• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perilaku

Menurut Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2003) perilaku ialah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Ada dua perspektif teori yang menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan individu dalam membentuk perilakunya. Perspektif teori pertama adalah nature sebagai ”the view espoused by nativists. Nature refers not simply to abilities present at birth but to any ability

determined by genes, including those appearing through maturation”. Para ahli

psikologi evolusi sebagai penganut perspektif teori ini menganggap bahwa perilaku merupakan produk dari seleksi alam sebagai “evolutionary adaptation” (EA). Ketertarikan interpersonal merupakan contoh sexual selection: laki-laki dan perempuan memilih pasangan yang paling sesuai bagi sukses reproduksinya.

Kedua nurture sebagai “the view of empiricists, the view that everything is learned through interactions with the environment, the physical and social world, more

widely referred to as ‘experience”. Para ahli psikologi radikal (seperti Skinner dan

Watson) berpendapat bahwa seluruh perilaku dapat dijelaskan oleh suatu peristiwa sendiri. Skinner berpendapat bahwa proses pembelajaran suatu bahasa oleh anak kecil dapat dijelaskan melalui reward dan konsekuensinya. Contoh lain dari perspektif teori ini adalah bahwa schizophrenia muncul pada anak-anak yang senantiasa menerima informasi kontradiktif dari kedua orang tuanya.

Teori Convergence memadukan kedua teori di atas. Teori ini menyebutkan bahwa

perkembangan individu adalah perpaduan antara bawaan dengan pengaruh luar. Kekuatan internal dan eksternal saling berinteraksi, saling memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu. Interaksi lingkungan dengan faktor bawaan tidak selalu tetap dan tergantung pada sifat hereditas, sifat lingkungan dan intensitas pengaruh luar. Sifat- sifat jasmani tubuh manusia merupakan ciri utama seseorang dan sulit diubah sedangkan kemampuan berbicara, bersikap dan berperilaku dapat diubah melalui interaksi sosial antara sifat bawaan dan lingkungan luar (Zanden dan James, 1995).

Memperkuat argumentasi tersebut, Lewin (dalam Hersey et al: 1996) mengemukakan bahwa perilaku individu merupakan fungsi dari individu dan situasi. Secara matematis kondisi demikian dinyatakan sebagai: B = ƒ (P,S). Dalam hal ini B =

behavior, P = person dan S = situation. Seseorang berperilaku, dipengaruhi oleh sesuatu

dalam diri orang (yang memotivasi individu untuk bertindak) dan oleh sesuatu di luar orang itu (situasi), antara individu dengan situasi akan saling bergantung. Perilaku juga dimotivasi oleh keinginan untuk mencapai hasil tertentu dan dipengaruhi oleh tujuan. Tujuan atau sasaran tidak selamanya didasari oleh perilaku individu tersebut. Hal ini dikarenakan adanya alam bawah sadar yang memengaruhi perilaku seseorang individu.

Menurut teori communication and human behavior, perilaku pada dasarnya merupakan suatu tindakan manusia yang diawali oleh adanya proses input berupa informasi yang masuk dari tiap individu (Ruben, 1992). Beragam informasi yang masuk tersebut selanjutnya mengalami proses seleksi untuk menentukan informasi yang relevan. Informasi yang telah melalui proses seleksi tersebut selanjutnya mengalami proses interpretasi yang menyebabkan timbulnya beragam penafsiran terhadap informasi yang sama dari tiap individu. Informasi yang mengalami interpretasi tersebut selanjutnya disimpan dalam short-term atau long-term memory. Tergantung pada penting atau tidaknya nilai informasi. Bila informasi tersebut penting, maka individu akan menyimpan informasi tersebut dalam long-term memory, sebaliknya bila informasi tersebut tidak penting maka individu itu akan menyimpannya dalam short-term memory yang mudah dilupakan. Adanya asupan informasi yang diproses dalam diri individu, memungkinkan individu memiliki kebutuhan dan menentukan tujuan yang relevan dengan asupan informasi tersebut. Jadi, asupan informasi mengalami seleksi, interpretasi dan retention

hingga munculnya kebutuhan dan tujuan yang berujung pada munculnya perilaku individu.

