• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen dinding. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia, tidak berjamur.

2. Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori) sehingga dinding tidak menyimpan debu.

3. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.

4. Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk melancarkan arus aliran udara.

5. Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat, disarankan tidak punya (utuh), dan mudah dibersihkan.

6. Apabila dinding punya sambungan, seperti panel dengan bahan melamin (merupakan bahan anti bakteri dan tahan gores) atau insulated panel system maka sambungan antaranya harus di-seal dengan silikon anti bakteri sehingga memberikan dinding tanpa sambungan, mudah dibersihkan dan di pelihara.

15

7. Alternatif lain bahan dinding yaitu dinding sandwich galvanis, dua sisinya dicat dengan cat anti bakteri dan tahan terhadap bahan kimia, dengan sambungan antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan dinding tanpa sambungan.

8. Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas atau membentuk lapisan

Komponen langit-langit. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak bejamur serta anti bakteri.

2. Memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak menyimpan debu

3. Berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

4. Selain lampu operasi yang menggantung, langit-langit juga bisa dipergunakan untuk tempat pemasangan pendan bedah, dan bermacam gantungan seperti diffuser air conditioning dan lampu fluorescent.

5. Kebutuhan peralatan yang dipasang di langit-langit, sangat beragam.

Bagaimanapun perlatan yang digantung tidak boleh sistem geser, karena menyebabkan jatuhnya debu pengangkut mikroorganisme setaip kali digerakkan.

Pintu ruang operasi. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Pintu masuk ruang operasi atau pintu yang menghubungkan ruang induksi dan ruang operasi.

a) Disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang dapat dibuka tutup secara otomatis.

b) Pintu harus dibuat sedemikian rupa sehingga pintu dibuka dan ditutup dengan menggunakan sakelar injakan kaki atau siku tangan atau menggunakan sensor, namun dalam keadaan listrik penggerak pintu rusak, pintu dapat dibuka secara manual.

c) Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara pembedahan-pembedahan.

d) Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass)

e) Lebar pintu 1200 – 1500 mm, dari bahan panil dan dicat anti bakteri dan jamur dengan warna terang.

f) Apabila menggunakan pintu swing, maka pintu harus membuka kea rah dalam dan alat penutup pintu otomatis harus dibersihkan setiap selesai pembedahan.

Sebelum bedah dilaksanakan perlu persiapan yang cukup matang seperti persiapan alat – alat, persiapan ruangan / kamar bedah sehingga proses bedah dapat berjalan dengan baik.

Persiapan alat – alat. Semua kebutuhan perlengkapan bedah dikemas / dibungkus dengan pembungkus steril yang memenuhi syarat.

Kemasan / bungkus steril harus diperiksa terhadap:

1. Keutuhan dari bungkusan / kemasan tersebut ( tidak robek, tidak terbuka, tidak kotor )

2. Kelembapan dari bungkusan / kemasan

17

3. Tanggal sterilisasi harus tercantum di bagian luar pembungkus, bila lewat dari 6 x 24 jam harus disterilisasi ulang.

4. Perlengkapan bedah yang akan digunakan haruss segera diamankan agar tidak terkontaminasi.

5. Alat – alat besar seperti alat – alat anastesi, lampu operasi, tempat tidur operasi dicoba apakah berfungsi dengan baik kemudian dibersihkan dengan desinfektan yang mampu membunuh kuman.

Persiapan ruang kamar bedah. Sebelum dilakukan pembedahan, ruangan

harus di fogging (pengabutan) yaitu penyemprotan larutan desinfektan dengan suatu alat semprot sehingga tercapai kontak optimal (Sidqi, 2011).

1. Dengan menggunakan radiasi sinar Ultra Violet. Penyinaran harus sesuai dengan luas ruangan, lama penyinaran dan besarnya watt.

