• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SEKILAS TENTANG BIOGRAFI KH. M. AGUS ABDUL

B. Kampung Jombang Kramat

3. Tingkat Pendidikan

Keadaan penduduk menurut tingkat pendidikannya dapat dikatakan relatif baik: karena hampir seluruh masyarakat Jombang Kramat pernah mengenyam pendidikan meskipun tidak sampai menyelesaikan sekolah dasar, dan tidak sedikit juga yang mampu menyelesaikan sampai perguruan tinggi.

4. Sarana Prasarana a. Sarana Pendidikan

Sarana pendidikan yang ada dikampung Jombang Kramat terdapat satu yayasan pendidikan, yaitu Pondok Pesantren Madinatunnajah yang terdiri dari: 1 (satu) Raudhotul Athfal (RA) Madinatunnajah yang setingkat dengan TK (Taman Kanak-kanak), 1 (satu) MI (Madrasah Ibtidaiyah) Madinatunnajah, 1 (satu) MTs (Madrasah Tsanawiyah) Madinatunnajah, 1 (satu) MA (Madrasah Aliyah) Madinatunnajah, dan 1 (satu) TPA (Taman Pendidikan Al-quran) dan Ma’had Aliy

Madinatunnajah, serta 1 SDN VI Jombang, dan mobil perpustakaan keliling yang beroperasi satu bulan sekali.

b. Sarana olahraga

Sarana olahraga yang terdapat di kampung Jombang Kramat yaitu 2 (dua) lapangan sepak bola, 1 (satu) lapangan basket dan 1 (satu) lapangan futsal.

c. Sarana kesehatan

Sarana kesehatan di kampung Jombang Kramat, ada POSYANDU (Pos Pelayanan Terpadu) yang sekali dalam seminggu yaitu mengadakan layanan kesehatan, khususnya buat ibu hamil dan anak-anak.

C. Sekilas Tentang Pondok Pesantren Madinatunnajah

Pesantren Madinatunnajah didirikan oleh KH. Drs. Mahrus Amin, pada tanggal 14 Februari 1997, di lahan milik pribadinya seluas 2,5 hektar yang terletak di Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Diresmikan

oleh Almarhum KH. Shoiman Lukmanul Hakim salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor pada tanggal 20 September 1997.

Semangat berdakwah ini nampak pula dalam upaya KH. Mahrus Amin dalam mengembangkan dan membina sebuah pondok pesantren. Maka setelah sukses mendirikan Darunnajah Jakarta, beliau juga mendirikan Pesantren Annajah di tempat kelahirannya yaitu Kalimukti, Cileduk, Cirebon. Kemudian

beliau mengembangkan “sayap” lainnya dengan mendirikan Pesantren Madinatunnajah.

Keinginan agar diberikan kemampuan mendirikan seribu pondok pesantren di Indonesia adalah sebagaimana Allah SWT telah memberikan kekuasaan pada Dzulqarnain, yang mana beliau ungkapkan dalam do’nya di dalam Ka’bah, yaitu agar diberikan kemampuan untuk mendirikan seribu pesantren di Indonesia.

Madinatunnajah berdiri dengan berbagai fasilitas, disiplin, dan sistemnya yang modern. Pada awalnya, pesantren ini hanya dibangun di atas sebidang tanah seluas 300 meter persegi, peninggalan KH. Mahrus Amin untuk anaknya Hj. Nanah Rusydiyanah (yang tidak lain istri KH. M. Agus Abdul Ghofur). Namun kemudian, tanah tersebut diperluas menjadi lebih dari 2,5 hektar. Dengan lokasi yang cukup strategis, terletak di antara dua kota mandiri Bumi Serpong Damai (BSD) dan Bintaro Jaya.

