• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Lebar karapaks

11. Tingkat Kelangsungan Hidup

Keterangan :

α = Laju pertumbuhan bobot spesifik (%) Wt = Bobot rata-rata individu pada waktu t (g) Wo = Bobot rata-rata individu pada waktu 0 (g) t = Lama percobaan (hari)

B.Pertumbuhan panjang mutlak

Pertambahan panjang mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1979) yaitu:

Pm = Lt⃗⃗⃗ − Lo⃗⃗⃗⃗

Keterangan :

Lm = Pertumbuhan panjang mutlak (cm) Lt = Panjang akhir (cm)

Lo = Panjang awal (cm)

C.Lebar karapaks

Pertambahan panjang mutlak dapat dihitung dengan menggunakan rumus Effendie (1979) yaitu:

Lm = Wt⃗⃗⃗⃗⃗ − Wo⃗⃗⃗⃗⃗⃗

Keterangan :

Lm = Pertumbuhan panjang mutlak (cm) Wt = Lebar akhir (cm)

Wo = Lebar awal (cm)

10. Jumlah Molting

Perhitungan jumlah molting dilakukan dengan mencatat jumlah kepiting yang molting pada wadah pemeliharaan. Pengecekan jumlah kepiting yang molting dilakukan setiap hari. Hal ini untuk melihat apakah frekuensi yang berbeda mempengaruhi jumlah kepiting yang molting.

11. Tingkat Kelangsungan Hidup

Seluruh kepiting uji dihitung pada saat awal penelitian akan dimulai, diakhir penelitian kepiting uji yang masih hidup dihitung dan dikurangi dengan kepiting yang mati kemudian dicatat. Hasil perhitungan kepiting pada awal dan akhir dihitung dengan menggunakan rumus Huisman (1976) :

SR = No x Nt

Keterangan :

SR = Tingkat kelangsungan hidup / survival rate (%) Nt = Jumlah kepiting pada akhir penelitian (ekor) No = Jumlah kepiting pada awal penelitian (ekor)

12

Analisis Data

Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis rmengunakan Microsoft Excel 2013 dan SPSS versi 17.0. Analisis ragam pada selang kepercayaan 95%, dan apabila berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie 1993). Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Parameter fisika dan kimia air dianalisis secara desktriptif.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Pendahuluan

Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan diperoleh hasil nilai pH (Gambar 2) antara perlakuan 3 dan 4 masih mampu ditoleransi oleh benih kepiting bakau. Hal ini dibuktikan dengan nilai tingkat kelangsungan hidup kedua perlakuan sampai akhir pemeliharaan yang bernilai 100% (Gambar 3). Hasil dari penelitian pendahuluan dapat dilihat pada gambar 2 dan 3 :

Gambar 2 Nilai pH selama pemeliharaan

13 Hasil terbaik yang dipilih adalah dosis Ca dan Mg sebanyak 30 mg L-1. Hal ini disebabkan kebutuhan kalsium pada saat kepiting mengalami molting sangat tinggi, terutama untuk pembentukan karapaks. Perlakuan terbaik ini dijadikan dasar jumlah kalsium dan magnesium yang ditambahkan pada penelitian utama.

Penelitian Utama

Jumlah Kalsium di Air, Kepiting, dan Pakan

Hasil analisis kandungan kalsium di air, kepiting dan pakan (Tabel 2) menunjukkan bahwa nilai tertinggi kalsium pada air akhir terdapat pada perlakuan A sebesar 649.86±2.63 ppm, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05). Nilai terendah terdapat pada perlakuan B sebesar 466.19±2.99 ppm. Jumlah kalsium kepiting tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 49,244.52±206.08 ppm dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05). Nilai terendah terdapat pada perlakuan A sebesar 16,154.43±134.27 ppm. Nilai kalsium yang terdapat pada pakan sebesar 19,685.05±47.21 ppm.

