B. Kerangka Teori
5. Tingkat Keuntungan Bagi Hasil
Daya tarik perbankan syariah juga dipengaruhi oleh adanya sistem bagi hasil. Bagi hasil adalah pembagian atas hasil usaha yang telah dilakukan oleh pihak – pihak yang melakukan perjanjian yaitu pihak nasabah dan pihak bank syariah (Ismail, 2011 : 95). Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan dalam Al – Qur‟an (Depag RI, 2005 : 454), Qs. Shad ayat 24 yang berbunyi:
ِءاَطَهُخْناِغْبَيَهي َهِماًشيِثَك َّنِإََ
ًِِجاَعِو ُ
َجْعَىٰىَنِإ ِلاَؤُسِب َكَمَهَظ
ْذَقَن َلاَق
ُ
ْمٌُ
اَم ميِهَقََ ِتاَحِناَّصنا
اُُهِمَعََاُُىَمآ
َهيِزَّنا َّلِّإ ٍضْعَب
ٰىَهَع ْمٍُُضْعَب
ُ
َباَوَأََاًعِكاَس َّشَخََ ًَُّبَس
َشَفْغَتْساَف ُياَّىَتَفاَمَّوَأ
ُدََُاَد َّهَظََ
Artinya:
“Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada
kambingnya. Dan, sesungguhnya kebanyakan dari orang – orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” (Shad :
24).
Untuk memaksimalkan daya tarik nasabah pada perbankan syariah juga diberikan kemudahan dan keringanan pada biaya administrasi dalam jasa penyimpanan, investasi dan lain - lain. Sehingga hal – hal yang biasa diperhatikan nasabah terkait karakteristik produk perbankan syariah adalah adanya produk yang inovatif, daya tarik bagi hasil, dan keringanan pada biaya administrasi.
Salah satunya prinsip dalam akad bank syariah yang dirasa familiar di masyarakat yakni prinsip bagi hasil (mudharabah).
Mudharabah berasal dari bahasa Arab darbh yang berarti berjalan di atas atau bepergian di muka bumi. Sedangkan menurut istilah
Mudharabah adalah suatu kontrak kemitraan (partnership) yang berlandaskan pada prinsip pembagian hasil dengan cara seseorang memberikan modalnya kepada orang lain untuk melakukan bisnis dan kedua belah pihak membagi keuntungan atau memikul beban kerugian berdasarkan isi perjanjian bersama (Zulkifli, 2003: 380-381).
Bagi hasil menurut terminologi asing (bahasa Inggris) dikenal dengan profit sharing. Profit dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba. Secara definisi profit sharing diartikan "distribusi beberapa bagian dari laba pada pegawai dari suatu perusahaaan".
Menurut Antonio (2001: 90), bagi hasil adalah suatu sistem pengolahan dana dalam perekonomian Islam yakni pembagian hasil
usaha antara pemilik modal (shahibul maal) dan pengelola (Mudharib).
Ikatan Akuntansi Indonesia (2002) dalam Maryanah (2006) menjelaskan bahwa bagi hasil (profit sharing) adalah pembagian keuntungan dihitung dari pendapatan setelah dikurangi beban yang berkaitan dengan pengelolaan dana. Serta nisbah adalah rasio atau perbandingan pembagian keuntungan (bagi hasil) antara shahibul maal (pemilik dana) dan mudharib (pengelola dana). Maryanah (2006) juga menjelaskan bahwa semakin besar jumlah pendapatan bagi hasil yang diterima oleh bank maka semakin besar pula keinginan bank untuk memberikan pembiayaan bagi hasil. Sebaliknya semakin kecil jumlah pendapatan bagi hasil yang diterima oleh bank maka akan semakin kecil keinginan bank untuk memberikan pembiayaan bagi hasil.
Bagi hasil merupakan dimana kedua belah pihak akan berbagi keuntungan sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dimana bagi hasil mensyaratkan kerjasama pemilik modal dengan usaha/kerja untuk kepentingan yang saling menguntungkan kedua belah pihak,
sekaligus untuk masyarakat”. Sebagai konsekuensi dari kerjasama
adalah memikul resiko, baik untung maupun rugi. Jika untung yang diperoleh besar maka penyedia dana dan pekerja menikmati bersama sesuai dengan kesepakatan sebelumnya dan jika rugi usaha maka harus dirasakan bersama pula (Al-Qardhawi, 2001).
Selanjutnya Wiroso (2005: 89) menyatakan“ dalam bank syariah, imbalan yang diberikan kepada para deposan (penghimpun dana) sangat tergantung pada pendapatan yang diperoleh atas pengelolaan atau penyaluran dana yang dilakukan oleh bank syariah, khususnya pendapatan yang telah diikuti dengan aliran kas masuk (cash basis) sehingga dari bulan ke bulan berikutnya penghasilannya
tidak selalu sama”.
