• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. Tingkat Suku Bunga

Setiap perusahaan pada umumnya tidak dapat mengandalkan pendanaan sendiri (modal sendiri) untuk setiap operasinya. Dalam melakukan ekspansi, perusahaan biasanya memerlukan tambahan modal untuk pembelian bangunan, mesin-mesin dan properti pabrik lainnya. Alternatif yang diambil perusahaan dalam memenuhi keinginan memperbesar skala bisnis dalam hal ini salah satunya adalah utang (pinjaman). Pemilihan alternatif inilah yang mengharuskan perusahaan untuk membayar harga atau imbal hasil dari harga yang dipinjam, yang pada akhirnya besaraannya disebut dengan tingkat suku bunga.

Pengertian dasar dari suku bunga adalah harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu. Teori klasik menyatakan bahwa bunga adalah harga dari

loanable funds (dana investasi). Bunga adalah imbal jasa atas pinjaman uang. Imbal jasa ini merupakan suatu kombinasi kepada pemberi pinjaman atas manfaat ke depan dari uang tersebut apabila diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersebut disebut “pokok utang” (principal). Persentase dari pokok utang yang dibayarkan

sebagai imbal jasa (bunga) dalam suatu periode tertentu disebut “suku bunga”

Miller dan Vanhoose dalam

Makaryanawati (2009) menyatakan “Bunga adalah sejumlah dana, dinilai dalam uang, yang diterima si pemberi pinjaman (kreditor), sedangkan suku bunga adalah rasio dari bunga terhadap jumlah pinjaman”.

Tingkat suku bunga merupakan persentase dari pokok pinjaman yang harus dibayar oleh peminjam kepada pemberi pinjaman sebagai imbal jasa yang dilakukan pada periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak (Makarnawati, 2009:54). Sunariyah (2006,105) mengemukakan bahwa jika tingkat suku bunga meningkat maka jumlah tabungan juga meningkat. Hal ini akan membuat masyarakat yang kelebihan dana tidak tertarik berinvestasi, dan sebaliknya perusahaan akan kesulitan dalam mendanai investasinya dikarenakan tingginya biaya modal. Fungsi suku bunga menurut Sunariyah (2006,106) adalah :

1. sebagai daya tarik bagi para penabung yang mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan,

2. suku bunga dapat digunkan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian,

3. pemerintah dapat memanfaatkan suku bunga untuk mengontrol jumlah uang beredar.

Suku bunga ditentukan oleh dua kekuatan, yaitu penawaran tabungan dan permintaan investasi modal. Tinggi rendahnyan suku bunga akan mempengaruhi tinggi rendahnya minat masyarakat dalam menabung, serta berdampak pada tinggi rendahnya penawaran dana investasi. Suku bunga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu suku bunga nominal dan suku bunga rill. Suku bunga nominal adalah rasio antara jumlah uang yang dibayarkan kembali dengan jumlah uang yang dipinjam.

Sedangkan suku bunga rill lebih menekankan pada rasio daya beli uang yang dibayarkan kembali terhadap daya beli uang yang dipinjam. Suku bunga rill adalah selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi.

Bersarnya tingkat suku bunga berkaitan dengan investasi. Sebagaimana disebutkan. Menurut Keynes dalam Manullang (1983) “Bunga adalah semata- mata gejala moneter, bunga itu adalah sebuah pengeluaran untuk menggunakan uang”. Keynes berpendapat bahwa ada pengaruh tingkat suku bunga terhadap perekonomian seluruhnya, yang pada gilirannya investasi akan dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Teori klasik menyatakan bahwa bunga adalah harga dari

loanable funds (dana investasi), dengan demikian bunga adalah harga yang berlaku di pasar dan investasi.

Untuk melihat hubungan antara suku bunga dengan investasi, dapat dijelaskan oleh teori R.C Hawrey yang berbunyi : “Jika tingkat bunga turun, maka investasi akan menguntungkan, dan permintaan modal akan naik”. Ini berarti bahwa tingkat suku bunga merupakan salah satu faktor determinan dalam investasi.

