• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

II. TINJAUAN MENGENAI KONSEP DAN METODE ANALISIS

2.1.Pengembangan Wilayah

Dalam banyak hal, istilah pembangunan dan pengembangan banyak digunakan dalam hal yang sama, yang dalam Bahasa Inggrisnya adalah development, sehingga untuk berbagai hal, istilah pembangunan dan pengembangan wilayah dapat saling dipertukarkan. Namun berbagai kalangan di Indonesia cenderung untuk menggunakan secara khusus istilah pengembangan wilayah/kawasan dibandingkan pembangunan wilayah/kawasan untuk istilah regional development. Secara umum istilah pengembangan dianggap mengandung konotasi pemberdayaan, kedaerahan, kewilayahan dan lokalitas (Rustiadi, et.al. 2005).

Pengembangan lebih menekankan proses meningkatkan dan memperluas. Dalam pengertian bahwa pengembangan adalah melakukan sesuatu yang tidak dari nol, atau tidak membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada, melainkan melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah ada tapi kualitas dan kuantitasnya ditingkatkan atau diperluas. Jadi dalam hal pengembangan masyarakat tersirat pengertian bahwa masyarakat yang dikembangkan sebenarnya sudah memiliki kapasitas (bukannya tidak memiliki sama sekali) namun perlu ditingkatkan kapasitasnya (capacity building) (Rustiadi, et.al. 2005).

Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik. Dengan perkataan lain proses pengembangan merupakan proses memanusiakan manusia. Untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang diinginkan, upaya-upaya pembangunan harus diarahkan kepada efisiensi (effeciency), kemerataan (equity) dan keberlanjutan (sustainability) dalam memberi panduan kepada alokasi sumber-sumber daya (semua kapital yang berkaitan dengan natural, human, man-made maupun social) baik pada tingkatan nasional, regional maupun lokal, yang sering memerlukan sumber daya dari luar, seperti barang-barang modal untuk

diinvestasikan guna mengembangkan infrastruktur ekonomi, sosial dan lingkungan (Anwar, 2005).

Serageldin (1994), menyatakan bahwa paling sedikit diperlukan empat jenis sumberdaya di dalam melaksanakan pembangunan yaitu; 1) sumberdaya alam (natural capital), 2) sumberdaya manusia (human capital), 3) sumberdaya buatan (man-made resources) atau infrastruktur, dan 4) sumberdaya sosial (sosial capital) . Sumberdaya ini dapat menjadi sarana dan prasarana guna dimanfaatkan bagi tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas, dimana hasil manfaat yang maksimum dari sumberdaya tersebut harus dialokasikan sebaik mungkin (Anwar 2000). Dikatakan pula supaya sumberdaya tersebut manfaatnya mencapai maksimal, maka harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti efisiensi (efficiency), pemerataan (equity) berdasarkan keadilan (justice dan fairness) dan mengarah kepada keberlanjutan (sustainaibile).

Sumberdaya alam (nature capital) seperti air, udara, lahan, ikan, hutan dan sebagainya merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Sumberdaya hutan misalnya tidak saja untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia, namun juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation).

Sumberdaya dalam arti ekonomi pertama kali telah dikemukan oleh Adam Smith (dalam buku ” The Wealth Of Nation”) sebagai seluruh faktor produksi yang diperlukan untuk menghasilkan output. Sedangkan sumberdaya dalam pengertian umum adalah segala sesuatu yang dipandang memiliki nilai ekonomi. Selanjutnya menurut Rees (1990) dalam Fauzi (2004), lebih jauh mengatakan bahwa sesuatu dapat digolongkan sebagai sumberdaya harus memiliki dua kriteria yakni: 1) harus ada teknologi, pengetahuan atau skill untuk memanfaatkannya; 2) harus ada permintaan (demand) terhadap sumberdaya tersebut. Apabila kedua kriteria tersebut tidak dimiliki, maka sesuatu itu disebut sebagai barang netral.

