DAN VITAMIN E DALAM RANSUM
TINJAUAN PUSTAKA Itik Cihateup
Itik termasuk dalam kelompok unggas air (waterfowl) yang mempunyai klasifikasi sebagai berikut: kelas Aves, ordo Anseriformes, famili Anatidae, subfamili Anatinae, rumpun (tribe) Anatini, genus Anas, spesies Anas platyrhynchos (Achwanu, 1997). Salah satu contoh itik lokal antara lain itik cihateup yang berasal dari Desa Cihateup, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Selain dikembangkan di daerah asalnya, itik cihateup juga telah dikembangkan di daerah Garut. Daerah Cihateup berada pada ketinggian 378 m di atas permukaan laut (dpl) yang merupakan dataran tinggi, sehingga itik tersebut disebut juga dengan itik gunung. Daya adaptasi terhadap lingkungan dingin baik, sehingga itik tersebut sangat sesuai dipelihara untuk daerah dingin atau pegunungan (Wulandari, 2005). Itik tersebut merupakan salah satu kebanggaan peternak itik di Propinsi Jawa Barat disamping itik cirebon.
Secara umum ciri-ciri fisik itik cihateup mirip dengan itik-itik jawa lainnya, seperti itik karawang, itik cirebon ataupun itik tegal. Walaupun demikian, secara genetik terdapat sedikit keragaman di antara itik-itik tersebut (Muzani, 2005). Bulu itik cihateup berwarna coklat, sedangkan paruh dan shanknya berwarna hitam. Warna itik cihateup jantan dewasa lebih gelap, bahkan bulu di sekitar kepala mengarah kehitaman, akan tetapi betina memiliki warna bulu yang lebih cerah. Bentuk badan itik cihateup serupa dengan itik jawa pada umumnya, yakni berbadan langsing seperti botol, dengan leher bulat panjang. Jika berjalan lebih tegak dibandingkan dengan itik alabio.
Beberapa ukuran tubuh itik cihateup, misalnya lingkar dada lebih besar dari itik cirebon maupun itik mojosari, hal ini dapat menjadi indikasi bahwa itik cihateup memiliki potensi penghasil daging yang lebih baik daripada itik cirebon dan mojosari (Muzani, 2005). Itik jantan cihateup lebih efisien dalam memanfaatkan ransum untuk pertumbuhan dibandingkan dengan itik betina, tetapi memiliki konversi ransum yang sama antara itik jantan maupun itik betina cihateup. Kemampuan pertumbuhan yang cukup baik pada ternak jantan terlihat dari bobot potong itik cihateup yang berumur 14 minggu, berkisar antara 1.470-1.550 g/ekor dengan nilai konversi ransum sekitar
6,7 (Wulandari et al., 2005). Postur itik cihateup betina dan jantan umur 12 bulan dapat dilihat pada Gambar 1.
(a) (b)
Gambar 1. Postur Itik Cihateup Betina (a) dan Jantan Umur 12 Bulan Sumber: Rukmiasih et al. (2008)
Rerata bobot anak itik betina yang baru menetas tidak berbeda nyata dengan bobot anak itik jantan, yaitu masing-masing 42,95±3,35 dan 42,75±3,08 g/ekor. Rerata bobot badan dewasa itik betina dan jantan masing-masing 1.476,09±161,57 dan 1.518,02±164,16 g/ekor (Hardjosworo, 1985).
Manfaat dan Sumber Antioksidan pada Unggas Manfaat Antioksidan
Antioksidan mempunyai aktivitas yang dapat menghambat atau mencegah kerusakan lemak atau bahan pangan berlemak akibat proses oksidasi. Antioksidan yang digunakan dalam bahan pangan harus memenuhi persyaratan tertentu, yaitu tidak beracun, tidak mempunyai efek fisiologis, tidak menimbulkan flavor yang tidak enak, rasa dan warna pada lemak atau bahan pangan, efektif dalam jumlah yang relatif kecil, tidak mahal dan selalu tersedia (Ketaren, 2008). Berdasarkan asal diperolehnya, senyawa antioksidan dibagi menjadi dua, yaitu antioksidan alami dan antioksidan sintetik. Antioksidan alami dapat ditemukan dari jenis tanaman, sedangkan antioksidan sintetik diperoleh dari sintesa reaksi kimia (Winarno, 1991).
