Kambing peranakan etawah (PE) merupakan persilangan kambing kacang dan kambing etawah (Sudono dan Abdulgani 2002). Kambing jantan berbadan besar, tinggi gumba 90–127 cm, bobot dapat mencapai 91 kg sedangkan betina tinggi gumbanya dapat mencapai 92 cm serta memiliki berat tubuh di bawah jantan ±63 kg, dan kambing jantan maupun betina memiliki telinga panjang 18–30 cm. Masa kebuntingan antara 150–154 hari, dewasa kelamin usia empat bulan (Kartinaty dan Gufroni 2010). Kambing PE dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Artiodactyla Famili : Bovidae Subfamili : Caprinae Genus : Capra
Spesies : Capra aegagrus
Subspecies : Capra aegagrus hircus
2
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil leukosit (nilai total leukosit diferensiasi jenis leukosit, dan jumlah masing-masing jenis leukosit) kambing PE setelah vaksinasi iradiasi Streptococcus agalactiae untuk pencegahan mastitis subklinis.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan tentang profil leukosit sebagai respon terhadap vaksin iradiasi S. agalctiae pada kambing PE dan mengetahui keefektifan vaksin tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA
Kambing Peranakan EtawahKambing peranakan etawah (PE) merupakan persilangan kambing kacang dan kambing etawah (Sudono dan Abdulgani 2002). Kambing jantan berbadan besar, tinggi gumba 90–127 cm, bobot dapat mencapai 91 kg sedangkan betina tinggi gumbanya dapat mencapai 92 cm serta memiliki berat tubuh di bawah jantan ±63 kg, dan kambing jantan maupun betina memiliki telinga panjang 18–30 cm. Masa kebuntingan antara 150–154 hari, dewasa kelamin usia empat bulan (Kartinaty dan Gufroni 2010). Kambing PE dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Artiodactyla Famili : Bovidae Subfamili : Caprinae Genus : Capra
Spesies : Capra aegagrus
Subspecies : Capra aegagrus hircus
3
Gambar 2 Kambing PE betina (Sutama 2011)
Produksi susu kambing PE 1.5–3.5 L per ekor/ hari. Globul lemak lebih kecil, protein lebih lunak, kandungan kalsium, fosfor, vitamin A, E, dan B kompleks yang tinggi. Susu kambing perah dapat dikonsumsi oleh orang yang alergi susu sapi (Blakely dan Bade 1991).
Tabel 1 Perbandingan komposisi susu kambing dan susu sapi
Sumber: Blakely dan Bade (1991).
Mastitis
Mastitis merupakan penyakit yang banyak dialami oleh ternak penghasil susu. Mastitis dibedakan menjadi dua yakni mastitis klinis dan subklinis. Gejala dari mastitis klinis adalah ambing menjadi panas, bengkak, mengeras, dan dihasilkan susu yang yang mengandung darah. Penyebab mastitis subklinis pada sapi di pulau Jawa sering disebabkan oleh Streptococcus agalactiae atau Staphylococcus aureus
(Sugiri dan Anri 2010). Kejadian mastitis klinis pada kambing perah sebesar 25.5% terjadi setelah melahirkan atau 40 hari pasca melahirkan (Mc Dougall et al. 2002).
Mastitis pada kambing mengakibatkan penurunan produksi susu sekitar 10– 25%, kematian anak karena tidak mendapatkan kolostrum, peningkatan biaya pengobatan, meningkatnya jumlah hewan yang harus dikeluarkan, dan susu ditolak di pasaran karena jumlah sel somatik (JSS) lebih tinggi dari normal dan mengandung patogen (Leitner et al. 2004). Hasil penelitian Mc Dougall et al. (2002) menyatakan bahwa kambing penderita mastitis subklinis apabila JSS mencapai jumlah 1x106 sel/mL dan tidak menunjukkan gejala klinis. Berdasarkan JSS dalam susu, maka kejadian mastitis subklinis pada kambing berkisar 9–50% (Sanchez et al. 2007).
