PENAMPUNGAN BERBEDA
TINJAUAN PUSTAKA Ayam Arab
Ayam Arab berasal dari Belgia yang disebut dengan nama Brakel Kriel yang termasuk ke dalam galur ayam petelur unggul di Belgia. Produksi telur ayam Arab setara dengan ayam Leghorn, yaitu rata-rata bisa mencapai 80-90% dari populasi, yang dicapai dengan pakan hanya 80 g/ekor/hari. Ayam Arab merupakan ayam lokal Indonesia pendatang yang merupakan hasil penetasan dari beberapa butir telur yang dibawa dari luar (Arab). Telur ayam Arab pertama kali dibawa ke Indonesia dan ditetaskan menggunakan induk ayam Kampung yang sedang mengeram. Anak ayam hasil penetasan ini dibesarkan dan diumbar di pekarangan rumah sehingga kawin dengan ayam lokal dan dinamakan ayam Arab. Keturunan hasil perkawinan silang ini memperlihatkan produksi telur lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam lokal lainnya. Ayam ini berkembang cepat tetapi strain aslinya (parent stock) sudah tidak ada. Ayam Arab yang berkembang saat ini merupakan hasil kawin silang dengan ayam lokal. (Sarwono, 2001).
Menurut Pambudhi (2003), ayam Arab yang berkembang di Indonesia ada dua jenis, yaitu ayam Arab Silver dan ayam Arab Merah (Golden Red) dan yang lebih dikenal di masyarakat Indonesia adalah ayam Arab Silver. Ayam Arab Silver diduga merupakan hasil persilangan antara pejantan ayam Arab asli (Silver Breakels) dengan ayam betina lokal. Asal-usul ayam Arab Merah (Golden Red) diduga merupakan hasil persilangan antara ayam Arab Silver jantan (Silver Breakels) dengan ayam ras betina petelur merah (Leghorn). Pendapat lain menyatakan bahwa ayam Arab Merah (Golden Red) diduga merupakan hasil persilangan antara ayam Arab Silver jantan dengan ayam Merawang betina. Ayam Arab Silver mempunyai bulu putih di kepala dan lehernya dengan badan totol-totol hitam. Ayam Arab Silver jantan dewasa memiliki tinggi badan 30 cm dan ayam betina memiliki tinggi badan 22-25 cm. Ayam Arab Merah (Golden Red) memiliki bulu berwarna kuning keemasan di bagian leher dan terdapat totol-totol hitam di sekitar sayap dan paha. Ukuran tubuh ayam Arab Merah (Golden Red) jantan sedikit lebih besar daripada ayam Arab Silver jantan dan lebih mendekati ukuran tubuh ayam ras jantan dengan tinggi badan sekitar 35 cm.
Nataamijaya et al. (2003) menyatakan bahwa ayam Arab memiliki sifat kualitatif antara lain berjengger tunggal (single) dan berwarna merah, pial berwarna
merah, memiliki warna bulu seragam dengan warna dasar hitam dihiasi warna putih di daerah kepala, leher, dada, punggung dan sayap, dan berwarna putih pada paruh, kulit dan sisik kaki. Sarwono (2001) dan Pambudhi (2003) menyatakan bahwa ayam Arab merupakan ayam tipe petelur yang memiliki ciri-ciri bersifat lincah, agak liar, tidak mengeram, daya seksual pada jantan tinggi, tingkat efisiensi pakan yang tinggi, kemampuan memproduksi telur yang tinggi, dan berpostur tubuh ramping. Selain itu, ayam Arab jantan memiliki libido yang tinggi dan kualitas sperma yang bagus. Natalia
et al. (2005) menyatakan bahwa telur ayam Arab yang dihasilkan memiliki karakterisrik warna dan bentuk kerabang seperti telur ayam Kampung sehingga banyak diminati konsumen tetapi ayam Arab memiliki daging yang tipis dan kulit yang berwarna hitam dengan bobot afkir yang rendah yaitu hanya mencapai 1,1 – 1,2 kg. Performa produksi telur ayam Arab menurut Sulandari et al. (2007) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Performa Produksi Telur Ayam Arab
Variabel Nilai
Umur bertelur pertama 22 minggu
Produksi telur (Butir per tahun) 190–250
