KESIMPULAN DAN SARAN
TINJAUAN PUSTAKA
Bangsa Sapi
Penggolongan sapi ke dalam suatu bangsa (breed) sapi, didasarkan atas sekumpulan persamaan karakteristik tertentu. Atas dasar karakteristik tersebut, mereka dapat dibedakan dari ternak lainnya meskipun masih dalam spesies yang sama. Karakteristik yang dimiliki tersebut akan diturunkan ke generasi berikutnya. Menurut Blakely dan Bade (1992), bangsa sapi mempunyai klasifikasi taksonomi sebagai berikut :Kingdom : Animalia, Phylum :Chordata, Subphylum: Vertebrata, Class : Mamalia, Ordo : Artiodactyla, Sub ordo : Ruminantia, Famili : Bovidae, Genus : Bos (cattle), Spesies : Bos taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi india/sapi zabu), Bos sondaicus (banteng/sapi Bali).
Sapi Peranakan Ongole ( PO)
Sapi PO (Peranakan Ongele) merupakan sapi yang berasal dari persilangan antara bangsa sapi Jawa (sapi lokal) dengan bangsa sapi Ongole (India) yang telah berlangsung cukup lama yakni sejak tahun 1908. Persilangan tersebut merupakan suatu “Grading Up” yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Erlangga, 2009).
Ciri khas sapi tersebut yaitu berpunuk besar, bergelambir longgar dan berleher pendek. Kulit berwarna kuning dengan bulu putih atau putih kehitam-hitaman. Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku dan bulu cambuk pada ujung ekor berwarna hitam. Kepala pendek dengan profil melengkung. Mata besar dengan sorot
yang tenang. Tanduk pendek dan tanduk pada sapi betina berukuran lebih panjang dibandingkan dengan sapi jantan. Telinganya panjang dan menggantung (Sarwono dan Arianto, 2003).
Sapi Brahman Cross
Ciri-ciri sapi Brahman mempunyai punuk yang besar dan gelambir yang memanjang berlipat-lipat dari kepala ke dada.. Karakteristik sapi Brahman berukuran sedang dengan berat jantan dewasa 800-1000 kg, sedangkan betina 500-700 kg, berat pedet yang baru lahir antara 30-35 kg, dan dapat tumbuh cepat dengan berat sapi kompetitif dengan jenis sapi lainnya. Presentase karkas 48,6-54,2 dan pertambahan berat harian 0,83-1,5 kg. Sapi Brahman memiliki warna yang bervariasi dari abu-abu muda dan abu-abu tua. Sapi jantan berwarna lebih tua dari sapi betina dan memiliki warna gelap di daerah leher, bahu, dan paha bagian bawah. Sapi brahman dapat beradaptasi dengan baik terhadap panas tanpa gangguan selera makan dan produksi susu (Hardjosubroto, 1994).
Sapi Limousin
Sapi limousin merupakan sapi potong keturunan bos taurus yang berhasil dijinakkan dan di kembangkan di Perancis. Karakteristik Sapi Limousin yaitu bulunya berwarna merah mulus dan tumbuh agak panjang bulu di bagian kepala, mata awas, kaki tegap dan dada besar serta dalam.
Bentuk tubuh memanjang, bagian perut agak mengecil, tetapi bagian paha dan pinggul cukup besar, penuh daging dan sangat padat. Sapi limousin sudah diimpor Indonesia di antaranya dipelihara di Balai Inseminasi Buatan Lembaga Jawa Barat.
Sapi Aceh
Sapi Aceh adalah sapi yang hidup dan berkembang biak di provinsi Aceh dan umumnya dimiliki oleh petani pedesaan sejak dahulu hingga sekarang. Sapi ini termasuk tipe sapi potong berukuran kecil serta mempunyai kontribusi yang cukup besar bagi pemenuhan kebutuhan daging di daerah (Diskeswannak, 2011).
Sapi aceh memiliki bentuk badan kecil, padat dan pada sapi pejantan berpunuk sedangkan pada sapi betina tidak berpunuk namun bagian pundaknya tidak rata sedikit menonjol dibanding sapi Bali betina. Diantara satu daerah dengan kabupaten yang lain dalam provinsi Aceh terdapat sedikit perbedaan baik dalam konformasi tubuh, tanduk, maupun warna bulu. Hal ini mungkin disebabkan asal usul persilangan yang berbeda dari sapi India dan sebagainya (Umartha, 2005).
