advantageous function
implemented through periodic meetings and staff activities”. (Pengaturan bentuk kerjasama internasional yang melembaga antara negara-negara, umumnya berlandaskan suatu persetujuan dasar, untuk melaksanakan fungsi-fungsi yang memberi manfaat timbal balik yang diejawantahkan melalui pertemuan-pertemuan serta kegiatan-kegiatan staf secara berkala (T.May Rudy, 2002:93-94).
6) Vik Kanwar
International organizations are usually created by treaties or other ordinary means of international law-making, but at times they also gain autonomy in their ability to interpret, make, and over-rule existing international law. (Organisasi-organisasi internasional biasanya dibuat oleh perjanjian biasa atau undang-undang internasional yang dibuat secara biasa, tetapi pada waktu mereka juga mendapatkan otonomi mereka di kemampuan mereka untuk menafsirkan, membuat, dan lebih-aturan hukum internasional yang ada) (Vik Kanwar, 2009:171)
7) Chistiane Ahlborn
An international organization is the result of the freedom of contract of States, which allows them to create new legal persons. It is therefore not only the international agreement perse that defines an international organization, but also the fact that it is created by States or othersubjects of international law, more broadly speaking. (Sebuah organisasi internasional adalah hasil dari kebebasan berkontrak Negara, yang memungkinkan mereka untuk menciptakan badan hukum baru. Oleh karena itu tidak hanya perjanjian internasional yang menetapkan organisasi internasional, tetapi juga fakta bahwa itu dibuat oleh Negara atau subyek hukum internasional, yang lebih luas berbicara) (Christine Ahlborn, 2011:10).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi internasional ialah lembaga yang terdiri dari beberapa negara yang dibentuk dengan akta konstitutif dan sudah ditentukan segala hal yang terkait termasuk prinsip, dasar hukum, tujuan, dsb dalam anggaran dasar.
b. Wewenang organisasi internasional
Penentuan wewenang organisasi internasional merupakan campuran pengaturan hukum internasional dengan akta konstitutif. Pada dasarnya wewenang organisasi internasional dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu (Boer Mauna, 2000:440-444):
1) Wewenang Implisit
Kewenangan yang dimiliki untuk melakukan sesuatu walau tidak secara terang-terangan disebut dalam akta konstitutif, misalnya dengan mengijinkan organ tertentu membentuk organ-organ subsider yang dianggap perlu dalam pelaksanaan fungsinya. 2) Wewenang Normatif
Kewenangan yang dimiliki oleh organisasi internasional untuk membuat norma-norma seperti ketentuan hukum atau keuangan. 3) Wewenang Operasional
Kewenangan yang dimiliki organisasi internasional di luar wewenang normatif, seperti misalnya bantuan keuangan, bantuan ekonomi, bantuan militer, dan lain sebagainya.
4) Wewenang Pengawasan
Kewenangan yang dimiliki organisasi internasional untuk mengawasi anggota-anggotanya yang tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah disepakati sebelumnya.
5) Wewenang Sanksi
Kewenangan yang dimiliki organisasi internasional untuk memberikan sanksi atas setiap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh anggotanya. Tata cara pemberian dan jenis sanksi ini diatur dalam masing-masing akte konstitutif organisasi internasional.
c. Prinsip-prinsip yang dianut dalam organisasi internasional.
Agar diakui statusnya di dalam hukum internasional, organisasi internasional harus memenuhi 3 syarat, yaitu(Sumaryo Suryokusumo, 1997:131):
1) Adanya persetujuan internasional seperti instrumen pokok itu akan membuat prinsip-prinsip dan tujuan maupun cara organisasi itu bekerja;
2) Organisasi internasional haruslah mempunyai paling tidak satu badan;
3) Organisasi internasional haruslah dibentuk di bawah hukum internasional. Persetujuan internasional biasanya dilaksanakan di
bawah hukum internasional sesuai ketentuan-ketentuan dalam hukum perjanjian.
Di dalam praktik, prinsip keanggotaan suatu organisasi internasional tergantung pada maksud dan tujuan organisasi, fungsi yang akan dilaksanakan dan perkembangan apakah yang diharapkan dari organisasi internasional tersebut.
Prinsip keanggotaan dapat dibedakan antara prinsip universalitas dan terbatas (selective). Prinsip keanggotaan universalitas tidak membedakan sistem pemerintahan, ekonomi ataupun politik yang dianut oleh negara anggota. Sedangkan dalam prinsip terbatas (selective) menekankan syarat-syarat tertentu bagi keanggotaan. Syarat tersebut adalah sebagai berikut (Sri Setianingsih Suwardi, 2004:46-47):
1) Keanggotaan yang didasarkan pada kedekatan letak geografis. 2) Keanggotaan yang didasarkan pada kepentingan yang akan
dicapai.