Bobot telur (g) 34,24±1,38
Warna kerabang telur Putih, putih kekuningan dan coklat
Fertilitas (%) 69,17±4,25
Daya tetas (%) 74,14±5,16
Sumber: Sulandari et al. (2007)
Karakteristik Semen Ayam Arab
Semen ayam merupakan campuran dari spermatozoa dan cairan yang disekresikan oleh tubuli seminiferi, epididimis, dan vas deferens. Semen unggas memiliki karakteristik volume rendah dan konsentrasi spermatozoa tinggi. Volume semen unggas yang rendah disebabkan unggas tidak memiliki kelenjar aksesories seperti pada mamalia sehingga volume plasma semen rendah (Ensminger, 1992). Menurut Toelihere (1993), semen ayam memiliki volume yang relatif sedikit dan berbeda berdasarkan jenis namun memiliki konsentrasi yang tinggi. Semen yang baik dapat dilihat berdasarkan kualitas dan komposisi kimiawi semen. Karakteristik kualitas dan komposisi kimiawi semen ayam secara umum dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik Kualitas dan Komposisi Kimiawi Semen Ayam
Karakteristik/Komponen Semen Konsentrasi
Volume ejakulat (ml)
Konsentrasi spermatozoa (Milyar sel/ml) Spermatozoa per ejakulat (Milyar) Motilitas spermatozoa (%)
Morfologi spermatozoa normal (%) Protein (g/100ml) pH Fruktosa (mg/100ml) Sorbitol (mg/100ml) Asam sitrat (mg/100ml) Inositol (mg/100ml) Gliserofosforil Kolin (mg/100ml) Ergotionin (mg/100ml) Sodium (mg/100ml) Potassium (mg/100ml) Kalsium (mg/100ml) Magnesium (mg/100ml) Klorida (mg/100ml) 0,2-0,5 3-7 0,6-3,5 60-80 85-90 1,8-2,8 7,2-7,4 4 0-10 0 16-20 0-40 0-20 352 61 10 14 147
Sumber : Garner dan Hafez (1987)
Menurut hasil penelitian Iskandar et al. (2006), karakteristik semen segar ayam Arab jantan dewasa adalah sebagai berikut: volume semen per ejakulasi 0,30±0,072 ml, semen berwarna putih, konsistensi semen berkisar antara agak kental sampai kental, gerakan massa spermatozoa berkisar antara baik (+++) sampai sangat baik (++++), motilitas spermatozoa 80%, konsistensi spermatozoa 2,200±0,372 milyar sel/ml, pH semen 6,95±0,32, dan persentase spermatozoa abnormal 14,75±1,28%. Hasil penelitian lain dari Nataamijaya et al. (2003) menyatakan karakteristik semen ayam Arab adalah sebagai berikut : volume per ejakulasi sebesar 0,26±0,01 ml, semen berwarna putih susu, konsistensi semen kental, kerapatan sel sperma densum, gerakan massa spermatozoa baik (+++), dan motilitas spermatozoa 4,02±0,00 (skala 0-5).
Syarat dan Fungsi Bahan Pengencer
Semen ayam mempunyai konsentrasi spermatozoa yang tinggi dengan volume ejakulasi yang relatif rendah sehingga diperlukan pengenceran untuk meningkatkan efisiensi penggunaannya. Penggunaan bahan pengencer pada semen ayam memiliki tujuan untuk meningkatkan volume semen dan mempertahankan daya hidup spermatozoa setelah penyimpanan sehingga mempermudah pendistribusian (Bootwalla dan Milles, 1992).
Menurut Toelihere (1993), syarat dan fungsi bahan pengencer antara lain adalah: (1) memiliki harga murah, sederhana, mudah dibuat, dan banyak tersedia; (2) memiliki daya preservasi tinggi; (3) tidak bersifat toksik terhadap spermatozoa maupun saluran kelamin hewan betina; (4) mampu mempertahankan fertilisasi spermatozoa; (5) menyediakan zat-zat makanan sebagai sumber energi bagi spermatozoa; (6) melindungi spermatozoa dari cold shock; (7) menyediakan suatu penyangga untuk mencegah perubahan pH; (8) mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan elektrolit yang sesuai; (9) mencegah pertumbuhan kuman; dan (10) memperbanyak volume semen sehingga dapat menginseminasi batina lebih banyak.
