BAB I PENDAHULUAN
B. Tinjauan empiris
Pada bagian ini, penulis telah telah menunjuk pada beberapa penelitian terdahulu sebagai bahan referensi, Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya dapat digunakan sebagai acuan penelitian ini, beberapa penelitian yang berkaitan dengan Analisis Kebangkrutan Model Altman terhadap Harga Saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, antara lain:
25
C. Kerangka Pikir
Metode model Altman merupakan indeks yang digunakan untuk memprediksi nilai profitabilitas kebangkrutan sebuah perusahaan dalam waktu dua tahun kedepan. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hikmah (2018) menunjukkan bahwa metode altman berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada subsektor logam di Bursa Efek Indonesia.
Gambar 2.1 Kerangka konsep
D. Hipotesis
Pada penelitian analisis regresi yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan variabel independen (kebangrutan model altman) dengan varaiabel dependen (harga saham). Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir diatas, maka hipotesis hipotesis yang diajukan adalah:
H1: Diduga kebangkrutan model altman secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham yang terdaftar di bursa efek indonesia.
H2: Diduga kebangkrutan model altman secara parsial memberikan dampak positif dan signifikan terhadap harga saham yang terdaftar di bursa efek indonesia.
Harga Saham (Y)
(Swadidji Widoatmojo 2012) Kebangkrutan model Altman (X)
X1. Modal Kerja
X2. Laba Sebelum Bunga dan pajak
X3. Nilai Pasar Ekuitas X4. Penjualan
(Syafrida Hani 2015)
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Metode penelitian kuantitatif, sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (2012: 8) yaitu, metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian yang dilakukan di Geleri Investasi Bursa Efek Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar. Sedangkan waktu penelitian dari bulan Januari-Maret 2021
C. Definisi Operasional Variabel Dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional variabel merupakan penggambaran secara singkat masing-masing variabel yaitu kebangkrutan model altman dan harga saham. Secara singkat kedua variabel tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Variabel Independen
Kebangkrutan adalah memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan dapat diketahui dengan menghitung rumus dari model-model
prediktor kebangkrutan yang ada. Pada penelitian ini model prediksi kebangkrutan yang digunakan adalah Altman. Model ini yang akan digunakan untuk mengukur tingkat kebangkrutan suatu perusahaan.
Berikut 5 rasio beserta rumus perhitungannya.
π1 =πππππ πΎππππ πππ‘ππ π΄π ππ‘
Modal kerja merupakan rasio untuk memprediksi likuiditas dalam kaitanya dengan menggunakan seluruh aset perusahaan.
π2 =ππππ π πππππ’π ππ’πππ πππ πππππ πππ‘ππ π΄π ππ‘
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan keseluruhan aset tanpa melihat unsur utang yang digunakan dalam sebuah perusahaan.
π3 = πππππ πππ ππ πππ’ππ‘ππ πππππ ππ’ππ’ ππππ π‘ππ‘ππ πππ€ππππππ
Rasio ini bertujuan untuk menghitung dan mengukur tingkat utang perusahaan. Kemampuan suatu perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modal sendiri.
π4 =πππππ’ππππ πππ‘ππ π΄π ππ‘
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa efisien dan keefektifan suatu perusahaan dalam menggunakan aset-aset perusahaan. Perusahaan yang baik dan mampu untuk bertahan dan menjaga tingkat penjualannya, karena penjualan tersebut sangat berpengaruh pada laba yang diterima perusahaan.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain atau variabel bebas. Sering juga disebut dengan variabel
29
terikat. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah harga saham.
Harga saham yaitu setiap saham yang ditawarkan kepada masyarakat.
D. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari objek penelitian, Menurut sugiyono (2013:119) populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan peneliti untuk mempelajari kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penalitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mencakup priode 2017 sampai dengan 2019.
2. Sampel
Sampel merupakan sebagian unit populasi yang menjadi objek penelitian untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi. Bila populasi besar maka kemungkinan peneliti tidak bisa mempelajari semua yang ada karena keterbatasan waktu maupun dana maka peneliti dapat mengambil sampel dari populasi yang diteliti. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling..
