Deskripsi Kegiatan
Latar Belakang Program
Kelurahan Nunukan Timur mempunyai jumlah penduduk miskin cukup besar, yaitu sejumlah 812 KK atau sekitar 33,92 % dari jumlah seluruh keluarga miskin yang ada di Kecamatan Nunukan. Penyebaran keluarga miskin di Kelurahan Nunukan Timur lebih banyak di wilayah selatan kelurahan ini, yakni wilayah RT 24 dan 25. Mayoritas mata pencaharian mereka adalah petani dan buruh tani dengan tingkat pendidikan SLTP. Mereka mayoritas adalah petani sayur dan telah membentuk kelompok dengan lahan yang letaknya saling berdekatan.
Hal yang mendasari mereka untuk membentuk kelompok adalah dengan maksud untuk memperoleh bantuan modal dari pihak lain, misalnya pemerintah, karena modal merupakan salah satu permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, dalam rangka untuk memberdayakan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani, Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Sub Dinas Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan, sejak Tahun 2004 lalu telah melaksanakan Program Pengembangan dan Peningkatan Tanaman Pangan (P2TP), yaitu dengan memberikan bantuan modal kepada 3 kelompok tani setiap tahunnya. Adapun jumlah anggota kelompok adalah 20 – 21 orang per kelompok. Program ini secara formal adalah untuk pengembangan tanaman ubi kayu. Pengembangan ubi kayu ini oleh pemerintah dianggap sebagai komoditi yang berdaya guna. Pemanfaatannya nanti diharapkan dapat mendukung ketersediaan bahan baku tepung tapioka yang ada. Kenyataan yang ada di Kecamatan Nunukan industri tepung ini belum dikembangkan secara maksimal (baru di Kecamatan Sebuku, Sembakung dan Lumbis), maka dalam hal teknis di lapangan, pihak Pengelola Kegiatan memberikan kebijakan bahwa bantuan dapat dipergunakan untuk tanaman jenis lain, seperti sayur, namun dari beberapa anggota kelompok yang ada diharapkan tetap mengembangkan tanaman ubi kayu. Hal ini dilakukan agar program ini dapat benar-benar
bermanfaat, karena kelompok tani yang menerima bantuan adalah para petani sayur.
Penyelenggara dan Sumber Dana
Program ini diselenggarakan oleh Departemen Pertanian RI melalui Pemerintah Kabupaten di Indonesia. Di Kabupaten Nunukan program ini dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan yaitu oleh Sub Dinas Tanaman Pangan.
Pada tahapan pertama, sosialisasi program ini dilakukan dengan cara formal dan informal oleh Pimpinan Pertanian Kecamatan Nunukan bersama Petugas Penyuluh Lapangan yang ada. Pelaksanaan sosialisasi ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan tentang tujuan P2TP dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk dapat meningkatkan produksi pertaniannya, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Sumber dana program ini adalah dari dana APBN, dimana terpilih 3 kelompok tani dan masing-masing kelompok mendapatkan bantuan sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dan pengelolaannya diserahkan kepada masing-masing kelompok. Kelompok Tani yang terpilih tersebut adalah Kelompok Tani Usaha Maju II (21 orang), Kelompok Tani Serba Guna (20 orang) dan Kelompok Tani Sumber Makmur (15 orang). Ketiganya merupakan kelompok tani pemula (berdasarkan informasi dari PPK Nunukan).
Pendekatan
Pendekatan program ini adalah bertumpu kepada kelompok, dimana proses pembentukan kelompok tersebut diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat, berdasarkan kedekatan domisili dan kesamaan kegiatan serta tujuan. Pendekatan melalui kelompok ini dianggap lebih efektif karena secara tidak langsung memberikan pelajaran kepada masyarakat untuk tetap memeprtahankan kerja sama. Selain itu, dalam setiap kelompok yang telah dibentuk, masyarakat dapat lebih dinamis dan diharapkan dapat saling membantu antarsesama anggota kelompok. Pihak penyelenggara pun akan lebih mudah dalam pengawasan, karena Pengelola Kegiatan mengutamakan monitoring kepada ketua kelompok.