Tabel 2 Nilai kalsium di air, kepiting dan pakan

Perlakuan Kalsium Air (ppm) Kalsium Kepiting (ppm)

awal Akhir awal Akhir

(A) Kontrol 381.72±2.21 649.86±2.63 A 47,792.29±98.41 16,154.43±134.27 D (B) 5 Hari Sekali 381.72±2.22 466.19±2.99 D 47,792.29±98.42 44,611.03±151.93 B (C) 10 Hari Sekali 381.72±2.23 613.16±0.18 B 47,792.29±98.43 49,244.52±206.08 A (D) 15 Hari Sekali 381.72±2.24 602.81±4.46 C 47,792.29±98.44 35,201.51±99.4 C

Pakan 19,685.05±47.21

Huruf dibelakang angka menunjukkan hasil uji lanjut Duncan. Huruf yang berbeda menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0,05).

Hasil pengukuran kadar magnesium di air, kepiting dan pakan (Tabel 3) diketahui bahwa nilai tertinggi Mg di air terdapat pada perlakuan C sebesar 1,022.99±8.6 ppm. Serta berbeda nyata dengan perlakuan B dan C (P<0,05). Sedangkan nilai Mg di air terendah terdapat pada perlakuan B sebesar 924.41±2.84 ppm. Jumlah Mg tertinggi pada kepiting diakhir pemeliharaan terdapat pada perlakuan A sebesar 6,800.67±200.38 ppm, serta berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05). Jumlah kandungan Mg kepiting terendah terdapat pada perlakuan C sebesar 3,251.12±10.41 ppm. Jumlah Mg pada pakan yaitu sebesar 864.75±13.35 ppm

Tabel 3 Nilai magnesium di air, kepiting dan pakan

Perlakuan Magnesium Air (ppm) Magnesium Kepiting (ppm)

awal Akhir Awal Akhir

(A) Kontrol 903.35±6.37 1,010.72±12.2 A 4,909.38±15.21 6,800.67±200.38 A (B) 5 Hari Sekali 903.35±6.38 958.51±2.73 B 4,909.38±15.22 4,579.43±34.56 B (C) 10 Hari Sekali 903.35±6.39 1,022.99±8.61 A 4,909.38±15.23 3,251.12±10.41 C (D) 15 Hari Sekali 903.35±6.40 924.41±2.84 C 4,909.38±15.24 4,506.50±64.34 B

Pakan 864.75±13.3

Huruf dibelakang angka menunjukkan hasil uji lanjut Duncan. Huruf yang berbeda menunjukkan perlakuan berbeda nyata (P<0,05).

14

Parameter Kualitas Air

Penambahan Ca dan Mg dalam air selain mempengaruhi Ca dan Mg di air dan kepiting juga mempengaruhi kualitas air. Kualitas air yang paling dipengaruhi oleh penambahan Ca dan Mg yaitu pH air dan Alkalinitas. Hasil pengukuran kualitas air ditampilkan pada Tabel 4 dan Gambar 4.

Tabel 4 Nilai kualitas air selama pemeliharaan

Perlakuan

Kontrol 5 Hari Sekali 10 Hari Sekali 15 Hari Sekali

Suhu (oC) 27.35±0.16 27.44±0.14 27.54±0.14 27.54±0.15 DO (mg L-1) 6.56±0.09 6.73±0.12 6.66±0.09 6.64±0.07 Amonia (mg L-1) 0.0343±0.003 0.591±0.59 0.315±0.06 0.213±0.02 Nitrit (mg L-1) 1.138±0.034 0.595±0.036 0.651±0.039 0.632±0.039 Nitrat (mg L-1) 0.382±0.018 0.339±0.019 0.343±0.023 0.416±0.018 Salinitas (mg L-1) 23.25±0.11 22.86±0.22 22.72±0.12 23.49±0.09 Alkalinitas (mg L-1 CaCO3) 108.69±14.14 143.19±17.93 139.74±20.92 169.07±14.94

Gambar 4 Nilai pH air selama pemeliharaan kepiting bakau.

Respons Fisiologi Gradien Osmotik

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap gradien osmotik kepiting (P<0,05). Hasil pengukuran gradien osmotik disajikan pada Gambar 5. Gradien osmotik akhir pemeliharaan paling rendah diperoleh pada perlakuan D yaitu 0.263±0.008 mOsm L-1 H2O, sedangkan yang paling tinggi diperoleh pada perlakuan A yaitu 0.398±0.012 mOsm L-1 H2O. Hasil pengukuran gradien osmotik ditunjukkan pada Gambar 5.