Pencegahan penyebaran mastitis dapat dilakukan dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, pemerahan yang higienis, melakukan teat dipping dengan menggunakan Sodium hipoklorat setelah pemerahan, dan
Hewan Air (%) Lemak (%) Protein (%) Laktosa (%) Mineral (%) Bahan Padat Tanpa Lemak (%) Total Bahan Padat (%) Kambing 87.0 4.25 3.52 4.27 0.86 8.75 13.00 Sapi 87.2 3.70 3.50 4.90 0.70 9.10 12.80
4
pemeriksaan jumlah sel somatik pada periode laktasi normal. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan vaksin yang berasal dari bakteri penyebab mastitis tersebut, misalnya S. agalactiae (Lindahl 2005).
Gambar 3 Ambing mastitis pada kambing PE (Suwito dan Indrajulianto 2013)
Streptococcus agalactiae
Menurut Lehmann and Neumann (1896) S. agalactiae diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Bacteria Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Lactobacillales Famili : Streptococcaceae Genus : Streptococcus
Spesies : Streptococcus agalactiae
Karakteristik Streptococcus agalactiae adalah diplococcal, gram positif, nonmotil, tidak membentuk spora, memproduksi kapsul polisakarida, dan mampu bertahan pada temperatur tinggi. Bakteri ini dikelompokkan dalam grup B
Streptococcus (GBS), yang merupakan satu dari empat beta-hemolityc streptococci. Faktor virulensi S. agalactiae berasal dari produk ekstraseluler yakni kapsul polisakarida, protein permukaan, dan protein yang disekresikannya. Komponen lainnya adalah hemaglutinin yang berperan sebagai adhesin (Wahyuni et al. 2006). Kemampuan menempel pada permukaan epitel mamae, lebih penting daripada invasi hal ini menyebabkan tidak ada perubahan yang kasat mata (Wibawan et al.
1998).
Vaksin Iradiasi Sinar Gamma
Vaksin adalah suatu suspensi atau substansi mikroorganisme yang digunakan untuk menginduksi terbentuknya sistem imun. Vaksinasi merupakan suatu usaha meningkatkan imunitas orang atau hewan terhadap invasi mikroorganisme patogen atau toksinnya. Jenis vaksin yang tersedia di pasaran yakni live vaccine, killed vaccine, vaksin toksoid, vaksin rekombinan, dan vaksin DNA (Radji 2010).
Radiasi adalah emisi (pancaran) dan perambatan energi melalui materi atau ruang dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau partikel. Sedangkan iradiasi merupakan istilah yang digunakan untuk aplikasi radiasi. Ada tiga jenis radiasi yang
5
ada yakni radisai partikel bermuatan (alfa, beta, proton, dan elektron), radiasi partikel tidak bermuatan (neutron), dan radiasi gelombang elektromagnetik (sinar X dan sinar gamma) (BATAN 2008). Sinar gamma merupakan radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang pendek, dipancarkan oleh isotop radioaktif sebagai inti bentuk tidak stabil, dan meluruh untuk mencapai bentuk stabil. Vaksin iradisai sinar gamma merupakan vaksin yang dibuat dengan memanfaatkan radiasi untuk melemahkan agen patogen tanpa merusak dinding selnya, target utama adalah bagian DNA yang merupakan sumber informasi genetik sel. Perubahan genetik sel akan berakibat pada terganggunya kinerja atau kematian sel, sehingga antigen tetap memiliki daya imunogenik dan mampu meningkatkan kekebalan pada hewan coba (Smith 1992). Keunggulan vaksin jenis ini adalah dapat mengaktifkan seluruh fase sistem imun, meningkatkan respon imun terhadap seluruh antigen, durasi imunisitas lebih panjang, biaya lebih murah, lebih cepat menimbulkan respon imunitas, mudah dibawa ke lapangan, dapat mengurangi wild type (Tatriana dan Sugoro 2007). Saat ini sudah ada beberapa vaksin yang dibuat dengan metode ini yakni vaksin Venezuelan eqiune enchepahalitis, Lysteria monocytogenes, dan vaksin influenza (Tuasikal et al. 2012).