3) Keanggotaan yang didasarkan pada sistem pemerintahan tertentu atau pada sistem ekonomi.
4) Keanggotaan yang didasarkan pada persamaan kebudayaan, agama, etnis, dan pengalaman sejarah.
5) Keanggotaan yang didasarkan pada penerapan hak-hak asasi manusia.
d. Klasifikasi Organisasi Internasional
Ada berbagai macam pendapat para ahli mengenai klasifikasi organisasi internasional, diantaranya yaitu pendapat dari (Ade Maman Suherman, 2003:54) :
1) Schemers
Beliau memberikan klasifikasi Organiasi Internasional sebagai berikut :
a) Organiasi Internasional publik: sebuah organisasi yang didirikan berdasarkan perjanjian antar negara, dengan syarat bahwa organisasi tersebut harus didirikan berdasarkan Hukum Internasional;
b) Organisasi Privat Internasional: Organisasi ini didirikan berdasarkan hukum internasional privat yang dalam hal ini sudah masuk dalan yurisdiksi hukum nasional yang membidangi masalah privat da tunduk pada hukum nasional suatu negara;
c) Organisasi yang berkarakter universal: Organisasi ini berkarakteristik universalitas, ultimate necessity dan heteroginity;
d) Organisasi Internasional tertutup: bahwa persekutuan tidak akan menerima keanggotaan selain dari grupnya atau komunitasnya secara terbatas;
e) Organisasi Antar Pemerintah: Schemers membatasi pada organisasi antar pemerintah terbatas pada organ tertentu, yakni eksekutif;
f) Organisasi Supranasional: merupakan organisasi kerjasama baik dalam bidang legislasi, yudikasi, dan eksekutif bahkan sampai pada level warga negara;
g) Organisasi Fungsional: sering disebut dengan organisasi teknis yang memiliki kekhususan dalam bidang fungsi spesifik dari suatu organisasi;
h) Organisasi Umum; sering disebut dengan political organization.
2) Bowet
Beliau mengklasifikasikan Organisasi Internasional berdasarkan: a) Fungsi; organisasi politik, organisasi administrasi,
organisasi-organisasi yang mempunyai kompetensi luas dan organisasi-organisasi yang mempunyia kompetensi terbatas; b) Sifat: global dan regional;
c) Perjanjian: antar negara dan antar pemerintah dan non pemerintah;
d) Kewenangan: memepunyai kewenangan supranasional dan tidak mempunyai kewenangan supranasional.
3) Sri Setianingsih Suwardi
Sri Setianingsih menyatakan bahwa organisasi internasional dapat diklasifikasikan menurut beberapa cara sesuai dengan kebutuhan atau menurut cara peninjauan organisasi tersebut, yaitu sebagai berikut (Sri Setianingsih Suwardi, 2004:21):
a) Klasifikasi yang didasarkan antara organisasi internasional permanen dan tidak permanen;
b) Klasifikasi didasarkan pada organisasi internasional publik dan privat;
c) Klasifikasi yang didasarkan pada keanggotaannya, organisasi universal, dan organisasi tertutup;
d) Organisasi internasional yang didasarkan pada sifat organisasi, yaitu supransasional;
e. Pendirian Organisasi internasional
Suatu Prasyarat untuk berdirinya suatu organisasi internasional adalah adanya keinginan untuk bekerjasama yang jelas-jelas kerjasama internasional tersebut akan bermanfaat dalam bidangnya dengan syarat organisasi tidak melanggar kekuasaan dan kedaulatan negara suatu anggota (Ade Maman Suherman, 2003:61). Suatu organisasi internasional baru ada bila negara-negara menghendakinya dan kehendak tersebut dirumuskan dalam suatu perjanjian internasional. Bila negara sepakat untuk mendirikan suatu organisasi internasional maka kesepakatan tersebut dirumuskan dalam suatu instrumen yuridik. Instrumen yuridik tersebut dinamakan akta konstitutif(Boer Mauna, 2000:423). Dapat dipastikan suatu organisasi internasioanl mempunyai anggaran dasar atau akta konstitutif sebagai landasan bekerjanya organisasi internasional tersebut (Sri Setianingsih Suwardi, 2004:183).
Akta konstitutif dapat berasal dari suatu perjanjian internasional yang baru atau perjanjian internasional yang merubah perjanjian sebelumnya dengan sekaligus merubah personalitas yuridiknya. Dalam hal kedua, prosedur yang dipakai adalah prosedur revisi yang tercantum dalam perjanjian sebelumnya. Dalam hal pertama, prosedur pembuatan adalah prosedur yang biasanya berlaku bagi pembuatan perjanjian-perjanjian multilateral dalam kerangka suatu konferensi internasional (Boer Mauna, 2000:424).