15

Gambar 5 Gradien osmotik kepiting. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Tingkat Konsumsi Oksigen

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap tingkat konsumsi oksigen kepiting bakau (P<0,05). Tingkat konsumsi oksigen akhir paling rendah diperoleh pada perlakuan D yaitu sebesar 0.0065±0.0004 mgO2 g-1 jam-1, sedangkan paling tinggi pada perlakuan A yaitu 0.0113±0.0002 mgO2 g-1 jam-1. Hasil pengukuran tingkat konsumsi oksigen ditunjukkan pada Gambar 6.

Gambar 6 Tingkat konsumsi oksigen kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Kadar Glukosa Hemolim

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap kadar glukosa hemolim kepiting bakau (P<0,05). Kadar glukosa hemolim akhir paling rendah diperoleh pada perlakuan D yakni 14.0667±0.4233 µmol L-1, sedangkan paling tinggi pada perlakuan A, yakni 28.4267±0.6559 µmol L-1. Hasil pengukuran kadar glukosa hemolim ditunjukkan pada Gambar 7.

16

Gambar 7 Kadar glukosa hemolim kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Nilai pH Darah

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap nilai pH hemolim kepiting bakau (P<0,05). Nilai pH hemolim akhir paling tinggi diperoleh pada perlakuan D yakni 7.233±0.058, sedangkan paling rendah pada perlakuan A, yakni 6.833±0.058. Hasil pengukuran nilai pH hemolim ditunjukkan pada Gambar 8.

Gambar 8 Nilai pH hemolim kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Total Haemocyte Count

Hasil perhitungan nilai Total Haemocyte Count (THC) diketahui bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap jumlah THC (P<0,05). Berdasarkan perhitungan jumlah hemosit (Gambar 9) menunjukkan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan D (6.33±0.462 103 sel mL-1), sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan A (2.467±0.115 103 sel mL-1).

17

Gambar 9. Nilai Total Haemocyte Count pada awal dan akhir pemeliharaan kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Parameter Produksi Konversi Pakan

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap nilai konversi pakan kepiting bakau (P<0,05). Nilai konversi pakan akhir paling rendah diperoleh pada perlakuan C yakni 8.18±0.45, sedangkan paling tinggi terdapat pada perlakuan A, yakni 10.65±0.85. Hasil untuk perlakuan C dan D tidak berbeda nyata secara statistik (P>0,05). Hasil pengukuran nilai konversi pakan ditunjukkan pada Gambar 10.

Gambar 10 Nilai konversi pakan pada akhir pemeliharaan kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Laju Pertumbuhan Bobot Harian

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan bobot harian kepiting bakau (P<0,05). Nilai laju pertumbuhan bobot harian (Gambar 11) paling tinggi diperoleh pada perlakuan C

18

yakni 1.733±0.06%, sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan A, yakni 1.136±0.04. Nilai laju pertumbuhan bobot harian perlakuan C berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05).

Gambar 11 Nilai laju pertumbuhan bobot harian pada kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Panjang Mutlak

Hasil perhitungan nilai panjang mutlak diakhir pemeliharaan diketahui bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap panjang mutlak (P<0,05). Berdasarkan perhitungan panjang mutlak (Gambar 12) menunjukkan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan C sebesar 2.149±0.03 cm, sedangkan nilai terendah terdapat pada perlakuan A sebesar 1.701±0.041 cm. Nilai panjang mutlak perlakuan C berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (P<0,05).

Gambar 12 Nilai panjang mutlak diakhir pemeliharaan kepiting bakau. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

19

Jumlah Molting

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap jumlah molting kepiting bakau selama pemeliharaan (P<0,05). Hasil perhitungan jumlah molting (Gambar 13) selama pemeliharaan diketahui jumlah paling banyak diperoleh pada perlakuan D yaitu 18.67±1.15 cangkang, sedangkan yang paling sedikit diperoleh pada perlakuan A yaitu 10±1.73 cangkang.

Gambar 13 Jumlah molting kepiting bakau selama pemeliharaan. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Tingkat Kelangsungan Hidup

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup kepiting (P<0,05). Hasil perhitungan tingkat kelangsungan hidup (Gambar 14) diakhir pemeliharaan diketahui bahwa nilai tertinggi diperoleh pada perlakuan D yaitu 86.67±5.77%, sedangkan yang terendah diperoleh pada perlakuan A yaitu 40±5%.