2. Dinding dan lantai dibersihkan dengan bahan desinfektan

3. Pengaliran air ke ruangan bedah harus tetap dalam keadaan lancar dan telah diklorinasi

Instalasi Gawat Darurat

Unit Rumah Sakit yang memberikan perawatan pertama kepada pasien.

Unit ini dipimpin oleh seorang dokter jaga dengan tenaga dokter ahli dan berpengalaman dalam menangani PGD (Pelayanan Gawat Darurat), yang kemudian bila dibutuhkan akan merujuk pasien kepada dokter spesialis tertentu (Gobel, Wahidin & Muttaqin, 2018).

Persyaratan umum instalasi gawat darurat. Sebagai bagian dari rumah sakit, beberapa komponen bangunan yang ada di ruang gawat darurat memerlukan beberapa persyaratan (Kementrian Kesehatan RI, 2012) antara lain:

Komponen penutup lantai. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu.

2. Mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan.

3. Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.

4. Pada daerah dengan kemiringan kurang dari 70, penutup lantai harus dari lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah).

5. Hubungan/pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (Hospital plint).

6. Khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah yang mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang tahan api, cairan kimia dan benturan

Komponen dinding. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.

2. Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori pori) sehingga dinding tidak menyimpan debu.

3. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.

4. Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan.

19

Komponen langit-langit. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, serta tidak berjamur.

2. Memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak menyimpan debu.

3. Berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.

Komponen pintu dan jendela. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Pintu dan jendela harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, dan tidak berjamur 2. Pintu masuk dari area drop off ke ruang gawat darurat disarankan menggunakan

pintu swing dengan membuka kea rah dalam dan alat penutup pintu otomatis.

3. Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau dapat dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses pasien tirah baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm.

4. Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.

5. Apabila ada jendela, maka bentuk profil kusen seminimal mungkin agar tidak menyimpan debu.

Rawat Inap

Berdasarakan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2003), pelayanan rawat inap ialah pelayanan pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik, dan atau upaya pelayanan kesehatan lainnya dengan menginap di rumah sakit.

Persyaratan umum rawat inap. Menurut (Kemenkes, 2012) ialah:

Komponen lantai.

1. Harus kuat dan rata, tidak berongga.

2. Bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan tidak berpori, seperti vinyl yang rata atau keramik dengan nat yang rapat sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak mengumpul, mudah dibersihkan, tidak mudah terbakar.

3. Pertemuan dinding dengan lantai disarankan melengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran.

Komponen langit-langit. Langit-langit harus rapat dan kuat, tidak rontok

dan tidak menghasilkan debu/kotoran.

Komponen pintu. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Pintu masuk ke ruang rawat inap, terdiri dari pintu ganda, masing-masing dengan lebar 90 cm dan 40 cm. Pada sisi pintu dengan lebar 90 cm, dilengkapi dengan kaca jendela pengintai.

2. Pintu masuk ke kamar mandi umum, minimal lebarnya 85 cm.

3. Pintu masuk ke kamar mandi pasien, untuk setiap kelas, minimal harus ada 1 kamar mandi berukuran lebar 90 cm, diperuntukkan bagi penyandang cacat.

4. Pintu kamar mandi pasien, harus membuka ke luar kamar mandi.

5. Pintu toilet umum untuk penyandang cacat harus terbuka ke luar.

Kamar mandi. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

1. Kamar mandi pasien terdiri dari kloset, pancuran air, dan bak cuci tangan.

2. Khusus untuk kamar mandi bagi penyandang cacat mengikuti pedoman atau standar teknis yang berlaku.

Komponen jendela. Memiliki persyaratan sebagai berikut:

21

1. Disarankan menggunakan jendela kaca sorong, yang mudah pemeliharaannya, dan cukup rapat.

2. Bukaan jendela harus dapat mengoptimalkan terjadinya pertukaran udara dari dalam ruangan ke luar ruangan.

3. Untuk bangunan rawat inap yang berlantai banyak bertingkat, bentuk jendela tidak boleh memungkinkan dilewati pasien untuk meloncat.

