SKRIPSI
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, PERTUMBUHAN PERUSAHAAN, DAN TIPE INDUSTRI TERHADAP PENGUNGKAPAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015-2017
OLEH
SILVIA OKTAVIANI PINEM 170522133
PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI DEPARTEMEN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS MEDAN
Telah diuji pada
Tanggal 15 Agustus 2019
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua Penguji : Drs. M. Lian Dalimunthe, MEc, Ac., Ak, CPA Penguji : Dra. Mutia Ismail, MM, Ak
Pembanding : Drs. Hotmal Ja’far, MM, Ak
ABSTRAK
PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, PERTUMBUHAN PERUSAHAAN DAN TIPE INDUSTRI TERHADAP PENGUNGKAPAN CORPORATE
SOCIAL RESPONSIBILITY PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015-2017
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh corporate governance, pertumbuhan perusahaan, dan tipe industri terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015-2017.
Terdapat 156 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sebanyak 80 perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel dalam penelitian ini.
teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive samping.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data penelitian diperoleh dari website www.idx.co.id. Data yang diperoleh dan dikumpulkan kemudian diolah menggunakan aplikasi SPSS versi 22.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan perusahaan dengan nilai signifikansi 0,006 dan tipe industri dengan nilai signifikansi 0,000 berpengaruh signfikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan variabel corporate governance yang terdiri dari komisaris independen, komite audit dan kepemilikan publik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Kata kunci: Pengungkapan Corporate Social Responsibility, Corporate Governance, Komisaris Independen, Komite Audit, Kepemilikan Publik, Pertumbuhan Perusahaan, Tipe Industri.
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF CORPORATE GOVERNANCE, GROWTH COMPANY AND INDUSTRY TYPE TO CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
DISCLOSURE ON MANUFACTURING COMPANIES LISTED IN INDONESIAN STOCK EXCHANGE DURING 2015-2017
This study to determine the influence of the corporate governance, growth company and industry type on corporate social responsibility disclosure. This research uses sample of manufacturing companies are listed on Indonesia Stock Exchange during the period 2015-2017. There are 156 manufacturing companies listed in Indonesia Stock Exchange. There are 80 manufacturing companies being sampled on this research.
The data in this research is secondary data. The data obtained by the website www.idx.co.id. The data processed using the SPSS version 22.
The results showed that the growth company with value of significant 0,006 and industry type with value of signifificant 0,000 are significant effect to corporate social responsibility disclosure. While independent commissioner, audit commite and public ownership did not significantly influence to the corporate social responsibility disclosure.
Keywords: Corporate Social Responsibility Disclosure, Corporate Governance, Independent Commissioner, Audit Commite, Public Ownership, Growth Company, Industry Type.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Corporate Governance, Pertumbuhan Perusahaan dan Tipe Industri Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2017”. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Selama penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapatkan bimbingan, dorongan, semangat, saran, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Syafruddin Ginting Sugihen, MAFIS, Ak, CPA selaku Ketua Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. M. Lian Dalimunthe, MEc, Ac., Ak, CPA Selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan petunjuk, pengarahan, bimbingan dan bantuan dari awal hingga selesainya skripsi ini.
4. Ibu Dra. Mutia Ismail, MM, Ak selaku Dosen Penguji dan Bapak Drs.
Hotmal Ja’far, MM, Ak selaku Dosen Pembanding yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun demi perbaikan skripsi ini.
5. Keluarga terkhusus orangtua, Bapak Taman Pinem dan Ibu Carimuli Br Tarigan, serta adik-adik penulis Nico Novandri Pinem, Yohana Novrista Pinem, Andre Ariesta Pinem dan kepada kakak penulis Kak Ricca Nopita Tarigan yang selalu mendoakan, memberikan semangat dan dukungan baik berupa moril dan materil dan juga buat semua pengorbanan yang telah diberikan untuk penulis.
6. Sahabat dan teman-teman penulis Kristy, Asnita, Febby, Molina, Valentin, Titian, Monica, Reka, Widya, Xelyn, Bale, KMK St. Ignatius Loyola FEB USU, Akuntansi Ekstensi Grup C Stambuk 2017 dan kepada teman-teman lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. Terima kasih untuk segala partisipasi, doa, dukungan, dan hiburan untuk penulis tetap semangat dan terus berjuang dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu saran dan kritik membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penelitian ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Medan, 2019 Penulis
Silvia Oktaviani Pinem NIM. 170522133
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 11
1.3 Tujuan Penelitian ... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Landasan Teori ... 13
2.1.1 Teori Stakeholder ... 13
2.1.2 Teori Legitimasi ... 14
2.2 Corporate Social Responsibility ... 16
2.3 Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 18
2.4 Corporate Governance ... 20
2.4.1 Komisaris Independen ... 21
2.4.2 Komite Audit ... 22
2.4.3 Kepemilikan Publik ... 22
2.5 Pertumbuhan Perusahaan ... 23
2.6 Tipe Industri ... 24
2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 25
2.8 Kerangka Konseptual ... 31
2.9 Hipotesis Penelitian ... 34
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 35
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 35
3.3 Batasan Operasional Penelitian ... 35
3.4 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel ... 36
3.4.1 Variabel Independen ... 36
3.4.1.1 Komisaris Independen ... 36
3.4.1.2 Komite Audit ... 37
3.4.1.3 Kepemilikan Publik ... 37
3.4.1.4 Pertumbuhan Perusahaan ... 38
3.4.1.5 Tipe Industri ... 38
3.4.2 Variabel Dependen ... 39
3.4.2.1 Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 39
3.5 Populasi dan Sampel Penelitian ... 40
3.5.1 Populasi Penelitian ... 40
3.5.2 Sampel Penelitian ... 41
3.6 Jenis data dan Sumber Data ... 42
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 42