Beluntas (Pluchea indica L)
Beluntas merupakan tanaman perdu tegak, berkayu, bercabang banyak dengan ketinggian tanaman dapat mencapai 2 meter. Beluntas memiliki daun tunggal, bulat berbentuk telur, ujung runcing, berbulu halus, daun muda berwarna hijau kekuningan dan setelah tua akan berwarna hijau pucat. Panjang daun beluntas
mencapai 3,8-6,4 cm (Asiamaya, 2003). Tanaman beluntas dalam susunan taksonomi termasuk ke dalam kingdom Platae; subkingdom Tracheobioma; superdivisi Spermatophyta; divisi Magnoliophyta; kelas Magnoliopsida; subkelas Asteridae; ordo Asterales; famili Asteraceae; genus Pluchea cass; dan spesies Pluchea indica (L) less.
Selama ini beluntas telah dikenal mempunyai banyak kegunaan baik sebagai tanaman pagar maupun tanaman obat dengan menggunakan seluruh bagian tanamannya baik dalam bentuk segar maupun kering. Hal ini karena beluntas mengandung asam amino (leusin, isoleusin, triptofan, treonin), alkaloid, flavonoida, minyak atsiri, asam chlorogenik, natrium, kalium, aluminium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, vitamin A dan C (Asiamaya, 2003). Menurut hasil analisis kualitatif yang dilakukan Ardiansyah (2002), ekstrak daun beluntas mengandung bahan-bahan aktif seperti tanin dan alkaloid. Kandungan tanin pada beluntas dapat mempengaruhi nilai nutrisi yang dikandung ransum yang dikonsumsi hewan. Menurut Rukmiasih et al. (2010) kandungan tanin dalam daun beluntas yaitu 1,88%. Tanin terdapat pada tanaman legum, rumput dan buah yang belum masak. Tanin menyebabkan rasa mengkerut pada lidah karena mampu berikatan dengan cairan saliva dalam mulut (Cannas, 2008). Konsentrasi tanin lebih dari 5% sudah menimbulkan efek negatif pada hewan monogastrik, yaitu penekanan pertumbuhan, penurunan penggunaan protein, merusak dinding mukosa saluran pencernaan, mengurangi ekskresi beberapa kation dan meningkatkan ekskresi protein dan beberapa asam amino essensial dan pada level 3-7% dapat menyebabkan kematian (Cannas, 2008).
Menurut Widodo (2002), pemberian ransum yang mengandung tanin sebesar 0,33% tidak membahayakan untuk unggas khususnya ayam. Apabila pemberian kadar tanin mencapai 0,5% atau lebih menyebabkan penurunan pertumbuhan ayam, karena tanin menekan retensi nitrogen dan penurunan daya cerna asam amino yang seharusnya dapat diserap oleh vili-vili usus yang dipergunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan-jaringan tubuh. Gejala yang ditimbulkan bila mengkonsumsi tanin adalah pertumbuhan yang lambat dan nafsu makan berkurang karena rasa pahit dari tanin.
Flavonoid mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (Panovskai et al., 2005). Menurut Rukmiasih et al. (2010), tanaman beluntas mengandung senyawa flavonoid,
vitamin C dan beta-karoten masing-masing sebesar 4,47%, 98,25 mg/100 g dan 2.552 mg/100 g yang ketiganya mempunyai efek sebagai antioksidan dan juga mengandung fitokimia (bahan obat). Daya kerja flavonoid sebagai antioksidan adalah mengikat logam dan menangkap oksigen radikal dan radikal bebas (scavenger).
