• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Perbedaan Asuransi Konvensional dengan Asuransi Syariah

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 24-35)

Perbedaan Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah menurut Novi Puspitasari (2011: 39-46) dikaji dalam tiga bagian yaitu perbedaan konsep fundamental, perbedaan pengelolaan risiko, dan perbedaan prinsip-prinsip.

1) Perbedaan Konsep Fundamental

Konsep fundamental Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional adalah berbeda. Konsep tersebut perlu dikaji di awal karena jika tidak dipahami konsep fundamental Asuransi Syariah

maka konsep fundamental Asuransi Syariah dianggap sama dengan Asuransi Konvensional. Konsep fundamental yang diulas adalah pengertian atau definisi dan sistem pengelolaan risiko dari kedua jenis Asuransi tersebut. Dalam Fatwa DSN-MUI No. 21/DSNMUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah menetapkan pengertian Asuransi Syariah (ta‟min, takaful, atau tadhamun) sebagai usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui dana investasi dalam bentuk aset atau tabarru‟ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Berdasarkan Fatwa DSN MUI tersebut dapat diartikan bahwa konsep fundamental Asuransi Syariah adalah kegiatan tolong-menolong di antara Peserta Asuransi Syariah dan tidak bertujuan komersil. Sementara itu, konsep dasar Asuransi Konvensional adalah jual beli antara Peserta dan perusahaan. Hal ini dapat dipahami dari arti Asuransi secara umum yang berarti “jaminan”. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia kata “asuransi‟ adalah „pertanggungan‟. Definisi standar Asuransi dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian bahwa Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan Asuransi dan pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan Asuransi sebagai imbalan untuk: a. memberikan penggantian kepada Tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita Tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau b. memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya Tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya Tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana. Dengan demikian

dapat diartikan bahwa konsep fundamental Asuransi Konvensional adalah jual beli antara Peserta dengan perusahaan Asuransi (Novi Puspitasari, 2011: 39-40). Sehingga dalam perbedaan konsep fundamental ini, Asuransi Syariah menggunakan prinsip tolong-menolong yang bersifat sosial daripada komersil, sedangkan Asuransi Konvensional menggunakan prinsip jual beli yang bersifat komersil saja. Akad yang digunakan dalam Asuransi Konvensional adalah akad jual beli, sedangkan akad dalam Asuransi Syariah adalah akad tijari dan tabarru‟.

2) Perbedaan Pengelolaan Risiko

Perbedaan konsep dasar Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional ini berakibat pada perbedaan prinsip pengelolaan risiko. Prinsip pengelolan risiko Asuransi Syariah adalah berbagi risiko (risk sharing), yaitu risiko ditanggung bersama sesama Peserta asuransi. Hal ini bisa dimaknai dari Fatwa DSN-MUI No. 21/DSNMUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah, bahwa Asuransi Syariah adalah kegiatan melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak yang berarti risiko yang terjadi juga akan dibagi kepada semua Peserta Asuransi Syariah. Sementara itu prinsip pengelolaan risiko Asuransi Konvensional adalah transfer risiko (risk transfer) yaitu prinsip risiko dengan cara mentransfer atau memindahkan risiko Peserta Asuransi ke perusahaan asuransi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumanto, dkk (2009) yang menyatakan bahwa Asuransi Konvensional pada dasarnya merupakan konsep pengelolaan risiko dengan cara mengalihkan risiko yang mungkin timbul dari peristiwa tertentu yang tidak diharapkan kepada orang lain yang sanggup mengganti kerugian yang diderita dengan imbalan premi (Novi Puspitasari, 2011: 40-41).

Pengelolaan Asuransi Syariah menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut (Novi Puspitasari, 2011: 41-45):

a. Prinsip Tauhid b. Prinsip Keadilan

c. Prinsip Tolong-Menolong d. Prinsip Amanah

e. Prinsip Saling Ridha („An Taradhin) f. Prinsip Menghindari Riba

g. Prinsip Menghindari Maysir h. Prinsip Menghindari Gharar i. Prinsip Menghindari Risywah j. Berserah Diri dan Ikhtiar k. Saling Bertanggung Jawab

l. Saling Melindungi dan Berbagi Kesusahan

Sementara itu, pengelolaan Asuransi Konvensional menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut (Novi Puspitasari, 2011: 45-46):

a. Insurable Interest

b. Utmost Good Faith (Kejujuran Sempurna) c. Indemnity

d. Subrogation

e. Contribution (Kontribusi)

f. Proximate Cause (Kausa Proksimal)

Berdasarkan perbedaan prinsip-prinsip tersebut, dapat disimpulkan bahwa Asuransi Konvensional bersifat untuk mencari keuntungan semata dengan pemberian ganti rugi dari Penanggung terhadap suatu kerugian yang diderita oleh Tertanggung. Sedangkan Asuransi Syariah bersifat sosial, tauhid dan tolong-menolong terhadap sesama serta menghindari perbuatan yang dilarang dalam syariah yaitu riba, maysir, gharar, dan risywah.

Adapun perbedaan antara Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah menurut Muhammad Syakir Sula (2004: 326-328) adalah sebagai berikut:

No. Asuransi Konvensional Asuransi Syariah 1. Dalam konsep konvensional,

Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak Penanggung mengikatkan diri kepada Tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan pergantian kepada Tertanggung.

Dalam konsep Islam,

Asuransi adalah

sekumpulan orang-orang yang saling membantu, saling menjamin, dan bekerja sama, dengan cara masing-masing

mengeluarkan dana tabarru‟.

2. Asuransi Konvensional berasal dari masyarakat Babilonia 4000-3000 SM yang dikenal dengan perjanjian Hammurabi. Pada tahun 1668 M di Coffe House London berdirilah Lloyd of London sebagai cikal-bakal Asuransi Konvensional.

Asuransi Syariah berasal dari al-`aqilah, kebiasaan suku Arab jauh sebelum Islam datang. Kemudian disahkan oleh Rasulullah menjadi hukum Islam, bahkan telah dituangkan dalam konstitusi pertama di dunia (Konstitusi Madinah) yang dibuat langsung oleh Rasulullah.

3. Asuransi Konvensional bersumber dari pikiran manusia dan kebudayaan. Asuransi Konvensional berdasarkan pada hukum

Asurnasi syariah bersumber tidak hanya peraturan yang dibuat manusia atau hukum positif, akan tetapi juga berdasarkan pada Al-Quran,

positif, hukum alam, dan contoh-contoh yang ada sebelumnya. Misalnya, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

Hadist, Ijma‟, dan Qiyas.

4. Asuransi Konvensional tidak selaras dengan syariah Islam karena adanya maysir, gharar, dan riba yang diharamkan dalam mu‟amalah.

Asuransi Syariah bersih dari adanya maysir, gharar, dan riba.

5. Asuransi Konvensional tidak diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), sehingga dalam praktiknya ditemukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Diawasi oleh DPS yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan operasional perusahaan agar terbebas dari praktik-praktik

muamalah yang

bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. 6. Asuransi Konvensional

menggunakan akad jual-beli.

Asuransi Syariah

menggunakan akad tabarru‟ dan akad tijari.

7. Dari segi jaminan (risk), Asuransi Konvensional menggunakan transfer of risk, di mana terjadi transfer risiko dari Tertanggung kepada Penanggung.

Asuransi Syariah

menggunakan sharing of risk, di mana terjadi proses saling menanggung antara satu Peserta dengan Peserta lainnya (ta`awun).

8. Dari segi pengelolaan, dalam Asuransi Konvensional tidak ada pemisahan dana, yang berakibat pada terjadinya dana hangus (untuk produk saving-life).

Asuransi Syariah pada produk-produk saving (life) terjadi pemisahan dana, yaitu dana tabarru‟, derma dan dana Peserta, sehingga tidak mengenal istilah dana hangus. Untuk term insurance (life) dan general insurance semuanya bersifat tabarru‟.