3.8 Teknik Analisis Data ... 43
3.8.1 Statistik Deskriptif ... 43
3.8.2 Uji Asumsi Klasik ... 43
3.8.2.1 Uji Normalitas Data ... 43
3.8.2.2 Uji Multikolinieritas ... 44
3.8.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 45
3.8.2.4 Uji Autokorelasi ... 46
3.9 Pengujian Hipoteis ... 47
3.9.1 Koefisien Determinasi (R2) ... 48
3.9.2 Uji Signifikansi Simultan (F Test) ... 48
3.9.3 Uji Signifikansi Parsial (t Test) ... 49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian ... 51
4.2 Hasil Pembahasan ... 51
4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 51
4.2.2 Uji Asumsi Klasik ... 56
4.2.2.1 Uji Normalitas ... 56
4.2.2.2 Uji Multikolinearitas ... 59
4.2.2.3 Uji Heteroskedastisitas ... 60
4.2.2.4 Uji Autokorelasi ... 62
4.2.3 Uji Regresi Linear Berganda ... 63
4.2.4 Uji Hipotesis ... 65
4.2.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 65
4.2.4.2 Uji F ... 67
4.2.4.3 Uji t ... 67
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 71
4.3.1 Pengaruh Komisaris Independen Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 71
4.3.2 Pengaruh Komite Audit Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 72
4.3.3 Pengaruh Kepemilikan Publik Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 73
4.3.4 Pengaruh Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 74
4.3.5 Pengaruh Tipe Industri Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility ... 75
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 77
5.2 Keterbatasan Penelitian ... 78
5.3 Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 80
LAMPIRAN ... 83
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 Indeks Pengungkapan CSR ... 4
1.1 Research GAP ... 10
2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 29
3.1 Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 40
3.2 Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria ... 42
3.3 Dasar Pengambilan Keputusan Autokorelasi ... 47
4.1 Hasil Statistik Deskriptif ... 52
4.2 Statistik Frekuensi ... 55
4.3 One Sampel Kolmogorov-Smirnov Test ... 57
4.4 Hasil Uji Multikolinearitas ... 59
4.5 Hasil Uji Autokorelasi ... 62
4.6 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda ... 63
4.7 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 65
4.8 Hasil Uji Signifikansi Simultan (F Test) ... 67
4.9 Hasil Uji Signifikansi Parsial (t - Test) ... 67
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Persentase Indeks Pengungkapan CSR ... 4
2.1 Kerangka Konseptual ... 31
4.1 Grafik Histogram ... 58
4.2 Grafik Normal P-Plot Of Standardized Residual ... 58
4.3 Scatterplot ... 61
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Judul Halaman
1 Indikator Pengungkapan CSR Menurut GRI-G4 ... 83 2 Tabel Pengambilan Sampel dengan Kriteria ... 88 3 Daftar Variabel Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Perusahaan Manufaktur Tahun 2015-2017 ... 93 4 Daftar Variabel Komisaris Independen Perusahaan Manufaktur
Tahun 2015-2017 ... 95 5 Daftar Variabel Komite Audit Perusahaan Manufaktur Tahun
2015-2017 ... 97 6 Daftar Variabel Kepemilikan Publik Perusahaan Manufaktur
Tahun 2015-2017 ... 99 7 Daftar Variabel Pertumbuhan Perusahaan Perusahaan
Manufaktur Tahun 2015-2017 ... 101 8 Daftar Variabel Tipe Industri Perusahaan Manufaktur
Tahun 2015-2017 ... 103 9 Output Hasil Pengujian Data Dengan Software SPSS
Versi 22 ... 105
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya lingkungan masyarakat sekitar perusahaan merupakan bagian yang dapat mempengaruhi aktivitas dan pencapaian tujuan perusahaan.
Lingkungan menjadi hal yang disorot banyak pihak akibat kerap terabaikannya kondisi lingkungan oleh perusahaan. Lingkungan bagi perusahaan juga memiliki pengaruh yang penting yang dapat mengganggu aktivitas dan kegiatan perusahaan. Salah satu bentuk pertanggungjawaban sosial dan lingkungan yang dilakukan perusahaan adalah melalui pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR).
Corporate social responsibility atau tanggungjawab sosial perusahaan merupakan sebuah gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada aspek keuntungan semata, yaitu nilai perusahaan yang direfleksikan dalam kondisi keuangan, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya. Perkembangan CSR tidak terlepas dari konsep pembangunan berkelanjutan (sustainability development).
Konsep CSR menyatakan bahwa tanggung jawab perusahaan tidak hanya terhadap pemiliknya atau pemegang saham saja tetapi terhadap para stakeholders yang terkait dan/atau terkena dampak dari keberadaan perusahaan.
Pentingnya pelaksanaan tanggungjawab sosial membuat pemerintah sebagai regulator turut mengambil kebijakan dalam pelaksanaan tanggungjawab sosial peusahaan. Hal ini terlihat dengan adanya aturan mengenai kewajiban perusahaan
dalam melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan yaitu Undang Undang Perseroan Terbatas (UUPT) Nomor 40 Tahun 2007 pasal 66 dan 74. Dalam pasal 66 ayat (2) disebutkan bahwa selain menyampaikan laporan keuangan, perusahaan juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggungjawab sosial dan lingkungan.
Pada pasal 74 ayat (1) disebutkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan. Selain itu, kewajiban pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan juga diatur dalam Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007 yang mengatur setiap penanam modal diwajibkan untuk ikut serta dalam tanggungjawab sosial dan lingkungan perusahaan.
Peraturan pemerintah terkini yang berkaitan dengan tanggungjawab sosial perusahaan adalah PP No. 27 Tahun 2012 dan PP No. 47 Tahun 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 mengenai izin lingkungan yang menyebutkan dalam pasal 3 ayat 1 dan 2 bahwa setiap usaha dan atau kegiatan yang berdampak terhadap lingkungan hidup wajib memiliki AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup) dan yang tidak termasuk dalam kriteria wajib AMDAL wajib memiliki UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pemantauan Lingkungan Hidup). Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2012 pasal 6 memuat pelaksanaan tanggungjawab sosial dan lingkungan dalam laporan tahunan perseroan dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS.
Beberapa fenomena kasus yang terjadi di Indonesia yang terkait dengan permasalahan yang muncul dikarenakan perusahaan dalam melaksanakan
operasinya kurang memperhatikan kondisi dan lingkungan sekitar khususnya perusahaan yang aktivitasnya berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam.
