BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengungkapan corporate social responsibility sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan variabel dan kurun waktu yang berbeda. Jianling et.al. (2013) melakukan penelitian dengan judul “The Determinants of Corporate Social Responsibility Disclosure: Evidence From China”. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen yaitu tipe industri, ukuran perusahaan, dan media exposure. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode purposive sampling pada perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Shanghai tahun 2008-2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan media exposure berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Sedangkan variabel tipe industri tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Penelitian Perwira dan Paulus (2013) meneliti Struktur Tata Kelola Perusahaan dan Luas Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi
empiris pada perusahaan industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Terdapat empat variabel independen dalam penelitian ini yaitu komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, kepemilikan asing dan tiga variabel kontrol yaitu profitabiltas, leverage, dan ukuran perusahaan.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan terdapat 68 perusahaan untuk tahun 2010-2011. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan, sedangkan variabel komite audit, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan.
Evandini dan Darsono (2014) melakukan penelitian dengan judul Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 189 pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2012. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan variabel ukuran perusahaan dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Variabel leverage menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Sedangkan variabel profitabilitas, dewan komisaris dan pertumbuhan perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Respati dan Paulus (2015) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Ukuran Perusahaan, Tipe Industri, dan Pengungkapan Media Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (Studi empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014). Penelitian ini menggunakan lima variabel independen yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, tipe industri, dan pengungkapan media. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dan mengambil 111 perusahaan yang dijadikan untuk sampel selama tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan, tipe industri, dan pengungkapan media berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR sedangkan variabel profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Napitupulu dan Wahyu (2015) meneliti Pengaruh Karakteristik Corporate Governance Terhadap Luas Pengungkapan Corporate Social Responsibility.
Terdapat empat variabel independen yaitu komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik dan kepemilikan asing. Metode pengumpulan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan mengambil 102 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013 sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komite audit memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility, sedangkan variabel komisaris independen, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Claudya dan Januarti (2015) meneliti Pengaruh Karakteristik Corporate Governance Terhadap Luas Pengungkapan CSR. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen yaitu komisaris independen, kepemilikan asing, dan kepemilikan publik. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 97 pada perusahaan manufaktur dan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan variabel komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan CSR Kepemilikan Publik berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. Sedangkan variabel Kepemilikan Asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
Munsaidah et.al. (2016) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Firm Size, Age, Profitabilitas, Leverage, dan Growth Perusahaan Terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Perusahaan Property dan Real Estate Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2010-2014.
Penelitian ini menggunakan lima variabel independen yaitu ukuran perusahaan, umur perusahaan, profitabilitas, leverage, dan pertumbuhan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility, sedangkan variabel umur perusahaan dan leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility.
Soejoto (2017) meneliti Pengaruh Struktur Kepemilikan Publik terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan-Perusahaan
Yang Terdaftar di BEI. Penelitian ini menggunakan satu variabel independen yaitu kepemilikan publik dan dua variabel kontrol yaitu leverage dan ukuran perusahaan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan memiliki 290 sampel penelitian untuk masing-masing periode 2010-2012. Hasil penelitian menunjukan variabel kepemilikan publik dan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR, sedangkan variabel leverange memiliki pengaruh negatif terhadap pengungkapan CSR.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Jianling et.al.
Ukuran perusahaan dan media exposure berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan tipe industri tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan.
Sedangkan komite audit, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan.
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Ukuran perusahaan dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan leverage menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Sedangkan profitabilitas, dewan komisaris dan pertumbuhan perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4. Respati dan
Ukuran perusahaan, tipe industri, dan pengungkapan media berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibiity.
Sedangkan profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibiity.
Komite audit memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan komisaris independen, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan CSR Kepemilikan Publik berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
Sedangkan Kepemilikan Asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
Ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility.
Sedangkan umur perusahaan dan leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility.
8. Soejoto (2017) Variabel Independen - Kepemiikan Publik
Kepemilikan publik dan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR.
Sedangkan leverange memiliki pengaruh negatif terhadap pengungkapan CSR.
Pengungkapan Corporate
Social Responsibility
(Y) 2.8 Kerangka Konseptual
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini ialah mengenai pengaruh corporate governance yang diukur dengan komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, dan tipe industri terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Gambar 2.1 akan menunjukkan kerangka konseptual untuk pengembangan hipotesis dalam penelitian ini.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Penelitian ini akan menganalisis hubungan dari komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan, dan tipe industri terhadap pengungkapan corporate social responsibility pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017.
