2.1.Televisi
2.1.1.Pengertian Televisi
Televisi berasal dari dua kata yang berbeda asalnya, yaitu tele (bahasa Yunani) yang berarti jauh, dan visi (bahasa Latin-videra) berarti penglihatan. Dengan demikian televisi yang dalam bahasa Inggrisnya television diartikan dengan “melihat jauh”.Jadi, televisi adalah suatu alat komunikasi yang tampak atau dapat dilihat dari jarak jauh.
Televisi merupakan media komunikasi yang disajikan dengan menggunakan bentuk suara dan gambar. Sehingga media televisi adalah media komunikasi yang dapat menyajikan informasi yang dapat ditangkap melalui dua indra yaitu penglihatan dan pendengaran yang disajikan melalui tayangan – tayangan.
16
17
2.1.2. Sejarah televisi
Pada hakikatnya, media televisi lahir karena perkembangan teknologi. Bermula dari ditemukannya electrische telescop sebagai perwujudan gagasan seorang mahasiswa dari Berlin (Jerman Timur) yang bernama Paul Nipkov, untuk mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ketempat lain. Hal ini terjadi antara tahun 1883-1884. Akhirnya Nipkov diakui sebagai bapak televisi.18
Televisi mulai dapat dinikmati oleh publik Amerika Serikat pada tahun 1939, yaitu ketika berlangsungnya “World’s Fair” di New York, namun sempat terhenti ketika terjadi perang dunia II. Baru setelah tahun 1946, kegiatan dalam bidang televisi tersebut tampak mulai lagi.17 Industri televisi nasional pertama kali ditandai dengan mengudaranya Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada tahun 1962.
Pada tahun 1989 dimulailah era pertumbuhan televisi swasta yang ditandai oleh mengudaranya Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sebagai stasiun televisi pertama yang kemudian diikuti dengan keluarnya izin penyiaran bagi Surya Citra Televisi (SCTV) ditahun 1990.
19
18
Pada perkembangan berikut bermunculan berbagai fenomena munculnya televisi swasta.
Berdasarkan data dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) saat ini di Indonesia telah beroperasi 11 stasiun televisi nasional. Selain televisi nasional melalui undang-undang No 32 tahun 2002 yang mengatur tentang penyiaran, pemerintah secara resmi mengizinkan berdirinya stasiun lokal di Indonesia. Saat ini diperkirakan lebih dari 100 stasiun televisi lokal yang beroperasi di seluruh wilayah Nusantara.
20
19
2.1.3. Fungsi televisi
Televisi merupakan salah satu media yang paling efektif dalam menyampaikan pesannya. Televisi adalah media elektronik sebagai sarana komunikasi yang mampu menjangkau khalayak yang relatif besar.21 Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari sembilan puluh persen penduduk di negara-negara
berkembang.22 Televisi sebagai media komunikasi mempunyai tiga fungsi yaitu : informasi, pendidikan dan hiburan.23
2.1.4. Waktu untuk menonton televisi
Meskipun Children’s Television Act of 1990 telah membatasi program televisi untuk anak 10,5 menit/jam dalam satu minggu dan 12 menit/jam pada akhir minggu, namun banyak anak yang menonton televisi hampir 16 menit/jam. Setiap anak menghabiskan total 6 jam sehari untuk menonton televisi, bermain video game, mendengarkan musik atau membaca majalah, namun sebagian besar orang tua tidak menanggapi hal ini dengan serius.24
Masih dijumpai pertambahan waktu untuk menonton televisi dari waktu yang telah direkomendasikan oleh AAP dan masih dijumpai anak kurang dari 2 tahun yang menonton televisi. Menonton televisi pada usia dini berhubungan dengan gangguan memusatkan perhatian pada usia 7 tahun. Sehingga tidak dianjurkan menonton televisi pada anak usia dini. Dalam hal ini diperlukan langkah preventif untuk menghindari pengaruh negatif televisi terhadap anak.
