• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN KASUS

Dalam dokumen ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR. docx (Halaman 21-38)

A. Pengkajian 1. Identitas Pasien Nama : Ny. T Umur : 25 tahun

Jenis kelamin : perempuan Status perkawinan : kawin Suku : Jawa

Agama : Islam Pendidikan : SD Pekerjaan : IRT

Alamat : Kamp. Skip, Gang Ampera, Lubuk Pakam Golongan darah : B

Tanggal masuk : No. RM : 44 – 53- 98

Diagnosa : luka bakar derajat II Tanggal pengkajian : 23 – 12 – 2010 2. Riwayat penyakit saat ini

Pada tanggal 18 – 9 – 2010 terjadi ledakan kompor yang menyebabkan luka bakar pada pasien. Pada saat itu pasien sedang memasak sate di dapur, lalu minyak didalam kompor habis, ketika itu pasien ingin menambah minyak kedalam kompor namun ketika pasien memasukkan minyak kedalam kompor tiba-tiba kompor meledak dan mengenai tubuh dan wajah pasien, lalu keluarga pasien langsung membawa pasien ke rumah sakit umum pusat haji Adam Malik Medan dan setelah tiba di IGD, pasien langsung ditangani dan dilakukan pencucian luka (debridemen). Lalu setelah luka pasien dibersihkan pasien dibawa keruang RB2B. Pasien dirawat dan dilakukan pencucian luka (debridemen)

hingga beberapa kali hampir setiap hari, hingga sampai saat dilakukan pengkajian pada tanggal 23 – 12 - 2011 terlihat luka pasien sudah mulai mengering namun pasien masih mengeluh nyeri dan panas pada daerah luka.

3. Riwayat Kesehatan yang lalu

Pasien tidak pernah menderita penyakit serius dapat DM, hipertensi dan lainnya. Pasien hanya pernah menderita penyakit demam, pusing dan pasien hanya membeli obat diwarung. Pasien tidak pernah melakukan operasi dan tidak ada alergi terhadap makanan atau obat-obatan.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Anggota keluarga pasien tidak pernah menderita penyakit serius. Anggota keluarga yang meninggal adalah ibu pasien tidak ada penyebab yang serius dan abang pasien juga meninggal karena sakit demam.

GENOGRAM Keterangan : : laki-laki : perempuan : pasien : perempuan meninggal : laki-laki meninggal : tinggal serumah

5. Riwayat / keadaan Psikososial dan Spiritual

Bahasa yang digunakan pasien sehari-hari adalah bahasa Indonesia. Klien kurang menyukai tubuhnya, semenjak terkena luka bakar status klien dalam keluarga adalah sebagai istri dan ibu. Pasien puas terhadap posisi dalam keluarga dan pasien terhadap jenis kelaminya, pasien ingin melanjutkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, pasien ingin kembali kerumah dan berjumpa dengan tetangganya. Pasien berharap lukanya cepat sembuh. Hubungan pasien dengan keluarga baik, dengan pasien sering mendapat

dukungan dari keluarga, pasien yakni terhadap kesembuhannya, persepsi terhadap penyakit hanya sebagai cobaan.

6. Pola kebiasaan sehari-hari Sebelum sakit Sesudah sakit a. Pemenuhan nutrisi cairan

Makan 3x sehari : jenis nasi biasa, tidak ada kesulitan dalam makan minum : ± 2000-2500 cc/hari , jenis air putih, berat badan 63 kg b. Pemenuhan nutrisi cairan

Makan 3x sehari

Jenis : MB, TKTP, nafsu makan menurun, jenis makanan pantangan tidak ada makanan yang disajikan habis ½ porsi

Minum : 2000 – 2500 CC/hari Jenis : air putih

Berat badan : 57 kg c. Eliminasi

1) BAK : ± 1500 CC

warna kuning jernih, tidak ada kesulitan 2) BAB : frekuensi 1 kali/hari

Warna kuning, konsistensi lunak, tidak ada kesulitan Eliminasi 3) BAK : ± 1500 CC

Warna kuning jernih, tidak ada kesulitan, berbau khas 4) BAB : frekuensi 1 kali/hari

