• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Persepsi Responden terhadap Konversi Lahan di Subak Jadi

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Tingkat Persepsi Responden terhadap Konversi Lahan di Subak Jadi

Teknik pengumpulan data melalui kuisioner yang digunakan terdiri atas

pernyataan yang dibuat berdasarkan masing-masing variabel, yaitu variabel konversi

lahan, faktor internal dan eksternal pendorong konversi lahan dan faktor internal dan

eksternal penghambat konversi lahan. Berikut adalah deskripsi data dari

masing-masing variabel yang diperoleh pada penelitian ini.

Konversi Lahan diukur berdasarkan persepsi responden terhadap indikator yang

sesuai dengan definisi operasional variabel. Hasil dari jawaban responden dapat

dilihat pada Tabel 5.6

Tabel 5.6

Persepsi Responden atas Konversi Lahan di Subak Jadi

No Indikator

Jawaban

SS S TS STS

Resp % Resp % Resp % Resp %

1 Mampu mengatasi masalah ekonomi 17 15,18 68 60,71 25 22,32 2 1,79

2 Lahan untuk perumahan lebih memberikan manfaat 16 14,29 60 53,57 31 27,68 5 4,46

3 Kebutuhan tempat tinggal

lebih penting dari pertanian 27 24,11 57 50,89 26 23,21 2 1,79

4

Bekerja di pertanian tidak

mampu untuk memenuhi

kebutuhan hidup

21 18.75 36 32,14 48 42,86 7 6,27

5 Lahan pertanian merupakan barang ekonomi 27 24,11 58 51,79 21 18,75 6 5,36

6 Lahan menghasilkan sesuai keinginan tidak mampu 9 8,04 86 76,79 16 14.29 1 0,89

7 Lahan diperuntukkan untuk perkantoran/fasilitas umum 10 8,93 46 41,07 51 45,54 5 4,46

Jumlah total 127 411 218 28

Rata-rata 18 16,07 59 52,68 31 27,68 4 3,57

Berdasarkan Tabel 5.6 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden

yaitu 77 orang (68,75%) menyatakan setuju untuk melakukan konversi lahan

pertanian karena alasan lahan dianggap mampu untuk mengatasi masalah ekonomi,

lahan akan lebih bermanfaat untuk perumahan dan lahan dianggap tidak mampu

Lahan mampu mengatasi masalah ekonomi tidak terlepas dari permintaan

lahan itu sendiri. Semakin banyak permintaan akan lahan maka akan berpengaruh

terhadap nilai lahan tersebut, maka lahan akan menjadi komoditi yang menjanjikan

dan akan menghasilkan pemasukan yang banyak apabila dijual. Begitu pula dengan

persepsi masyarakat yang menganggap lahan merupakan barang ekonomi, apabila

persepsi tersebut tidak mampu dirubah maka lama-kelamaan lahan akan habis terjual.

Berdasarkan persepsi responden di atas untuk lebih jelas dapat ditunjukkan dengan

diagram pada Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Persepsi Responden Terhadap Konversi lahan

Berdasarkan Gambar 5.2 dapat dilihat bahwa persepsi responden terhadap

konversi lahan sebesar 68,75 persen menyatakan sangat setuju/setuju. Ini

menunjukkan bahwa keinginan responden untuk mengkonversi lahan sangat kuat

apabila ada kesempatan dan alasan yang kuat.

1) Faktor Pendorong Konversi Lahan (X1)

Faktor internal pendorong konversi lahan diukur berdasarkan persepsi responden

terhadap indikator-indikator pendorong konversi sesuai dengan definisi

operasional variabel. Hasil dari jawaban responden dapat dilihat pada 5.7.

Tabel 5.7

Persepsi Responden atas Faktor Internal Pendorong Konversi Lahan

No. Indikator

Jawaban

SS S TS STS

Resp % Resp % Resp % Resp %

1 Lokasi lahan 11 9,82 62 55,36 38 33,93 1 0,89

2 Produktivitas menurun 12 10,71 73 65,18 24 21,43 3 2,68

3

Kesulitan mendapatkan

sumberdaya air 10 8,93 64 57,14 29 25,89 9 8,04

4 Mutu lahan menurun 6 5,36 56 50 42 37,50 8 7,14

5 Luas lahan yang sempit 14 12,50 63 56,25 33 29,46 2 1,79

6 Tingginya biaya produksi 19 16,96 80 71,43 12 10,71 1 0,89

7 Risiko usaha tani yang

tinggi 2 1,79 43 38,39 57 50,89 10 8,93

8

Perubahan perilaku yang menganggap petani merupakan pekerjaan untuk rakyat miskin

5 4,46 16 14,29 55 49,11 36 32,14

9

Kurang memiliki kemampuan dalam penanganan pasca panen

3 2,68 50 44,64 46 41,07 13 11,61

10 Himpitan ekonomi untuk

memenuhi kebutuhan 28 25 76 67,86 7 6,25 1 0,89

Jumlah total 110 583 343 84

Rata-rata 11 9,82 58 51,79 34 30,36 8 8,03

Berdasarkan Tabel 5.7 dapat dijelaskan responden lebih banyak menyatakan

menurun, kesulitan mendapatkan sumberdaya air, mutu lahan menurun, luas lahan

yang sempit, tingginya biaya produksi, dan himpitan ekonomi akan menjadi

pendorong konversi lahan secara internal.