25,26
2.1.5. Dampak siaran televisi
Di era reformasi saat ini, televisi telah menjadi bagian keluarga setiap rumah tangga. Hampir tidak ada rumah tanggapun yang tidak memiliki televisi di rumahnya masing-masing. Dengan kata lain, televisi telah menjadi bagian anggota keluarga
yang paling banyak bercakap-cakap setiap harinya. Oleh karena itu, televisi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sang anak, remaja maupun orang tua.
Televisi dengan kotak ajaibnya, dianggap oleh berbagai produsen produk sebagai medium khas yang memiliki efek yang cukup kuat (powerfull effect) dalam menggiring minat masyarakat. Kehadiran televisi di dunia telah membawa dampak yang besar bagi kebudayaan umat manusia.
27
28
Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu membius para pemirsanya untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa, dan dibubuhi dengan aksesoris-aksesoris yang menarik, sehingga membuat pemirsa terkagum-kagum dengan acara yang disajikan.29 Bagaikan guru, televisi juga mampu membuat seseorang yang menonton acaranya mengubah sikap, baik dalam arti positif maupun negatif.
Keperkasaan televisi ini benar-benar tanpa penghalang ketika berhadapan dengan penonton anak-anak maupun remaja, dengan tingkat pemahaman yang masih lemah dan emosi yang labil, visualisasi televisi secara langsung akan menerpa anak-anak maupun
30
remaja, selanjutnya mengental menjadi endapan motivasional dan emosional. Perilaku, gaya berpakaian, gaya berbicara, tutur kata, dan gaya hidup anak-anak dan remaja berasal dari kosakata yang mereka dengar atau tonton di televisi, entah dari iklan, infotainment, sinetron ataupun film.31
2.2.Perilaku Agresif
2.2.1. Pengertian perilaku agresif
Perilaku agresif yang terjadi di kalangan masyarakat akhir-akhir ini menunjukkan gejala yang memprihatinkan.32 Perilaku agresif adalah perasaan marah atau tindakan kasar akibat kekecewaan atau kegagalan dalam mencapai suatu pemuasan atau tujuan yang dapat ditujukan kepada orang atau benda yang biasa dilakukan dengan menendang atau memukul, mengatai atau memaki orang dengan kata-kata kasar, memfitnah, dan menggertak serta mengganggu orang lain.33
2.2.2. Jenis-jenis perilaku agresif
Perilaku agresif dibagi menjadi beberapa bentuk yaitu:
a. Agresif fisik, aktif, langsung, contohnya; menikam, memukul, atau menembak orang lain.
34
b. Agresif fisik, aktif tidak langsung, contohnya; membuat perangkap untuk orang lain, menyewa seorang pembunuh untuk membunuh.
c. Agresif fisik, pasif, langsung, contohnya; secara fisik mencegah orang lain memperoleh tujuan yang diinginkan atau memunculkan tindakan yang diinginkan (misal aksi duduk dalam demonstrasi).
d. Agresif fisik, pasif, tidak langsung, contohnya; menolak melakukan tugas-tugas yang seharusnya ( misalnya menolak berpindah ketika melakukan aksi duduk).
e. Agresif verbal, aktif, langsung, contohnya; menghina orang lain.
f. Agresif verbal, aktif, tidak langsung, contohnya; menyebarkan gosip atau rumor yang jahat terhadap orang lain.
g. Agresif verbal, pasif, langsung, contohnya; menolak berbicara ke orang lain, menolak menjawab pertanyaan.
h. Agresif verbal, pasif, tidak langsung, contohnya; tidak mau membuat komentar verbal misal menolak berbicara ke orang lain yang menyerang dirinya bila ia dikritik secara tidak fair.
