• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen HERBETH TARULI YOHANES MARPAUNG (Halaman 20-26)

2.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian

Taman Nasional Wakatobi terletak di Kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara. Dalam sejarahnya, kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Buton. Kabupaten ini terbentuk pada tahun 2004 dengan ibu kota Wanci. Kabupaten Wakatobi memiliki 8 kecamatan, antara lain Kecamatan Wangi-Wangi, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kecamatan Kaledupa,

Kecamatan Kaledupa Selatan, Kecamatan Tomia, Kecamatan Tomia Timur, dan Kecamatan Binongko, dan Kecamatan Togo Binongko. Berdasarkan Taman Nasional Wakatobi (2008) pada tahun 2006 data yang dikeluarkan oleh Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wakatobi jumlah penduduk di Kabupaten Wakatobi mencapai 97.065 jiwa, yang terdiri dari 48.530 berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan sebesar 48.535 jiwa. Penduduk berasal dari bermacam etnis, yaitu etnis Wakatobi asli, Bugis, Buton, Jawa, dan Bajau. Sebagian besar penduduk menganut agama Islam. Tingkat pendidikan masyarakat masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat tingkat pendidikan masyarakat yang sebagian besar hanya menyelesaikan tingkat pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar (SD), hanya sebagian kecil dari masyarakat yang

menyelesaikan sampai jenjang Sekolah Menengah Umum (SMU) dan perguruan tinggi.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri No.393/KPTS-VI/1996 pada

tanggal 30 Juli 1996 menetapkan Kabupaten Buton memiliki taman nasional yang bernama Taman Nasional Kepulauan Wakatobi. Pada tahun 2006 dengan

terbitnya Peraturan Menteri Kehutanan No.P.29 yang menetapkan pergantian nama Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) menjadi Taman Nasional Wakatobi (TNW). Berdasarkan geografis, Taman Nasional Wakatobi merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Sulawesi Tenggara. Pada awalnya Kabupaten Wakatobi bukan lah kabupaten melainkan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Buton. Pada tahun 2004 terbentuk Kabupaten Wakatobi yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Buton dengan ibu kota Wanci.

Kabupaten Wakatobi memiliki 4 buah pulau utama, yaitu Pulau Wangi wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Secara geografis Kabupaten Wakatobi terletak 123o1500- 124o4500BT dan 05o1500- 06o10’00 LS.

Taman Nasional Wakatobi merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki berbagai ekosistem asli yang dikelola dalam sistem zonasi yang berguna untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, budidaya, pariwisata, dan rekreasi wisata. Taman Nasional Wakatobi memiliki luas sebesar 1.390.000 Ha yang terletak pada batasan-batasan wilayah bagian utara dibatasi oleh laut Banda, bagian selatan dibatasi oleh laut Flores, bagian timur dibatasi oleh laut Banda, bagian barat dibatasi oleh laut Banda. Letak secara administrasi Taman Nasional Wakatobi terletak di Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara. Taman Nasional Wakatobi sering disebut dengan Kepulauan Tukang Besi.

2.2 Sistem Informasi Geografis

Sistem informasi Geografis merupakan suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, data geografis, dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui,

7

mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisis, dan menampilkan data dalam suatu informasi geografis.

Aplikasi SIG dapat diaplikasikan di berbagai ekosistem, baik ekosistem terestrial maupun ekosistem pesisir. Aplikasi SIG juga bisa diaplikasikan untuk pengaturan tata ruang pengelolaan wilayah pesisir dan laut (Purwadhi et al, 1998).

Perkembangan teknologi SIG telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai

penelitian baik penelitian yang dilakukan di daerah terrestrial maupun daerah laut.

2.3 Wilayah Larang Ambil (No-Take Area)

Wilayah larang ambil merupakan suatu wilayah yang terletak di laut yang bertujuan untuk menjaga kelestarian ekosistem yang ada pada wilayah tersebut agar sumber daya alam yang ada tidak punah atau terdegradasi. Wilayah larang ambil dikenal dengan istilah lain yang dikenal sebagai Daerah Perlindungan Laut atau Marine Protected Area adalah suatu wilayah yang sengaja dibuat untuk melindungi, memperbaiki, dan mempertahankan produksi perikanan di sekitar lokasi daerah perlindungan laut (Wahyuni et al, 2008). Daerah perlindungan laut telah diidentifikasi sebagai alat yang paling efektif untuk konservasi terumbu karang dan sistem laut lainnya (Palumbi, 2003) tetapi daerah perlindungan laut tidaklah efektif jika pengelolaannya tidak dikaitkan dengan perubahan iklim dan tekanan manusia. Sistem wilayah larang ambil yang ideal akan diintegrasikan dengan sistem pengelolaan pesisir agar tejadi kontrol yang efektif untuk

menghambat ancaman yang berasal dari hulu dan menjaga kualitas air (Done dan Reichelt, 1998).

Menurut Agardy dalam Bengen (2002), dalam pemilihan wilayah larang ambil diperlukan 3 tahapan dalam pemilihan tersebut :

1. Identifikasi habitat atau lingkungan kritis, distribusi ikan ekologis, dan ekonomis penting yang dilanjutkan dengan memetakan informasi tersebut dalam sistem infomasi geografis.

2. Mengetahui tingkat pemanfaatan sumberdaya dan mengidentifikasi sumber-sumber degradasi konservasi.

3. Dalam penentuan lokasi yang diprioritaskan dapat menjadi wilayah larang ambil harus didasarkan pada proses perencanaan lokasi.

Dalam pengembangan wilayah larang ambil dapat dilaksanakan dengan 3 pendekatan (UNCLOS pasal 61-68) yakni pendekatan pertama melalui pengaturan dan pengelolaan kegiatan individual di sektor kelautan, misalnya kegiatan

perikanan tangkap komersil yang dilaksanakan pemerintah dengan koordinasi dengan banyak lembaga. Biasanya hubungan koordinasi ini sangat lemah

sehingga pendekatan pertama ini sangat tidak efektif dalam pengelolaan wilayah larang ambil tersebut (Kelleher dan Kenchington, 1991 dalam Robert dan

Hawkins, 2000). Pendekatan kedua melalui pembentukan wilayah larang ambil dalam skala kecil atau skala desa yang memiliki wilayah laut yang bertujuan untuk memberikan yang bernilai tinggi dengan peraturan formal ataupun peraturan lainnya, seperti peraturan adat. Pendekatan ketiga, pendekatan ini merupakan pendekatan yang terbaru. Pendekatan ini melalui pembentukan wilayah larang ambil yang serba guna yang menggunakan prinsip terpadu dalam mengelola suatu kawasan sampai dengan koordinasi antara wilayah laut dengan wilayah darat di kawasan pesisir.

9

2.4 MARXAN (Marine Reserve Design Using Spatially Explicit Annealing)

Marxan merupakan perangkat lunak yang dikembangkan untuk membantu merancang sistem konservasi ekosistem laut. Marxan merupakan pengembangan dari perangkat lunak Spexan yang dibuat untuk merancang daerah konservasi terestrial. Pengoperasionalan kinerja marxan berlangsung secara langsung, pengelola/designer wilayah konservasi dapat mencoba berbagai skenario dan dapat melihat hasil dari skenario yang diinginkan (Meerman, 2005).

Perangkat lunak marxan bekerja menggunakan algoritma simulated annealing dengan prinsip kerja terbagi menjadi tiga tahap yaitu iterative

improvement, random backward, dan repetition. Langkah ini dapat dianalogikan dengan peluncuran beberapa robot (Sihite et al., 2007). Robot yang memiliki empat lengan akan diturunkan untuk melakukan misi pencarian permukaan yang paling rendah pada suatu wilayah. Robot tersebut akan mengukur tinggi

permukaan secara langsung. Ketika sampai di permukaan, daerah yang diukur oleh lengan robot memiliki permukaan yang lebih rendah daripada permukaan dibawah badan robot maka robot akan bergerak menuju permukaan yang diukur oleh lengan robot yang memiliki tinggi permukaan yang lebih rendah. Langkah ini ini disebut iterative improvement. Langkah ini memiliki kelemahan, robot tidak dapat bergerak menuju permukaan yang lebih tinggi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut robot diperintahkan untuk mundur terlebih dahulu setelah mendarat dan belum sampai pada dasar lembah yang baru, langkah tersebut dinamakan random backward. Kesatupaduan langkah iterative improvement dan random backward yang berguna untuk meningkatkan frekuensi pertemuan dengan daerah yang lebih

rendah dengan mengulangi langkah iterative improvement dan random backward.

Langkah ini dinamakan repetition.

11

Dalam dokumen HERBETH TARULI YOHANES MARPAUNG (Halaman 20-26)

Dokumen terkait