ANALISIS KEBANGKRUTAN MODEL ALTMAN TERHADAP HARGA SAHAM YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA
SKRIPSI
Oleh HASMIANA.S NIM 105721105316
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2021
ii
HALAMAN JUDUL
ANALISIS KEBANGKRUTAN MODEL ALTMAN TERHADAP HARGA SAHAM YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA
Oleh HASMIANA.S NIM 105721105316
Diajukan sebagai salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan studi pada Program Strata Satu (S1) Manajemen
PROGRAM STUDI MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2021
iii
PERSEMBAHAN
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah serta karunia-Nya, karya ilmiah sederhana ini kupersembahkan kepada:
1. Kedua Orang Tuaku yang senantiasa memberikan doa yang tulus untuk anaknya dan memberikan ridhonya serta semangat yang tiada henti-hentinya untuk mengerjakan skripsi ini.
2. Keluarga besar saya terutama kakak-kakak saya yang telah memberikan dukungan untuk proses penyelesaian karya ilmiah ini.
3. Bapak dan Ibu Dosen, terkhusus kepada kedua dosen pembimbing yang selama ini telah meluangkan banyak waktunya untuk membimbing, menuntun dan mengarahkan saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
MOTTO HIDUP
“Jadikan lah sabar dan shalat mu sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”
(Q.S Al-Baqarah: 153)
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetap lah bekerja keras untuk
urusan yang lain, dan kepada Tuhanmulah engkau berharap”
(Q.S Al-Insyirah: 6-8)
iv
v
vi
vii
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil Alamin segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat beserta salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, sebagai Nabi yang diciptakan Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia dan mengantarkan umat manusia keluar dari zaman kegelapan kepada zaman yang terang seperti saat ini.
Skripsi yang saya tulis ini berjudul “Analisis Kebangkrutan Model Altman Terhadap Harga Saham Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia” disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Pendidikan jenjang strata satu (S-1) pada Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulisan karya ilmiah ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., selaku Rektor Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Dr. Andi Jama’an SE., M. Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Bapak Muh. Nur Rasyid, SE., MM., selaku ketua Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Makassar.
v
4. Ibu Dr. Ir. A. Ifayani Haanurat., MM, CBC selaku Dosen Pembimbing I yang telah berkenan membimbing dan mengarahkan hingga skripsi ini bisa selesai.
5. Bapak Nasrullah, SE., MM selaku Dosen Pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga selesai.
6. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang memberikan bekal pengetahuan dan kemudahan serta bantuannya kepada penulis.
7. Ayah Sinading dan Ibuku Hamila, rengkuhan jiwa dan hatimu adalah semangat dalam perjalananku yang senantiasa memberikan perhatian, kasih sayang, nasehat dan doa restu kepadaku.
8. Teman-teman seperjuanganku yang selalu memberi support.
9. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan kepada penulis, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, hingga penulis menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya, sungguh penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca agar senantiasa memberikan masukan berupa kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
Harapan penulis semoga dengan tersusunnya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar dan para penggiat ilmu dimanapun berada.
vi Billahi Fii Sabilil Haq
Fastabiqul Khairat
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Makassar, 2021
Hasmiana. S
vii ABSTRAK
HASMIANA S, 2021. Analisis Kebangkrutan Model Altman terhadap Harga Saham yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dibimbing Oleh Pembimbing I Ibu Ifayani Haanurat Dan Pembimbing II Bapak Nasrullah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kebangkrutan model altman terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan melihat kondisi pasar modal di Indonesia. Jika perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan, akan mengakibatkan tingginya resiko terjadinya penurunan harga saham dipasar saham, serta untuk mengetahui dampak kebangkrutan model altman terhadap harga saham di bursa efek indonesia (BEI).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif kemudian pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan, dan teknik analisis data yang digunakan yaitu uji asumsi klasik, serta penelitian ini menggunakan model regresi linear berganda yang diolah menggunakan aplikasi SPSS v16 for windows
Hasil analisis data dalam penelitian ini menyatakan bahwa model altman berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham yang terdaftar di bursa efek Indonesia, serta kebangkrutan model altman memberikan dampak positif terhadap harga saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil Uji Regresi di peroleh dari nilai Koefisien Determinasi (R Square) sebesar 85,2%, sedangkan sisanya di pengaruhi oleh variabel lain sebesar 14,8%.
Kata Kunci : Model Altman, Harga Saham dan Bursa Efek Indonesia
viii ABSTRACT
HASMIANA S, 2021. The Analysis of Altman Model Bankruptcy on Stock Prices Listed in the Indonesia Stock Exchange. Supervised by Ifayani Haanurat and Nasrullah.
This study aimed to determine how is the influence of Altman model Bankruptcy on stock prices in the Indonesian Stock Exchange (IDX), by looking at the condition of the capital market in indonesia. If the company bankrupt, it caused a high risk of a decline in stock prices in the stock market, as well as to determine the impact of the Altman model bankruptcy on stock princes in the Indonesian Stock Exchange (IDX).
The method used in this study was a quantitative research method then data collection using research instruments, data analysis was quantitative or statistical, with the aim to test the established hypothesis, and the data analysis technique used was classical assumption test, and this study applied a regression model, multiple linear equations that were processed using the SPSS v16 application for windows.