Bahan yang biasa digunakan sebagai pengencer semen antara lain kuning telur, air kelapa, air susu, Na-sitrat dan kuning telur, Na-Fosfat dan kuning telur, larutan Ringer’s, NaCl fisiologis, Locke dan Beltsville Poultry Semen Extender (BPSE) (Toelihere, 1993; Supriatna, 2000).
Inseminasi Buatan
Menurut Toelihere (1993), inseminasi buatan (IB) adalah pemasukan atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, dan bukan secara alami. Manfaat dari inseminasi buatan antara lain adalah: (1) mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul, (2) menghemat biaya dan tenaga pemeliharaan, (3) pejantan-pejantan yang dipakai dalam IB telah mengalami seleksi terlebih dahulu, (4) penularan penyakit dapat dicegah, dan (5) meningkatkan efisiensi reproduksi. Menurut Sastrodihardjo (1996), keuntungan pemanfaatan teknik IB adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan jantan, menanggulangi rendahnya fertilitas akibat kawin alam, untuk mengetahui dengan jelas dan pasti asal usul tetuanya, meningkatkan jumlah produksi telur tetas, serta upaya
pengadaan anak ayam (DOC) dalam jumlah banyak, umur seragam, dan waktu yang singkat.
Menurut Supriatna (2000), keberhasilan pelaksanaan inseminasi buatan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain daya fertilitas spermatozoa (fertile life), jenis pengencer yang digunakan, dosis dan interval IB, pengelolaan semen, waktu pelaksanaan inseminasi serta teknik pelaksanaan IB dan keterampilan inseminator. Dosis dan interval inseminasi pada unggas perlu diperhatikan karena memiliki pengaruh terhadap daya fertilitas yng baik. Dosis yang diperlukan untuk memperoleh fertilitas yang optimal adalah 150 juta spermatozoa menurut Toelihere (1993) dan 100 juta spermatozoa menurut Etches (1996) dengan interval inseminasi setiap tujuh hari sekali. Menurut Supriatna (2000), daya fertilitas spermatozoa adalah kemampuan spermatozoa dalam saluran oviduk untuk membuahi sel telur dalam waktu tertentu. Daya fertilitas spermatozoa pada umumnya berkorelasi dengan kualitas semen, konsentrasi, dan motilitas. Daya fertilitas dapat digunakan sebagai acuan penentu dosis dan interval waktu inseminasi.
Waktu pelaksanaan inseminasi buatan pada ayam umumnya mengacu pada waktu ovulasi dan ovivosisi. Inseminasi buatan yang dilakukan beberapa jam sebelum dan setelah ovivosisi akan menghasilkan fertilitas telur yang rendah, karena sebagian spermatozoa yang dideposisikan akan keluar kembali dari vagina oleh adanya kontraksi oviduk yang berhubungan dengan proses oviposisi (Brillard, 1993). Menurut Sastrodihardjo dan Resnawati (1999), pelaksanaan inseminasi buatan pada waktu dan dosis yang tepat akan menghasilkan fertilitas telur yang tinggi. Hasil penelitian Saleh dan Sugiyatno (2006) membuktikan periode fertil pada ayam ras petelur yang diinseminasi menggunakan semen ayam Kampung dengan waktu pelaksanaan inseminasi 2-4 jam setelah oviposisi rata-rata adalah 12 hari. Menurut Abdillah (1996), bahwa untuk mendapatkan fertilitas telur yang tinggi sebaiknya inseminasi buatan dilakukan empat jam pasca oviposisi.
Inseminasi buatan pada unggas dapat dilakukan melalui dua teknik, yaitu teknik intravagina dan intrauteri (Supriatna, 2000). Teknik intravagina merupakan teknik inseminasi buatan dengan cara mendeposisikan semen pada daerah vagina. Teknik ini dilakukan dengan cara mendeposisikan semen disekitar vagina pada kedalaman ± 3 cm (Sastrodihardjo dan Resnawati, 1999). Teknik intrauteri merupakan teknik inseminasi buatan dengan cara mendeposisikan semen pada daerah uterus.
Teknik ini dilakukan dengan cara mendeposisikan semen di daerah uterus melalui spuit 1 ml yang telah disambung selang kateter 7 cm (Supriatna, 2000).
