• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Pisang (Musa spp. L) termasuk ke dalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae, keluarga

Musaceae (Purseglove, 1972).

Tabel 1. Karakteristik Buah pada Beberapa Kultivar Pisang

Group Subgroup Karakteristik

AA Pisang Mas Ukuran buah kecil (8-12 cm), kulit tipis berwarna emas, daging buah berwarna oranye rasa sangat manis, 5-9 sisir per tandan, 12-18 buah per sisir.

AAA Pisang Ambon Ukuran buah sedang-besar, kulit tebal, daging buah berwarna keputihan, tekstur daging halus, 8-12 sisir per tandan.

Cavendish Ukuran buah sedang-besar, kulit berwarna kuning, jumlah sisir per tandan 14-20, dan 16-20 buah per sisir. AAB Pisang Raja Ukuran buah besar (14-20 cm), kulit tebal, tekstur

daging kasar, 6-9 sisir per tandan, 14-16 buah per sisir. Pisang Tanduk Kulit berwarna kuning, daging buah berwarna kuning

muda atau putih kekuningan, tekstur daging buah kasar, 2 sisir per tandan.

ABB Bluggoe Ukuran buag sedang-besar, tekstur daging kasar dan warna daging buah akan berubah menjadi merah kecoklatan ketika matang, 7 sisir per tandan.

BBB Pisang Kepok Ukuran buah sedang-besar (10-15 cm), bentuk buah bersiku atau bersegi, kulitnya tebal berwarna kuning, tekstur daging lembut, 8-16 sisir per tandan, 12-20 buah per sisir.

Pisang komersial berasal dari persilangan Musa acuminata (AA) dan

Musa balbisiana (BB). Variasi group genom Musa yang terbentuk yaitu AA,

AAA, AAB, AB, ABB, ABBB (Robinson, 1996). Menurut Hasan dan Pantastico (1990), beberapa kultivar pisang yang populer di Indonesia antara lain Pisang Ambon Putih/AAA, Pisang Ambon Lumut/AAA, Pisang Raja Sereh/AAB, Pisang Raja/AAB, Pisang Mas/AA, Pisang Tanduk/AAB, dan Pisang Nangka/AAB.

Keistimewaan Pisang Tanduk adalah bentuk buahnya yang besar panjang dan melengkung seperti tanduk. Menurut PKBT (2009), umur panen Pisang Tanduk berkisar antara 10-12 BST. Panjang buah Pisang Tanduk berkisar 28-32 cm, sedangkan diameter buah berkisar 4.4-4.8 cm. Produksi buah Pisang Tanduk sangat sedikit. Satu pohon hanya menghasilkan dua atau tiga sisir, rata-rata tiap sisirnya terdiri dari 11-13 buah. Berat buah mencapai sekitar 300-320 g. Daging buah berwarna kuning kemerahan. Derajat kemanisan buah sebesar 31-33obriks, sedangkan kadar beta karoten sebesar 0.71 per 100 g.

Morfologi Pisang

Menurut Robinson (1996), tanaman pisang merupakan tanaman tahunan dan bersifat monokotiledon. Tanaman ini hanya berbuah sekali dalam satu periode. Tinggi tanaman pisang dapat mencapai 2-9 m (Nakasone and Paull, 1998). Sistem perakaran tanaman pisang merupakan sistem akar adventif yang lunak. Akar primer berasal dari permukaan silinder pusat sepanjang rhizome, muncul secara berkelompok tiga atau empat. Akar primer berwarna putih ketika muncul kemudian berubah warna menjadi coklat keabu-abuan. Ketebalan akar primer 5-8 mm. Rhizome yang sehat dapat menghasilkan 200-500 akar primer. Jumlah akar primer dapat mencapai 1 000 ketika anakan sudah mulai muncul (Robinson, 1996).

Dari masing-masing akar primer, berkembang akar sekunder dan tersier. Akar primer dan sekunder berukuran lebih tebal dan pendek dibandingkan akar primer. Rambut akar tumbuh di dekat ujung akar dari akar primer. Rambut akar inilah yang bertanggung jawab atas pengangkutan air dan mineral ke dalam tanaman. Efektivitas penyerapan tanaman ditentukan secara langsung oleh jumlah akar primer dan daya tembus akar dalam tanah (Robinson, 1996).