2.2.3. Faktor penyebab perilaku agresif
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku agresif remaja diklasifikasikan dalam dua kelompok utama, yaitu (a) faktor ekstrinsik atau faktor-faktor yang bersumber dari luar diri siswa termasuk faktor-faktor demografis, seperti jenis kelamin, pendidikan orang tua, usia, status sosial ekonomi orang tua, faktor sosial, seperti pengalaman perilaku kekerasan, pengasuhan orang tua, interaksi guru-siswa, dan pengaruh teman sebaya, (b) faktor intrinsik atau faktor-faktor yang bersumber pada diri remaja termasuk sifat-sifat kepribadian, temperamen, konsep diri, kontrol diri, asertivitas dan harga diri.35
2.3. Remaja
2.3.1. Pengertian remaja
Selama rentang kehidupan manusia, telah terjadi banyak pertumbuhan dan perkembangan mulai dari lahir sampai dengan meninggal dunia. Dari semua fase perkembangan manusia tersebut, salah satu yang paling penting dan paling menjadi pusat perhatian adalah masa remaja.36 Masa remaja merupakan masa yang unik.37 Masa remaja atau adolescent adalah periode perkembangan selama dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.38 Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada di dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
2.4. Tahapan remaja 39
Remaja merupakan salah satu masa dalam rentang perkembangan kehidupan manusia.40 Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah.41 Pada masa remaja terjadi perkembangan yang dinamis dalam kehidupan individu yang ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik, emosional, dan sosial.42 Tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut:43
1. Masa remaja awal/ dini (early adolescence): umur 11-13 tahun. Dengan ciri khas: ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai berpikir abstrak, dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.
2. Masa remaja pertengahan (middle adolescence): umur 14-16 tahun. Dengan ciri khas: mencari identitas diri, timbul keinginan untuk berkencan, berkhayal tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang mendalam.
3. Masa remaja lanjut (late adolescence): umur 17-20 tahun. Dengan ciri khas: mampu berpikir abstrak, lebih selektif dalam mencari teman sebaya, mempunyai citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta dan pengungkapan kebebasan diri.
Pada remaja terdapat tugas-tugas perkembangan yang sebaiknya dipenuhi dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Adapun tugas perkembangan remaja itu adalah:
a. Mencapai peran sosial pria dan wanita. 44
b. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dan orang dewasa lainnya.
f. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.
g. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku dan mengembangkan ideologi.
2.5. Child Behavior Checklist
Child Behavior Checklist ( CBCL ) adalah checklist yang lengkap untuk mendeteksi masalah emosional dan perilaku pada anak-anak dan remaja.45 CBCL pertama kali dikembangkan oleh Thomas M. Achenbach dan telah menjadi satu pengukuran standar yang paling banyak digunakan dalam psikologi anak untuk mengevaluasi masalah perilaku dan emosional. CBCL merupakan bagian dari sistem Achenbach tentang penilaian berbasis secara empiris yang digunakan pada anak-anak berusia 4 sampai 18 tahun.46 CBCL ini terdiri dari 113 pertanyaan dan delapan skala sindrom yaitu: social withdrawal, cemas/depresi, gangguan somatik, gangguan sosial, gangguan berpikir, gangguan perhatian, delinquent behaviors dan perilaku agresif. CBCL dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu: faktor internalisasi dan eksternalisasi.45,46
2.6. Kerangka Konseptual
variabel yang diteliti Gambar 2.1. Kerangka konseptual
Perilaku Agresif Remaja Faktor intrinsik : Kepribadian Temperamen Konsep diri Kontrol diri Asertivitas Harga diri Faktor ekstrinsik : Menonton televisi Jenis kelamin Usia
Pendidikan orang tua
Status sosial ekonomi orang tua
Faktor sosial :
Pengalaman perilaku kekerasan Pengasuhan orang tua
Interaksi guru siswa Pengaruh teman sebaya
BAB III METODOLOGI 3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan studi analitik komparatif untuk menilai hubungan antara lama menonton televisi dengan perilaku agresif anak di SMA Negeri 2 Lubuk Pakam.
3.2. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di sekolah SMA Negeri 2 di kota Lubuk Pakam selama 4 bulan mulai Desember 2013 sampai Maret 2014.