Ade Maman Suherman memberikan rincian tentang persyaratan organisasi sebagai berikut (Ade Maman Suherman, 2003:62) :
1) Dibuat oleh negara sebagai para pihak;
2) Berdasarkan perjanjian tertulis dalam satu, dua, atau lebih instrumen;
3) Untuk tujuan tertentu; 4) Dilengkapi dengan organ;
5) Berdasarkan Hukum Internasional.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa suatu prasyarat untuk berdirinya suatu organisasi internasional adalah adanya keinginan untuk bekerjasama dari masing masing negara. Bila negara sepakat untuk mendirikan suatu organisasi internasional maka kesepakatan tersebut dirumuskan dalam suatu instrumen yuridik yang disebut akta konstitutif. Akta konstitutif dapat berasal dari suatu perjanjian internasional yang baru atau perjanjian internasional yang merubah perjanjian sebelumnya.
2. Tinjauan Umum Tentang Perserikatan Bangsa-Bangsa a. Sejarah berdirinya PBB
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan organisasi internasional yang paling besar selama ini dalam sejarah pertumbuhan kerjasama semua bangsa di dunia di dalam berbagai sektor kehidupan internasional. Organisasi ini telah meletakkan kerangka konstitusionalnya melalui suatu instrumen pokok berupa piagam dengan tekad semua anggotanya untuk menghindari terulangnya ancaman perang dunia yang pernah terjadi dua kali. Disamping itu Piagam PBB juga telah meletakkan tujuan dan prinsip yang mulia dalam rangka memelihara perdamaian dan keamanan internasional, meningkatkan hubungan bersahabat dan mencapai kerjasama internasional disemua bidang, termasuk adanya kewajiban-kewajiban internasional semua negara untuk (Sumaryo Suryokusumo, 1987:1) :
1) Menghormati persamaan kedaulatan bagi semua bangsa;
2) Tidak menggunakan ancaman atau kekerasan terhadap kemerdekaan, kedaulatan, dan keutuhan wilayah suatu negara; 3) tidak mencampuri urusan dalam negeri suatu negara;
The United Nations is an international organization founded in 1945 after the Second World War by 51 countries committed to maintaining international peace and security, developing friendly relations among nations and promoting social progress, better living standards and human rights (http://www.un.org/en/aboutun/ index.shtml), artinya bahwa PBB adalah sebuah organisasi internasional yang di dirikan pada tahun 1945 setelah Perang Dunia II oleh 51 negara yang berkomitmen untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional, mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa dan mempromosikan kemajuan sosial, standar hidup yang lebih baik dan hak asasi manusia. Peran dari PBB memang kompleks, hal ini terlihat dari banyaknya fungsi PBB.
Organisasi internasional seperti PBB dikategorikan sebagai organisasi yang memiliki peranan amat kompleks karena memiliki fungsi sebagai berikut (Mandalangi, 1986:56):
1) Berfungsi sebagai Yudisial, artinya bahwa PBB menjalankan fungsi yudisial melalui badan prinsipalnya yang terkenal yaitu the international Court of justice (ICJ), demikian pula melalui the Administrative tribunal of the ILO yang dibentuk berdasarkan Pasal 37 Konstitusi ILO serta melalui suatu badan kuasi-yudisial seperti the committee on freedom of Association yang bertindak sewaktu-waktu atas nama governing Body dari ILO;
2) Berfungsi sebagai legislatif atau administratif, dikatakan demikian karena PBB menjalankan fungsi legislatif atau administratif melalui resolusi-resolusi dan keputusan-keputusan yang diambil dalam sidang majelis umum; demikian pula melalui keputusan dan berbagai peraturan yang dibuat oleh Dewan Ekonomi Sosial (the economic and social council), melalui beraneka ragam konvensi (conventions), regulations dan
procedures yang dihasilkan dalam Internasional Labour Organization (ILO) dan lain-lain;
3) Berfungsi sebagai eksekutif atau politik, dikatakan demikian karena melalui badan-badan prinsipalnya (principal organs) seperti Majelis Umum (General Assembly) dan Dewan Keamanan (Security Council) dalam arti memelihara perdamaian dan keamanan internasional, melalui ―related agency‖ yang bukan badan-badan khusus seperti the international atomic energy agency (IAEA), bahkan seterusnya melalui ‗pasukan darurat PBB (United Nations Emergency Force) yang pernah bertugas misalnya di Korea, Congo, Cyprus, Timur Tengah dan sebagainya.