Warna kuning, konsistensi lunak, tidak ada kesulitan 5) Pada istirahat tidur

Tidur malam 6 – 7 jam Tidur siang 1 – 2 jam

Tidak ada kesulitan Pada istirahat tidur Tidur malam 4 – 6 jam

Tidur siang 1 jam

6) Aktivitas

a) Duduk – duduk dirumah Aktivitas

b) Keadaan umum lemah, tidak ada melakukan aktivitas Kebersihan diri

c) Mandi 2x sehari, menggosok gigi 2x sehari, pemeliharaan kuku teratur, mencuci rambut setiap hari Kebersihan diri/personal hygiene

d) Mandi tidak pernah

e) Menggosok gigi 1 x sehari

Pemeliharaan kuku tidak teratur, mencuci rambut 1x seminggu dengan bantuan perawat dan keluarga

7. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum pasien lemah dan kesadaran compos mentis. Tanda-tanda vital

TD : 120/80 mmHg RR : 36 x/i Suhu : 36,7o C HR : 82 x/i

Pemeriksaan struktur organ dan fungsi a. Kepala dan rambut

Kepala berbentuk bulat, ubun-ubun simetris, kulit kepala sedikit terlihat kotor, warna rambut hitam.

b. Wajah berbentuk oval dan warna kulit sawo matang c. Penginderaan

1) Mata

Pupil isokor, refleks cahaya positif, konjungtiva tampak merah muda, dan sklera putih, palpebra tidak ada oedem, pergerakan bola mata normal, stabismus tidak ada, ketajaman penglihatan normal, pasien tidak menggunakan alat bantu. 2) Hidung

Bentuk hidung normal, ketajaman penciuman normal, yaitu klien dapat membedakan bau wangi dan busuk.

Bentuk telinga normal, ketajaman pendengar normal, klien dapat mendengar gesekan rambut, sekret tidak ada, serum dalam batas normal.

d. Pencernaan 1) Mulut

Mulut bersih, mukosa lembab, bentuk bibir normal, tidak ada kelainan, lidah tampak kotor, gigi kotor dan ada caries

2) Tenggorokan

Tidak ada kesulitan menelan dan tidak dijumpai pembesaran tonsil 3) Abdomen

Bentuk abdomen normal simetris kanan/kiri, tidak dijumpai massa, peristaltik 10 – 12 x/i

e. Respirasi

1) Bentuk dada normal tidak ada kelainan, pola nafas teratur, retraksi otot bantu nafas tidak ada, dan tidak ditemukan adanya nyeri ketok

2) Vokal fremitus normal, diafragma normal, dan suara pernafasan vesikuler. f. Kardiovaskuler

Tidak ada nyeri dada, irama jantung teratur, dan tidak ada cyanosis dan clubbing finger

g. Endoktrin

Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar parotis h. Genitaurinaria

Bentuk alat kelamin normal, tidak ada kelainan i. Persyarafan

Keadaan composmentis, GCS 15, dapat berorientasi dengan orang, nyeri kepala tidak ada

j. Muskuloskletal dan integumen

Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kekuatan otot 4

Keadaan kulit basah pada daerah luka bakar, pada kulit tampak merah dan ada kekauan sendi pada :

1) Leher

3) Ektremitas bawah

a) Pada saat melakukan pergerakan

b) Pada bagian abdomen terdapat luka bakar luas 9% Hasil Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Normal 10/12/2010 17/12/2010 18/12/2010 Darah lengkap 11,7 – 15,5 8.50 8.20 15.40 Hemoglobin (HGB) 4,20 – 4,87 3.37 3.48 4.96 Eritrosit (RBC) 4,50 – 11,0 4.79 5.72 33.10 Leukosit (WBC) 38 - 44 24.90 25.50 42.60 Hematokrit 150 – 450 50 95 296 Trombosit Lk :<38, Pr:<32 13 18 56 SGOT (AST) Lk :<40, Pr:<31 14 11 26 SGPT (ALT) 3,5 – 5,0 2.2 2.5 2.9 Albumin 135 – 155 129 131 134 Natrium 3,6 – 5,5 1.4 1.7 3.2 Kalium 96 – 106 98 103 108 Clorida < 50 32 12.80 -Ureum 0,50 – 0,90 0.41 0.31 0.61 Kreatinin 8. Therapy

No Nama Obat Dosis Efek Therapy Efek Samping

a. Inj. Cefotaxim 1 gr/12 jam Anti infeksi Tukak lambung

b. Inj. Ketorolac 1 gr/8 jam Anti nyeri Luka lambung, GGA, gagal hati

c. Tramadol 50 mg/8 jam Anti nyeri akut dan kronik yang berat Gangguan fungsi ginjal d. Mebo salep