Kandungan kimia lain pada beluntas yaitu alkaloid. Alkaloid adalah senyawa yang mengandung substansi dasar nitrogen basa, biasanya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid terdistribusi secara luas pada tanaman. Alkaloid biasanya pahit dan sangat beracun (Widodo, 2002). Tanaman beluntas dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Tanaman Beluntas
Vitamin C
Menurut Sukmono (2009), vitamin C berperan sebagai antioksidan. Dalam tubuh, vitamin C membantu mengurangi infeksi yang masuk ke dalam tubuh, membantu menyembuhkan luka, meningkatkan penyerapan zat besi, dan dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskuler. Menurut Widodo (2002), vitamin C diabsorpsi didalam usus. Poedjiadi dan Supriyanti (2006) menjelaskan vitamin C juga berperan menghambat reaksi-reaksi oksidasi dalam tubuh yang berlebihan dengan bertindak sebagai inhibitor. Kemampuan vitamin ini untuk mentransfer elektron menunjukkan adanya peran yang sangat penting dalam proses metabolisme. Vitamin C merupakan antioksidan yang larut dalam air yang mampu meredam radikal bebas dengan cara memberikan atom hidrogen dan elektron kepada radikal bebas, sehingga akan menghentikan atau mengurangi proses cekaman oksidatif lebih lanjut (Blokhina, 2000). Anim et al. (2000) menyatakan bahwa vitamin C digunakan untuk menangkal cekaman pada ayam. Penelitian penggunaan
vitamin C juga dilakukan oleh Kusnadi (2006), dan hasilnya adalah pada suhu tinggi, konversi ransum pada pemberian vitamin C 250, 500 dan 750 ppm, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi konversi ransum ketiganya lebih baik dibandingkan konversi ransum pada perlakuan kontrol. Gambar struktur kimia vitamin C dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Struktur Kimia Vitamin C Sumber: Levy, 2010
Vitamin E
Vitamin E juga berfungsi sebagai antioksidan, yaitu mencegah otooksidasi pada asam-asam lemak tak jenuh serta menghambat timbulnya peroksidasi dari lipida pada membran sel. Selain itu vitamin E juga berfungsi dalam reaksi fosforilasi, metabolisme asam nukleat, sintesis asam askorbat dan sintesis ubiquinon, reproduksi, mencegah ensefalomalasia dan distorsi otot (Widodo, 2002). Sifat umum vitamin E menurut Surai (2003), antara lain: tahan terhadap panas, mudah dioksidasikan dan rusak apabila terdapat lemak tengik. Jenis-jenis vitamin E adalah -tokopherol, - tokopherol, -tokopherol dan -tokopherol. Almatsier (2001), mekanisme vitamin E diserap dibagian usus halus dan dibawa ke hati. Fungsi hati adalah mensekresikan getah empedu, dalam getah empedu terdapat asam empedu yang membantu penyerapan asam lemak, kolesterol dan vitamin larut lemak (Yuwanta, 2004).
Jaringan adiposa pada hewan unggas menurut Surai (2003) juga mengandung vitamin E dalam jumlah yang cukup tinggi. Bahkan konsentrasi vitamin E dalam jaringan adiposa akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan pemberian vitamin E tersebut dalam ransum. Menurut Widodo (2002), sumber vitamin E di alam yaitu pada lemak dan minyak hewan atau pada tanaman terutama pada bagian kecambah gandum, telur dan kolostrum susu sapi. Vitamin E merupakan protektor yang secara terus menerus akan bertindak sebagai scavenger (penangkap) terhadap
radikal bebas yang terbentuk sehingga dimungkinkan tidak terjadi gangguan fungsi sel. Radikal bebas yang menumpuk mengakibatkan terjadinya stres. Stres merupakan respon suatu makhluk hidup terhadap rangsangan baik berupa fisik, kimia, psikis, psikosial, kultural dan sebagainya yang berasal dari luar maupun dalam organisme itu sendiri (Winarto, 2010). Menurut Almatsier (2001), vitamin E agak tahan terhadap panas dan asam, namun tidak tahan terhadap oksigen. Vitamin E sebagian besar disimpan di jaringan lemak dan selebihnya di hati. Suplementasi vitamin E dapat meningkatkan produksi antibodi (terutama imunoglobulin). Gambar struktur bangun tokoferol dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Struktur Bangun Tokoferol Sumber: Colombo, 2010
Konsumsi Ransum
Ransum adalah makanan yang disediakan bagi ternak untuk memenuhi kebutuhannya selama 24 jam (Anggorodi, 1990). Menurut Tillman et al. (1991) konsumsi ransum atau pakan diperhitungkan sebagai jumlah ransum yang dimakan oleh ternak. Zat makanan yang terkandung di dalamnya akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan baik hidup pokok maupun keperluan produksi ternak. Konsumsi ransum pada unggas dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu jenis unggas, temperatur lingkungan, bobot badan, jenis kelamin, umur, tingkat produksi telur, aktivitas ternak, tipe kandang, palatabilitas ransum, kandungan energi ransum, kualitas nutrisi ransum, konsumsi air serta kandungan lemak tubuh dan tingkat cekaman (Conn, 2002).