Pengembangan lahan ini memang teramat penting, terutama dalam bidang dakwah maupun pedidikan, di mana sistem pendidikan modern saat ini semakin mensyaratkan adanya fasilitas tempat yang memadai. Hal ini

memang amat disadari oleh kiai Mahrus Amin. Karena itu, beliau ingin mengembangkan semacam pesantren dengan kekhususan yang memberi nilai tambah kepada santri atau pesantren itu sendiri, Madinatunnajah yang berlokasi di desa Jombang. Ciputat, Tngerang Selatan ini adalah Implementasinya, sebuah pesantren yang bernilai tambah khususnya dalam bidang dakwah dan pendidikan.9

Menurut pimpinan umum KH. Mahrus Amin dan pengasuh Pondok Madinatunnajah KH. M. Agus Abdul Ghofur, M.Pd, nama Madinatunnajah mengandung filosofi dan makna yang tinggi, yang di ambil dari dua kata dalam Bahasa Arab yaitu madinah yang berarti “negeri” atau “kota” dan an-najah yang berarti ”keberhasilan” atau “kota keberhasilan” atau “kota kesuksesan”10

Dengan kata lain, Madinatunnajah merupakan sebuah pesantren yang diharapkan menjadi kota keberhasilan bagi para penuntut ilmu, yang akan melahirkan kader-kader ummat yang tangguh dan berintelektual tinggi, sehingga mampu berkiprah di tengah masyarakat, sesuai dengan motto pondok pesantren itu sendiri yaitu Berakhlak Mulia, Berwawasan Cendikia dan Berbudaya Madina.11

Menurut pimpinan umum Pesantren Madinatunnajah, salah satu faktor yang melatar belakangi berdirinya pesantren ini adalah keprihatinan dan kepedulian beliau dengan kondisi masyarakat setempat di mana gereja

9

Wawancara Pribadi dengan KH. M. Agus Abdul Ghofur, Jombang Kramat, Senin 22 April 2013

10

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia. (Jakarta: PT. Hidayah Agung 1989), h. 414

11

Wawancara Pribadi dengan KH. M. Agus Abdul Ghofur, Jombang Kramat, Senin 22 April 2013

didirikan sementara kebiasaan yang berlangsung di tengah masyarakat banyak sekali yang bertetangan dengan syari’at Islam, seperti minum-minuman, judi dan hiburan-hiburan yang kurang mendidik generasi mudanya. Beliau ingin merubah masa depan desa ini menjadi masyarakat yang mengenal agama Islam, mengenai ilmu pengetahuan, dan mencegah usaha kristenisasi melalui didirikannya pesantren Madinatunnajah.

59

ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI KH. M. AGUS ABDUL GHOFUR DALAM MENINGKATKAN NILAI AKHLAK

A. Strategi Komunikasi

Strategi komunikasi yang diterapkan oleh KH. M. Agus Abdul Ghofur dalam meningkatkan akhlak pada masyarakat lingkungan pondok pesantren Madinatunnajah kampung Jombang, yaitu:

1. Mengenal Komunikan

Mengenal komunikan sebagai sasaran dalam melakuan komunikasi merupakan langkah pertama bagi komunikator, agar mengetahui dengan siapa komunikator berhadapan, yang mana ini dilakukan oleh KH. M. Agus Abdul Ghofur dalam meningkatkan akhlak agar terjadinya komunikasi yang efektif, yaitu mengenal warga masyarakat di sekitar pondok pesantren Madinatunnajah kampung Jombang-Kramat dengan beradaptasi dengan kegiatan-kegiatan yang ada di warga masyarakat sekitar pondok pesantren Madinatunnajah Jombang, baik itu acara mingguan sperti bersih lingkungan, mengikuti ta’ziah maupun tahlil, serta acara walimah yang warga adakan. Melalui cara melihat secara langsung keadaan warga sekitar, beliau mengikut sertakan dirinya pada acara tersebut, serta menanyakan pada warga (komunikan) kegiatan apa saja yang biasa warga lakukan dalam kesehariannya, karena dengan mengenal warga disekitar terlebih dahulu dapat mengetahui latar belakang dan

psikologis warga (komunikan) yang berbeda-beda. Strategi ini dilakukan dengan tujuan agar mampu menempatkan diri (komunikator) sesuai dengan keadaan warga masyarakat (komunikan).