Masyarakat sebagai bagian dari mahluk hidup, memegang peranan yang menentukan terhadap kelestarian dan keseimbangan ekosistem. Ekosistem hutan sebagaimana hal ekosistem lainnya memang harus dimanfaatkan oleh

9

manusia penghuninya untuk mewujudkan kesejahteraannya. Namun cara pemanfaatan yang berlebihan dan semena-mena, mengakibatkan terganggunya keseimbangan bahkan hancurnya ekosistem hutan. Untuk mengkaji hubungan antara manusia dengan lingkungannya, maka dalam kerangka ekologi manusia mencakup empat unsur utama yaitu populasi, organisasi, sumberdaya alam dan teknologi, empat unsur ini saling berkaitan secara fungsional sehingga adanya perubahan pada salah satu unsur mengakibatkan perubahan pada unsur yang lain. Dalam konteks masyarakat perdesaan sekitar hutan dijumpai kualitas hidup yang rendah yang terkait dengan kepadatan penduduk, keterbatasan kemampuan teknologi, keterbatasan sumberdaya sehingga masyarakatnya kurang terlibat dalam kegiatan produktif. Dengan demikian, pengelolaan sumberdaya alam termasuk sumberdaya hutan secara bijaksana adalah pengelolaan yang dapat menghasilkan penerimaan dan kepuasan ekonomi yang maksimal.

2.2. Fungsi Kawasan Konservasi Terhadap Pembangunan Wilayah

Dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, menjelaskan konservasi didefinisikan sebagai manajement biosphere yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Pada umumnya tujuan rencana konservasi sumberdaya alam adalah sumberdaya alam dapat dilestarikan semaksimal mungkin. Namun tujuan tersebut seringkali terhambat oleh tiga kendala utama yaitu: (i) belum adanya petunjuk teknis yang rinci dan tepat untuk memudahkan perencana, pengelola, politisi maupun ahli konservasi kehidupan liar dalam mengupayakan konservasi jenis sumberdaya hayati yang terancam punah, (ii) kurangya pemahaman tentang sebaran maupun kebutuhan habitat berbagai jenis organisme yang terancam punah dan, (iii) perencana seringkali menghadapi berbagai tuntutan tata guna lahan yang seringkali menjadi konflik (Lembaga Penelitian IPB, 2002).

Salm et.al (2000) menyebutkan kriteria dasar penetapan kawasan konservasi terdiri atas kriteria ekologi, sosial dan ekonomi. Kriteria-kriteria tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Kriteria ekologi meliputi: keanekaragaman hayati, kealamian, ketergantungan, keterwakilan, keunikan, integritas, produktivitas, dan kerentanan/kepekaan.

2. Kriteria sosial meliputi: penerimaan masyarakat, kesehatan masyarakat, rekreasi, budaya, estetika, konflik kepentingan, keamana, aksesibilitas, keperdulian masyarakat dan kompabilitas.

3. Kriteria ekonomi meliputi: spesies penting, bentuk ancaman, manfaat ekonomi dan potensi pariwisata.

Mac Kinnon et.al (1986) menyatakan bahwa penetapan DAS sebagai suatu kawasan yang dipilih atau ditetapkan sebagai kawasan konservasi karena kawasan tersebut bersifat istimewa dan mempunyai ciri-ciri khas tertentu yang bernilai, dilihat dari kepentingan nasional maupun internasional adalah:

1. Mempunyai bentang/lanskap atau ciri geofisik yang mempunyai ciri estetika tertentu atau indah serta mempunyai nilai dalam ilmu pengetahuan, misalnya air terjun, gua mata air panas dll.

2. Mempunyai fungsi lindung terhadap tata air/hidrologi, tanah, air dan iklim mikro misalnya melindungi daerah tangkapan air.

Menurut Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999, mendifiniskan hutan konservasi adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Kawasan hutan konservasi teridiri dari Cagar Alam (CA), Suaka Margasatwa (SM), Taman Nasional (TM), Taman Wisata Alam (TW), Taman Hutan Raya (THR) dan Taman Buru (TB).

Keberhasilan dari pembangunan suatu wilayah dapat diukur dari besarnya manfaat yang diterima oleh masyarakat baik secara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan dan kesempatan masyarakat untuk memilih peranannya dalam pembangunan, terutama dalam kaitannya dengan pelestarian alam dan pengelolaan manfaat pembangunan yang berkelanjutan.