Gambar 14 Nilai tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau selama pemeliharaan. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

20

Total Biomassa

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup kepiting (P<0,05). Biomassa akhir merupakan nilai bobot rata-rata yang dikalikan dengan nilai kelangsungan hidup. Jumlah biomassa akhir tertinggi diperoleh pada perlakuan D (1,054.41±73.54 gram) dan ini berbeda nyata dengan semua perlakuan (P<0,05). Nilai terendah terdapat pada perlakuan A (376.99±86.16 gram). Hasil perhitungan biomassa akhir ditampilkan pada gambar 15.

Gambar 15 Jumlah biomassa kepiting bakau pada akhir pemeliharaan. [Huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5 % (uji Duncan)]

Pembahasan

Kepiting bakau memerlukan kalsium dan magnesium yang tinggi untuk pembentukan karapaks. Berdasarkan susunan mineral yang terkandung dalam karapaks kepiting bakau, ditemukan bahwa kalsium dan magnesium menempati urutan paling atas dibanding mineral lainnya (Benjakul dan Nuntapol 2009). Keperluan kalsium dan magnesium dalam jumlah besar harus diambil dari pakan dan air untuk pembentukan karapaks. Kalsium dan magnesium yang ada di air jumlahnya terbatas maka diperlukan penambahan dari luar. Penambahan yang dilakukan harus memperhatikan parameter pH air karena nilai pH sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiologi kepiting bakau. Penambahan kalsium dan magnesium dapat meningkatkan nilai pH dalam waktu singkat dan signifikan nilainya (Zaidy et al. 2008).

Hasil penelitian pendahuluan (Gambar 2 dan 3) diperoleh peningkatan nilai pH pada saat penambahan Ca dan Mg yang tidak menyebabkan kematian adalah perlakuan 3 dan 4. Perlakuan 5 yang merupakan perlakuan penambahan 50 mg L-1 Ca dan 50 mg L-1 Mg menunjukkan terjadi peningkatan pH yang tinggi di awal penambahan. Peningkatan pH yang tinggi secara mendadak dapat menimbulkan efek kematian pada kepiting. Organ yang mengalami kerusakan akibat peningkatan pH yang mendadak adalah insang (Zaidy et al.2008). Hal inilah yang menyebabkan perlakuan 5 nilai kelangsungan hidupnya 0%, berbeda dengan perlakuan 3 dan 4 yang nilai kelangsungan hidupnya 100%. Perlakuan 4 dipilih sebagai dasar dosis penambahan pada penelitian utama. Hal ini disebabkan pada perlakuan 4 dosis yang

21 ditambahkan lebih besar dibandingkan perlakuan 3, dan dosis tersebut masih dapat ditoleransi oleh kepiting bakau. Pada saat pembentukan karapaks kepiting bakau memerlukan kalsium dalam jumlah yang besar, yaitu bisa mencapai 29.14/100 g kepiting (Marzuki et al. 2013).

Penambahan kalsium dan magnesium dapat merubah komposisi dari kandungan kalsium dan magnesium yang ada di air dan tubuh kepiting. Pengujian jumlah kalsium di air, kepiting, dan pakan diperlukan untuk mengetahui kondisi kalsium dan magnesium sebelum dan sesudah penambahan. Nilai kandungan kalsium dan magnesium menunjukkan bahwa nilai kalsium air yang tinggi pada perlakuan A diduga karena kepiting tidak dapat menyerap kalsium yang ada di media (Tabel 2). Hal ini disebabkan kalsium di air, sudah berikatan dengan unsur yang lain. Nilai kalsium akhir pada kepiting tanpa penambahan Ca dan Mg yang paling rendah mendukung pernyataan tersebut. Pada perlakuan penambahan kalsium dan magnesium ketika diakhir pemeliharaan nilai Ca pada tubuh kepiting jumlahnya lebih besar dibandingkan kontrol. Hasil ini membuktikan bahwa kalsium diserap oleh kepiting. Kepiting membutuhkan kalsium untuk pembentukan karapaks tetapi penyerapannya terganggu dengan sedikitnya jumlah kalsium bebas yang ada pada media. Kalsium dalam air laut berikatan dengan CO2 membentuk CaCO3 (Bogart 2016).

