• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Tinjauan Pustaka

1.1 Teori Otonomi Daerah

Otonomi daerah secara umum diartikan sebagai pemberian kewenangan

oleh pemerintahan pusat kepada pemerintahan daerah untuk mengatur dan

mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri

berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai peraturan perundang-undangan yang

berlaku. Dalam UU No 22 Tahun 1999 sebagai titik awal pelaksanaan otonomi

daerah maka Pemerintahan Pusat menyerahkan sebagian kewenangan kepada

Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten Kota untuk mengambil tanggung jawab

yang lebih besar dalam pelayanan umum kepada masyarakat setempat. Untuk

menjamin proses desentralisasi berlangsung dan berkesinambungan, pada

prinsipnya acuan dasar dari otonomi daerah telah diwujudkan melalui

diberlakukannya UU No 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999 serta

regulasi pelaksanaan berupa Peraturan Pemerintah No 104 sampai dengan

Peraturan Pemerintah Nomor 110 Tahun 2000 yang berlaku efektif 1 Januari

2001.

Hal yang mendasar dalam UU ini adalah adanya kebijakan publik yang

kuat untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, pengembangan prakarsa,

dan kreativitas, peningkatan peran serta masyarakat dan peningkatan

undang-undang ini sudah sangat baik. Tetapi apakah ia dapat mewujudkan

pemerintahan daerah otonom yang efesien, efektif, transparan dan akuntabel.

Hasil yang diinginkan terkait dengan ketaatan penerapan dan kesesuaian isi

pokok-pokok aturan dengan kondisi daerah otonom lain yaitu:

1. Di Bidang Pendapatan, UU No 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan

Retribusi Daerah sebagai pengganti UU No 18 Tahun 1997 (sebelum

otonomi) sekaligus dengan PP No 65 dan 66 Tahun 2000 sebagai

peraturan pelaksana apakah mampu mendorong daerah mengoptimalkan

semua potensi dan memberi kewenangan lebih luas bagi daerah untuk

meningkatkan Pendapatan Asli Daerah;

2. Di Bidang Belanja, Peraturan Pemerintahan No 104 s.d 110 merupakan

regulasi pengelolaan belanja daerah. Apakah regulasi ini sebagai peraturan

pelaksana mampu meningkatkan kinerja keuangan daerah dalam bentuk

pencapaian efisiensi dan efektifitas belanja daerah.

Chandler dan Pleno berpendapat bahwa “Kebijakan publik adalah

pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya yang ada untuk memecahkan

masalah-masalah publik atau pemerintahan” (Tangkilisan, 2003).

Anderson menyatakan bahwa :

“Kebijakan publik sebagai kebijakan yang dibangun oleh badan dan pejabat pemerintahan dimana implikasi dari kebijakan tersebut adalah:

1. Kebijakan publik selalu memiliki tujuan tertentu atau mempunyai tindakan yang berorientasi pada tujuan;

2. Kebijakan publik berisi tindakan-tindakan pemerintah;

3. Kebijakan publik merupakan apa yang benar-benar dilakukan pemerintah;

4. Kebijakan publik yang diambil dapat bersifat positif dalam arti merupakan tindakan pemerintah mengenai segala sesuatu masalah tertentu atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pemerintahan untuk tidak melakukan sesuatu;

5. Kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam arti yang positif didasarkan pada peraturan perundangan yang bersifat mengikat dan memaksa” (Tangkilisan, 2003).

Dunn mengemukakan bahwa terdapat lima tahapan penyelesaian

persoalan publik yang dapat digambarkan sebagai berikut (Tangkilisan, 2003):

Policy Setting

Policy Formulation

Policy Adoption

Policy Implementation

Policy Assesment

Gambar 2.1. penyelesaian Persoalan Publik

Reformasi pembiayaan melalui perubahan regulasi merupakan salah

satu bentuk kebijakan publik dalam upaya mengganti pendekatan manajemen

pendapatan dan belanja melalui pengaturan kembali ketentuan yang ada dalam

pengelolaan biaya. Berdasarkan definisi Anderson “Penerapan reformasi

pengelolaan sumberdaya melalui penetapan peraturan (regulasi) dengan tujuan

agar pengelolaan pendapatan dan belanja daerah oleh pemerintahan daerah

lebih baik dari sebelumnya”( Tangkilisan, 2003).