2.3. Konsep Konservasi Tanah

Indonesia pada saat ini memiliki sumberdaya hutan seluas 120 hektar dengan fungsi produksi, konservasi dan fungsi lindung dengan akibat

11

keanekaragaman yang tinggi. Besarnya fungsi sumberdaya hutan tersebut memiliki nilai strategis untuk dimanfaatkan guna mendukung proses pembangunan nasional untuk mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam tiga puluh tahun terakhir potensi sumberdaya hutan tersebut telah dimanfaatkan sekaligus menjadi tumpuan serta modal dasar pembangunan ekonomi nasional, yang memberi dampak peningkatan devisa, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan industri serta mendorong pertumbuhan wilayah (Suhardi, 2001)

Konsep konservasi baru mulai diterapkan di Indonesia pada tahun 1982 dengan diresmikannya pembangunan Tanam Nasional di Indonesia pada saat Konverensi Taman Nasional sedunia ke-3 di Bali. Hal ini yang membawa pengaruh kepada masyarakat luas, seolah-olah konservasi hanya terkait dengan pengelolaan tanpa melindungi daerah kawasan konservasi lainnya. Padahal ditekankan bahwa konservasi menyangkut aspek pengelolaan sumberdaya alam yang luas. Bahkan IUCN, UNEP dan WWF tahun 1991, menekan bahwa konservasi mencakup baik perlindungan alam maupun pengawasan sumberdaya alam secara rasional dan bijaksana. Oleh karena itu konservasi merupakan hal yang penting bila ingin meningkatkan kehidupan yang layak dan bermartabat, serta menjamin kesejahteraan hidup kini dan generasi mendatang.

Pada awalnya konservasi dianggap sebagai suatu upaya perlindungan dan pelestarian yang menutup kemungkinan dilakukan pemanfaatan sumberdaya alam, namun sekarang bila kawasan itu dilindungi, dirancang dan dikelola secara tepat, dapat memberikan keuntungan yang lestari bagi masyarakat dan sebagai sumber devisa negara. Oleh karena itu konservasi memegang peranan penting dalam pembangunan sosial dan ekonomi di lingkungan perdesaan dan turut menyumbangkan peningkatkan kesejahteran ekonomi pusat-pusat perkotaan serta meningkatkan kualitas hidup penghuninya (Mac Kinnon, et al.,1986)

Selanjutnya Camp dan Dougthery (1991), menyatakan bahwa konservasi merupakan landansan utama segala bentuk pengelolaan sumberdaya

alam dan lingkungan. Bahkan Saunier dan Meganck (1995), menyatakan bahwa konservasi menjadi kunci keberhasilan dari kegiatan pembangunan.

Dalam rangka mengimplentasikan strategi konservasi dan memudahkan pemahamannya, maka Alikodra (1990), mengembangkan konservasi melalui tiga prinsip :

1. Mengamankan (save it), yaitu mengamankan ekosistem yang berarti genetik, spesies dan ekosistem dengan cara: menjaga penurunan kualitas dari komponen-komponen utama ekosistem, mengembangkan upaya mengelola dan pelindungan secara efektif, mengembalikan spesies-spesies yang telah hilang kepada habitat aslinya dan memeliharanya di bank genetik seperti kebun raya dan fasilitas ex-situ lainnya.

2. Mempelajari (studi it), artinya melakukan inventarisasi dan identifikasi mengenai karakteristik sifat biologis, ekologis dan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini berarti sekaligus membina kesadaran akan nilai- nilai sumberdaya alam, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menghargai keanekaragaman alam serta memasukan isu-isu tentang sumberdaya dan ekosistemnya kedalam bagian kurikulum pendidikan.

3. Memanfaatkan (use it), artinya melakukan pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari dan seimbang, agar terus dapat dikembangkan dengan teknik-teknik pemanfaatan sumberdaya alam hanya untuk memperbaiki kehidupan umat manusia dan memberikan jaminan bahwa sumber-sumber ini dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat secara adil dan bijaksana.

Konservasi tanah dan air adalah usaha-usaha untuk menjaga tanah tetap produktif atau memperbaiki tanah yang rusak karena erosi agar menjadi lebih produktif, dan usaha-usaha agar air dapat lebih banyak tersimpan didalam tanah sehingga dapat digunakan tanaman dan mengurangi terjadinya banjir dan erosi. Salah satu dasar dalam konservasi tanah dan air adalah menggunakan tanah sesuai dengan kemampuannya.

13

Tujuan konservasi hutan tanah dan air serta lingkungan akan selalu terkait dengan kegiatan rehabilitasi penanaman vegetasi sebagai salah satu komponen ekosistem dan keseimbangan dengan masyarakat setempat. Secara umum tujuan rehabilitasi hutan, tanah dan air adalah (i) meningkatkan kualitas dan fungsi hutan dan lahan secara optimal sebagai sarana produksi, tata air dan perlindungan lingkungan, (ii) meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan memanfaatkan lahan dan hutan.