Leukosit
Leukosit terdiri dari lima jenis yakni neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan monosit. Jumlah leukosit normal kambing adalah 4000–13000 sel/µL (Lawhead dan James 2007).
Neutrofil
Neutrofil berfungsi sebagai fagosit dan penghancur mikroorganisme oleh enzim fagosom atau oleh organel peroksisom. Neutrofil dewasa memiliki inti bergelambir 3–5, sitoplasma kelabu pucat dan mengandung butir halus. Masa hidup neutrofil yang tidak aktif pada sistem sirkulasi sekitar 4–10 jam sedangkan yang telah bermigrasi bertahan selama 1–2 hari (Guyton dan Hall 2006). Jumlah neutrofil pada kambing normal adalah 1200–7200 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 30–48% (Latimer et al. 2003).
Gambar 6 Neutrofil (Harvey 2001) Eosinofil
6
Eosinofil memiliki granul merah dan bergelambir dua. Eosinofil berperan mengatur peradangan, melawan parasit, dan reaksi alergi. Eosinofil membunuh parasit dengan melepaskan enzim hidrolitik dan lisosom, melepaskan oksigen reaktif, serta melepaskan polipeptida bersifat larvasidal. Jumlah eosinofil normal kambing adalah 50–650 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 1–8% (Latimer et al. 2003).
Gambar 7 Eosinofil (Harvey 2001) Basofil
Basofil bersitoplasma biru gelap, dipenuhi granul dengan inti bersegmen. Basofil jumlahnya tinggi pada keadaan alergi. Basofil melepaskan heparin ke dalam sirkulasi darah seperti halnya sel mast. Hal ini terjadi karena antibodi yang berperan dalam reaksi alergi (IgE) memiliki kemampuan untuk menempel pada sel mast dan basofil, kemudian melepaskan histamin, bradikinin, serotonin, heparin, slow- reacting substance of anaphylaxis, dan enzim lisosomal(Guyton dan Hall 2006). Jumlah basofil normal kambing adalah 0–120 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 0–1% (Latimer et al. 2003).
Gambar 8 Basofil (Harvei 2001) Limfosit
Limfosit memiliki dua bentuk yakni limfosit besar dan kecil. Limfosit besar merupakan bentuk muda dan limfosit kecil merupakan bentuk dewasa. Limfosit banyak ditemukan pada organ limfoid yakni tonsil, limfonodus, limpa, dan timus. Masa hidup limfosit berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun- tahun (Guyton dan Hall 2006). Dalam sistem pertahanan limfosit dibedakan menjadi dua yakni limfosit B dan limfosit T. Limfosit B berkembang dan dewasa di bone marrow berperan sebagai pertahanan humoral sedangkan limfost T
7
bertindak sebagai pertahan seluler. Jumlah normal limfosit pada kambing adalah 2000–9000 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 50–70% (Latimer et al. 2003).
Gambar 9 Limfosit (Harvei 2001) Monosit
Monosit diproduksi oleh sumsum tulang kemudian menuju aliran darah akhirnya menuju ke jaringan menjadi makrofag. Fungsi utama monosit dalam sistem imun yaitu merespon adanya tanda-tanda inflamasi dengan cara bergerak cepat (kira-kira 8–12 jam) ke tempat yang terinfeksi, membentuk protein dari suatu komplemen, dan mengeluarkan substansi yang mempengaruhi proses peradangan kronik (Guyton and Hall 2006). Diameter monosit 15–20 μm, inti berbentuk tapal kuda atau oval. Jumlah normal monosit kambing adalah 0–550 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 0–4% (Latimer et al. 2003).
