• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Penelitian mengenai respons makan kepiting bakau terhadap umpan (Bab 3) telah menunjukkan bahwa kepiting bakau lebih menyukai umpan ikan selar. Sementara itu, berdasarkan uji pilihan kepiting terhadap kualitas umpan dalam penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepiting lebih memilih umpan ikan selar segar jika dibandingkan dengan umpan ikan selar rendam maupun ikan selar busuk. Adapun penelitian mengenai kemampuan penglihatan kepiting bakau (Bab 4) menyatakan bahwa arah penglihatan dan ketajaman penglihatannya bervariasi. Arah penglihatan kepiting bakau lebih dominan ke arah depan dalam jika dibandingkan dengan arah depan luar, belakang luar dan belakang dalam. Sementara itu, ketajaman penglihatan kepiting juga meningkat sesuai dengan ukuran lebar karapasnya. Semakin lebar karapas, ketajaman penglihatannya semakin tinggi. Penelitian mengenai kemampuan penglihatan kepiting bakau menyarakankan agar kesukaan kepiting bakau terhadap umpan selar segar dan kemampuan penglihatannya yaitu arah dan ketajaman penglihatan perlu dimanfaatkan dalam penelitian tingkah laku kepiting bakau terhadap bagian-bagian bubu.

Penelitian tingkah laku kepiting bakau terhadap bagian-bagian bubu diharapkan dapat memperbaiki kekurangan pada bubu lipat bentuk balok yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap kepiting tersebut. Hal ini dikarenakan bubu tersebut masih memiliki kelemahan. Kelemahannya antara lain masih sulit dimasuki kepiting dewasa, namun lebih mudah dimasuki oleh kepiting muda. Padahal, Archdale et al. (2007) menginformasikan bahwa semua kepiting yang masuk ke dalam bubu tersebut akan sulit meloloskan diri. Kelemahan lainnya adalah bubu tersebut sering mengalami kerusakan pada bagian dindingnya karena dirobek oleh kepiting bakau. Kerusakannya dalam jumlah banyak akan menyulitkan nelayan untuk memperbaikinya sebagaimana telah diuraikan pada bagian Pendahuluan Umum (Bab 1). Kelemahan bubu tersebut menunjukkan bahwa tingkat efektivitas dan efisiensinya untuk menangkap kepiting bakau masih rendah.

Bubu lipat sebenarnya dapat dirancang menjadi lebih efektif, efisien dan ramah lingkungan untuk menangkap kepiting bakau dengan memanfaatkan informasi tingkah laku kepiting bakau. Caranya adalah informasi mengenai tingkah laku kepiting bakau dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki metode penangkapan dan merancang ulang bubu lipat bentuk balok. Hingga saat ini informasi mengenai tingkah laku kepiting terhadap bubu masih kurang tersedia karena kajiannya belum banyak dilakukan oleh para peneliti. Padahal, Purbayanto et al. (2010) telah menginformasikan bahwa pengetahuan tingkah laku ikan (termasuk tingkah laku kepiting bakau) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan teknologi penangkapan karena merupakan dasar penentuan aspek teknologi alat yang akan dikembangkan.

Beberapa peneliti telah melakukan kajian tingkah laku kepiting terhadap bubu, namun kajian mereka menggunakan kepiting jenis yang lain. Kim dan Ko (1987, 1990) meneliti pengaruh bidang lintasan masuk bubu lipat terhadap tingkah

laku kepiting Charybdis sp di Korea. Zhou dan Shirley (1997a) mengkaji tingkah laku red king crab terhadap bentuk bubu. Archdale et al. (2003, 2006, 2007) meneliti pengaruh mulut masuk bubu lipat terhadap kepiting Charybdisjaponica

dan Portunuspelagicus di Jepang.

