• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

5.1. Hasil Univariat

5.1.4. Karakteristik Orang

5.1.4.3. Tingkat Stres

Tabel 5.6

Tingkat Stres pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Tingkat Stres Frekuensi (n) Presentase (%)

Tidak Stres 84 26,6

Stres Ringan 56 17,7

Stres Sedang 114 36,1

Stres Berat 62 19,6

Total 316 100,0

Tabel 5.6 menyatakan bahwa 36,3% remaja putri

SMA dan sederajat di Jakarta Barat memiliki tingkat stres

sedang.

5.1.4.4. Indeks Massa Tubuh

Tabel 5.7

Indeks Massa Tubuh yang Dimiliki oleh Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Indeks Massa Tubuh Frekuensi (n) Presentase (%)

Kurus 79 25,0

Normal 210 66,5

Gemuk 14 4,4

Obesitas 13 4,1

Total 316 100,0

66,5% remaja putri SMA dan sederajat memiliki

indeks massa tubuh yang normal. Hal ini seperti yang

5.1.4.5. Riwayat Keluarga

Tabel 5.8

Riwayat Dismenore pada Keluarga Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Riwayat Keluarga Frekuensi (n) Presentase (%)

Ya 204 64,6

Tidak 43 13,6

Tidak Tahu 69 21,8

Total 316 100,0

Berdasarkan tabel 5.8, sebagian besar (64,4%)

remaja putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat memiliki

riwayat dismenore dalam keluarganya.

5.1.5. Karakteristik Waktu 5.1.5.1. Usia Menarche

Tabel 5.9

Rata-Rata Usia Menarche Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Mean ± SD Median Min-Maks 95% CI 12,46 ± 1,18 tahun 12 tahun 7 – 16 12,33 – 12,59

Rata-rata usia menarche yang dialami oleh remaja

putri SMA dan Sederajat adalah pada usia 12,46 ± 1,18 tahun dan memiliki median pada usia 12 tahun. Hal

tersebut seperti yang terlihat pada tabel 5.9.

5.1.5.2. Lama Menstruasi

Tabel 5.10

Rata-Rata Lama Menstruasi yang Dialami oleh Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Mean ± SD Median Min-Maks 95% CI 6,57 ± 1,30 hari 7,00 hari 3 – 14 6,43 – 6,72

Tabel 5.10 menunjukkan bahwa rata-rata lama

sederajat di Jakarta Barat selama 6,57 ± 1,30 hari dan

median lama menstruasi adalah 7 hari.

5.1.5.3. Siklus Menstruasi

Tabel 5.11

Rata-Rata Siklus Menstruasi pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Mean ± SD Median Min-Maks 95% CI 27,27 ± 5,164 hari 28,00 hari 14 – 60 26,70 – 27,84

Berdasarkan tabel 5.11 remaja putri SMA dan

sederajat di Jakarta Barat memiliki rata-rata siklus

menstruasi selama 27,27 ± 5,164 hari dengan median

selama 28 hari.

5.1.6. Dampak Dismenore

Tabel 5.12

Dampak Kejadian Dismenore pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Gangguan Belajar Persentase (%)

Ketidakhadiran saat KBM 9.5%

Ketidakhadiran saat ujian 2.7%

Tidak memperhatikan penjelasan guru Izin ke UKS Tidur di kelas Lainnya, 51,3% 19,2% 44,1% 7,3% Berdasarkan tabel 5.12, 51,3% remaja putri yang

mengalami dismenore berdampak pada tidak memperhatikannya

penjelasan yang diberikan oleh guru pada saat kegiatan belajar

mengajar berlangsung. Selain itu, 44,1% remaja putri memilih

untuk tidur di kelas saat KBM guna mengurangi rasa nyeri yang

5.2. Hasil Bivariat

5.2.1. Karakteristik Orang 5.2.1.1. Usia

Grafik 5.1

Kejadian Dismenore Berdasarkan Usia pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Grafik 5.1 memperlihatkan bahwa presentase nyeri

ringan cukup dominan pada setiap kelompok umur.

