• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Tinjauan Arsitektur Modern

Arsitektur modern adalah sebuah perkembangan arsitektur dimana ruang menjadi objek utama untuk diolah. Jika pada masa sebelumnya arsitektur lebih memikirkan bagaimana cara mengolah fasad, ornamen, dan aspek-aspek lain yang sifatnya kualitas fisik, maka pada masa arsitektur modern kualitas non- fisik lah yang lebih dipentingkan (krier, 1982). Fokus dalam arsitektur modern adalah bagaimana memunculkan sebuah gagasan ruang, kemudian mengolah dan mengelaborasinya sedemikian rupa, hingga akhirnya diartikulasikan dalam penyusunan elemen-elemen ruang secara nyata.

Di masa sekarang banyak rumah toko yang dibangun dengan gaya arsitektur modern dengan penyesuain terhadap bahan bangunan dengan teknologi terkini, perkembangan budaya dan wawasan serta gaya hidup penghuninya. Pada abad ke-20 arsitektur telah dipengaruhi oleh mesin secara total dan dikatakan juga arsitektur sebagi pemuja mesin, pada abad ke-19 secara perlahan telah muncul material-material yang seperti besi, baja, tuang yang sangat mempengaruhi pengerjaan arsitektur modern. Eksterior rumah dengan gaya arsitektur modern didominasi dengan jendela yang berukuran lebar dan atau tinggi, list plang beton memanjang dan kanopi yang menjorok ke depan. Dengan kolom yang simple atau bahkan tanpa kolom. Bentuk masa rumah modern di dekorasi dengan ornament garis vertical, horizontal, dan diagonal yang sederhana pada dinding eksterior yang luas interior rumah toko modern ditata dengan ornament yang sederhana, plafond bertingkat dan void di ruang-ruang publik yang memberikan kesan luas. Ruang pada rumah dengan gaya arsitektur modern umunya transparan, menerus, ruang-ruang saling terhubung dengan ruang-ruang perantara dibatasi oleh dekorasi interior yang tidak masiv.

Gambar 2.2. Ruko Modern Minimalis

http://tipsproperti.com/wp-content/uploads/2013/11/Desain-Arsitek-Ruko-2.2.2. Sejarah Arsitektur Modern

Sepanjang sejarah manusia, arsitektur hanya mengalami satu kali perubahan yang mendasar, yaitu di saat hadirnya arsitektur modern. Sumalyo (2005) mengatakan arsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia, yang berkaitan dengan berbagai segi kehidupan antara lain : seni, teknik, tata ruang, geografi, sejarah. Sejarah perkembangan arsitektur mencakup dimensi ruang dan waktu yang sukar ditentukan batasnya.

Diketahui bahwa arsitektur berkembang dari masa ke masa dalam kurun waktu sejak manusia hingga sekarang. Arsitektur modern merupakan perkembangan dari klasik barat, berubah secara revolusioner sejalan dengan revolusi industry mulai awal abad 19 dengan terjadinya perubahan besaran-besaran dalam pola hidup dan pola pikir (sumalyo, 2005). Terdapat 3 periode perkembangan arsitektur :

 Tahun 1800an

Sampai dengan masa Neo-klasik abad ke-19, Arsitektur dianggap sebagai pengetahuan kesenian, yaitu seni bangunan. Artinya arsitektur dianggap sebagai suatu „olah rasa‟ yang dibuat berdasarkan perasaan sebagai sumber idenya dan tidak ada rumusnya (Sumalyo, 2005). Pada tahun 1750-an di Perancis, muncul orang-orang yang berambisi untuk menghasilkan arsitektur dengan menggunakan akal dan idenya sebagai sumber idenya, bukan seni dengan perasaan. Bagi mereka ini, arsitektur adalah olah pikir, bukan olah seni. Bagi dunia arsitektur, apa yang dilakukan oleh orang-orang Perancis ini adalah sebuah perubahan. Dengan

demikian, dapat dikatakan bahwa arsitektur Modern berupa ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur sudah hadir pada abad ke-18. Dan kemudian, pikiran-pikiran tersebut baru mendapat kesempatan untuk direalisasikan pada pertengahan abad-19 karena faktor-faktor yang sangat mendorong percepatan dari Arsitektur Modern tersebut adalah :

 Di pertengahan abad 19 itu secara resmi pendidikan Arsitektur telah terbagi menjadi dua yaitu arsitektur sebagai kesenian dan arsitektur sebagai ilmu teknik sipil.

 Munculnya industri bahan bangunan, yang mampu menghasilkan keseragaman ukuran dan kecepatan membangun.

Gambar 2.3. Bangunan La Majolikahaus

Sumber :

http://4.bp.blogspot.com/-59Lq8L25QkA/Ten0FGyJ- aI/AAAAAAAACsI/hZATqZGxEac/s1600/most-beautiful-building-4th-Majolica-House-Wina-Austria.jpg

 Periode 1890 – 1930

Pada masa ini arsitektur modern mengalami puncaknya di Prancis, Jerman, Belanda, Rusian, dan Inggris mulai mengikutinya. Sumalyo (2005) menjelaskan mulai tahun 1890-an sampai dengan 1930-an, terjadi semacam resolusi industri kedua dalam bentuk rasionalisme dan penggunaan mesin secara besar-besaran, sejumlah pertentangan dalam dunia arsitektur yang ditunjukkan melalui munculnya berbagai eksperimen seperti : arsitektur sebagai art vs arsitektur sebagai science, arsitektur sebagai form vs arsitektur sebagai space, arsitektur sebagai craft vs arsitektur sebagai assembly, dan arsitektur sebagai karya manual vs arsitektur sebagai karya machinal.