Lokasi lahan sangat menentukan cepat atau lambat lahan tersebut akan

terkonversi. Lokasi Subak Jadi yang strategis dekat dengan kota dan didukung oleh

infrastruktur jalan raya yang baik akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para

investor untuk membangun proyek perumahan. Selain itu melihat kondisi Subak Jadi

yang telah dikelilingi oleh perumahan sehingga menyebabkan petani kesulitan dalam

mendapatkan air juga akan semakin mendorong niat petani untuk melakukan

konversi. Untuk lebih jelas dapat ditunjukkan pada Gambar 5.3.

Gambar 5.3. Kecendrungan Faktor Pendorong Internal Terhadap Konversi Lahan

Gambar 5.3 menunjukkan bahwa responden sebagian besar yaitu 61,61 persen

akan melakukan konversi lahan apabila lahan berada di lokasi yang strategis,

produktivitas menurun, kesulitan mendapatkan sumberdaya air, mutu lahan menurun,

ini tidak dapat ditanggulangi maka cepat atau lambat persentase masyarakat yang

setuju untuk melakukan konversi lahan akan semakin besar.

b) Faktor Eksternal Pendorong Konversi Lahan (X1.2)

Faktor eksternal pendorong konversi lahan diukur berdasarkan persepsi

responden terhadap indikator-indikator pendorong konversi sesuai dengan definisi

operasional variabel. Hasil dari jawaban responden dapat dilihat pada Tabel 5.8.

Tabel 5.8

Persepsi Responden atas Faktor Eksternal Pendorong Konversi Lahan

No. Indikator

Jawaban

SS S TS STS

Resp % Resp % Resp % Resp %

1 Pertambahan penduduk 30 26,79 67 59,82 14 12,50 1 0,89

2

Pengaruh dari warga lain yang terlebih dahulu mengkonversi lahan

16 14,29 56 50 26 23,21 14 12,50

3

Pengaruh dari pihak swasta yang membeli

lahan untuk proyek

perumahan

25 22,32 48 42,86 32 28,57 7 6,25

4 Harga lahan meningkat 55 49,11 39 34,82 16 14,29 2 1,79

5 Kebutuhan lahan untuk perumahan meningkat 13 11,61 71 63,39 27 24,11 1 0,89

6

Pembangunan sarana dan prasarana umum seperti jalan raya dan pasar di sekitar subak

21 18,75 57 50,89 28 25 6 5,36

7

Pekerjaan disektor lain lebih menjanjikan dari sektor pertanian

23 20,54 70 62,50 17 15,18 2 1,79

8 Fluktuasi harga sektor

pertanian tinggi 15 13,39 54 48,21 37 33,04 6 5,36

10

Kurangnya subsidi dari

pemerintah terhadap

sektor pertanian

30 26,79 58 51,79 21 18,75 3 2,68

11

Kesulitan dalam mencari tenaga kerja yang mau bekerja di sektor pertanian

27 24,11 63 56,25 19 16,96 3 2,68

12

Adanya kesempatan untuk membeli lahan lain yang lebih murah

26 23,21 61 54,46 19 16,96 6 5,36

Jumlah total 304 709 278 53

Rata-rata 25 22,32 59 52,68 23 20,54 5 4,46

Berdasarkan Tabel 5.8 dapat disimpulkan sebagian besar responden yaitu 84

orang (75%) menyatakan setuju bahwa terjadinya konversi lahan karena alasan

pertambahan penduduk, pengaruh warga lain, pengaruh pihak swasta, harga lahan

meningkat, pembangunan sarana prasarana, pekerjaan sektor lain lebih menjanjikan,

fluktuasi harga, pajak bumi dan bangunan, kurangnya subsidi pemerintah, kesulitan

mencari tenaga kerja di sektor pertanian dan adanya kesempatan membeli lahan lain

yang lebih murah.

Pertambahan penduduk yang semakin tinggi akan sangat mempengaruhi

terjadinya konversi lahan. Setiap orang pasti akan membutuhkan tempat untuk

mereka tinggal dan lahan untuk membangun tempat tinggal bersifat terbatas maka

konversi lahan merupakan jalan yang diambil karena menganggap tempat tinggal

lebih penting daripada untuk usaha tani. Semakin banyak permintaan terhadap lahan

juga akan menyebabkan harga lahan semakin tinggi dan hal ini akan mendorong

petani menjual lahan karena tergiur akan nilai rupiah yang akan diperoleh. Untuk

Gambar 5.4. Kecendrungan Faktor Pendorong Eksternal Terhadap Konversi Lahan

Berdasarkan Gambar 5.4 dapat dijelaskan bahwa kecendrungan faktor

ekternal terhadap konversi lahan sangat kuat. Ini menunjukkan bahwa pendorong

konversi secara eksternal sangat kuat mempengaruhi masyarakat untuk melakukan

konversi lahan. Apabila pendorong eksternal ini tidak dapat dilemahkan maka

diyakini masyarakat yang masih bertahan tidak mengkonversi lahan akan ikut

tergerus untuk melakukan konversi lahan.