The result of data analysis in this study stated that the Altman model had a positive and significant influence on stock prices listed in the Indonesian Stock Exchange, and the bankrupty of the Altman model had a positive impact on stock prices listed in the Indonesian stock exchange. The results of the regression test were obtained from the coefficient of determination (R Square) of 85.2%, while the rest was influenced by other variables of 14.8%.
Keywords:Altman Model, Stock prices and Indonesia Stock Exchange
ix
DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
SURAT PERNYATAAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... x
ABSTRACT ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar belakang... 1
B. Rumusan masalah ... 7
C. Tujuan penelitian ... 8
D. Manfaat penelitian ... 8
BAB IITINJAUAN PUSTAKA ... 9
A. Tinjauan teori ... 9
1. Manajemen keuangan ... 9
2. Fungsi Manajemen keuangan ... 9
3. Tujuan Manajemen keuangan ... 11
4. Kebangkrutan ... 11
5. Metode model altman ... 17
x
6. Saham ... 20
B. Tinjauan empiris ... 24
C. Kerangka berpikir ... 26
D. Hipotesis penelitian ... 26
BAB III METODE PENELITIAN ... 27
A. Jenis penelitian... 27
B. Lokasi dan waktu penelitian ... 27
C. Definisi operasional variabel dan pengukuran ... 27
D. Populasi dan sampel ... 29
E. Teknik pengumpulan data ... 31
F. Teknik analisis data ... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Gambaran umum perusahaan ... 35
B. Pengujian analisis data ... 44
C. Pembahasan ... 57
BAB V PENUTUP ... 59
A. Kesimpulan ... 59
B. Saran ... 59
DAFTAR PUSTAKA61 ... 60
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 24
Tabel 4.1 Deskripisi data Penelitian ... 45
Tabel 4.2 Tingkat kebangkrutan perusahaan model altman ... 46
tabel 4.3 Hasil uji normalitas ... 50
tabel 4.4 Uji multikolinearitas ... 51
tabel 4.5 Hasil uji autokorelasi ... 52
tabel 4.6 Hasil pengujian hipotesis ... 53
tabel 4.7 Hasil koefisien determinan... 56
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Konsep ... 25 Gambar 4.1 Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia ... 28
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kondisi perekonomian di Indonesia yang masih belum menentukan mengakibatkan tingginya resiko suatu perusahaan yang bersangkutan cenderung naik. Namun sebaliknya, jika perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan, maka akan terjadi penurunan harga saham perusahaan tersebut di pasar saham. Pasar modal merupakan salah satu instrumen ekonomi yang memiliki peran yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus yakni fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.
Pasar modal dapat dikatakan memiliki fungsi ekonomi dikarenakan pasar tersebut menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak investor yang memiliki kelebihan dana dan pihak yang memerlukan dana atau modal. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan hasil bagi investor, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih pada hakekatnya investasi adalah penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa yang akan datang.
Salah satu dari sekian banyak pilihan dalam melakukan investasi di perusahaan yang terdapat di pasar modal atau Bursa Efek Indonesia.
Indikator perusahaan bangkrut di pasar modal merupakan perusahaan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam artian perusahaan tersebut dihapuskan atau dikeluarkan dari daftar perusahaan yang sahamnya diperjual belikan di BEI. Setelah perusahaan tersebut dikeluarkan dari BEI,
maka semua kewajiban yang semula melekat akan ikut terhapus, termasuk kewajiban untuk menerbitkan laporan keuangan. Bagi investor perusahaan yang sudah delisted merupakan identik dengan bangkrut, karena mereka sudah tidak bisa lagi melakukan investasi di perusahaan tersebut. Secara empiris sebuah perusahaan yang delisted masih beroperasi, akan tetapi perusahaan tersebut sudah tidak bisa lagi diakses kembali oleh publik.
Delisting dapat dilakukan atas permintaan perusahaan yang menerbitkan saham atas perintah BEI. Biasanya, karena perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban dan aturan yang telah ditetapkan. Dalam menghadapi persaingan setiap perusahaan dituntut untuk terus meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengelolaan perusahaan dengan melakukan evaluasi mengenai strategi dan kebijakan perusahaan. Tidak ada suatu perusahaan yang terhindar dari resiko kebangkrutan. Tidak ada bisnis yang bisa berjaya selamanya. Kombinasi dari melemahnya prospek industri kedepan digabungkan dengan melemahnya manajemen perusahaan dapat berakibat fatal bagi suatu perusahaan. Melemahnya daya beli masyarakat akan menguji kokohnya suatu perusahaan.
Menurut Hapsari (2012:102). Perusahaan manufaktur di setiap pasar modal yang tidak mengupayakan memperkuat fundamental perusahaan dan memperbaiki kinerja perusahaan dalam menghadapi perkembangan global lambat laun akan mengalami kesulitan keuangan perusahaan yang akhirnya terjadi kebangkrutan. Kondisi ini tentu saja membuat para investor dan kreditur khawatir untuk menanamkan dananya, sehingga membuat beberapa investor mencoba untuk mencari alternatif lain yang lebih menguntungkan dan safety. Semakin makmur sebuah perusahaan biasanya akan menarik
3
minat para investor untuk menginvestasikan sebagian uangnya untuk membeli saham di BEI (Bursa Efek Indonesia). Dalam menilai suatu perusahaan investor harus menganalisis laporan keuangan, guna memberikan data-data yang akurat untuk mengambil keputusan apakah layak atau tidak diberikan dana dari investor. Termasuk menilai apakah suatu perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang mengarah pada kebangkrutan.