Konsumsi ransum itik yang diberi tepung daun beluntas dalam ransumnya telah dilaporkan oleh Gunawan (2005). Selama 8 minggu pemberian tepung daun beluntas (dari umur 2-10 minggu) dengan taraf 0%; 0,5% dan 1% tidak mempengaruhi konsumsi ransum. Rataan konsumsi ransum yang diperoleh berkisar
O OH
R1
R2
R3
antara 4.883,2-4.885,9 g/ekor. Hasil penelitian Randa (2007), rataan konsumsi ransum itik lokal yang dipelihara selama 10 minggu dengan suplementasi vitamin E dan C dalam ransum adalah 7.997±42,84 g/ekor.
Bobot Badan dan Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan diartikan sebagai pertambahan dalam bentuk dan berat jaringan-jaringan pembangun seperti urat daging, tulang, jantung, otak dan semua jaringan tubuh lainnya (kecuali jaringan lemak) serta alat-alat tubuh (Anggorodi.1990). Salah satu cara untuk mengetahui pertumbuhan adalah dengan melihat pertambahan bobot badan dalam satuan waktu tertentu. Hardjosworo et al. (1980) menyatakan bahwa sampai umur lima minggu, laju pertambahan bobot badan itik terus meningkat, setelah itu laju pertumbuhannya menurun.
Pertumbuhan merupakan suatu proses yang meliputi pertumbuhan bobot badan dan pertumbuhan semua bagian tubuh secara merata dan proposional. Respon pertumbuhan ditentukan oleh beberapa faktor yaitu genetik, jenis kelamin, ransum dan manajemen pemeliharaan (Rose,1997).
Gunawan (2005) melaporkan bahwa pertambahan bobot badan itik akibat pemberian tepung daun beluntas dalam ransum dengan taraf 0,5% dan 1% selama delapan minggu tidak berbeda dengan perlakuan kontrol, begitupun dengan bobot badan akhir yang dihasilkan setelah itik mencapai umur 10 minggu. Rataan pertambahan bobot badan yang diperoleh berkisar antara 1.126-1.214 g/ekor. Purba (2010), melaporkan bahwa rataan pertambahan bobot badan itik MA (Mojosari jantan-Alabio betina) umur 10 minggu dengan suplementasi santoquin dan vitamin E berkisar antara 1.618,97±58,34 hingga 1.687,23±74,23 g/ekor.
Konversi Ransum
Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum dan kualitas ransum (Fan et al., 2008). Konversi ransum juga berguna untuk mengukur produktivitas ternak sebab konversi ransum merupakan perbandingan antara ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai konversi ransum menunjukkan semakin banyak ransum yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan per satuan berat dan semakin rendah nilai konversi ransum berarti kualitas ransum semakin baik. Itik yang diberi ransum mengandung serat kasar tinggi
memiliki konversi ransum yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Rukmiasih et al. (2002) yang mendapatkan konversi ransum nyata lebih tinggi (P<0,05) pada itik yang diberi ransum mengandung serat kasar 35% dan 20%. Hal ini berhubungan dengan ketidakmampuan saluran pencernaan itik dalam menyerap nutrien akibat adanya serat kasar tinggi dalam usus karena itik tidak mempunyai enzim pencerna serat kasar yaitu enzim selulase. Serat kasar mengakibatkan cepatnya pergerakan isi saluran pencernaan sehingga menjadi cepat keluar, sebelum kandungan nutrisinya terserap optimal. Selanjutnya, nutrisi yang lebih sedikit terserap mengakibatkan pertumbuhan bagian-bagian tubuh itik ikut terhambat sehingga pertumbuhan bobot badan yang diperoleh menjadi tidak optimal.