3.3. Subyek penelitian
Populasi target adalah semua anak dengan usia 16 sampai 18 tahun. Populasi terjangkau adalah populasi target siswa yang berusia 16 dan 18 tahun SMA Negeri 2 Lubuk Pakam. Sampel adalah populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.4. Perkiraan Besar Sampel
Besar sampel dihitung berdasarkan rumus sampel untuk uji hipotesis terhadap dua proporsi. n 47 1 = n2 = ( Zα √2PQ + Zß √P1Q1 + P2Q2) (P 2 1-P2)2
n1 n
= besar sampel dengan lama menonton televisi ≤ 2 jam 2
α = kesalahan tipe I = 0,05 →Zα = 1,96
= besar sampel dengan lama menonton televisi > 2 jam
P1 = proporsi anak yang menonton televisi dan memiliki sifat agresif = 0,12 Q = 1 –P
1
P = proporsi = ½ (P1+P2
Dengan menggunakan rumus diatas didapati besar sampel minimal adalah sebanyak 102 remaja pada kelompok lama menonton televisi ≤ 2 jam dan 102 remaja pada kelompok lama menonton televisi > 2 jam.
)
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.5.1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Anak sekolah usia sampai 16 - 18 tahun
2. Tidak mengalami pengobatan gangguan jiwa 3. Mempunyai kebiasaan menonton televisi
3.5.2. Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Mengikuti lebih dari 2 kegiatan ekstrakurikuler
3.6. Persetujuan / Informed Consent
Sampel penelitian akan diminta persetujuan dari orang tua setelah dilakukan penjelasan terlebih dahulu untuk mengisi kuesioner yang diberikan.
3.7. Etika Penelitian
Penelitian ini disetujui oleh Komite Etik Penelitian dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.8. Cara Kerja dan Alur Penelitian 3.8.1. Cara Kerja
1. Setelah mendapat izin dari komite Etik Penelitian FK USU, dikumpulkan anak usia 16 sampai 18 tahun untuk mengisi kuesioner setelah mendapat persetujuan dari orang tua
2. Semua peserta dicatat identitasnya yaitu nama, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, dan nomor telepon yang dapat dihubungi, dan nama orangtua/wali.
3. Setelah kuesioner diisi, remaja yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan ke dalam sampel penelitian.
4. Setelah itu dilakukan penilaian terhadap perilaku agresif dengan Child Behaviour Check List (CBCL) oleh tim peneliti.
3.8.2. Alur Penelitian
Gambar 3.1. Alur penelitian Populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi
Pengisian kuisioner
Menonton televisi ≤ 2 jam
Child Behaviour Checklist (CBCL)
Menonton televisi > 2 jam
3.9. Identifikasi Variabel
Variable bebas skala
Lama menonton televisi nominal
Variable tergantung skala
Perilaku agresif nominal
3.9.1. Definisi Operasional
1. Menonton televisi adalah melihat sistem penyiaran gambar yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat didengar
2. Lamanya menonton televisi adalah waktu yang digunakan oleh anak untuk menonton televisi secara kumulatif per hari.
3. Perilaku agresif adalah luapan emosi sebagai reaksi terhadap kegagalan individu yang ditampakkan dalam bentuk pengrusakan terhadap orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) dan perilaku non verbal yang dinilai melalui kriteria yang baku dengan menggunakan Child Behavior Checklist (CBCL), dengan nilai cut off T > 70 sebagai perilaku agresif, 67 ≤ T ≤ 70 sebagai nilai borderline, dan nilai T < 67 sebagai perilaku yang tidak agresif.
3.9.2. Pengolahan Data dan Analisa Statistik
Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 17.0. Untuk melihat hubungan antara lama menonton televisi perilaku agresif pada remaja digunakan uji chi square, dan untuk melihat berbagai faktor risiko perilaku agresif digunakan analisis bivariat. Dikatakan bermakna bila dengan nilai P < 0,05.