• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Tingkat Pendidikan Masyarakat dengan Perilaku

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tingkat (jenjang) pendidikan adalah tahapan pendidikan yang telah ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

Dalam penelitian ini yang dimaksud tingkat (jenjang) pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang ditempuh oleh masyarakat Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal yang dibuktikan dengan ijazah pendidikan formal, tahun sukses dan pendidikan nonformal

9

(sosialisasi dan pelatihan) yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan/pengelolaan sampah.

3. Perilaku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.

Perilaku dalam penelitian ini adalah suatu tanggapan/reaksi masyarakat Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal mengenai kondisi sampah yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal.

4. Pengelolaan Sampah

Menurut Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pegelolaan Sampah, pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Dalam penelitian ini yang dimaksud pengelolaan sampah adalah pengelolaan sampah di pemukiman nelayan Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal yang terdiri dari sampah organik berupa sisa makanan, daun, dan sampah anorganik yaitu sampah yang berupa plastik, kaleng, pecahan gelas, dan logam-logam.

10

Dalam kamus besar Indonesia pengertian nelayan adalah orang yang mata pencaharian utama dan usaha menangkap ikan. Sedangkan dalam

bukunya yang berjudul “Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa” Mansyur

(1984:149) mengatakan bahwa masyarakat nelayan dalam hal ini bukan berarti mereka yang dalam mengatur hidupnya hanya mencari ikan di laut untuk menghidupi keluarganya akan tetapi juga orang-orang yang menjadi bagian dalam lingkungan itu.

Mayarakat nelayan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bukan hanya bekerja mencari ikan, melainkan mereka yang juga tinggal di sekitar pantai walaupun mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam dan berdagang di Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal.

11

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Hubungan

Hubungan berasal dari kata dasar “hubung” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “bersambung atau berangkai (yang satu dengan yang lain), bertalian, barkaitan, bersangkutan”. Jadi dari pengertian

tersebut hubungan adalah dua hal yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Hubungan adalah kesinambungan interaksi antara dua orang atau lebih yang memudahkan proses pengenalan satu akan yang lain. Hubungan terjadi dalam setiap proses kehidupan manusia. (https://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan , diakses 24 November 2015).

Secara garis besar, hubungan terbagi menjadi hubungan positif dan negatif. Hubungan positif terjadi apabila kedua pihak yang berinteraksi merasa saling diuntungkan satu sama lain dan ditandai dengan adanya timbal balik yang serasi. Sedangkan, hubungan yang negatif terjadi apabila suatu pihak merasa sangat diuntungkan dan pihak yang lain merasa dirugikan. Dalam hal ini, tidak ada keselarasan timbal balik antara pihak yang berinteraksi. Lebih lanjut, hubungan dapat menentukan tingkat kedekatan dan kenyamanan antara pihak yang berinteraksi. Semakin dekat pihak-pihak tersebut, hubungan tersebut akan dibawa kepada tingkatan yang lebih tinggi.

12

B. Tingkat Pendidikan 1. Pengertian Pendidikan

Di dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pengertian pendidikan sebagai berikut:

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan

yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik.

2. Tujuan Pendidikan Nasional

Rumusan tujuan pendidikan juga tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa:

“Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi Manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

13

3. Jenjang Pendidikan Di Indonesia

“Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang telah ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang

akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan”.

Jenjang pendidikan seseorang adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh atau ijazah terakhir yang dimiliki seseorang. Jenjang pendidikan formal tersebut adalah jenjang pendidikan sekolah sebagaimana yang telah diatur oleh pemerintah pasal 14 Undang-undang Republik

Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa “jenjang

pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan

pendidikan tinggi”.