Gambar 10 Monosit (Harvey 2001)
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Vaksin dibuat di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Pengambilan darah kambing dilakukan tanggal 14 November 2012 sampai 21 Maret 2013 sedangkan vaksinansi tanggal 20 November, 4 dan 21 Desember 2012 di peternakan kambing PE Bangun Dioro Farm, Desa Cijeruk, Kabupaten Bogor. Interval pengambilan darah satu minggu setelah vaksinasi. Pengamatan diferensiasi leukosit tanggal 29 Agustus 2013 sampai 3 Juli 2014 di Bagian Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, sedangkan perhitungan jumlah leukosit dilakukan di BATAN.
7
bertindak sebagai pertahan seluler. Jumlah normal limfosit pada kambing adalah 2000–9000 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 50–70% (Latimer et al. 2003).
Gambar 9 Limfosit (Harvei 2001) Monosit
Monosit diproduksi oleh sumsum tulang kemudian menuju aliran darah akhirnya menuju ke jaringan menjadi makrofag. Fungsi utama monosit dalam sistem imun yaitu merespon adanya tanda-tanda inflamasi dengan cara bergerak cepat (kira-kira 8–12 jam) ke tempat yang terinfeksi, membentuk protein dari suatu komplemen, dan mengeluarkan substansi yang mempengaruhi proses peradangan kronik (Guyton and Hall 2006). Diameter monosit 15–20 μm, inti berbentuk tapal kuda atau oval. Jumlah normal monosit kambing adalah 0–550 sel/µL (Lawhead dan James 2007), sedangkan nilai relatifnya adalah 0–4% (Latimer et al. 2003).
Gambar 10 Monosit (Harvey 2001)
METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Vaksin dibuat di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Pengambilan darah kambing dilakukan tanggal 14 November 2012 sampai 21 Maret 2013 sedangkan vaksinansi tanggal 20 November, 4 dan 21 Desember 2012 di peternakan kambing PE Bangun Dioro Farm, Desa Cijeruk, Kabupaten Bogor. Interval pengambilan darah satu minggu setelah vaksinasi. Pengamatan diferensiasi leukosit tanggal 29 Agustus 2013 sampai 3 Juli 2014 di Bagian Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, sedangkan perhitungan jumlah leukosit dilakukan di BATAN.
8
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah 9 ekor kambing PE yang sehat secara klinis usia kurang lebih 2 tahun (5 ekor perlakuan dan 4 ekor kontrol) usia kebuntingan empat sampai lima bulan (pemeriksaan kebuntingan dengan ultrasonografi (USG)), obat cacing, antibiotik, vaksin iradiasi S. agalactiae, pakan kambing, pewarna Giemsa, larutan turk, reagen California Mastitis Test (CMT), IPB 1 Mastitis Test, alkohol 70%, minyak imersi, xylol, metanol, dan vitamin B kompleks. Alat yang digunakan adalah tabung penampung darah dengan heparin, jarum 22 G, syringe 3 mL, USG, distrene plasticiser xylene (DPX) mountant®, counting chamber Neubauer, cover glass, object glass, boks preparat, kapas, tisu, pipet tetes, kamera digital, komputer, mikroskop Olympus®, kamera digital electronic eyepiece MD- 130®, dan software SPSS 16.
Persiapan Bahan
Vaksin dibuat oleh BATAN. Bahan dasar vaksin adalah bakteri S. agalactiae
108 cfu/mL yang diiradiasi dengan sinar gamma 112.504 krad/jam. Vaksin yang digunakan sebanyak 2 mL/ekor secara subkutan di regio gumba (Tuasikal et al. 2012). Vaksinasi dilakukan sebanyak tiga kali pada usia kebuntingan 4 sampai 5 bulan.