Berdirinya PBB diawali dengan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa mencegah Perang Dunia Ke-2. Kegagalan tersebut mendorong negara-negara sekutu pada tahun 1941 membentuk suatu organisasi publik negara-negara untuk mencapai suatu sistem kolektif yang dapat melindungi masyarakat internasional dari bencana perang. Organisasi tersebut diberi nama ―The United Nations‖ dan pada tahun 1943 Deklarasi Moskow mengakui perlunya mendirikan suatu organisasi internasional publik yang dapat bekerja dalam waktu segera, yang didasarkan atas prinsip persamaan kedaulatan dari seluruh negara cinta damai, besar maupun kecil, untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. Formulasi rencana pasti bagi PBB diperbaharui dalam beberapa tahap, di Teheran tahun 1943, di Dumbarton Oaks tahun 1944, di Yalta tahun 1945 dan akhirnya dalam Konferensi San Fransisco tanggal 25 April sampai 26 Juni tahun 1945 dimana 50 negara dengan dasar proposal Dumbarton Oaks yang dipersiapkan oleh empat negara sponsor bersama-sama menyusun Charter of The United Nations/Piagam PBB (Bowett, 1995:30). Piagam tersebut
dirancang atas usul oleh wakil-wakil dari Tiongkok, Perancis, Uni Sovyet, Inggris Raya, dan Amerika Serikat.
Dengan berdirinya PBB, maka muncul satu kerangka kerja untuk kerjasama internasional dalam satu skala yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah. Lima dasawarsa kemudian keanggotaan organisasi dunia tersebut telah menjadi tiga kali lipat. Untuk merayakan berdirinya PBB pada tahun 1945, hari PBB diperingati setiap tahun pada tanggal 24 Oktober, ketika piagam PBB telah diratifikasi oleh Tiongkok, Perancis, Uni Sovyet, Inggris Raya, Amerika Serikat dan negara-negara penting lainnya.
b. Dasar dan tujuan PBB
Tujuan utama PBB ada 4 yaitu;
1) To keep peace throughout the world (Untuk menjaga perdamaian di seluruh dunia);
2) To develop friendly relations among nations (Untuk mengembangkan hubungan persahabatan antar bangsa);
3) To help nations work together to improve the lives of poor people, to conquer hunger, disease and illiteracy, and to encourage respect for each other’s rights and freedoms(Untuk membantu negara-negara bekerja sama untuk meningkatkan kehidupan orang-orang miskin, untuk menaklukkan kelaparan, penyakit dan buta huruf, dan untuk mendorong rasa hormat terhadap hak-hak masing-masing dan kebebasan);
4) To be a centre for harmonizing the actions of nations to achieve these goals (Untuk menjadi pusat untuk harmonisasi tindakan negara-negara untuk mencapai tujuan bersama) (http://www.un.org/en/ aboutun/index.shtml).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peran dan tujuan utama PBB adalah pada dasarnya menjadi organisasi internasional yang bertujuan untuk kepentingan damai dan menjadi tempat untuk membangun kerjasama baik antar negara. Tujuan lainnya adalah
membantu negara yang sedang berkembang untuk membangun dibidang ekonomi,sosial,dan budaya.
Dasar dan tujuan PBB juga dipertegas dalam Pasal 1 Piagam PBB, yaitu:
1) Memelihara perdamaian dan keamanan internasional dan untuk tujuan itu diadakan tindakan-tindakan bersama yang tepat untuk mencegah dan melenyapkan ancaman-ancaman bagi perdamaian, dan meniadakan tindakan-tindakan penyerangan ataupun tindakan lainnya yang mengganggu perdamian, menyelesaikan sengketa dengan jalan damai, dan sesuai dengan asas-asas keadilan dan hukum internasional, mengatur atau menyelesaikan pertikaian-pertikaian internasional atau keadaan-keadaan yang dapat mengganggu perdamaian;
2) Memajukan hubungan persahabatan antara bangsa-bangsa berdasarkan penghargaan atas asas-asas persamaan hak dan hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri dan mengambil tindakan-tindakan lain yang tepat untuk memperteguh perdamaian dunia;
3) Mewujudkan kerjasama internasional dalam memecahkan persoalan-persoalan internasional di lapangan ekonomi, sosial, kebudayaan, atau yang bersifat kemanusiaan, dan berusaha serta menganjurkan adanya penghargaan terhadap hak-hak manusia dan kebebasan-kebebasan dasar bagi semua umat manusia tanpa membedakan bangsa, jenis, bahasa, atau agama; dan
4) Menjadi pusat bagi menyelaraskan segala tindakan-tindakan bangsa-bangsa dalam mencapai tujuan bersama tersebut.
c. Prinsip-Prinsip PBB dalam pemeliharaan perdamaian
Berkaitan dengan usaha-usaha pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, PBB telah meletakkan lima prinsip dalam Piagamnya, meliputi (Sumaryo Suryokusumo, 1987:8)
1) Prinsip menyelesaikan perselisihan internasional secara damai Pasal 2 ayat 3 jo Bab VI dan Bab IV Piagam PBB memberikan ketentuan-ketentuan mengenai langkah-langkah apa yang harus diikuti oleh negara, baik sebagai negara anggota PBB maupun bukan negara anggota PBB apabila terlibat di dalam suatu perselisihan. Apabila perselisihan itu sedemikian rupa tidak dapat diselesaikan, maka pihak yang bersengketa atau setiap
anggota PBB ataupun Sekjen PBB dapat membawa masalahnya kepada DK atau Majelis Umum PBB.
