5.2 Pembahasan
5.2.1 Tingkat penguasaan materi kuliah
Bagian ini membahas tujuan penelitian yang pertama, yakni membandingkan tingkat penguasaan materi kuliah oleh para subjek ketika menjalani sesi perkuliahan konvensional dengan ketika menjalani sesi BL.
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada peningkatan skor tes setelah sesi BL. Rerata 72.78 pada sebelum sesi BL dimulai meningkat menjadi 87.81 setelah 3 minggu sesi BL. Nampaknya, peningkatan ini dipicu oleh kombinasi belajar lewat sumber-sumber online yang kemudian dibahas bersama kelompok dan penjelasan dari dosen di sesi tatap muka. Dengan kata lain, pemahaman mereka tentang materi kuliah menjadi lebih mantap karena diasah bukan hanya oleh belajar kelompok tapi juga oleh penjelasan dosen. Pembelajaran secara konvensional membantu mereka menjawab pertanyaan atau kesulitan yang mungkin timbul di pikiran mereka ketika sesi belajar kelompok. Pembelajaran secara konvensional juga menghadirkan sosok dosen sebagai orang yang tahu lebih banyak sehingga mereka yakin akan penjelasan yang mereka dapat. Jika menemui kesulitan dalam mehamami materi sepanjang sesi daring atau bekerja kelompok, mereka bisa mendapatkan penjelasan lisan atau bantuan dari dosen di sesi tatap muka. Ini senada dengan studi oleh Arancon, Barcena, dan Arus (2012) yang telah dibahas di Bab 2. Intinya, kelemahan dan kesulitan yang muncul di sesi daring dapat dikompensasi oleh sesi tatap muka.
Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5.8 dan 5.9, interaksi antara mahasiswa yang pintar dengan yang kurang pintar dalam upaya memperbaiki nilai Kuis mereka ternyata tidak membuahkan hasil yang signifikan. Dipandang dari rata-rata nilainya, mereka tidak menunjukkan peningkatan dari sebelum berinteraksi dengan sesudah berinteraksi. Ketika dicermati lebih jauh, nampak bahwa hasil tidak signifikan ini mungkin disebabkan oleh dua
mahasiswa lemah yang skornya tetap rendah di Tes Awal 2. Sementara rekan-rekannya yang juga lemah telah menunjukkan peningkatan skor yang cukup banyak, skor mereka tetap saja di bawah 60. Kemungkinan hal ini yang menyebabkan secara agregat kelompok ini tetap rendah. Bukti lain ditunjukkan oleh standar deviasi kelompok ini yang mencapai 20.41, lebih tinggi daripada sebelumnya yang hanya 12.44. Jadi, skor mereka pada Tes Awal 2 ternyata memang lebih beragam. Keberagaman ini kemungkinan besar telah menyebabkan perbedaan yang tidak signifikan dengan skor mereka sebelumnya.
Pada bagian sebelumnya telah ditunjukkan pendapat para murid tentang BL. Ada pendapat mereka yang melengkapi apa yang ditemukan oleh Poon (2013). Jika para responden dalam studinya menyoroti fleksibilitas pembelajaran dan penggunaan teknik yang beragam, sebagian responden dalam penelitian saya mengungkapkan kemandirian, tambahan wawasan, dan keberagaman fitur sumber dari Internet, terutama dalam sesi daring.
Namun bagian hasil juga menunjukkan bahwa beberapa murid memandang sesi belajar daring via Internet belum cukup. Sesi daring ini kurang tepat untuk mereka yang hanya bisa memahami materi jika diterangkan secara lisan, dan untuk mereka yang pasif. Ternyata hal ini juga selaras dengan temuan Rovai dan Jordan (2004). Kedua peneliti ini mendapati bahwa sesi daring akan menimbulkan masalah bagi mereka yang kurang mandiri, kurang bisa mengelola dirinya sendiri, dan perlu arahan langsung dari gurunya. Oleh karena itu, perlu dilakukan sesi tatap muka secara konvensional dengan guru dan teman-temannya yang lain. Sesi tatap muka tersebut sebaiknya mengakomodasi pertanyaan dari para murid yang kurang cepat dalam memahami materi, dan memberi peluang kepada mereka yang lebih pintar untuk membantu pemahaman.
