• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Gangguan Kecemasan

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG (Halaman 29-33)

G. DEFINISI KONSEPTUAL

3. Tingkat Gangguan Kecemasan

Kecemasan (anxiety) berasal dari Bahasa Latin “angustus” yang berarti kaku dan “ango”, “anci” yang berarti mencekik (Annisa & Ifdil, 2016). Kecemasan didefinisikan sebagai suatu bentuk reaksi emosional berupa kekhawatiran dan kegelisahan yang timbul oleh penyebab yang tidak spesifik yang berasal dari dalam diri individu maupun dari lingkungan, serta menimbulkan perasaan tidak nyaman dan terancam. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya (Stuart & Laraia, 1998).

Kaplan dan Sadock (Sadock & Sadock, 2011) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu keadaan patologis yang ditandai oleh perasaan ketakutan disertai tanda somatik pertanda sistem saraf otonom yang hiperaktif. Menurut Stuart dalam Kaplan dan Sadock (1997), kecemasan dapat terjadi tanpa obyek yang spesifik, penyebabnya tidak diketahui, dan didahului oleh pengalaman baru. Berbeda dengan takut yang merupakan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam, cemas merupakan respon emosi terhadap penilaian tersebut.

Menurut Adler dan Rodman (Annisa & Ifdil, 2016), terdapat dua faktor yang dapat menimbulkan kecemasan, yaitu:

a. Pengalaman negatif pada masa lalu

commit to user

30

Sebab utama dari timbulnya rasa cemas kembali pada masa kanak-kanak, yaitu timbulnya rasa tidak menyenangkan mengenai peristiwa yang dapat terulang lagi pada masa mendatang, apabila individu menghadapi situasi yang sama dan juga menimbulkan ketidaknyamanan, seperti pengalaman pernah gagal dalam mengikuti tes.

b. Pikiran yang tidak rasional

Pikiran yang tidak rasional terbagi dalam empat bentuk, yaitu:

- Kegagalan katastropik, yaitu adanya asumsi dari individu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Individu mengalami kecemasan serta perasaan ketidakmampuan dan ketidaksanggupan dalam mengatasi permasalahannya.

- Kesempurnaan, yaitu ketika individu mengharapkan kepada dirinya untuk berperilaku sempurna dan tidak memiliki cacat. Individu menjadikan ukuran kesempurnaan sebagai sebuah target dan sumber yang dapat memberikan inspirasi.

- Persetujuan.

- Generalisasi yang tidak tepat, yaitu generalisasi yang berlebihan. Ini terjadi pada orang yang memiliki sedikit pengalaman.

Kecemasan menurut Taylor (2003) dapat dilihat dari tiga aspek reaksi, di antaranya:

a. Aspek fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, debar jantung dan napas tidak beraturan, berkeringat dingin, nafsu makan hilang, mudah lelah, sakit kepala, tangan bergetar, gangguan perut atau diare, susah tidur, dan sebagainya.

b. Aspek intelektual, seperti tidak mampu berkonsentrasi, sulit berpikir jernih, tidak mampu memecahkan masalah, dan penurunan perhatian.

c. Aspek emosional, seperti penarikan diri atau mudah merasa malu, mudah tersinggung (sensitif), merasa tidak tenang atau gugup, khawatir, tegang, merasa hancur, merasa tidak bahagia, mudah cemas, kurang sadar diri, kurang percaya diri, dan mudah marah.

commit to user

31 H. DEFINISI OPERASIONAL

1. Intensitas Penggunaan Instagram

Intensitas penggunaan media sosial Instagram dapat diukur berdasarkan empat aspek, yaitu:

a. Frekuensi (frequency), yaitu seberapa sering terjadi pengulangan sikap pada saat membuka dan menggunakan Instagram. Semakin tinggi frekuensi seseorang mengakses Instagram, maka semakin tinggi pula intensitas pengguna tersebut dalam menggunakan Instagram,

b. Durasi (duration), yaitu berapa lama waktu yang dihabiskan pengguna untuk mengakses Instagram, yang mencakup:

- Waktu yang dihabiskan pengguna untuk mengakses Instagram dalam satu hari. Data tahunan yang dirilis oleh Hootsuite dan #WeAreSocial pada bulan Februari 2020 menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang digunakan oleh orang Indonesia untuk mengakses media sosial adalah 3 jam 26 menit (Hootsuite, 2020), atau jika dibulatkan menjadi 3,5 jam. Sehingga durasi penggunaan media sosial dikatakan tinggi jika melebihi durasi tersebut.

- Waktu yang dihabiskan pengguna untuk mengakses Instagram dalam satu minggu.

c. Perhatian (attention), yang mencakup minat dan tujuan dalam menggunakan Instagram, dengan indikator:

- Perhatian pengguna saat menggunakan Instagram.

- Kepuasan pengguna dalam mengakses atau menggunakan Instagram.

- Hubungan atau komunikasi pengguna dengan sesama pengguna.

- Ketertarikan pengguna untuk menggunakan fitur dalam Instagram.

d. Penghayatan (comprehension), yang meliputi perasaan ketika menggunakan Instagram, pemahanan konten dan fitur serta penggunaan fitur Instagram, dengan indikator:

- Perasaan pengguna saat mengakses atau menggunakan Instagram.

commit to user

32

- Penghayatan dan pemahanan pengguna terhadap fitur dan konten dalam Instagram.

2. Dukungan Sosial Teman Sebaya di Instagram

Dukungan sosial teman sebaya di Instagram dapat dihitung menggunakan skala Online Social Support Scale (OSSS) yang disusun oleh Elizabeth Nick, dkk (2018) dengan indikator yang berdasarkan pada lima aspek dukungan sosial, yaitu:

1. dukungan emosional 2. dukungan penghargaan 3. dukungan jaringan sosial 4. dukungan informasional 5. dukungan instrumental.

Semakin tinggi nilai yang diperoleh, menujukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya yang diterima responden di Instagram juga tinggi. Sebaliknya, semakin rendah nilai yang diperoleh, maka dukungan sosial teman sebaya yang diterima juga rendah.

3. Tingkat Gangguan Kecemasan

Tinggi rendahnya tingkat gangguan kecemasan dapat diketahui dari skor skala kecemasan yang mengacu pada Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS).

Semakin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan semakin tinggi tingkat kecemasannya. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh, semakin rendah pula tingkat kecemasannya.

Kecemasan menurut Taylor (2003) dapat dilihat dari tiga aspek reaksi, di antaranya:

a. Aspek fisiologis, seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, debar jantung dan napas tidak beraturan, berkeringat dingin, nafsu makan hilang,

commit to user

33

mudah lelah, sakit kepala, tangan bergetar, gangguan perut atau diare, susah tidur, dan sebagainya.

b. Aspek intelektual, seperti tidak mampu berkonsentrasi, sulit berpikir jernih, tidak mampu memecahkan masalah, dan penurunan perhatian.

c. Aspek emosional, seperti penarikan diri atau mudah merasa malu, mudah tersinggung (sensitif), merasa tidak tenang atau gugup, khawatir, tegang, merasa hancur, merasa tidak bahagia, mudah cemas, kurang sadar diri, kurang percaya diri, dan mudah marah.

Ketiga aspek kecemasan tersebut dikategorikan dalam pengukuran pada subjek penelitian yang dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu tinggi, sedang, dan rendah.

I. METODOLOGI

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG (Halaman 29-33)

Dokumen terkait