Gambar 2.4. Bangunan Maison Caillot Sumber :

 Periode 1950-1960an

Dalam sejarah arsitektur, berakhirnya Perang Dunia II membawa perjalanan arsitektur dapat dibaca dari dua sisi yang saling berlawanan (Sumalyo, 2005) yakni:

-Tahun 50-an dikatakan sebagai puncak Arsitektur Modern :

a. Segenap filosofi dan prinsip arsitektur sebagai ilmu telah dapat diformulasikan dengan sempurna dari ide sampai dengan realisasinya. b. Karya-karya arsitektur mampu dan sangat sempurna untuk

mengekspresikan space / ruang.

c. Terjadi produksi massal bahan bangunan oleh pabrik. Hal ini dapat mempercepat proses pembangunan. Namun, bahan bangunan dapat menembus batas budaya dan geografis, sehingga arsitektur menjadi Internasional dan bangunan-bangunan di dunia menjadi seragam. Dengan kata lain, arsitektur menjadi sangat demokratis.

Gambar 2.5. Bangunan Seagram Sumber :

http://4.bp.blogspot.com/---lez6fXPxg/T4eshVchPyI/AAAAAAAAC48/EZmbaZAVc1Q/s1600/seagram.gif -Tahun 50-an dikatakan sebagai kegagalan Arsitektur Modern :

a. Karena arsitektur telah kehilangan identitas/ciri individual perancangnya. Tahun-tahun itu, nama yang dikenal orange adalah nama biro-biro Arsitektur, bukan arsiteknya.

b. Enggan maraknya produksi massal, pabrik-pabrik dapat menghasilkan bahan-bahan bangunan yang sejenis atau mirip, tapi dengan kualitas berbeda.

c. Karena penekanan perancangan pada ruang, maka desain menjadi polos, simpel, bidang-bidang kaca lebar.

d. Keseragaman bentuk yang geometris menyebabkan pemandangan yang tidak menyatu dengan lingkungan.

2.2.4 Ciri-ciri Arsitektur Modern

Sejak tahun 1920 selain sangat signifikan dalam gaya bangunan arsitektur modern, juga telah menetapkan reputasi para arsiteknya. Asal dan karakteritik arsitektur modern sampai saat ini masih diperdebatkan di kalangan arsitek. Beberapa sejarawan melihat perkembangan arsitektur modern sebagai perihal sosial yang erat kaitannya terhadap pembaharuan dan keringanan.

Hal ini menambah pengetahuan makna bahwa gaya modern adalah sebuah penemuan baru dalam bidang Revolusi Industri. Berikut adalah karakteristik dari bangunan bergaya arsitektur modern menurut krier (1982) dalam Brunner T. Dkk (2013) :

 Bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monotone karena tidak diolah. Satu gaya Internasional atau tanpa gaya (seragam), merupakan suatu arsitektur yang dapat menembus budaya dan geografis.

 Penggunaan material dan bahan pada bangunan arsitektur modern tidak terlepas dari unsur fungsional, dimana bahan dan material yang digunakan harus mendukung fungsi bangunan secara keseluruhan. Jenis bahan/material yang digunakan diekspos secara polos, ditampilkan apa adanya. Terutama bahan yang digunakan adalah beton, baja dan kaca. Misal :

1) Beton untuk menampilkan kesan berat, massif, dingin 2) Baja untuk kesan kokoh, kuat, industrialis

 Ekspresi terhadap sruktur sebagai elemen arsitektur yang memberikan bentuk kepada tampak bangunan, sehingga menciptakan ruang pada kulit bangunan. Hal ini lebih dikenal dengan istilah Skin and Bone. Skin and bone merupakan salah satu ide desain dari langgam arsitektur modern yang mengedepankan kepolosan dan kesederhanaan dalam olah bentuk bangunan dengan cara menonjolkan struktur bangunan.  Anti ornamen, menganggap ornamen yang ada pada bangunan tidak

memiliki fungsi baik secara struktur maupun non struktur, sehingga ornamen dihilangkan dan dianggap suatu kejahatan dalam desain. Nihilism, penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidang-bidang kaca lebar. Tidak ada apa-apanya kecuali geometri dan bahan aslinya. Penekanan Elemen vertikal dan horizontal masih berhubungan dengan penggunaan ornamen yang dianggap sebagai suatu kejahatan, maka bangunan-bangunan dengan langgam arsitektur modern menggunakan penekanan elemen vertikal dan horizontal pada bangunannya sebagai pengganti ornamen, guna menambah estetika dan keindahan bangunan. Menyederhanakan bangunan sehingga format detail menjadi tidak perlu. Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap arsitektur tersebut. Bangunan arsitektur modern menganut paham form follow function dimana bentuk yang dihasilkan mengikuti fungsi dari bangunan. Tidak memiliki suatu ciri individu dari seorang arsitek, sehingga tidak dapat dibedakan antara arsitek yang satu dengan yang lainnya.

2.3. Tinjauan International Style

Dokumen terkait