9. Analisis data

No Data fokus Etiologi Masalah

1 DS : Pasien mengatakan nyeri pada daerah luka bakar

DO : Adanya luka bakar pada daerah leher bagian dada, perut lengan kanan dan kiri dan paha (skala nyeri 3 -4) Luka bakar  Kerusakan jaringan  Memasuki ambang nyeri  Nyeri Gangguan rasa nyaman nyeri

2. DS : Pasien mengatakan nyeri pada daerah luka bakar

DO : Adanya luka bakar pada daerah leher bagian dada, perut lengan kanan dan kiri dan paha (skala nyeri 3 -4)

Gangguan pemulihan kembali

F. Diagnosa Keperawatan

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d kerusakan jaringan sekunder dari cedera luka bakar, pascadrainase d/d adanya luka pada bagian leher, ekstremitas atas kanan dan kiri, ekstremitas bawah sebelah kanan dan kiri klien tampak meringis saat luka dibersihhkan skala (3)

G. Rencana Asuhan Keperawatan No

.

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil

Intervensi 1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d

kerusakan jaringan sekunder dari cedera luka bakar, pascadrainase d/ d adanya luka pada bagian leher, ekstremitas atas kanan dan kiri, ekstremitas bawah sebelah kanan dan kiri klien tampak meringis saat luka dibersihhkan skala (3)

Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurang / hilang atau terhadaptasi Kriteria Hasil : 1. Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat teradaptasi skala nyeri 0-1 (0-4) 2. Pasien tidak gelisah 3. Dapat mengidentifikas i aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri Kaji nyeri

1. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri non farmakologi dan non invasive 2. Lakukan manajemen nyeri keperawatan 3. Atur posisi fisiologis 4. Istirahatkan pasien 5. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam 6. Lakukan manajemen sentuhan

dengan pendekatan PQRST secara periodik atau apabila ada keluhan dari pasien secara subjektif 7. Lakukan perawatan luka secara efisien dan efektif 8. Kolaborasi dengan dokter, pemberian analgetik - Menjadi parameter dasar untuk mengetahui sejauh mana intervensi manajer nyeri keperawatan 9. Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakolog i lainnya-lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri

volume cairan b/d pemulihan kembali integritas kapiler dan perpindahan cairan dari ruang interstitisial kedalam intravaskuler.

dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi kelebihan volume cairan sistemik Kriteria hasil: klien tidak sesak napas, tidak ada edema ekstremitas, produksi urine > 600 ml/hr. kelebihan volume cairan secara periodic 2. Ukur intake dan

uotput

H. Implementasi Catatan Perkembangan Nama : Ny. T

Umur : 25 Tahun

Hari/tgl No. DX Jam Implementasi Evaluasi Kamis 23/08/2016 Hari/Tgl/ Jam No. Diagnosis Keperawatan Tindakan yang dilakukan Hasil Tanda Tangan Kamis 23/08/2016 Pkl. 08.00

1 Mengkaji skala nyeri dan lokasi nyeri Pkl. 11.00 1 Mengajarkan pasien

teknik relaksasi pernapasan dalam Pkl. 12.00 1 Memberi analgetik

inj keterolac 1 amp melalui vena

Pkl. 14.00 1 untuk istirahat saat Menganjurkan pasien merasakan nyeri Pkl. 21.00 1 Memberikan analgetik inj. Keterolax 1 amp melalui vena Pkl. 21.30 1 Menciptakan lingkungan yang tenang dan membatasi pengunjung -

Mengkaji skala nyeri dan lokasi nyeri

Pkl. 05.00 1 Memberikan analgetik inj. Katorolax 1 amp melalui vena - Mengajarkan pasien teknik relaksasi pernapasan dalam Catatan Perkembangan Hari/ Tgl/

Jam No. DiagnosisKeperawatan Perkembangan Tangan Tanda Sabtu

23/10/201 6 Pkl. 15.00

1 S : Klien mengatakan nyeri pada luka

O : Skala nyeri 3

A : Masalah belum teratasi P : intervensi dilanjutkan

I.

