BAB II LANDASAN TEORI
4. Tinjauan Metode Membaca Untuk Anak Berkesulitan
Dengan demikian kegiatan membaca terdiri dari membaca teknik, membaca nyaring, membaca bersuara, membaca bahasa, membaca cepat, membaca pustaka,dan membaca dalam hati, yang masing- masing kegiatan tersebut dibagi menjadi beberapa jenis kegiatan lagi. Diantaranya yaitu: membaca ekstensif, membaca intensif, membaca survey, membaca sekilas, membaca dangkal, membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis, membaca ide dan telaah isi.
4. Tinjauan Metode MembacaUntuk Anak Berkesulitan Belajar a. Metode Fernald
1) Pengertian Metode Fernald
Fernald telah mengembangkan suatu metode pengajaran membaca multisensoris yang sering dikenal sebagai metode VKAT ( Visual, auditory, kinesthetic, and tactile). Metode ini menggunakan materi bacaan yang dipilih dari kata-kata yang diucapkan oleh anak, dan tiap kata diajarkan secara utuh.
Menurut Mulyono Abdurrahman ( 1999 : 217) Metode ini memiliki empat tahapan. Tahapan itu sebagai berikut:
Tahapan pertama, guru menuliskan kata yang hendak dipelajari di atas kertas dengan krayon. Selanjutnya anak menelusuri tulisan tersebut dengan jarinya ( tactile dan kinesthetic). Pada saat
commit to user
menelusuri tulisan tersebut, anak melihat tulisan (visual), dan mengucapkannya dengan keras (auditory). Proses seperti ini diulang- ulang terus sehingga anak mampu menulis ataupun membaca dengan benar tanpa melihat contoh. Pada tahapan kedua, anak tidak terlalu lama untuk menelusuri tulisan- tulisan dengan jari, tetapi mempelajari tulisan guru dengan melihat tulisan, sambil mengucapkannya. Pada tahap ketiga anak mempelajari kata – kata baru dengan melihat tulisan yang dicetak tebal dan mengucapkannya sebelum menulis. Pada tahapan ini anak mulai membaca tulisan dari buku. Pada tahap yang terakhir, anak mampu mengingat kata- kata yang dicetak atau bagian- bagian dari kata yang telah dipelajari.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa lankah- langkah Metode Fernald adalah sebagai berikut: tahap pertama guru menulis kata. Anak menelusuri kata tersebut dengan jarinya. Anak melihat tulisan kemudian membaca. Ini dilakukan berulang- ulang. Tahap kedua anak bebas mempelajari kata sendiri dengan cara menulis kemudian membac. Tahap ketiga anak melihat tulisan yang dicetakkemudian mengucapkanya sebelum menulis. pada tahap ini anak mulai membaca bacaan dari buku. Pada tahap empat anak mampu mengingat kata-kata baru berdasar kemiripan kata- kata yang telah dipelajarinya.
2) Langkah – Langkah Metode Fernald
Menurut Mulyono Abdurrahman (1999 : 244) Metode Fernald merupakan pendekatan multisensory untuk mengajar membaca, menulis dan mengeja. Secara singkat, langkah- langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Anak diberitahu bahwa mereka akan mempelajari kata- kata dan didorong untuk memilih sendiri kata yang ingin dipelajari.
2) Guru menulis kata yang dipilih oleh anak di atas selembar kertas berukuran 4 x 10 inci. Ketika anak memperhatikan tulisan tersebut, guru membacakannya secara oral.
3) Anak menelusuri bentuk kata dengan jarinya, mengucapkan kata tersebut berulang kali, kemudian menuliskan di kertas lain sambil mengucapkanya pula
4) Selanjutnya anak menuliskan kata tersebut dari ingatanya, tanpa melihat tulisan aslinya. Jika anak dapat melakukan, tambah dengan kata lain dengan mengikuti prosedur yang sama dengan sebelumnya. Jika anak juga berhasil, simpan hasil tulisan anak ke dalam kotak. Jika
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
35
kata- kata tersebut sudah cukup banyak, selanjutnya dapat disusun menjadi suatu cerita.
5) Pada tahap yang lebih akhir, anak tidak lagi menelusuri bentuk kata dengan jarinya. Anak hanya dapat melihat kata yang ditulis oleh guru,
mengucapkan kata tersebut, dan kemudain menulisnya. Selanjutnya, anak hanya melihat kata yang paling akhir, hanya dengan melihat saja.
Sedangkan menurut Munawir Yusuf,Sunardi&Mulyono Abdurrahman ( 2003 : 169) empat tahapan Metode Fernald sebagai berikut:
Tahap 1: Anak memilih kata yang akan dipelajarinya, guru menuliskannya besar-besar. Anak kemudian menelusuri kata dengan jarinya. Sambil menelusuri, anak mengucapkan kata itu keras-keras. Disamping itu, anak juga melihat kata dan mendengarkan suaranya sendiri saat membaca. Jika anak membuat kesalahan, ia harus mengulanginya dari depan lagi. Jika sudah benar, kata itu akan disimpan dalam bank kata anak. Anak dapat membuat cerita dari kata yang sudah dikuasainya.
Tahap 2: Anak tidak lagi harus menelusuri kata. Ia belajar dengan melihat kata yang ditulis guru, mengucapkanya, dan menyalinnya. Anak terus didorong menyusun cerita dan mempertahankan bank kata.
Tahap 3: Guru tidak lagi harus menulis kata. Anak belajar membaca dari kata-kata atau kalimat yang sudah dicetak. Ia melihat kata, mengucapkannya, dan menyalinnya. Guru harus memantau apakah semua kata masih diingatnya.
Tahap 4: Anak sudah mampu mengenal kata-kata baru dengan membandingkannya dengan kata-kata yang sudah dipelajarinya. Anak dapat dimotivasi untuk memperluas materi bacaan.
Dengan demikian pembelajaran dengan metode Fernald yaitu dengan anak dilatih membaca kata secara utuh yang dipilih anak dari cerita yang dibuat oleh anak sendiri. dengan demikian tidak ada kegiatan memperkenalkan nama huruf atau bunyi secara individual.
b. Metode Gillingham.
Metode ini merupakan pendekatan terstruktur taraf tinggi yang memerlukan lima jam pelajaran selama dua tahun. Aktivitas pertama
commit to user
diarahkan pada belajar berbagai bunyi huruf dan perpaduan huruf – huruf tersebut. Anak menggunakan teknik menjiplak bentuk huruf satu per satu. Yusuf (2003) dalam Lucky Ade Sessiami (2007 : 56) menyatakan perbedaan metode ini dengan Metode Fernald, yaitu bahwa dalam metode ini huruf diberikan secara individual, bukan dalam bentuk kata.
c. Metode Analisis Glass
Metode Analisis Glass merupakan suatu metode pengajaran melalui pemecahan sandi kelompok huruf dalam kata. Metode ini memberikan pengajaran membaca melalui pemecahan sandi kelompok huruf dalam kata. Ada dua asumsi yang mendasari metode ini. Pertama, proses pemecahan sandi (decoding) dan membaca merupakan kegiatan yang berbeda. Kedua, pemecahan sandi mendahului proses membaca. Pemecahan sandi didefinisikan sebagai menentukan bunyi yang berhubungan dengan suatu kata tertulis secara tepat. Membaca didefinisikan sebagai menurunkan makna dari kata- kata yang berbentuk tulisan. Jika anak tidak dapat melakukan pemecahan sandi tulisan secara efisien, maka mereka tidak akan belajar membaca.