HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Tingkat Kematangan Gonad
y = 5.234x - 43.42 R² = 0.842 0 10 20 30 40 50 60 0 5 10 15 20 B er a t( g ) Panjang(cm)
23
Salah satu aspek biologi reproduksi ialah tingkat kematangan gonad (TKG) yaitu tahap-tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Keterangan tentang TKG ikan diperlukan untuk mengetahui perbandingan antara ikan yang berada diperairan, ukuran atau unsur ikan pertama kali matang gonadnya, dan apakah ikan sudah memijah atau belum (Nikolsky, 1963 dan Effendie, 2002).
Tabel 4. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan bilih betina di danau Toba Stasiun TKG Panjang total
ikan bilih (cm) Berat tubuh (g) Berat Gonad (g) IKG (rata-rata) Jumlah (ekor) I I 9,2 – 12,5 9,2 – 21,9 0,2 – 1 5 % 3 II 12,5 - 16 22,4 - 41 1,4 – 2,7 8,37 % 7 III 15,9 - 16 14,9 – 46,3 1,4 – 4 10,26 % 10 IV 16 – 16,2 45,5 – 49,3 3,3 – 3,8 7,47 % 2 V - - - - - I 9,6 – 12,5 8,9 – 21,9 0,4 – 0,9 4,2 % 6 II II 10,5 - 14 11 – 29,3 0,5 – 2,5 7,83 % 7 III 10 - 14 11,5 – 27,5 0,7 – 3,6 13,4 % 7 IV 9 6,6 0,2 3,03 % 1 V - - - - - III I 12,5 – 14,2 16,8 – 36,6 0,8 – 2,7 5,5 % 3 II 12 15,8 0,9 5,0 % 1 III 11,9 - 15 14,2 – 43,1 1,3 – 5,4 10,69 % 7 IV - - - - - V - - - - -
Keterangan: TKG I: Tidak masak gonad; TKG II : Permulaan masak gonad; TKG III: Hampir masak gonad; TKG IV : Masak Gonad; TKG V : Salin
Nilai tingkat kematangan gonad yang tertera pada Tabel 4. ikan bilih betina yang sudah matang gonad (TKG IV) dari keseluruhan stasiun sebanyak 3 ekor yaitu pada stasiun I ada 2 ekor dan stasiun II ada 1 ekor. Jumlah ini merupakan jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah ikan bilih yang tertangkap, hal ini mungkin disebabkan dengan faktor suhu, habitat dan faktor lingkungan seperti musim. Menurut Makmur (2003) dalam Diana (2007) menyatakan bahwa musim penghujan merupakan masa pemijahan bagi ikan air tawar yang hidup di perairan tropis. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang turun mempengaruhi fluktuasi permukaan air dan debit air yang menyebabkan sirkulasi air sehingga mempengaruhi suhu di perairan. Fluktuasi, debit, dan sirkulasi air akan menyebabkan suhu perairan menjadi hangat yang akan mendukung pemijahan
24
ikan. Dengan demikian, pada saat penangkapan ikan bilih pada penelitian ini belum saatnya untuk memijah tetapi jika dibandingkan dengan stasiun 2 dan 3 dimana tidak terdapat ikan bilih yang memijah di daerah tersebut melainkan ikan bilih yang tertangkap banyak pada tahap TKG III dan TKG II atau tahap pematangan gonad. Hal ini disebabkan bahwa pada stasiun 2 dan 3 merupakan daerah aktifitas dan keramba yang menghasilkan makanan bagi ikan bilih seperti sisa pakan hasil dari kegiatan keramba sehingga ikan lebih banyak disana melakukan aktivitas makan untuk proses pematangan gonad ikan bilih sedangkan stasiun 1 yang merupakan daerah bebas aktivitas yang memungkinkan untuk ikan bilih memijah karena stasiun 1 merupakan daerah yang cocok untuk ikan bilih memijah dan memiliki nilai faktor fisik yang sesuai, selain itu air yang jernih dan merupakan stasiun yang paling dekat dengan sungai yang masuk ke danau dibanding stasiun 2 dan stasiun 3 .
