• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Perjanjian 1. Pengertian perjanjian

DIJADIKAN FIXED ASSET DITINJAU DARI PASAL 12A UU PERBANKAN

A. Tinjauan Perjanjian 1. Pengertian perjanjian

Landasan hukum pembelian agunan debitur boleh kreditur bank menggunakan pranata hukum yang diatur oleh UU Hak Tanggungan dan UU Perbankan. Dalam Pasal 12A UU Perbankan disebutkan “Bank Umum dapat membeli sebagian atau seluruh agunan, baik melalui pelelangan...”88 Dari ketentuan Pasal 12A UU Perbankan di atas, untuk mengambil alih agunan kreditur menggunakan perjanjian yaitu :

a. Jual beli.

Jual beli yang dimaksud dapat berupa beli secara konvensional ataupun jual beli yang dilakukan dalam pelelangan umum.

b. Surat Kuasa Menjual ataupun dengan menggunakan lembaga Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) serta perjanjian-perjanjian lain seperti perjanjian pengosongan, perjanjian penyerahan dll.89

Menurut Pasal 1313 KUHPdt, perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.

Menurut Subekti, “suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang

88Pasal 12A UU Perbankan.

89Rudi Haposan Siahaan, Op.Cit, h.973

berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.”90 Perjanjian sudah merupakan suatu pengertian yang kongkrit, karena pihak-pihak dikatakan melaksanakan suatu peristiwa tertentu.91

Dari definisi perjanjian terlihat bahwa suatu perjanjian merupakan suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji atau kesanggupan baik secara lisan maupun secara tertulis, ketentuan ini dapat secara lisan atau secara tertulis lebih sebagai alat bukti semata apabila dikemudian hari terjadi perselisihan antara pihak- pihak yang membuat perjanjian. Tetapi ada juga beberapa perjanjian yang bentuknya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan, apabila bentuk yang ditentukan perundang-undangan tersebut tidak dipenuhi maka perjanjian tersebut menjadi batal atau tidak sah, contohnya adalah perjanjian fidusia (jaminan fidusia wajib dibuat oleh Notaris).

Persetujuan (overeenkomst) tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, kepentingan umum (openbare orde) dan nilai-nilai kesusilaan (goeden zeden). Setiap perjanjian yang obyek/prestasinya bertentangan dengan yang diperbolehkan oleh Undang-Undang, ketertiban umum dan kesusilaan; perjanjian yang demikian melanggar persyaratan yang semestinya seperti yang diatur dalam syarat ke 4 Pasal 1320 KUHPdt.92

90R.Subekti, Op.Cit, h.1

91I Ketut Oka Setiawan, Hukum Perikatan, Sinar Grafika, Jakarta, 2015, h.42-43

92M.Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1996, h.11

3. Syarat sahnya perjanjian.

Sebagaimana diketahui, perjanjian baru sah menurut hukum apabila syarat-syarat sahnya perjanjian itu dapat dipenuhi. Berdasarkan Pasal 1320 KUHPdt, suatu perjanjian baru sah kalau memenuhi 4 syarat sebagai berikut :

1. Sepakat dari mereka yang membuat perjanjian.

2. Kecakapan untuk membuat perjanjian.

3. Adanya suatu hal tertentu.

4. Adanya suatu sebab yang halal.

Syarat yang pertama dan kedua adalah merupakan syarat subyektif yaitu syarat tentang kedudukan bertindak dari orangnya. Sedangkan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat obyektif, yaitu syarat mengenai obyek atau bendanya.

Adanya kata sepakat di antara mereka yang membuat perjanjian berarti Para Pihak tersebut harus bersepakat atau setuju mengenai hal-hal yang pokok tentang perjanjian tersebut. Dengan demikian apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu dikehendaki pula oleh pihak yang lain. Sepakat dapat dinyatakan secara lisan dan dapat pula dinyatakan secara diam-diam.

Kesepakatan atau konsensus merupakan langkah awal dari para pihak yang membuat suatu perjanjian. Jika kesepakatan itu merupakan langkah awal dari para pihak yang membuat perjanjian maka timbul suatu pertanyaan mengenai kapan saat terjadinya kesepakatan tersebut.

Ada beberapa teori yang menyatakan kapan terjadinya kesepakatan. Teori-teori itu adalah :93

a. Teori Kehendak (Wilstheorie)

Teori ini mengatakan bahwa kesepakatan ini terjadi pada momen kehendak pihak penerima dinyatakan.

b. Teori Pengiriman (Verzenttheorie)

Teori pengiriman mengatakan bahwa kesepakatan terjadi pada momen kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima tawaran.

c. Teori Penerimaan (Ontvangstheorie)

Teori ini mengatakan bahwa kesepakatan terjadi pada momen penerimaan tawaran.

d. Teori Pengetahuan (Vernemingstheorie)

Teori pengetahuan ini mengatakan bahwa kesepakatan itu terjadi pada momen pihak yang menawarkan sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima.

e. Teori Kepercayaan (Vertrowenstheorie)

Teori kepercayaan mengatakan bahwa kesepakatan itu terjadi pada momen pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan.”

Pasal 1321 KUHPdt menyatakan, tidak ada kata yang sah apabila kata sepakat itu diberikan dengan paksaan atau penipuan.

Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum. Hal ini perlu, sebab orang yang membuat suatu perjanjian harus mempunyai cukup

93J. Satrio, Hukum Perikatan : Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, h.195.

kemampuan untuk benar-benar mengerti tanggung jawab yang dipikulnya dalam perjanjian tersebut.

Syarat ketiga adalah bahwa perjanjian harus mengenai suatu hal tertentu.

Hal ini berarti dalam perjanjian harus jelas apa hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian. Obyek perjanjian harus tertentu dan sekurang-kurangnya dapat ditentukan jenis, jumlah dan wujudnya. Obyek yang tertentu itu dapat berupa benda yang ada sekarang atau benda yang akan ada di kemudian hari.

Untuk sahnya suatu perjanjian, Undang-Undang mensyaratkan adanya suatu sebab yang halal. Yang dimaksud dengan suatu sebab yang halal adalah isi, tujuan atau maksud di dalam suatu perjanjian tidak bertentangan dengan ketentuan Perundang-undangan, kesusilaan atau dengan ketertiban umum. Dalam Pasal 1337 KUHPdt dinyatakan, bahwa suatu sebab adalah terlarang apabila berlawanan dengan kesusilaan baik dengan ketertiban umum.

Keempat syarat sahnya suatu perjanjian diatas harus benar-benar dipatuhi atau dipenuhi dalam suatu perjanjian. Apabila syarat kesatu dan kedua (syarat subyektif) tidak dipenuhi, maka akibat yang akan timbul adalah perjanjian dapat dimintakan pembatalan. Artinya salah satu pihak dapat meminta kepada Hakim agar perjanjian itu dibatalkan, selama perjanjian belum dibatalkan, perjanjian itu masih mengikat para pihak. Sedangkan jika syarat ketiga dan keempat (syarat obyektif) tidak dipenuhi akan membawa akibat perjanjian itu menjadi batal demi hukum yang artinya sejak semula perjanjian itu dianggap tidak pernah ada.

2. Asas Perjanjian

Dalam hukum perjanjian terdapat beberapa asas yaitu :94 a. Asas konsensualitas

Perkataan konsensualitas berasal dari kata consensus yang berarti sepakat.

Berdasarkan asas konsensualitas, suatu perjanjian sudah dilahirkan sejak adanya kata sepakat di antara para pihak yang membuat perjanjian. Asas ini tersimpul dari Pasal 1320 KUHPdt.

Terhadap asas ini terdapat pengecualian, yaitu oleh undang-undang ditetapkan formalitas-formalitas tertentu untuk beberapa macam perjanjian, atas ancaman batalnya perjanjian tersebut apabila tidak memenuhi bentuk tertentu, misalnya hipotik, yang harus secara tertulis dengan suatu akta notaris.

b. Asas kebebasan berkontrak

Asas kebebasan berkontrak terdapat pada Pasal 1338 ayat (1) KUHPdt.

Pasal ini menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Asas kebebasan berkontrak pada Pasal ini terdapat pada kata “semua perjanjian”, berarti bahwa setiap orang diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisikan apa saja.

Walaupun demikian terdapat pembatasan yang melekat pada asas tersebut yaitu :

a. Bahwa perjanjian itu tidak bertentangan dengan kepentingan umum dan perjanjian itu tidak bertentangan dengan kesusilaan.

94A.Qiram Syamsudin Meliala, Pokok–Pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, Liberty, Yokjakarta, 1985, h. 20.

b. Bahwa perjanjian itu tidak bententangan dengan hukum dan Undang-Undang.

Dengan adanya asas kebebasan berkontrak, dapat dikatakan bahwa KUHPdt Buku ke III menganut sistem terbuka.

c. Asas kekuatan mengikat

Adalah suatu asas yang menentukan bahwa suatu perjanjian yang dibuat secara sah akan mengikat para pihak sebagaimana mengikatnya Undang-Undang.

Asas ini tersimpul pada Pasal 1338 ayat (2) KUHPdt yang berbunyi : “Persetujuan tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena adanya alasan-alasan yang oleh Undang-Undang dinyatakan cukup untuk itu.”

d. Asas itikat baik

Asas ini terdapat dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPdt yang menyatakan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikat baik. Itikat baik mengandung makna bahwa pelaksanaan dari suatu perjanjian harus berjalan dengan mengindahkan norma-norma kepatutan dan keadilan.

e. Asas hukum pelengkap

Maksud asas ini adalah para pihak dalam membuat perjanjian diberi kebebasan untuk menetapkan ketentuan-ketentuan di dalam perjanjian menurut kehendak para pihak. Apabila di dalam perjanjian yang dibuat tersebut masih terdapat hal-hal yang belum diatur, maka ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam KUHPdt akan mengaturnya, misalnya janji-janji dalam surat kuasa membebankan hak tanggungan diperbolehkan, asalkan tidak melanggar kepatutan dan keadilan (itikat baik).