Pembayaran imbalan bank syariah kepada deposan (pemilik dana) dalam bentuk bagi hasil besarnya sangat tergantung dari pendapatan yang diperoleh oleh bank sebagai mudharib atau pengelola dana mudharabah tersebut, apabila bank syariah memperoleh hasil usaha yang besar maka distribusi hasil usaha didasarkan pada jumlah yang besar, sebaliknya apabila bank syariah memperoleh hasil usaha yang kecil maka distribusi hasil usaha juga didasarkan pada jumlah yang kecil pula.
Menurut Didin dalam Hamidi (2003) “bagi hasil dalam syariah
tidak mengenal pemberlakuan keuntungan mutlak dimuka kepada para
investornya”. Keuntungan bagi hasil yang diterima tidak tetap tetapi
sesuai dengan keuntungan yang diperoleh bank. Sebaliknya, diperjanjikan pula bila usaha mengalami kerugian, maka baik investor maupun pengelola dana yang menjalankan proyek akan menanggung secara bersama-sama sesuai dengan share yang dimiliki.
Prinsip bagi hasil (profit sharing) berdasarkan kaidah Al- Mudharabah dan Al-Musyarakah. Al-mudharabah yaitu akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola atau perjanjian atas suatu jenis perkongsian dimana pihak pertama menyediakan dana dan pihak kedua (mudharib) bertanggung jawab atas pengelolaan usaha. Al-musyarakah yaitu akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing- masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan ( Wiroso, 2005: 88).
Dalam ekonomi syariah, konsep bagi hasil dapat dijabarkan sebagai berikut.
a. Pemilik dana menanamkan dananya melalui institusi keuangan yang bertindak sebagai pengelola dana.
b. Pengelola mengelola dana-dana tersebut dalam sistem yang dikenal dengan sistem pool of fund (penghimpunan dana), selanjutnya pengelola akan menginvestasikan dana-dana tersebut kedalam proyek atau usaha-usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi semua aspek syariah.
c. Kedua belah pihak membuat kesepakatan (akad) yang berisi ruang lingkup kerjasama, jumlah nominal dana, nisbah, dan jangka waktu berlakunya kesepakatan tersebut.
d. Sumber dana terdiri dari:
1.) Simpanan: tabungan dan simpanan berjangka.
2.) Modal : simpanan pokok, simpanan wajib, dana lain-lain. 3.) Hutang pihak lain.
Dalam aplikasinya, mekanisme penghitungan bagi hasil dapat dilakukan dengan dua macam pendekatan, yaitu :
a. Pendekatan profit sharing (bagi laba)
Profit sharing menurut etimologi Indonesia adalah bagi keuntungan. Dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba.Profit secara istilah adalah perbedaan yang timbul ketika total pendapatan (total revenue) suatu perusahaan lebih besar dari biaya total (total cost).Di dalam istilah lain profit sharing
adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada hasil bersih dari total pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut.Pada perbankan syariah istilah yang sering dipakai adalah profit and loss sharing, di mana hal ini dapat diartikan sebagai pembagian antara untung dan rugi dari pendapatan yang diterima atas hasil usaha yang telah dilakukan.
b. Pendekatan revenue sharing (bagi pendapatan).
Revenue (pendapatan) dalam kamus ekonomi adalah hasil uang yang diterima oleh suatu perusahaan dari penjualan
barang-barang (goods) dan jasa-jasa (services) yang dihasilkannya dari pendapatan penjualan (sales revenue).
Pembagian revenue sharing (distribusi bagi hasil) antara bank dan nasabah di pengaruhi oleh nisbah bagi hasil. Sedangkan nisbah adalah pembagian keuntungan yang ditetapkan di awal pada saat terjadi akad dalam bentuk prosentase (%) yang disepakati oleh kedua belah pihak yakni pada pihak bank dan pihak nasabah. Nisbah bagi hasil merupakan faktor penting dalam menentukan bagi hasil di bank syariah, sebab aspek nisbah merupakan aspek yang disepakati bersama antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi saldo rata rata nasabah. Selain pendapatan yang diperoleh bank dan nisbah bagi hasil, saldo rata rata nasabah juga mempengarui distribusi bagi hasil nasabah
mudharabah ( Muhammad, 2002).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat keuntungan bagi hasil adalah tingkat keuntungan pengembalian yang telah disepakati dan diterima sebagai pendapatan atas pembagian laba.