• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Landasan Teori

2.3.5 Pendidikan

2.3.5.3 Tingkat Kemiskinan Dan Pendidikan

Merupakan aspek penting dalam pengembangan sumber daya manusia. Di satu pihak pendidikan dan latihan meningkatkan produktivitas kerja. Di pihak lain pendidikan dan latihan merupakan indikator tingkat kemiskinan. (Dwi, 2005 : 116-118)

2.3.5.4 Tujuan Dalam Pendidikan 1. Tujuan Umum

Disebut juga tujuan sempurna, tujuan terakhir, atau tujuan bulat. Tujuan umum ialah tujuan didalam pendidikan, yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau lain-lain pendidik, yang telah ditetapkan oleh pendidik dan selalu dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan dihubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum tersebut.

2. Tujuan Tidak Sempurna Atau Tak Lengkap

Ialah tujuan-tujuan yang mengenai segi-segi kepribadian manusia yang tertentu yang hendak dicapai dengan pendidikan itu. Yaitu segi-segi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup yang tertentu seperti keindahan, kesusilaan, keagamaan, kemasyarakatan, seksual dll.

3. Tujuan Sementara

Tujuan sementara ini merupakan tempat-tempat perhentian sementara pada jalan yang menuju ke tujuan umum seperti : anak-anak dilatih belajar kebersihan, belajar berbicara, belajar berbelanja, belajar bermain bersama teman-temannya.

4. Tujuan Perantara

Tujuan ini ditentukan tergantung pada tujuan sementara. Umpamanya : tujuan sementara ialah si anak harus belajar membaca dan menulis. Setelah ditentukan untuk apa anak belajar membaca dan menulis itu, Dapatlah sekarang berbagai macam kemungkinan untuk mencapainya

itu dipandang sebagai tujuan perantara, seperti metode mengajar dan membaca.

5. Tujuan Isidental

Tujuan ini hanyalah sebagai kejadian-kejadian yang merupakan saat-saat yang terlepas pada jalan yang menuju kepada tujuan umum.

2.3.5.5 Pengertian Kurikulum

Pengertian kurikulum untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum.

Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell. (Syarbani, 2010 : 3-4)

Mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu :

1. Kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan. 2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.

3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.

4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik. (Purwanto, 2002 : 8-9)

Pengertian kurikulum menjadi enam bagian : 1. Kurikulum sebagai ide.

2. Kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum.

3. Kurikulum menurut persepsi pengajar .

4. Kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas.

5. Kurikulum pengalaman yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik.

6. Kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum. (Syarbani, 2010 : 54)

2.3.5.6 Peranan Anggota-Anggota Keluarga Terhadap Pendidikan Anak 1. Ibu

Sesuai dengan fungsi serta tanggung jawabnya sebagai keluarga, dapat disebutkan bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya adalah :

a. Sumber pemberian rasa kasih sayang b. Pengasuh dan pemelihara

c. Tempat curahan isi hati

d. Pengatur kehidupan dalam rumah tangga e. Pembimbing hubungan pribadi

f. Pendidik dalam segi emosional 2. Ayah

Tanpa bermaksud mendiskriminasikan tugas tanggung jawab ayah dan ibu dalam keluarga, ditinjau dari tugas dan fungsinya sebagai ayah, dapat dikemukakan disini, bahwa peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya yang lebih dominan adalah sebagai :

a. Sumber kekuasaan dalam keluarga

b. Penghubung intern keluarga dengan masyarakat dan dunia luar c. Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga

d. Pelindung ancaman dari luar

e. Hakim atau mengadili jika terjadi perselisihan f. Pendidik dari segi-segi rasional

3. Nenek

Umumnya nenek itu merupakan sumber kasih sayang yang mencurahkan kasih sayangnya yang berlebihan terhadap cucu-cucunya.