Remaja putri yang tidak mengalami nyeri paling banyak

pada yang berusia 16 tahun (19,2%) dan 15 tahun (18,2%),

sedangkan nyeri ringan paling banyak dialami oleh remaja

putri yang berusia 15 tahun (54,5%), begitu pula dengan

nyeri berat juga pada remaja putri berusia 15 tahun

(9,1%), nyeri sedang paling banyak dialami pada yang

berusia 16 tahun (31,2%) dan 18 tahun (31,0%), Grafik

tersebut juga memperlihatkan bahwa tidak ada hubungan

yang signifikan antara usia dengan kejadian dismenore

5.2.1.2. Tingkat Aktivitas Fisik

Grafik 5.2

Kejadian Dismenore Berdasarkan Tingkat Aktivitas Fisik pada Remaja Putri SMA dan Sederajat Di Jakarta Barat

Tahun 2015

Grafik 5.2 memperlihatkan bahwa adanya

hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan

kejadian dismenore yang dibuktikan dengan nilai pvalue

sebesar 0,046. Hal ini dapat terlihat pada grafik 5.2 yang

menunjukkan bahwa semakin berat aktivitas fisik yang

dilakukan maka persentase nyeri ringan semakin

berkurang. Namun, pada remaja putri yang mengalami

nyeri berat cenderung berkurang persentasenya ketika

5.2.1.3. Tingkat Stres

Grafik 5.3

Kejadian Dismenore Berdasarkan Tingkat Stres pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun

2015

Berdasarkan grafik 5.3, tingkat nyeri ringan

cenderung dialami oleh remaja putri pada setiap kelompok

tingkat stres. Pada remaja putri yang tidak merasakan

nyeri paling banyak dialami oleh mereka yang tidak stres

(26,2%) dari pada kelompok tingkat stres lainnya.

Sedangkan nyeri ringan hampir merata disetiap tingkat

stres, dengan yang paling banyak pada remaja putri yang

merasa stres sedang (53,5%). Sementara itu, nyeri sedang

paling banyak dialami oleh remaja putri yang merasa stres

berat (41,7%). Nyeri berat paling banyak dialami oleh

remaja putri yang merasa stress sangat berat (14,3%)

disbanding dengan tingkat stres lainnya. Selain itu,

signifikan antara tingkat stres yang dirasakan oleh remaja

putri SMA dan sederajat di Jakarta Barat dengan kejadian

dismenore. Hal itu terlihat karena nilai signifikasi sebesar

0,101.

5.2.1.4. Indeks Massa Tubuh

Grafik 5.4

Kejadian Dismenore Berdasarkan Indeks Massa Tubuh pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat

Tahun 2015

Grafik 5.4, menunjukkan bahwa adanya variasi

tingkat nyeri ringan dan berat yang dialami oleh remaja

putri berdasarkan indeks massa tubuh. Nyeri ringan paling

banyak dialami oleh remaja putri yang gemuk. Sedangkan

semakin menjauhi IMT normal semakin tinggi prevalensi

nyeri ringan yang dialami oleh remaja putri. Selain itu,

nilai signifikasi lebih tinggi dari 0,05, sehingga dapat

antara indeks massa tubuh dengan kejadian dismenore

dengan nilai signifikansi sebesar 0,143.

5.2.1.5. Riwayat Keluarga

Grafik 5.5

Kejadian Dismenore Berdasarkan Riwayat Keluarga pada Remaja Putrid SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun

2015

Berdasarkan grafik 5.5, presentase kejadian nyeri

ringan merupakan yang paling banyak dialami oleh remaja

putri SMA dan sederjata di Jakarta Barat baik yang

memiliki riwayat keluarga ataupun tidak. Selain itu hasil

penelitian juga menunjukkan bahwa remaja putri yang

memiliki riwayat keluarga justru banyak yang tidak

mengalami nyeri, sedangkan yang tidak mengetahui ada

tidaknya riwayat keluarga memiliki presentase tertinggi

mengalami nyeri berat. Akan tetapi Terdapat hubungan

dismenore. Hal ini karena nilai pvalue yang didapat

sebesar 0,000.