Yang perlu diperhatikan adalah komentar tentang luasnya Internet dan beragamnya sumber yang datang dari Internet. Nampaknya tidak cukup seorang guru hanya menugaskan murid-muridnya untuk mendapatkan materi dari Internet, namun perlu dibarengi dengan panduan sistematis tentang mana sumber yang layak diakses, bagaimana membedakan sumber yang kurang terpercaya dengan yang lebih terandalkan, bagaimana mencatat pesan- pesan penting dari sumber, dan sebagainya. Intinya, menyuruh murid untuk belajar sepenuhnya dari sumber-sumber di Internet merupakan hal yang kurang tepat. Justru karena pembelajaran dikemas dalam bentuk BL, maka mutlak dibutuhkan sesi tatap muka
konvensional dimana guru bisa memberikan bekal kepada muridnya bagaimana memilih materi yang sesuai, terpercaya, dan relevan dari Internet.
Yang mungkin menjadi masalah adalah bahwa para dosen atau gurupun belum tentu bisa memilah dengan efektif sumber-sumber daring yang jumlahnya luar biasa banyak. Kemampuan memiliah ini mungkin akan menjadi agenda tersendiri untuk program pelatihan guru atau dosen yang sedang bersiap ke era pembelajaran digital.
Glazer (2012) mengemukakan argumen yang memperkuat pendapat di atas. Menurutnya, sesi daring tanpa penguatan dari sesi tatap muka konvensional hanya akan berujung pada pemahaman yang setengah-setengah dan kurang mantap di benak pemelajar. Terlebih lagi, jika para murid bisa meraba bahwa kegiatan belajar daring hanyalah pelengkap yang tidak diperiksa, mereka akan cenderung mengabaikannya. Sesi tatap muka berfungsi untuk memeriksa hasil belajar para murid dari kegiatan belajar daring dan juga memmperkuat pemahaman mereka tentang materi yang sedang dibahas. Dalam hal ini, menurut Glazer (2012) sesi konvensional berfungsi sebagai pendukung, pemerkuat, dan sarana pengawasan kegiatan belajar.
Bahwa murid cenderung mengelompok dengan anggota kelas yang memiliki cara berpikir, gaya berkomunikasi, dan selera humor yang juga sama sudah ditengarai oleh banyak pendidik (Carroll dan Ryan, 2007). Memang sudah menjadi hal yang masuk akal bahwa bekerja sama dengan orang yang cocok pastilah memacu produktivitas dan harmoni dalam kelompok. Di satu sisi, hal seperti ini menunjukkan bahwa kohesi kelompok sangat kuat; setiap anggota dengan setia mempertahankan keutuhan kelompoknya. Di lain pihak, kekompakan kelompok seperti ini menjadi penghalang bagi mereka untuk melakukan pembauran dan penyesuaian diri dengan orang-orang yang baru.
Bahwa beberapa orang murid terkesan tidak menyukai kerja kelompok dapat dimengerti. Alasan mereka cukup masuk akal, yakni adanya sebagian anggota yang sangat menggantungkan pada satu orang anggota saja. Akibatnya, sebagian besar beban kerja ditanggung oleh satu orang sementara yang lainnya hanya bersikap pasif. Burke (2011) bahkan menyebut gejala ini sebagai suatu kelemahan khas dalam kerja kelompok. Artinya, ciri tersebut tidak terbatas pada satu budaya saja, namun merupakan gejala umum yang patut diwaspadai di budaya manapun.
Selain beberapa keuntungan yang sudah digambarkan dalam bagian di atas, tentunya BL juga mengandung beberapa potensi kelemahan. Setidaknya, dalam studi ini, potensi kelemahan itu bisa ditimbulkan oleh fasilitas Internet yang tidak memadai, tingkat sosial ekonomi para mahasiswa, ketidakseimbangan dalam peran anggota kelompok, dan keluasan ragam sumber belajar yang bisa tersaji di Intenet. Bagi dosen yang sudah terbiasa dengan pendekatan konvensional, BL bisa mempersyaratkan pekerjaan tambahan, yaitu antara lain memonitor kerja mahasiswanya melalui Internet, dan menyediakan panduan penjelajahan Internet.