• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kualitas Laba

Utami (2005) mengungkapkan laporan keuangan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan kepada pihak-pihak di luar korporasi. Laporan keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi kepada para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan investasi dana mereka. Dalam penyusunan laporan keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara riil, namun di sisi lain penggunaan dasar akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metode akuntansi selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku.

Boediono (2005) menyatakan bahwa laba merupakan salah satu ukuran untuk melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan. Laba dalam akuntansi didefinisikan sebagai kenaikan aktiva bersih perusahaan yang berasal dari aktivitas operasional perusahaan di luar investasi oleh pemilik perusahaan. Karena akuntansi secara umum menganut kos historis, asas akrual, dan konsep ma tching principle, laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih antara pendapatan dan biaya. Investor dan kreditor adalah pihak yang dituju dalam pelaporan keuangan, mereka berkepentingan dengan informasi masa lalu yang digunakan untuk mengevaluasi prospek perusahaan di masa yang akan datang (Suwardjono, 2005).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Nuryaman (2009) berpendapat informasi laba sebagai bagian dari laporan keuangan, sering menjadi target rekayasa melalui tindakan oportunis manajemen untuk memaksimumkan kepuasannya, tetapi dapat merugikan pemegang saham atau investor. Tindakan oportunis tersebut dilakukan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan atau diturunkan sesuai dengan keinginannya. Perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya tersebut dikenal dengan istilah manajemen laba (ea rnings ma na gement).

Menurut Bellovary et a l. (2005), otoritas pengawas pasar modal menghendaki adanya permintaan yang besar terhadap laba yang berkualitas, hal ini terkait dengan kebutuhan akan estimasi laba yang dapat meningkatkan nilai sekuritas perusahaan. Kualitas laba dapat diartikan sebagai kemampuan informasi akan laba yang menyampaikan fenomena yang sebenarnya terjadi, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kualitas laba adalah kemampuan perusahaan dalam melaporkan laba yang tidak berbeda dari laba yang sesungguhnya.

Givoly et a l. (2010) menyatakan bahwa konsep kualitas laba adalah konsep yang sulit diungkapkan. Hal ini berkaitan dengan pengertian kualitas yang memiliki sifat relatif dalam penilaiannya. Tidak ada definisi yang pasti tentang kualitas laba. Dari beberapa sumber penelitian sebelumnya, penulis menyimpulkan bahwa ada beberapa hal yang berkaitan dengan laba yang berkualitas, seperti akrual yang cenderung persisten, estimasi eror dari proses akrual, keberadaan manajemen laba dan pengakuan laba yang cenderung konservatif.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Bellovary et a l. (2005) berpendapat bahwa kualitas laba merupakan aspek penting untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan. Pihak yang berhubungan dengan perusahaan seperti kreditor, investor dan pengguna informasi keuangan lainnya selalu memperhatikan laporan keuangan. Kualitas laba perusahaan dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan dalam melaporkan laba perusahaan yang menujukkan laba perusahaan yang sebenarnya, dengan sebaik mungkin melaporkan laba yang akan digunakan untuk memprediksi laba masa depan perusahaan. Kualitas laba juga dapat diartikan sebagai stabilitas, persistensi dan va ria bility dalam melaporkan laba perusahaan.

Rahayu (2008) mengungkapkan bahwa laba akuntansi yang berkualitas adalah laba akuntansi yang mempunyai sedikit atau tidak mengandung gangguan persepsi (perceived noise), dan dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya, sedangkan Ayres (1994) dalam Rahayu (2008) menyatakan bahwa laba akuntansi dikatakan berkualitas apabila elemen-elemen yang membentuk laba tersebut dapat diinterprestasikan dan dipahami secara memuaskan oleh pihak yang berkepentingan.

Beberapa penelitian memaknai kualitas laba sebagai kualitas laporan keuangan. Fanani et a l. (2009) menyebutkan bahwa pengertian kualitas pelaporan keuangan hingga saat ini masih beragam namun pada prinsipnya pengertian kualitas pelaporan keuangan dapat dipandang dalam dua sudut pandang. Pandangan pertama menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan berhubungan dengan kinerja keseluruhan perusahaan yang tergambarkan dalam laba perusahaan. Informasi pelaporan keuangan dikatakan tinggi (berkualitas)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id jika laba tahun berjalan dapat menjadi indikator yang baik untuk laba perusahaan di masa yang akan datang atau berasosiasi secara kuat dengan arus kas operasi di masa yang akan datang. Implikasi dari pandangan tersebut, menunjukkan bahwa fokus pengukuran kualitas pelaporan keuangan perusahaan tersebut berkaitan dengan sifat-sifat pelaporan keuangan. Pandangan kedua menyatakan bahwa kualitas pelaporan keuangan berkaitan dengan kinerja saham perusahaan di pasar modal. Hubungan yang semakin kuat antara laba dengan imbalan pasar menunjukkan informasi pelaporan keuangan tersebut semakin tinggi.