Pelaksanaan
Berdasarkan penjelasan dari salah seorang pejabat di Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan dan PPK Nunukan, kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan berkaitan dalam Program P2TP ini adalah :
a. Membentuk kelompok tani (dilakukan sebelum program ini dilaksanakan) Pembentukan dilakukan oleh pemerintah melalui petugas penyuluh lapangan (PPL) yang ada. Petani yang mempunyai lahan dan domisili yang berdekatan disarankan untuk bergabung membentuk kelompok. Jumlah anggota per kelompok adalah antara 15-21 orang. Petani yang mempunyai lahan ini pun akhirnya membentuk kelompok dan dalam proses pemilihan anggotanya dilakukan secara mandiri.
b. Sosialisasi di lapangan
Sosialisasi tentang adanya anggaran dari APBN untuk tahun 2005 lalu berupa bantuan modal melalui Program P2TP dilakukan melalui pemerintah kelurahan. Sosialisasi ini diikuti oleh kelompok tani yang ada di Kelurahan Nunukan Timur. Tujuan dari kegiatan sosialisasi ini adalah untuk menerangkan kepada petani tentang persyaratan dan tata cara yang harus dilakukan berkaitan dengan bantuan yang ada. Sosialisasi ini dilakukan oleh Pengelola Kegiatan dari Disperta Kabupaten Nunukan pada awal tahun 2005. c. Pembinaan
Kegiatan pembinaan dilakukan oleh PPK dan PPL. Berdasarkan informasi dari PPK Nunukan bahwa pembinaan ini idealnya dilaksanakan minimal dua minggu sekali, namun karena minimnya dana pembinaan menyebabkan pembinaan hanya dilakukan satu bulan sekali. Bentuk kegiatan berupa penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan di tempat tinggal ketua kelompok. d. Monitoring
Kegiatan ini dilakukan oleh Pengelola Kegiatan dan staf Disperta. Pelaksanaan monitoring ini dilakukan minimal satu kali dalam sebulan. Ketua kelompok diharuskan melaporkan setiap perkembangan dan permasalahan yang ada di kelompoknya.
Program ini merupakan program dari Pemerintah Pusat dan proses perencanaannya tidak melibatkan masyarakat. Namun dalam hal teknis di lapangan, seperti masalah pengalihan jenis tanaman, telah diberikan kebijaksanaan oleh Pengelola Kegiatan hingga dapat disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Adapun dalam hal pengelolaan keuangan, masing-masing kelompok diberikan wewenang sepenuhnya untuk mengatur pola pemberian bantuan bergulir tersebut, apakah diperuntukan kepada seluruh anggota kelompok atau dibagi kepada 10 orang anggota dulu (masing-masing anggota mendapat Rp 2.000.000,00) dan sisanya untuk periode selanjutnya. Pihak penanggung jawab kegiatan hanya akan melakukan pengecekan berkaitan dengan permasalahan anggaran kepada masing-masing ketua kelompok yang mendapatkan bantuan, karena dana tersebut akan dan hanya bergulir di masing-masing kelompok, dan ketua kelompok harus bertanggung jawab terhadap penggunaan dana yang diberikan.
Kenyataan yang ada, masalah pembagian ini tidak mengalami hambatan. Permasalahan yang ada, karena ini dianggap sebagai bantuan modal, para petani masih belum mampu menggunakannya secara optimal untuk peningkatan hasil tani mereka. Mereka cenderung menggunakan dana tersebut sebagai dana untuk membeli kebutuhan sehari-hari, akhirnya usaha tani pun berjalan seperti waktu sebelumnya. Dari sekian modal yang diberikan, rata-rata modal yang benar-benar digunakan untuk usaha tani adalah sekitar 55 % saja, selebihnya digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya bervariasi. Salah seorang istri petani (Ibu ST) menyatakan bahwa bantuan modal ini oleh suaminya digunakan untuk hiburan, seperti main bilyard atau hura-hura semata.
Aduh, Pak, terus terang saja bantuan modal kemarin tidak semua kami manfaatkan untuk nambah tanaman kami. Karena pengaruh teman-teman, suami kami lebih senang make uang itu untuk hura-hura. Hampir tiap malam tuh dia main bilyard di sana (sambil menunjuk tempat bilyard yang ada di dekat RT 24), makanya kami lebih kalau memang pemerintah mau bantu kami, jangan dalam bentuk uang lah, kan bisa dalam bentuk barang, bibit, pupuk, atau alat-alat tani yang lebih baik lah.
Hal ini menurut pengkaji sangat lah wajar terjadi, karena sebagaimana telah diketahui bahwa penyuluhan dan monitoring yang dilakukan, baik oleh PPL maupun dari Pengelola Kegiatan masih sangat minim.
Pengembangan Ekonomi Lokal
Adanya bantuan modal kepada setiap kelompok tani dalam program P2TP ini jelas sangat berpengaruh dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat di RT 24 Kelurahan Nunukan Timur, khususnya kepada mereka yang tergabung dalam
kelompok tani tersebut. Petani dapat semakin meningkatkan potensi usaha ekonominya dan secara perlahan dapat meningkatkan pendapatan mereka.