Menurut Patton dan Sawicki bahwa “Tahap implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk merealisasikan program, dimana pada posisi ini ekskutif (pemerintahan daerah) mengatur cara-cara untuk menerapkan kebijakan (dalam bentuk regulasi) sehingga mampu mengatur secara efektif dan efisien sumber daya, unit-unit teknis dan prosedur yang dapat mendukung pelaksanaan program”( Tangkilisan, 2003).

Jadi tahap implementasi merupakan peristiwa yang berhubungan

dengan apa yang terjadi setelah perundangan ditetapkan dengan memberikan

otoritas pada suatu kebijakan dengan membentuk output yang jelas dan dapat

diukur.

Perubahan paradigma pembiayaan APBD oleh Pemerintahan melalui

regulasi sesungguhnya memiliki keterkaitan dengan beberapa teori dan

penelitian tentang pengelolaan biaya yang hampir relevan dengan apa yang

dimaksud reformasi pembiayaan adalah apa yang dikemukakan oleh Ronald W.

Hilton. Pengelolaan Biaya (cost management) mencakup dua aspek, pertama

adalah bahwa secara filosofi pengelolaan biaya adalah suatu pengembangan

organisasi karena secara terus menerus memberikan dan menawarkan ide bagi

organisasi untuk menemukan cara pengambilan keputusan yang benar untuk

meningkatkan pelanggan dan mengurangi biaya. Aspek kedua yaitu bahwa

secara sikap atau kebijakan, pengelolaan biaya harus seluruhnya dihasilkan dari

khususnya di daerah, maka pengelolaan biaya yang paling relevan adalah

menghasilkan aturan/kebijakan tertulis melalui suatu regulasi di bidang

penerimaan atau regulasi di bidang pengeluaran. Melalui otonomi daerah

diharapkan daerah akan lebih mandiri dalam menentukan seluruh kegiatan.

Pemerintahan daerah diharapkan mampu memainkan peranan dalam membuka

peluang memajukan daerah dengan menumbuh kembangkan seluruh potensi

sumber pendapatan daerah dan mampu menetapkan belanja daerah secara

wajar, efisien dan efektif termasuk kemampuan perangkat daerah

meningkatkan kinerja.

Secara umum ada lima aspek yang dipersiapkan dalam pengaturan

perubahan otonomi daerah yaitu:

1. Pengaturan Kewenangan;

2. Pengaturan Kelembagaan;

3. Pengaturan Personil;

4. Pengaturan Asset dan Dokumen;

5. Pengaturan Keuangan.

Dalam penulisan ini, aspek pengaturan kewenangan terutama terhadap

pengelolaan belanja daerah dan pendapatan daerah serta pengaturan keuangan

terutama pengaturan pajak dan retribusi daerah serta pengaturan dana

perimbangan sebagai kekuatan utama otonomi daerah adalah lingkup kajian

1.2Gambaran Pengelolaan Keuangan Era sebelum Otonomi Daerah

Sejak Repelita I Tahun 1967 sampai dengan pertengahan Repelita IV

Tahun 1999, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah di Indonesia disusun

menurut tahun anggaran yang dimulai pada tanggal 1 April dan berakhir 31

Maret tahun berikutnya. Bentuk dan susunan APBD yang ada sama dengan

bentuk dan susunan APBN hanya saja sebutan untuk pos-pos pendapatan dan

belanja berbeda.

Menurut UU Nomor 5 Tahun 1974, sumber pembiayaan daerah sangat

didominasi oleh bantuan keuangan dari pemerintahan pusat. Bantuan keuangan

dimaksud dapat dibagi dalam dua kategori yaitu pendapatan yang diserahkan

kepada pemerintahan daerah dan subsidi kepada pemerintahan daerah. Dalam

pasal 55 Undang-Undang tersebut disebutkan tentang sumber pendapatan

daerah otonom yaitu:

1. Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) yang terdiri dari beberapa pos

pendapatan yaitu pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah

dan lain-lain pendapatan yang sah;

2. Pendapatan yang berasal dari pemberian pemerintahan pusat yang terdiri

dari sumbangan pemerintahan pusat serta subsidi rutin dan pembangunan.

Istilah subsidi daerah otonom sebagai bagian dari bantuan pemerintahan

pusat terus mengalami perubahan istilah disesuaikan dengan sasaran

pemberian bantuan. Terakhir sebelum otonomi daerah digunakan istilah

3. Lain-lain penerimaan yang sah;

4. Penerimaan pembangunan sebagai komponen penerimaan yang bersumber

dari pinjaman yang dilakukan pemerintahan daerah;

5. Dana sektoral, jenis dana ini tidak termuat dalam APBD namun masih

merupakan jenis penerimaan daerah dalam bentuk bantuan dari

pemerintahan pusat untuk membantu pembangunan sarana dan prasarana

yang pelaksanaannya dilakukan oleh dinas provinsi.