Perilaku individu juga dapat dijelaskan oleh teori operant conditioning yang digagas oleh BF. Skinner (Brophy, 1990). Menurut Skinner, perilaku individu pada dasarnya merupakan hasil dari suatu proses belajar. Sementara itu Pavlov menganggap tingkahlaku terjadi bila ada stimuli khusus, sementara Skinner menambahkan bahwa tingkahlaku demikian hanya menerangkan sebagian kecil saja dari semua kegiatan. Skinner berpendapat, ada bentuk tingkahlaku lain yang dia sebut sebagai tingkahlaku

operant, yang sengaja terjadi pada lingkungan tanpa unconditioned stimuli, seperti makanan. Penemuan Skinner memusatkan hubungan antara tingkahlaku dan konsekuen. Contoh, jika menyenangkan, individu akan menggunakan tingkahlaku itu lagi sesering mungkin. Menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkahlaku, sering disebut sebagai operant conditioning. Konsekuensi menyenangkan akan memperkuat tingkahlaku, sementara konsekuensi yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkahlaku. Jadi, konsekuensi yang menyenangkan akan meningkat frekuensinya, sementara konseskuensi yang tidak menyenangkan akan mengurang frekuensinya. Operant (perilaku diperkuat jika akibatnya menyenangkan) merupakan tingkahlaku yang ditimbulkan oleh organisme itu sendiri. Operant belum tentu didahului oleh stimuli dari luar. Operant conditioning akan terbentuk jika frekuensi tingkahlaku operant bertambah atau bila timbul tingkahlaku operant yang tidak tampak sebelumnya. Frekuensi terjadinya tingkahlaku operant ditentukan oleh akibat tingkahlaku ini. Percobaan Skinner dengan tikus memerjelas hal ini. Tikus dibuat lapar dengan asumsi karena dorongan lapar, maka timbul motivasi untuk belajar keluar dan mencari makanan. Tikus yang lapar di dalam kotak, kesana-kemari tanpa sengaja menekan tombol. Banyaknya tekanan per satuan waktu dihitung sebagai tingkahlaku operant penekanan sebelum terbentuk operant conditioning. Setelah tingkat operant diketahui, eksperimenter mengaktifkan alat pemberi makan, sehingga setiap kali tikus menekan tombol, segelintir makanan jatuh ke penampung makanan. Makanan ini memerkuat frekuensi penekanan dan kecepatan penekanan berkurang jika makanan tidak muncul, artinya operant respons mengalami extinction jika tidak mendapatkan reinforcement

(berupa makanan).

Theory Planned Behavior (Fisbein, 2005) melihat dengan menggunakan

perspektif lain tentang perilaku. Teori ini diawali dengan kritik terhadap teori dan pengukuran sikap yang seringkali tidak tepat yaitu tidak dapat memperkirakan perilaku yang akan timbul.

Pada awal tahun 1862 para ahli psikologi mulai membangun teori yang menunjukkan dampak sikap terhadap perilaku. Para ahli psikologi sosial kemudian melanjutkan studi mengenai sikap dan perilaku antara kurun waktu tahun 1918 dan 1925 dan menghasilkan banyak kemunculan teori baru dengan penekanan kaitan antara sikap

dan perilaku. Tesis utama dari trend perkembangan teori tersebut adalah bahwa sikap dapat menjelaskan perilaku manusia. Pada masa itu Thomas dan Znaiecki ialah ahli psikologi pertama yang menyampaikan bahwa sikap merupakan proses mental individual yang menentukan perilaku aktual individu dan respon potensialnya. Berangkat dari perspektif tersebut maka para ahli psikologi sosial mulai melihat sikap sebagai prediktor perilaku.