Komite Audit (X2)
Kepemilikan Publik (X3)
Pertumbuhan Perusahaan (X4)
Komisaris Independen (X1)
Tipe Industri (X5)
1. Hubungan Komisaris Independen terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Komisaris Independen adalah komisaris yang bukan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan. Dewan komisaris independen memegang peranan penting dalam implementasi good corporate governance. Secara umum dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan. Dewan komisaris independen dalam mekanisme good corporate governance berperan penting tidak hanya melihat kepetingan pemilik tetapi juga kepentingan perusahaan secara umum. Dengan adanya komisaris independen, pengelolaan perusahaan akan lebih efektif dan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Apabila komisaris independen menjalankan perannya dengan efektif, maka pengelolaan perusahaan akan semakin baik dan mendorong pengungkapan corporate social responsibility secara lebih luas.
2. Hubungan Komite Audit terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Komite audit adalah komite yang dibentuk dewan komisaris untuk membantu dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu fungsi komite audit yaitu memastikan struktur pengendalian internal sudah cukup dan efektif. Berdasarkan tugas tersebut, keberadaan komite audit
dapat dianggap sebagai indikator pengawasan kualitas tinggi dan berpengaruh dalam menyediakan informasi lebih kepada pemakai laporan keuangan. Apabila komite audit menjalankan tugasnya dengan efektif, maka proses pengawasan dapat berjalan dengan baik dan mendorong pengungkapan corporate social responsibility semakin lebih luas.
3. Hubungan Kepemilikan Publik terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Kepemilikan publik adalah proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh publik/masyarakat terhadap saham perusahaan. Pengertian publik disini adalah pihak individu atau institusi yang memiliki saham dibawah 5%(<5%) yang berada di luar manajemen dan tidak memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan. Semakin besar proporsi kepemilikan saham publik, semakin banyak pihak yang membutuhkan informasi tentang perusahaan, sehingga semakin banyak pula butir-butir informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan. Semakin besar saham yang dimiliki oleh publik, maka akan semakin banyak informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan.
4. Hubungan Pertumbuhan Perusahaan terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Pertumbuham perusahaan merupakan salah satu pertimbangan para investor dalam menanamkan investasinya. Perusahaan yang memiliki kesempatan tumbuh yang tinggi diharapkan akan memberikan laba yang tinggi di masa depan, sehingga investor akan lebih tertarik untuk
berinvestasi di perusahaan tersebut. Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi akan mendapat banyak sorotan sehingga diprediksi perusahaan yang mempunyai kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial.
5. Hubungan Tipe Industri terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Tipe industri merupakan karakteristik yang dimiliki oleh perusahaan yang berkaitan dengan bidang usaha, risiko usaha, karyawan perusahaan, dan lingkungan perusahaan. Tipe industri dibedakan menjadi dua jenis yaitu, industri high-profile dan industri low-profile. Perusahaan yang termasuk ke dalam tipe industri high-profile merupakan perusahaan yang mempunyai tingkat sensitivitas tinggi terhadap lingkungan, tingkat risiko politik yang tinggi, atau tingkat kompetisi yang kuat sehingga perusahaan yang tergolong dalam tipe industri high-profile akan mendorong pengungkapan corporate social responsibility semakin lebih luas.
2.9 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka konseptual yang telah dijelaskan, maka hipotesis penelitian ini adalah komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan, dan tipe industri berpengaruh terhadap pengungkapan corporate social responsibility baik secara simultan maupun secara parsial pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal (causal assosiative research). Menurut Sugiyono (2005:11), Asosiatif kausal adalah peneltian yang mencari hubungan antara dua variabel atau lebih. Tujuan dari penelitian asosiatif adalah untuk mencari hubungan antara satu variabel dengan variabel lain. Dengan menggunakan penelitian asosiatif dapat diketahui hubungan antara variabel (komisaris independen), (komite audit), (kepemilikan publik), (pertumbuhan perusahaan), (tipe industri) terhadap Y (pengungkapan corporate social responsibility) secara simultan maupun parsial.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia melalui media internet dengan situs www.idx.co.id dan website resmi masing-masing perusahaan sampel. Penelitian ini dilakukan dengan cara mempelajari catatan-catatan atau dokumen-dokumen perusahaan sesuai dengan data yang diperlukan. Penelitian dimulai pada bulan Oktober 2018.
3.3 Batasan Operasional Penelitian
Penulis memberi kajian penelitian batasan operasional agar tujuan penelitian dapat tercapai, adapun batasan tersebut antara lain:
1. Faktor-faktor yang diteliti diperkirakan dapat mempengaruhi pengungkapan corporate social responsibility perusahaan manufaktur adalah komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan, dan tipe industri.
2. Objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2015-2017 dan melaporkan laporan keuangan dan/atau laporan tahunan selama periode tersebut.
3. Periode penelitian yang diamati adalah tahun 2015 sampai dengan 2017.
3.4 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Penelitian ini melibatkan variabel yang terdiri dari lima variabel bebas (independen) dan satu variabel terikat (dependen). Variabel independen dalam penelitian ini meliputi komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan dan tipe industri. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengungkapan corporate social responsibility.
3.4.1 Variabel Independen
Variabel independen menurut Sekaran (2009:117) “Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat (dependen), baik secara positif atau negatif”. Dalam penelitian ini terdapat lima variabel independen dan kelima variabel tersebut adalah komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan dan tipe industri.
3.4.1.1 Komisaris Independen
Komisaris Independen adalah komisaris yang bukan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan (Claudya dan Indira, 2015). Komisaris independen diukur dengan menggunakan skala rasio melalui presentase anggota dewan komisaris independen dari seluruh anggota dewan komisaris perusahaan.
INDP =
3.4.1.2 Komite Audit
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dalam Napitupulu dan Wahyu (2015), Komite Audit adalah komite yang dibentuk dewan komisaris untuk membantu dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu fungsi komite audit yaitu memastikan struktur pengendalian internal sudah cukup dan efektif.
Komite audit dalam penelitian ini diukur dengan cara menhitung banyaknya anggota komite audit yang ada di dalam perusahaan.
KAUD = Anggota komite audit
3.4.1.3 Kepemilikan Publik
Kepemilikan publik adalah persentase saham yang dimiliki oleh masyarakat. Kepemilikan publik diukur dengan menggunakan
skala rasio melalui persentase jumlah saham yang dimiliki oleh publik dari seluruh jumlah saham yang diterbitkan.
KPUB =
3.4.1.4 Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuham perusahaan (growth) merupakan salah satu pertimbangan para investor dalam menanamkan investasinya. Dimana pertumbuhan dapat menunjukkan peningkatan kinerja keuangan perusahaan yang memiliki kesempatan untuk memberikan laba yang tinggi dimasa depan. Pertumbuhan perusahaan diukur dengan menggunakan skala rasio melalui pertumbuhan penjulan perusahaan.
GROWTH = –
3.4.1.5 Tipe Industri
Tipe industri merupakan karakteristik yang dimiliki oleh perusahaan yang berkaitan dengan bidang usaha, risiko usaha, karyawan perusahaan, dan lingkungan perusahaan. Tipe industri dibedakan menjadi dua jenis yaitu, industri high-profile dan industri low-profile. Dalam penelitian ini perusahaan perusahaan yang termasuk kedalam industri high-profile diberi kode 1 dan perusahaan yang termasuk kedalam industri low-profile diberi kode 0.
3.4.2 Variabel Dependen
3.4.2.1 Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengungkapan corporate social responsibility pada pelaporan tahunan perusahaan yang dinyatakan dalam Corporate Social Disclosure Index (CSDi).
Perhitungan variabel ini dilakukan oleh peneliti dengan mengukur pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dalam laporan tahunan yang dilakukan dengan pengamatan mengenai ada tidaknya suatu item informasi yang ditentukan dalam laporan tahunan dengan asumsi setiap yang diungkapkan pasti telah dilakukan, apabila item informasi tidak ada dalam laporan keuangan maka diberi skor 0 dan jika item informasi yang ditentukan ada dalam laporan tahunan maka diberi skor 1. Metode pengukuran ini dinamakan dengan checklist data.
Instrumen pengukuran CSR yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah dengan membandingkan pengungkapan yang dilakukan perusahaan dengan jumlah pengungkapan yang dinyatakan dalam GRI-G4 sebanyak 91 item aspek pengungkapan. Perhitungan CSDI dirumuskan dengan:
CSDi =
Pengukuran indeks pengungkapan Corporate Social Responsibility dilakukan dengan metode content analysis yaitu metode pemodifikasian teks dengan ciri-ciri yang sama ditulis dalam berbagai
kelompok kategori berdasarkan pada kinerja yang ditentukan (Waryanto, 2010:43).
Tabel 3.1
Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel Defenisi Pengukuran Skala
Data Pengungkapan
Corporate Sosial Responsibility (Y)
Data yang diungkapkan oleh perusahaan berkaitan dengan aktivitas sosialnya
Komisaris yang bukan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi
Komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan
Anggota komite audit Rasio
Kepemilikan Publik (X3)
Persentase saham yang dimiliki oleh masyarakat. perusahaan dari perubahan operasional yang disebabkan oleh peningkatan atau penurunan volume usaha.