Sedangkan sasaran kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan diarahkan kepada (i) kawasan hutan yang rusak (ii) lahan yang tidak produktif (lahan kritis), (iii) kawasan hutan yang fungsinya belum optimal, (iv) daerah rawan pangan, kebakaran hutan dan daerah yang terganggu fungsi hidro-orologisnya.

Petani di perdesaan sebagai salah satu aktor yang diharapkan berperan dalam konservasi tanah dan air. Oleh karena itu dalam kegiatan konservasi tersebut harus diberi kesempatan baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasannya. Kegiatan penghijauan adalah upaya memulihkan atau memperbaiki lahan kritis diluar kawasan hutan negara agar berfungsi sebagai media produksi dan sebagai media tata air yang baik, serta upaya mempertahankan dan meningkatkan daya dukung lahan sesuai dengan peruntukannya. Jadi penghijauan selain mempunyai dimensi konservasi tanah dan air juga berdimensi terhadap pendapatan masyarakat (peningkatan produksi). Jenis dan macam kegiatan secara umum dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu : 1) kegiatan yang bersifat vegetatif dengan penanaman tumbuh-tumbuhan misalnya dengan pembuatan hutan rakyat (HR) atau pembuatan kebun rakyat (KR) serta 2) kegiatan yang bersifat sipil teknis dengan membangun bangunan penahan erosi seperti terassering, pembuatan bangunan terjunan air (drop) dam pengendalian (DPi) dan dam penahan (DPa). Disamping itu pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan petani melalui pelatihan petani, pembuatan unit percontohan juga diperhatikan.

Prasetyo (2005), menegaskan bahwa upaya untuk menekan laju kerusakan DAS dapat dilakukan dengan cara pendekatan sipil teknis dan/atau pendekatan vegetatif. Pendekatan sipil teknis adalah upaya pengendalian laju kerusakan DAS dengan membangun bangunan-bangunan, misalnya dam,

tanggul dan sumur resapan. Sedangkan pendekatan vegetatif adalah upaya penanaman jenis-jenis tanaman yang mampu mengurangi laju kerusakan DAS dengan teknik budidaya yang benar. Pendekatan sipil teknis sering mengalami kendala seperti ketersediaan dana, dan umur bangunan sangat pendek karena tingkat erosi yang sangat tinggi. Pendekatan vegetatif dengan introduksi tanaman yang bernilai ekonomi tinggi akan lebih efektif. Pendekatan ini mampu menyelesaikan dua permasalahan yaitu upaya konservasi tanah dan air, serta peningkatan pendapatan masyarakat. Pengelolaan suatu DAS sampai saat ini belum sepenuhnya dilakukan secara baik, karena menyangkut berbagai elemen yang terlibat didalammnya, salah satunya adalah institusi yang menangani belum tertata dengan baik.

Dalam kajian yang dilakukan oleh Kartodihardjo et.al (2000), dijelaskan bahwa dalam pengelolaan DAS yang juga penting adalah menyangkut pembenahan institusi yang mengelola DAS dan konservasi tanah, sehingga menimbulkan berbagai permasalahan antara lain (i) pengelolaan DAS dan konservasi tanah merupakan satu kegiatan, dimana didalamnya terlibat berbagai unsur formal, baik instansi pemerintah maupun non-pemerintah, (ii) perencanaan pengelolaan DAS dan konservasi tanah yang dikembangkan masih belum sepenuhnya diintregrasi kedalam perencanaan pembangunan oleh pemerintah daerah dan belum banyak melibatkan peran serta masyarakat melalui pendekatan partisipatif dalam pengelolaan lahan sesuai dengan kemampuan dan kesesuaiannya, (iii) infrastruksutur fisik dan sosial di bagian hulu relatif lebih rusak dibandingkan di daerah hilir DAS. Hal ini dikarenakan di masa lalu usaha pembangunan pertanian telah lebih terkonsentrasi di daerah ”lowland” sehingga dataran tinggi dan hulu DAS tidak di untungkan dari program-program yang didanai oleh pemerintah, (iv) keterbatasan kepemilikan lahan pertanian menyebabkan lahan yang di garap petani dapat dijadikan sebagi satu-satunya tumpuan atau penompang kebutuhan dasar kehidupan masyarakat miskin di perdesaan. Demikian juga halnya dengan cara pengelolaan lahan yang masih memungkinkan terjadinya kondisi tanah garapan yang rawan erosi.