Menurut Permana (2007), penelitian yang dilakukan dengan menggunakan ayam Arab betina 18 ekor dengan waktu pengoleksian telur sampai hari ke-7 setelah inseminasi buatan dilakukan untuk mengetahui karakteristik telur tetas ayam Arab betina hasil inseminasi buatan dengan menggunakan semen dari pejantan Ayam Arab, Ayam Pelung, dan ayam Wareng Tanggerang disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Karakteristik Telur Tetas Ayam Arab Betina Hasil Inseminasi Buatan dengan Menggunakan Pejantan Ayam Arab, Ayam Pelung, dan Ayam Wareng Tanggerang.
Peubah Jenis Ayam Jantan
Arab Pelung Wareng Tanggerang
Fertilitas (%) 95,91 ± 4,44B 94,99 ± 3,08B 74,43 ± 4,83A Daya Tetas (%) 93,05 ± 3,74 92,78 ± 3,99 93,89 ± 5,36 Bobot Tetas (g/ekor) 30,78 ± 0,90a 32,85 ± 0,10b 31,98 ± 0,37ab Viabilitas (%) 96,54 ± 3,34 97,44 ± 4,44 98,55 ± 2,51
Keterangan : Huruf besar pada baris yang sama menunjukkan sangat berbeda nyata (P<0,01) Huruf kecil pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Frekuensi Penampungan Semen
Menurut Toelihere (1993) ayam jantan dapat mengawini ayam betina sebanyak 35-40 ekor/hari, tetapi kurang dari sepertiga betina-betina tersebut yang dibuahi. Unggas jantan yang sering melakukan perkawinan akan menghasilkan sejumlah besar ejakulasi bukan sperma (aspermic ejaculate) sehingga akan menghasilkan fertilitas telur yang rendah. Semakin sering ayam jantan ditampung semennya untuk inseminasi buatan, semakin menurun kualitas dan kuantitas semen yang dihasilkan.
Menurut penelitian McDaniel dan Sexton (1977), penampungan semen ayam jantan sekali, tiga kali, dan lima kali per minggu (berdasarkan 5 hari kerja/minggu) menghasilkan volume dan konsentrasi semen berbeda secara nyata. Penampungan tiga kali per minggu mengasilkan volume per ejakulasi dan konsentrasi sperma yang lebih
tinggi dibanding lima kali per minggu. Menurut Partodihardjo (1982), konsentrasi sperma tergantung pada umur, pakan, bangsa ternak, bobot badan serta frekuensi penampungan semen.
Kebersihan Telur
Kebersihan telur merupakan salah satu indikator dalam kegiatan penetasan (Nuryati et al., 2002). Telur yang kotor dan terkontaminasi bakteri akan mengakibatkan telur meledak atau pecah dalam mesin tetas, embrio mati pada saat inkubasi, daya tetas rendah dan menurunya viabilitas anak ayam yang dihasilkan akibat terinfeksi bakteri (Permana, 2007).
North dan Bell (1990) menyatakan bahwa kebersihan telur sangat dipengaruhi oleh frekuensi pengoleksian telur dan sanitasi kandang. Frekuensi pengoleksian telur dan sanitasi kandang yang sering akan mengurangi telur-telur terkontaminasi oleh bakteri yang terdapat pada feses dan litter. Menurut Ensminger (1992), kebersihan telur dapat dijaga dengan cara membersihkan telur melalui metode basah dan kering. Pada metode basah, telur dibersihkan dengan cara dilap atau disemprot menggunakan larutan amoniak atau klorin dioksida. Pada metode kering, telur dibersihkan dengan cara uap menggunakan gas formaldehida atau ozon.
Fertilitas
Fertiltas adalah persentase telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio tanpa memperhatikan telur tersebut menetas atau tidak dari sejumlah telur yang dieramkan (Nesheim et al., 1979). North dan Bell (1990) menyatakan bahwa motode yang paling tepat untuk menentukan telur yang tertunas atau tidak adalah dengan cara memecahkan telur tersebut dan mengujinya. Dewasa ini cara yang dilakukan untuk penentuan fertilitas telur adalah dengan peneropongan (candling). Peneropongan telur tetas biasanya dilakukan pada hari ke-4 atau ke-7 dan ke-18 (sebelum telur dipindahkan ke hatcher).