Sebagai contoh kasus pencemaran Teluk Buyat, yaitu pembuangan tailing atau limbah yang dapat dikatakan sampah dan berpotensi mencemarkan lingkungan baik dilihat dari volume yang dihasikan maupun potensi rembesan yang mungkin terjadi pada tempat pembuangan limbah. Kasus Lapindo Brantas, yang diakibatkan dari semburan lumpur panas akibat pengeboran sumur banjar yang menyebabkan kehancuran infrastruktur, dan kehilangan tempat tinggal masyarakat akibat operasional Lapindo Brantas Inc serta kasus PT. Freepot Indonesia yang laporan publikasi dari Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan adanya pelanggaran berupa terlampauinya batas air limbah yang menyebabkan pencemaran air laut dan juga perusakan biota laut.
Menurut Ikhsan (2008:135) tingkat pegungkapan tergantung pada standar yang dianggap paling diinginkan. Tiga konsep pengungkapan yang biasanya diusulkan adalah pengungkapan yang memadai (adequate), wajar (fair), dan lengkap (full). Pengungkapan Corporate Social Responsibility pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015-2017 termasuk pengungkapan pada tingkat yang memadai (adequate) dapat dilihat bahwa tingkat pengungkapan corporate social responsibility pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tiap tahunnya mengalami peningkatan namun cenderung masih rendah, ini terjadi karena masih banyak perusahaan yang belum melakukan pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan sesuai dengan standar GRI-G4 yang berlaku di Indonesia sebagai
standar pengungkapan corporate social responsibility. Berikut akan disajikan data dalam bentuk grafik mengenai indeks pengungkapan corporate social responsibility pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017.
Tabel 1.1
Persentase Indeks Pengungkapan CSR Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2017
Tahun Indeks Pengungkapan CSR
Total perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Tahun 2015-2017
Persentase Indeks Pengungkapan CSR
2015 16.07 156 10.30%
2016 16.15 156 10.35%
2017 20.14 156 13%
Gambar 1.1
Persentase Indeks Pengungkapan CSR Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2017
Sumber: diolah peneliti, 2018
Berdasarkan data tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengungkapan corporate social responsibility. Peneliti berfokus pada
0%
2%
4%
6%
8%
10%
12%
14%
2015 2016 2017
Persentase Indeks Pengungkapan CSR Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2017
pengungkapan corporate sosial responsibility yang dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan yaitu corporate governance, yang diukur dengan komisaris independen, komite audit dan kepemilikan publik, serta pertumbuhan perusahaan dan tipe industri yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini.
Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Azheri (2012:181) pengelolaan perusahaan yang sesuai dengan good corporate governance adalah pengelolaan yang menerapkan prinsip-prinsip kewajaran (fairness), transparansi (disclosure/transparency), akuntabilitas (accountability), dan pertanggung jawaban (responsibility). Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang terkait antara corporate governance dengan corporate social responsibility.
Praktik dan pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan merupakan konsekuensi logis dari implementasi konsep corporate governance, yang menyatakan bahwa perusahaan perlu memperhatikan kepentingan stakeholders- nya, sesuai dengan aturan yang ada dan menjalin kerja sama yang aktif dengan stakeholders-nya demi kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan. Menurut Said et.al. dalam Paramita dan Marsono (2014) menyatakan bahwa corporate governance sangat efektif untuk memastikan bahwa kepentingan stakeholders telah dilindungi. Mekanisme good corporate governance akan bermanfaat dalam mengatur dan mengendalikan perusahaan sehingga menciptakan nilai tambah untuk semua stakeholders.
Berbagai penelitian sebelumnya telah banyak menganalisis faktor apa saja yang mempengaruhi pengungkapan corporate social responsibility salah satunya
adalah komisaris independen. Menurut peraturan Bursa Efek Indonesia, perusahaan yang terdaftar di BEI wajib memiliki sekurang-kurangnya 30% dari Dewan Komisaris adalah Komisaris Independen. Komisaris independen bertugas untuk mengawasi dan menyediakan saran kepada dewan direksi serta memastikan perusahaan melakukan praktik tata kelola perusahaan. Menurut Rosenstein dan Wyatt (1990) dalam Paramita dan Marsono (2014) mengatakan bahwa komisaris independen dipandang sebagai alat untuk memonitor perilaku manajemen yang nantinya dapat menghasilkan lebih banyak informasi pengungkapan sukarela perusahaan. Dengan demikian semakin besar persentase anggota independen yang ada pada dewan komisaris, akan meningkatkan aktivitas monitoring terhadap kualitas pengungkapan keuangan dan mengurangi kepentingan dari kegiatan menutup-nutupi informasi. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Claudya dan Indira (2015) menyatakan bahwa komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan corporate social responsibility. Berbeda dengan hasil penelitian Napitupulu dan Wahyu (2015) menyatakan bahwa komisaris independen tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan corporate social responsibility.
Komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelola perusahaan. Salah satu fungsi komite audit adalah sebagai bagian dalam perusahaan adalah membantu dewan komisaris memastikan struktur pengendalian internal sudah cukup dan efektif. Berdasarkan tugas tersebut, keberadaan komite audit dapat dianggap sebagai indikator pengawasan kualitas tinggi dan berpengaruh dalam menyediakan informasi lebih
kepada pemakai laporan keuangan. Apabila komite audit menjalankan tugasnya dengan efektif, maka proses pengawasan dapat berjalan dengan baik dan mendorong pengungkapan CSR semakin lebih luas. Menurut Napitupulu dan Wahyu (2015) “Hal ini dikarenakan keberadaan komite audit dengan proporsi anggota independen yang lebih besar dapat mengurangi agency cost dan meningkatkan pengendalian internal yang mengarah pada kualitas pengungkapan yang lebih baik”. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Napitupulu dan Wahyu (2015) menyatakan bahwa komite audit berpengaruh signifikan dan positif terhadap luas pengungkapan corporate social responsibility. Berbeda dengan penelitian penelitian Perwira dan Paulus (2013) bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan.
