SKRIPSI
Oleh
SITI HAJAR HUSNI NIM. 161000257
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISIS PROSES DESINFEKSI BEBERAPA RUANGAN DI RUMAH SAKIT UMUM HAJI MEDAN TAHUN 2020
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
SITI HAJAR HUSNI NIM. 161000257
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal: 16 Desember 2020
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes.
Anggota : 1. Ir. Evi Naria, M.Kes.
2. dr. Surya Dharma, M.P.H.
Proses Desinfeksi Beberapa Ruangan di Rumah Sakit Umum Haji Medan Tahun 2020” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, Desember 2020
Siti Hajar Husni
Abstrak
Sumber mikroorganisme banyak dijumpai di Rumah Sakit anatara lain berasal dari lantai. Membersihkan lantai ruangan menggunakan desinfektan adalah upaya pencegahan terjadi infeksi dengan menurunkan jumlah angka kuman pada lantai.
Rumah Sakit Umum Haji Medan menggunakan beberapa jenis desinfektan lantai.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan jumlah angka kuman sebelum dan sesudah desinfeksi. Penelitian merupakan penelitian survey deskriptif, teknik pengambilan sampel dilakukan secara swab. Pemilihan titik objek penelitian angka kuman yaitu pada lantai kamar bedah umum, Instalasi Gawat Darurat, dan rawat inap kelas III di Rumah Sakit Umum Haji Medan. Hasil penelitian menunjukkan jumlah angka kuman sebelum dan setelah pemberian desinfektan pada lantai kamar bedah sebesar 0 cfu/cm², hal ini sudah memenuhi persyaratan yang ditetapkan Permenkes RI No. 7 Tahun 2019 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. Jumlah angka kuman tertinggi sebelum pemberian desinfektan di lantai Instalasi Gawat Darurat sebesar 8621 cfu/cm² dan setelah pemberian desinfektan pada lantai Instalasi Gawat Darurat sebesar 3332 cfu/cm². Jumlah angka kuman tertinggi sebelum pemberian desinfektan di lantai rawat inap sebesar 3816 cfu/cm² dan setelah pemberian desinfektan di lantai rawat inap sebesar 3470 cfu/cm². Hal ini menunjukkan bahwa nilai tersebut melebihi persyaratan yang ditetapkan Permenkes RI No. 7 Tahun 2019 tentang Persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. Desinfektan yang digunakan di ruang IGD dan rawat inap adalah desinfektan merek Bayclin (Natrium hipoklorit) dan S.O.S (Benzalkonium klorida), sementara pada kamar bedah menggunakan desinfektan merek Presept (Troclene sodium), Bayclin dan, S.O.S. Penurunan angka kuman tertinggi setelah pemberian desinfektan berada di lantai ruang IGD sebanyak 61,3%. Diharapkan pihak rumah sakit menjaga kesehatan lingkungan rumah sakit dan menggunakan desinfektan yang sesuai sehingga tidak dijumpai kuman di lantai setelah proses pembersihan.
Kata kunci: Desinfektan, kuman, lantai rumah sakit
germs on the floor. Haji General Hospital of Medan uses some variants of floor disinfectant. This research aims to determine the reduction in the number of germs before and after disinfection. The research was done in descriptive survey, the sampling technique was done by swab. The selections of study object of the germs count were from the floor of the general operation room, Emergency Room, and class III inpatients rooms at Haji General Hospital of Medan. The study result shows the smount of germs before and after 0 cfu/cm² disinfection of operation room. This treatment has met the requirements stipulated by Permenkes RI No. 7 of 2019 concerning requirements for hospital environmental health. The highest number of germs before disinfecting the emergency room floor was 8621 cfu / cm² and after disinfecting the emergency rooms floor was 3332 cfu / cm². The highest number of germs before disinfecting on inpatient rooms floors was 3816 cfu / cm² and after disinfecting on inpatient rooms floors was 3470 cfu / cm². This indicates that this value exceeds the requirements stipulated by Permenkes RI No. 7 of 2019 concerning requirements for hospital environmental health. The type of disinfection used in Emergency Room and inpatients rooms were of Bayclin brand (Natrium hipoklorit) and S.O.S (Benzalkonium klorida),while operations rooms use Precept (Troclene sodium), Bayclin and S.O.S. The highest reduction number of germsafter disinfection was on the floor of Emergency Room as much as 61.3%. It is hoped that the hospital will maintain the health of the hospital environment and use an appropriate disinfectant so that germs are not longer found on the floor after the cleaning process.
Keywords: Disinfectant, germs, hospital floor
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Analisis Proses Desinfeksi Beberapa Ruangan di Rumah Sakit Umum Haji Medan Tahun 2020’’ Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes. selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes. selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Ir. Evi Naria, M.Kes. selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.
8. Seluruh Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat USU atas ilmu yang telah diajarkan selama ini kepada penulis.
9. Pegawai dan Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, terkhusus Dian Afriyanti, Am.d.
10. Direktur Rumah Sakit Umum Haji Medan, Kepala Bagian Penunjang Medis Rumah Sakit Umum Haji Medan, beserta seluruh staf yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan penelitian.
11. Sri Menita, S.Si. yang telah membantu peneliti selama melakukan penelitian dalam melaksanakan penelitian di laboratorium tersebut.
12. Teristimewa untuk ibu tercinta (Dina Ampera Sembiring) yang telah memberikan kasih sayang yang begitu besar dan kesabaran dalam mendidik, selalu memberikan motivasi yang sangat membangun kepada penulis serta terutama doa yang tiada henti sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
13. Terkhusus untuk saudara yang penulis cintai (Mail dan Imuh) yang telah memberikan semangat, rasa peduli yang teramat tulus, serta curahan doa kepada penulis.
14. Teman-teman terdekat dan seperjuangan selama kuliah (Ayu, Dina, Vivi, Agi, Ima, Vinny, Miftah, Diska, Uli, Silmi, Adel, Iftihal, Ayum, Sonia) yang selalu membersamai sejak awal semester, saling membantu segala urusan, berbagi ilmu, mengingatkan satu sama lain, selalu mendengarkan keluh kesah penulis, mendukung satu sama lain dan banyak hal yang istimewa lainnya.
15. Sahabat karib semasa sekolah yang selalu membersamai penulis sampai sekarang baik suka maupun duka (Audrey, Shintia, dan Tuyuls family)
16. Untuk semua pihak yang banyak membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, terima kasih banyak untuk dukungan dan doa yang diberikan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.
Medan, Desember 2020
Siti Hajar Husni
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xii
Daftar Lampiran xiii
Daftar Istilah xiv
Riwayat Hidup xv
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 5
Tujuan umum 5
Tujuan khusus 5
Manfaat Penelitian 6
Tinjauan Pustaka 7
Rumah Sakit 7
Definisi rumah sakit 7
Tugas dan fungsi rumah sakit 8
Persyaratan bangunan rumah sakit 9
Infeksi Nosokomial 10
Ciri-ciri infeksi nosokomial 10
Lantai 12
Kamar Bedah 12
Instalasi Gawat Darurat 17
Rawat Inap 19
Mikroorganisme 21
Desinfektan 22
Metode Pengepelan di Rumah Sakit 27
Landasan Teori 28
Kerangka Konsep 30
Metode Penelitian 31
Jenis Penelitian 31
Lokasi dan Waktu Penelitian 31
Objek Penelitian 32
Variabel dan Definisi Operasional 32
Metode Pengumpulan Data 34
Metode Pengukuran 34
Metode Analisis Data 38
Hasil Penelitian 38
Profil Rumah Sakit Umum Haji Medan 38
Visi dan misi Rumah Sakit Umum Haji Medan 38
Kamar Bedah Rumah Sakit Umum Haji Medan 39
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Haji Medan 40 Rawat Inap Ar Rizal Rumah Sakit Umum Haji Medan 41
Hasil Pengukuran 42
Desinfektan 44
Pembahasan 46
Kondisi Fisik 46
Hasil Pengukuran 49
Penggunaan Desinfektan di Rumah Sakit Umum Haji Medan 52
Keterbatasan Penelitian 54
Kesimpulan dan Saran 55
Kesimpulan 55
Saran 55
Daftar Pustaka 57
Lampiran 63
1 Hasil Pengukuran Kondisi Fisik Ruangan Kamar Bedah
RSU Haji Medan Tahun 2020 39
2 Hasil Pengukuran Kondisi Fisik Ruangan Instalasi Gawat
Darurat RSU Haji Medan Tahun 2020 40
3 Hasil Pengukuran Kondisi Fisik Ruangan Rawat Inap
RSU Haji Medan Tahun 2020 42
4 Hasil Pengukuran Angka Hasil Pengukuran Angka Kuman pada Lantai Kamar Bedah di RSU Haji Medan 2020 Sebelum dan
Sesudah Pemberian Desinfektan 43
5 Hasil Pengukuran Angka Hasil Pengukuran Angka Kuman pada Lantai IGD di RSU Haji Medan 2020 Sebelum dan Sesudah
Pemberian Desinfektan 43
6 Hasil Pengukuran Angka Hasil Pengukuran Angka Kuman pada Lantai Rawat Inap di RSU Haji Medan 2020 Sebelum dan
Sesudah Pemberian Desinfektan 44
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka konsep 30
1 Surat selesai Penelitian 63
2 Hasil Laboratorium 65
3 Kuesioner Petugas 66
4 Dokumentasi 67
Daftar Istilah
BPOM Badan Pengawas Obat dan Makanan Depkes RI Departemen Kesehatan Republik Indonesia Kepmenkes RI Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Permenkes RI Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia WHO World Health Organization
pada tanggal 21 Maret 1999. Penulis beragama Islam, anak ketiga dari 3 bersaudara dari pasangan (alm) Jahidin Abdul Waris dan Dina Ampera Sembiring.
Pendidikan formal dimulai di pendidikan sekolah dasar di SDIT Nurul Ilmi Medan Tahun 2004 - 2009 lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Swasta Islam Al-Ulum Terpadu Tahun 2010-2012, dan sekolah menengah atas di SMA Swasta Islam Al-Ulum Terpadu Tahun 2013-2015. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Medan, Desember 2020
Siti Hajar Husni
Pendahuluan
Latar Belakang
Menurut Depertemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2004, rumah sakit sebagai sarana pedoman kesehatan untuk pelayanan umum, tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, yang memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan dan atau dapat menjadi tempat penyebab penularan penyakit maka perlu diperhatikan keadaan sanitasinya.
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menekan risiko terjadinya infeksi dengan melakukan pencegahan dan mitigasi mikroorganisme di rumah sakit yang umumnya dilakukan melalui dua tahapan prosedur yaitu desinfeksi atau sterilisasi pada tingkat bebas kuman yang di kehendaki (Depkes RI, 1996).
Infeksi nosokomial atau infeksi yang diperoleh dari rumah sakit adalah infeksi yang tidak diderita pasien saat masuk ke rumah sakit melainkan setelah ± 72 jam berada di tempat tersebut. Infeksi ini terjadi bila toksin atau agen penginfeksi menyebabkan infeksi lokal atau sistemik (Adams & Corrigan, 2003).
Infeksi nosokomial terjadi sebagai akibat interaksi oleh beberapa faktor yaitu antara lain: adanya jenis-jenis mikroba di lingkungan rumah sakit, adanya tindakan keperawatan yang memungkinkan mikroba intervensi ke dalam tubuh melalui kulit dan membran mukosa, interaksi antara pasien, pekerja rumah sakit, peralatan, dan lingkungan serta peningkatan resistensi mikroba oportunistik (Agnes, 2012).
Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. Prevalensi Infeksi Nosokomial di rumah
sakit dunia mencapai 9% atau kurang lebih 1,40 juta pasien rawat inap di rumah sakit seluruh dunia terkena infeksi nosokomial. Penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO), menunjukkan bahwa sekitar 8,70% dari 55 rumah sakit di 14 negara yang berada di Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Pasifik menunjukkan adanya Infeksi Nosokomial. Infeksi Nosokomial di Indonesia masih menjadi penyebab utama kematian dan kesakitan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya selain itu menyebabkan perpanjangan masa rawat inap bagi penderita (Ducel, Fabry & Nicole, 2002).
Pentingnya suatu kondisi yang bebas mikroba patogen, diperlukan suatu upaya mengeliminasi mikroba patogen pada berbagai sarana/peralatan, terutama sarana/peralatan yang langsung digunakan pada tindakan medis serta mikroba patogen yang lekat dengan petugas rumah sakit. Demikian juga untuk setiap tindakan medis yang ditujukan kepada penderita, akan berisiko masuknya mikroba patogen ke tubuh penderita (Darmadi, 2008).
Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam rangka menurunkan kasus infeksi nosokomial adalah desinfeksi terhadap seluruh aspek yang terkait dalam pelayanan pasien. Desinfeksi di dalam lingkungan rumah sakit biasanya dilakukan pada permukaan benda yang terdiri dari permukaan alat-alat kesehatan dan permukaan alat-alat rumah tangga rumah sakit. Permukaan alat-alat rumah tangga di rumah sakit salah satunya adalah lantai (Depkes RI, 1996). Lantai mempunyai kemungkinan lebih besar dalam kondisi kotor bila dibandingkan dengan permukaan bangunan lain seperti langit-langit dan dinding. Telah terbukti bahwa dengan membunuh kuman-kuman yang terdapat di lantai dan semua permukaan, dapat
3
menurunkan kemungkinan infeksi melalui luka terbuka yang ada di permukaan tubuh (Sanropie, 1989).
Kontaminasi lantai dengan nanah, darah, produk darah, urin, cairan tubuh, dan tinja perlu di desinfeksi. Proses desinfeksi lantai yang umum di lakukan di rumah sakit adalah dengan melakukan pengepelan lantai dengan menggunakan desinfektan yang dilarutkan di dalam air atau dengan cara penyemprotan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019, Desinfektan adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikroorganisme patogen penyebab penyakit (tidak termasuk spora) dengan cara fisik dan kimiawi.
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah desinfektan yang efektif sehingga dapat tercapai daya bunuh yang optimal pada kuman. Bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik dan untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme disebut desinfektan.
Tidak semua bahan desinfektan efektif untuk semua kondisi lingkungan. Efektifitas dari desinfektan terhadap kuman pada lantai kadang – kadang tidak tercapai meskipun sudah diuji di laboratorium dengan baik. Efektifitas desinfektan dapat diuji langsung dengan cara sebelum dan setelah lantai diberi bahan desinfektan kemudian dihitung jumlah angka kuman yang ada di lantai tersebut (Kepmenkes RI, 2004). Dalam persyaratan khusus kesehatan lingkungan ruang dan bangunan rumah sakit, lantai harus dalam keadaan bersih. Tingkat kepadatan kuman pada lantai pada akhir proses desinfeksi sebesar 0 s/d 5 cfu² (Permenkes RI Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit).
Rumah sakit di Indonesia menggunakan desinfektan lantai yang berbeda- beda tergantung kebijakan masing-masing rumah sakit karena belum adanya rekomendasi pemilihan desinfektan dan evaluasi tentang efektivitas desinfektan tersebut. Beberapa desinfektan lantai yang banyak digunakan di rumah sakit untuk membersihkan lantai adalah desinfektan yang mengandung lysol dan creolin (Dewi dkk, 2006).
Berdasarkan penelitian Irsan (2013) yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan diketahui bahwa jumlah angka kuman di lantai Instalasi Bedah dapat diturunkan dengan menggunakan desinfektan germisep dan ditambah desinfektan lainnya dari 9 CFU/𝑐𝑚2 menjadi 3 CFU/𝑐𝑚2 yang telah memenuhi syarat kesehatan lingkungan lantai rumah sakit.
Hasil survei pendahuluan di RSU Haji Medan adalah desinfeksi lantai yang dipakai pada ruang kamar bedah menggunakan desinfektan S.O.S, Bayclin dan Presept serta menggunakan mesin polisher, desinfeksi lantai ruang IGD dan rawat inap menggunakan S.O.S dan Bayclin. Data infeksi nosokomial RSU Haji Medan Januari s/d Oktober 2019 dinyatakan bahwa pada bulan Juli 2019 phlebitis mencapai 13% lalu Ventilator-associated pneumonia (VAP) mencapai 5%.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengetahui
“Analisis Proses Desinfeksi Beberapa Ruangan di Rumah Sakit Umum Haji Medan Tahun 2020”.
Perumusan Masalah
Data infeksi nosokomial Rumah Sakit Umum Haji Medan Januari s/d Oktober 2019 dinyatakan bahwa pada bulan Juli 2019 phlebitis mencapai 13% lalu
5
Ventilator-associated pneumonia (VAP) mencapai 5%. Pemakaian desinfektan Rumah Sakit Umum Haji Medan menggunakan S.O.S, Bayclin, dan Presept.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin melihat bagaimana efektivitas desinfektan dalam penurunan jumlah angka kuman di ruang kamar bedah, IGD, dan rawat inap Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum. Mengetahui penurunan jumlah angka kuman setelah pemberian desinfektan pada lantai di ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Tujuan khusus. Tujuan khusus meliputi:
1. Mengetahui kondisi fisik ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
2. Mengetahui jumlah angka kuman pada ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan sebelum pemberian desinfektan.
3. Mengetahui jumlah angka kuman pada ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan sesudah pemberian desinfektan.
4. Mengetahui persentase penurunan angka kuman pada lantai pada ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
5. Mengetahui merek desinfektan yang dipakai pada ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Manfaat Penelitian Manfaat teoritis.
1. Memberikan masukan bagi pihak rumah sakit dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan.
2. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai kesehatan lingkungan rumah sakit.
Manfaat aplikatif.
1. Dapat mengetahui jumlah angka kuman yang ada pada lantai di ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
2. Dapat mengetahui desinfektan yang dipakai pada ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap Rumah Sakit Umum Haji Medan untuk mendesinfeksikan lantai.
Tinjauan Pustaka
Rumah Sakit
Definisi rumah sakit. Rumah sakit merupakan unit pelayanan medis yang sangat kompleks. Kompleksitasnya tidak hanya dari segi jenis dan macam penyakit yang harus memperoleh perhatian dari para dokter (medical provider) untuk menegakkan diagnosis dan menentukan terapinya (upaya kuratif), namun juga adanya berbagai macam peralatan medis dari yang sederhana hingga yang canggih.
Hal lain yang merupakan kompleksitas sebuah rumah sakit adalah adanya sejumlah orang/personel yang secara bersamaan berada di rumah sakit, sehingga rumah sakit menjadi tempat sejumlah orang secara serempak, berinteraksi langsung ataupun tidak langsung mempunyai kepentingan dengan pasien rumah sakit (Darmadi, 2008).
Berdasarkan undang-undang tentang rumah sakit No. 44 Tahun 2009, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan.
Di Indonesia rumah sakit sebagai salah satu bagian sistem pelayanan kesehatan secara garis besar memberikan pelayanan untuk masyarakat berupa
pelayanan kesehatan mencakup pelayanan medik, dan pelayanan perawatan.
Pelayanan tersebut dilaksanakan melalui unit gawat darurat, unit rawat jalan, dan unit rawat inap (Septiari, 2017).
Tugas dan fungsi rumah sakit. Kompleksitas fungsi kegiatan di sebuah Rumah Sakit dipengaruhi oleh dua aspek, (Septiari, 2017) yaitu:
1. Sifat pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada konsumen penerima jasa pelayanan. Hasil perawatan pasien sebagai customer Rumah Sakit ada tiga kemungkinan yaitu: sembuh sempurna, cacat, atau mati. Apapun kemungkinan hasilnya, kualitas pelayanan harus diarahkan untuk kepuasan pasien, dan keluarga yang mengantarkannya.
2. Pelaksanaan fungsi kegiatan di sebuah Rumah Sakit cukup kompleks karena tenaga yang bekerja di Rumah Sakit terdiri dari berbagai jenis profesi, dan keahlian, medis maupun non medis.
Menurut Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009, tugas rumah sakit mempunyai fungsi.
1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit
2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan, dan.
9
4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
Persyaratan bangunan rumah sakit. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit, Bangunan Rumah Sakit harus menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang cacat dan lanjut usia untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi semua pengguna baik di dalam maupun di luar bangunan rumah sakit secara mudah, aman, dan mandiri.
Persyaratan teknis bangunan, meliputi:
1. Rencana Blok Bangunan harus dilaksanakan berdasarkan ketentuan tentang tata Ruang wilayah daerah, rencana tata bangunan dan lingkungan yang ditetapkan, dan peraturan bangunan daerah setempat.
2. Massa Bangunan harus memenuhui syarat sirkulasi udara dan pencahayaan, kenyamanan, keselarasan, dan keseimbangan dengan lingkungan.
3. Tata Letak Bangunan harus memenuhi syarat zonasi berdasarkan tingkat risiko penularan penyakit, zonasi berdasarkan privasi, zonasi berdasarkan pelayanan atau kedekatan hubungan fungsi antar Ruang Pelayanan.
4. Pemanfaatan Ruang dalam Bangunan Rumah Sakit harus efektif sesuai fungsi pelayanan.
5. Desain tata ruang dan desain komponen bangunan harus dapat meminimalisir resiko penyebaran infeksi dan memperhatikan alur kegiatan petugas dan pengunjung Rumah Sakit.
6. Bangunan rumah sakit harus memenuhi peil banjir dengan tetap menjaga keserasian lingkungan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pada masing- masing wilayah.
7. Lahan bangunan rumah sakit harus dibatasi dengan pemagaran yang dilengkapi dengan akses/pintu yang paling sedikit untuk akses/pintu utama, akses/pintu pelayanan gawat darurat. Dan akses/pintu layanan servis.
Infeksi Nosokomial
Berdasarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2003) Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat seseorang dalam waktu 3 x 24 jam sejak mereka masuk rumah sakit. Infeksi Nosokomial atau yang disebut Hosipital Acquired Infection (HAI) adalah infeksi yang di dapat di rumah sakit atau di fasilitas kesehatan lainnya. Tidak terbatas infeksi kepada pasien namun dapat juga kepada petugas kesehatan dan pengunjung yang tertular pada saat berada di dalam lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan (Permenkes, 2017).
Pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial menjadi tantangan di seluruh dunia karena dapat meningkatkan biaya kesehatan disebabkan terjadi penambahan waktu pengobatan dan perawatan rumah sakit. Pengendalian infesksi nosokomial di rumah sakit merupakan salah satu upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit kepada masyarakat dengan menggunakan angka kejadian infeksi nosokomial sebagai indikator (Darmadi, 2008).
Ciri-ciri infeksi nosokomial. Infeksi Nosokomial dikatakan saat (Darmadi, 2008):
11
1. Saat penderita mulai dirawat di rumah sakit dan tidak memiliki tanda-tanda infeksi.
2. Saat penderita mulai dirawat di rumah sakit dan tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi.
3. Tanda – tanda klinik infeksi timbul sekurang-kurangnya setelah 3 x 24 jam.
4. Infeksi bukan merupakan sisa (residual) dari infeksi sebelumnya.
5. Saat penderita sudah ada tanda-tanda infeksi namun belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial.
Infeksi rumah sakit sering terjadi pada pasien berisiko tinggi yaitu pasien dengan karakteristik usia tua, berbaring lama, menggunakan obat imunosupresan dan/atau steroid, imunitas turun misal pada pasien yang menderita luka bakar atau pasien yang mendapatkan tindakan invasif, pemasangan infus yang lama, atau pemasangan kateter urin yang lama dan infeksi nosokomial pada luka operasi (Depkes RI, 2001). Infeksi nosokomial dapat mengenai setiap organ tubuh, tetapi yang paling banyak adalah infeksi nafas bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi luka operasi, dan infeksi aliran darah primer atau phlebitis (Depkes RI, 2003).
Mikroba patogen yang menimbulkan infeksi nosokomial akan masuk ke pejamu melalui port d’entrée (pintu masuk), dan setelah melewati masa inkubasi akan timbul reaksi sistemik pada penderita berupa manifestasi klinis maupun manifestasi laboratorik. Infeksi nosokomial dapat terjadi pada penderita-penderita yang dirawat di setiap ruangan/bangsal. Ruangan/bangsal perawatan anak,
perawatan penyakit dalam, perawatan intensif, dan perawatan isolasi (Darmadi, 2008).
Lantai
Lantai memiliki persyaratan (Sabarguna & Agus, 2011), yaitu:
1. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak lcin, warna terang, dan mudah dibersihkan.
2. Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah.
3. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk lengkung agar mudah dibersihkan.
Tingkat kebersihan lantai di rumah sakit dapat diukur dengan angka kuman.
Dianjurkan untuk ruang-ruang penting sedapat mungkin kriteria angka kuman dapat dipenuhi. Angka kuman kebersihan lantai ruang operasi 0-5 CFU/𝑐𝑚2 dan bebas patogen dan gas gangren, lantai ruang IGD 5-10 CFU/𝑐𝑚2 , sementara untuk bangsal 5 – 10 organisme per 𝑐𝑚2.
Kamar Bedah
Suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara elektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2012).
Kamar bedah merupakan suatu sistem terintegrasi yang disusun dari kumpulan lokasi, secara umum meliputi area tunggu operasi, kamar operasi, ruang recovery atau ruang pemulihan, ruang ganti, ruang persiapan, dan sebagainya
13
(Wang dkk, 2008). Menurut Supryantoro (2012) kamar bedah merupakan ruangan yang berpotensi tinggi menyebabkan infeksi nosokimial di rumah sakit terutama infeksi luka operasi. Lingkungan ruang operasi beresiko tinggi yang bisa menjadi tempat yang mudah menularkan infeksi dari dan ke penderita, karena di kamar bedah terjadi pemajanan jaringan tubuh (Adam, 2010). Penularan infeksi yang terjadi tergantung dari jumlah kuman, kerentanan individu waktu kontak, virulensi agen infeksi, dan perbandingan terbalik dengan daya tahan tubuh. Sumber infeksi juga dapat berasal dari personel kamar bedah, alat dan bahan penunjang pembedahan, lingkungan pembedahan, dan pasien yang akan dibedah (Mertaniasih, 2003).
Persyaratan umum ruang kamar bedah. Sebagai bagian penting dari Rumah Sakit, beberapa komponen yang digunakan pada kamar bedah memerlukan beberapa persyaratan khusus (Kementrian Kesehatan RI, 2012), antara lain:
Komponen penutup lantai.
1. Lantai tidak boleh licin, tahan terhadap goresan/gesekan peralatan dan tahan terhadap api.
2. Lantai mudah dibersihkan, tidak menyerap, tahan terhadap bahan kimia dan anti bakteri.
3. Penutup lantai harus dari bahan anti statik, yaitu vinil anti statik.
4. Tahanan listrik dari bahan penutup lantai ini bisa berubah dengan bertambahnya umur pemakaian dan akibat pembersihan, oleh karena itu tingkat tahanan listrik lantai ruang operasi harus diukur tiap bulan, dan harus memenuhi persyaratan yang berlaku.
5. Permukaan dari semua lantai tidak boleh poros, tetapi cukup keras untuk pembersihan dengan penggelontoran (flooding), dan pem-vakuman basah.
6. Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.
7. Hubungan/ pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (Hospital plint).
8. Tinggi plint, maksimum 15 cm.
Komponen dinding. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, tahan bahan kimia, tidak berjamur.
2. Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori- pori) sehingga dinding tidak menyimpan debu.
3. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
4. Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk melancarkan arus aliran udara.
5. Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat, disarankan tidak punya (utuh), dan mudah dibersihkan.
6. Apabila dinding punya sambungan, seperti panel dengan bahan melamin (merupakan bahan anti bakteri dan tahan gores) atau insulated panel system maka sambungan antaranya harus di-seal dengan silikon anti bakteri sehingga memberikan dinding tanpa sambungan, mudah dibersihkan dan di pelihara.
15
7. Alternatif lain bahan dinding yaitu dinding sandwich galvanis, dua sisinya dicat dengan cat anti bakteri dan tahan terhadap bahan kimia, dengan sambungan antaranya harus di-seal dengan silicon anti bakteri sehingga memberikan dinding tanpa sambungan.
8. Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas atau membentuk lapisan
Komponen langit-langit. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, tidak bejamur serta anti bakteri.
2. Memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak menyimpan debu
3. Berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.
4. Selain lampu operasi yang menggantung, langit-langit juga bisa dipergunakan untuk tempat pemasangan pendan bedah, dan bermacam gantungan seperti diffuser air conditioning dan lampu fluorescent.
5. Kebutuhan peralatan yang dipasang di langit-langit, sangat beragam.
Bagaimanapun perlatan yang digantung tidak boleh sistem geser, karena menyebabkan jatuhnya debu pengangkut mikroorganisme setaip kali digerakkan.
Pintu ruang operasi. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Pintu masuk ruang operasi atau pintu yang menghubungkan ruang induksi dan ruang operasi.
a) Disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang dapat dibuka tutup secara otomatis.
b) Pintu harus dibuat sedemikian rupa sehingga pintu dibuka dan ditutup dengan menggunakan sakelar injakan kaki atau siku tangan atau menggunakan sensor, namun dalam keadaan listrik penggerak pintu rusak, pintu dapat dibuka secara manual.
c) Pintu tidak boleh dibiarkan terbuka baik selama pembedahan maupun diantara pembedahan-pembedahan.
d) Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (observation glass)
e) Lebar pintu 1200 – 1500 mm, dari bahan panil dan dicat anti bakteri dan jamur dengan warna terang.
f) Apabila menggunakan pintu swing, maka pintu harus membuka kea rah dalam dan alat penutup pintu otomatis harus dibersihkan setiap selesai pembedahan.
Sebelum bedah dilaksanakan perlu persiapan yang cukup matang seperti persiapan alat – alat, persiapan ruangan / kamar bedah sehingga proses bedah dapat berjalan dengan baik.
Persiapan alat – alat. Semua kebutuhan perlengkapan bedah dikemas / dibungkus dengan pembungkus steril yang memenuhi syarat.
Kemasan / bungkus steril harus diperiksa terhadap:
1. Keutuhan dari bungkusan / kemasan tersebut ( tidak robek, tidak terbuka, tidak kotor )
2. Kelembapan dari bungkusan / kemasan
17
3. Tanggal sterilisasi harus tercantum di bagian luar pembungkus, bila lewat dari 6 x 24 jam harus disterilisasi ulang.
4. Perlengkapan bedah yang akan digunakan haruss segera diamankan agar tidak terkontaminasi.
5. Alat – alat besar seperti alat – alat anastesi, lampu operasi, tempat tidur operasi dicoba apakah berfungsi dengan baik kemudian dibersihkan dengan desinfektan yang mampu membunuh kuman.
Persiapan ruang kamar bedah. Sebelum dilakukan pembedahan, ruangan
harus di fogging (pengabutan) yaitu penyemprotan larutan desinfektan dengan suatu alat semprot sehingga tercapai kontak optimal (Sidqi, 2011).
1. Dengan menggunakan radiasi sinar Ultra Violet. Penyinaran harus sesuai dengan luas ruangan, lama penyinaran dan besarnya watt.
2. Dinding dan lantai dibersihkan dengan bahan desinfektan
3. Pengaliran air ke ruangan bedah harus tetap dalam keadaan lancar dan telah diklorinasi
Instalasi Gawat Darurat
Unit Rumah Sakit yang memberikan perawatan pertama kepada pasien.
Unit ini dipimpin oleh seorang dokter jaga dengan tenaga dokter ahli dan berpengalaman dalam menangani PGD (Pelayanan Gawat Darurat), yang kemudian bila dibutuhkan akan merujuk pasien kepada dokter spesialis tertentu (Gobel, Wahidin & Muttaqin, 2018).
Persyaratan umum instalasi gawat darurat. Sebagai bagian dari rumah sakit, beberapa komponen bangunan yang ada di ruang gawat darurat memerlukan beberapa persyaratan (Kementrian Kesehatan RI, 2012) antara lain:
Komponen penutup lantai. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu.
2. Mudah dibersihkan dan tahan terhadap gesekan.
3. Penutup lantai harus berwarna cerah dan tidak menyilaukan mata.
4. Pada daerah dengan kemiringan kurang dari 70, penutup lantai harus dari lapisan permukaan yang tidak licin (walaupun dalam kondisi basah).
5. Hubungan/pertemuan antara lantai dengan dinding harus menggunakan bahan yang tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan lantai (Hospital plint).
6. Khusus untuk daerah yang sering berkaitan dengan bahan kimia, daerah yang mudah terbakar, maka bahan penutup lantai harus dari bahan yang tahan api, cairan kimia dan benturan
Komponen dinding. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Dinding harus mudah dibersihkan, tahan cuaca dan tidak berjamur.
2. Lapisan penutup dinding harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori pori) sehingga dinding tidak menyimpan debu.
3. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
4. Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku, tetapi melengkung untuk memudahkan pembersihan.
19
Komponen langit-langit. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Harus mudah dibersihkan, tahan terhadap segala cuaca, tahan terhadap air, tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien, serta tidak berjamur.
2. Memiliki lapisan penutup yang bersifat non porosif (tidak berpori) sehingga tidak menyimpan debu.
3. Berwarna cerah, tetapi tidak menyilaukan pengguna ruangan.
Komponen pintu dan jendela. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Pintu dan jendela harus mudah dibersihkan, tahan cuaca, dan tidak berjamur 2. Pintu masuk dari area drop off ke ruang gawat darurat disarankan menggunakan
pintu swing dengan membuka kea rah dalam dan alat penutup pintu otomatis.
3. Pintu ke luar/masuk utama memiliki lebar bukaan minimal 120 cm atau dapat dilalui brankar pasien, dan pintu-pintu yang tidak menjadi akses pasien tirah baring memiliki lebar bukaan minimal 90 cm.
4. Di daerah sekitar pintu masuk sedapat mungkin dihindari adanya ramp atau perbedaan ketinggian lantai.
5. Apabila ada jendela, maka bentuk profil kusen seminimal mungkin agar tidak menyimpan debu.
Rawat Inap
Berdasarakan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (2003), pelayanan rawat inap ialah pelayanan pasien untuk observasi, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik, dan atau upaya pelayanan kesehatan lainnya dengan menginap di rumah sakit.
Persyaratan umum rawat inap. Menurut (Kemenkes, 2012) ialah:
Komponen lantai.
1. Harus kuat dan rata, tidak berongga.
2. Bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan tidak berpori, seperti vinyl yang rata atau keramik dengan nat yang rapat sehingga debu dari kotoran-kotoran tidak mengumpul, mudah dibersihkan, tidak mudah terbakar.
3. Pertemuan dinding dengan lantai disarankan melengkung agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang debu dan kotoran.
Komponen langit-langit. Langit-langit harus rapat dan kuat, tidak rontok
dan tidak menghasilkan debu/kotoran.
Komponen pintu. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Pintu masuk ke ruang rawat inap, terdiri dari pintu ganda, masing-masing dengan lebar 90 cm dan 40 cm. Pada sisi pintu dengan lebar 90 cm, dilengkapi dengan kaca jendela pengintai.
2. Pintu masuk ke kamar mandi umum, minimal lebarnya 85 cm.
3. Pintu masuk ke kamar mandi pasien, untuk setiap kelas, minimal harus ada 1 kamar mandi berukuran lebar 90 cm, diperuntukkan bagi penyandang cacat.
4. Pintu kamar mandi pasien, harus membuka ke luar kamar mandi.
5. Pintu toilet umum untuk penyandang cacat harus terbuka ke luar.
Kamar mandi. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Kamar mandi pasien terdiri dari kloset, pancuran air, dan bak cuci tangan.
2. Khusus untuk kamar mandi bagi penyandang cacat mengikuti pedoman atau standar teknis yang berlaku.
Komponen jendela. Memiliki persyaratan sebagai berikut:
21
1. Disarankan menggunakan jendela kaca sorong, yang mudah pemeliharaannya, dan cukup rapat.
2. Bukaan jendela harus dapat mengoptimalkan terjadinya pertukaran udara dari dalam ruangan ke luar ruangan.
3. Untuk bangunan rawat inap yang berlantai banyak bertingkat, bentuk jendela tidak boleh memungkinkan dilewati pasien untuk meloncat.
Mikroorganisme
Mikroba ialah organisme hidup dan membutuhkan mikroskop untuk dilihat.
Ukuran sel mikroba berkisar 0,2 mm sampai 0,2 µm (Slonczewski & John, 2009).
Berdasarkan sejumlah penelitian, telah diketahui adanya sejumlah mikroba patogen yang menonjol sebagai penyebab infeksi nosokomial. Terutama dari kelompok bakteri gram negatif, seperti Pseudomonas sp., khususnya Pseudomonas aerogenusa, Entrobacter aerogenes, Eschericia coli dan Klebsiella sp,. Dari kelompok bakteri aerob gram positif seperti Staphylococcus epidermis dan Staphylococcus aureus. Namun tidak menutup kemungkinan adanya mikroba patogen yang lain sebagai penyebab infeksi nosokomial. Penelitian yang dilakukan Kaier dkk (2012) menyebutkan bahwa tenaga medis yang tidak memperhatikan tindakan higienitas dalam tindakan medis dapat menimbulkan terjadinya peningkatan pertumbuhan bakteri.
Desinfektan
Menurut Darmadi (2008) desinfektan ialah bahan kimia yang digunakan untuk desinfeksi pada benda mati. Berdasarkan Permenkes No 7 Tahun 2019,
Desinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikroorganisme patogen penyebab penyakit (tidak termasuk spora) dengan cara fisik dan kimiawi. Desinfektan harus memenuhi kriteria tidak merusak peralatan maupun orang, desinfektan mempunyai efek sebagai deterjen dan efektif dalam waktu yang relatif singkat, tidak terpengaruh oleh kesadahan air atau keberadaan sabun dan protein yang mungkin ada.
Berbagai macam bahan telah dicobakan untuk mendapatkan efek desinfeksi yang maksimal dan ternyata desinfektan yang bersifat non-valative (tidak mudah menguap) yang mengandung senyawa fenol dan senyawa ammonium mempunyai daya desinfeksi yang tahan berhari-hari, selain itu senyawa-senyawa ini juga bersifat bakteriostatik (sapat mencegah pertumbuhan bakteri) sehingga pertumbuhan bakteri tetap. Sedangkan senyawa chlor dan iodine bersifat bakterisid atau memiliki daya bunuh bakteri yang kuat dan cepat akan tetapi aktifitas residunya tidak bertahan lama (Effendi dan Ronald, 1988).
Senyawa kimia yang dimiliki desinfektan mempunyai daya kerja sebagai pembasmi dan penghambat mikroorganisme tertentu, tidak semua desinfektan dapat digunakan untuk membasmi semua jenis mikroorganisme. Ada desinfektan yang hanya cocok untuk membasmi satu jenis mikroorganisme saja, namun ada pula yang mampu membasmi lebih dari dua jenis organisme (Sudarmono, 2003).
Persyaratan desinfektan. meliputi:
a. Mempunyai spektrum luas
b. Daya absorpsinya rendah pada karet, zat-zat sintetis, dan bahan lainnya.
c. Tidak korosif terhadap alat- alat netral.
23
d. Baunya tidak merangsang.
Efektivitas/desinfektan. Ditentukan oleh beberapa faktor:
1. Faktor mikroba
a. Jenis mikroba patoogen
Beberapa mikroba patogen memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan lainnya. Misalnya: M. tuberculosis relatif lebih tahan dibandingkan dengan mikroba vegetatif lainnya.
b. Jumlah mikroba patogen
Semakin banyak mikroba patogen, maka beban kerja desinfektan akan semakin berat.
2. Faktor peralatan medis
a. Adanya perlakuan-perlakuan sebelumnya, yaitu proses dekontaminasi, dan proses pembersihan. Kedua perlakuan tersebut sangat penting terutama proses pembersihan agar proses desinfeksi secara optimal.
b. Beban kandungan materi organik, adanya materi organik dapat mempengaruhi kerja desinfektan dengan cara melakukan peningkatan terhadap zat aktif desinfektan.
c. Struktur fisik peralatan medis dengan permukaan rata atau rumit.
d. Adanya larutan yang berisi mineral kalsium, dan magnesium yang menempel pada peralatan medis dapat mempengaruhi efektivitas desinfektan dengan cara mengikat zat aktif desinfektan.
3. Waktu pemaparan
Lamanya kontak antara desinfektan dengan mikroba patogen yang akan dieleminasi.
4. Faktor desinfektan
Tingkat keasaman desinfektan tergantung dari desinfektan ada yang bekerja secara optimal pada suasana asam atau suasana basa.
Jenis desinfektan. Beberapa desinfektan yang banyak digunakan (Septiari, 2017) ialah:
1. Alkohol
a. Etil, dan isopropil alkohol dengan konsentrasi optiman 60-90%.
b. Cukup efektif untuk membunuh semua mikroba patogen.
c. Tidak korosif pada logam.
d. Cepat menguap, sehingga waktu kontak sangat singkat kecuali merendamnya.
e. Dapat merusak bahan-bahan dari karet atau plastik.
f. Banyak dipakai sebagai desinfektan untuk peralatan seperti termometer oral/rektal, ambubag.
2. Klorin, dan derivatnya
a. Kemampuannya menginaktivasi mikroba patogen cukup luas.
b. Efek kerjanya cepat.
c. Sangat bermanfaat untuk dekontaminasi peralatan medis, sarung tangan termasuk juga untuk peralatan non medis.
d. Dapat menyebabkan korosi apabila konsentrasinya lebih dari 0,5%, dan waktu pemaparan lebih dari 20 menit.
3. Formaldehid
25
a. Nama dagang: formalin dengan konsentrasi efektif 8%
b. Daya menginaktivasi mikroba patogen cukup luas.
c. Dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, serta pernapasan.
d. Terinaktivasi oleh adanya materi organik.
e. Tidak korosif terhadap peralatan metal.
f. Pada konsentrasi yang tinggi bersifat karsinogenik.
4. Glutaraldehid
a. Merupakan derivat formaldehid.
b. Bersifat iritatif terhadap kulit, mata, dan pernapasan.
c. Tidak bersifat korosif terhadap peralatan metal.
d. Perlu ventilasi ruangan yang baik karena baunya yang menyengat.
e. Yang sering digunakan adalah Glutardehid dengan nama Cidex 5. Fenol
a. Umumnya digunakan untuk desinfeksi lantai, dinding, serta permukaan meja, dan sebagainya.
b. Nama dagang: Lysol, Kreolin.
Mekanisme kerja desinfektan. Cara kerja desinfektan berdasarkan proses- prosesnya adalah sebagai berikut (Tan & Kirana, 2002) yaitu:
1. Kerusakan pada dinding sel
Struktus dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat pembentuknya atau mengubahnya setelah selesai dibentuk.
2. Perubahan permeabilitas sel
Membrane sitoplasma mempertahankan bahan-bahan tertentu di dalam sel serta mengatur aliran keluar-masuknya bahan-bahan lain. Kerusakan pada membrane ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel.
3. Perubahan molekuk protein dan asam nukleat
Hidupnya suatu sel bergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiahnya. Suatu kondisi atau substasi mengubah keasaan ini, yaitu mendenatursikan protein dan asam-asam nukleat dapat merusak sel tanpa diperbaiki kembali.
4. Penghambatan kerja enzim
Setiap enzim dari beratus-ratus enzim berbeda-beda yang ada di dalam sel merupakan sasaran potensial bagi bekerjanya suatu penghambat. Banyak zat kimia diketahui dapat mengganggu reaksi biokimia. Penghambatan ini dapat mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel.
5. Penghambatan sintetis asam nukleat dan protein
DNA, RNA, dan Protein memegang peranan amat penting di dalam proses kehidupan normal sel. Hal ini berarti bahwa gangguan apapun yang terjadi pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel.
Desinfektan yang dipakai. Adapun desinfektan yang digunakan untuk pembersih lantai di Rumah Sakit Umum Haji Medan adalah merek S.O.S, Bayclin dan Presept. S.O.S mengandung Benzalkonium Klorida 1%, Bayclin mengandung Natrium Hipoklori 5,2%, Sedangkan Presept mengandung Troclocene sodium.
27
Berdasarkan penelitian Ariani, dkk (2015) bahwa ada perbedaan rata-rata angka kuman pada lantai ruang rawat inap antar dosis desinfektan yang berbeda.
Benzalkonium klorida. Bahan aktif yang berada di desinfektan yang biasa digunakan untuk mencegah penyebaran infeksi nosokomial melalui instrumen- instrumen yang berada di Rumah Sakit (Rahmi dkk, 2019).
Natrium hipoklorit. Zat ini biasa digunakan untuk pemutih dalam industri
pakaian, industri kertas, dan serbuk kayu (BPOM RI, 2014). Natrium hipoklorit salah satu unsur yang termasuk dalam unsur Klorin (Cl2). Klorin jarang dijumpai dalam bentu bebas, berwarna kuning kehijauan, dan memiliki bau menyengat. Pada umumnya klorin berikatan dengan unsur atau senyawa lain membentuk garam Natrium klorida (NaCl) atau membentuk ion klorida pada air laut. Klorin biasa digunakan sebagai desinfektan, pemutih, pembersih, atau pendingin (Hasan, 2006).
Presept. Menurut Yalina (2014) Tablet Presept termasuk dalam golongan
senyawa halogen yakni Klor. Klor adalah elemen berbentuk gas berkhasiat bakterisid kuat yang dalam konsentrasi kecil dapat dengan cepat membunuh kebanyakan bakteri, spora, fungi, dan virus. Penggunaan utamanya adalah sebagai desinfeksi lantai, air minum, dan kolam renang. Tablet Presept ketika dilarutkan dalam air akan efektif melalui spektrum biosida dan sangat tahan terhadap inaktivasi bakteri.
Metode Pengepelan di Rumah Sakit
Dari berbagai hasil penelitian di Rumah Sakit yang pernah dilakukan, salah satunya oleh Merissa, G (2013) sistem desinfeksi dengan metode semprot lebih baik daripada metode pengepelan secara konvensional. Dimana metode semprot
dilakukan dengan memasukkan bahan desinfektan dan air ke dalam alat penyemprot, lalu disemprotkan ke lantai yang telah dibersihkan sebelumnya secara searah. Lantai yang telah disemprot dibiarkan beberapa saat sampai lantai mengering. Tindakan ini meminimalkan terjadinya kontaminasi oleh bakteri.
Sementara pada Rumah Sakit Umum Haji Medan metode pengepelan yang dipakai ialah metode semprot.
Desinfektan S.O.S. Desinfektan dimasukkan ke dalam alat penyemprot sebanyak 15 cc / 5 Liter air lalu disemprotkan ke lantai yang sudah dibersihkan terlebih dahulu. Tidak ada aturan khusus dalam pemakaian, hanya saja dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan saat membersihkan permukaan ruangan Desinfektan bayclin. Takaran 15 cc desinfektan dicampur dengan 9 liter air lalu disemprotkan ke lantai yang sudah dibersihkan terdahulu.
Desinfektan presept. Takaran 4 tablet 0,05 gram / 1 Liter air lalu usap permukaan area dengan lap yang sudah direndam dalam larutan Presept. Tablet Presept tidak bisa digunakan dengan produk lain karena bisa mengeluarkan gas berbahaya.
Landasan Teori
Menurut Septiari (2017) desinfektan merupakan bahan kimia untuk desinfeksi pada benda mati. Yang memiliki persyaratan:
1. Mempunyai spektrum luas
2. Daya absorbsinya rendah pada karet, zat-zat sintetis, dan bahan lainnya.
3. Tidak korosif terhadap alat-alat metal 4. Baunya tidak merangsang
29
Adanya penurunan jumlah angka kuman dengan sebelum dilakukan proses desinfeksi dan sesudah dilakukan desinfeksi. jumlah angka kuman sebelum dilakukan proses desinfeksi mempunyai jumlah yang lebih banyak dibanding setelah dilakukan proses desinfeksi (Irsan, 2013).
Menurut hasil penelitian Dewi, dkk (2006) menunjukkan bahwa terdapat 9 spesies bakteri yang berbeda pada lantai ruang bedah IBS RS Sanglah yaitu:
Entobacter cloacae, Flavimonas oryzihabitans, Acinetobacter baumanii, Eschericia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter amnigenus, Klebsiella terrigena, Cedacea davisae, Pantosa sp. Desinfektan yang mengandung Lysol mempunyai efektivitas yang paling tinggi terhadap spesies bakteri lantai ruang bedah IBS RS Sanglah dibandingkan dengan carbol dan creolin.
Menurut penelitian yang dilakukan Brenda (2012) pada 15 sampel positif usap lantai yang terlihat hanya 13,33% efektif, sisanya 86,67% tidak efektif yaitu belum memenuhi standar batasan kuman lantai ruang perawatan intensif sebesar 5- 10 CFU/𝑐𝑚2.
Desinfektan S.O.S yang dipakai di Rumah Sakit Umum Haji Medan mempunyai bahan aktif Benzalkonium klorida. Dalam hal ini Benzalkonium klorida berfungsi sebagai desinfektan dengan merusak lapisan ganda fosfolipid dari sel bakteri, kemudian masuk ke dalam sel dan mendenaturasi protein, menonaktifkan enzim yang dibutuhkan sel. Penghancuran protein sel dan enzim kemudian menyebabkan kematian sel (Rahmi dkk, 2019).
Desinfektan Bayclin mengandung Natrium Hipoklorit (NaOCl). Dalam hal ini Natrium hipoklorit ialah desinfektan tingkat tinggi yang mekanisme kerjanya
adalah membunuh mikroorganisme dengan mengoksidasi ikatan peptida pada membran sel dan mendenaturasi protein (Maris, 1995).
Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka konsep
Angka kuman sebelum pemakaian desinfektan
Lantai Kamar Bedah
Lantai IGD
Lantai Rawat Inap
Pemberian desinfektan S.O.S, Bayclin, dan Presept
Angka kuman setelah pemakaian desinfektan
Lantai Kamar Bedah
Lantai IGD
Lantai Rawat Inap
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 Kondisi fisik
ruangan
Kamar bedah
IGD
Rawat inap
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, untuk mengetahui angka kuman sebelum dan sesudah pemberian desinfektan pada lantai kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Medan dengan mengambil sampel pada lantai kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan jumlah angka kuman di Laboratorium Keseharan Daerah (Labkesda) Provinsi Sumatera Utara.
Pemilihan lokasi penelitian dikarenakan belum adanya penelitian dilakukan mengenai uji desinfektan yang merujuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, dan pengelompokkan ruangan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Teknis bangunan dan Prasarana Rumah Sakit berdasarkan tingkat resiko terjadinya penularan penyakit serta ketersediaan rumah sakit sebagai sarana pendidikan dan sebagai tempat melakukan penelitian. Dalam hal ini, ruang kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III Ar-Rizal menjadi lokasi penelitian.
Waktu penelitian. Waktu penelitian dilakukan mulai Februari sampai Desember 2020. Jadwal penelitian dilakukan pada saat jadwal pembersihan kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap kelas III.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah angka kuman pada lantai di kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan satu ruangan rawat inap kelas III di Rumah Sakit Umum Haji Medan yang diambil 3 titik dengan metode usap (swab).
Variabel dan Definisi Operasional
1. Kondisi fisik adalah kondisi komponen bangunan gedung/ruang (Kamar Bedah, IGD, Rawat Inap Kelas III) saat dilakukan penelitian dengan menggunakan Pedoman Teknis Rumah Sakit Kementrian Kesehatan Tahun 2012
2. Angka kuman adalah jumlah suatu mikroorganisme atau mikroba yang biasanya patogenik. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit tingkat kepadatan kuman pada lantai di akhir proses desinfeksi, yaitu 0 s/d 5 cfu/cm²
3. Kamar Bedah adalah suatu unit khusus di rumah sakit yang berfungsi sebagai tempat untuk melakukan tindakan pembedahan secara efektif maupun akut, yang membutuhkan kondisi steril dan kondisi khusus lainnya.
4. Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu unit di rumah sakit yang harus dapat memberikan pelayanan darurat kepada masyarakat yang menderita penyakit akut dan mengalami kecelakaan, sesuai dengan standar.
5. Rawat Inap adalah ruang untuk pasien yang membutuhkan asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam.
6. Desinfektan adalah substansi kimia yang dipakai untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dengan menghalangi/merusaknya dan biasa digunakan pada
33
benda-benda mati. Pada penelitian ini menggunakan S.O.S, Bayclin dan Presept yang mengandung bahan aktif Benzalkonium klorida 1%, Natrium hipoklorit 5,2% dan Troclocene sodium.
7. Desinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/menghilangkan jumlah mikroorganisme pathogen penyebab penyakit (tidak termasuk spora) dengan cara fisik dan kimiawi.
Metode Pengumpulan Data
Data primer. Melakukan uji laboratorium terhadap angka kuman pada lantai untuk mengetahui efektivitas desinfektan yang dipakai.
Data sekunder. Sumber data sekunder diperoleh dari profil dan pengumpulan informasi Rumah Sakit Umum Haji Medan berupa merek desinfektan yang dipakai, metode pengepelan, waktu pengepelan, infeksi nosokomial yang pernah terjadi.
Metode Pengukuran
Pengukuran data dilakukan secara bertahap mulai dari pengenceran desinfektan, pengambilan spesimen sebelum dan sesudah perlakuan desinfektan dan menghitung angka kuman dari spesimen. Tingkat kepadatan kuman pada lantai pada akhir proses pengepelan dinilai berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, yaitu 0 s/d 5 cfu/cm².
Cara kerja pengambilan sampel. Dalam penelitian ini pengambilan objek penelitian dilakukan sebelum dan sesudah pemberian desinfektan.
1. Sebelum pemberian desinfektan
a. Amati kondisi fisik, pasien, pengunjung ataupun petugas di ruangan.
b. Ambil sampel menggunakan metode swab di beberapa titik yang sudah ditentukan, yaitu depan pintu, tengah ruang, dan bawah jendela.
c. Masukkan lidi kapas yang sudah di usap ke dalam tabung yang sudah di isi cairan pengencer.
d. Tempatkan tabung ketempat yang aman.
2. Setelah pemberian desinfektan
a. Waktu pengepelan di ruang IGD dan rawat inap dilaksanakan pada pagi dan sore hari, pengepelan di ruang kamar bedah dilaksanakan setelah dilakukannya operasi berlangsung.
b. Cleaning service rumah sakit membersihkan lantai, mulai dari menyapu sampai mengepel lantai.
c. Ambil sampel menggunakan metode swab di beberapa titik yang sudah ditentukan, yaitu depan pintu, tengah ruang, dan bawah jendela
d. Masukkan lidi kapas yang sudah di usap ke dalam tabung yang sudah di isi cairan pengencer.
e. Tempatkan tabung ketempat yang aman.
Teknik pengambilan spesimen.
1. Lepaskan lidi kapas dari pembungus steril dan basahi ujung dengan merendamnya dalam tabung berisi cairan pengenceran.
2. Tekan ujung spons ke dinding tabung untuk menghilangkan kelebihan air.
3. Tempatkan ujung penyeka di permukaan yang akan diamati dan mengenai permukaan sekitar 20 cm² hingga 100 cm², sambal memutar lidi kapas dengan
35
ibu jari dan jari telunjuk, dimana kedua jari membentuk sudut siku – siku satu sama lain.
4. Jika mengharapkan jumlah mikroorganisme yang banyak, siapkan pengenceran decimal lebih lanjut dalam pengencer air pepton untuk mendapatkan jumlah koloni yang dapat dihitung.
5. Lakukuan pengenceran lebih lanjut dengan cara yang sama. Balikkan plate dan inkubasikan dengan waktu dan suhu yang sesuai untuk setiap media.
Menghitung jumlah angka koloni.
1. Sediakan 6 buah tabung steril dalam rak tabung. Masing- masing tabung secara berurutan diberi tanda 10−1, 10−2, 10−3, 10−4, 10−5,-10−6 sebagai kode pengenceran, dan tanggal pemeriksaan.
2. Siapkan pula 7 petri dish steril. Pada 6 petri dish diberi tanda pada bagian belakangnya sesuai dengan kode pengenceran dan tanggal pemeriksaan seperti pada butir a. satu petri dish lainnya diberi tanda “kontrol”
3. Isi tabung pertama sampai dengan keenam dengan 9 ml garam buffer phospat PH 7,2
4. Kocok bahan specimen sampai homogen. Ambil 1 ml masukkan dalam tabung pertama dengan pipet, dibuat sampai homogen.
5. Pindahkan 1 ml bahan dari tabung pertama kedalam tabung kedua dengan pipet, dibuat sampai homogen.
6. Demikian seterusnya dilakukan sampai tabung keenam. Pengenceran yang diperoleh pada keenam tabung adalah: 10−1, 10−2, 10−3, 10−4, 10−5,-10−6 sesuai dengan kode pengenceran yang telah tercantum sebelumnya.
7. Dari masing-masing tabung diatas dimulai dari tabung keenam, dengan menggunakan pipet steril diambil 1 ml dimasukkan kedalam masing-masing petri dish steril, sesuai dengan kode pengenceran yang sama.
8. Kemudian kedalam masing-masing petri dish dituang Plate Count Agar cair yang telah dipanaskan dalam waterbath ±45ºC sebanyak 15-20 ml, masing masing petri dish digoyang perlahan-lahan hingga tercampur merata dan biarkan hingga dingin dan membeku
9. Kemudian dihitung angka kuman
Cara penghitungan angka kuman pada lantai Misal:
Pengenceran 10−3 : 151 koloni Pengemceran10−4 : 15 koloni Pengenceran10−5 : 3 koloni Pengenceran 10−6 : 0 koloni
Angka kuman = (200−1) x 100 + (151 – 1) x 1000 2
= 19900+150000 2
= 84950 koloni / 5 x 256 cm²
= 66,367/cm²
Metode Analisis Data
Analisa pengukuran jumlah angka kuman dalam pemakaian beberapa merek desinfektan pada lantai kamar bedah, instalasi gawat darurat, dan rawat inap Ar-
37
dengan membandingkan jumlah angka kuman pada lantai sebelum proses desinfeksi dengan angka kuman setelah proses desinfeksi, dan dihitung range antara jumlah angka kuman sebelum dan setelah proses desinfeksi dengan menggunakan desinfektan. Proses desinfeksi mengacu kepada panduan kegiatan menjaga kebersihan lingkungan dan langkah-langkah desinfeksi dalam rangka pencegahan penularan COVID-19.
Hasil Penelitian
Profil Rumah Sakit Umum Haji Medan
Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Haji Medan. Rumah Sakit Umum Haji Medan merupakan kategori rumah sakit umum kelas B yang ada di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Deli Serdang di perlintasan perbatasan kota Medan.
Luas tanah RSU Haji Medan sebesar 60.002 m² dan luas bangunan sebesar 13.837 m². Melalui Surat Keputusan Gubernus Provinsi Sumatera Utara No.
445.05/712.K/1991 tanggal 7 Maret 1991 maka dibentuk Panitia Pembangunan RSU Haji Medan dan peletakan batu pertama oleh Menteri Agama Republik Indonesia dan Gubernur Provinsi Sumatera Utara. Pada tanggal 4 Juni 1992 Presiden H.M. Soeharto meresmikan Rumah Sakit Haji Medan.
Visi dan misi Rumah Sakit Umum Haji Medan.
Visi. Dengan mempertimbangkan perkembangan, masalah, serta berbagai
kecenderungan pelayanan kesehatan kedepan, juga dalam mencapai sasaran pembangunan kesehatan yang tertuang di dalam RPJMD Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019 – 2023, maka ditetapkan Visi RSU Haji Medan adalah: “Rumah Sakit Unggulan terakreditasi yang bernuansa islami dengan pelayanan kesehatan prima”.
Misi. Dalam rangka mewujudkan visi “Rumah Sakit Unggulan terakreditasi yang bernuansa islami dengan pelayanan kesehatan prima” maka Misi RSU Haji Medan adalah:
1. Pelayanan keseharan yang Profesional Ramah dan Empati.
2. Melaksanakan tata kelola rumah sakit yang bermutu dan akuntabel dengan didukung sistem teknologi informasi.