Penelitian tingkah laku kepiting tersebut di atas memiliki perbedaan dengan penelitian ini. Tingkah laku kepiting yang digunakan dalam kajian tersebut di atas kemungkinan berbeda dengan tingkah laku kepiting bakau. Selain itu, Penelitian tersebut di atas menggunakan unit bubu lengkap yang diujicobakan terhadap kepiting sehingga tidak menggambarkan pengaruh masing-masing bagian bubu terhadap tingkah laku kepiting. Adapun penelitian ini secara khusus melakukan kajian mengenai tingkah laku kepiting bakau terhadap bagian-bagian bubu lipat. Kajiannya meliputi pengaruh material dan bentuk konstruksi masing-masing bagian bubu terhadap tingkah laku kepiting bakau. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan (1) ukuran mata jaring bidang lintasan masuk bubu lipat yang mudah dilewati oleh kepiting bakau, (2) sudut kemiringan bidang lintasan masuk yang mudah dilewati oleh kepiting bakau, (3) bentuk bidang lintasan masuk yang mudah dilewati oleh kepiting bakau, (4) bentuk mulut masuk yang selektif terhadap ukuran kepiting bakau, dan (5) jenis material dinding bubu yang tahan terhadap daya rusak kepiting bakau.

Bahan dan Metode

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Bahan dan Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Pelaksanaannya berlangsung antara bulan Juli 2011 hingga Mei 2012. Penelitian menggunakan alat berupa 1 wadah percobaan, 1 wadah penampung, dan 5 wadah aklimatisasi. Alat lain yang digunakan adalah 1 buah bubu standar nelayan dengan sudut kemiringan bidang lintasan masuk 20 derajat. Bahan yang digunakannya berupa 4 jenis kepiting bakau yaitu S.serrata, S.paramamosain, S.tranquebarica dan S.olivacea dengan ukuran dewasa (lebar karapas 8,5-12 cm). Setiap jenis kepiting tersebut terdiri atas 4 individu. Penelitian terdiri atas pengujian bubu nelayan, pengujian bidang lintasan masuk bubu, pengujian sudut kemiringan bidang lintasan masuk bubu, dan pengujian bentuk bidang lintasan masuk bubu.

Pengujian bubu nelayan dilakukan sebagai berikut:

- 1 individu kepiting dewasa dipilih dari setiap jenis kepiting kemudian dimasukkan ke dalam wadah percobaan.

- Sebuah bubu berisi umpan ikan selar segar dimasukkan ke dalam wadah percobaan dan diatur jarak dan posisinya dari tempat kepiting.

- Kepiting dibiarkan untuk merayap ke arah bubu.

- Pergerakan kepiting ke arah bubu hingga memasuki bubu diamati dengan bantuan rekaman video.

- Pengamatan ini dilakukan sebanyak 4 kali ulangan.

- Perlakuan yang sama diberikan kepada individu kepiting lainnya.

Pengujian bidang lintasan masuk di lakukan dalam dua tahapan yaitu (1) pegujian ukuran mata jaring pada bidang lintasan masuk dan (2) pengujian sudut

kemiringan bidang lintasan masuk. Pengujian ukuran mata jaring bidang lintasan masuk dimaksudkan untuk mendapatkan ukuran mata jaring yang mudah dilalui oleh kepiting bakau. Adapun pengujian sudut kemiringan bidang lintasan masuk dimaksudkan untuk mengetahui sudut kemiringan bidang tersebut yang mudah dilewati oleh kepiting bakau.