Mereka tidak mengharapkan sesuatu dari cucu-cucunya mereka semata-mata hanya memberi belaka. Maka dari itu kebanyakan nenek memanjakan cucu-cucunya dengan berlebihan

4. Pramuwisma

Pada umumnya pramuwisma tidak memiliki pengetahuan ataupun pengalaman yang cukup dalam hal mengasuh atau mendidik anak. Apalagi pramuswisma yang masih muda atau belum pernah berkeluarga. Oleh karena itu bagi para orang tua, betapa pun sibuknya dan sempitnya waktu luang tidak baik menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anaknya pada pramuwisma. Peranan pramuswisma sebagai pembantu rumah tangga seyogyanya hanyalah sebagai ‘pembantu’ pula dalam mengasuh dan mendidik anak didalam keluarga. Sedangkan yang tetap berperan dan menentukan pendidikan anak adalah orang tua yaitu ayah dan ibu.

Petunjuk penting dan perlu diperhatikan oleh pendidik :

a. Mengusahakan suasana yang baik dalam lingkungan keluarga b. Tiap anggota keluarga hendaklah belajar berpegang pada hak dan

tugas kewajiban masing-masing

c. Orang tua dan orang dewasa lainnya dalam keluarga itu hendaklah mengetahui watak dan tabiat anak-anak

d. Hindarkan segala sesuatu yang dapat merusak pertumbuhan jiwa anak

e. Biarkan anak bermain dengan teman-temannya diluar lingkungan keluarganya. (Purwanto, 2002 96-98)

Macam- macam lingkungan pendidikan adalah : a. Lingkungan keluarga b. Lingkungan sekolah c. Lingkungan kampung d. Lingkungan pemuda e. Lingkungan negara (Purwandari, 2004 : 148)

2.3.5.7 Teori- Teori Tentang Pendidikan John Locke dan Francis Bacon

Mengatakan bahwa anak yang baru dilahirkan itu dapat diumpamakan kertas putih bersih yang belum ditulisi. Jadi sejak lahir anak itu tidak mempunyai bakat kemampuan apa-apa. Karenanya anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Disini kekuasaan ada pada pendidikan. Pendidikan atau lingkungan berkuasa atas pembentukan anak.

Pendidikan dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :

1. Pendidikan sebagai praktek, maksudnya adalah seperangkat kegiatan atau aktivitas yang diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain agar memperoleh perubahan perilaku. 2. Pendidikan sebagai praktik, pengertiannya adalah seperangkat

pegetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber

pengalaman pendidikan maupun dari hasil perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. (Anonim, 2004 : 3)

Teori Behaviourism

Adalah mengatakan bahwa untuk menjadi ilmu pengetahuan, psikologi harus memfokuskan perhatiannya pada sesuatu yang bisa diteliti lingkungan dan perilaku yang fokus pada apa yang tersedia dalam individu persepsi-persepsi, pikiran-pikiran, berbagai citra perasaan dan sebagainya. Perasaan itu sifatnnya subyektif dan kebal bagi pengukuran sehingga tidak akan pernah bisa ilmu pengetahuan yang obyektif. Aliran ini didasarkan pada perubahan tingkah laku yang diamati. Oleh karena itu aliran ini berusaha mencoba menerangkan dalam pembelajaran bagaimanah lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku. Dalam aliran ini tingkah laku dalam belajar akan berubah kalau ada stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa perilaku yang diberikan pada siswa, sedangkan respons berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa.

Teori Cognitivism

Menjelaskan dalam belajar bagaimanah orang-orang berpikir. Oleh karena itu dalam aliran kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri. karena menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir yang kompleks. Jadi menurut teori cognitivism pendidikan dihasilkan dari proses berpikir.

Teori Constructivism

Menurut teori constructivism yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri. Konsep pembelajaran menurut teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehingga mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna. Jadi dalam pandangan constructivism sangat penting peranan siswa. Agar siswa memiliki kebiasaan berpikir maka dibutuhkan kebebasan dan sikap belajar. Menurut teori ini juga perlu disadari bahwa siswa adalah subyek utama dalam penemuan pengetahuan. Mereka menyusun dan membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan.Mereka harus menjalani sendiri berbagai pengalaman yang pada akhirnya memberikan pemikiran tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu. Hal terpenting dalam pembelajaran adalah siswa perlu menguasai bagaimana caranya belajar.