Hasil pengukuran Mg di air menunjukkan jumlah yang tidak berbeda antara awal dan akhir (Tabel 3). Meskipun pada akhir pemeliharaan jumlah Mg terjadi perbedaan antar perlakuan (P<0,05). Hal ini juga terjadi pada pengukuran kalsium. Kemungkinan hal ini terjadi karena kelarutan kalsium dan magnesium dalam air memiliki nilai maksimum kelarutan. Ketika air laut ditambahkan Ca dan Mg maka dalam beberapa waktu ion tersebut akan berikatan dengan unsur lain. Hasil pengukuran Ca dan Mg di kepiting menunjukkan bahwa, ketika jumlah Ca di perairan banyak maka Ca akan lebih dahulu diserap oleh kepiting dibandingkan ion Mg. Pada air ketika ion Ca rendah maka Mg diserap dalam jumlah yang lebih banyak, disebabkan jumlah Mg di air laut lebih tinggi dibandingkan dengan Ca (Wurts dan Robert 1989). Hal ini membuktikan bahwa ketika ion Ca rendah maka ion lain akan diserap oleh kepiting. Kurangnya jumlah Ca yang tersedia di perairan mengakibatkan kandungan Ca di kepiting rendah sehingga dapat mengakibatkan kepiting mengalami kegagalan molting.

Pada penelitian ini digunakan penambahan Ca dan Mg maka parameter kualitas air yang paling terpengaruh adalah pH air dan alkalinitas. Nilai alkalinitas menunjukkan bahwa perlakuan A (tanpa penambahan Ca dan Mg) memiliki nilai yang paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan penyusun alkalinitas adalah CaCO3. Menurut Bogart et al. (2016) alkalinitas tersusun dari banyak mineral-mineral yang dapat mempengaruhi alkalinitas dan kesadahan. Ketika kalsium diserap oleh kepiting menyebabkan nilai alkalinitas menurun. Berbeda dengan perlakuan penambahan Ca dan Mg (B,C, dan D) nilai alkalinitasnya relatif stabil.

Selain alkalinitas nilai pH juga parameter yang paling dipengaruhi oleh penambahan Ca dan Mg. Nilai pH selama pemeliharaan menunjukkan bahwa perlakuan A mengalami penurunan dibandingkan perlakuan lainnya. Sedangkan untuk perlakuan dengan penambahan Ca dan Mg, dinamika yang muncul hampir sama antar perlakuan (Gambar 1). Hal ini dikarenakan penyusun pH air adalah ion H+. Menurut Cameron (1989) ketika kepiting molting ion H+ akan dikeluarkan dari

22

dalam darah menuju lingkungan yang mengakibatkan pH lingkungan menjadi asam. Kondisi pH yang rendah dapat dinaikkan dengan penambahan Ca dan Mg. Alkalinitas merupakan gambaran mengenai kapasitas air untuk dapat menetralkan asam. Alkalinitas juga dapat diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH perairan (Mandal dan Boyd 1980)

Penambahan Ca dan Mg karena mempengaruhi proses molting tentu akan mengakibatkan perubahan respons fisiologis pada kepiting. Pengukuran gradien osmotik pada perlakuan D (frekuensi penambahan 15 hari 30 mg L-1 Ca dan 30 mg L-1 Mg) dibanding dengan perlakuan lain menunjukkan bahwa pada perlakuan ini cairan osmotik tubuh dengan cairan osmotik media cenderung berada pada kondisi yang seimbang atau mendekati isoosmotik. Dengan demikian, fungsi fisiologis kepiting akan berjalan dengan normal karena energi yang digunakan untuk osmoregulasi tidak terlalu besar. Pada perlakuan ini, proses kerja osmoregulasi yang terjadi karena keadaan hiperosmotik kepiting bakau terhadap lingkungan akan berkurang dengan adanya penambahan 30 mg L-1 Ca dan 30 mg L-1 Mg setiap 15 hari sekali, sehingga cenderung menjadi lebih isoosmotik dan menyebabkan nilai gradien osmotiknya lebih rendah dibanding perlakuan lain. Kalsium berperan melindungi biota air tawar terhadap perubahan osmotik, kekurangan ion dan perubahan lingkungan (Calta 2000).