Pengujian menggunakan alat dan bahan penelitian yang sama dengan pengujian bubu nelayan. Bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah air laut dan 4 jenis kepiting bakau yaitu S.serrata, S.paramamosain, S.tranquebarica dan

S.olivacea. Setiap jenis kepiting terdiri atas 4 individu dengan ukuran LK 8,5 – 12 cm. Bahan lain yang digunakan adalah jaring PE: 210 D/6 dengan ukuran mata 0,5 inci; 0,75 inci; 1 inci; 1,25 inci dan 1,5 inci. Alasannya adalah jaring PE: D 210/6 dengan lima ukuran mata jaring tersebut biasa digunakan untuk membuat bubu lipat. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode observasi atau pengamatan dengan kondisi terkontrol. Tahapan percobaannya sebagai berikut:

- Kawat galvanis ukuran diameter 4 mm dibentuk persegi panjang dengan dimensi 20×47 (cm2). Bingkai tersebut diselubungi dengan jaring PE: 210 D/6 ukuran mata 0,5 inci. Bingkai ini merupakan tiruan bidang lintasan masuk. Selanjutnya bingkai tersebut dipasang pada sebuah penyanggah hingga membentuk sudut 20 derajat. Ukuran sudut 20 derajat merupakan representasi dari sudut kemiringan bidang lintasan masuk bubu lipat standar nelayan. - Penyanggah yang telah dipasangi bingkai dimasukkan ke dalam wadah

percobaan berisi corong pengarah yang terbuat dari kaca bening dengan ketebalan 5 mm. Konstruksi tersebut diposisikan di bagian tengah wadah percobaan dengan jarak 30 cm dari corong pengarah.

- Satu kepiting S.serrata dimasukkan ke dalam wadah percobaan dan ditempatkan di dalam corong pengarah.

- Umpan berupa ikan selar segar diposisikan di belakang bidang lintasan masuk untuk memikat kepiting.

- Kepiting dibiarkan bergerak ke arah bidang lintasan masuk.

- Pola pergerakan kepiting ketika bergerak ke arah bidang lintasan masuk dan ketika merayap di atasnya diamati dengan bantuan kamera video. Percobaan ini diulang sebanyak 3 kali ulangan. Perlakuan yang sama dilakukan terhadap kepiting lainnya.

- Percobaan selanjutnya menggunakan ukuran mata jaring 0,75 inci, 1 inci, 1,25 inci dan 1,5 inci dengan metode yang sama dengan tahapan percobaan tersebut di atas.

Pengujian sudut kemiringan bidang lintasan masuk bubu juga menggunakan alat dan bahan yang sama dengan pengujian sebelumnya yaitu pengujian bubu nelayan dan pengujian ukuran mata jaring bidang lintasan masuk. Perbedaan pengujian ini dengan pengujian ukuran mata jaring adalah ukuran mata jaring yang digunakan hanyalah ukuran 1 inci dikarenakan ukuran mata jaring 1 inci lebih mudah dilewati oleh kepiting bakau. Penelitian difokuskan pada sudut kemiringan bidang lintasan masuk. Tiga sudut bidang lintasan masuk yang diujicobakan dalam penelitian adalah 20 derajat, 40 derajat dan 60 derajat. Ukuran sudut 20 derajat disesuaikan dengan ukuran sudut kemiringan bidang lintasan masuk bubu nelayan

40 derajat dan 60 derajat merupakan modifikasi sudut kemiringan bidang lintasan masuk dalam penelitian ini. Tahapan pengujian sebagai berikut:

- 1 bidang lintasan masuk dengan sudut kemiringan 20 derajat dimasukkan ke dalam wadah percobaan berisi air laut setinggi 40 cm. Sebelumnya, di dalam wadah percobaan telah ditempatkan sebuah naungan berwarna hitam dengan ukuran 20×10×10 (cm3). Fungsi naungan adalah sebagai tempat berlindung kepiting. Jarak antara naungan dan bidang lintasan masuk adalah 30 cm. - Satu individu kepiting S.serrata dimasukkan ke dalam wadah percobaan dan

diposisikan di depan bidang lintasan masuk kemudian kepiting dibiarkan masuk ke dalam naungan.