Dari uraian diatas, diketahui bahwa sebelum adanya Undang-Undang

Otonomi Daerah yang ditandai dengan hadirnya UU Nomor 22 dan 25 Tahun

1999, ternyata sistem penatausahaan pembiayaan daerah sudah menerapkan

konsep perimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan daerah tetapi

belum didasarkan pada konstribusi setiap daerah dalam hal pendapatan yang

diperoleh dari sumber daya alam yang dieksploitasi.

Di sisi pengeluaran daerah, pengaturan belanja diatur melalui Peraturan

Pemerintahan Nomor 5 Tahun 1975 dan Nomor 6 Tahun 1975 dan Peraturan

Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1994 Jo. Tahun 1996 yang mengatur

tentang tata cara penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah. Beberapa karakteristik pengelolaan belanja

daerah di era sebelum otonomi daerah dengan alat pengatur berupa regulasi

tersebut diatas, dapat dikemukakan sebagai berikut:

a. Pengeluaran rutin terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa,

sumbangan dan bantuan, pengeluaran tidak termasuk bagian lain serta

pengeluaran tidak tersangka;

b. Belanja pembangunan merupakan belanja yang dialokasikan untuk

membiayai pekerjaan baik fisik maupun non fisik;

c. Dalam jenis belanja rutin berupa belanja barang/jasa, belanja

pemeliharaan dan perjalanan dinas terdiri dari sub jenis pengeluaran yang

tertera dengan sistem digit. Namun dalam pelaksanaannya, setiap jenis

belanja tersebut memiliki digit penutup dengan sebutan pengeluaran

lain-lain yang tidak jelas pemanfaatan dan pertanggungjawabannya seperti

belanja barang lain, pemeliharaan lain dan perjalanan dinas

lain-lain;

d. Masih dalam komposisi belanja rutin, terdapat belanja dengan sebutan

pengeluaran tidak termasuk bagian lain dan pengeluaran tidak tersangka

yang tidak jelas tujuan penggunaan dan pertanggungjawabannya. Prosedur

pencairan pengeluaran ini ditentukan oleh kebijakan Kepala Daerah

masing-masing;

e. Pembiayaan belanja rutin didanai dari kemampuan PAD, dan belanja

pembangunan didanai dari subsidi pemerintahan pusat;

f. Belanja pembangunan terdiri dari pekerjaan fisik dan non fisik. Dan

terhadap pekerjaan non fisik, sangat sulit diukur tingkat manfaat dan

pencapaian sasaran serta pertanggungjawabannya seringkali tidak

1.3. Gambaran Pengelolaan Keuangan Era setelah Otonomi Daerah

A. Reformasi Pengelolaan Keuangan Daerah

Salah satu aspek dari pemerintahan daerah yang harus diatur adalah

masalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Dalam upaya

pemberdayaan pemerintahan daerah, maka perspektif perubahan yang

diinginkan dalam pengelolaan keuangan daerah di masa otonomi daerah dan

anggaran daerah adalah:

a. Pengelolaan keuangan daerah harus bertumpu pada kepentingan publik,

hal ini tidak saja terlihat dari besarnya porsi penganggaran untuk

kepentingan publik, tetapi pada besarnya partisipasi masyarakat dalam

perencanaan pelaksanaan dan pengawasan keuangan daerah;

b. Kejelasan tentang misi pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah

pada khususnya;

c. Desentralisasi pengelolaan keuangan dan kejelasan peran serta partisipasi

yang terkait dengan pengelolaan anggaran seperti DPRD, Kepala Daerah,

Sekretariat Daerah dan Perangkat Daerah Lainnya;

d. Kerangka hukum dan administrasi bagi pembiayaan, investasi dan

pengelolaan uang daerah berdasarkan kaidah mekanisme pasar;

e. Kejelasan aturan tentang pengeluaran operasional lain-lain yang tidak

jelas akuntabilitas;

f. Prinsip anggaran dan kejelasan larangan pengaturan alokasi anggaran

B. Public Financing Reform

Hadirnya otonomi daerah yang dimulai dengan hadirnya UU Nomor

22 Tahun 1999 tentunya membawa konsekuensi terhadap pembiayaan daerah.

Sebelum era otonomi daerah, hampir sebagian besar pemerintahan provinsi,

Kabupaten dan Kota se-Indonesia memperoleh sumber-sumber pendapatan

yang berasal dari bagi hasil Pemerintahan Pusat. Dengan otonomi terdapat dua

aspek kinerja keuangan yang dituntut agar lebih baik dibanding dengan era

sebelum otonomi daerah. Aspek pertama adalah bahwa daerah diberi

kewenangan mengurus pembiayaan daerah dengan kekuatan utama pada

kemampuan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kehadiran UU Nomor 34 Tahun

