• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2. Tinjauan Prestasi Belajar

2. Tinjauan Prestasi Belajar

a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan kegiatan untuk mengenal sesuatu hal lebih dalam atau bisa dikatakan bahwa belajar menanamkan pengetahuan yang belum diketahui orang lain. Belajar juga merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Menurut M. Ngalim Purwanto (2006 : 85) belajar ada beberapa definisi antara lain:

1) Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi ada juga mengarah tingkah laku yang lebih buruk.

2) Belajar merupakan suatu perbuatan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman.

3) Belajar merupakan suatu perubahan yang relative mantap, harus merupakan akhir dari suatu periode waktu yang cukup panjang.

4) Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut beberapa aspek kepribadi, baik fisik maupun psikis.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

Slameto ( 2003 : 7) berpendapat bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan dalam tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri”. Menurut Gage (1984) dalam Saiful Sagala ( 2009 : 13) “ Belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman”. Abdillah (2002) yang dikutip oleh Aunurrahman (2009 : 35) “belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek- aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu”.

Dengan demikian belajar merupakan proses mengenal sesuatu hal, dari hal yang belum dimengerti atau diketahui menjadi mengerti atau paham. Belajar juga merupakan proses perubahan unutk mengenal perubahan- perubahan dari segi pengalaman, pengetahuan, kebiasaan- kebiasaan dan sikap- sikap dalam kehidupan sehari- hari.

b. Unsur- Unsur Belajar

Dalam belajar terdapat unsur- unsur yang mempengaruhinya. Menurut Crobach (1954) seperti yang dikutip Nana Syaodih Sukmadinata (2003 : 157 - 158) unsur- unsur dalam belajar terdiri dari:

1) Tujuan. Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan ini muncul untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. Perbuatan belajar diarahkan kepada pencapaian sesuatu tujuan dan untuk memenuhi sesuatu kebutuhan. Sesuatu perbuatan belajar akan efisien apabila terarah kepada tujuan yang jelas dan berarti bagi individu.

2) Kesiapan. Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik anak

atau individu perlu memiliki kesiapan,baik kesiapan fisik dan psikis, kesiapan yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan pengetahuan dan kecakapan- kecakapan yang mendasarinya.

3) Situasi. Kegiatan belajar berlangsung dalam suatu situasi belajar. Dalam

situasi belajar ini terlibat tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang dipelajari, orang- orang yang turut tersangkut dalam kegiatan belajar serta kondisi siswa yang belajar. Kelancaran dan hasil dari belajar banyak dipengaruhi oleh situasi ini, walaupun untuk individu dan pada waktu tertentu sesuatu aspek dari situasi belajar ini lebih dominan sedang pada individu atau waktu lain aspek lain yang lebih berpengaruh.

commit to user

4) Interprestasi. Dalam menghadapi situasi, individu mengadakan interpretasi, yaitu melihat hubungan di antara komponen- komponen situasi belajar, melihat hubungan diantara komponen- komponen situasi belajar, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan kemungkinan pencapaian tujuan. Berdasarkan interpretasi tersebut mungkin individu sampai kepada kesimpulan dapat atau tidak dapat mencapai tujuan.

5) Respon. Berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan, maka ia memberikan respon. Respons ini mungkin berupa suatu usaha coba- coba (trial and error), atau usaha yang penuh perhitungan dan perencanaan ataupun ia menghentikan usahanya untuk mencapai tujuan tersebut. 6) Konsekuensi. Setiap usaha akan membawa hasil, akibat atau

konsekuensi entah itu keberhasilan ataupun kegagalan, demikian juga dengan respon atau usaha belajar siswa. Apabila siswa berhasil dalam belajarnya ia akan merasa senang, puas, dan akan lebih meningkatkan semangatnya untuk melakukan usaha- usaha belajar berikutnya.

7) Reaksi terhadap kegagalan. Selain keberhasilan, kemungkinan lain yang diperoleh siswa dalam belajar adalah kegagalan. Perisyiwa ini akan menimbulkan perasaan sedih dan kecewa. Reaksi siswa terhadap kegagalan dalam belajar bisa bermacam- macam. Kegagalan bisa menurunkan semangat, dan memperkecil usaha- usaha belajar selanjutnya, tetapi bisa juga sebaliknya, kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk menebus dan menutupi kegagalan tersebut.