Persiapan Hewan Percobaan
Jumlah kambing PE yang digunakan dalam penelitian sebanyak 9 ekor kambing betina bunting usia empat sampai lima bulan (5 ekor perlakuan dan 4 ekor kontrol) sebelumnya dilakukan USG, uji CMT, pretreatment menggunakan antibiotik, obat cacing (albendazole), dan vitamin B kompleks. Penomoran kambing perlakuan (20, 22, 35, 68, dan 69) sedangkan untuk kontrol (1, 3, 6, dan 32). Bobot kambing antara ±25.5 kg. Vaksinasi pertama dilakukan pada minggu ke- tiga usia kebuntingan 4 bulan dan dilakukan booster dengan interval setiap 2 minggu sekali (minggu pertama dan minggu ke tiga kebuntingan 5 bulan). Vaksinasi dihentikan jika kambing sudah melahirkan.
9
Tabel 2 Jadwal pengambilan darah dan vaksinasi iradiasi S. agalactiae kambing PE perlakuan dan pengambilan darah kambing kontrol
Nomor Kambing Kebuntingan 4 Bulan Minggu ke- Kebuntingan 5 Bulan Minggu ke-
Laktasi Minggu ke-
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 20 X X 22 X X 35 X X 68 X X X 69 X X X 1 3 6 32
Keterangan : = Pengambilan darah X= Vaksinasi
Kambing no. 20 melahirkan 10 Desember 2012, no. 22 melahirkan 9 Desember 2012, no. 35 melahirkan 18 Desember 2012, no. 68 melahirkan 30 Desember 2012, no.69 melahirkan 25 Desember 2012, Kambing kontrol (1, 3, 6, dan 32) mengalami keguguran.
Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan darah dilakukan dari Vena jugularis 1 minggu setelah vaksinasi. Setelah Vena jugularis ditemukan, bagian yang akan ditusuk disucihamakan dengan alkohol 70%. Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung penampung dengan antikoagulan heparin.
Gambar 11 Pengambilan darah dari Vena jugularis
Pembuatan Sediaan Ulas Darah dan Diferensiasi Leukosit
Darah diteteskan pada ujung object glass kemudian diulas dengan object glass lain. Setelah kering dilanjutkan fiksasi selama 5 menit dalam metanol. Setelah difiksasi, object glass direndam dalam zat warna Giemsa selama 30 menit,
10
kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa zat warna lalu dikeringkan. Selanjutnya, DPX mountant diteteskan pada preparat ulas darah tersebut, ditutup dengan cover glass dan didiamkan sampai kering. Sediaan ulas darah yang telah diwarnai kemudian diamati di bawah mikroskop perbesaran obyektif 100X dan okuler 10X untuk menghitung diferensiasi leukosit hingga jumlah total yang teramati mencapai jumlah 100. Jumlah masing-masing jenis leukosit ditentukan dengan cara mengalikan persentase tersebut dengan jumlah total leukosit (Eggen et al. 2001). Selama proses diferensiasi leukosit difoto menggunakan kamera digital electronic eyepiece MD-130® yang terhubung secara langsung dengan komputer.
Prosedur Analisis Data
Data yang diperoleh dinyatakan dalam rataan dan simpangan baku masing- masing kelompok diolah dengan Microsoft Excel 2013 dilanjutkan analisis of varriance (ANOVA) one way menggunakan SPSS 16, dan uji post hoc Duncan
untuk mengetahui perbedaan setiap perlakuan pada P<0.05 (Singgih 2008).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah Leukosit
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh jumlah leukosit pada Tabel 3.
Tabel 3 Hasil pengamatan jumlah leukosit kambing PE perlakuan vaksinasi iradiasi
S. agalactiae dan kambing PE kontrol
*Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf uji 5% (p<0.05). Jumlah leukosit prevaksinasi kambing perlakuan adalah 8966±946 sel/µL lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yakni 8633±879 sel/µL. Hal yang berbeda ditunjukkan pada posvaksinasi I, jumlah leukosit kambing perlakuan mengalami penurunan dan lebih rendah dari nilai kontrol. Penurunan jumlah leukosit kambing perlakuan terjadi karena limfosit dimobilisasi ke jaringan limfoid untuk pembentukkan antibodi yang memerlukan waktu 3–14 hari selain itu neutrofil dimobilisasi ke jaringan tempat penyuntikan vaksin (Lawhead dan James 2007). Peningkatan jumlah leukosit kambing perlakuan terjadi secara berturut-turut dari posvaksinasi II, III, dan dua minggu posvaksinasi III. Hal ini terjadi karena
Pengambilan darah
Jumlah Leukosit (sel/µL)
Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol
Prevaksinasi 8966±946a 8633±879a Posvaksinasi I 7100±244a 7366±339a Posvaksinasi II 7666±736a 8466±899a Posvaksinasi III 8600±1557a 8266±2015a Dua minggu posvaksinasi III 9066±262 a 9333±618a
10
kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa zat warna lalu dikeringkan. Selanjutnya, DPX mountant diteteskan pada preparat ulas darah tersebut, ditutup dengan cover glass dan didiamkan sampai kering. Sediaan ulas darah yang telah diwarnai kemudian diamati di bawah mikroskop perbesaran obyektif 100X dan okuler 10X untuk menghitung diferensiasi leukosit hingga jumlah total yang teramati mencapai jumlah 100. Jumlah masing-masing jenis leukosit ditentukan dengan cara mengalikan persentase tersebut dengan jumlah total leukosit (Eggen et al. 2001). Selama proses diferensiasi leukosit difoto menggunakan kamera digital electronic eyepiece MD-130® yang terhubung secara langsung dengan komputer.
Prosedur Analisis Data
Data yang diperoleh dinyatakan dalam rataan dan simpangan baku masing- masing kelompok diolah dengan Microsoft Excel 2013 dilanjutkan analisis of varriance (ANOVA) one way menggunakan SPSS 16, dan uji post hoc Duncan
untuk mengetahui perbedaan setiap perlakuan pada P<0.05 (Singgih 2008).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah Leukosit
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh jumlah leukosit pada Tabel 3.
Tabel 3 Hasil pengamatan jumlah leukosit kambing PE perlakuan vaksinasi iradiasi
S. agalactiae dan kambing PE kontrol
*Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf uji 5% (p<0.05). Jumlah leukosit prevaksinasi kambing perlakuan adalah 8966±946 sel/µL lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yakni 8633±879 sel/µL. Hal yang berbeda ditunjukkan pada posvaksinasi I, jumlah leukosit kambing perlakuan mengalami penurunan dan lebih rendah dari nilai kontrol. Penurunan jumlah leukosit kambing perlakuan terjadi karena limfosit dimobilisasi ke jaringan limfoid untuk pembentukkan antibodi yang memerlukan waktu 3–14 hari selain itu neutrofil dimobilisasi ke jaringan tempat penyuntikan vaksin (Lawhead dan James 2007). Peningkatan jumlah leukosit kambing perlakuan terjadi secara berturut-turut dari posvaksinasi II, III, dan dua minggu posvaksinasi III. Hal ini terjadi karena
Pengambilan darah
Jumlah Leukosit (sel/µL)
Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol
Prevaksinasi 8966±946a 8633±879a Posvaksinasi I 7100±244a 7366±339a Posvaksinasi II 7666±736a 8466±899a Posvaksinasi III 8600±1557a 8266±2015a Dua minggu posvaksinasi III 9066±262 a 9333±618a
11
telah dilakukan booster, sehingga terbentuk imun sekunder terhadap antigen (Radji 2010). Selain itu pengambilan darah posvaksinasi III merupakan akhir kebuntingan, yang menyebabkan terjadinya stres. Stres mengakibatkan meningkatnya kadar kortisol sehingga jumlah neutrofil meningkat yang menyebabkan jumlah leukosit meningkat pula. Keadaan ini disebut sebagai leukositosis kortikosteroid (Stocham dan Scott 2008).
Neutrofil
Penyuntikan vaksin akan memicu sel-sel pertahanan tubuh yakni neutrofil dan makrofag untuk memfagosit agen. Neutrofil merupakan leukosit yang pertama berperan dalam melawan infeksi (Radji 2010). Hasil pengamatan tertera pada Tabel 4.