Mikroorganisme

Mikroba ialah organisme hidup dan membutuhkan mikroskop untuk dilihat.

Ukuran sel mikroba berkisar 0,2 mm sampai 0,2 µm (Slonczewski & John, 2009).

Berdasarkan sejumlah penelitian, telah diketahui adanya sejumlah mikroba patogen yang menonjol sebagai penyebab infeksi nosokomial. Terutama dari kelompok bakteri gram negatif, seperti Pseudomonas sp., khususnya Pseudomonas aerogenusa, Entrobacter aerogenes, Eschericia coli dan Klebsiella sp,. Dari kelompok bakteri aerob gram positif seperti Staphylococcus epidermis dan Staphylococcus aureus. Namun tidak menutup kemungkinan adanya mikroba patogen yang lain sebagai penyebab infeksi nosokomial. Penelitian yang dilakukan Kaier dkk (2012) menyebutkan bahwa tenaga medis yang tidak memperhatikan tindakan higienitas dalam tindakan medis dapat menimbulkan terjadinya peningkatan pertumbuhan bakteri.

Desinfektan

Menurut Darmadi (2008) desinfektan ialah bahan kimia yang digunakan untuk desinfeksi pada benda mati. Berdasarkan Permenkes No 7 Tahun 2019,

Desinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikroorganisme patogen penyebab penyakit (tidak termasuk spora) dengan cara fisik dan kimiawi. Desinfektan harus memenuhi kriteria tidak merusak peralatan maupun orang, desinfektan mempunyai efek sebagai deterjen dan efektif dalam waktu yang relatif singkat, tidak terpengaruh oleh kesadahan air atau keberadaan sabun dan protein yang mungkin ada.

Berbagai macam bahan telah dicobakan untuk mendapatkan efek desinfeksi yang maksimal dan ternyata desinfektan yang bersifat non-valative (tidak mudah menguap) yang mengandung senyawa fenol dan senyawa ammonium mempunyai daya desinfeksi yang tahan berhari-hari, selain itu senyawa-senyawa ini juga bersifat bakteriostatik (sapat mencegah pertumbuhan bakteri) sehingga pertumbuhan bakteri tetap. Sedangkan senyawa chlor dan iodine bersifat bakterisid atau memiliki daya bunuh bakteri yang kuat dan cepat akan tetapi aktifitas residunya tidak bertahan lama (Effendi dan Ronald, 1988).

Senyawa kimia yang dimiliki desinfektan mempunyai daya kerja sebagai pembasmi dan penghambat mikroorganisme tertentu, tidak semua desinfektan dapat digunakan untuk membasmi semua jenis mikroorganisme. Ada desinfektan yang hanya cocok untuk membasmi satu jenis mikroorganisme saja, namun ada pula yang mampu membasmi lebih dari dua jenis organisme (Sudarmono, 2003).

Persyaratan desinfektan. meliputi:

a. Mempunyai spektrum luas

b. Daya absorpsinya rendah pada karet, zat-zat sintetis, dan bahan lainnya.

c. Tidak korosif terhadap alat- alat netral.

23

d. Baunya tidak merangsang.

Efektivitas/desinfektan. Ditentukan oleh beberapa faktor:

1. Faktor mikroba

a. Jenis mikroba patoogen

Beberapa mikroba patogen memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan lainnya. Misalnya: M. tuberculosis relatif lebih tahan dibandingkan dengan mikroba vegetatif lainnya.

b. Jumlah mikroba patogen

Semakin banyak mikroba patogen, maka beban kerja desinfektan akan semakin berat.

2. Faktor peralatan medis

a. Adanya perlakuan-perlakuan sebelumnya, yaitu proses dekontaminasi, dan proses pembersihan. Kedua perlakuan tersebut sangat penting terutama proses pembersihan agar proses desinfeksi secara optimal.

b. Beban kandungan materi organik, adanya materi organik dapat mempengaruhi kerja desinfektan dengan cara melakukan peningkatan terhadap zat aktif desinfektan.

c. Struktur fisik peralatan medis dengan permukaan rata atau rumit.

d. Adanya larutan yang berisi mineral kalsium, dan magnesium yang menempel pada peralatan medis dapat mempengaruhi efektivitas desinfektan dengan cara mengikat zat aktif desinfektan.