08.00 - Mengkaji skala nyeri dan lokasi nyeri 08.00 wib 11.00 - Mengajarkan pasien teknik relaksasi pernapasan dalam 12.00 - Memberi analgetik inj keterolac 1 amp melalui vena 14.00 - Menganjurkan pasien untuk istirahat saat merasakan nyeri 21.00 - Memberikan analgetik inj. Keterolax 1 amp melalui vena

21.30 - Menciptakan lingkungan yang tenang dan membatasi pengunjung - Mengkaji skala nyeri dan lokasi nyeri

05.00 - Memberikan analgetik inj. Katorolax 1 amp melalui vena - Mengajarkan pasien teknik relaksasi pernapasan dalam

07.25 - Mengajak pasien berbincang-bincang untuk mengalihkan rasa nyeri pada luka S : Klien mengatakan nyeri pada luka

O : Skala nyeri 3

A : Masalah belum teratasi P : intervensi dilanjutkan II

08.25 - Mengkaji kerusakan jaringan kulit yang terjadi pada pasien

10.00 - Melakukan perawatan luka yaitu mengganti verban dengan teknik steril

12.30 - Menyarankan pasien untuk makan diet TKTP untuk mempercepat penyembuhan luka seperti : telur, tahu, ikan

16.00 - Mengkaji keperluan perawatan luka bakar

21.00 - Mengobservasi keadaan luka untuk mengenal adanya komplikasi - Mengkaji kerusakan jaringan kulit

07.45 - Mengevaluasi kerusakan jaringan dan perkembangan pertumbuhan jaringan - Melakukan perawatan luka

S : Pasien mengatakan luka sudah mulai mengering tetapi masih ada nyeri O : luka pasien tampak tumbuh jaringan baru

A : Masalah belum teratasi P : intervensi dilanjutkan

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah penulisan melaksanakan asuhan keperawatan pada Ny. T dengan luka bakar derajat II. Maka dalam BAB ini kami menguraikan kesenjangan – kesenjangan yang dimulai dari tahap pengkajian diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A. Tahap Pengkajian

Pada tahap pengkajian asuhan keperawatan pada Ny. T dengan luka bukan derajat II dengan menggunakan format pengkajian, teknik yang digunakan dengan cara observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi.

Adapun kesenjangan yang ditemukan pada tahap pengkajian antara tinjauan teroritis dan tinjauan kasus adalah :

1. Pola eliminasi haluaran urine menurun, tidak dijumpai pada pasien dikarenakan pasien banyak minum sehingga tidak terjadi hematuria.

2. Pada pengkajian teoritis mengenai makanan dan cairan adanya anoreksia, mual atau muntah tidak dijumpai pada pasien karena porsi yang disajikan habis.

3. Pada neuro sensori adanya laserasi kornea, kerusakan retina, penurunan ketajaman penglihatan tidak ditemukan pada pasien, karena pasien dapat melihat/membaca dengan jarak 30 cm.

4. Pada pernapasan ditemukan adanya sesak, tetapi tidak ditemukan pada pasien karena pasien dapat bernafas tanpa menggunakan oksigen dan pola nafas efektif.

B. Tahap Diagnosa Keperawatan

Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada tinjauan teoritis tetapi tidak ditemukan pada kasus adalah :

1. Aktual/risiko tinggi kelebihan volume cairan berhubungan dengan pemulihan kembali integritas kapiler dan perpindahan cairan dari ruang interstisial kedalam intravaskuler,

hal ini tidak ditemukan pada kasus karena masa krisis pasien sudah berlalu dan pasien dalam masa penyembuhan

2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hilangnya karier kulit dan terganggunya respons imun karena keadaan luka pasien sudah mengering.

3. Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan hipermetabolisme hal ini tidak ditemukan karena hipermatabolik sudah mulai normal dan pasien tidak lagi mengalami kekurangan nutrisi dimana luka pasien sudah mulai tumbuh jaringan baru.

4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan perasaan takut, serta ansietas, berduka dan ketergantungan pada petugas kesekatan tidak ditemukan.

Diagnosa yang dijumpai pada kasus tetapi tidak dijumpai :

1. Nyeri berhubungan dengan saraf yang terbuka, kesembuhan luka dan penanganan luka bakar ditandai dengan adanya luka pada bagian leher, ekstremitas atas kanan dan kiri. Ektremitas bawah sebelah kanan dan kiri, klien tampak meringis saat luka dibersihkan skala (3-4)

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar terbuka ditandai dengan adanya luka bakar pada bagian ektremitas atas sebelah kanan dan kiri badan dan ektremitas bawah sebelah kanan dan kiri dan sudah tampak jaringan baru. 3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan edema luka bakar, rasa nyeri dan

kontraktor persendian dengan mobilisasi terbatas, tidak mampu bergerak sesuai dengan tujuan, penurunan kekuatan otot (4)

4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan krisis situasi, kejadian traumatik, kecacatan ditandai dengan perasaan negatif tentang diri/sendiri, kurang percaya diri. C. Tahap Perencanaan

Dalam tahap ini, perencanaan asuhan keperawatan pada Ny.T dengan luka bakar derajat II, penulis tidak ditemukan hal yang menghambat rencana tindakan keperawatan karena didukung adanya kerjasama antara perawat, dokter, pasien dan keluarga. Pada perencanaan secara teoritis banyak ditemukan rencana tindakan yang dilakukan karena harus diselesaikan

dengan kebutuhan pasien seperti perawatan luka aseptik mencegah adanya infeksi dan komplikasi.