Teknik ini mengambil sampel dari tempat tertentu (dalam hal ini Bursa Efek Indonesia) dan menggunakan kriteria untuk tujuan tertentu yang dianggap potensial dalam penelitian ini. Adapun kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Unismuh Makassar selama tahun penelitian 2017 -2019.
b. Perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan lengkap yang berakhir pada periode 31 Desember dan telah diaudit oleh kantor akuntan publik.
c. Mempunyai data lengkap (harga saham harian, IHSG, nilai kapitalisasi pasar).
d. Tersedianya data tanggal pengumuman laporan keuangan perusahaan.
Populasi penelitian sebanyak 19 perusahaan farmasi yang terdaftar BEI Periode tahun 2017 sampai dengan 2019, maka ditentukan sampel sebanyak 8 perusahaan yang akan diteliti dan Data yang diperoleh sebanyak 57 laporan keuangan.
31
Tabel 3.1
Sampel perusahaan farmasi
NO NAMA PERUSAHAAN
1 Akasha Wira internationaL Tbk
2 Tiga PiIar Sejahtera Food Tbk
3 Tri Banyan Tirta Tbk
4 Bumi TeknokuItura UngguI Tbk
5 Budi Starch & Sweetener Tbk
6 WiImar Cahaya Indonesia Tbk
7 DeIta Djakarta Tbk
8 lndofood CBP Sukses Makmur Tbk
9 Inti Agri Resources Tbk
10 lndofood Sukses Makmur Tbk
11 Magna Investama Mandiri Tbk
12 MuIti Bintang Indonesia Tbk
13 Mayora Indah Tbk
14 Langgeng Makmur lndustri Tbk
15 Chitose lnternasional Tbk
16 Sekar Laut Tbk
17 Sentar Top Tbk
18 UItra Jaya MiIk lndustri & Trading Compani Tbk
19 Gudang Garam Tbk
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara. Pengumpulan data bertujuan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Studi Lapangan
Yaitu pengamatan secara langsung di lokasi penelitian yang dilandasi dengan pengalaman dan pengetahuan teoritis untuk
menggali dan mengumpulkan data serta melakukan pengolahan dan analisis data/informasi yang diperoleh guna pemecahan masalah, yang dituangkan dalam bentuk sebuah laporan penelitian.
2. Dokumentasi
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengutip langsung dengan data-data yang diperoleh langsung dari perusahaan.
F. Metode Analisis Data
Untuk menjawab permasalahan penelitian, maka digunakan alat analisis sebagai berikut:
1. Analisis kuantitatif suatu analisis yang menguraikan variabel tentang kebangkrutan model altman terhadap harga saham.
2. Uji Asumsi Klasik
Ada 4 dalam menguji Asumsi Klasik yaitu sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah Model Regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi data untuk mendekati secara normal. Metode yang dipakai yaitu analisis grafik dan analisis statistik.
Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menganalisis grafik normalitas yang dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik dengan melihat histogram dari residualnya:
33
1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan meningkatkan garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atas tidak mengikuti arah garis diagonal grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Uji Multikolinearitas
Masalah yang mungkin akan timbul pada persamaan regresi berganda adalah multikolinearitas yaitu korelasi yang terjadi antara dua variabel atau lebih. Satu variabel berkorelasi dengan variabel bebas lainnya. Adanya multikolinearitas dapat dilihat dari tolerance value atau nilai variance inflation factor (VIF), jika nilai VIF tidak lebih dari 10 maka model bebas dari multikolinearitas.
c. Uji Autokolerasi
Persamaan regresi yang baik adalah yang tidak memiliki masalah autokorelasi, jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak baik atau tidak layak diprediksi. Masalah autokorelasi timbul jika ada korelasi secara linear antara kesalahan pengganggu periode t (berada) dengan kesalahan pengganggu periode t-1 (sebelumnya). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa uji Asumsi Klasik autokorelasi yang dilakukan untuk data time series dan data yang mempunyai waktu (Sunyoto, 2013).
d. Analisis Regresi Berganda
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh hubungan antara variable independen dengan variabel dependen dengan menggunakan analisis Regresi Linier Berganda dengan rumus sebagai berikut :
Y = a + bX1 + bX2 + bX3 +Bx4+ e Keterangan : Y = Rasio NPL
a = Konstanta Persamaan Regresi b= Koefisien Regresi
X1 = Modal Kerja
X2 = Laba Sebelum Bunga dan Pajak X3 = Nilai Pasar Ekuitas
X4 = Penjualan e = Standar error
35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perusahaan 1. Sejarah PT.Bursa Efek Indonesia
Galeri Investasi Unismuh Makassar mulai berdiri dan diresmikan 2016. Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sarana untuk memperkenalkan Pasar Modal sejak dini kepada dunia akademisi. Galeri Investasi BEI berkonsep 3 in 1 yang merupakan kerjasama antara BEI, Perguruan Tinggi dan Perusahaan Sekuritas. melalui Galeri Investasi BEI yang menyediakan real time information untuk belajar menganalisa aktivitas perdagangan saham, diharapkan dapat menjadi jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan beserta prakteknya di pasar modal. Secara historis, Pasar Modal telah hadir jauh sebelum indonesia merdeka. Pasar Modal atau Bursa Efek telah hadir sejak zaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia.
Pasar Modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Meskipun Pasar Modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan Pasar Modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi Bursa Efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Bursa Efek Jakarta pertama kali dibuka pada tanggal 14 desember 1912, dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda, didirikan di Batavia, pusat pemerintahan kolonial Belanda yang kita kenal sekarang dengan Jakarta. Bursa Efek Jakarta dulu disebut Call-Efek. Sistem perdagangannya seperti lelang, dimana tiap efek berturut-turut diserukan pemimpin βCallβ, kemudian para pialang masing-masing mengajukan permintaan beli atau penawaran jual sampai ditemukan kecocokan harga, maka transaksi tersebut terjadi. Pada saat itu terdiri dari 13 perantara perdagangan efek (makelar).
Bursa efek saat itu bersifat demand-following, karena para investor dan para perantara perdagangan efek merasakan keperluan akan adanya suatu bursa efek di Jakarta. Bursa lahir karena permintaan akan jasanya sudah mendesak. Orang-orang Belanda yang bekerja di Indonesia saat itu sudah lebih dari tiga ratus tahun mengenal akan investasi dalam efek, dan penghasilan serta hubungan mereka memungkinkan mereka menanamkan uangnya dalam aneka rupa efek.
Baik efek dari perusahaan yang ada di Indonesia maupun efek dari luar negeri. Sekitar 30 sertifikat (sekarang disebut depository receipt) perusahaan Amerika, perusahaan Kanada, perusahaan Belanda, perusahaan Perancis dan perusahaan Belgia.
Bursa efek Jakarta sempat ditutup selama periode perang dunia pertama, kemudian dibuka lagi pada tahun 1925. Selain Bursa Efek Jakarta, pemerintah kolonial juga mengoperasikan bursa paralel di Surabaya dan Semarang. Namun kegiatan bursa ini dihentikan lagi ketika terjadi pendudukan tentara Jepang di Batavia.
37
Aktivitas di Bursa ini terhenti dari tahun 1940 sampai tahun 1951 disebabkan peran dunia II yang kemudian disusul dengan perang kemerdekaan. Baru pada tahun 1952 di buka kembali dengan memperdagangkan saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan. Belanda dinasionalisasikan pada tahun 1958.
Meskipun pasar yang terdahulu belum mati karena sampai tahun 1975 masih ditemukan kurs resmi Bursa Efek yang dikelola Bank Indonesia.
Bursa Efek Jakarta kembali dibuka pada tanggal 10 Agustus 1977 dan ditandatangani oleh badan Pelaksana Pasar Modal (BAPEPAM), institusi baru dibawah Departemen Keuangan. Kegiatan perdagangan dan kapitalisasi pasar saham pun mulai meningkat seiring dengan perkembangan pasar finansial dan sektor swasta yang puncak perkembangannya pada tahun 1990. Pada tahun 1991, bursa saham diswastanisasi menjadi PT>Bursa Efek Jakarta dan menjadi salah satu bursa saham yang dinamis di Asia. Swastanisasi bursa saham ini menjadi PT> Bursa Efek Jakarta mengakibatkan beralihnya fungsi BAPEPAM menjadi Badan Pengawas Pasar Modal.
Pada tahun 1977 hingga 1978 masyarakat umum tidak atau belum merasakan kebutuhan akan Bursa Efek. Perusahan tidak antusias untuk menjual sahamnya kepada masyarakat. Setelah dilakukan paket deregulasi tersebut Bursa Efek Jakarta mengalami kemajuan pesat.