3. Waktu pemaparan

Lamanya kontak antara desinfektan dengan mikroba patogen yang akan dieleminasi.

4. Faktor desinfektan

Tingkat keasaman desinfektan tergantung dari desinfektan ada yang bekerja secara optimal pada suasana asam atau suasana basa.

Jenis desinfektan. Beberapa desinfektan yang banyak digunakan (Septiari, 2017) ialah:

1. Alkohol

a. Etil, dan isopropil alkohol dengan konsentrasi optiman 60-90%.

b. Cukup efektif untuk membunuh semua mikroba patogen.

c. Tidak korosif pada logam.

d. Cepat menguap, sehingga waktu kontak sangat singkat kecuali merendamnya.

e. Dapat merusak bahan-bahan dari karet atau plastik.

f. Banyak dipakai sebagai desinfektan untuk peralatan seperti termometer oral/rektal, ambubag.

2. Klorin, dan derivatnya

a. Kemampuannya menginaktivasi mikroba patogen cukup luas.

b. Efek kerjanya cepat.

c. Sangat bermanfaat untuk dekontaminasi peralatan medis, sarung tangan termasuk juga untuk peralatan non medis.

d. Dapat menyebabkan korosi apabila konsentrasinya lebih dari 0,5%, dan waktu pemaparan lebih dari 20 menit.

3. Formaldehid

25

a. Nama dagang: formalin dengan konsentrasi efektif 8%

b. Daya menginaktivasi mikroba patogen cukup luas.

c. Dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, serta pernapasan.

d. Terinaktivasi oleh adanya materi organik.

e. Tidak korosif terhadap peralatan metal.

f. Pada konsentrasi yang tinggi bersifat karsinogenik.

4. Glutaraldehid

a. Merupakan derivat formaldehid.

b. Bersifat iritatif terhadap kulit, mata, dan pernapasan.

c. Tidak bersifat korosif terhadap peralatan metal.

d. Perlu ventilasi ruangan yang baik karena baunya yang menyengat.

e. Yang sering digunakan adalah Glutardehid dengan nama Cidex 5. Fenol

a. Umumnya digunakan untuk desinfeksi lantai, dinding, serta permukaan meja, dan sebagainya.

b. Nama dagang: Lysol, Kreolin.

Mekanisme kerja desinfektan. Cara kerja desinfektan berdasarkan proses-prosesnya adalah sebagai berikut (Tan & Kirana, 2002) yaitu:

1. Kerusakan pada dinding sel

Struktus dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat pembentuknya atau mengubahnya setelah selesai dibentuk.

2. Perubahan permeabilitas sel

Membrane sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu di dalam sel serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain. Kerusakan pada membrane ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel.

3. Perubahan molekuk protein dan asam nukleat

Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya. Suatu kondisi atau substasi mengubah keasaan ini, yaitu mendenatursikan protein dan asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa diperbaiki kembali.

4. Penghambatan kerja enzim

Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda yang ada di dalam sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat. Banyak zat kimia diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel.

5. Penghambatan sintetis asam nukleat dan protein

DNA, RNA, dan Protein memegang peranan amat penting di dalam proses kehidupan normal sel. Hal ini berarti bahwa gangguan apapun yang terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel.

Desinfektan yang dipakai. Adapun desinfektan yang digunakan untuk pembersih lantai di Rumah Sakit Umum Haji Medan adalah merek S.O.S, Bayclin dan Presept. S.O.S mengandung Benzalkonium Klorida 1%, Bayclin mengandung Natrium Hipoklori 5,2%, Sedangkan Presept mengandung Troclocene sodium.