2000 tentang Pendapatan Pajak dan Retribusi Daerah serta peraturan

pelaksanaannya adalah momentum dimulainya pengelolaan sumber-sumber

pendapatan daerah secara penuh (desentralisasi fiskal). Aspek kedua yaitu

disisi manajemen pengeluaran daerah, sesuai azas otonomi daerah bahwa

pengelolaan keuangan daerah harus lebih akuntabel dan transparan tentunya

menuntut daerah agar lebih efisien dan efektif dalam pengeluaran daerah.

Kedua aspek tersebut dapat disebut sebagai Reformasi Pembiayaan

(Mardiasmo, 2002)

Reformasi manajemen sektor publik terkait dengan perlunya digunakan

model manajemen pemerintahan yang baru yang sesuai dengan tuntutan

perkembangan jaman, karena perubahan ini tidak hanya perubahan paradigma,

misalnya adalah New Public Management yang mulai dikenal tahun 1980-an

dan populer tahun 1990-an yang mengalami beberapa bentuk konsep

manageralism”, “market based public administrator”, dan lain sebagainya.

Manajemen sektor publik berorientasi kinerja, bukan berorientasi pada

kebijakan yang membawa konsekuensi pada perubahan pendekatan anggaran

yang selama ini dikenal dengan pendekatan anggaran tradisional (traditional

budget) menjadi penganggaran berbasis kinerja (performance budget), tuntutan

melakukan efisiensi, optimalisasi pendapatan, pemangkasan biaya (cost

cutting) dan kompetisi tender (compulsory competitive tendering contract)

C. Struktur Keuangan Daerah

Dimulai sejak Tahun Anggaran 2001 sampai saat ini, Pendapatan dan

Belanja Daerah di Indonesia disusun menurut tahun anggaran yang dimulai

pada tanggal 1 Januari dan berakhir 31 Desember. Bentuk dan susunan APBD

yang ada berbeda dengan susunan APBD dalam era sebelum otonomi daerah.

Akan tetapi perubahan komposisi dan struktur APBD tidak merubah maksud

dari unsur APBD itu sama sekali.

Di bidang Penerimaan Daerah, menurut UU Nomor 25 Tahun 1999 dan

UU Nomor 34 Tahun 2000, sumber penerimaan daerah yaitu:

a. Pendapatan Asli Daerah yang terdiri dari beberapa pos pendapatan

yaitu pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha daerah dan

b. Dana perimbangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah yang

mencakup Pendapatan Bagi Hasil Pajak Bukan Pajak, Dana Alokasi

Umum dan Dana Alokasi Khusus;

c. Pinjaman Daerah dan Bagian Sisa Perhitungan APBD Tahun Lalu

yang dahulu merupakan bagian komponen Penerimaan Daerah maka

dalam regulasi di era otonom hal tersebut bukan merupakan bagian

Penerimaan Daerah melainkan bagian dari Pembiayaan Daerah;

d. Lain-lain penerimaan yang sah;

e. Besarnya Dana Perimbangan sangat ditentukan dari potensi sumber

daya alam hasil pertambangan dan hasil hutan lainnya;

f. Pendapatan Asli Daerah berupa pajak pemanfaatan air permukaan

dan air bawah tanah yang semula merupakan penerimaan daerah

tingkat II maka setelah otonomi daerah, pajak ini diserahkan kembali

kepada tingkat I.

Disisi pengeluaran daerah, pengaturan belanja diatur melalui Peraturan

Pemerintahan Nomor 105 s.d PP Nomor 110 Tahun 2000 yang mengatur

tentang tata cara penyusunan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah termasuk kedudukan keuangan Kepala Daerah

dan DPRD. Beberapa karakteristik pengelolaan belanja daerah di era setelah

otonomi daerah dengan alat pengatur berupa regulasi tersebut di atas, dapat

1. Pengeluaran rutin terdiri dari belanja administrasi umum, dan belanja

operasi pemeliharaan.