Kebangkrutan perusahaan merupakan kesulitan keuangan perusahaan dimana kondisi yang dimulai ketika perusahaan tidak bisa memenuhi pembayaran atau ketika proyeksi arus kas menunjukkan bahwa perusahaan tersebut akan segera tidak bisa memenuhi kewajibannya, kebangkrutan mengacu pada posisi kekayaan bersih dari suatu perusahaan atau putusan pengadilan yang mengarah dan memutuskan apakah perusahaan tersebut akan dilikuidasi atau terorganisasi.
Analisis prediksi kebangkrutan merupakan analisis yang dapat membantu perusahaan untuk mengantisipasi kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan yang disebabkan oleh masalah-masalah keuangan.
Metode Altman merupakan skor yang ditentukan dari hitungan standar kali nisbah-nisbah keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan. Munculnya berbagai prediksi kebangkrutan merupakan antisipasi dan sistem peringatan dini financial distress karena modal tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk mengidentifikasi bahkan memperbaiki kondisi sebelum sampai pada kondisi kritis atau kebangkrutan. Untuk mengantisipasi dan meminimalisir terjadinya kebangkrutan, perusahaan dapat mengawasi kondisi keuangan dengan
menggunakan tehnik-tehnik analisis keuangan. Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu.
Resiko kebangkrutan bagi perusahaan sebenarnya dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan, dengan cara melakukan analisis rasio terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Analisis rasio merupakan alat yang sangat penting untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemeliharaan strategi perusahaan yang telah dilaksanakan.
Kesehatan keuangan suatu perusahaan dapat dilihat dengan menggunakan laporan keuangan (Safura dan Azizah, 2015). Kondisi keuangan dapat diketahui lebih cepat sebelum kondisi tersebut terjadi melalui sebuah model sistem peringatan dini. Dengan menggunakan model ini, maka gejala dan ancaman kesulitan keuangan dapat diketahui dan dilakukan upaya perbaikan sebelum perusahaan berada dalam kondisi krisis. (Sayari dan Simga, 2017).
Oleh karena itu, apabila perusahaan tidak dapat bertahan dalam keadaan tersebut maka perusahaan khususnya sektor pertambangan minyak dan gas bumi dan batubara kemungkinan akan mengalami kerugian yang akan mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, pada akhirnya perusahaan akan mengalami financial distress atau ancaman kebangkrutan.
Kebangkrutan merupakan keadaan dimana perusahaan mengalami ketidakcukupan modal untuk menjalankan usahanya (Adriawan dan Salen,
5
2016). Sebelum penelitian ini dilakukan, ada beberapa penelitian yang menggunakan model prediksi yang bisa membantu para calon investor maupun kreditur dalam menentukan pilihan dimana tempat untuk menginvestasikan dananya, agar nantinya tidak berada dalam masalah financial distress (Abdul Karim, 2018)
Altman merupakan indeks yang digunakan untuk memprediksi, nilai profitabilitas kebangkrutan sebuah perusahaan dalam waktu dua tahun ke depan. Analisis rasio Model Altman sering digunakan dalam menilai kesehatan perusahaan dan memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan.
Dengan menggunakan hitung nilai dari beberapa rasio yang selanjutnya disubstitusikan dalam persamaan diskriminan.
Altman mengembangkan model prediksi kebangkrutan menggunakan pendekatan multivariate pada tahun 1968 di negara-negara maju antara lain Amerika serikat, Jepang, Jerman, Swiss, Brasil, Australia, Inggris, Irlandia, Kanada, Belanda, dan Prancis. Masalah yang dibahas dengan rasio keuangan yang sama dapat memprediksi kebangkrutan untuk semua negara ataukah mempunyai kekhususan. Model Altman dikenal sebagai Z-Score yang merupakan skor yang yang ditentukan dari hitung standar kali rasio- rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan.
Altman menggunakan beberapa rasio keuangan dalam memprediksi financial distress perusahaan, yaitu modal kerja dibagi total aktiva, laba ditahan dibagi total aktiva, Earning before interest and tax dibagi total aktiva, nilai pasar saham dibagi nilai buku total hutang, dan penjualan dibagi dengan total aktiva (Thohari, 2015), (Abdul Karim, 2018).
Saham merupakan dokumen berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan dengan kata lain, ketika seseorang membeli saham maka orang tersebut membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Dan adapun indikator Harga saham yang telah ditetapkan oleh Sawidji Widoatmodjo (2012) ada beberapa indikator harga saham yaitu: Harga Nominal adalah suatu harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang telah ditetapkan oleh emiten agar dapat menilai setiap lembar saham yang telah dikeluarkan.
Harga saham pada pasar biasanya ditetapkan oleh investor atau orang-orang yang melakukan jual beli saham. Dengan demikian, dapat diketahui berapa harga saham itu akan dijual kepada investor biasanya untuk menentukan harga perdana. Dan harga saham yang terakhir Harga Pasar dimaksud merupakan harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lainnya. Harga ini terjadi setelah saham tersebut telah dicatat di bursa.
Transaksi ini tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi. Harga ini yang disebut sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga perusahaan karena pada transaksi di pasar sekunder kecil sekali terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga sesuai dengan pasar.