Kepemilikan publik merupakan proporsi kepemilikan saham yang dimiliki oleh publik. Soejoto (2017) mengatakan bahwa “Jika proporsi saham yang dimiliki publik lebih besar, maka pengawasan dari publik juga lebih besar, oleh karena itu semakin tinggi proporsi saham yang dimiliki publik maka tingkat kelengkapan pengungkapan pada laporan tahunan akan semakin tinggi”.
Penelitian Soejoto (2017) menyatakan bahwa kepemilikan publik memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan penelitian Napitupulu dan Wahyu (2015) menyatakan bahwa kepemilikan publik tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas pengungkapan corporate social responsibility.
Pertumbuhan perusahaan merupakan salah satu pertimbangan para investor dalam menanamkan investasinya, karena pertumbuhan perusahaan dapat
menunjukkan peningkatan kinerja keuangan perusahaan yang memiliki kesempatan untuk memberikan profitabilitas yang tinggi dimasa depan.
Munsaidah et.al. (2016) menyatakan bahwa “Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi akan mendapat sorotan sehingga diprediksi perusahaan yang mempunyai kesempatan pertumbuhan yang lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan pengungkapan tanggungjawab sosial”. Penelitian Munsaidah et.al. (2016) menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Sedangkan penelitian Evandini dan Darsono (2014) menyatakan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas pengungkapan corporate social responsibility.
Tipe industri merupakan karakteristik yang dimiliki oleh perusahaan yang berkaitan dengan bidang usaha, risiko usaha, karyawan perusahaan, dan lingkungan perusahaan. Tipe industri dibedakan menjadi dua jenis yaitu, industri high-profile dan industri low-profile. Menurut Respati dan Paulus (2015)
“Perusahaan dengan kategori high profile akan mendapatkan sorotan lebih dari masyarakat luas, karena aktivitas operasinya memiliki potensi dan besar kemungkinan berhubungan langsung dengan masyarakat. Hal tersebut dapat memacu perusahaan untuk mengungkapkan informasi secara lebih kepada masyarakat, karena perhatian masyarakat cenderung lebih terpusat pada perusahaan yang tergolong high-profile dibandingkan dengan perusahaan yang tergolong low profile”. Penelitian Respati dan Paulus (2015) menyatakan bahwa tipe industri memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate
social responsibility. Sedangkan penelitian Jianling et.al. (2013) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Berbagai penelitian mengenai pengungkapan corporate social responsibility telah banyak dilakukan mengingat begitu pentingnya faktor lingkungan dan sosial bagi perusahaan menjadikan pengungkapan corporate social responsibility serta faktor-faktor yang mempengaruhinya sebagai salah satu objek penelitian yang signifikan untuk diteliti. Penelitian ini juga merupakan modifikasi dari penelitian Napitupulu dan Wahyu (2015). Beberapa perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada variabel independen, tahun penelitian dan standar GRI yang akan diuraikan seperti dibawah ini:
1. Penelitian ini menggunakan variabel independen berupa corporate governance yang diukur dengan komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan dan tipe industri terhadap variabel dependen yaitu pengungkapan corporate social responsibility.
Penelitian terdahulu menggunakan variabel independen berupa komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik dan kepemilikan asing terhadap variabel dependen yaitu luas pengungkapan corporate social responsibility.
2. Penelitian ini mengambil tahun penelitian yang terbaru yaitu dengan menggunakan laporan tahunan dari tahun 2015-2017. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang mengambil data laporan tahunan yaitu tahun 2011-2013.
3. Penelitian ini menggunakan Standar GRI-G4 sebagai indikator standar pengungkapan corporate social responsibility dengan jumlah indikator pengungkapan 91. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang memakai standar GRI-G3 sebagai indikator standar pengungkapan corporate social responsibility dengan jumlah indikator pengungkapan 79.
Ada delapan penelitian yang dijadikan peneliti sebagai acuan dalam melakukan penelitian ini, yaitu Claudya dan Indira (2015), Napitupulu dan Wahyu (2015), Perwira dan Paulus (2013), Soejoto (2017), Munsaidah et.al. (2016), Evandini dan Darsono (2014), Respati dan Paulus (2015) dan Jianling et.al (2013). Perbedaan-perbedaan hasil penelitian yang terjadi ini disebut juga dengan Research Gap. Untuk itu, peneliti akan merangkum Research Gap berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya dalam tabel berikut ini:
Tabel 1.2
Research Gap Penelitian Sebelumnya
Variabel Dependen
Variabel
Independen Hasil Penelitian Peneliti
Pengungkapan Corporate
Social Responsibility
Komisaris Independen
Berpengaruh signifikan positif Claudya dan Indira (2015) Tidak berpengaruh signifikan Napitupulu dan Wahyu
(2015) Komite Audit
Berpengaruh signifikan positif Napitupulu dan Wahyu (2015) Berpengaruh negatif tidak
signifikan
Perwira dan Paulus (2013) Kepemilikan
Publik
Berpengaruh signifikan positif Soejoto (2017) Tidak berpengaruh signifikan Napitupulu dan Wahyu
(2015) Pertumbuhan
Perusahaan
Berpengaruh signifikan positif Munsaidah et.al.
(2016) Tidak berpengaruh signifikan Evandini dan Darsono
(2014) Tipe Industri Berpengaruh signifikan positif Respati dan Paulus
(2015) Tidak berpengaruh signifikan Jianling et.al (2013)
Sumber: Olahan Peneliti (2018)
Adapun karena adanya ketidakkonsistenan ini, maka peneliti tertarik untuk menguji kembali pengaruh dari variabel-variabel tersebut terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Penelitian ini diharapkan mampu mendapatkan jawaban atas ketidakkonsistenan yang terjadi. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Corporate Governance, Pertumbuhan Perusahaan, dan Tipe Industri Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Corporate Governance, Pertumbuhan Perusahaan, dan Tipe Industri berpengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility baik secara simultan maupun secara parsial pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2017?”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Corporate Governance, Pertumbuhan Perusahaan, dan Tipe Industri berpengaruh terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility baik secara simultan maupun secara parsial pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2015-2017.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi peneliti
Penelitian ini dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai informasi corporate social responsibility dan faktor apa saja yang mempengaruhi pengungkapannya.
2. Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan memberikan masukan untuk pengambilan keputusan perusahaan mengenai pengungkapan corporate social responsibility perusahaan dalam laporan tahunan.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, memudahkan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian mengenai faktor yang mempengaruhi pengungkapan corporate social responsibility.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Stakeholder
Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain). Dengan demikian, keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder kepada perusahaan tersebut (Ghozali, 2014:439).
Istilah pemangku kepentingan (stakeholder) merujuk kepada semua pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh tindakan perusahaan.
Ullman (1985) dalam Ghozali (2014:440) memberikan pendapat bahwa
“cara-cara yang dilakukan perusahaan untuk mengelola stakeholdernya tergantung pada strategi yang diadopsi perusahaan. Organisasi mungkin mengadopsi strategis yang aktif atau pasif. Strategi aktif merupakan strategi untuk terus memonitor dan berusaha mempengaruhi stakeholder yang dipandang berpengaruh atau penting. Strategi pasif merupakan strategi yang cenderung tidak terus menerus memonitor dan mempengaruhi stakeholder dan secara sengaja tidak berusaha untuk menarik perhatian dari stakeholder.
Kurangnya perhatian kepada stakeholder mengakibatkan rendahnya tingkat pengungkapan informasi sosial dan kinerja sosial perusahaan.
Oleh karena itu, teori stakehoder menjadi relevan untuk menjelaskan pengembangan corporate social responsibility. Dengan adanya teori stakeholder ini memberikan landasan bahwa suatu perusahaan harus mampu memberikan manfaat bagi stakeholdernya. Manfaat tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan program corporate social responsibility. Dengan adanya program tersebut pada perusahaan diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan bagi karyawan, pelanggan, dan masyarakat lokal. Sehingga diharapkan akan terjalin hubungan yang baik antara perusahaan dengan lingkungan sekitarnya.
2.1.2 Teori Legitimasi
Teori legitimasi menjelaskan hubungan perusahaan dengan masyarakat.
Dowling dan Pfeffer (1975) dalam Ghozali (2014:441) menjelaskan bahwa,
“Legitimasi adalah hal yang penting bagi organisasi, batasan-batasan yang ditekankan oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial, dan reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya analisis perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan”.
Teori legitimasi memfokuskan pada interaksi antara perusahaan dengan masyarakat. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu perusahaan akan berusaha untuk menyeimbangkan dengan norma-norma perilaku yang ada dalam sistem sosial masyarakat dimana perusahaan adalah bagian dari sistem tesebut. Jika nilai-nilai dari perusahaan dan masyarakat selaras, legitimasi perusahaan atau pengesahan keberadan perusahaan didalam masyarakat bisa
tercapai. Jika perusahaan tidak bisa menyesuaian diri dengan nilai-nilai masyarakat, keberadaan dan pengesahan perusahaan bisa terancam.
Khan et.al. dalam Perwira dan Paulus (2013) menjelaskan bahwa teori legitimasi biasanya digunakan untuk menjelaskan motivasi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Khan et.al. menambahkan motivasi perusahaan melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan adalah untuk mendapatkan dukungan dari stakeholder dan bisa melanjutkan aktivitasnya selama organisasi memberikan manfaat dan tidak berbahaya seperti mengolah limbah berbahaya, mengurangi dampak polusi, dan mensejahterakan warga sekitar pabrik.
Gray, Kouhy dan Lavers (1994) dalam Ghozali (2014:441) berpendapat bahwa teori legitimasi dan teori stakeholder merupakan perspektif teori yang berada dalam kerangka teori ekonomi politik. Karena pengaruh masyarakat luas dapat menentukan alokasi sumber keuangan dan sumber ekonomi lainnya, perusahaan cenderung menggunakan kinerja berbasis lingkungan dan pengungkapan informasi lingkungan untuk membenarkan atau melegitimasi aktivitas perusahaan di mata masyarakat.
Hasil penelitian diatas menjelaskan bahwa legitimasi perusahaan dapat ditingkatkan melalui corporate social responsibility. Untuk itu, pengungkapan corporate social responsibility merupakan salah satu bentuk perhatian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat. Dengan adanya program corporate social responsibility, perusahaan dapat memberikan
kontribusi positif kepada masyarakat sekitar, sehingga masyarakat sekitar dapat menerima baik keberadaan perusahaan dilingkungannya.
2.2 Corporate Social Responsibility
Defenisi mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) sekarang ini sangatlah beragam. Seperti defenisi CSR yang dikemukakan oleh The World Business Council For Sustainable Development (WBCSD) dalam Hadi (2014:47) yang mendefenisikan CSR sebagai “Continuing commitment by business to behave ethically and contributed to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large”. Defenisi ini menunjukkan tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) merupakan satu bentuk tindakan yang berangkat dari pertimbangan etis perusahaan yang diarahkan untuk meningkatkan ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup bagi karyawan perusahaan serta keluarganya, serta sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar dan masyarakat secara lebih luas.
Johnson (2006) dalam Hadi (2014) memberikan definisi CSR sebagai berikut,
“Corporate social responsibility (CSR) is about how companies manage the business processes to produce an overall positive impact on society”. Menurut definisi tersebut, pada dasarnya bermula dari filosofi bagaimana cara mengelola perusahaan baik sebagian maupun secara keseluruhan memiliki dampak positif bagi dirinya dan lingkungan. Untuk itu, perusahaan harus mampu mengelola bisnis operasinya dengan menghasilkan produk yang berorientasi secara positif terhadap masyarakat dan lingkungan.
Jika dilihat dari beberapa definisi corporate social responsibility diatas, tampak bahwa secara umum corporate social responsibility adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial. Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada disekitar perusahaan tersebut berada. Corporate social responsibility merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. Menurut Suharto (2008:18) ada empat manfaat tanggungjawab sosial perusahaan terhadap perusahaan, yaitu:
1. Brand Differention. Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif, tanggungjawab sosial perusahaan bisa memberikan citra perusahaan yang khas, baik dan etis dimata publik yang pada gilirannya menciptakan customer loyality.
