• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

6. Tingkat Pendidikan

Pada hakikatnya pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi sebagai pemersatu bangsa, penyamaan kesempatan, pengembangan potensi diri. Menurut Nuansa Aulia (2008: 127) pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam NKRI, memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk

26 berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.

Salah satu permasalahan dalam pendidikan adalah prestasi kerja pendidik yang rendah, untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tentunya seorang pendidik dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan dalam mengajar dan memberikan materi ajar. Oleh karena itu, tentunya pendidik dapat melihat kondisi peserta didiknya sehingga dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar yang aktif, agar dalam penyelenggaraannya dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas.

Memasuki era globalisasi yang semakin meluas, pendidikan dituntut untuk dapat meghasilkan para peserta didik yang dapat bersaing dalam dunia kerja, serta memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dapat diaplikasikan dalam dunia kerja. Dalam dunia pendidikan kualitas sumber daya manusia juga sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam mencapai tujuan sekolah. Namun pada kenyataannya apabila dilihat dari segi kualitas, pendidikan saat ini masih jauh dari yang diharapkan, karena belum meratanya mutu pendidikan yang baik di Indonesia.

Pendidikan mencerminkan tingkat kepandaian (kualitas) atau pencapaian pendidikan formal dari penduduk suatu negara. Semakin tinggi tamatan pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan kerja (the working capacity) atau produktivitas seseorang dalam bekerja. Pendidikan formal merupakan persyaratan teknis yang sangat berpengaruh

27 terhadap pencapaian kesempatan kerja. Semakin tinggi tingkat upah maka semakin tinggi pula kemampuan untuk meningkatkan kualitas seseorang.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui tamatan pendidikan dan tingkat upah diharapkan dapat mengurangi jumlah pengangguran, dengan asumsi tersedianya lapangan pekerjaan formal. Hal ini dikarenakan semakin tinggi kualitas seseorang (tenaga kerja) maka peluang untuk bekerja semakin luas.

Pada umumnya untuk bekerja di bidang atau pekerjaan yang bergengsi membutuhkan orang-orang (tenaga kerja) berkualitas, profesional dan sehat agar mampu melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien.

Jumlah tamatan pendidikan penduduk menggambarkan tingkat ketersediaan tenaga terdidik atau sumber daya manusia pada daerah tersebut. Semakin tinggi tamatan pendidikan maka semakin tinggi pula keinginan untuk bekerja. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin tinggi pula Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK).

a. Teori Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri dan banyak mempengaruhi konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran (Ashari, 2008: 14).

28 Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri (Nuansa Aulia, 2008: 37). Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.

Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Teori ini mencerminkan siswa memiliki kebebasan berfikir yang bersifat elektrik, artinya siswa dapat memanfaatkan teknik belajar apapun asal tujuan belajar dapat tercapai.

b. Teori Humanistik

Teori psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.

Dalam hal ini, James Bugental mengemukakan tentang lima dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen, manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan

29 manusia lainnya, manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia memiliki pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya, manusia memiliki kesadaran sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas (Hasbulloh, 2006: 26).

Aliran humanistik mempunyai hubungan erat dengan aliran eksistensialisme. Bertentangan dengan pandangan lain, aliran humanistik menyetujui sebuah konsep yang jauh lebih positif mengenai hakekat manusia, yakni memandang hakekat manusia itu pada dasarnya baik. Perbuatan-perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik. Seorang manusia tidak dipandang sebagai mesin otomatis yang pasif, tetapi sebagai peserta yang aktif yang mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang lain.

c. Aliran Konvergensi

Ashari (2008: 79) mengatakan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dari lingkungan yang keduanya merupakan sebagaimana dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut konvergensi. Pembawaan yang dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang

30 dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.

Teori konvergensi dapat diterima sesuai kenyataan, bahwa tidak mengekstrimkan faktor pembawaan, faktor lingkungan atau alamiah yang mempengaruhi terhadap perkembangan anak, melainkan semuanya dari faktor-faktor tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan anak.

d. Hubungan Tingkat Pendidikan Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja

Semua tingkat pendidikan di Jawa Barat mengalami peningkatan yang signifikan terutama pada tingkat SMA. Peningkatan yang terjadi cukup besar dengan persentase laki-laki lebih tinggi dibanding persentase perempuan. Tenaga kerja lulusan SMA lebih fleksibel karena bisa terserap di sektor industri, perdagangan, dan jasa dengan komposisi yang cukup besar. Dalam penelitian ini tingkat pendidikan yang diukur adalah jumlah penduduk dengan pendidikan tertinggi yang ditamatkan yaitu SMA.

Hubungan tingkat pendidikan terhadap penyerapan tenaga kerja adalah semakin tinggi jenjang atau tingkat pendidikan yang ditamatkan, akan semakin tinggi pula standar pekerjaan yang diinginkan tenaga kerja.

31 Standar pekerjaan yang dimaksud adalah berupa pilihan pada pekerjaan-pekerjaan yang notabene kemampuan (skill) dan keterampilan tinggi pada umumnya. Jumlah tamatan pendidikan atau jenis pendidikan diduga dapat mempengaruhi keengganan terhadap para pekerja tertentu.

Dokumen terkait