Anggota kelompok merasa terbantu dengan adanya bantuan modal ini. Mereka merasa dapat meningkatkan produksi sayur, termasuk dengan mereka yang telah menanam ubi kayu, dimana hasil dari ubi kayu (sebagai peruntukan sebenarnya dari pemberian bantuan) juga telah menambah penghasilan mereka dengan menjual ubi kayu itu.
Di antara mereka juga ada yang menyatakan rugi dikarenakan hasil panen ubinya tidak dapat dipasarkan. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Ibu MS.
Saya rugi betul kemarin waktu disuruh tanam ubi kayu sama PPK Nunukan, karena mereka hanya memberikan bibit ubi kayu dan tidak boleh diganti, sementara bibit yang mereka berikan itu hanya untuk ubi kayu yang akan diolah menjadi tapioka, bukan untuk konsumsi langsung. Waktu panen, saya tanyakan kemana menjualnya, ternyata pemasarannya pun belum siap, akhirnya rugi mau 1 juta lebih. Makanya sekarang dengan bantuan modal yang ada ini saya lebih senang untuk menanam sayuran saja.
Penghasilan bersih petani sebelum mendapatkan bantuan rata-rata sebesar Rp 6.000,00 sampai dengan Rp 10.000,00 per harinya. Adapun setelah bantuan diberikan, lima orang petani menyatakan penghasilan meningkat menjadi Rp 25.0000,00 per hari dan ini belum ditambah dengan hasil dari ubi kayu dengan menjual daunnya. Kondisi demikian ternyata masih dikhawatirkan oleh para petani, mengingat dinamika harga pasar yang cenderung dirasakan mereka tidak stabil. Penyuluhan yang pernah dilakukan oleh para petugas lebih cenderung ke arah teknis bercocok tanam sayur dan belum menyentuh ke masalah yang lebih luas.
Permasalahan pemasaran yang juga terkadang menjadi kendala masih sering terjadi. Namun dengan adanya pemberian bantuan modal ini setidaknya telah memberikan semangat para petani untuk tetap terus mengolah lahan mereka dalam rangka untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Di kelurahan ini belum ada pedagang pengumpul, sehingga sayur yang mereka hasilkan umumnya mereka jual ke para pedagang di pasar non pemerintah, dan ada juga yang menjualnya sendiri dengan cara berkeliling di lingkungan sekitar tempat tinggal atau bahkan ada yang sampai di kelurahan lain. Kegiatan ini pun dilakukan masing-masing sesuai dengan waktu panen sayur-sayuran yang mereka tanam. Jenis sayur yang mereka jual bervariasi, yaitu kangkung akar,
bayam, sawi, ubi kayu termasuk daunnya, bawang daun (daun prey), seledri, timun suri, tomat dan jagung.
Pemanfaatan potensi ekonomi lokal
Program ini dapat dikatakan telah memanfaatkan potensi ekonomi lokal yang ada di Kelurahan Nunukan Timur, dimana dengan adanya kebijakan dari penanggung jawab kegiatan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan, Bapak DK, dengan menyesuaikan ketentuan yang ada dengan kondisi masyarakat yang diberikanbantuan, ternyata telah membantu masyarakat petani sayur untuk meningkatkan produksinya. Namun, berdasarkan pengamatan di lapangan sampai saat ini belum ada pengelolaan hasil dari petani secara kolektif dan teratur sebagai wujud pengamanan hasil produksi, padahal di Kelurahan Nunukan Timur terdapat pasar non pemerintah yang masih dapat digunakan sebagai tempat pemasaran. Pasar ini dikelola secara pribadi oleh pemilik lahan. Lahan pasar ini merupakan milik pribadi salah seorang warga di Kelurahan Nunukan Timur. Adapun para pedagang yang biasa berjualan di pasar ini diwajibkan membayar sewa tahunan kepada pemilik. Ukuran pasar ini hanya 50 x 80 m2. Keberadaan pasar ini pernah menjadi sorotan dari Pemerintah Kabupaten Nunukan, karena berada di tengah-tengah kota dan membuat arus lalu lintas menjadi padat, namun lama-kelamaan tidak pernah dipersoalkan lagi, karena kondisi jalan saat ini juga telah mengalami perubahan.
Menurut informasi Camat, bahwa pihak kecamatan sudah pernah memberikan teguran untuk ditutup, namun karena adanya kelonggaran dari Pemerintah Kabupaten, maka pemilik pun tetap mengoperasikan pasar ini. Pemerintah kabupaten melihat bahwa pasar ini masih membutuhkan keberadaan pasar ini dan solusi yang ditempuh adalah dengan melakukan pelebaran jalan. Hingga sampai saat ini, para petani masih memanfaatkan pasar ini sebagai salah satu tempat untuk menjual hasil taninya.