Tabel 4 Hasil pengamatan neutrofil kambing PE perlakuan vaksinasi iradiasi S. agalactiae dan kambing PE kontrol
Pengambilan Darah
Nilai Relatif (%) Jumlah Neutrofil (sel/µL) Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Prevaksinasi 26.67±0.57b 36.33±18.23b 2331±350b 3136±948b Posvaksinasi I 18.67±2.08b 42.00±17.69c 1325±190b 3094±949c Posvaksinasi II 19.00±1.15a 32.33±7.09a 1456±228a 2737±607a Posvaksinasi III 25.67±6.02 c 47.33±5.50d 2207±168c 3912±1630 d Dua minggu posvaksinasi III 38.33±12.74c 34.00±12.49c 3475±1012c 3173±1033 c Nilai normal 30–48% (Latimer et al. 2003) 1200–7200 sel/µL (Lawhead dan James 2007) *Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf uji 5% (p<0.05)
Nilai relatif neutrofil kambing perlakuan prevaksinasi adalah 26.67±0.57% lebih rendah dari kontrol dan di bawah nilai normal. Namun, jumlahnya masih dalam kisaran nilai normal (2331±350 sel/µL). Meningkatnya jumlah neutrofil dapat dipengaruhi faktor stres saat handling (Nwiyi et al. 2000). Nilai relatif neutrofil kambing perlakuan posvaksinasi I 18.67±2.08% lebih rendah dibandingkan dengan prevaksinasi dan berbeda nyata dengan kontrol (p<0.05). Hal ini terjadi karena neutrofil banyak dimobilisasi ke jaringan tempat disuntikkan vaksin. Neutrofil memiliki kemampuan untuk berpindah ke jaringan yang diserang oleh mikroorganisme (Lawhead dan James 2007). Nilai relatif neutrofil kambing perlakuan posvaksinasi II mengalami peningkatan yakni 19.00±1.15%, namun tidak berbeada nyata dengan kontrol (P>0.05). Nilai relatif neutrofil posvaksinasi III juga mengalami peningkatan yakni 25.67±6.02%. Hal ini dapat terjadi karena saat itu merupakan masa akhir kebuntingan yang memicu stres. Stres mengakibatkan tingginya kadar kortisol dalam darah sehingga jumlah leukosit
12
utamanya neutrofil meningkat melalui pelepasan neutrofil dari sumsum tulang masuk ke dalam aliran darah dan menghambat migrasi neutrofil dari sirkulasi darah menuju jaringan (Colville dan Bassert 2008). Nilai relatif neutrofil kambing perlakuan kembali meningkat pada dua minggu posvaksinasi III yakni 38.33±12.74% namun masih normal.
Gambar 12 Morfologi neutrofil kambing PE perlakuan, bar= 5 µm
Monosit
Selain neutrofil, leukosit yang mampu memfagosit adalah makrofag. Makrofag adalah monosit yang telah bermigarasi ke jaringan (Guyton dan Hall 2006). Hasil pengamatan tertera pada Tabel 5.
Tabel 5 Hasil pengamatan monosit kambing PE perlakuan vaksinasi iradiasi S. agalactiae dan kambing PE kontrol
Pengambilan Darah
Nilai Relatif Monosit (%) Jumlah Monosit (sel/µL) Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Prevaksinasi 8.00±3.46a 4.33±1.15a 717±418 a 373±118a Posvaksinasi I 6.67±4.51a 5.67±3.05a 473±36 a 417±199a Posvaksinasi II 6.00±1.73a 3.33±1.15a 460±173a 281±94a Posvaksinasi III 7.00±0.00 a 5.67±2.31a 602±90 a 468±317a Dua minggu posvaksinasi III 3.67±3.05a 6.00±3.46a 332±237 a 559±343a Nilai normal 0–4% (Latimer et al. 2003) 0–550 sel/µL
( Lawhead dan James 2007) *Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf uji 5% (p<0.05)
Nilai relatif monosit kambing perlakuan prevaksinasi adalah 8.00±3.46% lebih tinggi dari kontrol. Monosit tinggi pada keadaan peradangan, neoplastik, dan serangan agen infesksius (leishmaniasis, histoplasmosis, dan Eehrlichiosis) (Harvey dan John 2001). Nilai relatif monosit mengalami penurunan pada posvaksinasi I menjadi 7.67±4.51% begitupun posvaksinasi II menjadi 6.00±1.73%, karena monosit dimobilisasi ke subkutan di daerah gumba untuk memfagosit agen yang disuntikkan menjadi makrofag. Makrofag yang banyak
13
terkonsentari di jaringan menyebabkan jumlah monosit yang ada di sirkulasi berkurang (Radji 2010).