Beberapa ahli psikologi sosial yang menganggap perspektif sikap sebagai prediktor perilaku antara lain (a) Thurston yang pada tahun 1929 mengembangkan metode pengukuran sikap dengan menggunakan skala interval. Setelah itu Likert mengembangkan skala pengukuran sikap yang lebih spesifik dan mudah digunakan. Gordon pada tahun 1935 menyampaikan teori yang menyatakan bahwa hubungan sikap dan perilaku tidaklah uni-dimensional, melainkan multi-dimensional. Sikap merupakan sesuatu yang kompleks yang menunjukkan perasaan individu tentang suatu objek, (b) Guttman pada tahun 1944 membuat skalogram analisis untuk mengukur perasaan individu tentang suatu objek tertentu. Kemudian, (c) Rosenberg dan Hovland pada tahun 1960 memaparkan bahwa sikap individu terhadap suatu objek meliputi aspek afektif, kognitif dan perilaku.

Sebagai kelanjutan teori-teori hubungan sikap dan perilaku, Fishbein dan Ajzen berkolaborasi untuk mengembangkan cara memprediksi perilaku. Mereka beranggapan bahwa individu senantiasa rasional dan menggunakan informasi yang tersedia di sekitar mereka secara sistematik. Manusia sadar atas implikasi perilakunya sebelum bertindak. Fishbein dan Ajzen mereview seluruh studi itu, kemudian membangun sebuah perspektif untuk memprediksi perilaku dan sikap. Perspektif itu mereka disebut sebagai Theory of

Reasoned Action (TRA) yang memasukan adanya behavior intention (BI) atau niat

berperilaku dari perilaku. Satu kritik penting dilontarkan kepada TRA adalah bahwa individu memiliki kendala dalam mewujudkan perilakunya, meski individu yang bersangkutan telah memiliki niat untuk mewujudkan perilaku itu. Karena itu, Fishbein dan Ajzen menambahkan elemen perceived behavior control (PBC) yang pada dasarnya berisikan keyakinan individu tersebut untuk mampu mewujudkan perilakunya. Penambahan elemen PBC ini selanjutnya dikenal menjadi teori Theory Planned Behavior (TPB).

Tujuan dari TPB adalah (a) memprediksi dan memahami dampak niat untuk berperilaku pada perilaku, (b) mengidentifikasi strategi untuk mengubah perilaku, (c) menjelaskan perilaku nyata manusia seperti ”mengapa seseorang membeli mobil, mengapa seseorang memilih seorang caleg tertentu, atau mengapa nelayan tidak

menggunakan bom ikan ketika mencari ikan”. Dalam hubungan ini asumsi TPB bahwa:

(a) manusia bersifat rasional dan menggunakan informasi yang ada secara sistematik, (b) manusia memahami dampak perilakunya sebelum memutuskan untuk mewujudkan atau tidak perilaku tersebut.

TPB secara lugas digambarkan sebagai berikut: (Ajzen, 2005; Rehman, 2000)

Gambar 1 : Skema Perilaku dalam Theory Planned Behavior

Sumber: Ajzen (2005). Attitudes, Personality and Behavior, New York: McGraw-Hill Education.

B perilaku (behavior) atau action

BI (intention to perform behavior)

niat berperilaku

Aact attitude – a person’s positif or negative evaluation of performing a

behavior

sikap – evaluasi positif atau negatif individu tentang perwujudan satu perilaku Background Factor Social - Age - Gender - Education - Income - Religion Individu - Personality - Intelegence Information - Experience Behavior (B) Intention (BI) Attitude (Aact) Subjective Norm (SN) Perceived Behavior Control (PBC)

SN subjective norm – a person perception of the social pressures upon him to perform or not perform a behavior

Nilai subjektif – persepsi individu terhadap tekanan sosial yang diterimanya untuk menampilkan suatu perilaku atau tidak.