9. Asuransi Konvensional bebas melakukan investasi dalam batas-batas ketentuan perundang-undangan, dan tidak terbatasi pada obyek atau sistem investasi yang digunakan. Sehingga ini mengandung riba dan tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Asuransi Syariah, investasi dapat dilakukan sesuai

dengan ketentuan

perundang-undangan,

sepanjang tidak

bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Di samping itu, dalam melakukan investasi, Asuransi bebas dari riba dan tempat-tempat investasi yang terlarang.

10. Asuransi Konvensional, dana yang terkumpul dari premi Peserta seluruhnya menjadi milik perusahaan. Perusahaan bebas menggunakan dan menginvestasikan ke mana saja.

Asuransi Syariah, dana yang terkumpul dari Peserta dalam bentuk iuran atau kontribusi, merupakan milik Peserta, Asuransi Syariah hanya sebagai pemegang amanah dalam mengelola dana tersebut

11. Asuransi Konvensional, unsur premi terdiri dari tabel mortalita (mortality tables), bunga (interest), biaya-biaya Asuransi (cost of insurance).

Asuransi Syariah, iuran atau kontribusi terdiri dari unsur

tabarru‟ dan tabungan

(yang tidak mengandung unsur riba).

12. Loading pada Asuransi Konvensional cukup besar terutama diperuntukkan bagi komisi agen, bisa menyerap premi tahun pertama dan kedua. Karena itu, nilai tunai pada tahun pertama dan kedua biasanya belum ada (masih hangus),

Pada sebagian Asuransi Syariah, loading (komisi agen) tidak dibebankan pada Peserta tetapi dari dana pemegang saham. Akan tetapi, sebagian yang lainnya mengambilkan dari sekitar 20-30% saja dari premi tahun pertama. Dengan demikian, nilai tunai tahun pertama sudah terbentuk.

13. Asuransi Konvensional, sumber biaya klaim adalah dari rekening perusahaan, sebagai konsekuensi Penanggung terhadap Tertanggung. Dari praktiknya tampak benar bahwa Asuransi Konvensional merupakan bisnis murni dan tidak ada nuansa spiritualnya.

Asuransi Syariah, sumber pembiayaan klaim diperoleh dari rekening tabarru‟, di mana Peserta saling menanggung. Jika salah satu Peserta mendapat musibah, Peserta lainnya ikut menanggung bersama risiko tersebut.

14. Sistem akuntansi yang dianut Asuransi Konvensional adalah konsep akuntansi

Asuransi Syariah menganut konsep akuntansi cash basis, mengakui apa yang

accrual basis, yaitu proses akuntasi yang mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan nonkas. Di samping Asuransi Konvensional juga mengakui pendapatan, peningkatan aset, expenses,

leabilities dalam jumlah

tertentu yang baru akan diterima dalam waktu yang akan datang.

benar-benar telah ada, sedangkan accrual basis dianggap bertentangan dengan syariah karena

mengakui adanya

pendapatan, harta, beban atau utang yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sementara apakah itu benar-benar dapat terjadi hanya Allah yang tahu.

15. Asuransi Konvensional, keuntungan yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil investasi seluruhnya adalah keuntungan perusahaan.

Asuransi Syariah, profit yang diperoleh dari surplus

underwriting, komisi

reAsuransi dan hasil investasi, bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan, tetapi dilakukan bagi hasil dengan Peserta.

16. Secara garis besar misi utama Asuransi Konvensional adalah misi ekonomi.

Adapun misi yang diemban oleh Asuransi Islam adalah misi akidah, misi ibadah, misi ekonomi, dan misi pemberdayaan umat.

Sesuai pendapat Novi Puspitasari dan Muhammad Syakir Sula, menurut pendapat Hafidz Abdurrahman dan Yahya Abdurrahman (2014: 155), aqad dalam Asuransi Syariah adalah aqad tolong-menolong dan saling menanggung, yaitu semua peserta Asuransi Syariah menjadi penjamin satu sama lainya. Bila salah satu meninggal yang lain menanggungnya, dan seterusnya.