Mekanisme terbentuknya antibodi pada vaksinasi diawali dengan antigen yang disuntikkan ke jaringan. Makrofag berubah menjadi antigen presenting cell
(APC) setelah memfagosit antigen. Nilai relatif monosit kembali mengalami kenaikan saat posvaksinasi III yakni 7.00±0.00%. Hal ini menunjukkan telah terbentuk imun sekunder. Makrofag merupakan salah satu bentuk dari respon imun selular, dimana aktivitas makrofag sangat dipengaruhi oleh interferon dan interleukin yang dihasilkan oleh sel T. Umumnya antingen mikroba maupun antigen yang terlarut disajikan oleh makrofag kepada sel T-helper, sehingga, monosit diproduksi dalam jumlah banyak dan cepat untuk dimobilisasi ke jaringan menjadi makrofag (Radji 2010). Nilai relatif monosit kembali mengalami penurunan pada dua minggu posvaksinasi III yakni 3.67±3.05%, namun masih normal 0–4% (Latimer et al. 2003).
Gambar 13 Morfologi monosit kambing PE perlakuan, bar= 5 µm Limfosit
Limfosit merupakan leukosit yang berperan dalam pembentukan antibodi (Radji 2010). Hasil pengamatan tertera pada Tabel 6.
Tabel 6 Hasil pengamatan limfosit kambing PE perlakuan vaksinasi iradiasi S. agalactiae dan kambing PE kontrol
Pengambilan Darah
Nilai Relatif Limfosit (%) Jumlah Limfosit (sel/µL) Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol Prevaksinasi 64.00±2.16b 58.00±15.76b 5738±411b 5007±757b Posvaksinasi I 73.67±2.05c 49.00±12.32b 5230±87c 3609±451a Posvaksinasi II 76.00±2.16 d 61.6 ±6.94d 5801±427b 5221±1143b Posvaksinasi III 66.00±4.08 b 40.33±4.02a 5676±1520b 3333±954a Dua minggu posvaksinasi III 57.67±8.73a 58.33±7.84a 5228±924a 5444±1268a Nilai normal 50–70% (Latimer et al. 2003) 2000–9000 sel/µL (Lawhead dan James 2007) *Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama berbeda nyata pada taraf uji 5% (p<0.05)
14
Nilai relatif limfosit pada prevaksinasi 64.00±2.16% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol 58.00±15.76%. Nilai relatif limfosit meningkat pada posvaksinasi I yakni 73.67±2.05% dan berbeda nyata dengan kontrol (p<0.05), peningkatan nilai tersebut tidak diikuti oleh peningkatan jumlah. Jumlah limfosit justru mengalami penurunan dari 5738±411 sel/µL menjadi 5230±87 sel/µL, namun lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Penurunan tersebut terjadi karena jumlah leukosit posvaksinasi I menurun dan tubuh masih dalam proses merespon pembentukan antibodi setelah paparan antigen yang pertama, normalnya tubuh memerlukan waktu 3–14 hari untuk mencapai puncak terbentuknya antibodi dimana pembentukan antibodi terjadi di dalam organ-organ limfoid sekunder (Lawhead dan James 2007).
Nilai relatif limfosit posvaksinasi II mengalami peningkatan menjadi 76.00±2.16% lebih tinggi jika dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukan