Akuntabilitas
Akuntabilitas (accountability) diartikan sebagai yang dapat dipertanggung jawabkan. Dalam istilah kamus Akuntansi, akuntabilitas merupakan tanggung jawab individu atau bagian/departemen terhadap kinerja suatu fungsi tertentu akuntabilitas bisa ditetapkan melalui aturan hukum atau perjanjian.
Menurut Hansen dan Mowen (2005 : 117), akuntabilitas secara tidak langsung mencerminkan pengukuran kinerja, yang berarti bahwa hasil aktual dibandingkan dengan hasil yang diperkirakan atau dianggarkan. Akuntansi pertanggung jawaban merupakan suatu segmen bisnis yang manejernya bertanggung jawab terhada serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu.
Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban yang dilakukan oleh seseorang atau suatu lembaga atas segala tindakannya yang ditujukan kepada yang memberi wewenang (Abdul Halim 2007 : 319). Akuntabilitas merupakan asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Gusti Agung 2008 : 277).
Sehubungan dengan pentingnya diterapkan prinsip akuntabilitas (Elwood dalam Setiawan 2009 : 22) menjelaskan tentang empat dimensi akuntabilitas, yaitu: 1. Akuntabilitas kejujuran dan
Akuntabilitas hukum
Akuntabilitas kejujuran (accountability for probity) terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan, sedangkan akuntabilitas hukun (legal accountability) terkait dengan jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain yang disyaratkan dalam penggunaan sumber dana publik.
2. Akuntabilitas Proses
Akuntabilitas proses terkait dengan apakah prosedur yang digunakan dalam melaksanakan tugas sudah cukup baik dalam hal kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi manajemen, dan prosedur administrasi.
3. Akuntabilitas Program
Akuntabilitas program terkait dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai atau tidak, dan apakah telah mempertimbangkan alternatif program yang memberikan hasil yang optimal dengan biaya yang minimal.
4. Akuntabilitas Kebijakan
Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggung jawaban pemerintah, baik pusat maupun daerah, atas kebijakan- kebijakan yang diambil pemerintah terhadap DPR/DPRD dan masyarakat luas.
Indikator akuntabilitas menurut Lalolo (2009 : 27) didasarkan pada tahapan setiap program dari akuntabilitas itu sendiri, yaitu:
1. Pada tahap proses pembuatan sebuah keputusan, beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas adalah:
a. Pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan tersedia bagi setiap yang membutuhkan. b. Pembuatan keputusan sudah
memenuhi standar etika dan nilai- nilai yang berlaku, artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi. c. Adanya kejelasan dari sasaran
kebijakan yang diambil, dan sudah sesuai dengan visi dan misi
JESP Vol. 5, No.1, 2013
135 organisasi, serta standar yang
berlaku.
d. Adanya mekanisme yang menjamin bahwa standar telah terpenuhi, dengan konsekuensi pertanggungjawaban jika standar tersebut tidak dipenuhi.
2. Pada tahap sosialisasi kebijakan, beberapa indikator untuk menjamin akuntabilitas adalah:
a. Penyebaran informasi mengenai suatu keputusan, melalui media massa.
b. Akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan cara-cara mencapai sasaran suatu program c. Akses publik pada informasi atas
suatu keputusan setelah keputusan dibuat dan mekanisme pengaduan masyarakat.
d. Ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang telah dicapai oleh pemerintah.
Pertanggungjawaban atas Semua Aktivitas
Pertanggungjawaban menyajikan dan melaporkan segala aktivitas dan kegiatan yang terkait dengan pengelolaan uang publik kepada pihak yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggung jawaban tersebut (DPR dan masyarakat luas). Adapun Kriteria dari akuntabilitas, LAN RI dan BPKP (http//tesisdisertasi.blogspot.com/2010/05/ definisi-akuntabilitas.html):
1. Akuntabilitas keuangan
Akuntabilitas keuangan merupakan pertanggung jawaban mengenai integritas keuangan, pengangkatan dan ketaatan terhadap peraturan perundangan. Sasaran pertanggung jawaban ini adalah laporan keuangan yang disajikan dan peraturan perundangan yang berlaku yang mencangkup penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran uang.
2. Akuntabilitas manfaat
Akuntabilitas manfaat (efektifitas) pada dasarnya memberi perhatian kepada hasil dari kegiatan-kegiatan
pemerintahan. Dalam hal ini, memiliki kemampuan untuk menjawab pencapaian tujuan (dengan memperhatikan biaya dan manfaatnya) dan tidak hanya sekedar kepatuhan terhadap hirarki atau prosedur. Efektivitas yang harus dicapai bukan hanya berupa output akan tetapi yang lebih penting adalah efektivitas dari sudut pandang outcome. Akuntabilitas manfaat hampir sama dengan akuntabilitas program.
3. Akuntabilitas prosedural
Akuntabilitas prosedural merupakan pertanggung jawaban mengenai apakah suatu prosedur penetapan dan pelaksanaan suatu kebijakan telah mempertimbangkan masalah moralitas, etika, kepastian hukum, dan ketaatan pada keputusan politis untuk mendukung pencapaian tujuan akhir yang telah dietapkan. Pengertian akuntabilitas prosedural ini adalah sebagaimana dengan akuntabilitas proses.
PNPM Mandiri dan Badan
Keswadayaan Masyarakat
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) merupakan program pemerintah yang secara subtansial berupaya memberdayakan masyarakat dan pelaku pembangunan lokal lainnya, termaksud pemerintah daerah dan kelompok peduli setempat sehingga dapat dibangun gerakan bersama. Pelaksanaan program-program pemberdayaan yang dilakukan oleh berbagai pihak belum dapat menyentuh semua lapisan masyarakat dimana hanya sebagian kecil yang diuntungkan dan ini merupakan golongan kecil dari masyarakat.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri adalah program nasional dalam wujud kerangka kebijakan sebagai dasar acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat. (Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
136
Selaku Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan : 2007).
Ruang lingkup kegiatan PNPM Mandiri pada dasarnya terbuka bagi semua kegiatan penanggulangan kemiskinan yang diusulkan dan disepakati masyarakat meliputi:
a. Penyediaan dan perbaikan prasarana/sarana lingkungan permukiman, sosial, dan ekonomi secara padat karya;
b. Penyediaan sumber daya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro untuk mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat miskin. Perhatian yang lebih besar perlu diberikan bagi kaum perempuan dalam memanfaatkan dana bergulir ini;
c. Kegiatan terakhir peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs;
d. Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran kritis, pelatihan keterampilan usaha, manajemen organisasi dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.
Sumber dana pelaksanaan PNPM Mandiri berasal dari:
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik yang bersumber dari Rupiah Murni maupun dari pinjaman/hibah;
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, terutama untuk mendukung penyediaan dana pendamping bagi kabupaten dengan kapasitas fiskal rendah;
3. APBD Kabupaten/Kota sebagai dana pendamping, dengan ketentuan minimal 20 (dua puluh) persen bagi kabupaten /kota dengan kapasitas fiskal rendah dan minimum 50 (lima puluh) persen bagi kabupaten/kota dengan kapasitas fiskal menengah ke atas dari total BLM kabupaten/kota;
4. Kontribusi swasta sebagai perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan
5. Swadaya masyarakat (asosiasi profesi, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan individu/kelompok peduli lainnya).
Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) merupakan badan musyawarah dan pengambilan keputusan yang kondusif untuk pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan khususnya dan pembangunan masyarakat kelurahan pada umumnya (P2KP 2008: 36). BKM bertanggung jawab menjamin keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang kondusif untuk pengembangan keswadayaan masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan khususnya dan pembangunan masyarakat kelurahan pada umumnya (Pedoman Umum PNPM Mandiri P2KP 2008:36).
Fungsi BKM antara lain:
a. Mengorganisasikan warga secara partisipatif untuk merumuskan rencana jangka menengah (3 tahun) penanggulangan kemiskinan (PJM Pronangkis) dan di ajukan ke Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK) untuk mencairkan dana BLM
b. Sebagai dewan pengambilan keputusan untuk hal-hal yang menyangkut pelaksanaan PNPM Mandri pada khususnya dan penaggulangan kemiskinan pada umumnya
c. Mempromosikan dan menegakkan nilai-nilai luhur (jujur, adil, transparan, demokratis) dalam setiap keputusan yang diambil dan kegiatan pembangunan yang dilaksanakan d. Menumbuhkan berbagai kegiatan
pemberdayaan masyarakat miskin agar mampu meningkatkan kesejahteraan mereka
e. Mengembangkan jaringan BKM di tingkat kecamatan, kota/kabupaten sebagai mitra kerja Pemerintah Daerah dan wahana untuk menyuarakan
JESP Vol. 5, No.1, 2013
137 aspirasi masyarakat warga yang
diwakilinya
f. Menetapkan kebijakan dan mengawasi proses pemanfaatan dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM).