τ i = pengaruh kelompok ke-
HASIL DAN PEMBAHASAN
P- Tersedia dan Retens
2. Tinggi Tanaman a Jagung
Pengaruh perlakuan teknik konservasi tanah, pengelolaan bahan organik dan hara P terhadap tinggi tanaman jagung disajikan pada Tabel 10, data tinggi tanaman umur 30HST, 45 HST dan 60 HST disajikan pada Lampiran 63, 65, dan 67. Sedangkan analisis sidik ragamnya disajikan pada Lampiran 64, 66, dan 68.
Analisis statistik menunjukkan bahwa paket teknologi berpengaruh nyata terhadap tanaman jagung tertinggi diperoleh pada paket teknologi P3 (pemberian SP- 36 dan strip Flemingia congesta). Paket teknologi P3 tidak berbeda nyata dengan
sangat dipengaruhi oleh pemupukan P dari SP-36 yang diberikan. Pupuk SP-36 berikan P yang lebih tinggi juga cepat tersedia bagi tanaman, sehing s
h cepat terpenuhi. Pad
terlihat nyata karena tanaman st naman sih kecil dan belum
meng kan bahan ang d plai b ik ba
mberian p 36 da katka han ering
tanam jagung. bila d an de alam SP-36
berpe uh terhad gi ta jagung ya r aman
angat golong rendah.
persentase tinggi tanaman jagung pada rip dan ta pagar ma
hasil hijauan y apat mensu ahan organ gi tanaman. Pe upuk SP- pat mening n pertumbu dan bobot k
an Namun ibandingk ngan fosfat , pupuk
ngar ap ting naman . Rendahn espon tan
dikarenakan kadar P tersedia dalam lum p mem rendah selain pelarutan P dari fosfat alam juga ter
tanah sebe emupukan ang sudah s
Tabel 10 Pengaruh paket teknologi terhadap
percobaan di Desa Indraloka II, Kecamatan Lambu Kibang, Kabupaten Lampung Tingi Tanaman (cm) Paket Teknologi 30 HST 45 HST 60 HST P0 53.22 b 51.89 c 54.22 c P1 140.11 a P2 155.33 a 100.00 a 156.78 a 159.67 a 171.00 a 65.80 a 173.00 a 179.00 a 47.33 a 168.33 a 171.67 a P3 1 P4 1 P5 59.44 b 66.22 bc 68.67 c P6 67.13 b 73.00 bc 73.67 bc P7 53.17 b 57.83 c 59.00 c P8 94.67 b 96.33 b 103.22 b
Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf 5% menurut uji BNT.
a waktu yang bersamaan pula dapat bereaksi dengan ahan tanah menjadi bentuk-bentuk yang tidak tersedia bagi tanaman sehingga P
al. (1999) pada tanah-tanah
Pupuk SP-36 dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung secara nyata dibandingkan dengan kontrol maupun dengan pupuk fosfat alam. Rendahnya respon tanaman ini diduga karena P tersedia dari fosfat alam pada saat awal pertumbuhan masih rendah. Walaupun selanjutnya pelarutan fosfat alam ini semakin meningkat, namun P yang dibebaskan pad
b
tersedia didalam tanah tetap rendah (Hammond et al., 1986). Selanjutnya Havlin et
masam dengan kadar P tersedia tanah rendah erikan P tersedia yang cukup bila diberikan dalam frekuensi 2-3 kali pupuk superfosfat.
b. Ubi Kayu
P aruh perlak adap tinggi i kayu disa a Tabel
11. Data tinggi tanama yu pada um 5HST, 60HST dan 100HST disajikan pada Lampiran 69, 71, 73, dan n analisis amnya
nggi tanaman ubi kayu tertinggi diperoleh pada paket teknologi P4 dan berbeda
u Kibang, Kabupaten Lampung akan memb
eng uan terh tanaman ub jikan pad
n ubi ka ur 30HST, 4
75, sedangka sidik rag
disajikan pada Lampiran 70, 72, 74, dan 76. Analisis statistik menunjukkan bahwa ti
nyata dengan paket teknologi lain yang juga diberi pupuk SP-36. Hal ini disebabkan, selain karena pupuk SP-36 yang cepat tersedia juga adanya pengaruh pemberian bahan organik tanah dan peranan bahan organik tanah yang selain dapat meningkatkan kapasitas tukar kation juga mampu meningkatkan P-tersedia pada tanah-tanah yang memiliki kapasitas erapan P yang tinggi.
Tabel 11 Pengaruh paket teknologi terhadap tinggi tanaman ubi kayu pada percobaan di Desa Indraloka II, Kecamatan Lamb
Tinggi Tanaman (cm) Paket teknologi 30 HST 45 HST 60 HST 100 HST P0 46.80 b 56.33 d 65.33 e 71.33 e P1 68.00 b 81.33 bc 95.00 bc 103.33 P2 69.67 b 89.00 ab 112.33 ab 112.00 bc ab P3 70.67 ab 89.67 abc 104.33 bc 113.67 a P4 76.87 a 101.33 a 117.00 a 127.00 a P5 52.20 b 63.33 d 71.33 de 78.00 de P6 45.00 b 57.00 d 64.33 de 72.00 e P7 44.73 b 55.33 d 65.67 de 74.67 de P8 54.80 b 67.67 cd 81.33 dc 89.67 cd
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang sama pada dak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji BNT.