2. Belanja pembangunan merupakan belanja yang dialokasikan untuk

membiayai pekerjaan fisik dan disebut sebagai bahan modal;

3. Selain belanja dimaksud terdapat belanja bagi hasil dan bantuan

keuangan yang terbentuk dari pengeluaran tidak termasuk bagian lain

dan bantuan keuangan (sebelum otonomi daerah) serta pengeluaran tidak

tersangka dengan istilah dan maksud yang sama seperti sebelum otonomi

daerah.

4. Pembiayaan belanja rutin didanai dari kemampuan PAD, dan belanja

pembangunan didanai dari Dana Perimbangan/Bagi hasil pajak dan

bukan pajak.

1.4. Regulasi Keuangan Daerah dan Kaitan terhadap Kinerja Penerimaan

Daerah

Dalam pembahasan ini, lingkup dari regulasi pengelolaan penerimaan

daerah mencakup UU Nomor 34 Tahun 2000 sebagai pengganti UU No 18

Tahun 1997 dan Peraturan Pelaksana berupa PP No 65 dan 66 Tahun 2001

serta UU No 25 Tahun 1999.

Secara umum, maksud regulasi tersebut disusun/ditetapkan dan

dilaksanakan adalah:

1. Agar terjadi peningkatan penerimaan daerah yang bersumber dari

pembagian Sumber Daya Alam yang lebih adil sesuai potensi daerah dan

mengurangi upaya monopoli pusat terhadap pembagian sumber daya alam

daerah menyebabkan lahirnya UU 22 Tahun 1999 yang diikuti dengan UU

No 25 Tahun 1999;

2. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan

yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber

pendapatan. Penerimaan daerah adalah semua komponen pendapatan

menurut struktur APBD yang terdiri dari pendapatan asli daerah, dana

perimbangan dan lain-lain penerimaan daerah yang sah. Bahwa besarnya

target yang akan dicapai merupakan hasil analisa dan kajian yang

mendalam dari setiap potensi pajak dan retribusi dengan memperhatikan

tingkat kemampuan pembiayaan dalam pengelolaan pendapatan dimaksud

serta kesiapan perangkat daerah yang mengelola pendapatan (upaya

fiskal);

3. Desentralisasi fiskal sebagai wujud dari hadirnya regulasi tadi nantinya

diharapkan akan lebih menumbuhkembangkan penerimaan daerah;

4. UU Nomor 34 Tahun 2000 sebagai pengganti UU No 18 Tahun 1997

tentang pajak dan retribusi daerah, menghendaki pelaksanaan otonomi

daerah yang seluas-luasnya dan dijabarkan dalam konteks kemampuan

untuk menggali, mengelola dan mengalokasikan serta

mempertanggungjawabkan secara sungguh-sungguh semua sumber daya

5. Penyerahan kembali beberapa jenis pajak yang pernah menjadi komponen

pendapatan kabupaten/kota saat UU No 18 Tahun 1997 berlaku dan belum

diganti dengan UU No 34 Tahun 2000, akan mendorong Pemerintahan

Kabupaten/Kota untuk menggali Potensi Pendapatan Asli Daerah

menutupi penyerahan beberapa pajak daerah yang diserahkan ke Provinsi.

Di samping itu, hadirnya regulasi tadi akan berimplikasi terutama

terhadap kinerja di bidang keuangan daerah. Berikut diuraikan beberapa

pengaturan dalam otonomi daerah yang terkait dengan peningkatan kinerja

keuangan dan dapat dilihat pada tabel 1. Parameter Kinerja:

1.5. Kinerja Keuangan Pemerintahan Daerah

Kinerja (Performance) dapat diartikan sebagai aktivitas terukur dari

suatu entitas selama periode tertentu sebagai bagian dari ukuran keberhasilan

pekerjaan.

Performance Measurement atau pengukuran kinerja menurut kamus

yang sama diartikan sebagai suatu indikator keuangan atau non keuangan dari

suatu pekerjaan yang dilaksanakan atau hasil yang dicapai dari suatu aktivitas,

Tabel 2.1. Parameter Kinerja

No Parameter kinerja

Pokok-pokok aturan keuangan daerah setelah otonomi daerah

1 Desentrali sasi fiscal

a.Pengaturan adanya tambahan penerimaan daerah dari PPh orang pribadi kepada Daerah lebih memperbesar peluang bertambahnya penerimaan daerah;

b.Adanya kenaikan persentase dan penetapan batasan terendah atas Penerimaan Bagi Hasil Pajak yang merupakan hak Kabupaten/Kota yang dikelola Provinsi;

c.Besarnya Dana Alokasi Umum sebagai bagian dari Dana Perimbangan yang diterima daerah ditentukan dengan memperhatikan potensi daerah seperti PAD, PBB, dan BPHTB.