2. Human Resources. Program tanggungjawab sosial perusahaan dapat membantu dalam perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki kualifikasi tinggi. Saat interview, calon karyawan yang memiliki pendidikan dan pengalaman tinggi sering bertanya tentang tanggungjawab sosial perusahaan dan etika bisnis perusahaan, sebelum mereka memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama, tanggungjawab sosial perusahanan juga dapat meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja.
3. License to operate. Perusahaan yang menjalankan tanggungjawab sosial perusahaan dapat mendorong pemerintah dan publik memberi ijin menjalankan bisnis atau usaha karena dianggap telah memenuhi standar operasi dan kepedulian dan masyarakat luas.
4. Risk Manajemen. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan. Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau
kerusakan lingkungan. Membangun budaya “doing right thing” berguna dalam mengelola resiko-resiko bisnis.
2.3 Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bagian dari akuntansi pertanggungjawaban sosial kepada stakeholder. Perusahaan yang telah melaksanakan praktik CSR dapat mengungkapkan pelaksanaan CSR tersebut baik terintegrasi langsung dalam laporan tahunan maupun laporan terpisah yang disebut dengan sustainability report.
Pengungkapan corporate social responsibility atau sering juga disebut sebagai pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan.
Di Indonesia, pengungkapan CSR diatur dalam Undang Undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007 pada pasal 66 ayat (2) yang menyebutkan bahwa semua perseroan wajib untuk melaksanakan pelaksanaan tanggungjawab tersebut di laporan tahunan. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk menerapkan CSR dalam program kerjanya dan mengungkapkan CSR pada laporan tahunan perusahaan. Dengan mengungkapkan CSR perusahaan memang tidak akan mendapatkan profit atau keuntungan secara langsung, tetapi mendapat benefit berupa citra perusahaan yang baik.
Pengungkapan Corporate Social Responsibility dalam laporan tahunan dan/atau dalam sustainnability report merupakan laporan aktivitas tanggungjawab sosial yang telah dilakukan perusahaan baik berkaitan dengan perhatian masalah
dampak sosial maupun lingkungan. Laporan tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan laporan tahunan yang dipertanggungjawabkan direksi didepan sidang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Laporan ini berisi laporan program-program sosial dan lingkungan perseroan yang telah dilaksanakan selama tahun terakir (Hadi, 2014:206).
Standar pengungkapan Corporate Social Responsibility yang berkembang di Indonesia merujuk pada standar yang di terapkan oleh GRI (Global Reporting Intiative). Standar GRI dipilih karena lebih memfokuskan pada standar pengungkapan sebagai kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan pemanfaatan sustainability reporting.
Penelitian ini menggunakan standar GRI-G4 sebagai indikator pengukuran pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan. Standar GRI-G4 menyediakan kerangka kerja yang relevan secara global untuk mendukung pendekatan yang terstandarisasi dalam pelaporan yang mendorong tingkat transparansi dan konsistensi yang diperlukan untuk membuat informasi yang disampaikan menjadi berguna dan dapat dipercaya oleh pasar dan masyarakat. Karakteristik yang ada di GRI-G4 menjadikan pedoman ini lebih mudah digunakan baik bagi pelapor yang berpengalaman dan bagi mereka yang baru dalam pelaporan keberlanjutan sektor apapun dan didukung oleh bahan-bahan dan layanan GRI lainnya.
GRI-G4 juga menyediakan panduan mengenai bagaimana menyajikan pengungkapan keberlanjutan dalam format yang berbeda, baik itu laporan keberlanjutan mandiri, laporan terpadu, laporan tahunan, laporan yang membahas
norma-norma internasional tertentu atau pelaporan online. Dalam standar GRI- G4, indikator kinerja dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Kategori sosial mencakup hak asasi manusia, praktek ketenagakerjaan dan lingkungan kerja, tanggungjawab produk dan masyarakat. Total indikator yang terdapat dalam GRI mencapai 91 item.
Penjelasan mengenai indikator GRI-G4 akan dilampirkan didaftar lampiran.
Menurut Ikhsan (2008:135) tingkat pegungkapan tergantung pada standar yang dianggap paling diinginkan. Tiga konsep pengungkapan yang biasanya diusulkan adalah pengungkapan yang memadai (adequate), wajar (fair), dan lengkap (full). Pengungkapan yang memadai (adequate) menyiratkan jumlah pengungkapan minimum yang sejalan dengan tujuan negatif membuat laporan tersebut tidak menyesatkan. Pengungkapan yang wajar (fair) menyiratkan suatu tujuan etika, yaitu memberikan perlakuan yang sama semua calon pembaca.
Pengungkapan lengkap (full) menyiratkan penyajian seluruh informasi yang relevan.
2.4 Corporate Governance
Menurut Forum Corporate Governance on Indonesia (FCGI) dalam Effendi (2016:3), corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditor, pemerintah, karyawan, serta para pemangku kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan.
Menurut Turnbull Report yang dikutip oleh Tsuguoki Fujinuma dalam
Effendi (2016:2), pengertian corporate governance adalah sebagai berikut:
“Corporate governance is a company’s system of internal control has as its principal aim the management of risk that are significant to the fulfilment of its businness objectives, with a view to safeguarding the company’s assets and enhancing over time the value of the shareholders investment”.
Berdasarkan definisi diatas, corporate governance didefinisikan sebagai suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang.
Dari berbagai defenisi diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Corporate governance adalah suatu kerangka hubungan, struktur, pola, atau sistem yang berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar dan undang-undang yang berlaku dengan mempertemukan, menjelaskan, mengarahkan, dan mengendalikan hubungan antara shareholders, manajemen, kreditur, pemerintah, dan stakeholders lainnya pada hak dan kewajiban masing-masing pihak tersebut.
Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan nilai-nilai jangka panjang yang diinginkan oleh pemegang saham. Penelitian ini menggunakan komisaris independen, komite audit, dan kepemilikan publik sebagai proksi mekanisme corporate governance.
2.4.1 Komisaris Independen
Komisaris Independen adalah komisaris yang bukan anggota manajemen, pemegang saham mayoritas, pejabat atau dengan cara lain
berhubungan langsung atau tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas dari suatu perusahaan yang mengawasi pengelolaan perusahaan (Claudya dan Indira, 2015). Menurut KNKG dalam Perwira dan Paulus (2013), Komisaris Independen merupakan pihak yang tidak terafiliasi, yaitu pihak yang tidak memiliki hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan para pemegang saham pengendali, anggota direksi dan dewan komisaris lain, serta dengan perusahaan itu sendiri.
2.4.2 Komite Audit
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) dalam Napitupulu dan Wahyu (2015), komite audit adalah komite yang dibentuk dewan komisaris untuk membantu dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu fungsi komite audit yaitu memastikan struktur pengendalian internal sudah cukup dan efektif. Dalam pedoman Good Corporate Governance Indonesia dijelaskan bahwa, komite audit membantu dewan komisaris untuk memastikan bahwa: (i) laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, (ii) struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik, (iii) pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku, dan (iv) tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen.
2.4.3 Kepemilikan Publik
Kepemilikan publik adalah persentase saham yang dimiliki oleh masyarakat. Pengertian publik disini adalah pihak individu atau institusi yang
memiliki saham dibawah 5%(<5%) yang berada di luar manajemen dan tidak memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan. Semakin besar proporsi kepemilikan saham publik, semakin banyak pihak yang membutuhkan informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan. Selain itu semakin besar saham yang dimiliki oleh publik, maka akan semakin banyak pula informasi yang harus diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan.
Perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh publik akan melakukan pengungkapan tanggungjawab sosial yang lebih besar daripada perusahaan yang sahamnya tidak dikuasai oleh publik. Perusahaan yang sudah lama berdiri akan memiliki tanggungjawab sosial yang lebih besar, karena semakin tingginya kepercayaan investor dan masyarakat luas. Akibatnya, perusahaan harus memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada investor dan masyarakat luas, tidak hanya berupa laporan keuangan tetapi juga berupa pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan.
2.5 Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan (growth) merupakan salah satu pertimbangan para investor dalam menanamkan investasinya. Pertumbuhan perusahaan merupakan dampak arus kas dana perusahaan dari perubahan operasional yang disebabkan oleh pertumbuhan atau penurunan volume usaha. Pertumbuhan perusahaan sangat diharapkan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan karena pertumbuhan perusahaan yang baik memberikan tanda bagi perkembangan perusahaan.
Pertumbuhan perusahan dapat diukur dengan menggunakan pertumbuhan penjualan perusahaan (growth), dengan cara menentukan penjualan bersih periode
tahun berjalan dikurangi penjualan bersih periode tahun sebelumnya kemudian dibagi penjualan bersih periode tahun sebelumnya.
2.6 Tipe Industri
Tipe industri merupakan karakteristik yang dimiliki oleh perusahaan yang berkaitan dengan bidang usaha, risiko usaha, karyawan perusahaan, dan lingkungan perusahaan. Menurut Robert (1992) dalam Respati dan Paulus (2015), Tipe industri dibedakan menjadi dua jenis yaitu high-profile industry dan low- profile industry. Industri high-profile adalah perusahaan-perusahaan yang mempunyai tingkat sensitivitas tinggi terhadap lingkungan atau disebut juga dengan consumer visibility, tingkat risiko politis yang tinggi atau tingkat kompetensi yang tinggi. Perusahaan dengan tipe industri ini memiliki risiko yang tinggi sehingga banyak mendapat sorotan dari masyarakat luas. Yang dimaksud dengan sensitivitas tinggi adalah apabila perusahaan melakukan kelalaian dalam pengamanan hasil produksi akan membawa akibat fatal bagi lingkungan dan masyarakat, sedangkan tingkat risiko politik atau tingkat kompetensi yang ketat adalah keberadaan stakeholders yang dimiliki perusahaan antara lain konsumen, pesaing dan pihak-pihak lain yang dapat melakukan tekanan politik menjadi penentu utama kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan high-profile umumnya perusahaan yang memperoleh sorotan dari masyarakat karena aktivitasnya memiliki potensi untuk bersinggungan dengan masyarakat luas.
Adapun perusahaan yang tergolong tipe high-profile umumnya memiliki ciri yaitu:
1. Jumlah tenaga kerja yang besar.
2. Dalam proses produksinya mengeluarkan nilai residu/limbah.
3. Memiliki resiko kerja yang tinggi.
4. Cakupan sosial yang luas.
Perusahaan yang termasuk dalam kategori low-profile adalah perusahaan yang tidak terlalu mendapat sorotan dari masyarakat manakala dalam kegiatan operasional perusahaan tersebut mengalami kegagalan atau kesalahan pada aspek tertentu. Perusahaan dengan tipe ini biasanya akan lebih ditoleransi oleh masyarakat.
2.7 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengungkapan corporate social responsibility sebelumnya sudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan variabel dan kurun waktu yang berbeda. Jianling et.al. (2013) melakukan penelitian dengan judul “The Determinants of Corporate Social Responsibility Disclosure: Evidence From China”. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen yaitu tipe industri, ukuran perusahaan, dan media exposure. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan metode purposive sampling pada perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Shanghai tahun 2008-2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dan media exposure berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Sedangkan variabel tipe industri tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Penelitian Perwira dan Paulus (2013) meneliti Struktur Tata Kelola Perusahaan dan Luas Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Studi
empiris pada perusahaan industri dasar dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Terdapat empat variabel independen dalam penelitian ini yaitu komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, kepemilikan asing dan tiga variabel kontrol yaitu profitabiltas, leverage, dan ukuran perusahaan.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan terdapat 68 perusahaan untuk tahun 2010-2011. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan, sedangkan variabel komite audit, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan.