PBC perceived behavioral control – perceived case or difficulty of performing a

behavior

Persepsi individu tentang keyakinannya untuk mampu melakukan sesuatu. Gambar 1 menunjukkan bahwa dalam skema TPB, perilaku seseorang ditentukan oleh niat untuk berperilaku (behavior intention), sedangkan niat untuk berperilaku

(behavior intention) ditentukan oleh attitude, subjective norm dan perceived behavior

control. Selain itu, faktor latarbelakang (background factor) menunjukkan bahwa tiap

individu berbeda lingkungan sosialnya seperti umur, jender, pendidikan, penghasilan, agama, kepandaian dan pengalamannya yang dapat menunjukkan beragam isu atau informasi yang memengaruhi kepercayaan individu tersebut (Ajzen, 2005).

Niat untuk Berperilaku

Niat untuk berperilaku (intention to perform behavior) ialah kecenderungan, tekad atau keinginan (intention) nelayan untuk berperilaku. Mengukur niat untuk berperilaku sama dengan mengukur perilaku itu sendiri, karena niat dan perilaku memiliki hubungan yang kuat. Setiap perilaku bebas yang ekspresinya oleh kemauan sendiri selalu akan didahului oleh niat. Niat seseorang untuk berperilaku ditentukan oleh: (1) sikap nelayan terhadap kegiatan perikanan tangkap yang berupa evaluasi positif atau negatif nelayan terhadap manfaat kegiatan perikanan tangkap, (2) tingkat kepatuhan individu nelayan terhadap orang-orang yang berpengaruh pada dirinya agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Penelitian-penelitian berikutnya menunjukkan bahwa niat untuk berperilaku tidak dengan sendirinya menjadi perilaku, karena masih dipengaruhi faktor lain yaitu perceived behavior control (PBC) yang merupakan persepsi yang bersangkutan terhadap kendala-kendala dapat menghambat perilakunya.

Niat untuk berperilaku berbeda dengan motivasi. Bila niat untuk berperilaku menunjukkan hubungan sikap seseorang dengan perilakunya (yang kadangkala tidak sesuai), maka motivasi menekankan pada latarbelakang kebutuhan yang memengaruhi munculnya perilaku individu. Teori Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow (Maslow, 1954) menjelaskan perbedaan ini. Maslow menjelaskan bahwa setiap orang memiliki lima macam kebutuhan, yaitu kebutuha lapar, haus dilindungi dari bahaya fisik da kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), kebutuhan untuk dihargai (secara internal dan eksternal) dan kebutuhan aktualisasi untuk dirinya (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri). Maslow menunjukkan lima kebutuhan ke dalam hierarki urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman berada pada tingkat terbawah, kemudian di atasnya ada kebutuha Maslow, perbedaan kedua tingkat tersebut terjadi karena kebutuhan tingkat atas dapat dipenuhi secara internal sedangkan kebutuhan pada tingkat bawah dipenuhi secara eksternal. Teori kebutuhan Maslow telah diterima secara luas karena teori ini logis secara

Ringkasan

Perilaku merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap stimuli rangsangan atau lingkungan. Ada tiga teori yang menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan individu sehingga membentuk perilaku, yaitu teori nativisme, teori empirisme dan teori konvergensi. Setiap teori itu berusaha menjelaskan faktor-faktor lingkungan yang melatarbelakangi timbulnya perilaku. Lebih jauh teori communication and human

behavior, teori operant conditioning dan theory planned behavior telah menjelaskan

tentang bagaimana perilaku terbentuk.

Teori communication and human behavior umumnya digunakan untuk melihat faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku dan kecenderungan individu dalam berperilaku. Teori ini umumnya digunakan dalam bidang periklanan untuk memprediksi perilaku konsumen. Teori operant conditions adalah satu dari teori belajar yang berguna untuk mengubah perilaku individu melakukan pembelajaran. Teori ini menjelaskan

bahwa perilaku seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh stimulus saja. Melainkan juga dipengaruhi oleh kontrol atau usaha organisme itu sendiri.