Hal ini sesuai dengan penuturan KH. M. Agus Abdul Ghofur sebagai berikut:

“Saya ditugaskan disini (sebagai pimpinan pondok pesantren Madinatunnajah) tidak hanya sebatas harus bisa memimpin pondok saja, melainkan saya juga harus bisa dekat dengan warga sekitar, agar keberadaan kami disini diterima di tengah-tengah masyarakat, khususnya saya sendiri yang mana bukan asli warga Jombang ini. Saya harus tahu keadaan warga sekitar yaitu dengan mendekatkan diri pada warga melalui beradaptasi lingkungan dimulai dari bagaimana saya berkomunikasi secara face to face atau langsung, saya harus tahu latar belakang warga (komunikan) tersebut, seperti latar belakang psikologisnya serta pendidikanya. Agar komunikasi kita berjalan dengan baik yaitu terjadinya keakraban diantara

kita.”1 2. Menentukan Pesan

Setelah mengenal komunikan dengan mengetahui latar belakang serta keadaan warga sekitar, maka strategi selanjutnya adalah dengan menentukan pesan atau menyusun pesan sesuai tema maupun materi yang akan disampaikan pada warga sekitar. Oleh karena itu, ketika KH. M. Agus Abdul Ghofur menyampaikan pesannya kepada warga (komunikan) harus terlebih dahulu mengetahui latar belakang warga dan psikologisnya, kemudian pesan tersebut disusun atau ditentukan sesuai pokok permasalahan yang terjadi saat itu, dan materi (pesan) tersebut sesuai dengan apa yang beliau ketahui, agar

1

Wawancara pribadi dengan KH. M. Agus Abdul Ghofur (Tangerang Selatan, Senin 22 April 2013)

para komununikan (warga masyarakat) lebih tergugah pemikirannya untuk mendengarkan ustadz Agus menyampaikan pesannya, kemudian beliau sampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak menyulitkan warga (komunikan), agar pesan yang beliau sampaikan dapat diterima, dipahami serta dapat menarik perhatian warga sekitar, sehingga komunikasi yang terjalin dapat membawa perubahan pada masyarakat lingkungan pondok pesantren Madinatunnajah ke arah yang lebih baik.

Hal ini sesuai dengan penuturan KH. M. Agus Abdul Ghofur sebagai berikut:

“Strategi komunikasi selanjutnya yang saya gunakan dengan

menentukan pesan apa yang akan disampaikan pada warga sekitar, dengan

tidak jauh dari mengetahui latar belakang warga atau jama’ah itu sendiri.

Biasanya saya sesuaikan dengan kemampuannya dalam memahami materi

ataupun pesan yang saya sampaikan, agar warga atau jama’ah dapat

memahami dan mengerti apa yang saya sampaikan, selain itu juga saya harus menyesuaikan bahasa yang digunakan yaitu bahasa yang mudah dipahami

oleh warga atau jama’ah sini, seperti ketika saya menyampaikan pesan dalam pengajian bulanan menyampaikan keutamaan dari Rootibul Haddad (kajian wirid), saya ungkapkan keutamaan orang yang membacanya diantaranya adalah dapat menyelamatkan diri dari ajaran sesat, agar selalu terjaga oleh Allah SWT dimanapun kita berada.”2

Menurut Wilbur Schramm menampilkan apa yang ia sebut “The condition of success in communication” yakni kondisi yang harus dipenuhi

jika menginginkan agar suatu pesan membangkitkan tanggapan yang dikehendaki yang antara lain:

a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.