2) Prinsip untuk tidak menggunakan ancaman atau kekerasan
Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB meletakkan salah satu prinsip dasar PBB. Sebagai organisasi yang dibentuk untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional, keberhasilan PBB sangat tergantung dari sejauh mana para anggotanya menjunjung tinggi prinsip dasar tersebut dan sejauh mana pula badan-badannya berfungsi secara efektif dalam memikul tangung jawab untuk untuk mencapai tujuan itu.
3) Prinsip mengenai tanggung jawab untuk menentukan adanya ancaman
Pasal 39 Piagam PBB, dalam pengenaan sanksi-sanksi lebih selektif dan lebih bersifat politis, di mana Piagam menempatkan DK sebagai suatu badan politik. Ini tercermin di dalam tanggung jawabnya dalam menentukan, apakah sesuatu keadaan merupakan ancaman bagi perdamaian, pelanggaran perdamaian atau memang agresi, di mana DK akan menentukan langkah-langkah yang akan diambilnya.
4) Prinsip mengenai pengaturan persenjataan
Salah satu tanggung jawab yang diletakkan oleh piagam adalah bagaimana merumuskan rencana membuat suatu sistem untuk mengatur persenjataan yang dapat dipertimbangkan oleh para anggota PBB, dengan Komisi Staf Militer dalam rangka pemeliharaan perdamaain. Masalah persenjataan diangggap oleh penyusun piagam sebagai salah satu pendekatan subsider untuk pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional, hal ini diatur dalam pasal 26 Piagam PBB.
5) Prinsip umum mengenai kerjasama di bidang pemeliharaan dan kerjasama internasional
Bagian pokok dari kegiatan keseluruhan PBB di bidang perdamaian dan keamanan telah menimbulkan pengembangan terhadap prinsip-prinsip umum, aturan dan tata cara, hal ini diatur dalam pasal 11 ayat 1 Piagam PBB. Kegiatan tersebut merupakan tanggung jawab khusus dan sumbangan Majelis Umum PBB, yang menurut ketentuan piagam merupakan badan yang diberikan tanggung jawab untuk menangani prinsip-prinsip umum mengenai kerjasama di bidang pemeliharaan dan perdamaian internasional, meningkatkan kerjasama internasional di bidang politik, dan mendorong perkembangan kemajuan hukum internasional beserta kodifikasinya.
Dari kelima prinsip PBB dalam pemeliharaan damai tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa PBB lebih mengutamakan jalan damai dalam penyelesaian suatu sengketa atau masalah. Prinsip yang terlihat dalam upaya menjaga perdamaian adalah pada prinsip menyelesaikan perselisihan internasional secara damai dan prinsip untuk tidak menggunakan ancaman atau kekerasan.
3. Tinjauan Umum tentang Piagam PBB
Sebagaimana diketahui Piagam PBB lahir berdasarkan Konferensi San Francisco yang ditandatangani pada tanggal 26 Juni 1945. Dan baru secara resmi dinyatakan berlaku pada tanggal 24 Oktober 1945, setelah diratifikasi oleh negara-negara peserta konferensi tersebut. Ratifikasi adalah persetujuan dari dewan legislatif, karena setiap perjanjian internasional tidak begitu saja berlaku setelah ditandatangani negara peserta, tetapi juga membutuhkan persetujuan dari dewan legislatif negara yang bersangkutan (Anonim.http://www.ut.ac.id/ html/suplemen/ppkn4419/_private/Piagam%20PBB.htm).Dalam sejarah
kelahiran PBB ini, Konferensi San Francisco bukan merupakan satu-satunya peristiwa yang melatar belakangi lahirnya Piagam PBB.
a. Peristiwa penting yang melatarbelakangi lahirnya Piagam PBB antara lain :
1) Piagam Atlantik (Atlantic Charter) yang ditandatangani pada tanggal 14 Maret 1941. Ini dari isi piagam ini adalah hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiir (right of self determination) serta penolakan dan pencegahan terhadap segala macam cara kekerasan bagi penyelesaian suatu sengketa atau pertikaian internasional;
2) United Nations Declaration yang ditandatangani pada tanggal 1 Januari 1945 di Washington DC oleh 26 negara peserta. Isi Deklarasi ini pada intinya menyokong prinsip yang terdapat pada Atlantic Charter;
3) Konferensi Moskow, yang diadakan pada tanggal 19 sampai dengan 30 Oktober 1943. Konferensi ini membicarakan masalah peperangan, masalah Polandia dan masalah kerja sama setelah perang, juga membicarakan tentang organisasi dunia untuk perdamaian;
4) Konferensi Yalta, pada tanggal 4 sampai dengan 11 Pebruari 1945. Konferensi ini menyetujui untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut tentang masalah pembentuk organisasi perdamaian dunia (PBB) yang rencananya akan diadakan di Amerika pada bulan April 1945;
5) Konferensi San Francisco, diadakan pada tanggal 25 April 1945 sampai dengan 26 Juni 1945, menghasilkan piagam PBB (Anonim.http://www.ut.ac.id/html/suplemen/ppkn4419/_private/P iagam%20PBB.htm).
Piagam PBB ini memuat beberapa ketetapan mengenai hak-hak asasi manusia. Mukadimah Piagam tersebut berisi suatu tekad rakyat PBB untuk menyatakan kembali keyakinan pada hak asasi manusia,
pada martabat dan nilai manusia, pada persamaan hak antara pria dan wanita, dan antara negara besar dan negara kecil. Pasal 1 (3) dalam Piagam ini mencantumkan bahwa salah satu tujuan PBB adalah menggalakkan dan mendorong penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan asasi bagi semua orang tanpa membedakan jenis kelamin, ras bahasa atau agama (Anonim.http://www.ut.ac.id/ html/suplemen/ppkn4419/_private/Piagam%20PBB.htm).
b. Isi dalam Mukadimah Piagam PBB berisi antara lain (Sri Setianingsih Suwardi, 2004:265):
1) Bertekad meyelamatkan generasi yang akan datang dari kesengsaraan yang disebabkan perang;
2) Memperteguh kepercayaan pada hak-hak asasi manusia, pada harkat dan derajat manusia, persamaan hak bagi pria maupun wanita dan bagi segala bangsa besar maupun kecil;
3) Menegakkan keadaan di mana keadilan dan penghormatan terhadap kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian-perjanjian dan lain-lain sumber hukum internasional dapat terpelihara;
4) Meningkatkan kemajuan sosial dan memperbaiki tingkat kehidupan dalam alam kebebasan yang luas.
Jadi Piagam PBB adalah dasar hukum bagi PBB, Piagam PBB merupakan akta konstitutif yang di ratifikasi oleh para anggotanya. Ratifikasi adalah persetujuan dari dewan legislatif. Piagam PBB ini memuat beberapa ketetapan mengenai hak-hak asasi manusia. c. Kekuatan mengikat Piagam PBB dalam hukum internasional
Piagam PBB ini merupakan traktat multilateral, yakni penuangan kesadaran masyarakat internasional dalam memelihara perdamaian dan keamanan kolektif, maka Piagam ini secara hukum menciptakan kewajiban yang mengikat bagi semua negara anggota PBB. Piagam PBB merupakan perjanjian yang mempunyai
pengecualian, yakni perjanjian yang dapat mempunyai akibat pada negara ketiga tanpa persetujuan negara ketiga. Pengecualian ini terdapat dalam Pasal 2 (6) Piagam PBB yang antara lain menyatakan bahwa Organisasi ini harus memastikan bahwa negara-negara bukan anggota PBB bertindak sesuai dengan asas PBB sejauh mungkin bila dianggap perlu untuk perdamaian dan keamanan internasional. Jadi, negara bukan anggota PBB sepanjang mengenai perdamaian dan keamanan internasional harus bertindak sesuai dengan asas dari Piagam (Boer Mauna, 2000:144-145).
Implikasi dari perjanjian multilateral adalah timbulnya kewajiban yang dibebankan kepada negara-negara, baik sebagai peserta maupun bukan. Kewajiban yang dikenakan terhadap negara-negara peserta merupakan kewajiban yang dikenakan terhadap negara-negara peserta merupakan kewajiban yang mengikat sebagaimana yang dimiliki oleh suatu negara peserta terhadap traktat biasa. Sedangkan terhadap negara non-peserta traktat multilateral mengikat selama ketentuan-ketentuan yang ada mencerminkan hukum kebiasaan. Jadi, kewajiban yang muncul adalah disebabkan karena norma atau kewajiban tersebut berasal dari hukum yang sebelumnya terdapat dalam kebiasaan yang kemudian dimodifikasi dalam traktat multilateral (Jawahir Tontowi dan Pranoto Iskandar, 2006:60-61).
4. Tinjauan Umum tentang Dewan Keamanan PBB (DK PBB)
Dewan Keamanan PBB adalah badan pelaksana yang bertanggung jawab atas keamanan dan perdamaian dunia. Dewan Keamanan PBB juga mempunyai tanggung jawab untuk menentukan apakah suatu keadaan tertentu merupakan ancaman bagi perdamaian, pelanggaran terhadap perdamaian atau adanya agresi.