Menurut Kamaluddin dan Indriani (2012:235) saham dapat diartikan sebagai suatu tanda penyertaan atau kepemilikan dari tingkat bunga deposito pemerintah dan tingkat kepastian operasi perusahaan. Harga saham menggambarkan penilaian pasar modal atas kemampuan perusahaan memperoleh pendapatan dari waktu ke waktu, besarnya resiko atas
7
kelangsungan pendapatan dan sekumpulan faktor-faktor lain. Harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan melalui rasio keuangan dengan menggunakan metode Altman Z Score dan harga saham di perusahaan manufaktur sub sektor logam dan sejenisnya. Kebangkrutan adalah resiko yang memiliki kaitan yang sangat kuat dalam hubungannya mengenai ketidakpastian perusahaan dalam melanjutkan kegiatan operasional apabila kondisi keuangannya terus mengalami penurunan yang tidak pasti (Munawir, 2015). Dimana perusahaan yang tidak dapat melunasi hutangnya kepada kreditur (Aghajani dan Jouzbarkand, 2012). Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang”Analisis Kebangkrutan Model Altman terhadap Harga Saham yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, Maka penulis akan mengemukakan permasalahan yaitu:
1. Apakah kebangkrutan model altman memberikan pengaruh terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
2. Apakah kebangkrutan model altman memberikan dampak terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh kebangkrutan model altman terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Untuk mengetahui dampak kebangkrutan model altman terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
D. Manfaat penelitian
Adapun kegunaan dan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Dengan penelitian ini, penulis berharap bisa menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam suatu organisasi sehingga ilmu yang dikuasai tidak hanya bersifat teoritis belaka.
2. Bagi Bursa efek Indonesia (BEI) di Universitas Muhammadiyah Makassar Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna dan dapat dijadikan bahan masukan bagi pihak instansi terkait pengambilan keputusan dan kebijakan-kebijakan model altman terhadap harga saham.
3. Bagi Akademik
Penelitian yang diharapkan dapat menambah referensi dan menjadi pertimbangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya, terkhusus di bidang keuangan.
9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Manajemen Keuangan
Menurut Fahmi (2013) Manajemen Keuangan merupakan semua aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan dan usaha untuk penggunaan dana tersebut seefisien mungkin yang menyangkut kegiatan perencanaan analisis dan pengendalian keuangan dalam sebuah perusahaan. Para ahli ekonomi memberikan pandangannya mengenai konsep manajemen keuangan, antara lain sebagai berikut:
a. Dewi Utari (2014) Manajemen keuangan adalah merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengendalikan pencarian dana dengan biaya yang serendah-rendahnya dan menggunakan secara efektif dan efisien untuk kegiatan operasi organisasi
b. Agus sartono (2015) Manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana yang baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan untuk pembiayaan investasi atau pembelajaran secara efisien.
2. Fungsi Manajemen Keuangan
Menurut Fahmi (2013) Fungsi manajemen keuangan sebagai berikut:
a. Perencanaan keuangan
Tahapan pertama adalah perencanaan keuangan. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam Membuat rencana pemasukan dan pengeluaran serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu dalam sebuah perusahaan.
b. Penganggaran keuangan
Dalam upaya penganggaran keuangan, hal yang perlu dilakukan adalah perencanaan penerimaan dan pengalokasian anggaran biaya secara efisien dan memaksimalkan dana yang dimiliki.
c. Pengelolaan keuangan
Dalam mengelola laporan keuangan, menggunakan dana perusahaan untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara instansi ekonomi perusahaan secara maksimal dengan berbagai cara yang dapat dilakukan
d. Pencarian keuangan
Dalam upaya pencarian keuangan, hal yang perlu dilakukan, adalah upaya mencari serta mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan perusahaan
e. Penyimpanan keuangan
Dalam upaya penyimpanan keuangan, hal yang dilakukan adalah mengumpulkan dana perusahaan dan menyimpan dana tersebut dengan aman.
f. Pengendalian keuangan
Pengendalian keuangan adalah melakukan evaluasi dan memperbaiki sistem keuangan dalam sebuah perusahaan.
11
g. Pemeriksaan keuangan
Pemeriksaan keuangan dilakukan dengan cara mengaudit internal atas keuangan perusahaan agar sesuai dengan kaidah standar akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan guna untuk mengantisipasi adanya penyimpangan.
h. Pelaporan keuangan
Pelaporan keuangan sangatlah penting sebagai upaya untuk penyediaan informasi tentang kondisi keuangan dan analisa rasio laporan keuangan perusahaan.
3. Tujuan Manajemen Keuangan
Menurut saud Husnan dan Enny Pudjiastuti (2015) tujuan manajemen keuangan adalah menyangkut kegiatan perencanaan, analisis, dan pegendalian yang dilakukan oleh manejer keuangan. Untuk mempertahankan keberlangsungan operasional perusahaan banyak keputusan keuangan dapat diambil dengan benar apabila hal tersebut sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai perusahaan. Secara umum tujuan manajemen keuangan dalam jangka pendek adalah menghasilkan laba yang optimal. Agar para pemilik dapat menerima return yang lebih besar dari investasi yang dilakukan perusahaan selama kegiatan opersionalnya. Namun secara normatif tujuan keputusan keuangan adalah untuk memaksimukan nilai perusahaan tersebut.
4. Kebangkrutan
Kebangkrutan adalah ketidakmampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan. Suatu perusahan dinyatakan bangkrut
apabila perusahaan gagal dalam menjalankan operasi usaha untukmencapai suatu tujuan.