Rasio
Tipe Industri (X5)
Karakteristik yang dimiliki oleh perusahaan yang berkaitan dengan bidang usaha, risiko usaha, karyawan perusahaan, dan lingkungan perusahaan.
perusahaan yang termasuk kedalam industri high-profile diberi kode 1 perusahaan yang termasuk kedalam industri low-profile diberi kode 0.
Nominal
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian 3.5.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
penelitian untuk dipelalajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017:136). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2015 -2017. Populasi penelitian ini terdiri dari 19 sub sektor yang total didalamnya terdapat 156 perusahaan.
3.5.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari anggota populasi yang diambil menurut prosedur tertentu (Sugiarto, 2017:136). Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Berikut ini kriteria yang digunakan untuk menentukan sampel pada penelitian ini adalah:
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2017 secara berturut-turut dan tidak mengalami delisting selama periode tersebut.
2. Perusahaan manufaktur yang telah menerbitkan laporan keuangan dan/atau laporan tahunan yang telah diaudit selama periode pengamatan tahun 2015-2017.
3. Perusahaan manufaktur yang mengungkapkan data mengenai pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian selama tahun 2015-2017.
Tabel 3.2
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015-2017 secara berturut-turut dan tidak mengalami delisting selama periode tersebut.
(16) 140
2. Perusahaan manufaktur yang telah menerbitkan laporan keuangan dan/atau laporan tahunan yang telah diaudit selama periode pengamatan tahun 2015-2017.
(22) 118
3 Perusahaan manufaktur yang mengungkapkan data mengenai pengukuran variabel yang digunakan dalam penelitian selama tahun 2015-2017.
(38) 80
Jumlah sampel 80
Jumlah observasi x 3 tahun 240
Berdasarkan kriteria yang dikemukanan diatas sampel dalam penelitian ini berjumlah 80 perusahaan yang diambil dari 156 perusahaan dengan tiga tahun penelitian, sehingga jumlah data amatan sebanyak 240 perusahaan.
Daftar perusahaan yang menjadi sampel akan dilampirkan didaftar lampiran II.
3.6 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk kuantitatif yaitu data yang diukur dalam bentuk skala numerik yang diperoleh secara tidak langsung. Data sekunder yang diperoleh berupa laporan keuangan auditan atau laporan tahunan perusahaan manufaktur tahun 2015-2017.
Data bersumber dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan keuangan dan/atau laporan tahunan perusahaan yang telah dipublikasikan.
Data tersebut diunduh dari situs www.idx.co.id mengenai perusahaan manufaktur yang sesuai dengan kriteria pemilihan sampel dalam penelitian ini.
3.8 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Analisis regresi berganda adalah teknik analisis yang menjelaskan hubungan antara variabel dependen dengan beberapa variabel independen. Sebelum melakukan regresi, peneliti terlebih dahulu melakukan uji asumsi klasik dan statistik deskriptif.
3.8.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu data yang diihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemenangan distribusi) (Ghozali, 2013:19).
3.8.2 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah asumsi yang mendasari analisis regresi dengan tujuan mengukur asosiasi atau keterikatan antar variabel bebas. Terdapat empat pengujian terkait uji asumsi klasik yaitu uji normalitas data, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
3.8.2.1 Uji Normalitas Data
Ghozali (2013:160) menyatakan “uji normalitas merupakan salah satu uji asumsi klasik yang bertujuan untuk menguji apakah dalam model refresi variabel pengganggu (residual) terdistribusi normal atau tidak”. Salah satu cara untuk mendeteksi apakah suatu variabel terdistribusi secara normal atau tidak, yaitu dengan uji Kolmogorov- Smirnov. Uji Kolmogorov Smirnov dilakukan dengan melihat angka probabilitasnya dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas <0.05 maka berarti distribusi tidak normal.
2. Jika nilai signifikan atau nilai probabilitas >0.05 maka distribusi dikatakan normal.
Selain itu, untuk mendeteksi variabel terdistribusi secara normal atau tidak dapat dilakukan pula dengan memperhatikan penyebaran data (titik) pada Normal P-Plot Regression Standardized Residual dari variabel dependen. Menurut Ghozali (2013:163) ketentuannya adalah:
1. Apabila data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tersebut dikatakan terdistribusi normal.
2. Apabila data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti garis diagonal, maka model regresi tersebut dikatakan tidak normal.
3.8.2.2 Uji Multikolinearitas
Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi
Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model regresi