- Umpan berupa ikan selar segar dikaitkan pada kawat umpan kemudian dimasukkan ke dalam wadah percobaan dan diposisikan di bagian belakang bidang lintasan masuk. Penggunaan umpan dimaksudkan untuk memikat kepiting dan dalam pergerakannya ke arah umpan, kepiting akan melewati bidang lintasan masuk.

- Kepiting diberikan kesempatan untuk merayap ke arah umpan.

- Pengamatan dilakukan terhadap pola pergerakan kepiting ketika keluar dari naungan hingga kepiting merayap di atas bidang lintasan masuk.

- Pengamatan dibantu dengan rekaman kemera video. - Percobaan ini diulang sebanyak 3 kali ulangan.

- Perlakuan yang sama dilakukan terhadap individu kepiting lainnya. Percobaan selanjutnya menggunakan sudut 40 derajat dan 60 derajat.

- Jika pergerakan kepiting tidak terarah maka air dalam wadah percobaan diganti dengan air baru untuk percobaan berikutnya.

Gambar 20 menunjukkan ilustrasi pengujian bidang lintasan masuk.

Pengujian bentuk bidang lintasan masuk bubu juga menggunakan alat dan bahan yang sama dengan penelitian sebelumnya yaitu pengujian bubu nelayan dan pengujian bidang lintasan masuk. Perbedaannya adalah penelitian ini menggunakan alat berupa 2 buah bidang lintasan masuk yang berbeda bentuknya yaitu bentuk lurus dan menyempit (corong). Tahapan pengujiannya sebagai berikut:

Gambar 20 Bidang lintasan masuk (a) dan posisi bidang lintasan masuk terhadap kepiting bakau (b)

- 1 bentuk bidang lintasan masuk dibentuk dari penggabungan 3 bidang lintasan masuk dengan bahan jaring PE: 210 D/6 ukuran mata 1 inci. Ukuran bidang lintasan masuk sama dengan ukuran bidang pada pengujian ukuran jaring dan sudut kemiringan bidang lintasan masuk. Salah satu bidang berfungsi sebagai dasar bidang lintasan masuk sementara 2 bidang lainnya berfungsi sebagai dinding atau pengarah. Bidang lintasan masuk terdiri atas 2 bentuk yaitu standar (lurus) dan menyerupai corong (menyempit).

- 1 individu kepiting bakau S.serrata dimasukkan ke dalam wadah percobaan berisi air laut dan dibiarkan masuk ke dalam naungan.

- Konstruksi mulut masuk berbentuk lurus dimasukkan ke dalam wadah percobaan dan diposisikan di bagian aliran air masuk.

- 1 buah umpan selar segar dimasukkan juga ke dalam wadah percobaan dan diposisikan di bagian belakang pipa saluran air masuk. Penempatan posisi umpan seperti ini dimaksudkan agar kepiting akan melewati bentuk bidang lintasan masuk ketika bergerak ke arah umpan.

- Percobaan ini dilakukan sebanyak 3 kali ulangan.

- Perlakuan yang sama diberikan kepada individu kepiting lainnya.

- Percobaan yang sama juga dilakukan terhadap bidang lintasan masuk bentuk corong.

Gambar 21 menunjukkan ilustrasi pengujian bentuk mulut masuk.

Gambar 21 Ilustrasi uji bidang lintasan masuk

Pengujian bentuk dan ukuran mulut masuk merupakan kelanjutan dari percobaan sebelumnya yaitu pengujian bidang lintasan masuk dan bentuk bidang lintasan masuk. Alat percobaannya terdiri atas wadah percobaan, wadah penampung, wadah aklimatisasi, alat ukur kualitas air dan kamera video. Bahan percobaannya berupa empat jenis kepiting bakau yaitu S.serrata, S.paramamosain, S.olivacea dan S.tranquebarica, masing-masing sebanyak 4 individu dengan ukuran LK 8,5-12 cm. Perbedaannya adalah percobaan ini menggunakan beberapa bentuk konstruksi mulut masuk bubu.