15

Konservasi tanah adalah masalah menjaga agar struktur tanah tidak terdispersi, dan mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan (Arsyad, 2000). Berdasarkan asas ini ada tiga cara pendekatan dalam konservasi tanah, yaitu (1) menutup tanah dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman atau sisa tanaman/tumbuhan agar terlindung dari daya perusak butir- butir hujan yang jatuh, (2) memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap penghancuran agregat dan terhadap pengangkutan, serta lebih besar dayanya untuk menyerap air permukaan tanah, dan (3) mengatur air aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak dan memperbesar jumlah air yang terinflitasi ke dalam tanah.

Arsyad (2000), metode konservasi tanah dapat dibagi tiga golongan utama, yaitu (1) metode vegetatif (2) metode mekanik dan (3) metode kimia dan dalam penerapannya dapat dilaksanakan salah satu, dua atau kombinasi dari ketiga jenis metode tersebut. Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan dan sisinya untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan daya rusak aliran permukaan dan erosi. Dalam konservasi tanah dan air metode vegetatif mempunyai fungsi (a) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, (b) melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan tanah, dan (c) memperbaiki kapasitas inflitasi tanah dan penahanan air yang langsung mempengaruhi besaran aliran permukaan. Termasuk di dalam metode vegetatif untuk konservasi tanah dan air adalah (1) penanaman tumbuhan dan atau tanaman yang menutupi tanah secara terus menerus, (2) penamanan dalam strip (strip cropping), (3) pengiliran tanaman dengan tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah (conservation rotation), (4) system pertanian hutan (agroforestry), pemanfaatan sisa tanaman atau tumbuhan (residu management) dan (6) penaman saluran-saluran pembuangan dengan rumput (vegetated atau grassed waterways)

Metode mekanik adalah semua perlakukan fisik mekanis yang diberikan terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan mengingkatkan kemampuan penggunaan tanah. Termasuk dalam metode mekanik adalah (1) pengolahan tanah (tillage), (2) pengolahan tanah menurut kontur (counter cultivation), (3) guludan dan gulugan bersaluran

menurut kountur, (4) teras, (5) dan penghambatan (check dam), waduk (balong) (farmponds), rorak, tanggul, dan (6) perbaikan drainase dan irigasi.

Metode kimia dalam konservasi tanah dan air adalah penggunaan preparat kimia sintetis atau alami, kemantapan struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menentukan kepekaan tanah terhadap erosi. Dalam pembentukan struktur tanah butir-butir terikat satu sama lain menjadi agregrat. Model konservasi telah banyak dikemukan oleh berbagai sumber maupun ahli. Seperti dikemukan oleh Direktorat Konservasi Tanah (1993), bahwa model penanganan lahan kering dengan konservasi di kembangkan usahatani konservasi dengan anjuran menggunakan sistem tanam tumpang sari dan sistem tanaman sisipan antara tanaman pangan, tanaman keras/kayu- kayu/buah-buahan, rumput pakan ternak yang dapat mempertinggi efisiensi penggunaan lahan dan waktu yang tersedia.

2.4. Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu ekosistem dengan unsur utamanya terdiri atas sumberdaya tanah, air, dan vegetasi serta manusia sebagai pemanfaat sumberdaya alam dengan segala interaksinya yang berfungsi untuk menampung dan menyimpan air hujan kemudian menyalurkan ke laut melalui sungai utama. Interaksi tersebut digambarkan dalam bentuk keseimbangan masukan dan keluaran yang mencirikan keadaan hidrologis DAS. Kualitas ekosistem DAS dapat dilihat dari output ekosistem tersebut dan secara fisik antara lain dapat diukur dari besarnya erosi, sedimentasi, aliran permukaan, fluktuasi debit dan produktivitas lahan.

Secara umum DAS dibagi menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. DAS bagian hulu merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase tinggi, kemiringan lereng yang tinggi (>15%) dengan jenis vegetasi tegakan hutan (Asdak 2002). Bagian hilir DAS dicirikan sebagai daerah pemanfaatan, kerapatan drainase kecil, kemiringan lereng kecil (<8%), sebagian diantaranya merupakan daerah banjir, dan didominasi jenis vegetasi tanaman pertanian. Bagian tengah DAS merupakan daerah transisi di antara DAS hulu dan DAS hilir. Ketiga bagian DAS ini mempunyai keterkaitan satu dengan yang lain. Ekosistem DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena

17

mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS (Asdak 2002). Bagian DAS hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biogeofisik melalui daur hidrologi. Hubungan antara masukan dan keluaran dari DAS yang bersangkutan dapat digunakan untuk menganalisis dampak suatu kegiatan pada lingkungan, terutama pengaruhnya di daerah hilir.

