TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Tentang Konflik
Manusia tidak akan pernah dapat dipisahkan dari konflik. Perkembangan konflik seolah-olah berkembang bersama-sama dengan manusia itu sendiri. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Interaksi yang tercipta ini tidak selamanya bersifat positif, ada kalanya benturan terjadi baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok.
Hal yang melatarbelakangi timbulnya konflik yang paling umum terjadi yaitu kepentingan. Dalam lingkup yang lebih besar, misalnya pada level negara juga terdapat kepentingan yang disebut dengan kepentingan nasional sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh suatu Negara.
Tujuan itu sendiri adalah “Gambaran dari keadaan masa depan dan kondisi yang ingin diwujudkan melalui pembuatan kebijakan luar negeri”26. Tujuan itu dapat dikategorikan ke dalam27:
Tujuan jangka pendek atau nilai inti, dimana eksistensi pemerintah dan bangsa harus dilindungi, diperluas sepanjang waktu, dan memerlukan pengorbanan yang maksimal.
26 K.J. Holsti, Politik Internasional : Kerangka Untuk Analisa (Edisi keempat jilid 2), Jakarta : Erlangga, 1988, hal. 137.
Tujuan menengah, biasanya memaksakan tuntutan pada negara lain guna memenuhi tuntutan dan kebutuhan perbaikan ekonomi, meningkatkan prestise negara, mencakup perluasan diri atau imperialisme.
Tujuan jangka panjang, yang merupakan rencana, impian, harapan dan pandangan waktu yang tidak pasti.
Kepentingan nasional merupakan tujuan dari interaksi negara dalam hubungan internasionalnya. Dalam pencapaiannya, terjadi interaksi dengan negara lain yang juga memiliki kepentingan nasionalnya sendiri. Hasil dari interaksi ini dapat menghasilkan dua pola interaksi. Yang pertama yaitu kerjasama, hal ini terjadi jika benturan kepentingan yang konstruktif. Akan tetapi, tidak jarang, yang terjadi lebih bersifat destruktif, hal inilah yang kemudian memicu terjadinya konflik antar negara.
Bentuk konflik menurut Holsti :
“Konflik yang cenderung mengarah kepada kekerasan yang terorganisir sebagai akibat dari posisi yang saling bertentangan, sikap saling bermusuhan dan tindakan militer atau
diplomatik dari beberapa kelompok tertentu atas suatu masalah. Penyebabnya adalah perbedaan pendirian antar kelompok. Termasuk posisi yang mereka ingin capai. Tingkah laku konflik dalam bentuk sikap maupun tindakan akan terjadi apabila kelompok A menempati posisi yang bertentangan dengan kelompok B lainnya”28.
Dalam konteks internasional, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melihat timbulnya kekerasan yang terorganisir atau unsur-unsur timbulnya konflik, yaitu29 :
Pihak bertikai (parties). Biasanya dalam konflik internasional (tetapi tidak mutlak) adalah pemerintah negara-bangsa ;
Bidang sengketa (issue fields), bisa berbentuk : konflik wilayah terbatas, konflik oposisi pemerintah, konflik pemerintah, konflik, kehormatan nasional, konflik imperialisme regional, konflik pembebasan, dll ;
28 Ibid, hal. 17 29 Ibid, hal. 170-174
Sikap (tension), yang berbentuk seperti : ketidakpercayaan, kecurigaan, eskalasi issu, perasaan mendesak, merasa alternatif tindakan tidak banyak terbuka bagi mereka sendiri daripada bagi musuh, merasa krisis, persepsi ancaman lebih menonjol ;
Tindakan (action), yang diambil bisa mulai dari protes, penolakan atau penyangkalan tuduhan, menarik duta besar, melakukan ancaman, pemboikotan, embargo ekonomi
(terbatas atau total), propaganda (di dalam dan di luar negeri), pemutusan hubungan diplomatik, melakukan gangguan atau penutupan perjalanan dan komunikasi antara para warga negara yang bermusuhan, tindakan militer tanpa kekerasan seperti halnya latihan militer, pembatalan cuti, mobilisasi (sebagian atau penuh), pemblokadean formal, sampai pada perang.