Sebetulnya pendidikan dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, baik lingkungan keluarga, sekolah dan dalam kehidupan masyarakat. Dalam pendidikan sehari-hari dapat dibedakan tiga jalur pendidikan, yaitu:

a) Pendidikan Formal

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa yang dimaksud pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Ciri yang menonjol pada pendidikan formal ini adalah dengan adanya pengorganisasian yang ketat programnya lebih formal secara urut dan sistematis. Yang termasuk jalur pendidikan sekolah antara lain:

14 1) Pendidikan Umum

Pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan ketrampilan peserta dengan mengharuskan yang diwujudkan pada tingkah laku akhir pada akhir masa pendidikan, misalnya pendidikan SD, pendidikan SMP, pendidikan SMA. 2) Pendidikan Kejuruan

Pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk program bekerja dalam bidang tertentu. Program Pendidikan Kejuruan dilaksanakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan atau sering disingkat SMK. Sekolah Menengah Kejuruan biasanya membuka beberapa pilihan jurusan atau spesialisasi, misalnya elektronika, otomotif, Teknik Informasi dan Komputer, akutansi, listrik.

3) Pendidikan Luar Sekolah

Pendidikan yang khusus diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik atau mental, misalnya pendidikan SLB.

4) Pendidikan Kedinasan

Pendidikan Kedinasan yang berusaha menghasilkan kemampuan atau lembaga pendidikan non-departemen misalnya prajabatan, sepala, sepadya.

5) Pendidikan Keagamaan

Pendidikan Keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan

15

yang menurut penguasaan khusus tentang ajaran agama, misalnya Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA). Pendidikan tersebut dilaksanakan di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia.

b) Pendidikan Nonformal

Yang dimaksud Pendidikan Nonformal menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 adalah jalur pendidikan luar di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal.

c) Pendidikan Jalur Informal

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 bahwa yang dimaksud dengan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan secara mandiri. Pendidikan informal dilakukan oleh orang tua kepada anaknya.

4. Tahun Sukses Pendidikan

Tahun sukses pendidikan merupakan ukuran lamanya waktu yang ditempuh oleh seseorang untuk mencapai pendidikan formal, terakhirnya dalam ilmu demografi dinyatakan dengan istilah tahun sukses.Tahun sukses dihitung berdasarkan lamanya waktu yang ditempuh oleh seseorang untuk

16

mencapai pendidikan terakhir. Di Indonesia program wajib belajar yang berlaku saat ini adalah 12 tahun, yakni Sekolah Dasar (SD/sederajat) selama 6 tahun, Sekolah Menengah Pertama (SMP/sederajat) selama 3 tahun dan Sekolah Menengah Atas (SMA/sederajat) selama 3 tahun. Maka jika seseorang telah menempuh pendidikan sampai SMA/sederajat maka tahun suksesnya adalah 12 tahun, jika hanya sampai tingkat SMP/sederajat maka tahun suksesnya adalah 9 tahun dan jika hanya sampai tingkat SD/sederajat maka tahun suksesnya adalah 6 tahun.

C. Perilaku

1. Pengertian Perilaku

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Perilaku akan terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi (Notoatmodjo 1997, dalam Eko Wibowo 2010:26). Perilaku atau aktivitas individu dalam pengertian yang lebih luas mencakup perilaku yang nampak

(over behavior) dan perilaku yang tidak nampak (insert behavior). Perilaku manusia tidak muncul dengan sendirinya tanpa pengaruh stimulus yang di terima, baik stimulus yang bersifat eksternal maupun internal. Namun demikian, sebagian besar perilaku manusia adalah akibat respon terhadap stimulus eksternal yang diterima (Bimo 1999, dalam Eko Wibowo 2010:27).

17

Perilaku manusia sangat komplek dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Perilaku manusia dibagi menjadi 3 tingkah ranah perilaku. Salah satunya adalah pengetahuan.