Asuransi Konvensional menurut pendapat Syeik Taqiyudin An Nabhani yang dikutip oleh Hafidz Abdurrahman dan Yahya Abdurrahman (2014: 151), bahwa Asuransi Konvensional adalah mu‟amalah yang batil dikarenakan dua sebab, yaitu tidak terpenuhinya aqad yang sah menurut syariah, dan tidak memenuhi syarat bagi sahnya aqad jaminan. Sebuah aqad dinilai sah bila aqad-nya berlangsung secara sah dan menyangkut barang dan jasa. Aqad dalam Asuransi Konvensional tidak termasuk aqad, baik menyangkut barang atau jasa. Tetapi aqad-nya berkaitan dengan perjanjian atas jaminan pertanggungan. Janji ini tidak dapat dianggap sebagai barang maupun jasa.

Jaminan adalah pemindahan harta pihak penjamin kepada pihak yang dijamin dalam menunaikan suatu kewajiban. Dalam pemindahan harta seseorang kepada pihak lain itu disyaratkan harus ada penjamin, yang dijamin, dan yang menerima jaminan. Agar jaminan sah, disyaratkan terjadi dalam perkara penunaian harta yang benar-benar wajib dipenuhi oleh yang diamin, seperti hutang. Jika yang dijamin tidak mendapat apa-apa, maka dalam hal ini tidak terjadi pemindahan harta (Hafidz Abdurrahman dan Yahya Abdurrahman, 2014: 151-152).

Asuransi Konvensional seperti terdapat pihak penjamin yaitu perusahaan asuransi, pihak yang dijamin yaitu Tertanggung, dan pihak yang mendapat jaminan yang tergantung pada jenis asuransi. Bila Asuransi jiwa misalnya, berarti penerima jaminan adalah ahli waris, dan bila Asuransi kecelakaan, maka penerima jaminan adalah Tertanggung sendiri. Namun, sesungguhnya dalam Asuransi ini tidak ada pemindahan hak seseorang kepada orang lain. Perusahaan Asuransi tidak menjaminkan hartanya kepada Tertanggung dan tidak bisa disebut sebagai penjamin. Selain itu juga tidak terdapat jaminan, karena tidak ada harta yang harus ditunaikan oleh yang dijamin. Tidak terdapat yang dijamin karena perusahaan Asuransi tidak memberikan jaminan kepada seseorang yang harus memenuhi hak. Adanya ganti rugi hanya karena

imbalan dari sejumlah preni yang diserahkan oleh Tertanggung. Sehingga Asuransi Konvensional batil karena jaminan dengan imbalan yang tidak sah (Hafidz Abdurrahman dan Yahya Abdurrahman, 2014: 153-154).

Menyangkut gharar, Asuransi Konvensional terdapat gharar dalam hal sumber dana pembayaran klaim. Tertanggung tidak mengetahui dari mana dana pertanggungan berasal manakala ia meninggal atau mendapat musibah sebelum premi yang harus dibayarkan terpenuhi. Masyarakat mengetahui bahwa dana diperoleh dari sebagian bunga dari penyimpanan uang premi di bank konvensional. Dapat dikatakan, bahwa dalam Asuransi Konvensional selain gharar juga terdapat riba. Selain itu, unsur maysir dalam praktek Asuransi Konvensional adalah bila Tertanggung mengundurkan diri sebelum jangka waktu pertanggungan habis, tidak akan mendapat apa-apa karena uang premi hangus. Kalaupun bisa diambil hanyalah sedikit, sehingga merugikan Tertanggung. Sedangkan dalam Asuransi Syariah, sejak awal peserta diberitahu darimana dana yang diterimanya bila meninggal atau mendapat musibah. Pembayaran premi sejak awal telah dibagi dua yaitu masuk ke rekening peserta dan rekening tabarru‟ atau shodaqoh untuk membantu yang lainnya. Maka apabila peserta meninggal sebelum masa jatuh temponya habis, kekurangan pertanggungan akan diambil dari rekening tabarru‟ (Hafidz Abdurrahman dan Yahya Abdurrahman, 2014: 155).

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 24-35)

Dokumen terkait