Theory Planned Behavior (TPB) menunjukkan bahwa perilaku individu yang

ternyata tidak selalu sejalan dengan sikapnya. Teori ini melibatkan niat untuk berperilaku sebagai komponen antara sikap dan perilaku. Menurut TPB, niat untuk berperilaku

(behavior intention)= BI dipengaruhi oleh sikap dan subjective norm. Makin kuat skor

BI, maka akan makin besar kecenderungan perilaku itu dilaksanakan. Demikian pula jika

subjective norm menjadi semakin kuat maka akan mungkin perilaku itu akan

dilaksanakan.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Niat untuk Berperilaku Nelayan Artisanal

1. Sikap (Attitude)

Walaupun sikap merupakan salah satu pokok bahasan dalam psikologi sosial, para pakar masih berbeda dalam mendefinisikannya. Seperti ditunjukkan oleh beberapa definisi sikap dibawah ini:

Attitude is favorable or unfavorable evaluative reaction to ward something or someone, exhibit in one’s belief, feeling or intended behavior (Myer, 1996)

An attitude is a disposition to respond favorably or unfavorably to an object, person, institution or event (Azjen, 1975)

Attitude is a psychological tendency that expressed by evaluating a particular entity with some degree of favor or disfavor (Eagly & Chaiken, 1992)

Definisi di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan dari sikap: (1) memiliki objek tertentu (orang, perilaku, konsep, situasi, benda dan sebagainya), dan (2) mengandung penilaian (setuju-tidak setuju, suka-tidak suka).

Sikap adalah sesuatu yang dipelajari (bukan bawaan), oleh karena itu sikap lebih dapat dibentuk, dikembangkan, dipengaruhi dan diubah. Sikap berbeda dengan sifat

(trait) yang merupakan bawaan dan sulit diubah(Sarlito Wirawan Sarwono, 2002).

Sikap memiliki tiga domain, yaitu kognitif, afektif dan konatif (Triandis, 1971; Myers, 1996), agar mudah diingat ketiga domain tersebut maka diberi istilah yaitu

(2005) memerinci respon yang timbul dari ketiga domain sikap tersebut dalam bentuk respon verbal dan non-verbal. Respon verbal dari kategori kognitif yaitu ekspresi kepercayaan seorang terhadap suatu objek tertentu, kategori afektif yaitu ekspresi perasaan seorang terhadap sikap suatu objek dan aspek perilaku yaitu ekspresi seorang dalam niat untuk berperilaku. Respon non-verbal dari kategori kognitif yaitu reaksi persepsi seorang terhadap suatu objek, kategori afektif yaitu reaksi psikologi seorang terhadap objek sikap dan kategori perilaku yaitu perilaku seorang yang mengarah kepada objek sikap. Sejalan dengan hal tersebut, Triandis (1971) menjabarkan ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur sikap yang terdiri dari measurable independent variable yaitu stimuli yang terdiri dari: (a) individuals, situations, social issues, social group, (b)

intervening variable berupa attitudes dalam aspek affect, cognition dan behavior dan (c)

measurable dependent variable untuk aspek affective berupa sympathetic nervous

response, untuk aspek cognition berupa perceptual response verbal statement of beliefs

dan untuk aspek behavior berupa overt action verbal statement concerning behavior.

2. Kepatuhan kepada Patron (Subjective Norm)

Secara sederhana norma diartikan sebagai common guidelines for social action

(Abrecombie et al, 1984). Sementara itu yang dimaksud dengan norma subjektif dalam penelitian ini ialah kepatuhan nelayan kepada patronnya sebagai a person’s perception of

the social pressure upon him to perform or not perform a behavior. Kepatuhan terhadap

patron ditentukan oleh dua hal, yaitu (1) pendapat tokoh atau orang lain yang penting yang berpengaruh kepada yang bersangkutan atau (significant other). Agen ini melakukan atau tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh patron tersebut dan (2) seberapa jauh subjek akan mengikuti pendapat orang lain tersebut (motivation to comply).

Karena itu konsep kepatuhan kepada patron berupa kepatuhan individu kepada orang lain yang berpengaruh (significant other). Kepatuhan pada Patron (KP) dinyatakan oleh rumus berikut ini :

Keterangan:

KP = Kepatuhan kepada patron

n = Harapan orang-orang penting/panutan/patron (significant other) dalam hidup

m = Seberapa jauh subjek akan mengikuti pendapat tokoh (significant

other) tersebut

Kepatuhan kepada patron atau norma subjektif berbeda dengan norma. Menurut Horne (2001) norma mencakup 3 pengertian dasar, yaitu (1) norma merupakan aturan yang membolehkan atau melarang suatu perilaku atau seperangkat perilaku, (2) norma dikuatkan dengan sanksi eksternal (reward and punishment) yang dapat berupa materi atau bentuk simbolik, (3) norma berupa konsensus diantara para penganut norma tersebut. Pengertian tersebut membedakan norma dan nilai (value). Norma mempunyai sanksi yang bersifat eksternal, maka nilai (value) berasal dari sanksi yang bersifat internal. Demikian pula perbedaan norma dengan sikap (attitudes), norma dilegitimasi

oleh kelompok sedangkan sikap (attitudes) ialah a property of the individual.

3. Kemampuan Berperilaku (Perceived Behavior Control)

Ajzen (2005) menyatakan perceived behavior control ialah persepsi tentang keyakinan seseorang pada kemampuannya melakukan perilaku tertentu, apakah mudah dilakukan atau sulit dilakukan. Menyangkut perilaku nelayan, perceived behavior

control ini menggambarkan seberapa besar keyakinan individu nelayan tentang

kemampuannya melakukan perilaku kegiatan menangkap hingga memasarkan ikan. Keyakinan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang dapat memudahkan atau menyulitkan pelaksanaan pekerjaan itu. Perceived behavior control pada penelitian ini disebut sebagai Kemampuan Berperilaku (KB).

Dalam buku Social Learning Theory (1977), Bandura mendefinisikan self-efficacy

sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu. Self efficacy ini menunjukkan perasaan seorang. Dalam penelitian ini, Kemampuan Berperilaku (KB) digambarkan sebagai berikut:

Keterangan:

KB = Kemampuan berperilaku (perceived behavior control)

c = Keyakinan individu tentang kemampuannya melakukan sesuatu p = Evaluasi individu tentang kemampuannya melakukan sesuatu

Faktor Latar Belakang:

Karakteristik Individu Nelayan Artisanal

Arif Satria (2002) menyatakan bahwa karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakteristik masyarakat agraris, sesuai dengan perbedaan karakteristik sumberdaya yang dikelola. Masyarakat agraris yang diwakili oleh kaum tani menghadapi sumberdaya yang terkontrol, atau pengelolaan lahan untuk suatu komoditi dengan out put

yang relatif dapat diprediksi. Sifat produksi seperti ini memungkinkan tetapnya lokasi produksi sehingga mobilitas usaha relatif rendah dan elemen resiko-pun tidak terlalu besar. Dalam hal ini usaha pembudidayaan ikan dapat digolongkan sebagai usaha masyarakat pertanian (agraris) karena sifat sumberdaya yang dihadapi relatif mirip. Karakteristik tersebut berbeda sekali dengan nelayan, yang sumberdayanya bersifat open

access. Karakteristik seperti ini menyebabkan nelayan harus berpindah-pindah untuk

memperoleh hasil maksimal sehingga resikonya menjadi lebih tinggi. Kondisi sumberdaya yang beresiko menyebabkan masyarakat nelayan memiliki karakter keras, tegas dan terbuka.

Dalam yang sama, Arif Satria (2002) memperjelas karakteristik masyarakat nelayan di wilayah pesisir dengan menekankan beberapa aspek yaitu: (1) aspek sistem pengetahuan, (2) aspek kepercayaan, (3) peran wanita, (4) struktur sosial dan (5) posisi sosial nelayan.