Distribusi akar dipengaruhi oleh jenis tanah, kerapatan tanah dan drainase. Tanah yang memiliki draninase baik akan lebih banyak menginduksi akar. Terdapat korelasi positif antara volume akar dengan bobot tandan. Pada umumnya, sistem perakaran adventif pisang mencapai 1-2 m. Zona perakaran vertikal pisang sangat dangkal, hanya 40% volume akar pada kedalaman 100 mm dan 85% pada kedalaman di atas 300 mm. Perakaran primer pisang jarang menembus tanah hingga di bawah 600 mm. Perbandingan akar sekunder dan tersier pada plantain adalah 53 dan 46% dibandingkan dengan 22 dan 77% pada

banana. Hal ini diduga merupakan faktor yang mempengaruhi rendahnya

produktivitas dan penurunan hasil dari golongan plantain (Robinson, 1996).

Budidaya Pisang

Berdasarkan data BPS (2010) sentra produksi pisang berada di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung. Total produksi pisang di Jawa Barat mencapai 1 090 777 ton. Pola pertanaman pisang di Indonesia masih dalam skala kecil. Penanaman pisang dilakukan di pekarangan atau tegalan dengan luasan kurang dari 1 ha. Menurut Direktorat Hortikultura (2005) luas lahan untuk perkebunan kecil adalah 10-30 ha, sedangkan perkebunan besar seluas lebih dari 30 ha.

Pisang dapat tumbuh di daerah tropis baik di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian ≤ 1 600 m dpl. Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah 27oC sedangkan suhu maksimumnya 38oC, dengan keasaman tanah (pH) 4,5-7,5. Curah hujan 2 000-2 500 mm/tahun atau 100 mm/bulan. Apabila suatu daerah mempunyai bulan kering berturut-turut melebihi 3 bulan maka tanaman pisang memerlukan tambahan pengairan agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik (Mulyanti et al., 2008). Menurut Nakasone dan Paull (1998), kisaran suhu penanaman pisang 15-38 oC. Penggunaan sistem budidaya sesuai dengan standar operasional produksi pisang berpotensi meningkatkan hasil. Menurut Harti et al. (2007), alur kegiatan SOP Pisang Rajabulu dimulai dari pemilihan lokasi tanam hingga pengangkutan (Lampiran 2). Lokasi tanam yang baik adalah lahan yang terbebas dari penyakit layu fusarium atau lahan endemis, subur dengan lapisan top soil tanah yang cukup tebal dan banyak

mengandung humus serta memiliki ketersediaan air tanah yang cukup. Penyiapan lahan dilakukan dengan membersihkan lahan dari hal-hal yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Penanaman pisang sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan.

Penyediaan Bibit. Tersedianya bibit pisang yang sehat akan menentukan hasil produksi Pisang. Bibit dapat diperoleh dari tunas, anakan, bonggol dan bibit yang diperbanyak secara kultur jaringan.

Bahan tanam dapat berasal dari anakan yang baru muncul dari tanah. Terdapat dua macam anakan yaitu anakan air dan anakan pedang. Anakan pedang memiliki daun sempit dan rimpang besar. Anakan air memiliki daun luas dan rimpang kecil. Penggunaan anakan air sebagai bahan tanam sebaiknya dihindari. Secara umum, perkebunan pisang tropis menggunakan anakan pedang sebagai bahan tanam (Nakasone and Paull, 1998).

Bahan yang paling baik digunakan adalah anakan pedang dengan tinggi 41-100 cm, daunnya berbentuk seperti pedang dengan ujung runcing. Anakan rebung (20-40 cm) kurang baik jika ditanam langsung karena bonggolnya masih lunak dan belum berdaun sehingga mudah kekeringan, sedangkan anakan dewasa (tinggi >100 cm) terlalu berat dalam pengangkutan dan kurang tahan terhadap cekaman lingkungan karena telah memiliki daun sempurna (Balitbangtan, 2008).