Menurut Rudianto (2013) Kebangkrutan merupakan masalah yang sangat esensial harus diwaspadai oleh perusahaan. Karena jika perusahaan sudah terkena bangkrut, maka perusahaan tersebut benar- benar mengalami kegagalan usaha. Untuk itu perusahaan harus sedini mungkin melakukan berbagai analisis terutama yang bermanfaat bagi perusahaan untuk melakukan antisipasi yang diperlukan. Menurut Brigham dan Houston (2012:2-3) Kebangkrutan adalah sebagai suatu kegagalan yang terjadi pada perusahaan dapat diartikan sebagai berikut:
a. Kegagalan ekonomi “Economic Distressed” Yaitu kondisi perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak mampu menutupi biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh di bawah arus kas yang diharapkan.
b. Kegagalan Keuangan “Financial Distress” yaitu Kondisi perusahaan dimana kesulitan dana baik dana dalam pengertian kas atau dalam pengertian modal kerja. Sebagian asset liability management sangat berperan dalam pengaturan untuk menjaga agar tidak terkena kegagalan keuangan. Kegagalan keuangan bisa juga diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham.
c. Faktor penyebab terjadinya kebangkrutan
13
Menurut Jauch dan Glueck dalam Karina (2014:22) faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kebangkrutan pada perusahaan yaitu sebagai berikut:
1) Faktor Umum a) Sektor ekonomi
Salah satu faktor yang menyebabkan kebangkrutan dari sektor ekonomi adalah gejala inflasi harga barang dan jasa, kebijakan keuangan, suku bunga dan devaluasi atau revolusi uang dalam hubungannya dengan negara asing serta neraca pembayaran, surplus atau defisit dalam hubungannya dengan perdagangan luar negeri.
b) Sektor sosial
Faktor sosial sangat berpengaruh terhadap kebangkrutan yang cenderung pada perubahan gaya hidup masyarakat yang mempengaruhi permintaan terhadap produk dan jasa dalam sebuah perusahaan.
c) Teknologi
Penggunaan teknologi informasi menyebabkan biaya ditanggung oleh perusahaan terutama untuk pemeliharaan dan implementasi perusahaan. Pembengkakan terjadi, jika penggunaan teknologi informasi tersebut kurang terencana oleh pihak manajemen yang sistemnya tidak terpadu dan para manajer yang kurang profesional.
d) Sektor pemerintah
Pengaruh dari sektor pemerintah berasal dari kebijakan pemerintah terhadap pencabutan subsidi pada perusahaan dan industri mengenai tarif ekspor dan impor barang serta kebijakan undang-undang baru bagi perbankan atau tenaga kerja lainnya.
2) Faktor Internal Perusahaan
Menurut Jauch dan Glueck dalam karina (2014:22) sebagai berikut:
a) Terlalu besarnya kredit yang diberikan kepada nasabah sehingga akan menyebabkan adanya penunggakan dalam pembayaran sampai akhirnya tidak dapat membayar.
b) Manajemen tidak efisien yang disebabkan karena kurang adanya kemampuan, pengalaman, keterampilan, sikap inisiatif dari manajemen.
c) Penyalahgunaan wewenang dan kecurangan dimana sering dilakukan oleh karyawan, bahkan manajer puncak sekalipun sangat merugikan apalagi yang berhubungan dengan keuangan perusahaan.
3) Faktor Eksternal perusahaan
Menurut Jauch dan Glueck dalam Karina (2014:22) sebagai berikut:
a) Faktor pelanggan atau nasabah
Perusahaan harus bisa mengidentifikasikan sifat konsumen guna untuk menghindari kehilangan konsumen,
15
juga menciptakan peluang untuk menemukan konsumen baru dan menghindari penurunan hasil penjualan untuk mencegah konsumen yang berpaling dari pesaing.
b) Faktor pemasok/kreditur
Kekuatan terletak pada pemberian pinjaman dan mendapatkan jangka waktu pengambilan hutang yang tergantung pada kepercayaan kreditor terhadap likuiditas suatu bank.
c) Faktor pesaing
Faktor pesaing merupakan hal yang harus diperhatikan menyangkut perbedaaan pemberian pelayanan kepada nasabah. perusahaan juga jangan lupa pesaingnya karena jika produk pesaingnya lebih diterima oleh masyarakat.
Perusahaan tersebut akan kehilangan nasabah dan mengurangi pendapatan yang diterima.
d. Indikator kebangkrutan
Menurut Syafrida Hani (2015) ada beberapa hal yang dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa perusahaan tersebut berada dalam kondisi kesulitan keuangan. Antara lain adalah sebagai berikut:
1) Terjadinya penurunan aset.
Hal yang ditandai dengan penurunan nilai total asset yang terjadi pada neraca jika dilihat dari pengukuran rasio aktiva maka nilai perputaran aset menyebabkan nilai aset yang kita miliki
semakin rendah, demikian pula perputaran piutang dan persediaan yang semakin menurun.
2) Penurunan penjualan
Penurunan penjualan disebabkan oleh faktor kualitas produk yang menurun atau bahkan kualitas produk yang bermasalah.
Selain itu penetapan strategi penjualan yang berkaitan dengan penurunan volume penjualan maupun harga dan kemampuan memasarkan, produk yang kurang diminati dan lain-lain.
3) Memperoleh profitabilitas dan laba yang semakin rendah.
Rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan mencari keuntungan.
Ada dua hal penting yang dapat memicu penurunan laba yakni pendapatan dan beban, biasanya disebabkan karena biaya peningkatan beban dan laba yang tinggi. Hal tersebut akan terungkap dalam rasio profitabilitas, sebagai alat ukur kemampuan menghasilkan laba. Jika rasio profitabilitas menurun biasanya akan diikuti oleh penurunan laba.