Konstruksi mulut masuk dibentuk celah sebagai jalan masuk atau keluar. Ukuran tinggi celah tersebut dibuat sama dengan ukuran tinggi maksimal kepiting yang belum layak tangkap. Penggolongan ukuran kepiting muda dan dewasa mengikuti kategori dari Jirapunpipat et al. (2008) dan Tongdee (2001) bahwa kepiting bakau dewasa berada pada ukuran lebar karapas rata-rata 8,5-8,6 cm. Data

ukuran tubuh kepiting percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa pertambahan ukuran panjang, lebar maupun tinggi kepiting adalah linear. Kepiting dengan ukuran lebar karapas 8,5-8,6 cm memiliki kisaran tinggi badan 3-3,5 cm. Berdasarkan ukuran tersebut maka tinggi celah konstruksi mulut masuk dibuat maksimal 3,5 cm. Ada empat konstruksi mulut masuk yang diuji yaitu konstruksi mulut masuk (a), (b), (c) dan (d). Gambar 22 menunjukkan ilustrasi pengujian bentuk konstruksi mulut masuk bubu.

Gambar 22 Ilustrasi bentuk konstruksi mulut masuk

Pengujian bentuk konstruksi mulut masuk bubu terdiri atas beberapa tahapan. Tahapannya sebagai berikut:

- 1 individu kepiting S.serrata dimasukkan ke dalam wadah percobaan berisi air laut dan di dalamnya ditempatkan juga sebuah naungan berwarna hitam. Setelah itu kepiting tersebut dibiarkan masuk ke dalam naungan.

- Bentuk konstruksi mulut (a) dimasukkan ke dalam wadah percobaan yang sama dan diposisikan di bagian tengah akuarium tersebut.

- Umpan berupa ikan selar segar digantung di bagian aliran air masuk dengan maksud bau umpan akan tersebar aliran air ke arah kepiting.

- Kepiting dibiarkan bergerak ke arah umpan dimana pergerakannya ke arah umpan akan melewati konstruksi mulut (a).

- Ketika kepiting mencapai umpan maka umpan tersebut dikeluarkan dari akuarium. Kepiting dibiarkan berupaya kembali ke posisi naungan. Satu- satunya jalan kembali adalah melalui konstruksi mulut masuk yang telah dilewati sebelumnya.

- Kepiting yang belum kembali ke posisi awal (di posisi naungan) akan dibiarkan selama 12 jam sesuai dengan lama waktu maskimal pengamatan. Lama waktu 12 jam adalah waktu perendaman optimal bubu lipat yang biasa dilakukan oleh nelayan untuk menangkap kepiting bakau.

- Pengamatan dibantu dengan rekaman video. - Percobaan ini diulang sebanyak 3 kali.

- Percobaan selanjutnya menggunakan konstruksi mulut (b), (c), dan (d) dengan menggunakan tahapan yang sama dengan percobaan konstruksi (a).

- Uji yang sama dilakukan juga terhadap individu kepiting jenis lainnya.

Gambar 23 menunjukkan ilustrasi pengujian konstruksi mulut masuk di dalam wadah percobaan.

Keterangan o : karet vakum

Gambar 23 Ilustrasi pengujian konstruksi mulut masuk

Uji ketahanan material dinding bubu juga menggunakan beberapa alat yang sama dengan percobaan sebelumnya. Perbedaannya adalah percobaan ini menggunakan sebuah alat simulasi berupa kotak berbentuk kubus dengan ukuran 25 × 25 × 25 (cm3). Rangka kotak dibuat dari kawat galvanis diameter 4 mm. Adapun dindingnya menggunakan beberapa material uji seperti kawat galvanis anyam ukuran mata 1×1 (cm2), tali PE berdiameter 2 mm dengan ukuran mata 2 inci dan jaring PE: 210 D/6 ukuran mata 1 inci. Penelitian menggunakan kepiting

S. olivacea dewasa yang berdasarkan pengamatan sangat agresif. Selain itu, ukuran capit kepiting ini lebih besar dibandingkan ukuran capit kepiting lainnya. Vermeij (1977) juga menyatakan bahwa ukuran capit S.olivacea secara rata-rata lebih besar dari ukuran capit kepiting Scylla lainnya. Tahap pengujiannya sebagai berikut:

- 1 individu kepiting Scylla olivacea berukuran besar dimasukkan ke dalam kotak dengan dinding dari bahan kawat galvanis.