Bibit anakan setelah dipisahkan harus segera ditanam, jika terlambat akan meningkatkan serangan hama penggerek dan kematian di kebun. Apabila pada saat tanam kekurangan air dalam waktu yang cukup lama, bibit akan layu dan mati bagian batangnya, tetapi bonggol yang tertimbun dalam tanah masih mampu untuk tumbuh dan memulai pertumbuhan kembali membentuk bonggol baru diatas bonggol yang lama (Balitbangtan, 2008).

Penanaman. Semua bahan tanam sebaiknya diberi perlakuan perendaman agen antagonis bakteri untuk meminimalkan serangan penyakit. Selain itu, bahan tanam dapat dicelupkan ke dalam air panas pada 53-55oC selama 20 menit. Lubang tanam dibuat lebih lebar dari bahan tanam. Menurut Harti et al, (2007), ukuran lubang tanam yang biasanya digunakan pada penanaman pisang Rajabulu adalah 50 cm x 50 cm x 50 cm. Penanaman bibit dilakukan sebatas 10 cm dari pangkal tanah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan

produksi lebih tinggi jika penanaman dilakukan lebih dalam. Pengairan perlu dilakukan setelah penanaman (Nakasone and Paull, 1998).

Pemupukan. Tanaman pisang membutuhkan tambahan unsur hara makro maupun mikro dalam proses pertumbuhan vegetatifnya (Erawati et al., 2007). Menurut Nakasone and Paull (1998), pisang membutuhkan jumlah nutrisi yang besar untuk pertumbuhan dan produksi buahnya. Kebutuhan nitrogen tanaman pisang sekitar 388 kg/ha/tahun, fosfor 52 kg/ha/tahun, kalium 1 438 kg/ha/tahun, kalsium 227 kg/ha/tahun, dan magnesium 125 kg/ha/tahun.

Pemupukan diperlukan pada tahap awal pertumbuhan vegetatif karena akan mempengaruhi produksi buah. Pisang membutuhkan N dan K dalam jumlah yang cukup tinggi. Nitrogen harus diberikan pada interval pendek selama pertumbuhan, sedangkan kalium hanya diberikan saat tanam dan dua kali setahun sesudahnya. Fosfat diberikan saat tanam (Nakasone and Paull, 1998)

Pemberian pupuk ini diharapkan dapat meningkatkan produksi buah. Dosis pupuk urea Pisang Rajabulu sebesar 600 g/tanaman, SP-36 400 g/tanaman dan KCl 1 550 g/tanaman. Pemupukan pertama dilakukan pada 1 BST dengan dosis 150 g urea, 100 g SP-36 dan 200 g KCl per tanaman. Pemupukan kedua, ketiga dan keempat dilakukan 4 BST, 8 BST dan 12 BST dengan dosis 150 g urea, 100 g SP-36 dan 450 g KCl per tanaman (Harti et al., 2007).

Pemeliharaan. Pemeliharaan dilakukan untuk memberikan kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Pemeliharaan tanaman Pisang Rajabulu meliputi penjarangan anakan, sanitasi lahan, pemotongan jantung, pembrongsongan serta penyanggahan (Harti et al., 2007).

Panen. Panen dilakukan dengan cara melukai batang dilukai menggunakan sabit atau parang sampai lewat separuh tebal batang. Tandan tidak jatuh ke tanah, tetapi menggantung agar tidak mengalami kerusakan. Pemanenan sebaiknya dilakukan oleh dua orang, satu orang memotong dan yang lainnya menangkap tandan sewaktu jatuh (Nakasone and Paull, 1998).

Maryayah et al. (1986) menyatakan bahwa umur panen Pisang Tanduk 80 hari setelah antesis pada tingkat masak sempurna menunjukkan sifat fisik dan kimia 1ebih baik dibandingkan dengan umur panen 70 dan 90 hari setelah antesis. Menurut Harti et al. (2007), kriteria panen Pisang Rajabulu meliputi daun bendera

mulai mengering, buah pisang tidak bersudut, perubahan warna kulit buah dari cerah menjadi tua.