Daya fertilitas spermatozoa pada umumnya berkolerasi dengan kualitas semen, konsentrasi dan motilitas sperma. Menurut Partodihardjo (1982), konsentrasi sperma tergantung pada umur, pakan, bangsa ternak, bobot badan serta frekuensi penampungan semen. Faktor-faktor yang mempengaruhi fertilitas adalah rasio jantan dan betina, umur ternak, interval antara waktu perkawinan dan penyimpanan telur tetas, pakan, abnormalitas spermatozoa, produksi telur, bangsa, musim, dan cahaya
(Ensminger, 1992). Menurut Bahr dan Bakst (1987), fertilitas pada ayam yang diinseminasi berkisar antara 60-70%. Sedangkan menurut Sulandari et al. (2007), daya fertilitas telur ayam Arab hasil kawin alam adalah 69,17%. Menurut hasil penelitian Permana (2007), menggunakan 18 ekor ayam betina, menghasilkan daya fertil telur ayam Arab sebesar 95,91% dengan waktu pengoleksian telur selama 7 hari setelah inseminasi buatan dilakukan.
Daya Tetas
Daya tetas merupakan salah satu indikator usaha penetasan. Menurut North dan Bell (1990), daya tetas dapat dihitung dengan dua cara. Cara pertama, perhitungan daya tetas dilakukan dengan persentase perbandingan jumlah telur yang menetas dari jumlah telur yang masuk ke dalam mesin tetas. Cara kedua, perhitungan daya tetas dilakukan dengan persentase perbandingan jumlah telur yang menetas dari jumlah telur fertil dalam mesin tetas. Cara pertama pada umumnya sering digunakan oleh usaha penetasan secara komersil, sedangkan cara kedua biasanya digunakan untuk mengetahui viabilitas dalam telur tetas yang fertil dalam penelitian. Menurut Winarto
et al. (2008), suhu dan kelembaban pada mesin penetasan ayam adalah 35,9-38 ºC dan 66 %.
Menurut hasil penelitian Permana (2007), daya tetas telur ayam Arab hasil inseminasi buatan adalah 93,05%. Sedangkan menurut Sulandari et al. (2007), daya tetas telur ayam Arab hasil kawin alam adalah 74,14%. Daya tetas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain genetik, fertilitas, lama dan suhu penyimpanan telur, suhu dan kelembaban mesin tetas, kebersihan telur, umur induk, nutrisi, penyakit serta keragaman bentuk dan ukuran telur (North dan Bell, 1990; Ensminger, 1992).
Viabilitas DOC
Viabilitas merupakan kemampuan anak ayam untuk bertahan hidup setelah menetas. Viabilitas dapat dilihat dengan cara pengamatan pada anak ayam yang baru menetas. Menurut SNI 01-4868.2-2005 (Badan Standardisasi Nasional, 2005), ciri-ciri DOC yang normal dan sehat adalah kondisi fisik sehat, kaki normal dan dapat berdiri tegak, paruh normal, tampak segar dan aktif, tidak dehidrasi, tidak ada kelainan bentuk dan tidak cacat fisik, sekitar pusar dan dubur kering dan pusar tertutup. Warna bulu seragam sesuai dengan warna galur (strain) dan kondisi bulu kering dan berkembang.
Hasil penelitian Permana (2007) menyebutkan nilai viabilitas anak ayam dari betina ayam Arab hasil inseminasi buatan menggunakan semen dari pejantan ayam Arab yaitu 96, 54%. Sedangkan nilai viabilitas anak ayam dari betina ayam Arab hasil inseminasi buatan menggunakan semen dari pejantan ayam Pelung dan ayam Wareng Tanggerang berturut-turut yaitu 97,44% dan 98,55%. Penelitian lain yang dilakukan oleh Suherlan (2003) menunjukan nilai viabilitas pada ayam Merawang adalah 83,93%. Menurut Hafez (1987), kualitas sperma yang baik sangat mempengaruhi daya hidup anak. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi viabilitas antara lain pakan dan manajemen. Pakan dan manajemen yang kurang baik akan menurunkan viabilitas pada anak ayam dan meningkatkan mortalitas. Ensminger (1992) menyatakan bahwa viabilitas sangat dipengaruhi oleh pakan dan manajemen pemeliharaan. Menurut Permana (2007), untuk meminimalkan mortalitas perlu dilakukan tiga metode preventif yaitu sanitasi, penggunaan obat, dan menghasilkan bibit yang resisten terhadap penyakit.
MATERI DAN METODE