Berkaitan dengan modal, para petani mengakui bahwa mereka belum pernah ada yang berupaya untuk menyertakan modal dari pihak lain dalam rangka menambah dana bergulir. Berdasarkan hasil wawancara juga diperoleh keterangan bahwa mereka juga masih mempertanyakan tentang dana bergulir tersebut, apakah harus dikembalikan atau bagaimana. Hal ini seperti dituturkan oleh Pak YHN.
Sebenarnya kami masih bingung dengan penggunaan bantuan ini, setelah pencairan dana kemarin tidak ada penyuluhan langsung. Kebanyakan teman-teman kami malah ada yang menghabiskannya untuk kepentingan pribadi. Makanya kemarin Istri saya bilang sama saya, nanti kalau ada petugas dari pertanian, bagusnya bantuan itu jangan berupa uang lah, susah ngaturnya.
Mengenai hal ini, menurut Pengelola Kegiatan bahwa bantuan itu sebenarnya bergulir dalam kelompok, namun berkaitan dengan kurangnya informasi yang diberikan oleh petugas PPL berkaitan dengan bantuan modal ini, akan dijadikan sebagai bahan evaluasi di periode selanjutnya, mengingat tidak dapat dipungkiri jumlah PPL yang ada masih sangat terbatas (hanya ada 2 orang untuk Kelurahan Nunukan Timur).
Kondisi ketidaktahuan masyarakat ini juga disebabkan karena informasi tentang kegiatan pertanian sayur ini belum diketahui secara luas, seperti para tokoh masyarakat di kelurahan, ataupun masyarakat lainnya yang ada di Kelurahan Nunukan Timur. Hal ini dikarenakan sosialisasi yang hanya dilakukan pada awal kegiatan dan hanya didominasi oleh para petani yang menjadi sasaran kegiatan, sedangkan kemampuan petani menyerap informasi juga masih terbatas.
Hubungan program P2TP dengan pasar yang lebih luas
Berdasarkan pengamatan program P2TP jika dilihat dengan pasar yang lebih luas belum berpengaruh. Hal ini disebabkan program ini dalam kenyataannya hanyalah berupa pemberian bantuan modal tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas ataupun kemampuan petani itu sendiri. Program ini juga belum diketahui oleh masyarakat secara menyeluruh, baik di Kelurahan Nunukan Timur maupun di Kecamatan Nunukan. Hal ini dikarenakan pelaksanaan sosialisasi dan pembinaan yang sangat minim.
Berdasarkan penjelasan dari Pimpinan Pertanian Kecamatan Nunukan bahwa memang benar monitoring terhadap bantuan selalu dilakukan, namun masalah pendampingan kepada para petani hanya bersifat teoritis (tercantum dalam laporan pertanggungjawaban semata). Kalaupun ada bentuknya hanya berupa penyuluhan dari tenaga penyuluh yang sebenarnya bertugas di tempat lain. Hal inilah yang menyebabkan petani cenderung masih mengelola lahan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka saja.
Pengorganisasian Masyarakat
Berdasarkan pengamatan di lapangan bahwa program ini hanya menggalang partisipasi para petani khususnya di kelompok tani yang mendapat bantuan. Kegiatan pengorganisasian masyarakat berada pada sekitar kegiatan pembentukan kelompok tani. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembentukan kelompok tani ini adalah atas arahan dan fasilitasi dari tenaga penyuluh kepada para petani melalui kegiatan sosialisasi dan pembinaan. Sedangkan dalam hal pemilihan anggota kelompok sepenuhnya diserahkan kepada tokoh ataupun yang dituakan dalam masyarakat.
Pengorganisasian masyarakat dalam bentuk kelompok tani berkaitan dengan program P2TP ini telah memanfaatkan modal sosial yang ada di masyarakat RT 24 Kelurahan Nunukan Timur, seperti hubungan kekerabatan dan rasa saling percaya di antara para petani. Kelompok tani ini dibentuk atas arahan oleh petugas penyuluh, namun dalam hal penetapan anggota diserahkan kepada masyarakat. Dalam pembentukan kelompok tani tersebut mereka mengutamakan hubungan kekerabatan dan rasa saling percaya (trust) satu sama lainnya.