Indeks skala warna kulit buah pisang digunakan untuk mengetahui tahapan pematangan pisang. Derajat kekuningan kulit buah dinilai dengan angka 1 sampai 8. Nilai tersebut adalah :

1 : Hijau 5 : Kuning dengan ujung hijau

2 : Hijau dengan sedikit kuning 6 : Kuning penuh

3 : Hijau kekuningan 7 : Kuning dengan sedikit bintik coklat 4 : Kuning lebih banyak dari hijau 8 : Kuning dengan bercak coklat lebih luas Sumber : www.postharvest.ucedavis.edu

Kualitas dan Mutu Pisang

Sebagian besar konsumen memperhatikan mutu buah berdasarkan mutu visual atau penampakan, tekstur, citarasa dan kandungan gizi. Kader (1992) menyatakan bahwa secara keseluruhan kualitas buah dipengaruhi oleh penampilan (ukuran, bentuk, warna, kilapan dan cacat), tekstur (kekerasan, kelembutan, dan serat), flavour (rasa dan aroma), nilai nutrisi (karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral), dan keamanannya yaitu keamanan dari kandungan senyawa toksik dan mikroba.

Buah pisang memiliki kandungan vitamin A yang cukup tinggi sebesar 0.003-1.0 mg per 100 g, terutama pada Pisang Tanduk. Kandungan vitamin C pada pisang meja sebesar 10 mg per 100 g, sedangkan kandungan vitamin C pisang olahan sekitar 20-25 mg per 100 g (Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004).

Pisang juga mengandung asam-asam yaitu meliputi asam malat, asam sitrat dan asam oksalat. Saat Pisang masih mentah asam organik utamanya adalah asam oksalat, tetapi setelah tua dan matang asam organik yang utama adalah asam malat. Sementara itu, pH menurun dari 5.4 (mentah) menjadi 4.5 ketika Pisang menjadi matang (Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004).

Simmonds (1959) menyatakan bahwa kandungan gula pada daging buah Pisang mentah sangat sedikit, sekitar 1-2% dan meningkat menjadi 15-29% saat

buah matang. Pantastico (1989) menambahkan pada awal pertumbuhan buah, kadar gula total termasuk gula pereduksi dan non pereduksi sangat rendah. Dengan meningkatnya pemasakan kandungan gula total naik cepat dengan timbulnya glukosa dan fruktosa. Kenaikan gula tersebut dapat digunakan sebagai petunjuk terjadinya kemasakan.

Selain berbagai vitamin tersebut diatas, Pisang juga mengandung senyawa amin yang bersifat fisiologis aktif dalam jumlah yang relatif besar yaitu seretonin 50 µg per 100 g dan norepinephrine 100 µg per 100 g. Seretonin dan norepinephrine merupakan dua jenis amin yang aktif sebagai neurotransmitter yang berpengaruh dalam kelancaran fungsi otak (Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004).

Kandungan mineral yang menonjol pada pisang adalah kalium. Sebuah pisang kira-kira dapat menyumbang kalium sebesar 440 mg. Kalium berfungsi antara lain untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuh, kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah dan membantu pengiriman oksigen kedalam otak (Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2004).

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan di Desa Kopo Cisarua, Bogor dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB. Penelitian dimulai bulan Mei 2010 – Oktober 2011.

Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah anakan pedang Pisang Tanduk sesuai SOP, pupuk kandang, agensia hayati (Tricoderma sp., Gliocladium sp.), pupuk urea, KCl, SP-36, dursban 50 EC, Dithane M45. Benih tanaman sela meliputi kol, daun bawang, caisim dan wortel. Alat yang digunakan timbangan, tali, meteran, plastik polietilen, alat-alat pertanian, gelas kimia, erlenmeyer, mortar, alat titrasi, penetrometer, serta hand refractometer.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lahan seluas 1500 m2.Perlakuan yang diberikan sistem budidaya tradisional, sistem budidaya sesuai standar operasional produksi (SOP) Pisang pola monokultur dan sistem budidaya sesuai standar operasional produksi (SOP) Pisang pola tumpangsari.

