• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONTOH DATA REKAM MEDIS PASIEN

TINJAUAN PUSTAKA

Skabies dan Penyebabnya

Menurut Paradis et al. (1997), skabies pada anjing adalah penyakit kulit non musim yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var.canis. Penyakit ini sangat mudah menular dan bersifat zoonosis.

Klasifikasi dari tungau ini menurut Taylor et al. (2007) adalah sebagai berikut:

Filum : Arthropoda Kelas : Arachnida Subkelas : Acari Ordo : Acariformes

Subordo : Sarcoptiformes (Astigmata) Famili : Sarcoptidae

Genus : Sarcoptes

Spesies : Sarcoptes scabiei var.canis

(d)

(d)

(d) (d)

Gambar 1 Tungau Sarcoptes scabiei var. canis jantan tampak dorsal (a) kepala (b) pulvilli (c) duri (d) kaki

(Sumber : Cornell 2010 ) 1 mm (b)

(a)

Gambar 2 Tungau Sarcoptes scabiei var.canis betina tampak ventral (a) kelisera (b) pulvilli (c) lubang kelamin (d) kaki

(Sumber : Cornell 2010)

Tungau ini berbentuk bulat atau oval, cembung pada bagian punggung dan rata pada bagian perut serta berwarna transparan dan agak kehitaman. Tungau betina berukuran panjang 0.3–0.6 mm, dan lebar 0.25–0.4 mm. Tungau jantan berukuran lebih kecil yakni 0.2–0.3 mm panjangnya, dan lebar 0.1–0.2 mm (Taylor et al. 2007). Gambaran S.scabiei var. canis sebagaimana terlihat pada Gambar 1 dan 2.

Secara umum, bagian tubuh dari tungau terbagi menjadi dua, yaitu gnathosoma (anterior) atau capitulum, dan idiosoma (posterior). Gnathosoma hanya terdiri atas mulut, sedangkan beberapa organ lainnya seperti otak ada pada bagian idiosoma. Bagian idiosoma terbagi menjadi dua, bagian tubuh yang memiliki kaki disebut podosoma, dan bagian belakang tubuh yang tidak berkaki disebut opisthosoma. Tungau dewasa memiliki delapan kaki, sedangkan larvanya hanya memiliki enam kaki. Pada tungau dewasa, dua pasang kaki depan berbentuk lebih ramping dan termodifikasi menjadi organ sensoris yang dapat membantu pergerakan dan makan (Wall & Shearer 2001). Pembagian tubuh tungau lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.

0.5 mm (a) (b) (c) (d)

Gambar 3 Bagian tubuh tungau (Sumber : Krantz 1975)

Kaki tungau, terdiri atas enam bagian. Bagian kaki yang bertaut pada tubuh, disebut koksa atau epimere, yang diikuti oleh trokanter, femur, genu, tibia, dan tarsus. Pada ujung tarsus, terdapat pretarsus yang ujungnya disebut ambulacrum. Bagian ambulacrum terdiri atas sepasang cakar, yang pada bagian tengahnya terdapat struktur yang bernama empodium. Bagian ini memiliki bentuk yang bervariasi pada setiap tungau,terkadang menyerupai filamen rambut, penebalan, cakar, dan sucker (alat pengisap). Pada Sarcoptes scabiei var. canis, cakar di bagian ambulacrum hilang, dan berubah menjadi sebuah struktur ramping yang dinamakan pulvilli. Pada tungau jantan, pulvilli tidak terdapat pada pasangan kaki ketiga, sedangkan pada tungau betina pulvilli tidak terdapat pada pasangan kaki ketiga dan keempat. Pulvilli tersebut digunakan tungau untuk membantu pergerakannya (Wall & Shearer 2001). Segmentasi kaki dan bentuk kaki pada tungau dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Segmentasi kaki dan berbagai bentuk kaki pada tungau (Sumber : Wall & Shearer 2001)

Mulut tungau ini berbentuk bulat dan lebar. Bagian permukaan dorsal tungau ini ditumbuhi oleh seta yang kuat dan menyerupai duri. Anusnya terdapat di terminal, dan tungau ini tidak mempunyai mata atau disebut juga astigmata (Taylor et al. 2007).