Karvov (2004,79) mengungkapkan bahwa secara teoritis hubungan antara tingkat suku bunga dan kinerja pasar modal dan investasi adalah negatif atau berbanding terbalik. Kenaikan suku bunga pada umumnya akan membuat gairah di pasar modal serta investasi menurun karena akan memotong laba perusahaan dan meningkatkan biaya modal. Hal ini terjadi dengan dua cara. Pertama, kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya modal (cost of capital) dalam bentuk beban bunga yang harus ditanggung perusahaan, sehingga labanya bisa terpangkas; kedua, ketika suku bunga tinggi, biaya produksi akan meningkat dan

harga produk akan semakin mahal sehingga konsumen mungkin menunda pembeliannya dan menyimpan uangnya di bank dan sebaliknya pihak perusahaan akan menunda pembelian atau penambahan asset-asset produktif, pendirian atau perluasan pabrik, dan pembelian asset-asset jangka panjang lain.

Dari sejumlah teori tersebut, dapat dilihat bahwa suku bunga sangat berhubungan dengan investasi, dimana jika suku bunga meningkat akan berdampak negatif (penurunan) dalam investsi yang disebabkan oleh tingginya biaya modal, sebaliknya jika tingkat suku bunga turun akan berdampak positif bagi dorongan investasi yang disebabkan investasi akan lebih menguntungkan karena semakin rendahnya biaya modal yang ditanggung perusahaan. Dengan kata lain tingkat suku bunga merupakan stimulus yang menjadi fokus pertimbangan dalam keputusan investasi. Untuk lebih menguatkan teori ini, penulis mencoba mengutip pernyataan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani (www.Media _indonesia.Com) “Suku bunga merupakan stimulan bagi investasi”.

Dalam perusahaan, keputusan untuk menambah investasi atau ekspansi aktiva tetap tidak bisa lepas dari pertimbangan suku bunga. Di indonesia suku bunga ditentukan oleh Bank Indonesia yang disebut dengan BI rate. BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publi Masyarakat investasi cenderung mengharapkan penurunan suku bunga Bank Indonesia atau BI Rate. “Turunnya suku bunga BI, maka akan diikuti oleh penurunan suku bunga pinjaman (lending rate), masyarakat/perusahaan mengalihkan tabungan di bank ke beragam investasi, dan selanjutnya kondisi ini

merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk mengingkatkan investasi atau ekspansi” sebagaimana dikutip dari pernyataan Senior Vice Indomitra Sekuritas David Manurung (www. Surya_online.com). Ini semakin menguatkan hubungan yang saling mempengaruhi antara tingkat suku bunga dengan investasi.

BI Rate ditentukan berdasarkan rapat Dewan Gubernur Bank Indoneisa. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan menaikkan atau menurunkan BI rate di Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi beberapa faktor antara lain: jumlah uang beredar, inflasi, tingkat bunga ertifikat bank indonesia (SBI), dan produk domestik bruto (PDB), dan faktor makro lainnya, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi suku bunga yaitu suku bunga luar negeri dan perubahan nilai valuta asing.

Bila melihat faktor penentu suku bunga tersebut jelas bahwa tingkat suku bunga akan dapat berubah setiap waktu, baik itu mengalami kenaikan ataupun penurunan. Kenaikan dan penurunan suku bunga pada periode tertentu secara cepat akan berdampak pada keputusan investasi yang dalam penelitian ini mengkaji perubahan tingkat suku bunga terhadap investas aktiva tetap. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah BI rate tahunan mulai tahun 2005-2008. Untuk melihat seberapa besar pengaruh kenaikan suku bunga terhadap investasi aktiva tetap, formulasi yang digunakan untuk melihat pertumbuhan suku bunga adalah :

1 1 − − − t t t Bunga Suku Bunga Suku Bunga Suku

Memahami tingkat suku bunga merupakan keharusan bagi setiap pelaku bisnis baik sebagai pelaku yang kelebihan dana (investor) maupun sebagai pelaku yang kekurangan dana (debitor). Investor akan sangat terbantu dalam memilih

alternatif-alternatif investasi yang lebih menguntungkan, dan bagi debitor (perusahaan) akan berguna dalam mengambil keputusan pembiayaan guna mendanai investasi aktiva tetapnya yang dilakukan agar menghasilkan biaya modal lebih murah.

Setelah tingkat suku bunga (BI Rate) diketahui besar pertumbuhannya melalui formulasi tersebut, selanjutnya melalui penelitian ini akan dapat diketahui pengarunya terhadap investasi aktiva tetap pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Dokumen terkait