Harga saham bergerak naik cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang bersifat tenang. Perusahaan ini pun akhirnya melihat bursa sebagai wahana yang menarik untuk mencari modal, sehingga dalam waktu relatif
singkat sampai akhir tahun 1977 terdapat 283 emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta.
Tahun 2007 menjadi titik penting dalam sejarah perkembangan Pasar Modal Indonesia. Dengan persetujuan para pemegang saham kedua bursa, BES (Bursa Efek Surabaya) digabungkan ke dalam BEJ (Bursa Efek Jakarta) yang kemudian menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tujuan meningkatkan peran pasar modal dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2008, Pasar Modal Indonesia terkena imbas krisis keuangan dunia menyebabkan tanggal 8-10 Oktober 20018 terjadi penghentian sementara perdagangan di Bursa Efek Indonesia. IHSG yang sempat menyentuh titik tertinggi 2.830,26 pada tanggal 9 Januari 2008, terperosok jatuh hingga 1.111,39 pada tanggal 28 Oktober 2008 sebelum ditutup pada level 1.355,41 pada akhir tahun 2008.
Kemerosotan tersebut dipulihkan kembali dengan pertumbuhan 86,98%
pada tahun 2009 dan 46,13% pada tahun 2010.
2. Visi dan Misi Bursa Efek Indonesia a. Visi
Menjadi bursa yang kooperatif dengan kredibilitas tingkat dunia.
b. Misi
Menyediakan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya perdagangan efek yang diatur, wajar, dan efisien serta mudah diakses oleh seluruh pemangku kepentingan (stockholders).
3. Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia
Struktur organisasi merupakan elemen penting untuk menjalankan aktivitas perusahaan yang menggambarkan hubungan antara wewenang,
39
dan tanggung jawab bagi setiap sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia Rapat Umum
4. Uraian Tugas Bursa Efek Indonesia (BEI)
Berdasarkan struktur organisasi maka diperlukan suatu sistem pembagian tugas atau kerja (Job Description) yaitu sebagai berikut:
1) Rapat Umum Pemegang Saham
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) merupakan seseorang yang memiliki wewenangan khusus yang tidak diberikan kepada dewan komisaris atau direksi yang terkait dengan penetapan keputusan penting yang berhubungan dengan kebijakan Bursa.
RUPST yang dilaksanakan sekali dalam setahun, sedangkan RUPSLB dilaksanakan sewaktu-waktu jika diperlukan.
2) Peran Dewan Komisaris
Sesuai hasil keputusan rapat umum pemegang saham tanggal 5 Juni 2008 dan rapat umum pemegang saham luar biasa 27 Agustus 2008, BEI memiliki 5 anggota Dewan Komisaris (Dekom) dengan masa bakti 2008 sampai 2011. Dekom bertugas mengarahkan pengelolaan sesuai dengan visi dan misi Bursa yang telah ditetapkan, serta kebijakan dan panduan tata kelola perusahaan yang berlaku, dalam rangka mengupayakan pertumbuhan nilai jangka panjang yang berkesinambungan bagi para segenap pemangku kepentingan
3) Direktur Utama Pemeriksa Internal Perusahaan
Direktur Utama Pemeriksa Internal Perusahaan bertanggung jawab sebagai quality assurance terhadap pelaksanaan pencapaian sasaran perusahaan dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi melalui pemeriksa berkala maupun insidentil terhadap
41
kegiatan internal organisasi, serta melakukan pelaporan dan pemberian rekomendasi perbaikan yang diperlukan atas hasil pemeriksaan kepada direksi, dewan komisaris dan ketua bapepam serta bertanggung jawab atas pemantauan kegiatan tindak lanjut dari rekomendasi yang dibangun berdasarkan hasil pemeriksaan internal yang telah dilakukan.
4) Direktur Penilaian Perusahaan
Direktur Penilaian Perusahaan terdiri dari berbagai macam divisi diantaranya:
a. Divisi Penilaian Perusahaan β Sektor Riil
Bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan:
1) Evaluasi pendahuluan calon emiten sampai dengan pencatatan saham di Bursa.
2) Evaluasi atas rencana pencatatan saham tambahan sampai dengan pencatatan saham di Bursa.
3) Pemantauan kepatuhan perusahaan tercatat terhadap paraturan yang berlaku.