Anggota DK semula terdiri dari atas lima anggota tetap (Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, Cina) dan enam anggota
tidak tetap. Anggota tak tetap dipilih oleh Majelis Umum. Dengan amandemen yang mulai berlaku 31 Agustus tahun 1965, jumlah anggota DK diubah menjadi lima anggota tetap (Amerika Serikat, Uni Sovyet, Inggris, Perancis, Cina) dan sepuluh anggota tidak tetap. Jadi, sampai sekarang jumlah anggota DK seluruhnya ada 15 negara. Kewenangan Dewan Keamanan
1) to maintain international peace and security in accordance with the principles and purposes of the United Nations (untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional sesuai dengan prinsip-prinsip dan tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa); 2) to investigate any dispute or situation which mightlead to international friction (untuk menyelidiki setiap sengketa atau gesekan internasional);
3) to recommend methods of adjusting such disputes or the terms of settlement (untuk merekomendasikan metode penyelesaian perselisihan sesuai ketentuan);
4) to formulate plans for the establishment of a system to regulate armaments (untuk merumuskan rencana untuk pembentukan suatu sistem yang mengatur persenjataan);
5) to determine the existence of a threat to the peace or act of aggression and to recommend what action should be taken (untuk menentukan adanya ancaman terhadap perdamaian atau tindakan agresi dan merekomendasikan tindakan apa yang harus diambil);
6) to call on Members to apply economic sanctions and other measures not involving the use of force to prevent or stop aggression (memanggil anggota untuk menerapkan sanksi ekonomi dan tindakan lain yang tidak melibatkan penggunaan kekuatan untuk mencegah atau menghentikan agresi);
7) to take military action against an aggressor (untuk mengambil tindakan militer terhadap agresor);
8) to recommend the admission of new Members (untuk merekomendasikan penerimaan Anggota baru);
9) to exercise the trusteeship functions of the United Nations in "strategic areas" (untuk melaksanakan fungsi amanah tersebut Perserikatan Bangsa-Bangsa di "daerah strategis");
10) to recommend to the GeneralAssembly the appointment of the Secretary-General and, together with the Assembly, to elect the Judges of the International Court of Justice (untuk merekomendasikan kepada majelis Umum untuk pengangkatan Sekretaris Jenderal dan, bersama-sama dengan Majelis, untuk memilih Hakim Mahkamah Internasional).
(UN, http://www.un.org/Docs/sc/unsc_functions.html) a. Hak istimewa
Anggota tetap DK mempunyai hak istimewa, yaitu hak veto (hak menolak/membatalkan keputusan). Dalam sidang dewan kemanan berlaku ketentuan bahwa setiap anggota mempunyai satu suara. Keputusan diambil berdasarkan sekurang-kurangnya sembilan suara setuju dari 15 anggota. Untuk keputusan-keputusan yang penting berlaku pula ketentuan seperti tersebut di atas dengan catatan bahwa dari sembilan suara termasuk suara setuju kelima anggota tetap. Kalau salah satu dari kelima anggota tetap tidak setuju, maka keputusan tiak dapat dibuat. Hak kelima anggota tetap tersebut disebut hak veto. Bila salah satu anggota tetap bersikap abstain atau tidak memberikan suara, berarti tidak mendukung tetapi juga tidak menghalangi pelaksanaan keputusan DK dengan hak vetonya (Safril Djamain, 1993: 18).
b. Sanksi Dewan Keamanan
Sesuai dengan Bab VII piagam maka sanksi DK dikenakan kepada negara anggotanya dalam 3 hal : jika negara itu mengadakan tindakan yang dapat mengancam perdamaian, melanggar perdamaian atau melakukan suatu agresi terhadap negara lainnya. Tindakan yang
dilaksanaan dalam rangka pasal 34 untuk menyelesaikan sengketa antar negara adalah tidak diikat dengan sanksi. Sedangkan tindakan DK atas dasar VII dikenakan kepada negara yang melanggar prinsip-prinsip PBB yang langsung dapat mengancam perdamian dan jika tidaak dipatuhi dapat dikenakan sanksi ekonomi yang kemudian dapat diikuti dengan sanksi militer.
Sanksi ekonomi dilakukan tanpa menggunakan kekerasan militer yang tujuannya agar keputusan-keputusan dapat dipatuhi. DK dapat menyerukan kepada segenap anggota PBB untuk menentukan langkah-langkah yang menurut Pasal 41 Piagam PBB dirinci yaitu pemutusan hubungan ekonomi, komunikasi udara, laut, kereta api, radio, dan komunikasi lainnya yang dapat dilakukan baik sebagian maupun sekuruhnya serta untuk memutuskan hubungan diplomatik. Tujuan sanksi ekonomi tersebut adalah agar negara yang tidak mentaati keputusan DK itu tidak lagi dapat memperoleh kebutuhan-kebutuhan strategis sehingga negara itu tidak dapat berbuat apa-apa selain untuk mentaati keputusan DK. Sedangkan sanksi militer menurut pasal 42 yaitu DK dapat mengadakan tindakan militer melalui udara, laut, darat, mengadakan demonstrasi-demonstrasi, blokade.
c. Prosedur Pemungutan Suara
Prosedur pemungutan suara dikemukakan dalam pasal 27 Piagam PBB, yaitu :
1) Setiap anggota DK memiliki satu suara.