2

Wawancara pribadi KH.M. Agus Abdul Ghofur (Tangerang Selatan, Senin 22 April 2013)

b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.

c. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.

d. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok di mana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.3

Setelah mengenal komunikan dengan mengetahui latar belakangnya tidak diragukan lagi kebenarannya dimana unsur ini sangat berperan terhadap keberhasilan dan kesuksesan dakwah karena mengingat adanya seruan dari sabda Nabi Allah:

ا اق

ّ

ْ ْ قع ْ ق ّ ع سا ا اْ طاخ س ْي ع ها ّ ص

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: berbicaralah kamu kepada manusia itu sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka.

Melalui hadits tersebut diatas dapat diambil pengertian sebagai berikut: a. Para da’i (bisa juga komunikan) dituntut untuk mencernakan materi

dakwah (pesan yang akan disampaikan) sesuai dengan daya piker ummat. b. Dapatnya para komunikator memenuhi hal tersebut adalah dengan jalan

memenuhi terlebih dahulu dengan siapa dia akan berhadapan.4

3

Roudhonah, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007). Cet.1 h.64

4

Alwisral Imam Zaidallah, Strategi Dakwah: Dalam Membentuk Da’I dan Khotib Profesional, (Jakarta, Kalam Mulia, 2005) Cet. Ke-2 h.76-77

3. Menentukan Metode

Agar tercapainya dalam meningkatkan akhlak pada masyarakat sekitar Pondok Pesantren Madinatunnajah, KH. M. Agus Abdul Ghofur menetapkan metode-metode, tujuannya adalah agar pesan yang akan disampaikan dapat diterima serta mudah dipahami oleh masyarakat sekitar Pondok Pesantren Madinatunnajah kampung Jombang.

Adapun metode-metode yang di gunakan KH. M. Agus Abdul Ghofur dalam meningkatkan akhlak pada masyarakat kampung Jombang, yaitu sebagai berikut:

a. Metode Redundancy (Repetition)

Metode ini sebagai cara untuk mempengaruhi khalayak (komunikan) dengan jalan mengulang-ulang kembali pesan yang disampaikan. Terkadang komunikasi yang diharapkan efektif, dalam penyampaian pesan (komunikator) terhadap komunikan tidak cukup hanya sekali, apalagi komunikasi yang mengarah dan bertujuan dapat merubah pendapat, sikap dan perilaku pada komunikan haruslah dilakukan secara kontinyu.5

Menurut Marhaeni Fajar dalam bukunya Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik mengatakan:

“Dalam hubungan itu, mungkin disinilah kebenaran teori Hilter

mengenai metode redundancy atau repetition. Hilter menulis dalam Mein Kampfnya, bahwa dalam melakukan propaganda kita

5

Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori Dan Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), Ed.1, Cet.1 h. 198

harus mensimplisir persoalan dan dipompakan persoalan itu berulang-ulang kali kepada khalayak”.6

Metode ini dilakukan oleh ustadz Agus (komunikator) dalam

menyampaikan pesan atau materi kepada jama’ahnya maupun warga

masyarakat lingkungan Pondok Pesantren Madinatunnajah (komunikan), agar masyarakat dapat mengingat pesan atau materi apa yang telah beliau sampaikan. Karena terkadang manusia itu perlu untuk diingatkan dalam hal apapun, seperti dalam hal meningkatkan nilai akhlak, ustdaz Agus tidak bosan mengingatkan berulang-ulang kali pada komunikannya tentang pentingnya nilai akhlak yang harus diterapka dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak manfaat yang terkandung dalam metode ini, seperti dapat mengingatkan komunikan kembali tentang apa yang disampaikan oleh komunikator, serta manfaat bagi komunikator sendiri dalam memperbaiki kekurangan-kekurangan pada pesan yang disampaikan sebelumnya.

b. Metode Cerita

Metode cerita ini digunakan, karena di dalamnya terdapat misi pendidikan yang dalam dan sangat menarik, karena manusia secara fitrah suka pada kisah-kisah terutama pada anak-anak. Tanpa terkecuali jama’ah

ustadz Agus yang terdiri dari berbagai kalangan dalam mengikuti pengajian, seperti pengajian atau majelis dzikir yang selalu beliau laksanakan setiap hari Ahad di awal bulan, tidak hanya para ibu dan bapak,

6

Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi: Teori Dan Praktik, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), Ed.1, Cet.1, h. 198

anak merekapun ikut serta dalam pengajian tersebut. Oleh karenanya agar dapat diterima oleh kalangan manapun ustadz Agus selalu menggunakan metode cerita yang berisi cerita-cerita sejarah nabi dan para sahabatnya maupun berbagai pengalaman yang beliau pernah alami yang banyak mengandung pelajaran akhlaqul karimah.

Hal ini sesuai dengan pendapat salah satu jama’ah warga

masyarakat kampung Jombang bernama Bapak Suwanda:

“Terkadang dalam penyampaian beliau ketika pengajian

maupun berdiskusi bersama, ustadz Agus selalu menggunakan kata-kata yang arif seperti: menyarankan kepada kami semua jangan melupakan hal yang kecil namun penuh makna, yaitu ucapkanlah Basmallah Bismillahirrohmanirrohim sebelum melakukan pekerjaan yang akan kita kerjakan, tidak jarang juga disertai cerita-cerita yang selalu membuat inspirasi atau mendapat pelajaran dari cerita yang ustadz sampaikan, bahkan guyon pun sering beliau lakukan, itu semua untuk mencairkan suasana keakraban dan kekeluargaan diantara kami.”7

Kisah atau cerita serta humor yang segar adalah suatu hal yang wajar bahkan sewaktu-waktu perlu dilakukan. Hal ini bertujuan ganda

yakni disamping menarik perhatian jama’ah juga menghilangkan kelesuan,

kejenuhan serta membangkitkan kegairahan dan semangat. Menurut KH. A. Syamsury Shiddiq sebagai berikut:8

“Humor sebagai selingan kadang-kadang diperlukan untuk menghilangkan capek dalam kantuk, namun humor bukanlah tujuan berdakwah, karena humor itu jangan sampai mengaburkan tujuan dakwah,

7

Wawancara Pribadi dengan Bapak Suwanda (Ketua RT 004 setempat dan Jama’ah pengajian Ustadz Agus) Jombang Kramat, Kamis 02 Mei 2013

8

Alwisral Imam Zaidallah, Strategi Dakwah: Dalam Membentuk Da’I dan Khotib Profesional, (Jakarta: Kalam Mulia, 2005) Cet.2 h. 161-162

apalagi humor yang bernada cabul, hal yang demikian sungguh berlebihan,

agaknya kurang sesuai dengan perkembangan zaman.”

c. Metode Diskusi

Diskusi adalah “suatu proses yang melibatkan dua atau lebih

individu yang berintegrasi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara tukar

menukar informasi, mempertahankan pendapat dan pemecahan masalah” Metode diskusi ini dilakukan ketika dalam pengajian umum, lalu terdapat permasalahan fiqih yang belum jelas yang masih banyak perbedaan dan perlu didiskusikan kepada ustdaz atau jama’ah yang lain

yang hadir dalam pengajian itu, tujuannya untuk memberikan solusi atau jalan tengah atas masalah tersebut.

d. Metode Tanya Jawab

Metode ini dilakukan ketika dalam pengajian umum setelah

menjelaskan materi kepada jama’ah (warga masyarakat kampung

Jombang). Ustadz Agus memberikan pertanyaan kepada jama’ah

(komunikan) tentang materi yang sudah dijelaskan, hal ini dilakukan untuk mengingat kembali materi-materi yang sudah disampaikan dan dijelaskan

kepada jama’ah. ustadz Agus juga memberi kesempatan kepada jama’ah

untuk menanyakan materi yang telah disampaikan atas kurangnya pemahaman jama’ah, atau mengenai masalah tentang hukum fiqih dan masalah akhlak, ataupun hanya sekedar meminta contoh dari materi penjelasan yang telah disampaian oleh ustadz Agus, hal ini dilakukan

untuk membantu warga masyarakat kampung Jombang maupun jama’ah

dalam memahami materi yang telah disampaikan pada proses pengajian berlangsung.