- Kotak berisi kepiting dimasukkan ke dalam wadah percobaan dan dibiarkan selama 12 jam. Penggunaan waktu 12 jam merupakan waktu optimal dalam pengoperasian bubu lipat di lapangan.

- Pergerakan kepiting dan upaya kepiting meloloskan diri dari dalam kotak tersebut diamati dengan rekaman video.

- Setelah 12 jam kotak berisi kepiting dikeluarkan dari dalam wadah percobaan.

- Kondisi dinding bubu diamati dan kerusakannya dicatat serta didokumentasi dengan kamera foto.

- Perlakuan yang sama diberikan terhadap kotak dengan dinding yang terbuat dari bahan lainnya.

Data penelitian dianalisis dengan beberapa pengujian. Rincian analisis data sebagai berikut :

- Data uji ukuran mata jaring bidang lintasan masuk dianalisis secara diskripif komparatif.

- Data uji sudut kemiringan bidang lintasan masuk dianalisis secara diskriptif komparatif dan secara statistika yaitu uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney.

- Data uji bentuk bidang lintasan masuk dianalisis secara diskriptif komparatif. - Data uji konstruksi bentuk mulut yang mudah dimasuki oleh kepiting bakau

dianalisis secara diskriptif komparatif.

Data penelitian yang dianalisis secara statistika diolah dengan program SPSS for Windows dengan mengikuti petunjuk Santoso (1999).

Hasil

Tingkah laku kepiting bakau terhadap bubu lipat standar nelayan

Kepiting bakau merespons bubu berisi umpan dengan merayap mendekati bubu. Mula-mula kepiting bergerak ke arah bubu dengan posisi badan menyamping. Pergerakannya ke arah bubu dilakukan dengan merapatkan badannya ke dinding wadah percobaan. Selanjutnya, kepiting bergerak mengitari bubu dengan badan masih merapat ke dinding wadah percobaan. Setelah itu kepiting bergerak merapat ke bubu. Ketika berada di samping bubu dan posisinya berdekatan dengan umpan maka kepiting berusaha memasukkan capitnya melalui mata jaring untuk mengambil umpan. Selanjutnya, kepiting memanjat badan bubu dan merayap ke atas badan bubu. Kemudian kepiting turun kembali ke dasar wadah percobaan namun tetap berada di dekat bubu. Kepiting bergerak lagi mengelilingi bubu dengan badan merapat di sisi bubu. Ketika berada di dekat bidang lintasan masuk kepiting memutar tubuhnya dan bergerak ke atas bidang lintasan masuk. Sesampainya di bagian mulut masuk, kepiting berhenti kemudian berupaya untuk membuka mulut masuk. Mulut masuk di bagian pinggir yang di dorong oleh kepiting tidak terbuka lebar sehingga kepiting masih tertahan di bagian mulut

masuk. Selanjutnya, kepiting keluar dari bidang lintasan masuk dan meninggalkan bubu.