Konversi ransum itik lokal jantan (persilangan itik tegal dengan itik mojosari) yang diberi penambahan tepung daun beluntas dalam ransum telah dilaporkan oleh Gunawan (2005). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa konversi ransum itik yang diberi tepung daun beluntas sampai dengan taraf 1% selama 10 minggu, lebih tinggi 21,93% (4,17 vs 3,42) dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Rataan konversi ransum itik akibat pemberian tepung daun beluntas 0%, 0,5% dan 1% selama delapan minggu berturut-turut sebesar 3,42; 4,20 dan 4,17.
Rataan konversi ransum dengan suplementasi santoquin dan vitamin E pada itik MA umur 10 minggu berkisar antara 5,04 hingga 5,40 (Purba, 2010). Hasil penelitiannya memberikan indikasi bahwa suplementasi berbagai level santoquin dan vitamin E tidak berpengaruh negatif terhadap konversi ransum itik pada umur 10 minggu. Randa (2007) telah melaporkan bahwa rataan konversi ransum itik cihateup yang dipelihara selama 10 minggu dengan suplementasi vitamin E dan C masing- masing dengan dosis 400 IU/kg dan 250 mg/kg adalah 6,96±0,59.
MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei hingga September 2010. Penelitian dilaksanakan di kandang B Ilmu Produksi Ternak unggas, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Materi Penelitian Daun Beluntas (Pluchea indica L.)
Daun beluntas (Pluchea indica L.) yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari sekitar kandang B bagian Ilmu Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pengambilan dilakukan pada pagi hari pukul 08.00 pagi dengan memotong batangnya sepanjang 20-30 cm dari ujung tanaman. Daun beluntas yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Daun Beluntas yang Digunakan
Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik cihateup umur 1 hari (DOD) sebanyak 96 ekor yang dibagi ke dalam 4 perlakuan 3 ulangan. Masing- masing ulangan terdiri atas 8 ekor itik. DOD ini diperoleh dari salah satu peternak di Bogor. Itik yang dipelihara memiliki bobot badan awal yang beragam, untuk itu pada penelitian ini itik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu itik dengan bobot kecil (59,34 g), bobot sedang (71,63 g) dan bobot besar (82,47 g). Itik cihateup umur 2 minggu yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Itik Cihateup Umur 2 Minggu Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang sistem litter dengan ukuran 1,5 m x 1,5 m, berjumlah 12 buah dengan alas sekam setinggi 10 cm. Setiap kandang diberi lampu pijar dengan daya 60 watt yang berfungsi sebagai penghangat sekaligus penerang. Tempat pakan (feeder tray) berdiameter ± 38 cm untuk itik yang berumur 1-7 minggu dan bak hitam berdiameter ± 48 cm untuk itik yang berumur 8-10 minggu dan tempat air minum berkapasitas 5 liter yang diletakkan pada masing-masing bagian kandang dengan posisi tempat minum berada dibagian tengah dalam tempat pakan. Peralatan yang digunakan adalah gunting untuk memotong tanaman beluntas, tempat mengeringkan daun beluntas, plastik untuk mengeringkan dan menyimpan daun beluntas, ember, kertas label, alat tulis, nomor identifikasi, timbangan digital kapasitas 5 kg dan 2 kg untuk menimbang ransum, vitamin dan itik. Kandang pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 7.
Ransum
Ransum perlakuan yang diberikan pada itik umur 1-7 minggu adalah :
RK=Ransum komersial sebagai kontrol, yaitu jenis BR 11 yang diproduksi oleh PT Charoen Pokphand,
KB=Ransum komersial yang mengandung tepung daun beluntas 0,5%, KBC=Ransum komersial yang mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan
vitamin C 250 mg/kg,
KBE=Ransum komersial yang mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU/kg.
Pada minggu ke 8-10, ransum perlakuan yang digunakan ditambahkan dengan dedak. Hal ini dilakukan karena pertambahan bobot badan itik sudah mengalami penurunan sehingga perlu dilakukan penurunan kandungan protein ransum. Perbandingan ransum komersial dan dedak adalah 40:60. Ransum perlakuan pada itik umur 7-10 minggu adalah :
RK=Ransum komersial+dedak
KB=Ransum komersial+dedak yang mengandung tepung daun beluntas 0,5%
KBC=Ransum komersial+dedak yang mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg/kg
KBE=Ransum komersial+dedak yang mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU/kg.