2) Faktor Penghambat Konversi Lahan (X2)

a) Faktor Internal Penghambat Konversi Lahan (X2.1)

Faktor Internal Penghambat Konversi Lahan diukur berdasarkan persepsi

responden terhadap indikator-indikator yang sesuai dengan definisi operasional

Tabel 5.9

Persepsi Responden atas Faktor Internal Penghambat Konversi Lahan

No. Indikator

Jawaban

SS S TS STS

Resp % Resp % Resp % Resp %

1

Tanah warisan tidak

boleh dijual/ dikonversi 22 19,64 37 33,04 34 30,36 19 16,96

2

Kepercayaan

masyarakat 14 12,50 81 72,32 13 11,61 4 3,57

3

Kondisi saluran irigasi

yang masih baik 18 16,07 74 66,07 18 16,07 2 1,79

4

Kondisi lahan yang

masih subur 29 22,89 77 68,75 5 4,46 1 0,89 5 Tidak adanya kesempatan bekerja di sector lain 23 20,54 77 68,75 11 9,82 1 0,89 Jumlah total 106 346 81 27 Rata-rata 21 18,75 69 61,60 16 14,29 6 5,36

Berdasarkan Tabel 5.9 dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden

yaitu 90 orang (80,35%) setuju secara internal yang dapat menahan konversi lahan

adalah tanah warisan, kepercayaan masyarakat, kondisi saluran irigasi yang masih

baik, kondisi lahan masih subur dan tidak adanya kesempatan bekerja di sektor lain.

Tanah warisan saat ini diyakini masih mampu untuk menghambat laju

konversi namun hasil yang diperoleh tidak begitu besar, ini menunjukkan bahwa

tanah yang didapat dari warisan tidak akan selamanya mampu untuk menghambat

konversi lahan. Hal ini dipengaruhi oleh luas lahan yang diperoleh dari warisan

menguntungkan apabila dijual atau dikonversi. Untuk lebih jelas akan ditunjukkan

pada Gambar 5.5.

Gambar 5.5. Kecendrungan Faktor Penahan Internal Terhadap Konversi Lahan

Berdasarkan Gambar 5.5 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden

yaitu 80,35 persen menyatakan setuju jika tanah warisan, kepercayaan masyarakat,

kondisi saluran irigasi yang masih baik, kondisi lahan masih subur akan mampu

untuk menghambat konversi lahan. Faktor penghambat internal ini harus bisa

semakin dikuatkan untuk dapat mengurangi laju konversi lahan di Subak Jadi.

b) Faktor Eksternal Penghambat Konversi Lahan (X2.2)

Faktor Internal Penghambat Konversi Lahan diukur berdasarkan persepsi

responden terhadap indikator-indikator yang sesuai dengan definisi operasional

Tabel 5.10

Persepsi Responden atas Faktor Eksternal Penghambat Konversi Lahan

No. Indikator

Jawaban

SS S TS STS

Resp % Resp % Resp % Resp %

1

Regulasi pemerintah tentang penetapan jalur hijau

30 26,79 63 56,25 17 15,18 2 1,79

2 Subsidi pemerintah 16 14,29 87 77,68 7 6,25 2 1,79

3 Kepastian harga hasil

pertanian 45 40,18 63 56,25 3 2,68 1 0,89 4 Pemberian kompensasi kepada petani 89 79,46 20 17,85 2 1,79 1 0,89 Jumlah total 180 233 29 6 Rata-rata 45 40,17 58 51,79 7 6,25 2 1,79

Berdasarkan Tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa responden menyetujui yang

dapat menahan konversi lahan dari faktor eksternal adalah regulasi pemerintah,

subsidi pemerintah, kepastian harga dan pemberian kompensasi.

Regulasi pemerintah tentang penetapan kawasan hijau diyakini mampu untuk

menghambat laju konversi lahan namun dengan catatan pengeluaran regulasi harus

dibarengi dengan pemberian subsidi dan pemberian kompensasi kepada petani.

Pemberian subsidi berupa bibit dan pupuk bagi petani diyakini akan mampu

menghambat konversi lahan karena dengan pemberian subsidi dan kompensasi tentu

akan menambah penghasilan petani. Untuk lebih jelas akan ditunjukkan dalam

Gambar 5.5. Kecendrungan Faktor Penahan Eksternal Terhadap Konversi Lahan

Gambar 5.5 menunjukkan bahwa faktor ekternal sangat kuat dalam menahan

laju konversi lahan. Ini ditunjukkan dari penilaian responden yang sebagian besar

yaitu 91,96 persen menyatakan regulasi pemerintah, subsidi, kepastian harga dan

pemberian kompensasi akan mampu untuk menahan konversi lahan.

Dokumen terkait