Siklus hidup tungau terdiri atas lima fase, yaitu telur, larva, protonimfa, tritonimfa, dan dewasa. Semua fase tadi berlangsung pada tubuh inangnya.Tungau jantan akan bertemu dan kawin dengan tungau betina di permukaan kulit dan kemudian tungau betina akan menggali terowongan kira–kira sedalam 1 mm pada permukaan kulit dengan menggunakan kelisera dan empodium yang berbentuk seperti cakar pada dua pasang kaki depannya. Dalam terowongan tersebut hanya berisi satu tungau betina, telur-telur, dan fesesnya (Wall & Shearer 2001). Setiap hari tungau betina akan meletakkan telur sebanyak 3-4 butir (Grant 1986). Dalam satu terowongan tungau betina dapat meletakkan telur sebanyak 30–40 butir (Soulsby 1982).

Telur–telur tadi akan matang dan menetas setelah 3–8 hari, dan menghasilkan larva tungau yang berkaki enam. Larva akan keluar dari terowongan menuju permukaan kulit untuk mencari makan. Dua sampai tiga hari kemudian larva akan berganti kulit (moulting) menjadi protonimfa. Selama fase tersebut larva dan nimfa akan tinggal dan memakan folikel rambut. Protonimfa kemudian akan berganti kulit kembali menjadi tritonimfa, dan beberapa hari kemudian akan menjadi dewasa. Baik tungau jantan maupun betina dewasa akan

mencari makan dan kawin di permukaan kulit dan siklus hidup berulang kembali (Wall & Shearer 2001).

Stadium telur menjadi dewasa berlangsung pada waktu yang singkat kira- kira selama 17–21 hari, walaupun singkat tetapi tingkat mortalitas dari periode ini cukup tinggi. Diperkirakan hanya 10% dari total telur yang dihasilkan berhasil menjadi tungau dewasa (Wall & Shearer 2001).

Spesies tungau ini pada tiap-tiap jenis hewan hanya berbeda dalam hal ukuran, sedangkan morfologinya sulit untuk dibedakan (Wardhana et al. 2006)

Patogenesis

Skabies merupakan penyakit kulit yang sangat menular, baik pada sesama anjing dan dapat pula menulari spesies lain bahkan manusia (Nahm & Corwin 1997). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ada satu spesies di dalam genus Sarcoptidae dan adanya beberapa varian akibat terjadinya interbreeding yang terus menerus antarpopulasi tungau yang menginfestasi manusia dan hewan (Fain 1978 dalam Wardhana et al. 2006).

Wall & Shearer (2001) menyatakan bahwa, landak yang terinfestasi oleh tungau Sarcoptes scabiei dapat menjadi reservoir skabies bagi hewan peliharaan dan ruminansia.

Tungau yang ada pada hewan terbukti mampu menginfestasi manusia namun diduga tidak mampu menyelesaikan siklus hidupnya (Thomas et al. 1987, Meinking & Taplin 1990 dalam Wardhana et al. 2006). Banyak hewan yang menderita skabies dilaporkan menjadi sumber penularan bagi manusia. Penularan dari hewan ke manusia secara alami pernah dilaporkan dan menjadi wabah pada populasi manusia (Estes et al. 1983, Schwartzman 1983 dalam Wardhana et al. 2006). Pernah juga dilaporkan sebanyak 48 orang yang kontak dengan kucing penderita skabies 30 orang diantaranya positif tertular skabies (Chakrabarti 1986 dalam Wardhana et al. 2006).

Ruiz-Maldonado et al. (1977 dalam Wardhana et al. 2006) melaporkan bahwa pernah terjadi kasus skabies pada gadis berusia empat belas tahun yang tertular Sarcoptes scabiei var. canis. Gadis tersebut hidup bersama dengan anjing

yang menderita skabies. Bahkan dilaporkan juga anjing yang sehat tertular skabies dari gadis tersebut.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan penderita atau kontak tidak langsung dengan berbagai objek yang digunakan oleh penderita, seperti handuk, kasur, selimut, dan tempat tinggal yang terkontaminasi oleh tungau (Goldsmid & Melrose 2005).