4) Penyebaran informasi perusahaan tercatat kepada publik.
5) Pembinaan perusahaan tercatat (termasuk pemberian sanksi).
6) Prose delisting (baik yang bersifat voluntary maupun force delisting).
7) Pelaksanaan suspensi dan suspensi.
8) Pengelolaan dan pemutakhiran database emiten termasuk corporate action.
b. Divisi Pencatatan Perusahaan β Sektor Jasa
Bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan:
1) Evaluasi pendahuluan calon emiten sampai dengan pencatatan saham di Bursa termasuk ETF.
2) Evaluasi atas rencana pencatatan saham tambahan sampai dengan pencatatan saham di Bursa.
3) Pemantauan kepatuhan perusahaan tercatat terhadap peraturan berlaku.
4) Penyebaran informasi perusahaan tercatat kepada publik.
5) Pembinaan perusahaan tercatat (termasuk pemberian sanksi) 6) Proses delisting (baik yang bersifat voluntary maupun force
delisting).
7) Pengelolaan dan pemutakhiran database emiten termasuk corporate action.
8) Pembuatan dan penyempurnaan prosedur dan peraturan pencatatan sesuai dengan perkembangan pasar modal.
5) Direktur Perdagangan Saham dan Pengaturan Anggota Bursa
Perdagangan saham bertanggung jawab untuk menyelenggarakan perdagangan saham setiap hari dengan melakukan koordinasi kegiatan pengembangan dan operasional perdagangan saham sehingga terlaksana perdagangan saham yang teratur dan efisien. Dan pengaturan anggota bursa bertanggung jawab untuk melakukan evaluasi calon anggota bursa pemantauan, pembinaan, pengembangan dan penegakan disiplin terhadap anggota
43
bursa serta membantu dan menjaga kredilitas integritas dipasar modal.
6) Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Anggota Bursa Bertanggung jawab untuk memastikan dan mengkoordinasikan kegiatan pengawasan dan analisis terhadap aktivitas perdagangan di Bursa untuk mewujudkan perdagangan yang teratur dan efisien, sehingga dapat menjaga integritas dan kredibilitas bursa efek dipasar modal. Sedangkan kepatuhan anggota bursa bertanggung jawab untuk memastikan peruturan perundang-undangan yang berlaku dipasar modal.
7) Direktur Pengembangan Produk dan Usaha
Bertanggung jawab untuk mengelola dan menyajikan data statistik perdagangan, emiten dan anggota bursa, dengan melakukan analisis dipasar modal untuk mencapai efisiensi dan pengembangan usaha serta mengelola data historis perdagangan dan publikasi rutin lainnya sebagai bahan referensi dasar untuk membuat keputusan dan meningkatkan likuiditas pasar dan daya pesaing.
8) Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Resiko
Direktur teknologi informasi bertanggung jawab atas perencanaan, implementasi, operasi, kepatuhan kebijakan, pengawasan atau pemantauan, evaluasi pemeliharaan dan kinerja infrastruktur yang berbasis teknologi secara efektif dan efisien sesuai dengan visi dan misi strategi Bursa Efek Indonesia. Sedangkan Manajemen Risiko bertanggung jawab untuk memastikan perencanaan, pengukuran, monitoring pengelolaan serta
pengendalian risiko dalam organisasi secara sistematis dan terintegrasi.
9) Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia
Direktur Keuangan Perusahaan bertanggung jawab atas keseluruhan fungsi akuntansi, perpajakan, dan anggaran serta pengelolaan keuangan untuk memperoleh hasil yang optimal sehingga dapat menghasilkan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas operasional dalam sebuah perusahaan.
5. Karakteristik Perusahaan Manufaktur
Karakteristik utama industri manufaktur adalah mengelola sumber daya barang jadi melalui proses pabrikasi. Aktivitas perusahaan yang tergolong dalam kelompok industri manufaktur mempunyai 3 (tiga) kegiatan utama, yaitu:
a. Kegiatan utama untuk memperoleh atau menyimpan input atau bahan baku.
b. Kegiatan pengolahan atau pabrikasi atau perakitan atas bahan baku menjadi bahan jadi.
c. Kegiatan menyimpan atau memasarkan barang jadi.