Data dianalisis menggunakan uji-t. Nilai berbeda nyata apabila thit > ttabel

dan tidak berbeda nyata apabila thit < ttabel, ttabel diperoleh dari nilai sebaran t pada taraf 5% dan db (n1 + n2 -2). Model matematika dari uji t adalah :

Thitung = dengan Sp = 2 ) 1 ( ) 1 ( 2 1 2 2 2 1 + + n n S n S n

Keterangan :

X

1

,X

2 : nilai tengah contoh 1 dan 2

S12, S22 : ragam contoh 1 dan 2 n1, n2 : jumlah contoh 1 dan 2 Sp : simpangan baku gabungan

2 1 2 1 1 1 . ) ( n n S X X p + −

Pelaksanaan Penelitian

Perlakuan sistem budidaya tradisional menggunakan sistem budidaya yang biasa dilakukan oleh petani setempat. Sistem budidaya yang digunakan pada perlakuan SOP pola monokultur dan SOP pola tumpangsari merupakan modifikasi dari standar operasional produksi Pisang Rajabulu (Harti et al., 2007). Adapun modifikasi standar operasional produksi sebagai berikut :

1. Penyediaan bibit. Bibit yang digunakan berasal dari anakan pedang dengan pengelompokan tinggi 10-20 cm, 30-40 cm dan 41-50 cm. Sebelum ditanam, bibit direndam dalam fungisida dengan dosis 10 g/l selama 30 menit.

2. Penyiapan lahan. Penyiapan lahan terdiri dari pembersihan lahan, pengajiran dan pembuatan lubang tanam. Ukuran lubang tanam yang digunakan adalah 30 cm x 30 cm x 30 cm. Jarak tanam yang digunakan yaitu 2.5 m x 2.5 m. Pada saat pembuatan lubang tanam, tanah dipisahkan antara tanah lapisan atas dan tanah lapisan bawah. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama 1 minggu untuk meminimalisir penyakit tular tanah. Setelah itu, lubang tanam diberi campuran pupuk kandang dan agensia hayati. Dosis pemberian per lubang tanam sebesar 30 g agensia hayati per 3 kg pupuk kandang. Dosis pemberian pupuk kandang dapat disesuaikan dengan tingkat kemasaman tanah.

3. Penanaman. Penanaman dilakukan dengan memasukkan bibit ke dalam lubang tanam sebatas 5-10 cm di atas pangkal tanah, kemudian lubang ditutup kembali dengan tanah galian.

4. Pemupukan. Pupuk diberikan secara melingkar di sekeliling pohon dengan jarak 50 cm dari pohon. Dosis pemberian pemupukan urea adalah 450 g/tanaman, SP-36 300 g/tanaman dan 1 200 g/tanaman Pemupukan pertama dilakukan pada 1 BST dengan dosis 150 g urea, 100 g SP-36 dan 200 g KCl per tanaman. Pemupukan kedua dan ketiga dilakukan 5 BST dan 9 BST dengan dosis 150 g urea, 100 g SP-36 dan 400 g KCl per tanaman.

5. Sanitasi Lahan. Sanitasi dilakukan dengan cara memotong daun pisang yang sudah mengering dan menguning. Melakukan penyiangan gulma secara manual dan kimia.

6. Pembrongsongan. Pembrongsongan dilakukan pada saat seludang pisang pertama belum membuka dan jantung pisang sudah mulai merunduk. Pembrongsongan menggunakan plastik polietilen yang diikatkan ke pangkal tandan dengan mengusahakan seludang atas tidak masuk ke dalam plastik brongsong.

7. Panen. Pemanenan dilaksanakan pada waktu pagi hari atau sore hari dalam keadaan cerah. Kriteria panen mengikuti pedoman daun bendera mengering, buah pisang sudah tidak bersudut serta berwarna hijau tua.

Pengamatan

Pengamatan komponen pertumbuhan dilakukan satu bulan sekali. Pengamatan dilakukan terhadap 5 tanaman contoh tiap satuan percobaan. Peubah yang diamati antara lain:

1. Tinggi tanaman

Tinggi tanaman diukur dari permukaan tanah sampai titik tumbuh tertinggi. Pengamatan tinggi tanaman dilakukan setiap bulan.

2. Lingkar batang

Lingkar batang diukur pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah. Pengamatan lingkar batang dilakukan setiap bulan.

3. Jumlah daun

Jumlah daun yang dihitung adalah jumlah daun yang sudah membuka sempurna. Pengamatan jumlah daun dilakukan setiap bulan.

Pengamatan komponen produksi dilakukan terhadap 5 tanaman contoh tiap satuan percobaan. Peubah yang diamati antara lain:

1. Waktu berbunga

Waktu berbunga dihitung saat muncul jantung per tanaman Pisang Tanduk.

2. Bobot tandan

Panen dilakukan dengan cara memotong tangkai pisang. Tangkai pisang disisakan 30 cm. Bobot tandan dihitung dengan menimbang tandan Pisang Tanduk setelah panen.

3. Jumlah sisir per tandan

Jumlah sisir per tandan diperoleh dengan menghitung banyaknya sisir dalam satu tandan Pisang Tanduk. Pengamatan jumlah sisir per tandan dilakukan saat panen.

4. Bobot sisir per tandan

Bobot sisir per tandan dihitung dengan menimbang sisir dalam satu tandan. Pengamatan dilakukan saat panen.

5. Jumlah buah per sisir

Jumlah buah per sisir diperoleh dengan menghitung jumlah buah dalam tiap sisir dalam tandan. Pengamatan dilakukan saat panen.

6. Bobot per buah

Bobot buah diperoleh dengan menimbang buah Pisang Tanduk dari tiap sisir diwakili 3 buah. Penimbangan dilakukan saat buah siap konsumsi. Pengamatan komponen kualitas buah dilakukan saat pisang matang dan siap konsumsi. Pengamatan dilakukan terhadap satu tanaman contoh tiap satuan percobaan. Peubah yang diamati antara lain:

1. Diameter buah

Diameter buah diukur menggunakan jangka sorong pada bagian tangah, pangkal dan ujung. Ketiga data yang diperoleh tersebut diambil rata-ratanya.

2. Panjang buah

Panjang buah diukur mulai dari pangkal hingga ujung buah. 3. Asam Tertitrasi Total

Pengukuran Asam Tertitrasi Total (ATT) dilakukan dengan menghaluskan bahan, kemudian bahan ancuran tersebut disaring sebanyak 25 g dan dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan air destilata sampai tera. Filtrat diambil sebanyak 25 ml diberi 2-3 tetes indikator phenolphtalein (PP) kemudian dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N.

Titrasi dilakukan sampai terbentuk warna merah muda yang stabil. Kandungan ATT dapat dihitung dengan rumus :

100 x (g) pisang contoh bobot fp x 0.1N NaOH ml bahan) 100g / 0.1N NaOH TAT(ml = fp : faktor pengenceran (100 ml/25 ml) 4. Padatan Terlarut Total

Kandungan padatan terlarut total (PTT) diukur dengan menghaluskan daging buah Pisang kemudian diambil sarinya dengan menggunakan kain kasa. Sari buah yang telah diperoleh diteteskan pada lensa refraktometer. Kadar PTT dapat dilihat pada alat (obriks). Lensa refraktometer dibersihkan dengan air destilata sebelum dan sesudah digunakan.

5. Kekerasan Kulit Buah

Kekerasan kulit buah diukur menggunakan penetrometer. Pengukuran dilakukan pada buah pisang yang belum dikupas kulitnya. Buah Pisang diletakkan sedemikian rupa hingga stabil. Jarum penetrometer ditusukan pada bagian ujung, tengah, dan pangkal. Ketiga data yang diperoleh kemudian diambil rata-ratanya.