D. Tahap Pelaksanaan

Dalam melakukan atau melaksanakan tindakan keperawatan penulis sebagai anggota tim kesehatan lainnya bekerja sama dengan pasien dan keluarga dalam pemberian asuhan keperawatan. Selama melaksanakan tindakan keperawatan, perawat mendapat sambutan baik dari pasien dan keluarga terlihat saat memberikan intervensi, pasien mau melakukannya selain itu didukung juga dengan adanya fasilitas yang memadai dari rumah sakit.

E. Tahap Evaluasi

Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan, dimana terjadi umpan balik dan tindakan yang dibutuhkan. Evaluasi yang telah ditetapkan dalam tujuan untuk memulai perubahan serta kewajiban yang dicapai dan respon pasien setelah menjalani tindakan keperawatan maka dapatlah hasil bahwa :

Diagnosa 1

Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan sekunder dari cedera luka bakar, pasca drainase ditandai dengan adanya luka pada bagian leher, ektremitas atas kanan dan kiri, ektremitas bawah sebelah kanan dan kiri. Pasien tampak meringis saat luka dibersihkan skala 3. Pada diagnosa ini masalah sebagian teratasi, karena pasien dapat mengatasi nyeri, skala nyeri 2 pasien tampak tenang.

Diagnosa 2

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka bakar terbuka ditandai dengan adanya luka bakar pada bagian ektremitas atas sebelah kanan dan kiri, badan, wajah dan ektremitas bawah sebelah kanan dan kiri dan sudah tampak jaringan baru. Pada diagnosa ini masalah sebagian teratasi karena pada daerah luka sudah tampak jaringan baru dan pasien mulai melakukan pergerakan dan nyeri sudah berkurang.

Diagnosa 3

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan edema luka bakar, rasa nyeri dan kontraktor persendian ditandai dengan mobilisasi terbatas, tidak mampu bergerak sesuai tujuan, penurunan kekuatan otot (4). Pada diagnosa ini masalah sebagian teratasi karena pasien

sudah mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya seperti kaki dan tangan. Diagnosa 4

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan krisis situasi, kejadian traumatik kecacatan ditandai dengan perasaan negatif tentang diri/sendiri, kurang percaya diri. Pada diagnosa ini masalah teratasi karena pasien sudah bisa menerima keadaan tubuhnya dan terlihat ceria.

BAB V KESIMPULAN

Kulit adalah organ kompleks yang memberikan pertahanan tubuh pertama terhadap kemungkinan lingkungan yang merugikan. Kulit yang melindungi tubuh dari infeksi, mencegah kehilangan cairan tubuh, membantu mengontrol suhu tubuh, berfungsi sebagai organ eksretoridan sensori, membantu dalam proses aktivasi vitamin D, dan mempengaruhi citra tubuh. Luka bakar adalah hal yang umum, namun merupakan bentuk cedera kulit yang sebagian besar dapat dicegah. Luka bakar adalah kerusakan atau keghilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.

Luka Bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin J. Elizabeth. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC Doenges E. Marlyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC Mansjoer Arif. 2000. Kapita Selekta. Edisi 3. Jilid 2. FKUI

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta : Salemba Medika.

Poepuantoro Dwi Poengki. 2008. Askep luka bakar http://www/luka bakar. net/index.php ? View : Article dan catid. Serba – serbi dan tatalaksana mutakhir. Dibuka tanggal 10 Oktober 2016.

Suddarth and Brunner. 2002. Keperawatan Medical Bedah. Edisi 8. Volume. Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta : EGC

Azzam Rahman. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Luka Bakar. http://medical bedah-rahman azzam. Blogspot.com/2008/02/asuhan keperawatan-klien-lukabakar.html. dibuka tanggal 10 Oktober 2016.

Dalam dokumen ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR. docx (Halaman 21-38)

Dokumen terkait