Botani dan Sifat Tanaman Kedelai
Kedelai diduga berasal dari daratan Cina pusat dan utara. Hal ini didasarkan pada penyebaran Glycine ussuriensis, spesies yang diduga sebagai tetua Glycine max (Adie dan Krisnawati, 2007). Hancock (2005) menyatakan bahwa bukti sitogenetik menunjukkan bahwa Glycine max dan Glycine ussuriensis tergolong spesies yang sama. Berdasarkan klasifikasi Verdcourt, genus Glycine terdiri dari tiga sub-genera, yaitu Glycine, Bracteata, dan Soja. Subgenus Glycine memiliki 15 spesies liar yang pusat distribusinya ada di Australia. Klasifikasi dari Glycine max (L.) Merril adalah sebagai berikut:
Kelas : Dikotiledon Ordo : Polypetales Famili : Leguminosae Sub-Famili : Papilionideae Genus : Glycine Sub-Genus : Soja
Spesies : Glycine max
Kedelai merupakan tanaman semusim, tanaman tegak, bercabang, memiliki daun tunggal dan daun bertiga, bulu pada daun dan polong tidak terlalu padat dan umur tanaman antara 72 hari- 90 hari (Adie dan Krisnawati, 2007). Bunga kedelai berkelompok dan tergantung tipe tumbuh, terdapat 5 sampai 35 bunga pada setiap ketiak daun. Bunga kedelai termasuk bunga sempurna yang berbentuk kupu-kupu, berwarna putih atau ungu. Masa berbunga kedelai cukup panjang, berkisar antara 3-5 minggu untuk kultivar daerah iklim dingin, sedangkan untuk daerah tropik masa berbunganya lebih singkat (Hidajat, 1985).
Pandey (1987) menyatakan bagian-bagian dari tanaman kedelai antara lain akar utama, akar lateral, bintil akar, hipokotil, kotiledon, tunas axillary, petiol, dan daunnya trifoliate (pada tanaman muda terdapat daun yang unifoliate). Hidajat (1985) menyatakan daun pertama yang keluar dari buku di sebelah atas kotiledon, beberapa daun tunggal (unifoliate) terbentuk sederhana dan letaknya
berseberangan. Adie dan Krisnawati (2007) menyatakan daun kedelai terbagi menjadi empat tipe, yaitu: (1) kotiledon atau daun biji, (2) dua helai daun primer sederhana, (3) daun bertiga, dan (4) profila.
Pandey (1987) menyatakan bahwa akar kedelai dapat memfiksasi nitrogen dari udara. Nitrogen hasil fiksasi tersebut sebagian disimpan di dalam tanah. Adie dan Krisnawati (2007) menyatakan akar tanaman kedelai termasuk akar tunggang, akar tunggang dapat mencapai kedalaman 200 cm, namun pada pertanaman tunggal dapat mencapai 250 cm. Akar tunggang terbentuk dari calon akar dan bintil akar pertama terlihat pada 10 hari setelah tanam. Purwaningsih (2000) menyatakan bahwa hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian inokulum Rhizobium dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman kedelai dan meningkatkan hasil panen polong.
Batang dan daun ditumbuhi bulu berwarna abu-abu atau coklat, tetapi ada juga varietas kedelai yang tidak berbulu. Pertumbuhan batang dapat dibedakan atas tiga tipe, yaitu determinat, semideterminet, dan indeterminat. Tipe tumbuh determinat dan indeterminat memiliki ciri khas yang berbeda, sedangkan tipe semi determinat memiliki ciri gabungan antara tipe determinat dan indeterminat (Tabel 1). Jumlah buku dan ruas yang membentuk batang utama tergantung dari reaksi genotipe terhadap panjang hari dan tipe tumbuh (Hidajat, 1985).
Tabel 1. Tipe Tumbuh Tanaman Kedelai
Sifat Tipe Determinat Tipe Indeterminat Pertumbuhan vegetative Berhenti setelah berbunga Berlanjut setelah berbunga Jumlah buku setelah
berbunga
Tidak bertambah Bertambah
Masa berbunga Tidak lama Lama
Mulai berbunga Lebih lama Lebih cepat
Jumlah bunga yang terbuka setiap hari
Banyak Sedikit
Bentuk tanaman Agak silindris Agak konis Ujung batang Hampir sama besar dengan
batang bagian tengah
Lebih kecil dari batang bagian tengah
Batang Pendek-sedang Tinggi, melilit
Daun Daun teratas sama besar
dengan daun pada bagian tengah
Daun teratas lebih kecil dari daun pada batang bagian tengah
Pandey (1987) menyatakan hanya sekitar 40 % dari semua bunga yang berkembang menjadi polong. Temperatur yang tinggi (sekitar 350C), kekeringan, dan kekurangan hara pada fase berbunga dapat menyebabkan jumlah polong muda menurun. Hidajat (1985) menyatakan pembentukan polong membutuhkan waktu sekitar 21 hari. Polong terbentuk 10-14 hari setelah bunga pertama muncul. Tiap polong berisi 2-4 biji, ukuran dan berat biji tergantung varietas.
Tabel 2. Uraian Stadia Vegetatif Tanaman Kedelai
Stadium Tingkatan Stadium Uraian
VE Stadium pemunculan Kotiledon muncul dari dalam tanah
VC Stadium kotiledon Daun unifoliat berkembang
V1 Stadium buku pertama Daun terurai pada buku unifoliat
V2 Stadium buku kedua Daun bertiga yang terurai penuh pada buku di
atas buku unifoliat
V3 Stadium buku ketiga Tiga buah buku pada batang utama dengan
daun terurai penuh
Vn Stadium buku ke-n n buku pada batang utama dengan daun terurai
penuh
Sumber: Hidajat (1985)
Tabel 3. Uraian Stadia Generatif Tanaman Kedelai
Stadium Tingkatan Stadium Uraian
R1 Mulai berbunga Bunga terbuka pertama pada buku manapun di
batang utama
R2 Berbunga penuh Bunga terbuka pada salah satu dari dua buku
teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh
R3 Mulai berpolong Polong sepanjang 5 mm pada salah satu dari 4
buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh
R4 Berpolong penuh Polong sepanjang 2 cm pada salah satu dari 4
buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh
R5 Mulai berbiji Polong sepanjang 3 mm dalam polong di salah
satu dari 4 buku teratas dengan daun terbuka penuh
R6 Berbiji penuh Polong berisi satu biji hijau di salah satu dari 4
buku teratas pada batang utama dengan daun terbuka penuh
R7 Mulai matang Satu polong pada batang utama telah mencapai
warna polong matang
R8 Matang penuh 95 % polong telah mencapai warna polong
matang
Uraian stadia vegetatif dan generatif dapat terlihat pada Tabel 2 dan Tabel 3. Stadia vegetatif tergantung genotipe dan lingkungan, terutama panjang hari dan suhu. Di daerah tropis, stadia vegetatif sebagian besar kultivar berkisar pada 4-5 minggu. Periode vegetatif dihitung sejak tanaman muncul dari dalam tanah. Setelah stadia kotiledon, penandaan stadia vegetatif berdasarkan jumlah buku (Hidajat, 1985).
Arsyad et al. (2007) menyatakan bahwa tipe tanaman ideal (plant-ideotipe) yang berdaya hasil tinggi dan dianggap sesuai untuk lahan sawah adalah memiliki umur berbunga 35-37 hari, umur masak 70-80 hari, tipe tumbuh determinate, tinggi tanaman 60 cm-70 cm, percabangan cukup banyak (4-5 cabang), daun berukuran sedang (seperti Wilis) dan berwarna hijau, batang kokoh (tidak mudah rebah), biji besar (14 g/100 biji).
Syarat Tumbuh Kedelai
Komponen lingkungan yang menjadi penentu keberhasilan produksi kedelai adalah faktor iklim, kesuburan tanah dan biologi tanah, serta serangan hama, penyakit, dan gulma. Iklim dan tanah merupakan faktor lingkungan yang sangat menentukan keberhasilan budidaya kedelai. Kedelai memerlukan suhu optimal antara 220-270C dan curah hujan antara 50-125 mm/bulan (Sumarno dan Manshuri, 2007). Kedelai cocok untuk ditanam pada pH 5.5-6.5 dan ketersediaan P2O5 yang tinggi (Pandey, 1987). Tanaman kedelai pada tanah yang bereaksi basa
(pH > 7) menunjukkan gejala klorosis (daun muda berwarna kuning, ujung daun berwarna coklat) karena unsur besi (Fe) menjadi tidak tersedia bagi tanaman (Sumarno dan Manshuri, 2007).
Syamsiar dan Idris (2006) menyatakan bahwa lahan yang banyak digunakan untuk menanam kedelai di Indonesia adalah lahan sawah dan lahan tegalan. Penggunaan lahan sawah lebih menguntungkan karena lahan bekas tanaman padi mudah diolah dan masih banyak mengandung unsur hara yang diperlukan oleh tanaman kedelai. Jerami yang terdapat di lahan sawah dapat dijadikan sebagai mulsa untuk menghambat pertumbuhan gulma dan menghambat evaporasi air.
Jerami yang sudah lapuk dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk menyuburkan tanah sehingga tanah menjadi gembur.
Sumarno dan Manshuri (2007) menyatakan akar tanaman kedelai lebih mudah berkembang pada tanah gembur yang mengandung liat berpasir dengan struktur tidak terlalu ringan. Kandungan bahan organik tanah yang cukup berguna mendukung perkembangan Rhizobium sp., perbaikan drainase tanah, peningkatan kapasitas menyimpan kelembaban tanah, dan mempermudah pertumbuhan akar tanaman. Rhizobium sp. yang hidup pada akar dan bersimbiosis dengan tanaman kedelai sangat penting bagi pertumbuhan kedelai. Rhizobium sp. pada umumnya memiliki persyaratan hidup yang sama dengan persyaratan tumbuh kedelai.
Harsono et al. (2007) menyatakan kedelai ditanam di lahan sawah pada musim kemarau (MK I) dan MK II setelah tanaman padi dengan mengikuti pola tanam pada-padi-kedelai atau padi-kedelai-kedelai atau tanaman palawija yang lainnya. Curah hujan masih tinggi pada MK I (Maret-Juni) sehingga diperlukan saluran drainase untuk mengurangi genangan. Kandungan air tanah pada kapasitas lapang merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman kedelai.
Sumarno dan Manshuri (2007) menyatakan kedelai termasuk tanaman golongan strata C3 yang memerlukan penyinaran matahari secara penuh. Pengurangan radiasi matahari pada awal pertumbuhan vegetatif akan menghambat pertumbuhan tanaman, sedangkan radiasi sinar matahari yang berlebihan akan mengakibatkan cekaman terhadap tanaman karena terjadinya peningkatan suhu daun yang meningkatkan laju evapotranspirasi. Ditinjau dari kelimpahan penyinaran matahari, tanaman kedelai lebih optimal jika ditanam pada akhir musim hujan (Maret-April) atau musim kemarau (Juli-Agustus) dengan menjaga ketersediaan air irigasi.
Pemuliaan Kedelai
Menurut Arsyad, et al. (2007) perakitan varietas diarahkan untuk menghasilkan varietas baru guna meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Strategi perakitan varietas ditujukan untuk mengatasi permasalahan atau hambatan produksi pada agroekosistem yang bersangkutan yang meliputi
permasalahan biologis dan non biologis, peluang keberhasilan, dan kemungkinan pengembangan di masa mendatang.
Menurut Arsyad, et al. (2007) langkah yang ditempuh pada pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri pada dasarnya terdiri dari introduksi, seleksi, hibridisasi, seleksi setelah hibridisasi, evaluasi dan pengujian, serta pelepasan varietas. Poespodarsono (1988) menyatakan bahwa dengan mengintroduksi tanaman dapat menambah genotipe tanaman di daerah tersebut dan menambah keanekaragaman plasma nutfah yang ada di daerah tersebut. Varietas hasil introduksi dapat menjadi bahan yang baik untuk meningkatkan keunggulan varietas yang sudah ada.
Suprapto dan Khaerudin (2007) menyatakan populasi dasar dengan variasi genetik yang tinggi merupakan bahan pemuliaan yang penting untuk perakitan varietas unggul. Populasi dasar yang memiliki variasi genetik yang tinggi akan memberikan respon yang baik terhadap seleksi karena variasi genetik yang tinggi akan memberikan peluang besar untuk mendapatkan kombinasi persilangan yang tepat dengan gabungan sifat-sifat yang baik.
Arsyad et al. (2007) menyatakan metode yang biasa digunakan untuk seleksi terhadap calon tetua adalah seleksi galur atau seleksi massa selanjutnya pembentukan genotipe dilakukan melalui persilangan buatan (artificial hybridization) antara individu-indvidu yang memiliki sifat-sifat yang berbeda. Persilangan buatan bertujuan menimbulkan keragaman genetik dan menggabungkan sifat-sifat baik yang diinginkan dari kedua tetua ke dalam suatu genotipe baru. Cara lain yang bisa digunakan untuk menimbulkan keragaman genetik adalah dengan mutasi.
Poespodarsono (1988) menyatakan hibridisasi bertujuan untuk memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipenya. Pemilihan tetua untuk sifat kualitatif relatif mudah karena perbedaan penampakan tetua menunjukan perbedaan gen pengendali sifat tersebut, sedangkan pemilihan tetua untuk sifat kuantitatif jauh lebih sulit karena perbedaan penotipe belum tentu disebabkan oleh perbedaan genotipenya.
Arsyad et al. (2007) menyatakan bahan pemuliaan yang diperoleh dari persilangan kemudian diseleksi dengan beberapa metode, yaitu pedigree (silsilah), bulk, single seed descent (penurunan satu biji), dan silang balik (backdross). Seleksi galur (individu) dapat dilakukan apabila di dalam suatu populasi terdapat individu yang memiliki sifat (keragaan) yang diinginkan. Individu hasil seleksi tersebut dikembangkan dan diuji lebih lanjut sehingga diperoleh galur-galur yang homozigot (seragam) sebagai calon varietas baru. Pinaria et al., (1995) menyatakan seleksi merupakan bagian penting dari prog pemuliaan tanaman untuk memperbesar peluang mendapatkan genotipe yang unggul.
Populasi yang berasal dari persilangan memiliki keragaman genetik dan frekuensi genotipe heterozigot terbesar pada generasi F2 kemudian pada generasi- generasi selanjutnya proporsi genotipe heterozigot akan berkurang 50 % untuk setiap generasi selfing. Ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu pada generasi keberapa seleksi dilakukan dan bagaimana metode penggaluran (inbreeding) yang digunakan (Arsyad et al., 2007). Sumarno (1985) menyatakan galur asal F4 atau F5 sudah menunjukan tingkat kemurnian yang cukup sehingga sudah dapat diuji. Adapun cirri-ciri galur murni yang terlihat antara lain adalah : Penampilan yang seragam dari sifat morfologi dan keturunan dari galur murni menunjukan sifat yang tidak berbeda.
Pengujian galur-galur homozigot (generasi lanjut) merupakan aspek penting dalam prog perakitan varietas baru. Pemulia harus memutuskan apakah suatu galur memiliki sifat-sifat kuantitatif yang diinginkan pada berbagai kondisi lingkungan. Jumlah lokasi dan musim tidak dipengaruhi oleh metode penggaluran yang digunakan. Galur-galur homozigot yang dipilih dengan menggunakan metode bulk, seleksi massa, dan single seed descent umumnya dievaluasi terlebih dahulu selama satu musim untuk sifat-sifat yang memiliki heritabilitas tinggi dan kemudian galur-galur yang superior masuk pada tahap pengujian (Arsyad et al., 2007).
Tujuan pengujian pada generasi awal adalah untuk memilih galur atau populasi yang memiliki potensi hasil yang tinggi, selanjutnya dari populasi yang berpotensi hasil yang tinggi akan menjadi galur-galur murni yang akan
dikembangkan. Pengujian daya hasil dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu: (1) Uji Daya Hasil Pendahuluan, (2) Uji Daya Hasil Lanjutan, (3) Uji Multilokasi (Poespodarsono, 1988).
Pengujian tahap awal (uji daya hasil pendahuluan) diutamakan 50-60 galur homozigot di lokasi yang terbatas (1-2 lokasi). Pengujian daya hasil lanjutan diuji 15-20 galur di 4-5 lokasi selanjutnya dalam uji multilokasi diuji 8-10 galur di 10-12 lokasi selama dua musim tanam. Ukuran petak percobaan pada pengujian daya hasil pendahuluan lebih kecil (6-8 m2) dibandingkan dengan pengujian daya hasil lanjutan dan uji multi lokasi (10-15 m2) (Arsyad et al., 2007).
Galur-galur yang telah melalui tahap pengujian daya hasil (pendahuluan, lanjutan, dan multilokasi) dan menunjukan keragaan yang lebih superior dan lebih stabil serta memiliki sifat unggul lainnya dibandingkan dengan varietas pembanding dapat diusulkan untuk dilepas menjadi varietas baru. Risalah galur harapan yang meliputi asal galur, metode seleksi dan pengujian, serta hasil-hasil pengujian berbagai sifat, diajukan kepada Badan Benih Nasional (Tim Penilai dan Pelepas Varietas) yang akan menilai apakah galur yang diajukan tersebut memenuhi persyaratan. Penggunaan nama untuk varietas baru kedelai biasanya menggunakan nama gunung, namun telah ada aturan baru bahwa pemberian nama tidak boleh menggunakan nama-nama alam, termasuk gunung (Arsyad et al., 2007).
Arsyad, et al. (2007) menyatakan dalam periode (1995-2005) telah dilepas sebanyak 18 varietas kedelai kuning yang cocok dikembangkan pada lahan sawah (Tabel 4). Empat belas diantaranya dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, tiga varietas (Malayang, Baluran, Merubetiri) oleh perguruan tinggi (Universitas Padjadjaran dan Universitas Jember), satu varietas (Meratus) dihasilkan oleh BATAN. Varietas-varietas tersebut umumnya memiliki potensi hasil antara (2.0-2.6 ton/ha), kecuali varietas genjah. Sementara itu, ada 64 varietas kedelai kuning yang sudah dilepas di Indonesia pada periode 1918-2008 (Balitkabi, 2008). Hal ini menunjukan bahwa penelitian kedelai berbiji kuning sudah banyak dilakukan oleh Badan Litbang Pertanian ataupun oleh universitas. Namun, penelitian terhadap kedelai berbiji hitam masih jarang dilakukan dan varietas
kedelai hitam yang sudah dilepas jumlahnya masih sedikit. Varietas kedelai hitam baru dilepas sebanyak tujuh varietas dari tahun 1918–2008. Satu diantaranya dihasilkan oleh Universitas Gajah Mada (Balitkabi, 2008). Tabel 4 dan Tabel 5 di bawah ini menunjukan beberapa varietas kedelai kuning dan kedelai hitam yang ada di Indonesia.
Tabel 4. Varietas Kedelai Adaptif Lahan Sawah yang Sudah Dilepas pada Periode (1995-2005) Varietas Tahun dilepas Potensi Hasil (ton/ha) Umur (Hari) Warna Biji Ketahanan terhadap karat daun
Pangrango 1995 2.1 88 Kuning Tahan
Kawi 1998 2.0 88 Kuning Agak tahan
Bromo 1998 2.5 85 Kuning Agak tahan
Leuser 1998 2.3 78 Kuning Agak tahan
Argomulyo 1998 2.2 80 Kuning Agak tahan
Meratus 1998 1.4 75 Kuning Agak tahan
Burangrang 1999 2.5 82 Kuning Tahan
Manglayang 1999 2.4 89 Kuning Agak tahan
Kaba 2001 2.4 85 Kuning Agak tahan
Sinabung 2001 2.4 88 Kuning Agak tahan
Anjasmoro 2001 2.5 85 Kuning Agak tahan
Mahameru 2001 2.5 85 Kuning Agak tahan
Baluran 2002 2.5 80 Kuning - Merubetiri 2002 2.5 95 Kuning - Ijen 2003 2.5 88 Kuning - Panderman 2003 2.5 85 Kuning - Gumitir 2005 2.4 81 Kuning- kehijauan - Argopuro 2005 2.6 84 Kuning -
Sumber : Arsyad et al. (2007)
Tabel 5. Varietas Kedelai Hitam yang Sudah Dilepas (1918-2008)
Varietas Tahun
dilepas
Potensi Hasil (ton/ha)
Umur
(Hari) Warna Biji
Ketahanan terhadap karat daun Otau 1918 1.0–1.2 90–100 Hitam - No.27 1919 1.0–1.2 90–100 Hitam - Merapi 1938 1.0 85 Hitam - Cikuray 1992 1.7 82–85 Hitam - Mallika 2007 2.9 85-90 Hitam - Detam 1 2008 2,51 84 Hitam - Detam 2 2008 2,46 82 Hitam - Sumber : Balitkabi (2008)
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan pada lahan sawah di Desa Tegalaren Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dan di Laboratorium RGCI Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini yaitu pada bulan April sampai Agustus tahun 2010.
Bahan dan Alat
Bahan yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu 33 galur kedelai hasil pemuliaan Departemen Agronomi dan Hortikultura yang terdiri dari: SSD-7, SSD-10, SSD-13, SSD-17, SSD-18, SSD-20, SSD-21, SSD-23, SSD-24, SSD-27, SSD-28, SSD-33, SSD-38, SSD-39, SSD-44, SSD-46, SSD-47, SSD-51, SSD-54, SSD-66, SSD-69, SSD-75, SDD-80, SSD-81, SSD-82, SSD-84, SSD-91, SSD-94, SSD-96, SSD-101, SSD-102, dan SC-39-1, serta SC-68-2. Empat varietas pembanding yaitu Sindoro, Cikuray, Ceneng, dan Wilis. Pupuk dasar yang digunakan adalah urea 30 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, dan KCl 75 kg/ha, serta Inokulan rhizobium dengan dosis 250 g/40 kg benih. Huruf SSD pada nama galur menunjukan bahwa galur tersebut diperoleh melalui metode single seed descend dan huruf SC pada nama galur menunjukan bahwa tetua galur tersebut adalah varietas Slamet dan Ceneng dan diperoleh dengan metode seleksi bulk.
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan galur harapan sebagai perlakuan. Perlakuan terdiri dari 33 galur kedelai serta tiga varietas komersial satu vatietas lokal sebagai pembanding. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 111 petak percobaan. Luas yang digunakan adalah 1 700 m2 yang terbagi menjadi tiga kelompok sebagai ulangan, setiap ulangan terdiri atas 37 satuan petak percobaan berukuran 3 m x 4 m. Model aditif yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
Yij = µ + αi + βj + εij
Keterangan: Yij = tanggapan peubah yang diamati pada kelompok ulangan ke-i
dan galur ke-j
µ = rataan umum peubah yang diamati
αi = pengaruh kelompok ulangan ke-i di mana i = 1, 2, 3
βj = pengaruh galur ke-j di mana j = 1, 2, 3,…., 37
εij = galat percobaan pada kelompok ke-i dan galur ke-j
Pelaksanaan Percobaan
Tanah diolah sedalam kurang lebih 30 cm (lapisan bajak) dengan cara dibalik menggunakan cangkul. Setelah diolah, dibuat petak-petak dengan ukuran 3 m x 4 m sebanyak 37 buah petak tiap ulangan. Jumlah ulangan dalam percobaan ini sebanyak tiga ulangan. Jarak antar petak dalam ulangan selebar 20 cm dan jarak antar ulangan 50 cm.
Sebelum ditanam, benih dicampur dengan inokulan rhizobium. Benih ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 25 cm dengan tiga benih tiap lubang. Petakan yang telah ditanami ditutupi lapisan jerami yang tipis. Pupuk yang digunakan adalah Urea 30 kg/ha, SP-36 150 kg/ha, dan KCl 75 kg/ha. Pupuk diberikan pada saat 3 Minggu Setelah Tanam (MST) dengan disebar pada petak tanaman. Penyiangan dilakukan sebanyak dua kali, selama pemeliharaan dilakukan pengaturan drainase dan pengendalian hama dan penyakit.
Panen dilakukan pada tiap petak percobaan. Tanaman dipanen ketika lebih dari 95 % polong berwarna coklat, daun-daun menguning, gugur, dan batang telah kering. Perlakuan setelah panen meliputi penjemuran berangkasan kedelai selama 3-7 hari, kemudian dilakukan pemecahan polong dan biji dijemur kembali selama 2-3 hari sebelum disimpan.
Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap:
A. Pengamatan pada setiap petak percobaan
1. Daya berkecambah benih (%), yaitu persentase daya berkecambah benih saat 1 MST.
2. Populasi saat panen, yaitu jumlah tanaman yang dipanen per plot ubinan. 3. Umur berbunga (HST), yaitu pada saat 80 % tanaman telah berbunga
dalam satuan petak percobaan.
4. Umur panen (HST), yaitu pada saat 95 % polong tanaman berwarna kuning kecokelatan atau daun telah gugur
5. Bobot biji per ubinan (g/2 m2), yaitu hasil bobot total biji kering panen per ubinan.
6. Hama, penyakit, dan gulma yang berada di lahan
B. Pengamatan pada masing-masing contoh, yaitu dengan mengambil 10 tanaman contoh secara acak pada setiap ulangan. Semua pengamatan dilakukan pada saat panen. Peubah-peubah yang diamati pada penelitian ini antara lain:
1. Tinggi tanaman saat panen (cm), yaitu tinggi tanaman dari pangkal batang tanaman sampai titik tumbuh.
2. Jumlah cabang produktif, yaitu jumlah cabang yang menghasilkan polong. 3. Jumlah buku produktif, yaitu jumlah buku yang memiliki polong.
4. Jumlah polong bernas, yaitu jumlah polong yang menghasilkan biji. 5. Jumlah polong hampa, yaitu jumlah polong yang tidak menghasilkan biji. 6. Bobot 100 butir biji (g), yaitu bobot 100 biji kering panen.
7. Bobot biji per tanaman (g), yaitu bobot total biji kering panen per tanaman.
Analisis Data
Data diuji dengan uji normalitas terlebih dahulu untuk mengetahui penyebaran galatnya kemudian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam (Tabel 6) dan apabila hasilnya berbeda nyata pada uji F dilanjutkan dengan uji Dunnett pada taraf 5%. Hubungan antar karakter dianalisis dengan menghitung
nilai koefisien korelasi Pearson. Masing-masing nilai koefisien korelasi diuji pada taraf nyata 5 % (Gomez dan Gomez, 1995).
Tabel 6. Sidik Ragam-Peragam dan Komponen Pendugaan Ragam Sumber
Keragaman Derajat Bebas Kuadrat Tengah E(KT)
Ulangan r-1 Galur g-1 KTG 2 e + r g2 Galat (r-1)(g-1) KTE 2 e
Cara pendugaan komponen ragam, heritabilitas, dan koefisien keragaman genetik (KKG) diperoleh dengan cara sebagai berikut:
1. Ragam lingkungan (e2) merupakan varian galat atau pengaruh lingkungan
yang menyebabkan terjadinya perbedaan penampilan dari karakter-karakter yang diamati, sehingga
2
e
= KT galat = KTE
2. Ragam fenotipik (2p) merupakan hasil pengamatan di lapang, karena percobaan diulang sebanyak tiga kali, sehingga
2
p
= ( 2e)/r + 2g
3. Ragam genetik (g2) merupakan pengaruh genetik terhadap penampilan dari karakter-karakter yang diamati. Ragam genetik dapat diduga dari:
2
g
= (KTG-KTE)/r
Nilai heritabilitas (dalam arti luas) yang merupakan perbandingan dari ragam genetik terhadap keragaman total dalam populasi dapat diduga dengan perhitungan (Poehlman and Sleper, 1995):
2 bs h = 100% 2 2 x p g
Keterangan:
2
bs
h = heritabilitas dalam arti luas
2 g = ragam genetik 2 p = ragam fenotipik
Allard (1960) mengemukakan bahwa setiap sebaran data pada masing- masing karakter pengamatan pada populasi dapat dihitung nilai koefisien keragaman genetiknya (KKG) yang merupakan nisbah antara akar kuadrat tengah ragam genetik dengan rataan umum. Nilai KKG dapat dihitung melalui rumus:
KKG = X g 2
x 100 % Keterangan:KKG = koefisien keragaman genetik
2
g
= ragam genetik X = rataan populasi
Hubungan antar karakter galur dianalisis dengan menghitung nilai koefisien