6. Edible Part

Pengukurannya diukur dengan menimbang bobot buah sebelum dikupas bobot kulit dan bobot buah setelah dikupas. Bobot daging buah didapatkan dengan mengurangi bobot buah sebelum dikupas dengan bobot kulit. Bagian buah yang dapat dimakan (edible part) dihitung dengan menggunakan rumus : 100% x Buah Bobot Buah Daging Bobot (%) Part Edible =

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Kondisi Umum

Penanaman Pisang Tanduk dilakukan di kebun petani Desa Kopo, Cisarua Bogor. Ketinggian lokasi penanaman adalah 920 m dpl dengan curah hujan tahunan 3 767 mm/tahun. Suhu rata-rata berkisar 21.3oC, sedangkan kelembaban rata-rata berkisar 85% (Lampiran 1). Menurut Harti et al. (2007), kelembaban udara yang sesuai untuk penanaman Pisang Rajabulu adalah >60%. Nakasone and Paull (1998) menyatakan kisaran suhu untuk penanaman pisang adalah 15-38oC

Ketinggian tempat yang sangat sesuai untuk penanaman Pisang Rajabulu <800 m dpl, sedangkan ketinggian tempat yang cukup sesuai untuk tanaman Pisang Rajabulu berkisar 800 – 1 000 m dpl. Curah hujan yang sangat sesuai untuk penanaman Pisang Rajabulu berkisar 1 500 – 2 500 mm/tahun, sedangkan curah hujan 1 250-3 000 mm/tahun tergolong cukup sesuai untuk pertanaman Pisang Rajabulu (Harti et al, 2007).

Lahan yang digunakan merupakan lahan bekas pertanaman sayuran. Kriteria tanah yang sangat sesuai untuk penanaman Pisang Rajabulu yaitu pH tanah berkisar 5.6-7.5 dengan kandungan C-organik >1.5% (Harti et al., 2007). Berdasarkan kriteria iklim dan tanah menunjukkan bahwa lokasi yang digunakan cukup sesuai untuk pertanaman Pisang Tanduk.

Tabel 2. Data Analisis Tanah

Aspek Metode Nilai Status

pH H2O 4.8 Masam

pH KCl 4.1 Masam

C-Organik (%) Walkley & Black 1.76 Rendah

N (%) Kjeldahl 0.13 Rendah

C/N 14 Sedang

P2O5 (ppm) Bray 1 28.3 Sangat Tinggi

K2O (ppm) Morgan 67.3 Sangat Tinggi

Rata-rata kece angin mencapai 6.0 dibudidayakan seca menyebabkan transpir pada pertanaman robe

Gambar 1. Da Sanitasi lahan BST tidak terawat de dikarenakan mendeka serangan hama sepert Upaya yang dilakuka (Gambar 2b), dengan s

Gambar 2. Ser a

kecepatan angin sebesar 2.4 km/jam. Saat 11 6.0 km/jam yang menyebabkan sebagian besar

cara tradisional rebah. Angin yang ke pirasi yang lebih cepat dan merusak daun. Seba obek karena terkena angin (Gambar 1).

aun Pisang Tanduk Robek Terkena Angin

han pertanaman Pisang Tanduk SOP pola monokul dengan baik karena tidak ada pekerja. Tidak

kati hari Raya Idul Fitri 2010. Hal ini meny erti Erionota thrax atau penggulung daun pisan kukan untuk mengatasi serangan hama dengan gan sanitasi yang baik serangan hama dapat dike

erangan Erionota thrax (a), Sanitasi Lahan (b) b

11 BST, kecepatan sar tanaman yang kencang diduga bagian besar daun

onokultur pada 3-5 dak adanya pekerja nyebabkan adanya sang (Gambar 2a). gan sanitasi lahan

kendalikan.

Tabel 3. Rekapitulasi Uji-t antar Sistem Budidaya Pengamatan Perlakuan Tradisional vs SOP Monokultur Tradisional vs SOP Tumpangsari SOP Monokultur vs SOP Tumpangsari Lingkar Batang * * tn Tinggi Tanaman * * tn Jumlah Daun * * tn Bobot Tandan * * tn

Bobot per Sisir * * tn

Bobot perBuah * * tn

Jumlah Sisir per

Tandan tn tn tn Jumlah Buah per Sisir tn tn tn

Dokumen terkait