Perbedaan gradien osmotik ini mengiindikasikan bahwa kepiting mempunyai kemampuan untuk mengatur osmolaritas hemolimnya. Dalam osmoregulasi, keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dan air media sangat penting. Ion-ion secara aktif diserap tubuh melalui insang ketika terjadi proses penyerapan air. Kebutuhan energetik untuk pengaturan ion secara umum akan lebih rendah pada lingkungan yang isoosmotik, dengan demikian energi yang disimpan dapat cukup substansial untuk meningkatkan pertumbuhan (Imsland et al. 2003).

Tingginya nilai gradien osmotik perlakuan lain menunjukkan bahwa pada perlakuan ini cairan osmotik tubuh dengan cairan osmotik media cenderung berada pada kondisi hiperosmotik atau hipoosmotik, sehingga banyak energi yang dibutuhkan untuk osmoregulasi guna mencegah kehilangan garam-garam dalam tubuh. Carrion et al. (2005) mengemukakan bahwa pada kondisi hiperosmotik atau hipoosmotik, gradien osmotik akan semakin besar yang akan menyebabkan energi yang digunakan untuk proses osmoregulasi juga akan semakin besar.

Tingkat konsumsi oksigen paling rendah diperoleh pada perlakuan perlakuan D (frekuensi penambahan 15 hari 30 mg L-1 Ca dan 30 mg L-1 Mg) yaitu 0,0065±0,004 mgO2 g-1 jam-1. Rendahnya tingkat konsumsi oksigen pada perlakuan ini berkaitan erat dengan nilai gradien osmotik paling rendah yang juga diperoleh pada perlakuan media yang sama. Pada saat kepitng membutuhkan energi untuk proses osmoregulasi, maka kepiting akan memanfaatkan sumber energi yang ada di dalam tubuhnya yakni glukosa dan oksigen untuk oksidasinya. Dengan demikian, gradien osmotik yang rendah akan menghemat energi, begitu pula konsumsi oksigen sebagai bahan untuk oksidasi material sumber energi dari pakan yang dikonsumsi. Tingkat konsumsi oksigen tertinggi pada perlakuan ini diduga karena gradien osmotik paling tinggi juga diperoleh pada perlakuan tersebut, akibatnya kepiting akan melakukan proses osmoregulasi untuk mempertahankan kondisi homeostasisnya. Menurut Li et al. (2007) ikan akan melakukan aktifitas bergerak dan berenang yang lebih banyak, sehingga akan melakukan respirasi yang tinggi

23 pula. Kondisi ini diekspresikan dari laju konsumsi oksigen paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Tingkat konsumsi oksigen dapat digunakan sebagai parameter untuk mengetahui laju metabolisme organisme air. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tingkat konsumsi oksigen diantaranya adalah salinitas, suhu, dan tingkatan aktifitas (Chittleborough 1975). Makin rendah tingkat konsumsi oksigen maka makin sedikit energi yang digunakan untuk metabolisme dan diharapkan makin banyak energi yang tersedia untuk pertumbuhan.

Hasil pada akhir penelitian kadar glukosa hemolim tertinggi terdapat pada perlakuan A yaitu sebesar 28.427±0.656 µmol L-1 dan terendah pada perlakuan D sebesar 14.067±0.423 µmol L-1. Secara umum tidak adanya penambahan Ca dan Mg serta penambahan Ca dan Mg yang terlalu tinggi dapat meningkatkan stres. Hal ini terbukti dengan meningkatnya kadar glukosa darah pada akhir pemeliharaan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan D yang merupakan penambahan Ca dan Mg setiap 15 hari yang memiliki jumlah penambahan paling rendah. Bila ikan mengalami stres akibat terjadinya perubahan lingkungan maka tubuh ikan akan merespons dengan mensekresikan hormon glukokortikoid (kortisol) dan katekolamin yang mengontrol tubuh untuk mengatasi terjadinya stres (Barton et al. 1980).