B. Pengujian Analisis Data 1. Analisis Data Deskriptif
Penelitian ini dilakukan di Galeri Investasi Bursa Efek Universitas Muhammadiyah Makassar dengan mengambil data laporan keuangan perbankan syariah di indonesia melalui website resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan
45
teknik purposive sampling, yaitu pengambilan sampel dengan kriteria tertentu seperti, perusahaan harus tergabung di BEI selama 3 (satu) tahun, perusahaan tersebut secara periode mengeluarkan laporan keuangan tiap bulannya selama periode pengamatan, dan perusahaan yang memiliki kelengkapan data keuangan untuk menghitung Nilai Z-Score Altman (variabel modal kerja, laba sebelum bunga dan pajak, nilai pasar ekuitas, penjualan) terhadap harga saham Berdasarkan perhitungan analisis prediksi kebangkrutan Z-Score Altman sebagai berikut.
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
Sumber data: Hasil Data Olahan (2021) a. Deskripsi Data Modal Kerja, (X1)
Berdasarkan tabel 4.1 hasil uji data diketahui bahwa data Modal Kerja, (X1) diperoleh nilai tertinggi sebesar 2.78, nilai terendah sebesar -4.48, rata-rata sebesar 1.3453, median sebesar 1.6100, modus sebesar -4.48 varian sebesar 2.647.
b. Deskripsi Data Laba Sebelum Bunga dan Pajak (X2)
Berdasarkan tabel 4.1 hasil uji data diketahui bahwa data Laba Sebelum Bunga dan Pajak (X2) diperoleh nilai tertinggi sebesar 1.37, nilai terendah sebesar -2.10, rata-rata sebesar 21.9789, median sebesar 0.1400, modus sebesar 0.31, varian sebesar 0.0557.
c. Deskripsi Data Nilai Pasar Ekuitas (x3)
Berdasarkan tabel 4.1 hasil uji data diketahui bahwa data Nilai Pasar Ekuitas (x3) diperoleh nilai tertinggi sebesar 12.73, nilai terendah sebesar -5.26, rata-rata sebesar 2.5663, median sebesar 1.7200, modus sebesar -5.26, varian sebesar 11.604.
d. Deskripsi Data Penjualan (x4)
Berdasarkan tabel 4.1 hasil uji data diketahui bahwa data Penjualan (x4) diperoleh nilai tertinggi sebesar 4.27, nilai terendah sebesar 0.96, rata-rata sebesar 1.4411, median sebesar 1.2600, modus sebesar 1.26, varian sebesar 0.595
e. Deskripsi Data Harga Saham (Y)
Berdasarkan tabel 4.1 hasil uji data diketahui bahwa data Harga Saham (Y) diperoleh nilai tertinggi sebesar 178.09, nilai terendah sebesar -6.17 rata-rata sebesar 17.0179, median sebesar 1.5300, modus sebesar -6.17, serta varian sebesar 1.7463
47
Tabel 4.2
Tingkat Kebangkrutan Perusahaan Model Altman Tahun 2017-2019
N
O NAMA PERUSAHAAN LK MA DER PK HS Prediksi
1 Akasha Wira internationaL
Tbk 1.91 0.06 1.72 1.24 0.30 Stabil
2 Tiga PiIar Sejahtera Food
Tbk -4.48 -2.10 -5.26 4.27 -6.17 Bangkrut
3 Tri Banyan Tirta Tbk 1.07 -0.09 5.41 0.96 -0.47 Rentang Bangkrut 4 Bumi TeknokuItura
UngguI Tbk 1.24 0.00 4.28 1.06 -0.03 Stabil 5 Budi Starch & Sweetener
Tbk 1.20 0.05 4.56 0.97 0.28 Bangkrut
6 WiImar Cahaya Indonesia
Tbk 2.30 0.31 0.97 1.39 2.79 Rentang Bangkrut
7 DeIta Djakarta Tbk 2.55 0.65 0.53 1.26 58.44 Rentang Bangkrut 8 lndofood CBP Sukses
Makmur Tbk 1.99 0.38 1.52 1.30 22.57 Sabil
9 Inti Agri Resources Tbk 2.78 0.13 0.24 1.45 0.16 Rengtang Bangkrut 10 lndofood Sukses Makmur
Tbk 1.61 0.15 2.59 1.09 16.18 Stabil
11 Magna Investama Mandiri
11 Magna Investama Mandiri