Ransum diberikan dalam bentuk mash dengan sedikit dibasahi. Pemberian ransum diberikan tiga kali per hari yakni pada pukul 07.30 WIB, pukul 12.00 WIB dan pukul 16.00 WIB. Komposisi kimia ransum komersial, daun beluntas dan dedak padi (as fed) disajikan pada Tabel 1 sedangkan susunan ransum, kandungan nutrien, antinutrien dan antioksidan dalam ransum itik perlakuan umur 1-7 minggu disajikan pada Tabel 2 dan pada Tabel 3 disajikan tabel susunan ransum, kandungan nutrien, antinutrien dan antioksidan dalam ransum itik perlakuan umur 7-10 minggu.
Tabel 1. Komposisi Kimia Ransum Komersial, Daun Beluntas dan Dedak Padi (As Fed) Komponen Ransum Komersial1) Tepung Daun Beluntas2) Dedak3) Bahan Kering (%) 87 85,83 91
Energi Bruto (kkal/kg) 3448
EM (kkal/kg) 3000 2068,84) 1900 Protein (%) 21 19,02 13 Lemak (%) 5 3,7 5 Serat kasar (%) 5 15,8 12 Abu (%) 7 15,69 11,33 Kalsium (%) 0,9 2,4 0,06 Phospor (%) 0,6 0,29 0,8 Vitamin C (%) 0 98,255) 0 Vitamin E (%) 0 0 0 Tanin (%) 0 1,885) 0
Keterangan : 1) (Charoen Phokhpan BR 11, 2010)
2)
(Gunawan, 2005)
3)
(Leeson & Summers, 2005)
4)
EM= Energi Bruto X 0,6
5)
(Rukmiasih et al., 2010)
Prosedur Persiapan Kandang dan Peralatan
Persiapan kandang dilakukan sebelum itik datang yang dimulai dari pembersihan kandang, penyemprotan kandang dengan air, pembersihan daerah sekitar kandang, penyemprotan dengan desinfektan, pengapuran kandang dan pencucian tempat pakan dan tempat air minum.
Pembuatan Tepung Daun Beluntas
Tanaman beluntas diambil daunnya kemudian dikeringkan selama 3-7 hari pada suhu ruangan. Daun yang telah kering kemudian digiling menjadi tepung daun beluntas. Daun beluntas yang telah kering dan tepung daun beluntas dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Daun Beluntas yang Telah Kering dan Tepung Daun Beluntas
Tabel 2. Susunan Ransum, Kandungan Nutrien, Antinutrien dan Antioksidan dalam Ransum Itik Perlakuan Umur 1-7 Minggu
Susunan Ransum K KB KBC KBE
Komersial (%) 100 99,5 99,47 99,46 Beluntas (%) 0 0,5 0,5 0,5 Vitamin C (%) 1) 0 0 0,025 0 Vitamin E (%) 2) 0 0 0 0,04 Jumlah 100 100 100 100
Kandungan Nutrien, Antinutrien dan Antioksidan: Bahan Kering (%) EM (kkal/kg) 87 3000 86,99 2995,34 87 2994,44 87 2994,14 Protein (%) 21 20,99 20,99 20,98 Lemak (%) 5 4,99 4,99 4,99 Serat kasar (%) 5 5,05 5,05 5,05 Abu (%) 7 7,04 7,04 7,04 Kalsium (%) 0,9 0,91 0,91 0,91 Phospor (%) Antinutrien (tanin) 0,6 0 0,60 0,01 0,60 0,01 0,60 0,01 Antioksidan Vitamin C (mg/kg) 0 4,91 254,91 4,91 Vitamin E (IU/kg) 0 0 0 400 Keterangan : 1) Setara dengan 250 mg/kg, 2) Setara dengan 400 IU, K = ransum, komersial; KB =
ransum komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = ransum komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin C 250 mg/kg; KBE = ransum komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin E 400 IU/kg
Tabel 3. Susunan Ransum, Kandungan Nutrien, Antinutrien dan Antioksidan dalam Ransum Itik Perlakuan Umur 7-10 Minggu.