Menurut Holsti, konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina dikategorikan sebagai “konflik wilayah terbatas”, yaitu dimana terdapat pandangan yang tidak cocok dengan acuan pada pemilikan suatu bagian khusus wilayah atau pada hak-hak yang dinikmati oleh suatu negara di atau dekat wilayah negara lain. Usaha untuk memperoleh perbatasan yang lebih aman, seperti
penaklukan Israel atas Dataran Tinggi Golan dan Semenanjung Sinai pada 1967, cukup lazim. Isu kedaulatan atas minoritas etnis sering berhubungan dengan klaim suatu negara untuk
mengendalikan wilayah yang dikuasai oleh pihak lain, dan arena itu, juga dikategorikan dalam konflik wilayah terbatas30.
Menurut Miall, Konsep konflik secara umum dijelaskan sebagai berikut :
“Konflik adalah pengejaran tujuan saling bertentangan dari kelompok-kelompok yang berbeda. Ini menunjukan rentangan waktu yang lebih luas dan kelas perjuangan yang lebih besar dibandingkan dengan konflik bersenjata, entah itu diikuti oleh sarana perdamaian ataupun dengan menggunakan kekuatan”31.
Menurut Sholihan, terdapat perbedaan antara konflik dengan kekerasan :
“Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau mereka menganggap memiliki tujuan yang bertentangan. Sedangkan
kekerasan meliputi tindakan, kata-kata dan sikap, struktur atau sistem yang mengakibatkan kerusakan fisik, psikis, dan lingkungan dan atau menutup kemungkinan orang untuk
mengembangkan potensinya. Konflik merupakan suatu kenyataan hidup yang tidak dapat dielakkan, dan seringkali bersifat kreatif. Konflik terjadi ketika orang mengejar sasaran yang bertentangan”32.
30 Ibid, hal. 174.
31 Hugh Miall, Oliver Ramsbotham, Tom Woodhouse, Resolusi Damai Konflik Kontemporer : Menyelesaikan, mencegah, mengelola dan mengubah konflik bersumber politik, agama dan ras, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000, hal. 28-29.
Lebih lanjut Sholihan menjelaskan bahwa suatu konflik yang ditekan akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Konflik sendiri dapat dipandang sebagai masalah dan dapat pula dipandang sebagai solusi. Konflik dapat menjadi kekerasan apabila33 :
Terdapat saluran yang tidak tepat untuk melakukan dialog dan ketidaksepakatan;
Suara-suara ketidaksepakatan dan keluhan yang ada tidak dapat didengar atau dibahas;
Terjadi ketidakstabilan, ketidakadilan, dan ketakutan dalam komunitas dan masyarakat yang luas.
Mengenai penyelesaian konflik, Holsti berpandangan bahwa konflik dapat diselesaikan melalui berbagai cara. Ada 6 cara yang dapat ditempuh guna menyelesaikan konflik, yaitu34 :
1. Melakukan penarikan tuntutan. Penyelesaiannya adalah salah satu atau kedua belah pihak menahan diri untuk tidak melakukan tindakan fisik atau mendesak perundingan memenuhi tuntutan, atau menghentikan tindakan yang pada dasarnya akan menyebabkan tindakan balasan yang bermusuhan. Intinya adalah salah satu pihak mengakhiri klaim atau tuntutan dan pihak lain menerima ;
2. Penaklukan. Akhir penaklukan dengan kekerasan tetap mencakup berbagai persetujuan dan perundingan di antara negara-negara yang bermusuhan ;
3. Tunduk atau membentuk deterrence (penangkalan). Kriteria yang dipakai untuk membedakan kepatuhan atau penangkalan dari penaklukan ialah ada atau tidaknya implementasi ancaman untuk memakai kekerasan ;
32 M. Mukhsin Jamil, dkk, Mengelola Konflik : Teori, Strategi dan Implementasi Resolusi Konflik, Semarang : WMC (Walisongo Mediasi Centre), 2007, hal. 6.
33 Ibid, hal.10.
34 Holsti, dalam T. May Rudy, Hubungan Internasional Kontemporer dan Masalah-Masalah Global, Bandung : Refika Aditama, 2003, hal.77-78.
4. Kompromi. Yaitu penyelesaian konflik atau krisis internasional yang menuntut pengorbanan dari posisi yang telah diraih oleh pihak yang bersengketa. Masalah utama dalam mencapai kompromi adalah bagaimana meyakinkan pihak yang bersengketa untuk menyadari bahwa resiko untuk tetap mempertahankan atau melanjutkan konflik diantara mereka jauh lebih besar dibanding resiko untuk melakukan penurunan tuntutan atau menarik mundur posisi militer atau diplomatik ;
5. Penyelesaian melalui pihak ketiga. Akibat yang agak rumit dari penyelesaian konflik atau krisis internasional berdasarkan kompromi ialah melalui pihak ketiga. Bentuk penyelesaian seperti ini mencakup penyerahan persetujuan dan itikad untuk menyelesaikan masalah berdasarkan berbagai kriteria keadilan ;
6. Penyelesaian secara damai. Penyelesaian melalui cara damai (perundingan, konsiliasi, dll) sehingga masing-masing pihak yang bersengketa secara perlahan dapat menerima posisi yang baru.
Dalam penyelesaian konflik, tidak jarang melibatkan pihak ketiga sebagai mediator. Peran dan tugas mediator sangat rumit, dan prakarsa serta strategi perundingan yang diterima oleh mediator bervariasi dari kasus ke kasus. Menurut Young, peran dan fungsi yang mungkin dimainkan oleh mediator dalam membantu penyelesaian konflik, yaitu35 :
I. Tindakan yang diambil untuk membantu memulai atau meneruskan pembicaraan bilateral, atau membantu melaksanakan persetujuan yang telah dicapai. Di sini, pihak ketiga tidak menjadi terlibat dalam perundingan pokok.
Jasa baik. Mengacu pada prosedur yang merupakan sarana bagi pihak ketiga untuk bertindak sebagai saluran komunikasi di antara para lawan, dengan menyampaikan pesan di antara mereka.
35 Oran Young dalam K.J. Holsti, Politik Internasional ; Kerangka Untuk Analisis (Edisi keempat jilid 2), Jakarta : Erlangga, 1988, hal. 192-194.
Sumber data. Peran ini meliputi pemberian informasi yang relevan kepada para pihak yang bertikai mengenai karakter yang tidak menyimpang.
Interposisi. Tindakan ini diilustrasikan oleh pengiriman Pasukan Cepat PBB ke Timur Tengah setelah perang Arab-Israel 1973, dirancang untuk menempatkan kekuatan militer di antara para pihak yang telah menggunakan kekerasan dan untuk mengawasi penarikan kekuatan musuh dari kawasan yang diperebutkan.
Pengawasan. Jasa ini datang setelah para pihak yang terlibat merundingkan perjanjian gencatan senjata pendahuluan.
II. Perundingan melalui pihak ketiga selama negoisasi antara dua pihak yang berselisih atau lebih. Persuasi. Melibatkan upaya untuk terus mengusahakan negoisasi dan untuk membujuk para
lawan untuk melangkah maju.
Enunsiasi. Tugas ini meliputi penjelasan isu di sekitar konflik. Mediator menjelaskan pengertian mereka mengenai isu yang terlibat, dan mengemukakan prinsip dasar, prosedur, dan mekanisme yang mungkin digunakan dalam perundingan resmi.
Elaborasi dan inisiasi. Di sini, para mediator menjadi terlibat aktif dalam perundingan dengan membantu merumuskan kepentingan bersama dan saling melengkapi, dan mengajukan, atas prakarsa mereka sendiri usul-usul substantif untuk menyelesaikan konflik.