5.2.2. Karakteristik Waktu 5.2.2.1. Usia Menarche

Grafik 5.6

Kejadian Dismenore Berdasarkan Usia Menarche Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Grafik 5.6 memperlihatkan bahwa presentase nyeri

ringan merupakan yang paling tinggi dialami oleh remaja

putri yang usia menarche-nya adalah kurang dari atau sama dengan 12 tahun dan 13-14 tahun. Sedangkan

presentase nyeri berat tertinggi (63,6%) dialami oleh

remaja putri yang menarche-nya lebih dari 14 tahun. Selain itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara

usia menarche dengan kejadian dismenore karena pvalue

5.2.2.2. Lama Menstruasi

Grafik 5.7

Kejadian Dismenore Berdasarkan Lama Menstruasi pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun

2015

Berdasarkan grafik 5.7, presentase masing-masing

tingkat nyeri tidak terlalu berbeda pada setiap kategori

lama menstruasi yang dialami oleh remaja putri SMA dan

sederajat di Jakarta Barat. Remaja yang memiliki lama

menstruasi kurang atau sama dengan empat hari paling

banyak mengalami nyeri ringan (35,3%) dan nyeri berat

sebesar (5,9%), meskipun nyeri ringan juga yang paling

banyak dialami (51,2%). Sedangkan remaja putri yang

memiliki lama menstruasi lebih dari 7 tahun paling banyak

mengalami nyeri berat (7,3%) dibanding dengan kategori

lainnya. Remaja putri dengan lama menstruari 5 hingga 7

hari memiliki prevalensi nyeri sedang lebih banyak dari

terdapat hubungan yang bermakna antara lama menstruasi

dengan kejadian dismenore. Hal itu ditunjukkan dengan

nilai pvalue sebesar 0,260.

5.2.2.3. Siklus Menstruasi

Grafik 5.8

Kejadian Dismenore Berdasarkan Siklus Menstruasi pada Remaja Putri SMA dan Sederajat di Jakarta Barat Tahun 2015

Berdasarkan grafik 5.8, presentase nyeri ringan

sangat tinggi antara remaja putri yang memiliki siklus

menstruasi kurang dari 21 hari (53,3%) dan antara 21

hingga 35 hari (49,3%). Sedangkan pada remaja putri yang

memiliki siklus menstruasi lebih dari 35 hari tidak terdapat

perbedaan presentasi pada hampir setiap tingkat nyeri.

Selain itu nyeri berat paling banyak dialami oleh remaja

putri yang memiliki siklus mesntruasi normal (21-35 hari).

Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara siklus

ditunjukkan dengan nilai pvalue yang didapat sebesar

BAB VI PEMBAHASAN

6.1. Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan, antara lain:

a. Bias informasi, kesalahan yang terjadi pada saat responden mengisi

kuesioner pada bagian IMT (kode F). Hal ini terjadi karena pada

penelitian ini informasi berat badan dan tinggi badan dilaporkan

sendiri oleh responden berdasarkan ingatannya sekitar satu bulan lalu.

Meskipun begitu peneliti berusaha mengatasi bias ini dengan

melakukan perhitungan berdasarkan rumus dari National Health and Nutrition Survey U.S. khusus untuk perempuan untuk mengkonversi berat badan dan tinggi badan yang dilaporkan oleh responden.

b. Validitas instrumen, pada penelitian ini instrumen yang valid

berdasarkan statistik hanya pada bagian stres (kode E), namun

pertanyaan lainnya tidak dapat diuji validitas secara statistik. Pada

beberapa pertanyaan yang membingungkan responden, peneliti

berusaha untuk mengubah redaksi kalimat yang digunakan menjadi

lebih mudah dipahami.