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga) dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan seseorang terhadap obyek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan yakni:

a) Tahu, diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk dalam pengetahuan masyarakat dalam mengingat kembali (recall) suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari dari rangsangan diterima.

b) Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Seseorang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan terhadap obyek yang dipelajari.

c) Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

18

d) Analisis, diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan) membedakan, memisahkan, pengelompokan, dan sebagainya.

e) Sintesis, menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

f) Evaluasi, berkaitan dengan kemampuan melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

2. Jenis Perilaku

Menurut Skinner 1976 (dalam Eko Wibowo 2010:27), perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu :

a) Perilaku yang alami (innate behaviour) atau perilaku yang berupa reflek dan insting yaitu perilaku yang dibawa manusia sejak manusia dilahirkan.

b) Perilaku operan (operant behaviour) yaitu perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.

Pada manusia perilaku operan atau perilaku psikologis lebih dominan berpengaruh akibat dari bentuk kemampuan untuk mempelajari dan dapat dikendalikan atau di ubah melalui proses pembelajaran. Sebaliknya reflek merupakan perilaku yang pada dasarnya tidak dapat untuk di kendalikan.

19

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Perilaku individu dan lingkungan saling berinteraksi yang artinya bahwa perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, juga berpengaruh terhadap lingkungan. Adapun secara spesifik faktor lingkungan dan individu adalah sebagai berikut :

a) Faktor Individu

Faktor individu yang menentukan perilaku manusia antara lain adalah tingkat kecerdasan, tingkat emosional, pengalaman pribadi, sifat kepribadian, dan jenis kelamin.

b) Faktor Luar Individu (Lingkungan)

Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan sering kekuatannya lebih besar dari faktor individu (Azwar 1998, dalam Eko Wibowo 2010:28). Dalam hubungan antara perilaku dengan lingkungan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu lingkungan alam/fisik (kepadatan, kebersihan), lingkungan sosial (organisme sosial, tingkat pendidikan, mata pencaharian, tingkat pendapatan) dan lingkungan budaya (adat istiadat, peraturan, hukum) (Sumaatmadja 1998, dalam Eko Wibowo 2010:28).

4. Pembentukan Perilaku

Menurut Bimo 1999 (dalam Eko Wibowo 2010:28) Pembentukan perilaku sangat diperlukan untuk mengendalikan perilaku manusia agar seperti yang diharapkan, antara lain dengan:

20

a) Pembentukan perilaku kebiasaan, adalah pembentukan perilaku yang ditempuh dengan mengkondisikan atau membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan.

b) Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight), adalah pembentukan perilaku yang dilakukan dengan cara pembelajaran disertai dengan memberikan pengertian.

c) Pembentukan perilaku dengan model atau contoh, adalah pembentukan perilaku dengan mengunakan model atau contoh dan biasanya didasarkan atas bentuk-bentuk perilaku yang telah ada. Contohnya adalah orang tua/guru yang memberikan arahan kepada anak/muridnya. Dalam rangkaian pembentukan perilaku manusia terdapat dua jenis pembelajaran yaitu pembelajaran secara fisik adalah adalah belajar dengan menerima respon fisik untuk di contoh seperti belajar menari naik sepeda dan sebagainya, dan pembelajaran secara psikis dimana seorang mempelajari perannya dan peran orang lain dalam kontak sosial (social learning), dan selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan peran sosial yang telah dipelajarinya (Sarwono 2002, dalam Eko Wibowo 2010:28).

5. Teori Perilaku

Perilaku manusia tidak lepas dari keadaan individu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada. Perilaku manusia didorong oleh motif tertentu sehingga manusia berperilaku. Dari hal tersebut terdapat beberapa teori yang dapat dikemukakan antara lain:

21 a) Teori Insting

Teori ini dikemukakan oleh McDougall sebagai pelopor dari psikologi sosial menyatakan, insting sebagai perilaku bawaan atau innate dapat mengalami perubahan akibat terbentuknya sebuah pengalaman.

b) Teori Dorongan (drive theory)

Teori yang menyatakan bahwa organisme dalam hal ini manusia mempunyai dorongan atau drive yang berkaitan dengan pemenuhan atas kebutuhannnya, sehingga dorongan tersebut menimbulkan pengaruh pada perilaku manusia atau individu tersebut.