Partisipasi. Kadang-kadang para mediator sebenarnya menjadi salah satu pihak utama dalam perundingan.
Perdamaian menjadi kajian spesifik yang mencoba menanggulangi permasalahan kekerasan. Menurut Susan, ada tiga konsep perdamaian, yaitu36:
1. Perdamaian Positif (Positive Peace)
Perdamaian tidak hanya berkaitan dengan usaha mereduksi kekerasan langsung, tetapi juga pada pengembangan-pengembangan vertikal sosial yang bertanggung jawab terhadap hubungan hierarkis di antara masyarakat. Berdasarkan pada pemahaman dasar dari kondisi-kondisi sosial, cara menghapus kekerasan struktural melampaui tiadanya kekerasan
langsung.
2. Perdamaian Negatif (Negative Peace)
Berfokus pada tidak adanya kekerasan langsung seperti perang. Pencegahan dan eliminasi penggunaan kekerasan membutuhkan pemecahan perbedaan melalui negoisasi atau mediasi daripada kekerasan fisik.. Konsep Perdamaian Negatif ini berpandangan bahwa perdamaian ditemukan kapanpun ketika tidak ada perang atau bentuk-bentuk kekerasan langsung yang terorganisir.
3. Perdamaian menyeluruh
Merupakan kombinasi dari perdamaian positif dan perdamaian negatif. Pandangan dari perdamaian menyeluruh adalah usaha mengontrol dan mengelola kehidupan secara kontinu dengan mereduksi seluruhnya bentuk-bentuk yang sederhana.
Sedangkan menurut Steans dan Pettiford, perdamaian dalam perspektif berbeda memiliki definisi atau konsep yang berbeda pula. Menurut kaum Realis, perdamaian dipandang secara negatif. Hal ini adalah untuk mengatakan bahwa perdamaian merupakan kondisi yang ditandai dengan ketiadaan perang. Para penganut paham ini memusatkan perhatian pada kondisi-kondisi yang diperlukan untuk mencegah peperangan37.
Sedangkan para penganut paham Liberal memiliki pandangan yang berbeda, kaum Liberal telah mengembangkan teori perdamaian tersendiri, yang menyatakan bahwa perdamaian hanya bisa terjamin jika sumber-sumber konflik juga terselesaikan. Kaum Liberal juga berpandangan bahwa guna terciptanya perdamaian perlu ada usaha untuk mengukuhkan institusi-institusi internasional yang dapat mengatasi masalah anarki dan memfasilitasi kerjasama38.
B. Konsep Tentang Kepentingan Nasional
Dalam sistem internasional, pola interaksi yang terjadi di antara negara-negara pada umumnya dilandasi oleh adanya kepentingan-kepentingan tertentu yang ingin dicapai oleh tiap-tiap negara.
Masing-masing negara tersebut dalam sistem internasional berkewajiban memberikan tanggapannya atas fenomena-fenomena internasional yang terjadi sesuai dengan tujuan nasionalnya dan juga selalu diselaraskan dengan kepentingan nasionalnya masing-masing.
Kepentingan nasional merupakan tujuan umum yang diperjuangkan oleh setiap negara dalam interaksinya dengan aktor-aktor lain. Masing-masing negara melalui politik luar negerinya senantiasa berperilaku dan bertindak dengan tujuan melindungi ataupun menjalankan kepentingan nasionalnya.
37 Jill Steans dan Lloyd Pettiford, Hubungan Internasional : Perspektif dan Tema, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009, hal. 69.
