BAB II KAJIAN TEORITIS
D. Masyarakat Sebagai Objek Dakwah
2. Tingkat Dakwah
Setiap manusia yang menjadi objek dakwah adalah mad’u, yaitu pihak yang diseru kejalan Allah S.w.t. Pada hakikatnya dakwah merupakan aktualisasi imani yang disyiarkan dalam suatu sistem kegiatan manusia dalam bidang kemasyarakatan. Hal tersebut dilaksanakan secara teratur untuk memperbaiki cara
109Syaikh, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, (Kairo: Pustaka Sunnah, 1983), hlm. 3202.
bersikap dan bertindak manusia dalam rangka terwujudnya ajaran Islam dalam kehidupan manusia.110
Orang atau kelompok yang lazim disebut dengan jamaah yang sedang mempelajari ajaran agama dari seorang da’i adalah mad’u. Mad’u atau penerima dakwah adalah seluruh umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua, maupun muda, miskin atau kaya, muslim maupun nonmuslim, kesemuanya menjadi objek dari kegiatan dakwah Islam ini. semua berhak menerima ajakan dan seruan kejalan Allah S.w.t.111Adapun dengan kata lain, mad’u adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah, atau manusia penerima dakwah, baik sebagai individu maupun kelompok, baik manusia yang beragama Islam maupun tidak, atau dengan kata lain manusia secara keseluruhan.112
Secara umum objek dakwah tidak harus orang Islam, tetapi manusia secara keseluruhan. Bahkan dalam al-Quran sendiri disebutkan bahwa golongan manusia dikelompokan menjadi tiga golongan. Golongan yang pertama adalah orang mukmin. Golongan yang kedua, orang kafir dan golongan yang ketiga orang munafik.113 Muhammad Abduh membagi golongan manusia menjadi tiga golongan yaitu:
a. Golongan cerdik cendikiawan yang cinta kebenaran dan berfikir secara kritis, cepat menangkap persoalan.
b. Golongan awam yaitu kebanyakkan orang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian-pengertian yang
110Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, (Jakarta: Amzah, 2008), Cet 1. hlm. 230.
111Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i..., hlm. 230.
112Moh Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hlm. 90.
tinggi.
c. Golongan yang berbeda dengan golongan yang di atas adalah mereka yang senang membahas sesuatu, tetapi hanya dalam batas tertentu, tidak sanggup mendalami.114
Golongan yang dihadapi, masing-masingnya menghendaki cara yang mengandung kemudahan dan kesulitannya sendiri, oleh karena itu, bagi seorang pembawa dakwah adalah bagaimana menentukan cara yang tepat dan efektif dalam menghadapi suatu golongan tertentu dalam sualu keadaan dan suasana tertentu, untuk itu, ia harus menguasai isi dakwah yang akan disampaikan serta dan maksud-maksud yang terkandung di dalamnya, harus dapat menilai golongan apa yang dihadapi, harus dapat dirasakan keadaan dan suasana, ruang dan waktu, dan harus bisa memilih cara dan kata yang tepat setelah memahami semua itu.115 Dakwah Islam adalah mengajak dan menggerakkan manusia agar mentaati ajaran-ajaran Allah S.w.t termasuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar untuk bisa membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.116
Penerima dakwah adalah seluruh umat manusia, baik laki-laki ataupun perempuan, tua, maupun muda, miskin atau kaya, muslim maupun nonmuslim, kesemuannya menjadi objek dari kegiatan dakwah Islam, ini semua berhak menerima ajakan dan seruan ke jalan Allah S.w.t.117 sebagaimana yang terdapat
dalam firman Allah S.w.t surat Saba’ ayat 28 yaitu:
114Eva Maqhfiroh, Komunikasi Dakwah: Dakwah Interaktif Melalui Media Komunikasi,
Jurnal K omunikasi Penyiaran Islam, Vol. 2, No. 1, Pebruari 2016, hlm, 5.
115Mohammad Nasir, Fiqhud Dakwah, (Jakarta: Media Dakwah, 2003), hlm. 163.
116Masdar Halmy, Dakwah dan Pengembangan, (Jakarta: Wijaya, 1976), hlm. 1.
Artinya: Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia
seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.118
Pada ayat di atas menerangkan bahwa Nabi Muhammad Saw bukan saja sebagai utusan kepada seluruh manusia, tetapi beliau juga bertugas sebagai pembawa dakwah atau berita gembira bagi orang-orang yang mempercayai dan mengamalkan risalah yang dibawanya itu dan sebagai pembawa peringatan kepada orang-orang yang mengingkarinya atau menolak ajaran-ajarannya.119
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa objek atau sasaran dakwah secara umum adalah sejumlah manusia, dan objek secara khusus dapat ditinjau dari berbagai aspek secara khusus sebagai berikut:
1) Aspek usia, anak-anak, remaja dan orang tua. 2) Aspek kelamin laki-laki dan perempuan. 3) Aspek agama: Islam dan kafir atau nonmuslim.
4) Aspek sosilogis; masyarakat terasing, pendesaan, kota kecil dan kota besar, serta, masyamkat marginal dari kota besar.
5) Aspek stuktur keseimbangan; legislatif, eksekutif dan yudikatif. 6) Aspek stuktur keberagamaan; priyayi, abangan santri.
7) Aspek ekonomi; golongan kaya, menegah dan miskin.
8) Aspek mata pencaharia; petani, perternak, pedagang nelayan, karyawan dan buruh.
118Hamka, Tafsir, Al-Azhar..., hlm. 432.
9) Aspek khusus; gologongan masyarakat tuna susila, netra, tuna rungu, tuna karya, tuna wisma dan para pidana.
10) Komunitas masyazakat seniman, baik seni musik, seni lukis, seni tari dan artis.120
Msyarakat sebagai objek dakwah atau sasaran dakwah merupakan salah satu unsur yang penting dalam sistem dakwah tidak kalah peranannya dibandingkan dengan unsur-unsur dakwah yang lainnya. Oleh sebab itu masalah masyarakat ini seharusnya dipelajari dengan sebaik-baiknya sebelum melangkah keaktifitas dakwah yang sebenarnya, itu sebagai bekal dakwah dari seseorang da’i hendaknya bekal dirinya dengan beberapa pengetahuan dan pengalaman erat hubungannya dengan masalah masyarakat.121
Pengetahuan tentang apa dan bagaimana objek dakwah, baik jika ditinjau dari aspek psikologi, pendidikan, lingkungan sosial, ekonomi serta keagamaan, merupakan suatu hal yang pokok dalam dakwah, karena hal tersebut akan sangat membantu dalam pelaksanaan dakwah, terutama dalam hal penentuan tingkat dan macam materi yang akan disampaikan, atau metode mana yang akan diterapkan, serta melalui media apa yang tepat untuk dimanfaatkan, guna menghadapi objek dakwah dalam proses dakwahnya.122 Pada dasarnya manusia dalam pandangan Islam terbagi ke dalam dua kelompok yaitu kelompok yang pertama telah
120Eva Maqrhfiroh, Komunikasi Dakwah: Dakwah Interaktif Melalui Media Komunikasi,
Jurnal K omunikasi Penyiaran Islam, Vol. 2, No. 1, Pebruari 2016, hlm. 5.
121
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hlm. 280-281.
122Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i..., hlm. 230.
menyatakan dirinya sebagai muslim dan kelompok kedua adalah manusia yang di luar Islam. Kedua, golongan inilah yang akan menjadi sasaran dakwah.