4) Kurangnya modal kerja
Modal kerja adalah bagian yang sangat penting dalam kegiatan operasional perusahaan. Modal kerja mencerminkan kemampuan perusahaan untuk mengelola pembiayaan perusahaan dengan pendanaan yang dimiliki. Maka diharapkan produktivitas perusahaan akan berjalan dengan lancar. Semakin tinggi modal kerja maka diharapkan produktivitas meningkat sehingga Tingkat hutang akan semakin tinggi pula
17
5) Tingkat hutang yang semakin tinggi
Tingkat hutang adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh dana dari para kreditur dan tingkat hutang yang semakin tinggi dapat menunjukkan bahwa semakin tinggi beban yang harus ditanggung oleh perusahaan. Tingkat rasio utang yang semakin tinggi diikuti dengan tingkat bunga yang tinggi, sehingga akan berdampak pada tingginya beban yang dikhawatirkan akan menurunkan profitabilitas.
Langkah untuk mengantisipasi terjadinya kebangkrutan adalah dengan menggunakan dan melihat laporan keuangan yang dihasilkan oleh setiap periode, untuk perusahaan membandingkan laporan keuangan yang sekarang dengan laporan keuangan periode sebelumnya. Kemudian, langkah duanya untuk menganalisis kondisi perusahaan apakah sehat atau tidak dengan menggunakan analisis Rasio Solvabilitas, dimana analisis rasio ini melihat kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh hutang baik jangka pendek maupun panjang dengan jaminan semua aset.
Jika aset perusahaan lebih banyak dimiliki oleh pemegang saham, maka perusahaan tersebut kurang leverage. Jika kreditur seperti bank memiliki aset secara dominan, maka perusahaan tersebut memiliki tingkat leverage yang tinggi.
5. Metode Model Altman
Altman merupakan indeks yang digunakan untuk memprediksi, nilai profitabilitas kebangkrutan sebuah perusahaan dalam waktu dua tahun ke depan. Analisis rasio Model Altman sering digunakan dalam
menilai kesehatan perusahaan dan memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan. Dengan menggunakan hitung nilai dari beberapa rasio yang selanjutnya disubstitusikan dalam persamaan diskriminan.
Altman mengembangkan model prediksi kebangkrutan menggunakan pendekatan multivariate pada tahun 1968 di negara- negara maju antara lain Amerika serikat, Jepang, Jerman, Swiss, Brasil, Australia, Inggris, Irlandia, Kanada, Belanda, dan Prancis. Masalah yang dibahas dengan rasio keuangan yang sama dapat memprediksi kebangkrutan untuk semua negara ataukah mempunyai kekhususan.
Model Altman dikenal sebagai Z-Score yang merupakan skor yang yang ditentukan dari hitung standar kali rasio-rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan. Setelah mengalami beberapa perkembangan persamaan Z-Score adalah sebagai berikut:
Z-Score=0,717 X1 + 0,847 X2 + 3,107 X3 +O,420 X4 +0,998 X5 Dimana:
X1 =modal kerja / total aktiva
X2 =laba sebelum bunga dan pajak / total aktiva
X3 =ekuitas / total utang
X4 =penjualan / total aktiva
Interpretasi peramalan kebangkrutan dalam Z-Score memerlukan batas yang jelas dan terperinci agar dapat digunakan untuk menentukan kondisi suatu perusahaan. Nilai batas skor antara lain:
1) Nilai Z-Score lebih dari 2.99 perusahaan dikategorikan bebas dari resiko yang mengalami kebangkrutan (low risk).
19
2) Nilai Z-Score antara lain 1.81 sampai dengan 2.99 perusahaan belum dapat dikategorikan pada perusahaan yang memiliki akan bangkrut 3) Nilai Z-Score antara lain 1.81 perusahaan dikategorikan berpotensi
mengalami kebangkrut (high risk).
a. Komponen Z-Score
Z-Score merupakan formulasi dari beberapa rasio keuangan yang dapat mempengaruhi kondisi dan perkembangan suatu perusahaan. Rasio-rasio tersebut berkaitan dengan likuiditas X1 profitabilitas X2,X3 dan aktiva operasi X4,X5. Berikut adalah persamaan Z-Score :
𝑋1 =𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Modal kerja merupakan rasio untuk memprediksi likuiditas dalam kaitanya dengan menggunakan seluruh aset perusahaan.
𝑋2 =𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan keseluruhan aset tanpa melihat unsur utang yang digunakan dalam sebuah perusahaan.
𝑋3 = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑒𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑤𝑎𝑗𝑖𝑏𝑎𝑛
Rasio ini bertujuan untuk menghitung dan mengukur tingkat utang perusahaan. Kemampuan suatu perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modal sendiri.
𝑋4 =𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa efisien dan keefektifan suatu perusahaan dalam menggunakan aset-aset perusahaan. Perusahaan yang baik dan mampu untuk bertahan dan menjaga tingkat penjualannya, karena penjualan tersebut sangat berpengaruh pada laba yang diterima perusahaan.
b. Kelebihan dan kelemahan Z-Score
Kelebihan Z-Score yaitu dapat diterapkan pada perusahaan go public dan yang tidak go public. Z-Score dapat diterapkan di negara berkembang yang sebagaian merupakan perusahaan tidak go public.