Secara tidak langsung DAS dapat dipandang sebagai suatu ekosistem yang menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Barang yang dihasilkan oleh komponen DAS yaitu yang dapat diukur berupa produktivitas, sedangkan jasa merupakan produk ekonomis dari DAS yang tidak dapat diukur. Oleh karenanya dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya keseimbangan antara kepentingan ekosistem dengan kepentingan ekonomi sehingga bisa memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu ditujukan pada sumberdaya tanah dan air. Dalam arti luas, konservasi termasuk juga usaha rehabilitasi dan reklamasi, yaitu upaya membawa lahan kritis atau marjinal menjadi lebih subur dan lebih produksi yang dapat dipertahankan kesuburannya (Sukmana et.al 1990). Lebih lanjut dikatakan oleh Yasin et.al (1997), bahwa konservasi dan rebailitasi di daerah aliran sungai perlu ditingkatan melalui pendekatan pengelolaan terpadu daerah aliran sungai (DAS) atau daerah tangkapan air (chantmat area), dan yang dimaksud dengan daerah tangkapan air dalam penelitian ini adalah daerah yang miliki kemiringan lahan antara 8% sampai 40%.

Pengelolaan daerah tangkapan air secara terpadu meliputi penggunaan terpadu atas tanah, air tumbuhan serta sumber-sumber fisik dan berbagai kegiatan lain dalam daerah tangkapan, untuk menyakinkan bahwa proses perusakan dan erosi tanah dapat dikurangi seminimal mungkin. Tujuan khusus pengelolaan daerah tangkapan air secara terpadu adalah (Mitchell et.al, 2000):

a. Meningkatkan efektifiktas koordinasi kebijakan dan tindakan dari departemen terkait, pengrusakan serta individu yang berkaitan dengan usaha-usaha konservasi, penggunaan daerah tangkapan air yang berkelanjutan, termasuk tanah, air dan tumbuhan.

b. Meyakinkan terusnya stabilitas dan produktifitas tanah, kelangsungan suplai air serta pemeliharaan tumbuhan permukaan yang sesuai dan produktif.

c. Meyakinkan bahwa tanah dalam daerah tangkapan air digunakan sesuai dengan kapasitasnya, dengan tetap memelihara kemungkinan penggunaan di masa depan.

2.5. Kebijakan dan Pengelolaan Konservasi

Kebijakan pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya khususnya hutan dan lahan yang berorientasi eksploitasi dan sentralistik untuk mencapai pertumbuhan akhirnya menimbulkan berbagai permasalahan ekonomi, sosial dan lingkungan. Dari segi sosial ekonomi masyarakat lokal, dampak peningkatan kesejahteraan tidak tercapai yang diakibatkan karena proses marginalisasi masyarakat hutan untuk memperoleh akses manfaat sumberdaya, sehingga yang terjadi adalah kemiskinan dan kesenjangan. Kondisi yang demikian seringkali menyebabkan proses degradasi baik aspek luasan maupun produktivitas sumberdaya, sehingga pengelolaannya yang optimal dan lestari tidak dapat dipertahankan.

Laju degradasi kawasan hutan di Indonesia diperkirakan 1,5 juta ha pertahun, sedangkan data realisasi reboisasi dan rehabilitasi hutan 50.000 s/d 70.000 hektar pertahun. Laju kegiatan penghijauan berkisar 400.000 s/d 500.000 hektar pertahun. Berdasarkan data tersebut terlibat bahwa upaya rehabilitasi yang dilakukan selama ini tidak mampu memulihkan kondisi lahan dan hutan yang rusak. Kecendrungan dari keadaan ini akan terus bertambah dan laju degradasi lahan semakin mengkhawatirkan. Kondisi yang demikian ini apabila tidak diperhatikan secara serius, sumberdaya hutan dan lahan serta lingkungan akan menjadi tidak menentu menuju krisis yang berkepanjangan.

Menurut Alikodra (2001), pengelolaan kawasan konservasi adalah serangkaian upaya penetapan, pemanfaatan, pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan konservasi. Pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Perlindungan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan dengan kebijakan umum pengelolaan kawasan konservasi sebagai berikut (i) mengupayakan terwujudnya tujuan dan misi

19

konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem, yaitu : perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, (ii) meningkatkan pendayagunaan potensi sumberdaya alam