Evandini dan Darsono (2014) melakukan penelitian dengan judul Faktor- Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 189 pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2009-2012. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan variabel ukuran perusahaan dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Variabel leverage menunjukkan pengaruh negatif signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Sedangkan variabel profitabilitas, dewan komisaris dan pertumbuhan perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Respati dan Paulus (2015) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Ukuran Perusahaan, Tipe Industri, dan Pengungkapan Media Terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility (Studi empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014). Penelitian ini menggunakan lima variabel independen yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, tipe industri, dan pengungkapan media. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dan mengambil 111 perusahaan yang dijadikan untuk sampel selama tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan, tipe industri, dan pengungkapan media berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR sedangkan variabel profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan CSR.
Napitupulu dan Wahyu (2015) meneliti Pengaruh Karakteristik Corporate Governance Terhadap Luas Pengungkapan Corporate Social Responsibility.
Terdapat empat variabel independen yaitu komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik dan kepemilikan asing. Metode pengumpulan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan mengambil 102 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013 sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komite audit memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility, sedangkan variabel komisaris independen, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Claudya dan Januarti (2015) meneliti Pengaruh Karakteristik Corporate Governance Terhadap Luas Pengungkapan CSR. Penelitian ini menggunakan tiga variabel independen yaitu komisaris independen, kepemilikan asing, dan kepemilikan publik. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 97 pada perusahaan manufaktur dan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013. Hasil penelitian menunjukkan variabel komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan CSR Kepemilikan Publik berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap luas pengungkapan CSR. Sedangkan variabel Kepemilikan Asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
Munsaidah et.al. (2016) melakukan penelitian dengan judul Analisis Pengaruh Firm Size, Age, Profitabilitas, Leverage, dan Growth Perusahaan Terhadap Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Perusahaan Property dan Real Estate Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2010-2014.
Penelitian ini menggunakan lima variabel independen yaitu ukuran perusahaan, umur perusahaan, profitabilitas, leverage, dan pertumbuhan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility, sedangkan variabel umur perusahaan dan leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility.
Soejoto (2017) meneliti Pengaruh Struktur Kepemilikan Publik terhadap Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan-Perusahaan
Yang Terdaftar di BEI. Penelitian ini menggunakan satu variabel independen yaitu kepemilikan publik dan dua variabel kontrol yaitu leverage dan ukuran perusahaan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan memiliki 290 sampel penelitian untuk masing-masing periode 2010-2012. Hasil penelitian menunjukan variabel kepemilikan publik dan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR, sedangkan variabel leverange memiliki pengaruh negatif terhadap pengungkapan CSR.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Jianling et.al.
(2013)
Variabel Independen - Tipe Industri - Ukuran Perusahaan - Media Exposure Variabel Dependen Corporate Social Responsibiity
Ukuran perusahaan dan media exposure berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan tipe industri tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
2. Perwira dan Paulus (2013)
Variabel Independen - Komisaris Independen - Komite Audit
- Kepemilikan Publik - Kepemilikan Asing Variabel Dependen Pengungkapan
Tanggung Jawab Sosial
Komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan.
Sedangkan komite audit, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial namun tidak signifikan.
3. Evandini dan Darsono (2014)
Variabel Independen - Profitabilitas - Dewan Komisaris - Ukuran Perusahaan - Kepemilikan Saham Publik
- Leverage - Pertumbuhan Perusahaan
Variabel Dependen Pengungkapan
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Ukuran perusahaan dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan leverage menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Sedangkan profitabilitas, dewan komisaris dan pertumbuhan perusahaan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
4. Respati dan Paulus (2015)
Variabel Independen - Profitabilitas - Leverage
- Ukuran Perusahaan - Tipe Industri
- Pengungkapan Media Variabel Dependen Pengungkapan
Corporate Social Responsibiity
Ukuran perusahaan, tipe industri, dan pengungkapan media berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibiity.
Sedangkan profitabilitas dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan Corporate Social Responsibiity.
5. Napitupulu dan Wahyu (2015)
Variabel Independen - Komisaris Independen - Komite Audit
- Kepemilikan Publik - Kepemilikan Asing Variabel Dependen Pengungkapan
Corporate Social Responsibiity
Komite audit memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Sedangkan komisaris independen, kepemilikan publik, dan kepemilikan asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
6. Claudya dan Indira (2015)
Variabel Independen - Komisaris Independen - Kepemilikan Asing - Kepemilikan Publik Variabel Dependen Luas Pengungkapan CSR
Komisaris independen berpengaruh positif dan signifikan terhadap luas pengungkapan CSR Kepemilikan Publik berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
Sedangkan Kepemilikan Asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan CSR.
7. Munsaidah
et.al. (2016)
Variabel Independen - Ukuran Perusahaan - Umur Perusahaan - Profitabilitas - Leverage - Pertumbuhan Perusahaan Variabel Dependen Corporate Social Responsibiity
Ukuran perusahaan, profitabilitas, dan pertumbuhan perusahaan berpengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility.
Sedangkan umur perusahaan dan leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap corporate social responsibility.
8. Soejoto (2017) Variabel Independen - Kepemiikan Publik - Leverage
- Ukuran Perusahaan Variabel Dependen Pengungkapan
Corporate Social Responsibiity
Kepemilikan publik dan ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR.
Sedangkan leverange memiliki pengaruh negatif terhadap pengungkapan CSR.
Pengungkapan Corporate
Social Responsibility
(Y) 2.8 Kerangka Konseptual
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini ialah mengenai pengaruh corporate governance yang diukur dengan komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, dan tipe industri terhadap pengungkapan corporate social responsibility.
Gambar 2.1 akan menunjukkan kerangka konseptual untuk pengembangan hipotesis dalam penelitian ini.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Penelitian ini akan menganalisis hubungan dari komisaris independen, komite audit, kepemilikan publik, pertumbuhan perusahaan, dan tipe industri terhadap pengungkapan corporate social responsibility pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017.
Komite Audit (X2)
Kepemilikan Publik (X3)
Pertumbuhan Perusahaan (X4)
Komisaris Independen (X1)
Tipe Industri (X5)