Infestasi awal tungau biasanya terjadi pada daerah yang jarang ditumbuhi oleh rambut seperti daerah kepala, meliputi daerah sekitar mata, dan telinga, daerah ventral tubuh meliputi bagian abdomen, dan daerah sekitar kelamin. Pada kaki biasanya di bagian siku, lutut, lipatan paha, dan bahkan sela-sela jari (Kelly 1977). Tungau akan menembus lapisan korneum epidermis kulit, mengisap cairan limfe dan juga memakan sel–sel epitel (Soulsby 1982).

Gejala klinis

Gejala klinis yang muncul akibat infestasi tungau ini bervariasi bergantung kepada waktu berjalannya penyakit. Pada tahap awal infestasi, kegatalan belum terlihat, dan kondisi ini akan terjadi pada minggu pertama sampai dengan minggu ketiga. Sejalan dengan berlanjutnya infestasi dan aktivitas tungau, mulai terlihat adanya lesio papula pada bagian tubuh penderita sebagaimana terlihat pada Gambar 5. Biasanya lesio ini akan terlihat jelas pada bagian tubuh penderita yang jarang ditumbuhi rambut (Bentley 2001).

Gambar 5 Papulae pada gejala awal skabies (Sumber : Bentley 2001)

papula papula

Gambar 6 Pola penyebaran lesio awal skabies pada anjing (Sumber : Muller & Kirk 1976 dalam Latif 2001)

Bagian yang dilingkari pada Gambar 6 menunjukkan bagian tubuh yang paling sering memperlihatkan adanya gejala awal berupa papula pada anjing yang menderita skabies. Seiring dengan berjalannya waktu, aktivitas tungau akan meningkat misalnya pada saat tungau betina kawin dan menggali terowongan untuk meletakkan telurnya, anjing akan memperlihatkan gejala klinis berupa kegatalan yang hebat. Biasanya hal ini akan terjadi pada minggu ketiga dan keempat (Nahm & Corwin 1997).

Tungau Sarcoptes scabiei tidak mengisap darah, tetapi mengisap cairan diantara sel kulit. Selama aktivitas tersebut tungau betina akan mengeluarkan sekreta dan ekskreta yang menyebabkan terjadinya iritasi dan peradangan pada inangnya (Wall & Shearer 2001).

Rasa gatal yang ditimbulkan oleh aktivitas tungau akan membuat anjing menggaruk dan akan menyebabkan iritasi yang lebih hebat. Kulit akan mengeluarkan cairan eksudat bening yang bilamana kering akan membuat kulit menebal dan menjadi keropeng atau pecah–pecah. Selain itu, akan terlihat kerontokan rambut pada daerah yang terinfestasi dan berakhir dengan kebotakan (Nahm & Corwin 1997) sebagaimana terlihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Anjing yang terjangkit Skabies. Sumber : (Bentley 2001)

Apabila keadaan lebih parah, anjing akan menggaruk hingga berdarah. Darah yang keluar merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Bakteri kemudian akan berkembang dan menyebabkan infeksi yang akan menyebabkan adanya nanah, sehingga menimbulkan kondisi pyoderma. Bila tidak segera ditangani, akan berakibat fatal pada anjing (Grant 1986). Goldsmid & Melrose (2005) menyatakan bahwa bakteri yang paling banyak menyebabkan infeksi sekunder pada skabies adalah Staphylococcus pyogenes.

Secara histopatologi, skabies ditandai dengan adanya lesio berupa fokal hiperkeratosis, epidermal hiperplasia (penebalan kulit), dan ditemukan tungau Sarcoptes scabiei yang membentuk sarang pada lapisan korneum kulit yang menebal tersebut (Grant 1986). Gambaran histopatologi lainnya adalah ditemukannya perubahan berupa lesio infiltrasi sel–sel radang yang terdiri atas neutrofil, makrofag, dan sel–sel mononuklear. Antigen yang diekskresikan tungau masuk ke bagian lapisan epidermis dan dermis kulit. Aktivitas ini menginduksi sirkulasi antibodi dan respon imun sel media di sekitar lesio, sebagai reaksi pertahanan tubuh inang (Arlian et al. 1996)

Gambar 8 Gambaran histopatologi kulit yang terinfestasi tungau (Sumber : Sarma et al. 2009)

Ada beberapa penyakit kulit yang memiliki gejala klinis yang hampir sama dengan skabies yang menjadi diagnosis pembanding skabies. Beberapa penyakit kulit tersebut diantaranya adalah dermatitis alergi karena makanan atau udara, yang pada tahap awal menyerupai skabies dengan terbentuknya pustulae, tetapi akan berlanjut menjadi berminyak. Penyakit lain seperti ringworm juga membentuk lesio yang hampir sama dengan skabies, perbedaannya adalah pada ringworm lesio yang terjadi lebih sedikit dan terlokalisasi pada satu tempat saja (Muller & Kirk 1976). Selain itu ada pula penyakit demodekosis yang juga disebabkan oleh tungau Demodex canis. Tungau Demodex canis merupakan parasit alami yang ada pada tubuh anjing. Anjing yang terjangkit demodekosis akan memperlihatkan gejala klinis yang sama dengan skabies tetapi dengan aspek yang lebih basah. Demodekosis biasanya berhubungan dengan kondisi imunosupresi (Wall & Shearer 2001). Agar tidak terkecoh dengan penyakit – penyakit yang menyerupai skabies tadi, dibutuhkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lain seperti pemeriksaan laboratorium yang tepat untuk menghindari kesalahan penanganan skabies.

Diagnosis

Dalam penegakan diagnosis penyakit kulit yang disebabkan oleh beberapa jenis tungau seperti demodekosis, skabies, dan penyakit kulit lain seperti ringworm, biasanya dilakukan pengerokan kulit. Metode ini bertujuan untuk

Tungau Sarcoptes scabiei

Epidermis

menemukan dan mengidentifikasi jenis parasit dengan memeriksa di bawah mikroskop. Tungau sangat sulit untuk ditemukan pada hewan, terutama pada hewan yang sudah cukup lama terinfestasi atau hewan yang baru saja dimandikan dengan metode dipping (Hammet 1999).

Menurut Hammet (1999), ada dua metode yang biasa digunakan untuk penegakan diagnosis, yaitu kerokan kulit (skin scraping) dan flotasi sentrifugasi. Proses dari kedua metode diagnosis adalah sebagai berikut :

1. Preparat natif / kerokan kulit

Sampel diambil dengan cara membuat luka kerokan pada kulit hewan yang terserang (pada lokasi yang menunjukkan lesio) dengan menggunakan skalpel. Hasil kerokan kulit tadi kemudian diletakkan pada kaca objek yang kemudian ditetesi NaOH atau KOH 10% sebanyak beberapa tetes dan ditunggu beberapa detik hingga jaringan kulit lisis.

Kaca objek tadi kemudian ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 100–400 kali. Hasil positif akan memperlihatkan tungau pada lapang pandang mikroskop (Hammet 1999)

2. Metode Flotasi Sentrifugasi

Sampel kerokan kulit diambil dengan cara yang sama pada metode pertama, kemudian diletakkan pada tabung sentrifugasi. KOH dan NaOH ditambahkan sebanyak 3-5 ml pada tabung tadi, kemudian dilakukan pemanasan dengan Bunsen selama beberapa menit (Hammet 1999).

Sampel tadi akan menjalani proses selanjutnya yaitu dengan dilakukannya sentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpm selama 3 menit. Proses sentrifugasi tersebut akan membentuk endapan pada dasar tabung. Endapan diambil dengan pipet pastur, kemudian diletakkan pada kaca objek, selanjutnya ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di bawah mikroskop dengan perbesaran 100–400 kali. Hasil positif akan memperlihatkan tungau pada lapang pandang mikroskop (Hammet 1999).

Selain dari dua metode diatas, dapat juga dilakukan metode pemeriksaan sel hidup (biopsi), yang kemudian diperiksa gambaran histopatologinya. Cara ini memang tidak berguna secara langsung, tetapi dengan cara ini dapat diketahui perubahan–perubahan yang terjadi akibat adanya infestasi dari beberapa

ektoparasit. Menurut Wall & Shearer (2001), beberapa perubahan histopalogi yang dapat terlihat pada kulit karena infestasi tungau Sarcoptes antara lain infiltrasi sel eosinofil pada jaringan kulit yang biasanya disertai oleh degenerasi kolagen dan pembentukan formasi pustula oleh sel–sel eosinofil.

Pengobatan dan Pencegahan

Pengobatan skabies berfokus pada eradikasi agen penyakitnya, yaitu tungau Sarcoptes scabiei. Banyak sekali jenis obat yang bersifat akarisidal yang dapat digunakan untuk pengobatan skabies. Obat-obat tersebut dapat diaplikasikan dalam berbagai rute baik secara oral, subkutan, semprot, atau topikal.

Penanganan penyakit skabies cukup sederhana, tetapi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Selain berfokus pada eradikasi tungau parasit, nutrisi, dan manejemen pemeliharaan harus diperhatikan. Nutrisi dan manejemen pemeliharaan yang buruk akan menyebabkan hewan menjadi stress dan menurunkan imunitas hewan, sehingga akan menyebabkan hewan rentan terhadap penyakit lainnya (Huang et al. 1998). Beberapa akarisida yang biasa digunakan oleh praktisi di Ingggris untuk pengobatan skabies pada anjing adalah amitraz, ivermectin dan turunannya ,serta fipronil (British Veterinary Association 2005). Sediaan–sediaan tersebut juga telah digunakan oleh praktisi di seluruh dunia sebagai obat pilihan untuk mengobati skabies.

Amitraz adalah salah satu jenis obat yang berasal dari golongan Amidin. Amitraz bekerja pada reseptor oktopamin pada tungau yang akan meningkatkan aktivitas sistem saraf (British Veterinary Association 2005). Aplikasi obat ini pada anjing yaitu dengan cara memandikan anjing dengan amitraz berkonsentrasi 0,05%. Amitraz juga tidak boleh digunakan untuk anjing ras cihuahua, anjing yang sedang bunting atau menyusui, serta anak anjing yang berusia kurang dari 12 minggu, karena amitraz dapat menurunkan motilitas dari organ gastro-intestinal yang mengakibatkan hipomotilitas pada usus besar (British Veterinary Association 2005). Menurut Paradis et al. (1997), penggunaan amitraz berpotensi meracuni orang yang memandikan pasien skabies. Efek samping lain yang dapat terjadi dari penggunaan obat ini adalah lethargia, bradikardia, depresi sistem saraf pusat, dan efek sedasi sementara (British Veterinary Association 2005).

Ivermectin dan turunannya termasuk avermectin, abamectin, doramectin, eprinomectin, dan selamectin adalah senyawa lakton makrosiklik alami dan semi alami yang diisolasi dari kapang Streptomyces avermitilis yang ditemukan di Jepang. Tidak hanya dapat membunuh ektoparasit, ivermectin juga dapat digunakan sebagai obat pilihan pada beberapa penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis Nematoda (Praag 2003).

Obat ini bekerja dengan cara mengatur jumlah ion klorida (Cl-) yang masuk ke dalam sel ektoparasit. Ketika ion–ion klorida tadi masuk ke dalam sel, membran sel akan mengalami hiperpolarisasi, sehingga sinyal saraf tidak dapat ditransmisikan. Setelah itu ektoparasit akan mati perlahan–lahan karena mengalami paralisis. Pada konsentrasi yang lebih tinggi ivermectin akan bekerja

antagonis dengan neutotransmitter GABA (asam γ–aminobutirat). Pada Nematoda dan ektoparasit, reseptor GABA terdapat pada sistem saraf tepi, sedangkan pada mamalia terdapat pada sistem saraf pusat (Praag 2003).

Ivermectin dapat diaplikasikan secara oral, topikal, ataupun sistemik. Dosis tunggal yang dianjurkan untuk Sarcoptes scabiei var.canis adalah 200 µg/kg berat badan, dan dosis untuk aplikasi sistemik maupun oral adalah 200–400 µg /kg berat badan (Curtis 2004). Obat ini memiliki efek samping berupa edema kulit pada kuda. Efek samping tersebut terjadi karena toksin yang dikeluarkan oleh ektoparasit yang mati, dan efek ini berlangsung sekitar 5 hari (Praag 2003). Selain itu, obat ini memberikan efek samping berupa batuk–batuk setelah diberikan secara oral pada domba (British Veterinary Association 2005).

Ivermectin tidak boleh diberikan kepada anjing ras Collie, Australian sheepdog, Old English sheepdog, Shetland sheepdog dan anjing persilangan dari beberapa jenis anjing tadi. Ivermectin juga tidak boleh diberikan pada anjing– anjing muda yang berusia kurang dari 8 bulan, anjing yang sedang bunting dan menyusui (British Veterinary Association 2005).

Menurut Praag (2003) anjing–anjing ras tersebut memiliki gen yang sangat sensitif terhadap cara kerja ivermectin. Reaksi hipersensitivitas pada ras anjing tersebut disebabkan oleh gen mdr1-1Δ yang berasal dari mutasi gen MDR1. Gen MDR1 adalah gen yang mensintesa asam amino yang dapat menghambat ivermectin untuk masuk ke dalam blood brain barrier. Ketika gen tersebut

bermutasi menjadi Gen mdr1-1Δ ivermectin akan dapat menembus blood brain barrier (Neff et al. 2004). Anjing yang keracunan ivermectin akan menunjukkan gejala klinis seperti ataksia dan depresi. Setelah beberapa lama kemudian anjing akan memperlihatkan gejala seperti dilatasi pupil (mydriasis), stupor, tremor, emesis, hipersalivasi, koma, dan akan berujung pada kematian. Biasanya pertolongan pertama pada keracunan ivermectin adalah pemberian arang aktif dan pemberian cairan elektolit secara intravena.

Fipronil adalah insektisida dari golongan phenylprazole yang bekerja

dengan cara menghambat kerja dari neurotransmitter asam γ–butirat (GABA) ektoparasit, yang menyebabkan ektoparasit akan mati karena paralisis (Ghubash 2006). Obat ini diaplikasikan secara spot–on atau topical pada tubuh anjing yang terinfestasi tungau. Untuk aplikasi spot-on dosis yang digunakan berbeda–beda tergantung bobot anjing. Dosis yang diberikan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Dosis pemberian fipronil berdasarkan bobot anjing pada aplikasi spot–on. Bobot badan anjing Dosis yang diberikan

1–10 kg 0,67 ml

10–20 kg 1,34 ml

20–40 kg 2,68 ml

Diatas 40 kg 4,02 ml

(Sumber : British Veterinary Association 2005)

Fipronil juga dapat diaplikasikan secara disemprotkan (spray). Jika diaplikasikan secara spray, konsentrasi fipronil yang dianjurkan adalah 0,25 % dari larutan (Ghubash 2006). Apabila obat lain menjadi kontra indikasi dari penderita skabies, fipronil merupakan obat pilihan yang efektif untuk pengobatan skabies (Curtis 1996 ).

Kontra indikasi dari obat ini adalah anak anjing yang berusia kurang dari 8 minggu. Pengobatan untuk anak anjing yang berusia kurang dari 8 minggu, biasanya digunakan collar agar anak anjing tidak menjilati lokasi obat diaplikasikan. Jika ini terjadi, maka akan timbul efek samping yang berupa hipersalivasi (British Veterinary Association 2005).

Dalam penanganan skabies perlu juga diperhatikan terapi suportif untuk mengurangi lesio yang diakibatkan oleh tungau, diantaranya keratolitik, untuk mengikis kulit yang keropeng. Antibiotik, untuk mengobati infeksi sekunder akibat bakteri. Asupan vitamin juga dibutuhkan untuk perawatan jaringan tubuh pasien (Curtis 1996).

Agar tidak menulari hewan lain atau manusia di sekitarnya, anjing yang terjangkit skabies hendaknya dipisahkan selama masa pengobatan. Selain itu kandang, perlatan bermain, peralatan makan, dan alat-alat grooming hendaknya dibersihkan setiap hari untuk mencegah penularan skabies. Lingkungan sekitar rumah tempat anjing bermain juga sebaiknya dibersihkan. Kebersihan personal pemilik juga merupakan salah satu hal wajib yang harus diperhatikan mengingat penyakit ini bersifat zoonotik (Wall & Shearer 2001).

Pengembangan vaksin skabies hingga saat ini masih mengalami kendala. Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) bekerja sama dengan DFID (Department for International Development) Inggris telah melakukan penelitian pengembangan vaksin skabies untuk kambing, namun hasilnya belum memuaskan (Wardhana et al. 2006).

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Hewan Jakarta yang beralamat di jalan Harsono RM. 28, Ragunan, Jakarta Selatan, sebagai sumber data penelitian. Rumah sakit ini banyak menjadi tempat rujukan bagi dokter–dokter hewan praktik yang ada di Jakarta. Adapun waktu pengumpulan data dilakukan sejak bulan September – Oktober 2011.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data pasien anjing melalui data rekam medik pasien sejak bulan Januari 2005 sampai dengan bulan Desember 2010. Data pasien yang diambil merupakan data penderita pasien penyakit skabies yang terdiagnosa positif secara klinis maupun laboratorium, serta data penanganan pasien tersebut. Data yang diambil kemudian dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptif, dengan demikian dapat diketahui nilai parameter yang diamati, diantaranya adalah frekuensi kejadian penyakit berdasarkan ras, jenis rambut, umur, jenis kelamin, dan penanganan yang dilakukan terhadap pasien.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penanganan Skabies di Rumah Sakit Hewan Jakarta

Rumah Sakit Hewan Jakarta dibangun pada tanggal 25 Desember 1992, atas restu dan bantuan yang sangat besar dari Ibu Negara pada saat itu yaitu Ibu Tien Soeharto. Rumah Sakit ini merupakan rujukan bagi pasien yang memerlukan diagnosis, penanganan, dan pengobatan yang lebih intensif karena di rumah sakit ini terdapat beberapa fasilitas penunjang diagnosis seperti instalasi radiologi dan ultrasonografi, laboratorium, bahkan terapi alternatif untuk hewan seperti akupuntur.

Di Rumah Sakit Hewan Jakarta, skabies digolongkan kedalam penyakit zoonosis yang memerlukan diagnosis lanjutan seperti pengambilan kerokan kulit. Pasien yang datang dan positif terdiagnosis skabies setelah pemeriksaan klinis dan laboratorium akan langsung diobati dengan menggunakan sediaan-sediaan akarisidal seperti ivermectin dan fipronil. Pengobatan didasarkan kepada ras anjing, kondisi anjing, dan tingkat keparahan penyakit. Selain itu juga diberikan antibiotik berspektrum luas untuk mencegah infeksi sekunder, kemudian diberikan juga vitamin E untuk mempercepat perbaikan kulit anjing. Bila tingkat keparahan penyakit masih ringan, biasanya pasien boleh dibawa pulang dan diharuskan datang 2 minggu kemudian untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan ulang sampai pasien sembuh.

Jika pasien datang dengan keadaan yang buruk, maka dokter-dokter hewan di Rumah Sakit Hewan Jakarta akan mengharuskan pemilik untuk merawat inap agar anjing selalu berada dalam pengawasan dokter hewan. Pasien yang dirawat

Dokumen terkait