Teori Humanistic

Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk, memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila sipembelajar telah memahami lingkungan nya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain sipembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat

laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Menurut aliran Humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan belajar. Secara singkat pendekatan humanistic dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik. Dalam teori humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya. (Dwi, 2005 : 57)

Teori Sukmadinat 1. Pendidikan Klasik

Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialism, Essensialism, dan Existensialism dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi pendidikan atau materi diambil dari kasanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.

2. Pendidikan Pribadi

Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik. Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses

aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).

3. Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. Dalam teori pendidikan ini, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus, berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.

4. Pendidikan Interaksional

Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang

senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu, dalam teori pendidikan ini, interaksi juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial. (Suroto, 2002 : 79)

Teori Edward Lee Thorndike

Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike adalah tokoh psikologi yang mampu memberikan pengaruh besar terhadap berlangsungnya proses pembelajaran. Teorinya dikenal dengan teori Stimulus-Respons. Menurutnya, dasar belajar adalah asosiasi antara stimulus dengan respons. Stimulus akan memberi kesan kepada panca indra, sedangkan respons akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan. Asosiasi seperti itu disebut Connection. Prinsip itulah yang kemudian disebut sebagai teori Connectionism.

Pendidikan yang dilakukan Thorndike adalah menghadapkan subyek pada situasi yang mengandung problem. Model eksperimen yang ditempuhnya sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan kucing sebagai objek penelitiannya. Kucing dalam keadaan lapar dimasukkan ke dalam kandang yang dibuat sedemikian rupa, dengan model pintu yang dihubungkan dengan tali. Pintu tersebut akan terbuka jika tali tersentuh/tertarik. Di luar kandang diletakkan makanan untuk merangsang kucing agar bergerak keluar. Pada awalnya, reaksi kucing menunjukkan sikap yang tidak terarah, seperti meloncat yang tidak menentu, hingga akhirnya suatu saat gerakan kucing menyentuh tali yang menyebabkan pintu terbuka. Setelah percobaan itu diulang-ulang, ternyata tingkah laku kucing untuk keluar dari kandang menjadi semakin efisien. Itu berarti, kucing dapat memilih atau menyeleksi antara respons yang berguna dan yang tidak. Respon yang berhasil untuk membuka pintu, yaitu menyentuh tali akan dibuat pembiasaan, sedangkan respon lainnya dilupakan. Eksperimen itu menunjukkan adanya hubungan kuat antara stimulus dan respon. Thorndike merumuskan hasil eksperimennya ke dalam tiga hukum dasar, sebagai berikut:

a. Hukum Kesiapan (The Law of Readiness)

Hukum ini memberikan keterangan mengenai kesiapan seseorang merespons (menerima atau menolak) terhadap suatu stimulan :

Pertama, bila seseorang sudah siap melakukan suatu tingkah laku, pelaksanaannya akan memberi kepuasan baginya sehingga tidak akan

melakukan tingkah laku lain. Contoh, peserta didik yang sudah benar-benar siap menempuh ujian, dia akan puas bila ujian itu benar-benar-benar-benar dilaksanakan.

Kedua, bila seseorang siap melakukan suatu tingkah laku tetapi tidak dilaksanakan, maka akan timbul kekecewaan. Akibatnya, ia akan melakukan tingkah laku lain untuk mengurangi kekecewaan. Contoh peserta didik yang sudah belajar tekun untuk ujian, tetapi ujian dibatalkan, ia cenderung melakukan hal lain (misalnya: berbuat gaduh, protes) untuk melampiaskan kekecewaannya.

Ketiga, bila seseorang belum siap melakukan suatu perbuatan tetapi dia harus melakukannya, maka ia akan merasa tidak puas. Akibatnya, orang tersebut akan melakukan tingkah laku lain untuk menghalangi terlaksananya tingkah laku tersebut. Contoh, peserta didik tiba-tiba diberi tes tanpa diberi tahu lebih dahulu, mereka pun akan bertingkah untuk menggagalkan tes.