Pergerakan kepiting pada bidang lintasan masuk bubu nelayan menunjukkan bahwa kepiting mengalami kesulitan ketika bergerak pada bagian tersebut. Kaki- kaki jalannya tampak menembus jaring bidang lintasan dan berpijak di atas dasar wadah percobaan sehingga kaki-kaki jalannya tampak terkait pada jaring namun kepiting tetap berupaya merayap mendekati bagian mulut masuk. Ketika mendekati bagian mulut masuk kepiting bergerak ke arah bagian tengah bidang lintasan masuk dan berupaya masuk dari bagian tengah mulut masuk. Akan tetapi, berulang kali kaki jalannya tampak terkait pada mata jaring bidang lintasan masuk dan duri-duri pada bagian dahi dan bagian karapasnya tampak terkait pada mata jaring bidang lintasan masuk bagian atas maupun bawah. Setelah itu kepiting keluar lagi dari bidang lintasan masuk dan meninggalkan bubu. Kepiting bakau muda lebih mudah masuk ke dalam bubu. Kaki jalannya tampak tidak menyentuh dasar wadah. Badannya merapat pada bagian dinding bidang lintasan masuk. Ketika kepiting bergerak ke bagian tengah mulut masuk maka kepiting dapat melewati bagian mulut masuk dan akhirnya masuk ke dalam bubu. Setelah diperhatikan struktur jaring pada sambungan atau pertemuan antara bidang lintasan masuk dan dinding bubu merapat karena jahitan telah membantu pergerakan kepiting muda melewati bidang lintasan masuk secara mudah.

Kelemahan bubu lipat bubu nelayan juga terletak pada bagian bidang lintasan masuk dan konstruksi mulut masuk. Kepiting mengalami kesulitan untuk melewati bidang lintasan masuknya. Kaki jalan kepiting dewasa menembus mata jaring dan berpijak di atas wadah percobaan sehingga sering terkait pada mata jaring bidang lintasan masuk. Adapun bagian konstruksi mulut masuk juga menghambat kepiting dewasa untuk masuk ke dalam bubu. Mulut masuknya terlampau rapat sehingga kepiting dewasa mengalami kesulitan membukanya. Kepiting dewasa telah berupaya melewati bagian mulut masuk, namun duri-duri (spine) pada bagian tubuh tersebut masih terkait pada jaring di bagian mulut masuk. Selain itu, tarikan dan ikatan tali pada bagian mulut masuk juga terlampau kencang sehingga bagian celah mulut masuk tampak menegang. Mulut masuk yang kurang kendur menyebabkan kepiting kesulitan membuka celah mulut masuk. Dengan demikian, bidang lintasan masuk dan konstruksi mulut masuknya harus diperbaiki untuk memudahkan kepiting dapat melewatinya dan masuk ke dalam bubu.

Tingkah laku kepiting bakau terhadap ukuran mata jaring bidang lintasan masuk

Secara umum, kepiting bakau dapat melalui semua ukuran mata jaring. Akan tetapi, kepiting sulit bergerak pada ukuran mata jaring 0,5; 0,75; 1,25 dan 1,5 inci. Pada ukuran mata jaring 0,5 dan 0,75 inci, kepiting mengalami kesulitan merayap karena lipatan kaki jalannya dan kaki renangnya tidak mendapatkan tumpuan. Kaki jalannya terjepit pada mata jaring dan bagian dactylus pada kaki renangnya sulit untuk mendapatkan pijakan. Kepiting juga mengalami kesulitan ketika merayap di atas ukuran mata jaring 1,25 dan 1,50 inci. Lipatan kaki jalan dan kaki renang terperosok masuk ke dalam mata jaring tersebut. Kepiting lebih mudah merayap di atas mata jaring 1 inci. Lipatan kaki jalan dan bagian dactylus kaki renangnya mendapatkan tumpuan pada ukuran mata jaring ini sehingga dapat merayap di atas mata jaring tersebut. Tabel 23 menunjukkan ukuran setiap mata jaring, sementara

Gambar 25 menunjukkan hubungan antara ukuran kaki kepiting bakau dewasa (lebar karapas 8,5 cm) dengan ukuran mata jaring 1 inci. Adapun Gambar 26 menunjukkan kemampuan kepiting melewati setiap ukuran mata jaring.