Menurut Givoly et a l. (2010) kualitas laba dalam perusahaan dapat diukur dengan beberapa metode. Metode yang pertama adalah pendekatan persistensi akrual. Metode ini merupakan persamaan yang meregresikan antara akrual dan arus kas saat ini dengan laba operasi masa depan perusahaan. Metode yang kedua adalah model estimasi error akrual. Model ini dikembangkan dengan cara mencari variabel residual sebagai hasil dari persamaan regresi antara akrual tahun ini dengan arus kas masa lalu, arus kas saat ini dan arus kas masa depan perusahaan. Perusahaan dengan residual positif menunjukan kualitas laba yang buruk karena cenderung membesar-besarkan laba dan sebaliknya. Metode yang ketiga adalah dengan mendeteksi keberadaan manajemen laba. Metode yang digunakan adalah modified Jones yang menggunakan akrual kelolaan untuk meneliti adanya manajemen laba. Metode yang keempat adalah dengan melihat tingkat konservatisme akuntansi. Banyak metode untuk menghitung konservatisme akuntansi, misalnya dengan membentuk persamaan regresi antara akrual, dummy a rus ka s, dan arus kas perusahaan. Asumsi yang mendasar adalah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id perusahaan yang konservatif menghindarkan perusahaan dari tindakan yang menyatakan laba secara overstate sehingga perusahaan yang lebih konservatif dianggap memiliki laba yang lebih berkualitas.

B. Kepemilikan Manajerial dan Kualitas Laba

Fanani (2006) mengungkapkan bahwa laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan rugi laba, dan laporan ekuitas yang disusun berdasarkan akrual serta laporan arus kas yang berdasarkan dasar kas. Oleh karena itu, dasar akrual dalam laporan keuangan memberikan kesempatan kepada manajer memodifikasi laporan keuangan untuk menghasilkan jumlah laba yang diinginkan. Genera lly a ccepted a ccounting principle (GAAP) atau Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) juga memberikan keleluasaan bagi manajer untuk memilih metode akuntansi yang akan digunakan dalam menyusun laporan keuangan (Veronica, (2003) dalam Fanani (2006)). Pilihan manajerial tersebut dapat memicu manajer untuk melakukan perilaku manajemen laba informatif (informative ea rning ma nagement) atau manajemen laba oportunistik (opportunistic ea rning ma nagement).

Struktur kepemilikan ini merupakan proporsi kepemilikan saham oleh manajerial, publik ataupun institusional. Di dalam penelitian ini digunakan kepemilikan manajerial dan institutional. Masalah yang sering ditimbulkan dari struktur kepemilikan ini adalah a gency conflict, dimana terdapat kepentingan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id antara manajemen perusahaan sebagai pengambil decision ma ker dan para pemegang saham sebagai owner dari perusahaan. Pemegang saham sebagai pemilik perusahaan berada di luar perusahaan sehingga tidak dapat mengawasi perusahaan secara penuh. Sedangkan manajer sebagai pengelolaan perusahaan berada di dalam perusahaan dan sepenuhnya mengetahui kondisi perusahaan (Jensen, 1986).

Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham oleh pihak manajemen perusahaan. Kepemilikan saham manajerial dapat mensejajarkan antara kepentingan pemegang saham dengan manajer, karena manajer ikut merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan manajer yang menanggung risiko apabila ada kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah. Hal tersebut menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada perusahaan akan dapat menyatukan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham, sehingga kinerja perusahaan semakin bagus (Jensen, 1986).

Teruel et a l. (2008) menyatakan bahwa kualitas laba merupakan hal yang dapat mengurangi masalah keagenan antara pemegang saham dan perusahaan tertutama berkaitan dengan masalah asimetri informasi. Siallagan dan Machfoedz (2006) mengungkapkan bahwa Konflik keagenan yang mengakibatkan adanya sifat opportunistic manajemen akan mengakibatkan rendahnya kualitas laba. Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan kepada para pemakainya seperti para investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang. Warfield et a l. (1995) dalam Siallagan dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Machfoedz (2006) menguji hubungan kepemilikan manajerial dengan discretionary a ccrua l dan kandungan informasi laba menemukan bukti bahwa kepemilikan manajerial berhubungan secara negatif dengan discretiona ry a ccrua l.

Boediono (2005) mengungkapkan pemahaman terhadap kepemilikan perusahaan sangat penting karena berkaitan dengan pengendalian operasional perusahaan. Dari sudut pandang teori akuntansi, manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan. Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen laba yang berbeda, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Hal ini sesuai dengan sistem pengelolaan perusahaan dalam dua kriteria: (a) perusahaan dipimpin oleh manajer dan pemilik (owner-ma nager); dan (b) perusahaan yang dipimpin oleh manajer dan non pemilik (non owners-ma na ger). Dua kriteria ini akan mempengaruhi manajemen laba, sebab kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Secara umum dapat dikatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba.

Lebih lanjut Boediono (2005) menyampaikan bahwa kualitas laba dapat diindikasikan sebagai kemampuan informasi laba memberikan respon kepada pasar. Dengan kata lain, laba yang dilaporkan memiliki kekuatan respon (power of response). Kuatnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang tercermin dari tingginya ea rnings response coefficients (ERC), menunjukkan laba yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dilaporkan berkualitas. Pandangan teori keagenan dimana terdapat pemisahan antara pihak agen dan prinsipal yang mengakibatkan munculnya potensi konflik dapat mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan. Pihak manajemen yang mempunyai kepentingan tertentu akan cenderung menyusun laporan laba yang sesuai dengan tujuannya dan bukan demi untuk kepentingan prinsipal. Kualitas laba yang dilaporkan dapat dipengaruhi oleh kepemilikan saham manajerial. Tekanan dari pasar modal menyebabkan perusahaan dengan kepemilikan manajerial yang rendah akan memilih metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan, yang sebenarnya tidak mencerminkan keadaan ekonomi dari perusahaan yang bersangkutan.

Hashim dan Devi (2007) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial dalam sebuah perusahaan akan berpengaruh terhadap kualitas laba yang dihasilkan. Jensen and Meckling (1976) menyebutkan bahwa semakin besar kepemilikan saham oleh manajer maka akan semakin sejalan hubungan antara manajer dan pemilik perusahaan karena manajer juga memiliki porsi kepemilikan yang besar dalam perusahaan. Hal ini akan menghindarkan perilaku manajer dari perilaku yang membodohi publik dengan memberikan informasi sesungguhnya tentang kinerja perusahaan sehingga kualitas laba akan meningkat. Namun pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba dari beberapa penelitian sebelumnya memberikan arah yang berbeda-beda. Peasnell et a l. (2005) menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan manajerial akan rawan tindakan manajer untuk melakukan manajemen laba yang menyebabkan kualitas laba menjadi rendah.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Mengacu pada hasil penelitian Peasnell et a l. (2005), maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

H1: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap kualitas laba

C. Kepemilikan Institusional dan Kualitas Laba

Kepemilikan institusional berarti kepemilikan saham oleh pihak institusi lain yaitu kepemilikan oleh perusahaan atau lembaga lain. Kepemilikan saham oleh pihak-pihak yang terbentuk institusi seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, dan kepemilikan institusi lain. Menurut Jensen (1986), kepemilikan institusional merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengurangi a gency conflict. Dengan kata lain, semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional maka semakin kuat tingkat pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal terhadap perusahaan sehingga a gency cost yang terjadi di dalam perusahaan semakin berkurang dan nilai perusahaan juga dapat semakin meningkat. Selain itu, dengan semakin kuatnya tingkat pengendalian yang dilakukan oleh pihak eksternal tersebut maka diharapkan tingkat pengendalian internal perusahaan juga semakin baik.

Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak manajemen melalui proses monitoring secara efektif sehingga mengurangi tindakan manajemen melakukan manajemen laba. Melalui kepemilikan institusional, efektivitas pengelolaan sumber daya perusahaan oleh manajemen dapat diketahui dari informasi yang dihasilkan melalui reaksi pasar atas pengumuman laba. Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen (Boediono, 2005).

Rachmawati dan Triatmoko (2007) menyatakan bahwa dalam hubungannya dengan fungsi monitor, investor institusional diyakini memiliki kemampuan untuk memonitor tindakan manajemen lebih baik dibandingkan investor individual. Ada dua perbedaan pendapat mengenai investor institusional. Pendapat pertama didasarkan pada pandangan bahwa investor institusional adalah pemilik sementara (tra nsfer owner) sehingga hanya terfokus pada laba sekarang (current ea rnings). Perubahan pada laba sekarang dapat mempengaruhi keputusan investor institusional. Jika perubahan ini tidak dirasakan menguntungkan oleh investor, maka investor dapat melikuidasi sahamnya. Investor institusional biasanya memiliki saham dengan jumlah besar, sehingga jika mereka melikuidasi sahamnya akan mempengaruhi nilai saham secara keseluruhan. Untuk menghindari tindakan likuidasi dari investor, manajer akan melakukan ea rnings ma na gement. Pendapat kedua memandang investor institusional sebagai investor yang berpengalaman (sophisticated). Menurut pendapat ini, investor lebih terfokus pada laba masa datang (future ea rnings) yang lebih besar relatif dari laba sekarang. Investor institusional menghabiskan lebih banyak waktu untuk melakukan analisis investasi dan mereka memiliki akses atas informasi yang terlalu mahal perolehannya bagi investor lain. Investor institusional akan melakukan monitoring secara efektif dan tidak akan mudah diperdaya dengan tindakan manipulasi yang dilakukan manajer.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Bushee (1998) dalam Boediono (2005) menyebutkan bahwa kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengurangi insentif para manajer yang mementingkan diri sendiri melalui tingkat pengawasan yang intensif. Kepemilikan institusional dapat menekan kencederungan manajemen untuk memanfaatkan discretiona ry dalam laporan keuangan sehingga memberikan kualitas laba yang dilaporkan. Hasil penelitian ini memberikan simpulan bahwa kepemilikan institusional di perusahaan dapat mempengaruhi kualitas laba yang dilaporkan. Indikator yang digunakan untuk mengukur kepemilikan institusional adalah persentase jumlah saham yang dimiliki institusi dari seluruh jumlah modal saham perusahaan yang dikelola.

Hasil penelitian Boediono (2005) menunjukan bukti bahwa mekanisme kepemilikan institusional memberikan tingkat pengaruh terhadap manajemen laba yang cukup kuat. Ini mengindikasikan bahwa penerapan mekanisme kepemilikan institusional dapat memberikan kontribusi terhadap tindakan manajemen laba. Namun hasil penelitian ini juga menemukan bahwa kepemilikan institusional memberikan pengaruh terhadap kualitas laba yang lemah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa tingkat kepemilikan saham institusional sebagai mekanisme pengendali dalam penyusunan laporan laba, kurang memberikan pengaruh kepada pasar melalui informasi laba.

Givoly et a l. (2010) melakukan penelitian tentang struktur kepemilikan saham oleh publik dan pengaruhnya terhadap kualitas laba perusahaan. Dalam penelitian ini peneliti melakukan perbandingan antara kualitas laba pada perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh publik dan perusahaan yang sahamnya

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id dimiliki oleh privat. Dengan mempertimbangkan aspek levera ge dan pertumbuhan perusahaan perusahaan, penelitian ini menemukan bahwa kepemilikan saham oleh publik akan meningkatkan kualitas laba perusahaan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa perusahaan publik memiliki kualitas laba yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan privat.

Hashim dan Devi (2007) menyebutkan bahwa dengan semakin besarnya peranan corporate governa nce dalam perusahaan maka peran dari investor institusional akan menjadi sangat penting. Hal ini terkait dengan peran investor institusional dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja perusahaan. Selain berperan dalam membuat sejalan kepentingan investor dan manajer, investor institusional juga berperan untuk mencegah terjadinya konflik kepentingan dengan pihak pemegang saham minoritas perusahaan. Semakin besar kepemilikan oleh institusional maka akan semakin besar peran kepemilikan institusional tersebut dalam mekanisme corporate governa nce sehingga aspek pengawasan terhadap kinerja perusahaan akan semakin meningkat. Kepemilikan institusional yang tinggi akan menekan manajemen untuk meningkatkan kinerjanya, mengurangi tindakan manajemen laba dan menghasilkan laporan laba yang berkualitas.

Mengacu pada hasil penelitian Givoly et a l. (2010) dan Hashim dan Devi (2007), maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. H2: Kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kualitas laba

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

D. Leverage dan Kualitas Laba

Menurut Herawati dan Baridwan (2007), teori keagenan mengatakan bahwa agen biasanya bersikap oportunis dan tidak menyukai risiko (risk a verse). Karena itu, perusahaan khususnya manajer perusahaan yang mendekati atau telah melanggar perjanjian utang akan berusaha untuk mementingkan kepentingannya sendiri dan menghindari risiko yang ada. Debt-covena nt hypothesis menyatakan bahwa jika semua hal lain tetap sama, semakin dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang berbasis akuntansi, lebih mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang memindahkan laba yang dilaporkan dari perioda masa datang ke perioda saat ini. Alasannya bahwa laba bersih yang dilaporkan naik akan mengurangi probabilitas kegagalan teknis.

Herawaty (2009) menyatakan bahwa para manajer memiliki fleksibilitas untuk memilih beberapa alternatif dalam mencatat transaksi sekaligus memilih opsi-opsi yang ada dalam perlakuan akuntansi. Fleksibilitas ini digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengelola laba. Perilaku manajemen yang mendasari lahirnya manajemen laba adalah perilaku opportunistic manajer dan efficient contra cting. Sebagai perilaku opportunistic manajer memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi dan hutang.

Watts dan Zimmerman (1986) menyatakan bahwa angka-angka akuntansi dapat digunakan mengendalikan pelaksanaan perjanjian utang, dengan tujuan dibatasinya keputusan investasi dan pendanaan yang akan menurunkan nilai perusahaan. Oleh karena itu, kontrak utang sering kali memasukkan perjanjian yang bersifat membatasi tindakan peminjam dan menentukan pengawasan untuk

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id memastikan bahwa syarat-syarat kontrak utang dipenuhi. Perusahaan yang memenuhi perjanjian utangnya akan mendapatkan penilaian kinerja yang baik dari kreditur. Ketika suatu perjanjian dilanggar maka sebaliknya, perusahaan akan mendapatkan penilaian kinerja yang buruk dari kreditur. Pelanggaran terhadap batasan-batasan yang termuat dalam perjanjian utang merupakan hal yang menakutkan bagi manajemen. Hal ini dikarenakan pelanggaran perjanjian utang amat merugikan. Pelanggaran perjanjian cenderung dapat memberikan beban yang berat bagi perusahaan. Hal ini disebabkan perusahaan pelanggar perjanjian utang secara potensial menghadapi berbagai pinalti keuangan, seperti kemungkinan percepatan jatuh tempo utang, peningkatan dalam tingkat bunga, negosiasi ulang masa utang (Watts dan Zimmerman,1986).

Siallagan dan Machfoed (2006) yang menguji pengaruh kualitas laba terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang listing di BEJ pada periode 2000-2004 menyimpulkan bahwa kualitas laba secara positif berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas laba dapat menjadi salah satu pertimbangan investor dalam melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan yang berpengaruh terhadap nilai pasar perusahaan.

Fanani et a l. (2009) menyebutkan bahwa semakin besar levera ge perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik di mata investor dan auditor. Dengan kinerja yang baik tersebut maka diharapkan kreditor tetap memiliki kepercayaan terhadap perusahaan, tetap mudah mengucurkan dana, dan perusahaan akan memperoleh kemudahan dalam proses pembayaran.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Astuti (2004) menyatakan perusahaan yang mempunyai rasio levera ge yang tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya akan cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba. Perusahaan dengan levera ge tinggi akan menerapkan standar akuntansi yang menurunkan atau menaikkan laba yang dilaporkan. Hasil penelitian konsisten dengan hipotesis bahwa perusahaan dengan levera ge yang tinggi cenderung mengatur laba yang dilaporkan. Dengan demikian, disimpulkan bahwa perusahaan dengan tingkat levera ge yang tinggi cenderung mengatur labanya dibandingkan dengan perusahaan dengan tingkat levera ge yang rendah.

Givoly et a l. (2010) menyebutkan bahwa levera ge merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas laba perusahaan. Penelitian ini menjelaskan bahwa perusahaan yang masih muda dan belum menjadi perusahaan publik memiliki sumber pendanaan yang terbatas dari sumber internal sehingga perusahaan akan memiliki levera ge yang besar. Perusahaan yang besar akan diikuti dengan upaya manajer untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan laba yang tinggi. Hal tersebut dilakukan agar manajer tetap mendapatkan kepercayaan ketika akan mencari sumber pendapatan dari pasar hutang. Perusahaan dengan levera ge yang tinggi akan memiliki kecenderungan melakukan manajemen laba dengan menggunakan akrual untuk melaporkan laba lebih tinggi yang menyebabkan kualitas laba menjadi lebih rendah.

Mengacu kepada hasil penelitian Astuti (2004) dan Givoly et a l. (2010), maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Dokumen terkait