2) Keputusan-keputasan DK mengenai masalah-masalah prosedural harus ditetapkan dengan suara setuju dari 9 anggota.
3) Keputusan DK mengenai hal lainnya diputuskan dengan melalui suara setuju dari anggota termasuk suara bulat dari anggota-anggota tetap dengan ketentuan bahwa, dalam keputusan-keputusan berdasarkan Bab VI, dan menurut ayat 3 Pasal 52 pihak yang bersengketa tidak diperkenankan memberikan suara.
Keputusan DK PBB mempunyai kekuatan mengikat secara hukum (legally binding) berdasarkan Pasal 25 Piagam PBB, adapun bunyi Pasal tersebut adalah, ―Anggota-anggota Perserikatan
Bangsa-Bangsa menyetujui untuk menerima dan menjalankan keputusan-keputusan Dewan Keamanan sesuai dengan Piagam ini‖. Keputusan DK PBB mempunyai dampak bagi suatu negara yang terlibat konflik atau sengketa untuk mematuhi dan melaksanakannya sehingga bagi negara yang melanggar akan dikenakan sanksi sebagaimana yang telah diatur dalam Piagam PBB (Elfia Farida, 2004:131).
5. Tinjauan Umum Tentang Penyelesaian sengketa Internasional a. Pengertian Sengketa Internasional
Istilah sengketa-sengketa internasional (international disputes) mencakup bukan saja sengketa-sengketa antara negara-negara, melainkan juga kasus-kasus lain yang berada dalam lingkup pengaturan internasional, yakni beberapa kategori sengketa tertentu antara negara di satu pihak dan individu, badan-badan korporasi serta badan-badan bukan negara di pihak lain. Sengketa internasional memungkinkan terjadi bukan hanya negara dengan negara, tetapi bisa dengan antar subyek hukum internasional lainnya.
Sengketa internasional adalah sengketa yang bukan secara eksklusif merupakan urusan dalam negeri suatu negara. Sengketa internasional juga tidak hanya eksklusif menyangkut hubungan antarnegara saja mengingat subyek-subyek hukum internasional saat ini sudah mengalami perluasan sedemikian rupa melibatkan banyak aktor non negara (Sefriani, 2011:322). Perluasan dalam hal subyek hukum internasional akan menambah kompleksitas dalam sengketa internasional.
Menurut Mahkamah Internasional, sengketa internasional adalah suatu situasi ketika dua negara mempunyai pandangan yang bertentangan mengenai dilaksanakan atau tidaknya kewajiban-kewajiban yang terdapat dalam perjanjian (Huala Adolf, 2004: 2). Sengketa antar negara merupakan sengketa yang tidak dapat
mempengaruhi kehidupan internasional dan dapat pula merupakan sengketa yang mengancam perdamaian dan ketertiban internasional. b. Macam-macam sengketa internasional
Sengketa internasional ada dua macam, diantaranya : 1) Sengketa politik
Sengketa politik adalah sengketa ketika suatu negara mendasarkan tuntutan tidak atas pertimbangan yurisdiksi melainkan atas dasar politik atau kepentingan lainnya. Sengketa yang tidak bersifat hukum ini penyelesaiannya secara politik. Keputusan yang diambil dalam penyelesaian politik hanya berbentuk usul-usul yang tidak mengikat negara yang bersengketa. Usul tersebut tetap mengutamakan kedaulatan negara yang bersengketa dan tidak harus mendasarkan pada ketentuan hukum yang diambil.
2) Sengketa hukum
Sengketa hukum yaitu sengketa dimana suatu negara mendasarkan sengketa atau tuntutannya atas ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam suatu perjanjian atau yang telah diakui oleh hukum internasional. Keputusan yang diambil dalam penyelesaian sengketa secara hukum punya sifat yang memaksa kedaulatan negara yang bersengketa. Hal ini disebabkan keputusan yang diambil hanya berdasarkan atas prinsip-prinsip hukum internasional.
c. Macam-macam penyelesaian sengketa internasional
Secara garis besar penyelesaian sengketa menurut hukum internasional dan menurut Piagam PBB dapat digambarkan sebagai berikut :
1) Secara damai
Gagasan mengutamakan penyelesaian sengketa secara damai daripada penggunaan kekerasan sudah dimunculkan sejak lama sekali yaitu sejak jaman Yunani (Indira,