Menurut Plano dan Olton, dalam kepentingan nasional terdapat unsur-unsur pembentuknya, yaitu :
“Kepentingan nasional juga dapat dijelaskan sebagai tujuan fundamental dan faktor penentu akhir yang mengarahkan para pembuat keputusan dari suatu negara dalam merumuskan kebijakan luar negerinya. Kepentingan nasional suatu negara secara khas merupakan unsur-unsur yang membentuk kebutuhan negara yang paling vital, seperti pertahanan keamanan, militer, dan kesejahteraan ekonomi”39
Melihat penjelasan di atas, kepentingan nasional memiliki unsur-unsur pembentuk yang beragam. Unsur-unsur tersebut bersifat vital dan berkaitan erat dengan eksistensi suatu negara dalam lingkungan internasional. Pertahanan dikatakan sebagai unsur vital dikarenakan eksistensi suatu negara sangat ditentukan oleh faktor tersebut, dan tidak dapat dipisahkan dari kekuatan militer sebagai salah satu instrument utamanya. Pertahanan keamanan juga merupakan sarana suatu negara dalam mencapai tujuan nasionalnya dalam lingkungan internasional yang bersifat anarkis.
Konsep kepentingan nasional merupakan konsep yang sangat penting dalam menganalisis, menerangkan, menjelaskan, meramalkan, atau membuat preskripsi mengenai tindak tanduk dan perilaku internasional dari aktor-aktor dalam dunia internasional. Para peneliti dan praktisi hubungan internasional dengan suara bulat sepakat bahwa justifikasi utama tindakan negara yaitu kepentingan nasional40.
Kepentingan nasional yang kemudian mendasari tiap-tiap negara dalam merumuskan kebijakan-kebijakan politiknya, baik yang berupa politik domestik maupun kebijakan luar negerinya. Bahkan tidak jarang dikatakan bahwa kepentingan nasional merupakan penentu utama dalam mempelajari tindak tanduk suatu negara dalam interaksinya dengan negara-negara lain. Kepentingan nasional merupakan identifikasi dari kebutuhan-kebutuhan domestiksuatu negara, baik menyangkut ekonomi, politik, pertahanan keamanan, bahkan ke tataran sosial budaya. Dalam upaya memenuhi kepentingan nasional, tidak jarang terjadi benturan kepentingan antara aktor satu dengan aktor yang lain, yang sekiranya dapat mengancam atau setidaknya dapat mengurangi pemenuhan kepentingan nasionalnya. Di sinilah peran negara dalam menjaga pemenuhan kepentingan nasionalnya.
Menurut Morgenthau :
“Syarat minimum suatu negara adalah kemampuan untuk melindungi identitas fisik, politik dan kulturnya dari gangguan negara lain. Jika diterjemahkan ke dalam tujuan yang lebih spesifik, melindungi identitas fisik sama dengan memelihara integritas wilayah suatu negara. Melindungi identitas fisik sama dengan melindungi eksistensi rejim politik ekonomi seperti demokrasi yang kompetitif, komunis sosialis, otoriter dan totaliter. Melindungi identitas kultural sama dengan melindungi etnis, agama, bahasa dan norma-norma sejarah agama”41.
Morgenthau menggunakan konsep “kepentingan nasional” dengan beragam cara untuk menghindari pengertian-pengertian yang membingungkan, di antaranya ;
39 Jack C plano dan Roy Olton dalam DR. Anak Agung Banyu Prawira dan Yanyan Mochammad Yan,
Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005, hal. 35.
40 Thedore A Columbis dan James Wolfe, Pengantar Hubungan Internasional : Keadilan dan Power, Bandung : Putra Abardin, 1998, hal. 107.
41 Morgenthau dalam Theodore A Columbis dan James Wolfe, Pengantar Hubungan Internasional : Keadilan dan Power, Bandung : Putra Abardin, 1998, hal. 115.
Kepentingan primer (primary interest) yaitu termasuk proteksi terhadap kepentingan bangsa secara fisik, politik, dan identitas budaya serta pertahanan melawan gangguan luar. Kepentingan ini tidak bisa dikompromikan atau diperdagangkan.
Kepentingan sekunder (secondary interest) sifatnya keluar, namun memliki kontribusi ke dalam, misalnya proteksi warga negara yang ada di luar negeri dan mempertahankan kekebalan sebaik-baiknya untuk diplomat negara.
Kepentingan tetap (permanent interest) sifatnya relatif tetap selama periode jangka panjang, berubah-ubah sesuai waktu tapi perlahan-lahan. Misalnya, Inggris selama berabad-abad berkepentingan dalam pembebasan navigasi kelautan dan garis pantai.
Kepentingan tak tetap (variable interest) yaitu opini publik, kepentingan seksional, politik partisan, arah politik dan moral suatu bangsa yang harus dihormati.
Kepentingan umum (general interest) dimana suatu bangsa boleh menggunakannya dengan sikap positif pada luasnya wilayah geografis atau pada beberapa bidang tertentu (ekonomi, hukum internasional, dll). Misalnya Inggris dalam mempertahankan keseimbangan kekuatan di benua Eropa.
Kepentingan khusus (specific interest) biasanya dekat dengan definisi waktu atau tempat dan seringkali berkembang secara logis dari kepentingan umum.
Ada juga 3 kepentingan internasional (international interest), yaitu42 :
1. Kepentingan identik (identical interest) antara beberapa negara dengan jelas termasuk dalam kepentingan nasional yang mana negara-negara tersebut memegang persamaannya.
42 Thomas W. Robinson, A National Interest Analysis of Uni Soviet Relations, International Studies Quarterly, XI June 1967, hal. 183-185.
Misalnya Inggris dan AS berkepentingan dalam memastikan benua Eropa tidak didominasi oleh kekuatan tunggal.
2. Kepentingan saling melengkapi (complementary interest) antara negara-negara yang tidak sama setidaknya dapat membentuk dasar perjanjian pada masalah-masalah khusus. Misalnya Inggris memiliki kepentingan mempertahankan kemerdekaan Portugal dari Spanyol untuk mengontrol kawasan Laut Atlantik, sedangkan Portugal berkepentingasn dalam hegemoni maritim Inggris untuk pertahanan melawan Spanyol.
3. Kepentingan yang bertentangan (conflicting interest). Walaupun saat ini semakin banyak kepentingan ini muncul, tetapi dimasa mendatang bisa saja berubah melalui diplomasi, peristiwa tertentu atau melalui waktu menjadi kepentingan komplementer ataupun sebaliknya menjadi kepentingan yang bertentangan.
Dari pengertian beragam kepentingan diatas menurut Morgenthau bahwa kepentingan nasional merupakan suatu konsep yang harus diartikan sebagai power (kekuasaan). Oleh karena itu dia berulangkali menunjukkan kepentingan nasional berdasarkan definisi power, artinya bahwa posisi
power yang harus dimiliki negara merupakan pertimbangan utama yang memberikan bentuk kepada kepentingan nasional.
Konsekuensi dari pemikiran tersebut adalah bahwa suatu situasi atau tujuan nasional harus dievaluasi dan diukur dengan menggunakan tolak ukur posisi power negara, sehingga negara tersebut bisa mengembangkan dan memelihara kontrol terhadap negara lain. Hubungan power dan kontrol tersebut bisa dicapai melalui pemaksaan dan kooperatif43.
Mendefinisikan kepentingan nasional memerlukan berbagai kriteria penting, baik
berdasarkan kriteria filosofi-operasional, ideologis, hukum dan moral, pragmatis, kemajuan profesi, partisan, kepentingan birokrasi, etnik/rasial, klas dan status maupun kriteria ketergantungan luar negeri44.
Bagaimanapun kriteria-kriteria tersebut sudah ditetapkan sebagai suatu landasan umum bagi suatu negara, namun pembentukan dan pelaksanaan suatu kepentingan nasional pada akhirnya akan bergantung pada para decision-maker, mulai dari proses pembuatan sampai kepada
pengimplementasian kebijakan-kebijakan yang telah terkandung di dalamnya.
43 Theodore A. Columbis dan James H. Wolfe, Pengantar Hubungan Internasional : Keadilan dan Power.
Bandung : Putra Abardin, hal. 114.