6.2. Kejadian Dismenore

Dismenore merupakan salah satu gangguan ginekologi yang sering

terjadi pada remaja (Edmonds, 2007). Dismenore merupakan nyeri yang

Nyeri ini dapat timbul tidak lama sebelum atau bersama-sama dengan

permulaan haid (Winkjosastro, 1999). Berdasarkan penelitian, kejadian

dismenore pada remaja putri di Jakarta Barat sangat tinggi khususnya pada

dismenore ringan. Banyak penelitian yang menemukan hal serupa. Muntari

(2010), menemukan bahwa 67,74% remaja putri mengalami nyeri

dismenore. Bahkan, penelitian Sophia (2013) menemukan prevalensi

kejadian dismenore pada remaja putri sebesar 81,3%. Sedangkan

penelitian lain pun ada juga yang menemukan bahwa dismenore ringan

merupakan yang paling banyak dialami, seperti pada tahun 2007,

Nurhidayati juga mengemukakan bahwa 56,6% responden mengalami

nyeri ringan (Nurhidayati, 2007). Pada penelitian Asih (2013), pada siswi

kelas XI SMK YAPSIPA Kota Tasikmalaya yang menemukan 66,1%

dismenore ringan. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan oleh

Sirait dkk (2014), dari 85,9% siswi SMA yang mengalami dismenore,

79,1% diantaranya merupakan dismenore ringan.

Berbeda dengan penelitian terdahulu di Indonesia, beberapa

penelitian yang dilakukan di negara-negara lain memiliki hasil yang

sedikit berbeda. Seperti pada penelitian Al Kindi dan Al Bulushi (2011)

yang menemukan bahwa nyeri sedang 41%, sedangkan nyeri ringan hanya

sebesar 27%. Hal serupa juga ditemukan oleh penelitian Gumanga dan

Aryee (2012) di Accra, Ghana, 170 responden (37,5%) mengalami nyeri

dismenore sedang. Okoro dkk (2013) juga menemukan hasil yang berbeda

dengan penelitian ini, yaitu 54% dari kejadian dismenore merupakan

Selain nyeri pada perut bagian bawah, biasanya remaja putri juga

mengalami gejala-gejala lain yang menyertai dismenore. Gejala dismenore

yang paling sering dialami adalah kram pada perut. Gejala lain yang

umumnya dialami antara lain, mual, muntah, diare, nyeri punggung, pegal,

sakit kepala, pusing hingga pingsan (Okoro dkk, 2013). Gejala yang paling

banyak menyertai nyeri dismenore pada penelitian ini tidak jauh berbeda

dengan yang ditemukan pada penelitian Chongpengsuklert dkk (2008)

yang dilakukan pada siswi SMA di Provinsi Khon Kaen, Thailand. Pada

penelitian tersebut, gejala seperti pegal dan sakit punggung menjadi yang

paling banyak dirasakan oleh responden.

Hasil yang ditemukan oleh Chongpengsuklert dkk (2008)

menyatakan bahwa sebesar 70,7% responden juga mengalami pegal-pegal

dan 63,7% mengalami sakit punggung pada saat dismenore. Akan tetapi

pada penelitian Chongpengsuklert dkk (2008), juga menemukan adanya

gejala lain yang juga tinggi dialami oleh responden, yaitu perubahan

perasaan (mood) sebesar 84,8% dan gejala inilah yang paling banyak dialami oleh remaja di Thailand Chongpengsuklert dkk (2008). Hal serupa

juga ditemukan oleh penelitian Tangchai (2004), yang menemukan bahwa

58,9% mengalami gejala sakit punggung dan 42,9% pegal. Penelitian

Banikarim dkk (2000) dan Hillen dkk (1999) juga menyatakan hal yang

serupa

Dismenore mulai terjadi pada 24 jam sebelum terjadinya

pendarahan haid dan dapat bertahan selama 24-36 jam meskipun beratnya

haid. Lebih dari 50% responden yang mengalami dismenore merasakan nyeri ≤2 hari pada penelitian ini. Hal ini sesuai dengan yang ditemukan pada penelitian Alosaimi (2014) bahwa lama dismenore yang dialami oleh responden paling banyak ≤2 hari. Penelitian El Gilany dkk (2005), prevalensi paling tinggi remaja yang mengalami dismenore dengan durasi

atau lama nyeri kurang dari 24 jam, yaitu sebesar 64,9%. Bahkan dalam

penelitian El Hameed dkk (2011), dismenore paling banyak dialami oleh

remaja selama 24 jam pertama saat menstruasi. Gagua dkk (2012) juga

sependapat dengan hasil penelitian ini. Pada penelitian tersebut 34,42%

mengalami dismenore selama satu hari atau lebih.

6.3. Karakteristik Orang 6.3.1. Usia

Usia diterjemahkan sebagai lamanya keberadaan seseorang

diukur dalam satuan waktu yang dipandang dari segi kronologik,

individu normal yang memperlihatkan derajat perkembangan

anatomis dan fisiologik sama (Poppy, 1998). Pada penelitian ini

usia responden memiliki nilai median adalah 17 tahun. Penelitian

yang dilakukan oleh Nurhidayati (2007) pada siswi SMA Negeri 1

Sukaresmi, Cianjur, menemukan bahwa 20,5% berusia 15 tahun,

39,8% berusia 16 tahun, 25,3% berusia 17 tahun dan 14,5% berusia

18 tahun. Sedangkan penelitian Sirait dkk (2014) yang dilakukan di

SMA Negeri 2 Medan menemukan bahwa 60,9% berusia 16-18

tahun. Serupa dengan penelitian lainnya, penelitian Sophia (2013),

pada siswi SMK Negeri 10 Medan, menemukan bahwa paling

Penelitian Al Kindi dan Al Bulushi (2011) dilakukan pada

remaja usia 15 sampai 23 tahun dengan rata-rata usia 17-18 tahun.

51% responden yang berusia 15-17 tahun mengalami dismenore

dan 49% responden berusia 18-23 tahun juga mengalami

dismenore. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Manorek

dkk (2014), usia responden berada pada rentang 15-16 tahun.

Dismenore umumnya terjadi 2-3 tahun pasca menarche. Usia

menarche idealnya pada rentang 13-14 tahun. Oleh karena itu kejadian dismenore umumnya terjadi pada remaja yang berusia 15-

17 tahun (Baradero, 2006).

Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa remaja putri

SMA dan sederajat memiliki kecenderungan yang sama untuk

mengalami dismenore ringan. Selain itu, penelitian ini juga tidak

menemukan adanya hubungan signifikan antara usia dengan

kejadian dismenore. Hasil ini serupa dengan beberapa penelitian

terdahulu, di antaranya Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayati

(2007) pada siswi SMA Negeri 1 Sukaresmi, Cianjur, menemukan

bahwa tidak ada hubungan bermakna antara usia dengan kejadian

dismenore. Penelitian Sirait dkk (2014) yang dilakukan di SMA

Negeri 2 Medan juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan

antara usia dengan kejadia dismenore. Sedangkan penelitian yang

dilakukan oleh El Gilany dkk (2005), menemukan bahwa usia

responden berhubungan dengan kejadian dismenore. Pada

risiko mengalami dismenore semakin besar. Responden yang

berusia 17 tahun ke atas berisiko mengalami dismenore 6,59 kali

dibanding dengan responden yang berusia 14 tahun (El Gilany dkk,

2005).

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori yang

menyatakan bahwa dismenore umumnya terjadi sekitar dua hingga

tiga tahun setelah menarche. Apabila usia menarche idealnya adalah 13-14 tahun, maka dismenore biasanya banyak terjadi pada

usia 15 – 17 tahun (Baradero, 2006). Tidak hanya itu, usia tersebut merupakan masa-masa terjadinya perkembangan organ-organ

reproduksi dan perubahan hormonal yang terjadi secara signifikan

(Baradero, 2006). Selain itu, pengaruh usia pada persepsi nyeri

dan toleransi nyeri secara teori tidak diketahui dengan luas yang

dikarenakan hanya berdasarkan pada laporan nyeri dan pereda

nyeri (Smeltzzer, 2001). Walaupun begitu tidak ada salahnya jika

remaja putri SMA dan sederajat mendapatkan pendidikan

kesehatan reproduksi khususnya mengenai dismenore.

Dokumen terkait