Panjaitan (2010) menyatakan bahwa Ikan bilih memijah menuju perairan yang memiliki arus jernih dengan menggunakan orientasi visual dan insting, telur yang dipijahkan dikolom air pada sungai yang berarus hanyut ke perairan danau kemudian menetas dan tumbuh menjadi dewasa. Menurut Umar & Kartamihardja (2010) menyatakan bahwa waktu pemijahan ikan bilih mulai dari sore hari sampai dengan pagi hari. Puncak pemijahan ikan bilih terjadi pada pagi hari mulai dari jam 05.00 WIB sampai dengan jam 09.00 WIB seperti diperlihatkan dengan banyaknya telur yang dilepaskan. Pemijahan ikan bilih terjadi hampir diseluruh aliran sungai yang bermuara di danau dan habitat pemijahan umumnya berair jernih, dasar berbatu, kerikil atau berpasir.
Nilai IKG ikan bilih betina yang didapat pada penelitian ini yang sudah matang gonad pada ukuran panjang berkisar 9 cm – 16,2 cm dan bobot berkisar 6,6 g – 49,3 g mempunyai kisaran nilai IKG berkisar 3,03 % - 7,70 % dengan rata – rata 5,99 %. Nilai IKG ikan bilih ini senantiasa bisa berubah seiring dengan perubahan panjang bobot ikan juga. Seperti dapat dikatakan ikan yang bobotnya kecil menghasilkan bobot gonad yang kecil juga sehingga mempengaruhi nilai IKG juga dan ikan yang bobot nya besar belum tentu memiliki gonad yang sudah matang. Hal itu disebabkan dengan kesesuaian habitat dan ketersediaan makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar nilai berat tubuh maka berat
25
gonad semakin meningkat sehingga mempengaruhi nilai IKG ikan tersebut. Sesuai dengan Syandri (1993) bahwa secara umum bertambahnya tubuh akan mengakibatkan bertambahnya berat gonad.
4. 5 Fekunditas Ikan Bilih
Fekunditas mutlak ikan Bilih yang berada pada tingkat kematangan gonad IV dihitung berdasarkan metode volumetrik. Fekunditas ikan bilih yang dihitung adalah ikan bilih yang berada pada TKG IV (matang gonad). Sesuai Tabel 4. ikan bilih yang berada pada TKG IV hanya ada 3 ekor dan fekunditas masing – masing ikan dapat dilihat pada Tabel dibawah ini:
Tabel 5. Fekunditas ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) di danau Toba No Panjang
(cm)
Berat tubuh (g) Berat gonad (g) (Fekunditas) (butir)
1 9 6,6 0,2 7.000
2 16 45,5 3,3 21.375
3 16,2 49,3 3,8 25.000
Berdasarkan Tabel 5. Dapat dilihat bahwa ikan bilih yang tertangkap pada saat TKG IV hanya ada 3 ekor, pada stasiun 1 terdapat 2 ekor dan stasiun 2 terdapat 1 ekor (Tabel 4). Ketiga ekor ikan tersebut tertera pada tabel 5. Banyak fekunditas dari ketiga ikan tersebut berbeda-beda sesuai dengan bobot ikan bilih yang tertangkap dalam keadaan TKG IV . Fekunditas ikan bilih yang didapat berkisar antara 7.000 sampai 25.000 butir telur. Hasil ini berbeda dari penelitian Umar & Kartamihardja (2010) yang melaporkan dimana fekunditas rata-rata ikan bilih yang diperoleh sebesar 11.286 butir telur. Secara umum bertambahnya berat tubuh akan mengakibatkan bertambahnya berat gonad dan fekunditas semakin tinggi. Nikolsky (1963) menyatakan bahwa pada umumnya fekunditas meningkat dengan meningkatnya ukuran ikan betina. Fekunditas sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan perairan. Suhu air mempengaruhi fekunditas secara tidak langsung. Begitu juga kedalaman air dan oksigen terlarut merupakan faktor penghambat terhadap fekunditas. Dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan telur dikeluarkan lebih banyak daripada dalam kondisi yang kurang baik. Selain itu fekunditas juga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan. Untuk spesies
26
tertentu, pada umur yang berbeda-beda memperlihatkan fekunditas yang bervariasi sehubungan dengan persediaan makanan tahunan (Febianto, 2007).
Hasil perhitungan fekunditas mutlak diperoleh jumlah telur yang bervariasi menurut panjang total ikan, berat tubuh, dan berat gonad. Ikan dengan ukuran yang sama belum tentu memiliki fekunditas yang sama pula. Hal ini disebabkan oleh faktor ikan dalam pegambilan makanannya yang berbeda, juga karena faktor lain seperti habitat yang berbeda, yang mana setiap individu meskipun satu spesies dan memiliki ukuran yang sama pun akan memiliki fekunditas yang berbeda serta bervariasi jumlahnya (Patriono 2010).