c) Teori Insentif (incentive theory)

Teori ini bertitik tolak kepada pendapat bahwa perilaku organisme dalam hal ini manusia, disebabkan oleh adanya insentif. Dengan insentif akan mendorong manusia berperilaku. Insentif atau disebut juga

reinforcement ada 2 macam yaitu dan negatif. Reinforcement positif akan mendorong manusia untuk berbuat, sedangkan reinforcement yang negatif akan menghambat manusia dalam berperilaku.

d) Teori Artribusi

Teori ini dikemukakan oleh Fritz Heider, menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku manusia, perilaku bisa disebab-sebabkan oleh disposisi internal (misalnya motif dan sikap) dan oleh keadaan eksternal (misanya situasi).

22 e) Teori Kognitif

Teori yang menitikberatkan kepada kemampuan individu dalam berfikir untuk mempertimbangkan pilihan perilakunya. Dengan kemampuan berfikir individu akan dapat melihat dan memilih perilaku mana yang harus dilakukan. Disamping itu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam individu berperilaku (Fishben & Ajzen 1975, dalam Eko Wibowo 2010:29).

D. Sampah

1. Pengertian Sampah

Peningkatan aktivitas masyarakat akan meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan. Sampah yang dihasilkan tidak hanya sampah organik melainkan juga sampah anorganik. Banyaknya sampah yag dihasilkan harus diolah dengan sebaik mungkin agar tidak menimbulkan efek negatif seperti mencemari lingkungan yang mana dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, banjir, penyumbatan sistem drainase dan sebagainya. Kesadaran untuk mengolah sampah dengan baik didalam masyarakat masih minim, hal ini dapat dilihat dari anggapan masyarakat mengenai sampah itu sendiri. Masyarakat pada umumnya menganggap bahwa sampah merupakan barang sisa yang sudah tidak berguna lagi dan harus dibuang. Terdapat beberapa definisi mengenai sampah yang meliputi:

23

a) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah merupakan barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi.

b) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008, sampah merupakan sisa dari aktivitas manusia ataupun sisa dari proses alam yang berbentuk padat.

c) Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.

d) Menurut Tchobanoglous, Theiseen & Eliassen 1993 (dalam Subarna 2014:24), sampah adalah semua buangan padat yang dihasilkan dari seluruh kegiatan manusia dan hewan yang tidak berguna atau tidak diinginkan.

e) Menurut Istilah Lingkungan Untuk Manajemen (Ecolink 1996, dalam Subarna 2014:17), sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.

f) Menurut Basriyanta (dalam Subarna 2014:18), sampah adalah barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, tetapi masih bisa dimanfaatkan kalau dikelola dengan prosedur yang benar.

24

2. Jenis Sampah

Pada prinsipnya sampah dibagi menjadi sampah padat, sampah cair dan sampah dalam bentuk gas (fume, smoke). Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu :

a) Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya

1) Sampah anorganik misalnya : logam-logam, pecahan gelas, dan plastik

2) Sampah organik misalnya : sisa makanan, sisa pembungkus dan sebagainya

b) Berdasarkan dapat tidaknya dibakar

1) Mudah terbakar misalnya : kertas, plastik, kain, kayu 2) Tidak mudah terbakar misalnya : kaleng, besi, gelas c) Berdasarkan dapat tidaknya membusuk

1) Mudah membusuk misalnya : sisa makanan, potongan daging 2) Sukar membusuk misalnya : plastik, kaleng, kaca (Dainur 1995,

dalam Wahyono & Nano Sudarno 2012:6)

3. Sumber – Sumber Sampah

Sampah yang ada di permukaan bumi ini dapat berasal dari beberapa sumber berikut :

a) Pemukiman penduduk

Sampah di suatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan

25

biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbsih), perabotan rumah tangga, abu atau sisa tumbuhan kebun (Dainur 1995, dalam Wahyono & Nano Sudarno 2012:8).

b) Tempat umum dan tempat perdagangan

Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisa bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.