e. Metode Ceramah

Ceramah adalah “cara penyajian atau penyampaian informasi

melalui penerangan, dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap

siswanya”. Ceramah juga disebut sebuah cara pengajaran yang dilakukan

oleh kiai yang sifatnya monolog dan hubungannya satu arah.

Metode ini dilakukan oleh ustadz Agus dalam menyampaikan materi kepada jama’ahnya dengan cara menerangkan dan menguraikan materi yang bersumber dari Alquran, Hadits, ataupun buku-buku agama. Dalam penyampaian tersebut, ustadz melakukan pengulangan materi, hal ini dilakukan agar materi atau pesan yang disampaikan ustadz dapat lebih di pahami dan diterima oleh warga masyarakat kampung Jombang. Metode ini digunakan sebagai komunikasi secara lisan antara ustadz dengan masyarakat kampung Jombang dalam proses belajar mengajar yaitu dalam pengajian umum. Meskipun metode ini lebih banyak menuntut keaktifan komunikator (ustadz) dari pada komunikan (jama’ah), metode ini

merupakan cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi tentang persoalan serta masalah secara lisan.

Ceramah merupakan metode komunikasi yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, karena dapat mengatasi kurangnya pemahaman jama’ah masyarakat kampung Jombang (komunikan) dalam

membaca, jadi jama’ah masyarakat kampung Jombang hanya mendengarkan pesan dari ustadz (komunikator) agar mempermudah

jama’ah dalam menerima dan memahami pesan atau materi yang

disampaikan oleh Ustadz. Selain itu, metode ceramah merupakan salah satu metode komunikasi yang efektif, karena pesan yang disampaikan ustadz lebih cepat dan serentak diterima oleh jama’ah masyarakat kampung Jombang.

f. Metode Nasihat

Metode ini dilakukan ketika ada warga masyarakat di lingkungan pondok pesantren Madinatunnajah kampung Jombang melakukan tindak kejahatan atau perbuatan yang menyimpng, maka tindakan ustadz Agus untuk memberi nasihat kepadanya atau bahkan dengan memberi hukuman, bentuk hukuman atau ganjaran ini merupakan bentuk perhatian ustadz Agus langsung.

4. Strategi Mempengaruhi/Membujuk

Salah satu dari fungsi komunikasi adalah mempengaruhi dengan membujuk komunikan, yaitu orang yang menjadi tujuan pesan itu disampaikan oleh komunikator. Bisa disebut juga komunikasi persuasif. Menurut salah satu tokoh komunikasi Bettinghous, mengemukakan bahwa komunikasi persuasif adalah “komunikasi manusia yang dirancang untuk

mempengaruhi orang lain dengan usaha mengubah keyakinan, nilai, atau sikap mereka (komunikan).9

9

Inti dari tujuan strategi ini adalah untuk mempengaruhi pikiran seseorang, yakni agar dapat mengubah sikap, pendapat ataupun perilaku seseorang atau kelompok, dengan cara yang halus tidak memaksa dan mengancam, serta mamberikan penjelasan-penjelasan yang memungkinkan dapat diterima oleh warga kampung masyarakat lingkungan pondok pesantren Madinatunnajah kampung Jombang, kemudian melakukan tindakan atau perbuatan yang komunikator (ustadz) kehendaki. Didalam strategi ini tidak hanya membujuk serta merayu saja, melainkan suatu teknik untuk mempengaruhi pola pikir seseorang melalui data dari latar belakang serta fakta psikologis dan sosiologisnya dari komunikan, agar tidak timbulnya paksaan melainkan dengan kesadaran dari dalam diri sendiri. Strategi ini lah yang kerap kali harus dimiliki oleh ustadz (persuader) agar dapat memperkirakan keadaan komunikan (warga masyarakat) yang akan dihadapinya.