. Biomass Tanaman Jagung
Berat biomass tanaman jagung tertinggi diperoleh pada perlakuan tanah yang iberikan pupuk SP-36 yang ditambah pupuk kandang (P4). Namun biomassa yang
ti
3
dihasilkan pada perlakuan fosfat alam tanpa teknolgi lainnya memperlihatkan iomassa yang sangat rendah. Hanya perlakuan fosfat alam dan pupuk kandang yang
emperlihatkan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pupuk fosfat alam ang ditambah teknologi lainnya.
. Produksi Tanaman
Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa paket teknologi yang iterapkan sangat nyata meningkatkan berat jagung pipilan kering dan produksi ubi ayu (Tabel 12). Data biomassa, tinggi tanaman dan hasil jagung pipilan kering isajikan pada Lampiran 77, 79, dan 81, sedangkan analisis sidik ragamnya disajikan ada Lampiran 78, 80, dan 82.
Berat jagung pipilan kering pada lahan yang diberi pupuk SP-36 lebih tinggi aripada tanah-tanah yang tidak d Demikian pula dengan produksi
kay pet ka II, Pa b m y 4 d k d p d iberi pupuk SP-36.
ubi kayu, dimana tanah-tanah yang diberi pupuk SP-36 memperlihatkan hasil ubi u yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan petak kontrol maupun ak perlakuan fosfat-alam.
Tabel 12 Pengaruh paket teknologi terhadap berat pipilan kering, biomassa tanaman jagung dan produksi ubi kayu pada percobaan di Desa Indralo Kecamatan Lambu Kibang, Kabupaten Lampung
ket Teknologi Pipilan (ton/ha)
Biomass (kg/ektar)
Ubi kayu (ton/ha)
P0 0.00 c 171.43 c 16.10 c P1 1.32 ab 3047.62 b 21.95 ab .86 c .48 c P2 1.77 a 3666.67 ab 27.71 a P3 2.10 a 3976.19 ab 26.33 a P4 1.84 a 4261.90 a 29.24 a P5 0.00 c 333.33 c 16 P6 0.12 c 366.67 c 17 P7 0.00 c 388.10 c 18.81 c P8 0.47 bc 1000.00 bc 24.29 bc Ang nya
Pupuk SP-36 selain mengandung jumlah P yang lebih banyak juga lebih cepat tersedia bagi tanaman. Oleh karena kondisi kesuburan tanah asal sangat rendah
ka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti dengan huruf yang sama, tidak berbeda ta pada taraf 5% menurut uji BNT.
termasuk hara P, maka pupuk SP-36 lebih mampu menyediakan P lebih banyak dan bih cepat tersedia bagi tanaman. Sedangkan pupuk fosfat alam mengandung hara sfor yang sangat rendah serta lambat tersedia. Tanaman yang mendapat suplai sfor cukup dapat meningkatkan pertumbuhan dan pengisian biji jagung lebih baik. ada tanah-tanah yang sangat miskin, pemberian fosfat alam baru akan efektif apabila iberikan 3 kali lebih banyak dari pupuk SP-36.
Hasil penelitian Sutopo (2003) menunjukkan bahwa pengaruh fosfat alam asih jauh lebih rendah dibandingkan dengan SP-36 maupun FA+SP-36, dimana obot kering atas tanaman dengan perlakuan fosfat alam, fosfat alam + SP-36 dan SP- 6 meningkat berurutan sebesar 100, 150 dan 200% dibandingkan kontrol.
le fo fo P d m b 3
KESIMPULAN
SP- por
2. Tek engan hedgerow Flemingia congesta dan pemberian
3. Pen an hara P serta bahan organik
kec ket
kan
. Paket Teknologi P4 (tanpa teknik konservasi tanah + pupuk SP-36 200kg/ha +
tan
1. Penggunaan pupuk kandang tanpa teknik konservasi tanah dan pemberian pupuk 36 200kg/ha mampu menurunkan bobot isi tanah serta meningkatkan ruang i total, pori drainase cepat dan permeabilitas tanah Ultisol.
nik konservasi tanah d
pupuk SP-36/musim mempunyai kurva retensi air tanah yang paling baik. erapan teknik konservasi tanah dan pengelola
belum mampu memperbaiki beberapa sifat-sifat kimia tanah, namun ada enderungan mampu meningkatkan kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, dan ersediaan P serta menurunkan Al3+.
4. Paket teknologi tanpa teknik konservasi tanah + pupuk SP-36 200kg/ha + pupuk dang mampu menurunkan jumlah sedimen, konsentrasi hara N-total, P-total dan K-total, serta konsentrasi C-organik dalam aliran permukaan.
5
pupuk kandang) mampu meningkatkan persentase penutupan lahan, tinggi aman, berat biomassa jagung dan produksi tanaman jagung dan ubi kayu.