2 Upaya Fiskal

Ketegasan cakupan wilayah objek pajak yang dapat membantu pemda dalam menentukan potensi riil penerimaan pajak dan menghindari sengketa objek pajak dengan pemda lainnya.

3 Kemampu an

Pembiaya an

a.Undang-undang 34 Tahun 2000 mendukung eksitensi Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber pendapatan daerah yang bersumber dari wilayah daerah sendiri dan dipungut di daerah sendiri;

b.Pengertian wajib pajak badan dalam UU ini lebih luas dari sekedar yang diatur sebelumnya termasuk organisasi massa dan organisasi sosial politik akan memperbesar penggalian potensi penerimaan pajak bagi pemerintahan daerah;

c.Peralihan sebagian jenis parkir dari retribusi menjadi pajak sehingga penetapan lebih jelas;

d.Jasa dalam retribusi daerah merupakan kewenangan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi;

e.Retribusi dapat dipungut secara efektif dan efisien, serta merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah yang potensial;

f. Perizinan dalam retribusi termasuk kewenangan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka asas desentralisasi. 4 Efisiensi

Pengguna an

Anggaran

a. Jumlah belanja daerah yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja.

b.Daerah dapat membentuk dana cadangan dari penerimaan daerah, kecuali dana alokasi khusus dan pinjaman daerah. c. Pemda dapat menempatkan dana dalam bentuk deposito

Dalam penelitian ini, istilah yang penulis maksudkan tentang Kinerja

Keuangan Pemerintahan Daerah adalah tingkat pencapaian dari suatu hasil

kerja di bidang keuangan daerah yang meliputi penerimaan dan belanja daerah

dengan menggunakan indikator keuangan yang ditetapkan melalui suatu

kebijakan atau ketentuan perundang-undangan selama satu periode anggaran.

Bentuk dari pengukuran kinerja tersebut berupa rasio keuangan yang terbentuk

dari unsur laporan pertanggungjawaban Kepala Daerah berupa perhitungan

APBD.

Pengukuran kinerja yang digunakan secara umum oleh perusahaan yang

berorientasi pada pencapaian laba antara lain melalui penetapan rasio

keuangan. Rasio yang dimaksud dalam laporan keuangan adalah suatu angka

yang menunjukkan hubungan antara suatu unsur dengan unsur lainnya. Suatu

rasio tersebut diperbandingkan dengan rasio perusahaan lainnya yang sejenis,

sehingga adanya perbandingan ini maka perusahaan tersebut dapat

mengevaluasi situasi perusahaan dan kinerjanya.

Helfert (1991) memahami rasio keuangan sebagai instrumen analisis

prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator

keuangan yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi

keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan

trend pola perubahan tersebut untuk menunjukkan risiko dan peluang yang

analisis rasio keuangan meskipun didasarkan pada data dan kondisi masa lalu

tetapi dimaksudkan untuk menilai risiko dan peluang dimasa yang akan datang.

Rasio keuangan digunakan analis kredit untuk menilai kemampuan

perusahaan perusahaan dalam melunasi utang-utangnya, sedangkan analis

manajemen menggunakannya untuk mengukur tingkat profitabilitasnya.

Laporan keuangan merupakan pertanggungjawaban manajemen atas

sumber daya yang dipercayakan kepadanya kepada para pemilik perusahaan

atas kinerja yang telah dicapainya serta merupakan laporan akuntansi utama

yang mengkomunikasikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan

dalam membuat analisa ekonomi dan peramalan untuk masa yang akan datang.

Pihak yang memerlukan informasi keuangan perusahaan bukan hanya

manajer keuangan saja. Disamping manajer keuangan (pihak intern

perusahaan), beberapa perusahaan juga perlu mengetahui kondisi keuangan

perusahaan. Pihak-pihak tersebut diantaranya adalah para (calon) pemodal, dan

kreditur. Kepentingan mereka mungkin berbeda-beda, mereka mengharapkan

untuk memperoleh informasi dari laporan keuangan perusahaan.

Menurut Henderson, Dale. A and W Chase, Bruce Performance

Measure for NPOs (Not for Profit Organizations) dalam Journal of Accounting

Januari, 2002 mengemukakan terdapat indikator pengukuran kinerja organisasi

Dokumen terkait