c) Sarana layanan masyarakat milik pemerintah

Sarana layanan masyarakat yang dimaksud disini, antara lain, tempat hiburan dan umum, jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan (misalnya rumah sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai empat berlibur, dan sarana pemerintah lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah khusus dan sampah kering.

d) Industri berat dan ringan

Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam dan tempat pengolahan air kotor dan air minum,dan kegiatan industri lainnya, baik yang sifatnya distributif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan

26

dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus dan sampah berbahaya.

e) Pertanian

Sampah dihasilkan dari tanaman dan binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman (Chandra 2007, dalam Wahyono & Nano Sudarno 2012:9).

4. Dampak Sampah

Sampah, bila tidak dikelola dengan baik, tentu akan menyebabkan masalah besar. Banyak kejadian buruk terjadi akibat manusia menyepelekan sampah. Berikut beberapa dampak dari sampah:

a) Mengganggu Estetika (Keindahan)

Sampah yang berceceran di jalan atau di sembarang tempat sungguh tidak menyedapkan mata. Tumpukan sampah yang berserakan menimbulkan kesan jorok, tidak bersih dan sangat merusak keindahan. b) Mencemari Tanah dan Air Tanah

Sampah yang menumpuk di tanah akan mencemari tanah dan air didalamnya. Cairan kotor dan bau busuk hasil pembusukan sampah yang merembes ke dalam tanah dapat mencemari air tanah. Bukan tidak mungkin, air yang digunakan dari pompa tanah akan terkontaminasi akibat gaya hidup yang tidak sehat ini.

27 c) Mencemari Perairan

Sampah yang dibuang ke saluran air akan mencemari perairan sungai, irigasi, waduk, bahkan pantai. Padahal, banyak yang masih memanfaatkan pengairan dari sungai dan sumber air lainnya untuk kebutuhan sehari-hari.

d) Menyebabkan Banjir

Tumpukan sampah yang berada di saluran air (irigasi) dapat menyumbat pintu-pintu air sehingga air sulit mengalir. Maka, tak heran jika di kota-kota besar, banjir sering terjadi akibat masyarakatnya menyepelekan sampah.

e) Menimbulkan Bau Busuk

Sampah-sampah yang menumpuk di darat atau terendam di air akan mengalami pembusukan. Bau busuk yang menyebar di udara akan tercium dan mengganggu pernapasan.

f) Sebagai Sumber Bibit Penyakit

Sampah yang menimbulkan bau busuk akan mengundang lalat. Pada sampah yang busuk, bersarang bermacam-macam bakteri penyebab penyakit lalat tersebut dapat memindahkan bibit penyakit dari sampah ke dalam makanan atau minuman (dalam Suryati 2014:9-11).

E. Pengelolaan Sampah

Menurut Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh,

28

dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.

Pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga terdiri dari dua hal yaitu pengurangan sampah dan penanganan sampah.

Pengurangan sampah meliputi kegiatan: 1. Pembatasan timbunan sampah.

2. Pendaur ulangan sampah. 3. Pemanfaatan sampah.

Sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi :

1. Pemilihan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/ atau sifat sampah.

2. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST).

Pengelolaan sampah meliputi pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur ulangan, atau pembuangan dari material sampah. Ada 3 cara mudah dan aman untuk mengatasi masalah sampah, yang dikenal dengan 3R, yaitu:

1. Reduce (R1)

Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya untuk mengurangi timbulan sampah di lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum sampah dihasilkan, setiap sumber dapat melakukan upaya reduksi sampah

29

dengan cara merubah pola hidup konsumtif, yaitu perubahan kebiasaan dari yang boros dan menghasilkan banyak sampah menjadi hemat/efisien dan sedikit sampah, namun diperlukan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk merubah perilaku tersebut.

2. Reuse (R2)

Reuse berarti mengunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah (tanpa melalui proses pengelolaan) seperti menggunakan kertas

Dokumen terkait