27

Berdasarkan penelitian Ariani, dkk (2015) bahwa ada perbedaan rata-rata angka kuman pada lantai ruang rawat inap antar dosis desinfektan yang berbeda.

Benzalkonium klorida. Bahan aktif yang berada di desinfektan yang biasa digunakan untuk mencegah penyebaran infeksi nosokomial melalui instrumen-instrumen yang berada di Rumah Sakit (Rahmi dkk, 2019).

Natrium hipoklorit. Zat ini biasa digunakan untuk pemutih dalam industri

pakaian, industri kertas, dan serbuk kayu (BPOM RI, 2014). Natrium hipoklorit salah satu unsur yang termasuk dalam unsur Klorin (Cl2). Klorin jarang dijumpai dalam bentu bebas, berwarna kuning kehijauan, dan memiliki bau menyengat. Pada umumnya klorin berikatan dengan unsur atau senyawa lain membentuk garam Natrium klorida (NaCl) atau membentuk ion klorida pada air laut. Klorin biasa digunakan sebagai desinfektan, pemutih, pembersih, atau pendingin (Hasan, 2006).

Presept. Menurut Yalina (2014) Tablet Presept termasuk dalam golongan

senyawa halogen yakni Klor. Klor adalah elemen berbentuk gas berkhasiat bakterisid kuat yang dalam konsentrasi kecil dapat dengan cepat membunuh kebanyakan bakteri, spora, fungi, dan virus. Penggunaan utamanya adalah sebagai desinfeksi lantai, air minum, dan kolam renang. Tablet Presept ketika dilarutkan dalam air akan efektif melalui spektrum biosida dan sangat tahan terhadap inaktivasi bakteri.

Metode Pengepelan di Rumah Sakit

Dari berbagai hasil penelitian di Rumah Sakit yang pernah dilakukan, salah satunya oleh Merissa, G (2013) sistem desinfeksi dengan metode semprot lebih baik daripada metode pengepelan secara konvensional. Dimana metode semprot

dilakukan dengan memasukkan bahan desinfektan dan air ke dalam alat penyemprot, lalu disemprotkan ke lantai yang telah dibersihkan sebelumnya secara searah. Lantai yang telah disemprot dibiarkan beberapa saat sampai lantai mengering. Tindakan ini meminimalkan terjadinya kontaminasi oleh bakteri.

Sementara pada Rumah Sakit Umum Haji Medan metode pengepelan yang dipakai ialah metode semprot.

Desinfektan S.O.S. Desinfektan dimasukkan ke dalam alat penyemprot sebanyak 15 cc / 5 Liter air lalu disemprotkan ke lantai yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Tidak ada aturan khusus dalam pemakaian, hanya saja dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan saat membersihkan permukaan ruangan Desinfektan bayclin. Takaran 15 cc desinfektan dicampur dengan 9 liter air lalu disemprotkan ke lantai yang sudah dibersihkan terdahulu.

Desinfektan presept. Takaran 4 tablet 0,05 gram / 1 Liter air lalu usap permukaan area dengan lap yang sudah direndam dalam larutan Presept. Tablet Presept tidak bisa digunakan dengan produk lain karena bisa mengeluarkan gas berbahaya.

Landasan Teori

Menurut Septiari (2017) desinfektan merupakan bahan kimia untuk desinfeksi pada benda mati. Yang memiliki persyaratan:

1. Mempunyai spektrum luas

2. Daya absorbsinya rendah pada karet, zat-zat sintetis, dan bahan lainnya.

3. Tidak korosif terhadap alat-alat metal 4. Baunya tidak merangsang

29

Adanya penurunan jumlah angka kuman dengan sebelum dilakukan proses desinfeksi dan sesudah dilakukan desinfeksi. jumlah angka kuman sebelum dilakukan proses desinfeksi mempunyai jumlah yang lebih banyak dibanding setelah dilakukan proses desinfeksi (Irsan, 2013).