Menurut Piliang (2005) bahwa fungsi utama kalsium selain sebagai pembentuk struktur tubuh, kalsium dalam jaringan secara fisiologis akan mempertahankan homeostasi. Homeostasi adalah keadaan stabil yang dipertahankan melalui proses aktif yang melawan perubahan kondisi lingkungan. Dalam kondisi stres biasa, glukosa akan ditingkatkan untuk mengakomodir keperluan energi yang digunakan untuk kestabilan homeostatis aktivitas untuk memperbaiki homeostasi, seperti respirasi, pergerakan, regulasi hidromineral dan perbaikan jaringan. Kebutuhan energi untuk memperbaiki homeostasiselama stres dipenuhi oleh proses glikogenolisis dan glukoneogenesis yang menghasilkan glukosa (Hastuti et al. 2004).

Menurut Hastuti et al. (2003) stres menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglisemia), dimana mekanisme terjadinya adalah sebagai berikut: (1) pemecahan glikogen hati dan otot melalui jalur glikogenolisis yang menghasilkan glukosa dan merupakan efek metabolisme katekolamin; (2) pemecahan protein dan lipid melalui jalur gluko-neogenesis yang merupakan efek metabolisme kortisol; (3) inaktifasi insulin sebagai efek metabolisme hormon stres sehingga menutup penggunaan glukosa oleh sel.

Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan frekuensi penambahan 15 hari 30 mg L-1 Ca dan 30 mg L-1 Mg memiliki nilai paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan yang lain mengalami penurunan nilai pH darah dibandingkan pada saat awal pemeliharaan. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan D tingkat stres paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Nilai terendah terdapat pada perlakuan A sebesar 6.833±0.058 yang merupakan perlakuan kontrol tanpa penambahan Ca dan Mg. Penurunan pH darah menunjukkan ikan mengalami stres (Wood et al. 1977). Hal ini sesuai dengan pendapat Cameron (1989) bahwa dalam pembentukan cangkang, kepiting mengeluarkan ion H+ dari hemolim menuju lingkungan sehingga pH hemolim akan mengalami kenaikan.

24

Pemecahan glikogen melalui jalur metabolisme anaerob menyebabkan produksi asam laktat meningkat dan lepasnya CO2 ke dalam darah. Keberadaan asam laktat dan CO2 menyebabkan pH darah menurun sehingga terjadi asidosis. Asidosis menyebabkan afinitas hemosianin mengikat oksigen menjadi berkurang (Bohr effect) dan menurunkan kapasitas hemolim dalam mengangkut oksigen (Root effect) (Delince et al. 1987).

Jumlah THC sangat berpengaruh terhadap kemampuan kepiting dalam merespons serangan penyakit. Nilai THC yang tinggi pada perlakuan D menunjukkan bahwa sistem imun berada pada kondisi maksimal dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Sistem imun yang baik akan mempengaruhi jumlah kelangsungan hidup selama pemeliharaan. Cook et al. (2003) menjelaskan bahwa terbentuknya sel-sel fagositik memiliki peluang lebih tinggi dalam meningkatkan sistem imun.

Parameter nilai konversi pakan dengan laju pertumbuhan bobot harian dan panjang mutlak dalam penelitian ini sangat berhubungan. Karena konversi pakan yang rendah akan mengakibatkan pertumbuhan bobot panjang mutlak yang lebih tinggi. Nilai konversi pakan merupakan perbandingan antara pertambahan bobot kepiting dengan jumlah pakan yang dikonsumsi. Hasil penelitian ini menunjukkan pada perlakuan C dan D nilai konversi pakan tidak berbeda nyata (P>0,05). Nilai yang tidak berbeda nyata ini menyebabkan pertumbuhan juga tidak bebeda Tingginya laju pertumbuhan ditandai dengan proses ganti kulit yang lebih banyak. Proses transfer kalsium dan magnesium dari hemolim ke karapaks melalui mekanisme transport aktif yang membutuhkan energi. Transfer Ca dan Mg ke karapaks berjalan lebih cepat yang ditandai oleh laju pengendapan kalsium dan magnesium karapaks yang tinggi akan membutuhkan energi yang tinggi pula. Kebutuhan energi yang besar ini diperoleh dari pakan yang dikonsumsi,

Dokumen terkait