Keempat, bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku dan tetap tidak melakukannya, maka ia akan puas. Contoh, peserta didik akan merasa lega bila ulangan ditunda, karena dia belum belajar.

b. Hukum Latihan (The Law of Exercise)

Hukum ini dibagi menjadi dua, yaitu hukum penggunaan (the law of use), dan hukum bukan penggunaan (the law of disuse). Hukum penggunaan menyatakan bahwa dengan latihan berulang-ulang, hubungan stimulus dan respons akan makin kuat. Sedangkan hukum bukan

penggunaan menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan semakin melemah jika latihan dihentikan. Contoh: Bila peserta didik dalam belajar bahasa Inggris selalu menghafal perbendaharaan kata, maka saat ada stimulus berupa pertanyaan apa bahasa Inggrisnya kata yang berbahasa Indonesia maka peserta didik langsung bisa merespons pertanyaan itu dengan mengingat atau mencari kata yang benar. Sebaliknya, jika tidak pernah menghafal atau mencari, ia tidak akan memberikan respons dengan benar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prinsip utama belajar adalah pengulangan. Makin sering suatu pelajaran diulang, akan semakin banyak yang dikuasainya. Sebaliknya, semakin tidak pernah diulang, pelajaran semakin sulit untuk dikuasai. c. Hukum Akibat (The Law of Effect)

Hubungan stimulus-respons akan semakin kuat, jika akibat yang ditimbulkan memuaskan. Sebaliknya, hubungan itu akan semakin lemah, jika yang dihasilkan tidak memuaskan. Maksudnya, suatu perbuatan yang diikuti dengan akibat yang menyenangkan akan cenderung untuk diulang. Tetapi jika akibatnya tidak menyenangkan, akan cenderung ditinggalkan atau dihentikan. Hubungan ini erat kaitannya dengan pemberian hadiah (reward) dan sanksi (punishment). Contoh: Peserta didik yang biasa menyontek lalu dibiarkan saja atau justru diberi nilai baik, anak didik itu akan cenderung mengulangnya, sebab ia merasa diuntungkan dengan kondisi seperti itu. Tetapi, bila ia ditegur atau dipindahkan sehingga temannya tahu kalau ia menyontek, ia akan merasa malu (merasa tidak

diuntungkan oleh kondisi). Pada kesempatan lain, ia akan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan itu, sebab ia merasakan ada hal yang tidak menyenangkan baginya. (Suroto, 2002 : 34-36)

Teori Classical Conditions

Tokoh yang mengemukakan teori ini adalah Ivan Petrovich Pavlov, warga Rusia yang hidup pada tahun 1849-1936. Teorinya adalah tentang conditioned reflects. Pavlov mengadakan penelitian secara intensif mengenai kelenjar ludah. Penelitian yang dilakukan Pavlov menggunakan anjing sebagai objeknya. Anjing diberi stimulus dengan makanan dan isyarat bunyi, dengan asumsi bahwa suatu ketika anjing akan merespons stimulan berdasarkan kebiasaan. Ketika akan makan, anjing mengeluarkan liur sebagai isyarat dia siap makan. Percobaan itu diulang berkali-kali, dan pada akhirnya percobaan dilakukan dengan memberi bunyi saja tanpa diberi makanan. Hasilnya, anjing tetap mengeluarkan liur dengan anggapan bahwa di balik bunyi itu ada makanan. Lewat penemuannya, Pavlov meletakkan dasar behaviorism sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi berbagai penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori belajar. Prinsip belajar menurut Pavlov adalah sebagai berikut:

a. Belajar adalah pembentukan kebiasaan dengan cara menghubungkan/mempertautkan antara perangsang (stimulus) yang lebih kurang dengan perangsang yang lebih lemah.

b. Proses belajar terjadi apabila ada interaksi antara organisme dengan lingkungan.

c. Belajar adalah membuat perubahan-perubahan pada organisme / individu.

d. Setiap perangsang akan menimbulkan aktivitas otak.

e. Semua aktivitas susunan saraf pusat diatur oleh eksitasi dan inhibitasi.

(Zainul, 2008 : 30-38)

Dokumen terkait