Susunan Ransum K KB KBC KBE
Komersial (%) 40 39,75 39,74 39,73 Dedak (%) 60 59,75 59,73 59,73 Beluntas (%) 0 0,5 0,5 0,5 Vitamin C (%) 0 0 0,025 0 Vitamin E (%) 0 0 0 0,04 Jumlah 100 100 100 100
Kandungan Nutrien, Antinutrien dan Antioksidan: Bahan Kering (%) EM (kkal/kg) 89,40 2340 89,37 2338,09 89,38 2337,79 89,39 2337,49 Protein (%) 16,20 16,21 16,21 16,20 Lemak (%) 5.00 4,99 4,99 4,99 Serat kasar (%) 9,20 9,23 9,23 9,23 Abu (%) 9.60 9,63 9,63 9,63 Kalsium (%) 0,40 0,41 0,41 0,41 Phospor (%) Antinutrien (tanin) 0,72 0 0,72 0,01 0,72 0,01 0,72 0,01 Antioksidan Vitamin C (mg/kg) 0 4,91 254,91 4,91 Vitamin E (IU/kg) 0 0 0 400
Keterangan : 1) Setara dengan 250 mg/kg, 2) Setara dengan 400 IU, K = ransum komersial; KB = ransum komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = ransum komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin C 250 mg/kg; KBE = ransum komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin E 400 IU/kg
Pembentukan Unit Perlakuan
Itik yang digunakan berjumlah 96 ekor, itik diberikan nomor sayap (wingband) dan ditimbang untuk mendapatkan bobot badan awal dari masing-masing ternak, lalu dihitung rataan dan standar deviasinya. Kemudian itik dibagi ke dalam 3 kelompok yaitu itik dengan bobot badan kecil, sedang dan besar. Selanjutnya, itik dari setiap kelompok dibagi ke dalam 4 petak kandang (perlakuan) secara acak.
Pemeliharaan dan Pengambilan Data
Itik dipelihara dari umur 1 hari hingga 10 minggu. Pada umur 1-7 minggu itik diberi ransum perlakuan K, KB, KBC dan KBE. Berikut adalah contoh cara pembuatan setiap kg ransum perlakuan. Pada perlakuan K, ransum yang digunakan adalah ransum komersial broiler periode starter buatan pabrik jenis BR 11 yang diproduksi oleh PT. Charoen Pokphand. Pada perlakuan KB, untuk setiap kg
ransum disusun dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dengan 995 g ransum komersial. Pada perlakuan KBC, untuk setiap kg, ransum disusun dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dengan 0,25 g vitamin C ke dalam ransum komersial 994,75 g. Pada perlakuan KBE, untuk setiap kg, ransum disusun dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas kemudian ditambahkan dengan 0,4 g vitamin E ke dalam ransum komersial sebanyak 994,6 g.
Pada minggu 7-10, ransum perlakuan yang diberikan dilakukan penambahan dedak. Hal ini dilakukan karena pertambahan bobot badan itik sudah mengalami penurunan sehingga perlu dilakukan penurunan kandungan protein ransum. Perbandingan ransum komersial dan dedak menjadi 40:60. Pada perlakuan K, itik diberi ransum yang disusun dengan cara mencampur ransum komersial sebanyak 400 g dan dedak 600 g. Pada perlakuan KB, itik diberi ransum yang disusun dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dengan ransum komersial sebanyak 397,5 g dan dedak 597,5 g. Pada perlakuan KBC, itik diberi ransum yang disusun dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dan vitamin C 0,25 g ke dalam ransum komersial sebanyak 375,375 g dan dedak 597,375 g. Pada perlakuan KBE, itik diberi ransum yang disusun dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dan vitamin E sebanyak 0,4 g dengan ransum komersial sebanyak 397,3 g dan dedak 597,3 g.
Pencampuran ransum dilakukan dengan cara mencampur bahan-bahan yang berbobot kecil dengan sebagian kecil ransum komersial dan dedak kemudian pencampuran bahan dilakukan dengan sedikit demi sedikit hingga seluruh ransum tercampur dengan merata. Prosedur penggantian ransum dilakukan secara bertahap dengan perbandingan 25:75; 50:50; 75:25; 0:100. Sisa ransum itik dikumpulkan, dijemur di bawah sinar matahari sampai kering dan ditimbang setiap hari untuk memperoleh data konsumsi ransum itik. Penimbangan itik dilakukan setiap minggu