Dengan demikian unsur-unsur belajar terdiri dari beberapa macam aspek. Setiap aspek- aspek tersebut selalu ada dalam kegiatan belajar. bahkan lebih dari satu unsur. Kelengkapan semua unsure dalam belajar dapat mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.

c. Prinsip – Prinsip Belajar

Slameto (2003 : 27- 28) berpendapat bahwa prinsip- prinsip belajar dibagi menjadi empat yaitu:

1) Berdasarkan prasyarat yang diperlukan

a) dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional

b) belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

c) belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif

d) belajar perlu adanya interaksi siswa dengan lingkungannya 2) Sesuai hakikat belajar

a) belajar itu proses kontinyu, maka harus tahap menurut perkembanganya

b) belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery

c) belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan response yang diharapkan

3) Sesuai materi atau bahan yang harus dipelajari

a) belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, pengajaran yang sederhana, sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya

b) belajar harus mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang harus dicapainya

4) Syarat keberhasilan belajar

a) belajar memerlukan saran yang cukup, sehingga dapat belajar dengan tenang

b) repetisi, dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertiannya, keterampilanya atau sikap itu mendalam pada siswa

d. Jenis- Jenis Belajar

Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam- macam kegiatan yang memiliki corak yag berbeda antara satu dengan yang lainnya., baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan

commit to user

manusia yang juga bermacam- macam. Menurut Muhibin Syah (2006 : 122- 124) jenis-jenis belajar dibagi menjadi delapan macam, diantaranya yaitu:

1) Belajar abstrak, adalah belajar yang menggunakan cara- cara berfikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah- masalah yang tidak nyata.

2) Belajar keterampilan, adalah belajar dengan menggunakan gerakan- gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat- urat syaraf dan oto-otot/ neuromuscular. Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.

3) Belajar sosial, adalah belajar memahami masalah- masalah dan teknik- teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuanya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah- masalah social seperti masalah keluarga, masalah persahabatan, masalah kelompok, dan masalah- masalah lain yang bersifat kemasyarakatan.

4) Belajar pemecahan masalah, adalah belajar menggunakan metode- metode ilmiah untuk berfikir secara sistematis, logis, teratur dan teliti. Tujuannya ialah untuk memperoleh kemampuan siswa dalam menguasai konsep- konsep, prinsip- prinsip, dan generalisasi serta

insight (tilikan akal) amat diperlukan.

5) Belajar rasional, adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berfikir secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat). Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip- prinsip dan konsep- konsep.

6) Belajar kebiasaan, adalah proses pembentukan kebiasaan- kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan yang telah ada. Tujuanya agar siswa memperoleh sikap- sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).

7) Belajar apresiasi, adalah belajar mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek. Tujuanya adalah agar siswa memperoleh

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya.

8) Belajar pengetahuan (studi), adalah belajar dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Tujuan belajar pengetahuan adalah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat- alat laboratorium dan penelitian lapangan.

Sedangkan menurut Slameto ( 2003 : 5- 8) jenis- jenis belajar dibagi menjadi 11, diantaranya yaitu:

1) Belajar bagian (part learning, fractioned learning) 2) Belajar dengan wawasan (learning by insight) 3) Belajar diskriminatif (discriminatif learning) 4) Belajar global/ keseluruhan (global whole learning) 5) Belajar insidental (incidental learning)

6) Belajar instrumental (instrumental learning) 7) Belajar intensional (intentional learning) 8) Belajar laten (latent learning)

9) Belajar mental (mental learning) 10)Belajar produktif (productive learning) 11)Belajar verbal (verbal learning)

Dengan demikian belajar mempunyai jenis- jenis yang berbeda- beda. Diantaranya yaitu belajar dengan wawasan, belajar social, belajar laten, belajar bagian, belajar pengetahuan, belajar rasional, belajar memecahkan masalah, belajar keterampilan, belajar abstrak, belajar mental, dll. Setiap jenis- jenis belajar tersebut mempunyai tujuan yang berbeda pula.

commit to user

e. Prestasi Belajar

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjuk oleh nilai tes yang diberikan oleh guru. Nana Syaodih Sukmadinata (2003 : 103-104) berpendapat bahwa “ Prestasi belajar atau achievement merupakan realisasi dari kecakapan- kecakapan potensial dimiliki seseorang. Prestasi belajar seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan , keterampilan berfikir maupun motorik”.

Prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Conny K Semiawan (2008 : 11) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain:

1) Pemenuhan kebutuhan psikologis 2) Intelegensi

3) Faktor non kognitif

4) Pengembangan kreatifitas.

Sedangkan menurut R. Angkowo (2007 : 50-51) faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah:

1) Faktor dari dalam hati anak menyangkut kemampuan siswa motivasi, minat, perhatian, sikap kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik da psikis.

2) Faktor dari luar lingkungan: kualitas pengajaran

3) Pendekatan belajar : upaya belajar yang dilakukan siswa yang meliputi strategi dan metode pembelajaran.

Menurut Carnol dalam R. Angkowo (2007 : 51) lima faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu

1) Bakat belajar

2) Waktu yang tersedia untuk belajar 3) Kemampun individu

4) Kualitas pengajaran 5) Lingkungan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

Dokumen terkait