Ada pula beberapa kelemahan yaitu:
1) Keanekaragaman data ebit. Hal ini menyebabkan EBIET sulit diterapkan karena pada perusahaan tertentu adakalanya besarnya bunga tidak dinyatakan secara eksplisit dan oleh karenanya harus menggunakan EBIT (Earning Before Tax).
2) Tidak ada penegasan atau pemisahan antara satu kelompok industri dengan kelompok industri lainnya. Hal ini menimbulkan anggapan bahwa model Altman akan memberikan perlakuan terhadap semua kelompok industri yang satu dengan yang lain memiliki karakteristik yang berbeda.
6. Saham
Saham merupakan dokumen berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan dengan kata lain, ketika seseorang membeli saham maka orang tersebut membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut. Saham juga dapat dapat diartikan sebagai sumber dana baru yang diperoleh oleh perusahaan yang berasal
21
dari pemilik modal dan sebagai balasannya akan memberikan pengambilan dana tersebut dalam bentuk dividen. Berikut pengertian saham menurut para ahli sebagai berikut:
a. Menurut para ahli
1) Menurut Fahmi (2013) Saham merupakan instrument pasar modal yang paling banyak diminati oleh investor, karena mampu memberikan tingkat pengembalian yang menarik.
Saham adalah kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya.
Dengan kata lain, ketika seseorang membeli saham maka orang tersebut membeli sebagian kepemilikan atas perusahaan tersebut.
2) Swadidji Widoatmodjo (2012) Saham merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas atau yang disebut emiten.
Darmadji dan Fakhruddin (2012) Saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan usaha perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas atau surat yang menerapkan bahwa pemilik surat tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga.
b. Jenis-Jenis saham
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012) Ada beberapa sudut pandang untuk membedakan saham yaitu:
1) Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim.
Saham Biasa (Common Stock) merupakan jenis saham di mana investor dapat mengklaim kepemilikan pada semua aktiva dan juga penghasilan milik perusahaan. Saham Preferen (Preferred Stock) Merupakan jenis saham yang menggabungkan obligasi (surat utang) dengan saham biasa. Keuntungan saham ini dapat memberikan pendapatan tetap seperti halnya bunga obligasi. Namun karakteristiknya saham preferen secara umum sama dengan saham biasa.
2) Ditinjau dari cara peralihanya
Saham Atas Unjuk (Bearer Stock) Pada saham tersebut tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindah tangankan dari suatu investor ke investor lainnya. Secara hukum siapa yang memegang saham tersebut, maka ialah diakui sebagai pemiliknya. Saham Atas Nama (Registered Stocks) Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya dimana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
3) Ditinjau dari kinerja perdagangan a) Blue-Chip Stocks
Saham biasanya dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi sebagai industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.
b) Income Stocks
Saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang
23
dibayarkan pada tahun sebelumnya. Saham ini umumnya memberikan pendapatan yang lebih besar dan rutin membayar dividen tunai.
c. Manfaat Saham
Menurut Swadidji Widoatmodjo (2012) Manfaat Saham sebagai berikut:
1) Salah manfaat saham tersebut adalah bisa dipakai sebagai instrumen investasi, baik jangka panjang maupun jangka pendek.
2) Mereka yang memanfaatkan saham sebagai investasi jangka pendek biasanya hanya mau mendapatkan capital gain dari selisih harga jual dan beli.
d. Faktor yang mempengaruhi harga saham
Menurut Brigham dan Houston (2012) Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham sebagi berikut:
1) Laba per lembar saham ( Earning Per Share/EPS )
Laba per lembar saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam periode untuk tiap lembar saham yang beredar, dan akan dipakai oleh pimpinan perusahaan untuk menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan kepada perusahaan.
2) Tingkat Bunga
Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham sebagai berikut:
a) Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dan obligasi apabila tingkat suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk ditukarkan dengan obligasi.
b) Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi apabila tingkat suku bunga adalah biaya, semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan. Tingkat suku bunga akan mempengaruhi kegiatan ekonomi dan laba perusahaan.
B. Tinjauan Empiris
Pada bagian ini, penulis telah telah menunjuk pada beberapa penelitian terdahulu sebagai bahan referensi, Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya dapat digunakan sebagai acuan penelitian ini, beberapa penelitian yang berkaitan dengan Analisis Kebangkrutan Model Altman terhadap Harga Saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, antara lain:
25
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu N
O
Nama Tahun
Judul Metode Hasil Penelitian 1 Hikmah
(2018)
Prediksi
Kebangkrutan dengan Altman Z-score dan Harga saham pada Perusahaan
Manufaktur
Metode regresi data panel
Hasil penelitian berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham pada subsektor logam dan sejenisnya di Bursa Efek Indonesia.
2 Irma Christian a (2018)
Analisis Potensi Kebangkrutan pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di BEI
Metode kuantitatif
Hasil penelitian dari ketiga model prediksi kebangkrutan yaitu model Altman Z-score springate dan
zmijewski.
3 Suci Kurniaw ati (2018)
Analisis kebangkutan dengan model altman z-score sekor aneka industri di BEI
Periode 2013-2014
Metode deskriptif kuantitatif
Hasil penelitian ini tidak konsisten/sesuai dengan kenyataan sebenarnya yang menunjukkan bahwa metode altman tidak dapat dijadikan alat untuk mengidentifikasi kecenderungan terhadap kebangkrutan.