Dari sistem pengetahuan, masyarakat pesisir dianggap memiliki pengetahuan tentang teknik penangkapan ikan yang didapat dari orang tua. Kuatnya pengetahuan lokal tersebut yang selanjutnya menjadi salah satu faktor penyebab terjaminnya kelangsungan hidup mereka sebagai nelayan. Dari aspek kepercayaan, masyarakat nelayan percaya bahwa laut memiliki kekuatan magis sehingga perlu ritual khusus agar selamat ketika menangkap ikan dan hasilnya banyak. Tradisi tersebut antara lain ditafsirkan dengan kebiasaan sowan ke suhu atau dukun untuk mendapat perlindungan saat melaut dan memperoleh hasil yang banyak. Seiring dengan perkembangan pendidikan dan pendalaman agama, upacara ritual itu telah menjadi simbolik untuk menjaga stabilitas sosial dalam komunitas nelayan.

Aktivitas ekonomi wanita masyarakat nelayan di wilayah pesisir umumnya relatif menonjol, selain bergelut pada urusan domestik rumah tangga istri nelayan menjalankan juga fungsi-fungsi ekonomi baik penangkapan di perairan dangkal, pengolahan ikan maupun kegiatan jasa dan perdagangan. Pada masyarakat nelayan, ada pembagian kerja yang jelas. Pria menangkap ikan dan wanita menjual ikan hasil tangkapan tersebut. Secara sosial, status nelayan relatif rendah. Di India, pada umumnya nelayan berasal dari kasta rendah. Demikian pula di Jepang, posisi nelayan terdegradasi sehingga memunculkan masalah dalam regenerasi nelayan. Hanya sedikit kalangan muda yang bersedia menjadi nelayan, meski ada berbagai fasilitas subsidi dari pemerintah. Menurunnya status nelayan di Jepang ditunjukkan oleh menurunnya minat wanita Jepang untuk menjadi istri nelayan. Situasi ini dipaparkan oleh Firth (1971) dalam buku Malay

Fishermen: Their Peasant Economny. Menurut, Firth nelayan mengalami “disrespect,

implying not merely a low economic level and small-scale semi-subsistence production, but also a low cultural, even intellectual position”

Dalam Webster New Word College Dictionary (2000), karakteristik

(characteristic) didefinisikan sebagai “a distinguish trait a quality or qualities that

distinguish something from other of its class or kind”. Dalam konteks penelitian sosial,

ciri-ciri pembeda tersebut melekatkan suatu atribut sosial yang digunakan sebagai pembeda antara individu atau kelompok individu. Lionberger (1980) menyebut hal tersebut sebagai faktor yang memengaruhi kemauan seseorang untuk menerima atau menolak difusi. Faktor ini seperti usia, pendidikan, dan karakteristik psikologi. Beberapa

peneliti lain seperti Budiono Pitojo (2006), Zulfarima (2003) mengamati karakteristik demografi petani ladang berpindah dan lahan kering yang meliputi: (1) umur, (2) pendidikan, (3) pengetahuan, (4) pengalaman berusaha tani, (5) kekosmopolitan, (6) luas lahan garapan, dan (7) pendapatan. Budiono Pitojo (2006) juga mengamati karakteristik demografi petani tepi hutan seperti (1) suku, (2) pendidikan formal, (3) pendidikan non formal, (4) luas lahan garapan, (5) status lahan garapan, (6) kekosmopolitan, (7) pendapatan yang dikeluarkan, (8) jumlah keluarga, (9) pengalaman berusaha tani, (10) umur, (11) lama tinggal di desa, (12) motivasi melestarikan hutan dan (13) kontak dengan penyuluh. Dalam bidang kajian nelayan perikanan tangkap (fishers), Wildani Pingkan Saripurna Hamzen (2007) mengamati karaktertistik nelayan seperti pendidikan rendah pendatang dan memiliki motivasi untuk maju.

Luky Adrianto (2006) dan Charles (2001) sepakat tentang karaktertistik sosial demografi nelayan. Berdasarkan karakteristik human system dalam tipologi fishery

system, terdapat beberapa karakteristik umum nelayan (fishers) yaitu pertama, nelayan

Dokumen terkait