Meski para decision-maker harus berhubungan dengan berbagai variable di dalam hubungan internasional, tetapi konsep kepentingan nasional biasanya tetap dan merupakan faktor yang paling konstan serta berfungsi sebagai tonggak petunjuk arah dalam proses pembuatan kebijakan luar negeri. Sedangkan menurut Rudy terdapat kesamaan umum dari kepentingan nasional negara-negara modern. Jadi, kepentingan nasional yaitu :
“Sekumpulan tujuan yang selalu ingin dicapai sehubungan dengan yang dicita-citakan, dalam hal ini kepentingan nasional. Yang relatif tetap dan sama di antara semua negara atau bangsa adalah keamanan (mencakup kelangsungan hidup rakyat dan kebutuhan wilayah) serta kesejahteraan45.
Suatu negara dalam pencapaian kepentingan nasionalnya berkaitan dengan langkah atau kebijakan yang diambilnya dalam pencapaian kepentingan nasionalnya harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya, baik lingkup domestik maupun lingkup regional dan global.
Kepentingan nasional bukanlah suatu teori yang terinci, akan tetapi lebih dipergunakan pada waktu-waktu pemilihan apa saja dalam bentuk simbol atau slogan. Kepentingan nasional dijabarkan kepada rakyat sebagai doktrin dan dapat berubah sesuai waktu, situasi dan kondisi.
Yusuf mendefinisikan kepentingan nasional sebagai berikut :
”Kepentingan nasional termasuk dalam visum dan diperjuangkan oleh suatu
bangsa atau negara untuk diperjuangkan dalam rangka ketertiban internasional.
Konsep ini adalah buatan manusia dan dipatuhi oleh masyarakat, karena disangkutkan pada situasi sosial dan mencerminkan adanya nilai-nilai, ide-ide, kepentingan golongan
dan juga kepentingan para perumusnya46.
Dalam hubungan internasional, tiap negara dalam interaksinya satu sama lain bertujuan memenuhi kepentingan nasionalnya. Dalam upaya mewujudkannya, suatu negara memerlukan politik luar negeri yang tersusun dengan seksama.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Plano dan Olton mengenai politik luar negeri, bahwa :
“Politik luar negeri merupakan strategi rencana tindakan oleh para pembuat kebijakan suatu negara dalam menghadapi negara lain atau unit politik internasionalnya, dan dikendalikan untuk mencapai tujuan nasional yang dituangkan dalam terminologi kepentingan
nasional”47.
Dari definisi tersebut, Plano dan Olton menekankan pada bagaimana strategi dan rencana tindakan suatu negara yang dapat dikembangkan oleh para pembuat keputusan dari suatu negara yang diwujudkan atau direfleksikan melalui pelaksanaan politik luar negeri.
45 T. May Rudy, Studi Strategi dalam Transformasi Sistem Internasional pasca Perang Dingin, Bandung : PT. Refika Aditama, 2002, hal. 16
46 Sufri Yusuf, Hubungan Internasional dan Politik Luar Negeri : Sebuah Analisis Teoritis dan Uraian Tentang Pelaksanaannya, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1989, hal. 177.
C. Konsep Tentang Resolusi Konflik
Resolusi konflik merupakan suatu terminologi ilmiah yang menekankan kebutuhan untuk melihat perdamaian sebagai suatu proses terbuka dan membagi proses penyelesaian konflik dalam beberapa tahap sesuai dengan dinamika siklus konflik. Penjabaran tahapan proses resolusi konflik dibuat untuk empat tujuan.
Konflik tidak boleh hanya dipandang sebagai suatu fenomena politik-militer, namun harus dilihat sebagai suatu fenomena sosial.
Konflik memiliki suatu siklus hidup yang tidak berjalan linear. Siklus hidup suatu konflik yang spesifik sangat tergantung dari dinamika lingkungan konflik yang spesifik pula.
Sebab-sebab suatu konflik tidak dapat direduksi ke dalam suatu variabel tunggal dalam bentuk suatu proposisi kausalitas bivariat. Suatu konflik sosial harus dilihat sebagai suatu