4 Yudha Samodra Harlen Topowijo no, Devi Farah Azizah (2019)
Analisis penggunaan model altman (z- score) untuk
memprediksi potensi kebangkrutan (studi kasus pada
perusahaan sub sektor pertambangan minyak dan gas bumi yang terdaftar di bursa efek indonesia tahun 2012-2016
Penelitian ini menggunakan data sekunder
Hasil penelitian ini adalah berupa
klasifikasi perusahaan sub sektor
pertambangan minyak dan gas bumi yang terdaftar di bursa efek indonesia.
5 Puput Melissa, Haposan Banjarna hor (2020)
Analisis prediksi dan kebangkrutan
menggunakan model altman z-score springate dan zmijewski yang terdaftar di bursa efek indonesia
Metode purposive sampling
Hasil menunjukkan bahwa memiliki tingkat akurasi 90%.
Model zmijewski memiliki tingkat akurasi 80%.
C. Kerangka Pikir
Metode model Altman merupakan indeks yang digunakan untuk memprediksi nilai profitabilitas kebangkrutan sebuah perusahaan dalam waktu dua tahun kedepan. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hikmah (2018) menunjukkan bahwa metode altman berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada subsektor logam di Bursa Efek Indonesia.
Gambar 2.1 Kerangka konsep
D. Hipotesis
Pada penelitian analisis regresi yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan variabel independen (kebangrutan model altman) dengan varaiabel dependen (harga saham). Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir diatas, maka hipotesis hipotesis yang diajukan adalah:
H1: Diduga kebangkrutan model altman secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham yang terdaftar di bursa efek indonesia.
H2: Diduga kebangkrutan model altman secara parsial memberikan dampak positif dan signifikan terhadap harga saham yang terdaftar di bursa efek indonesia.
Harga Saham (Y)
(Swadidji Widoatmojo 2012) Kebangkrutan model Altman (X)
X1. Modal Kerja
X2. Laba Sebelum Bunga dan pajak
X3. Nilai Pasar Ekuitas X4. Penjualan
(Syafrida Hani 2015)
27 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Metode penelitian kuantitatif, sebagaimana dikemukakan oleh Sugiyono (2012: 8) yaitu, metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian yang dilakukan di Geleri Investasi Bursa Efek Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar. Sedangkan waktu penelitian dari bulan Januari-Maret 2021
C. Definisi Operasional Variabel Dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional variabel merupakan penggambaran secara singkat masing-masing variabel yaitu kebangkrutan model altman dan harga saham. Secara singkat kedua variabel tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Variabel Independen
Kebangkrutan adalah memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan dapat diketahui dengan menghitung rumus dari model-model
prediktor kebangkrutan yang ada. Pada penelitian ini model prediksi kebangkrutan yang digunakan adalah Altman. Model ini yang akan digunakan untuk mengukur tingkat kebangkrutan suatu perusahaan.
Berikut 5 rasio beserta rumus perhitungannya.
𝑋1 =𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Modal kerja merupakan rasio untuk memprediksi likuiditas dalam kaitanya dengan menggunakan seluruh aset perusahaan.
𝑋2 =𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan keseluruhan aset tanpa melihat unsur utang yang digunakan dalam sebuah perusahaan.
𝑋3 = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑎𝑠𝑎𝑟 𝑒𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑢 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑤𝑎𝑗𝑖𝑏𝑎𝑛
Rasio ini bertujuan untuk menghitung dan mengukur tingkat utang perusahaan. Kemampuan suatu perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modal sendiri.
𝑋4 =𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡
Rasio ini bertujuan untuk mengukur seberapa efisien dan keefektifan suatu perusahaan dalam menggunakan aset-aset perusahaan. Perusahaan yang baik dan mampu untuk bertahan dan menjaga tingkat penjualannya, karena penjualan tersebut sangat berpengaruh pada laba yang diterima perusahaan.
2. Variabel Dependen
Variabel dependen adalah variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain atau variabel bebas. Sering juga disebut dengan variabel
29
terikat. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah harga saham.
Harga saham yaitu setiap saham yang ditawarkan kepada masyarakat.
D. Populasi Dan Sampel 1. Populasi
Populasi merupakan jumlah keseluruhan dari objek penelitian, Menurut sugiyono (2013:119) populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan peneliti untuk mempelajari kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penalitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mencakup priode 2017 sampai dengan 2019.
2. Sampel
Sampel merupakan sebagian unit populasi yang menjadi objek penelitian untuk memperkirakan karakteristik suatu populasi. Bila populasi besar maka kemungkinan peneliti tidak bisa mempelajari semua yang ada karena keterbatasan waktu maupun dana maka peneliti dapat mengambil sampel dari populasi yang diteliti. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling..
Teknik ini mengambil sampel dari tempat tertentu (dalam hal ini Bursa Efek Indonesia) dan menggunakan kriteria untuk tujuan tertentu yang dianggap potensial dalam penelitian ini. Adapun kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Unismuh Makassar selama tahun penelitian 2017 -2019.
b. Perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan lengkap yang berakhir pada periode 31 Desember dan telah diaudit oleh kantor akuntan publik.
c. Mempunyai data lengkap (harga saham harian, IHSG, nilai kapitalisasi pasar).
d. Tersedianya data tanggal pengumuman laporan keuangan perusahaan.
Populasi penelitian sebanyak 19 perusahaan farmasi yang terdaftar BEI Periode tahun 2017 sampai dengan 2019, maka ditentukan sampel sebanyak 8 perusahaan yang akan diteliti dan Data yang diperoleh sebanyak 57 laporan keuangan.