Menurut hasil penelitian Dewi, dkk (2006) menunjukkan bahwa terdapat 9 spesies bakteri yang berbeda pada lantai ruang bedah IBS RS Sanglah yaitu:

Entobacter cloacae, Flavimonas oryzihabitans, Acinetobacter baumanii, Eschericia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter amnigenus, Klebsiella terrigena, Cedacea davisae, Pantosa sp. Desinfektan yang mengandung Lysol mempunyai efektivitas yang paling tinggi terhadap spesies bakteri lantai ruang bedah IBS RS Sanglah dibandingkan dengan carbol dan creolin.

Menurut penelitian yang dilakukan Brenda (2012) pada 15 sampel positif usap lantai yang terlihat hanya 13,33% efektif, sisanya 86,67% tidak efektif yaitu belum memenuhi standar batasan kuman lantai ruang perawatan intensif sebesar 5-10 CFU/𝑐𝑚2.

Desinfektan S.O.S yang dipakai di Rumah Sakit Umum Haji Medan mempunyai bahan aktif Benzalkonium klorida. Dalam hal ini Benzalkonium klorida berfungsi sebagai desinfektan dengan merusak lapisan ganda fosfolipid dari sel bakteri, kemudian masuk ke dalam sel dan mendenaturasi protein, menonaktifkan enzim yang dibutuhkan sel. Penghancuran protein sel dan enzim kemudian menyebabkan kematian sel (Rahmi dkk, 2019).

Desinfektan Bayclin mengandung Natrium Hipoklorit (NaOCl). Dalam hal ini Natrium hipoklorit ialah desinfektan tingkat tinggi yang mekanisme kerjanya

adalah membunuh mikroorganisme dengan mengoksidasi ikatan peptida pada membran sel dan mendenaturasi protein (Maris, 1995).

Kerangka Konsep

Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, untuk mengetahui angka kuman sebelum dan sesudah pemberian desinfektan pada lantai kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III di Rumah Sakit Umum Haji Medan.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Medan dengan mengambil sampel pada lantai kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan jumlah angka kuman di Laboratorium Keseharan Daerah (Labkesda) Provinsi Sumatera Utara.

Pemilihan lokasi penelitian dikarenakan belum adanya penelitian dilakukan mengenai uji desinfektan yang merujuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, dan pengelompokkan ruangan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Teknis bangunan dan Prasarana Rumah Sakit berdasarkan tingkat resiko terjadinya penularan penyakit serta ketersediaan rumah sakit sebagai sarana pendidikan dan sebagai tempat melakukan penelitian. Dalam hal ini, ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III Ar-Rizal menjadi lokasi penelitian.

Waktu penelitian. Waktu penelitian dilakukan mulai Februari sampai Desember 2020. Jadwal penelitian dilakukan pada saat jadwal pembersihan kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III.

Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah angka kuman pada lantai di kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan satu ruangan rawat inap kelas III di Rumah Sakit Umum Haji Medan yang diambil 3 titik dengan metode usap (swab).

Variabel dan Definisi Operasional

1. Kondisi fisik adalah kondisi komponen bangunan gedung/ruang (Kamar Bedah, IGD, Rawat Inap Kelas III) saat dilakukan penelitian dengan menggunakan Pedoman Teknis Rumah Sakit Kementrian Kesehatan Tahun 2012

2. Angka kuman adalah jumlah suatu mikroorganisme atau mikroba yang biasanya patogenik. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit tingkat kepadatan kuman pada lantai di akhir proses desinfeksi, yaitu 0 s/d 5 cfu/cm²

3. Kamar Bedah adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara efektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.

4. Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu unit di rumah sakit yang harus dapat memberikan pelayanan darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.

5. Rawat Inap adalah ruang untuk pasien yang membutuhkan asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam.

6. Desinfektan adalah substansi kimia yang dipakai untuk mencegah pertumbuhan

6. Desinfektan adalah substansi kimia yang dipakai untuk mencegah pertumbuhan

Dokumen terkait