Norma dan nilai yang menentukan interaksi antara warga dibentuk oleh mereka sendiri yang dibuktikan dengan kebijakan dalam kelompok berkaitan dengan penggunaan bantuan dari program P2TP. Mereka senantiasa mengadakan musyawarah jika dalam pelaksanaannya menghadapi masalah atau kendala berkaitan dengan program ini. Kebijakan yang ada dalam kelompok adalah berkaitan dengan pembagian bantuan modal, dimana untuk satu tahun anggaran anggota yang menerima adalah setengah dari jumlah anggota kelompok, misalnya satu kelompok ada 20 orang, maka yang menerima bantuan untuk satu tahun anggaran adalah 10 orang. Sisanya akan memperoleh bantuan pada tahun berikutnya. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh dari Pengelola Kegiatan bahwa untuk Kelurahan Nunukan Timur telah dianggarkan untuk Tahun Anggaran 2005 dan 2006. Masalah kebijakan ini oleh Pengelola Kegiatan telah diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing ketua kelompok, sehingga nantinya akan dilakukan monitoring kepada para ketua-ketua kelompok tersebut.
Perencanaan Sosial
Berkaitan dengan proses perencanaan dalam progam ini, menurut informasi dari Kepala Sub Dinas Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan bahwa awalnya merupakan aspirasi dari para petani yang menginginkan tambahan modal. Petani yang dimaksud disini adalah mereka yang menanam tanaman sayur. Namun dari Pemerintah Pusat program yang diluncurkan memang merupakan bantuan modal namun diperuntukkan tanaman ubi kayu, oleh karenanya agar program ini tetap bermanfaat, maka selaku penanggung jawab kegiatan memberikan kebijakan bahwa modal yang diberikan dapat dipergunakan untuk meningkatkan produksi sayur. Adapun masalah pertanggungjawaban teknis kepada Pemerintah Pusat menjadi tanggung jawab dari Disperta Kabupaten Nunukan.
Proses ini secara konseptual pada bagian awalnya sudah cukup baik, yaitu adanya aspirasi dari para petani sayur agar adanya pemberian modal usaha, namun terjadi sedikit perbedaan tujuan dari pemerintah tentang jenis tanaman yang diusahakan. Namun, secara teknis menurut penanggung jawab kegiatan hal ini tidak begitu berpengaruh kepada masyarakat, karena pada akhirnya adanya program ini telah memberikan tambahan modal kepada para petani untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui peningkatan hasil tani.
Evaluasi Umum
Meninjau P2TP dari aspek pengembangan ekonomi lokal, pengorganisasian masyarakat dan perencanaan sosial, maka secara umum program P2TP dapat dievaluasi yang ditinjau dari sisi proses, hasil dan masalahnya, yaitu sebagai berikut :
a. Dari sisi proses, program ini lebih bersifat top down, karena secara teknis berasal dari Pemerintah Pusat. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa program ini berdasarkan petunjuk teknisnya adalah untuk pengembangan tanaman pangan, yaitu ubi kayu. Adapun pada saat prakteknya di lapangan, pelaksanaannya menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran program. Hal ini didukung dengan kebijakan dari pelaksana kegiatan yang memberikan kelonggaran kepada para petani miskin. Kondisi ini sesuai
dengan keinginan petani untuk menambah modal yang dimiliki untuk meningkatkan hasil usaha taninya. Penyimpangan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pelaksana kegiatan, sedangkan petani hanyalah sebagai sasaran kegiatan atau penerima modal yang hanya mengikuti arahan dari pelaksana kegiatan, dalam hal ini Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Nunukan. Pelaksanaan program pun tidak dibarengi dengan kegiatan penyuluhan yang seharusnya dilakukan oleh pelaksana kegiatan. Selain itu, perubahan secara teknis di lapangan yang telah terjadi juga harus menjadi bahan dalam proses perencanaan kegiatan di masa yang akan datang, karena hal ini akan mempengaruhi efektivitas pelaksanaan program dan hasilnya.
b. Ditinjau dari hasil, program ini belum mencapai tujuan yang diharapkan, karena para petani belum mampu memanfaatkan modal secara baik dan penyuluhan berkaitan bantuan ini hanya bersifat formalitas. Bantuan modal tidak dipergunakan sepenuhnya untuk usaha tani, melainkan dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, bahkan ada juga yang memanfaatkan untuk hiburan, seperti main billyard. Walaupun demikian, bantuan tersebut dirasakan oleh petani juga membantu mereka dalam meningkatkan hasil usaha tani dari waktu-waktu sebelumnya.
c. Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan program ini, dilihat dari sisi petani adalah bahwa mereka belum mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengelola bantuan modal, sedangkan dari sisi pemerintah hambatan yang dihadapi adalah kurangnya personil petugas penyuluh lapangan, sehingga proses monitoring dan evaluasi tidak terlaksana dengan baik.