Strategi ini membantu ustadz Agus dalam menjalankan komunikasinya untuk mengajak dan membujuk warga masyarakat sekitar pondok pesantren Madinatunnajah kampung Jombang ini untuk mengikuti pengajian dan majelis

ta’lim secara rutin dengan tujuan dapat meningkatkan nilai akhlak yang lebih baik, serta melakukan kegiatan yang positif, agar terhindar dari perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri serta lingkungan masyarakat sekitar.

Dalam strategi ini, ustadz Agus menginginkan dan berharap agar masyarakat warga Jombang bisa tergugah hatinya dan dapat meluangkan waktunya untuk mengikuti pengajian rutin yang biasa dilaksanakan di

mengikuti acara-acara perayaan hari besar Islam, terutama pengajian yang dilaksanakan di setiap awal Ahad di bulan pertama dengan tema Pesan Ulama, yang mana diisi oleh penceramah-penceramah ulama ternama. Hal ini dilakukan karena banyak warga masyarakat sekitar pondok pesantren Madinatunnajah Jombang yang terkadang masih belum sempat mengikuti dikarenakan kesibukannya serta adanya urusan pribadi masing-masing.

5. Strategi Mengontrol

Yang dimaksud strategi mengontrol, adalah ustadz Agus mengontrol secara langsung untuk melihat dan memperhatikan warga masyarakat sekitar Pondok Pesantren Madinatunnajah kampung Jombang Kramat, dengan beradaptasi, tidak lain inilah pendekatan pertama yang beliau lakukan, jika beliau melihat serta mendengar adanya warga yang menyimpang serta melakukan tindak kejahatan maka ustadz memberinya nasihat dan memberi teguran kepada warga yang melakukan penyimpangan atau melakukan tindak kejahatan, seperti minum-minuman keras dan lain sebagainya. Biasanya

ustadz Agus sampaikan pula pada jama’ah pengajian Pesan Ulama yang

beliau adakan sebulan sekali itu, karena pada pengajian itu yang datang tidak dibatasi dari kalangan manapun, kesempatan inilah yang ustadz Agus lakukan guna membantu beliau untuk menegur warga masyarakat satu sama lain.

6. Strategi Antisipasi

Tujuan dari strategi antisipasi ini adalah memenuhi apa yang diinginkan warga masyarakat kampung Jombang Kramat, agar terpenuhinya

keinginan warga masyarakat, ustadz Agus pun melakukan hal, seperti memberi izin atau memperbolehkan ketika ada warga masyarakat kampung Jombang Kramat yang ingin mengadakan lomba-lomba seperti lomba sepak bola, futsal, catur, dan lainnya selama kegiatan itu tidak melanggar ketentuan dari nilai-nilai agama Islam, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pemberontakan terhadap diri masyarakat lingkungan Pondok Pesantren Madinatunnajah Kampung Jombang Kramat ini.

Hal ini sesuai dengan penuturan KH. M. Agus Abdul Ghofur sebagai berikut:

“Disini memang perlu mensiasati kembali bahwa ustadz disini

memang bukan warga asli, akan tetapi pendatang, oleh sebab itu antisipasi dalam kegiatan warga disini selalu ustadz dukung, selama kegiatan itu tidak menyimpang dari syariat Islam, bahkan jika kegiatan itu mengembangkan bakat warga masyarakat, saya selalu mendukung serta turut mendoakan agar kegiatan selalu diberkahi dan

mendatangkan manfaat bagi kami semua.”10 7. Strategi Merangkul

Strategi ini adalah salah satu upaya untuk memberikan kepercayaan serta motivasi terhadap warga masyarakat lingkungan Pondok Pesantren

Dokumen terkait