Pola warna bulu sapi Aceh yang muda dan dewasa sangat bervariasi yaitu coklat muda, coklat merah (merah bata), coklat hitam, hitam dan putih kelabu. Warna coklat merupakan warna yang umum didalam populasi sapi Aceh (Ali, 1980).
Sapi Bali
Sapi Bali (Bos sondaicus) telah mengalami proses domestika yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah Pulau Jawa atau Bali dan Lombok. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa sampai saat ini masih dijumpai banteng yang hidup liar di beberapa lokasi di Pulau Jawa, seperti di Ujung Kulon serta Pulau Bali yang menjadi pusat gen sapi Bali. Sapi Bali dikenal juga dengan nama Balinese cow yang kadang-kadang disebut juga dengan nama Bilbos javanicus, meskipun sapi Bali bukan satu subgenus dengan bangsa sapi Bos taurus atau Bos indicus.Berdasarkan hubungan
silsilah famili Bovidae, kedudukan sapi Bali diklasifikasi ke dalam sub genus
Bibovine termasuk genus bos
sapi-bali.htm, 2015l)
Sapi Bali memiliki karakteristik ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang, kepala agak pendek dengan dahi datar, badan padat dengan dada yang dalam, tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir, kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau, pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis memanjang dari gumba hingga pangkal ekor, cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam, tanduk pada sapi jantan tumbuh ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina ke bagian dalam
(http://andiwawan-tornra.com/2010/02/mengenal-sapi-bali.html
Keandalan pita ukur
Suatu alat ukur dikatakan memiliki keterandalan (reliabilitas tinggi) atau dapat dipercaya jika alat ukur itu mantap dalam pengertian bahwa hasil yang diperoleh dengan penerapan alat tersebut tidak berbeda jauh dengan bobot hidup yang sesungguhnya. Untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur disebut mantap
,
maka perlu diketahui indeks atau koefisien reliabilitasnya. Indeks reliabilitas yang lebih rendah daripada 0.9 menunjukkan reliabilitas yang kurang artinya alat ukur yang digunakan masih belum dapat diandalkan (Natsir, 1985). Tingkat reliabilitas alat pengumpul data hanya dapat dilakukan dengan perhitungan korelasi dan data untuk perhitungan dapat diperoleh dari hasil ujicoba pada sejumlah individu di luar sampel tetapi berasal dari populasi yang sama (Nawawi, 1985).Penelitian untuk mengetahui keterandalan pita Coburn dalam menduga bobot badan juga telah dilakukan oleh Sahat (2013) terhadap 30 ekor sapi . Dari penelitian tersebut diperoleh bahwa penyimpangan bobot badan dengan pita ukur Coburn sebesar 6,79%, sedangkan bila dibandingkan dengan rumus Schoorl 0,40%. Sehingga penyimpangan bobot badan berdasarkan rumus Schoorl nyata (P<0,05) lebih rendah daripada penyimpangan dengan pita ukur Coburn. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa pendugaan bobot badan dengan menggunakan pita ukur Coburn tidak cocok bila dibandingkan dengan rumus Schoorl dalam menduga bobot badan sapi .
Penelitian untuk mengetahui keterandalan pita Dalton dalam menduga bobot hidup kerbau Lumpur, sapi Bali, dan babi persilangan Landrace telah dilakukan oleh Putra (2005) terhadap 544 ekor kerbau lumpur, 1264 ekor sapi Bali, dan 200 ekor babi persilangan Landrace jantan dan betina menunjukkan bahwa pita Dalton tidak dapat diandalkan secara langsung untuk menduga bobot hidup kerbau Lumpur, sapi Bali, dan babi. Pita Dalton terandalkan penggunannya bila dikoreksi melalui regresi linier sederhana antara bobot hidup hasil penimbangan dengan bobot hidup hasil pendugaan dengan pita Dalton. Dimana rumus untuk menduga bobot hidup ternak melalui pita Dalton adalah masing-masing : BH (Bobot Hidup) = 37.408+0.729 PD (Pita Dalton) untuk kerbau Lumpur, BH = 30.167+0.670 PD untuk sapi Bali , BH = 8.609 + 0.714 PD untuk babi persilangan Landrace.
Bobot badan
Menurut Hassen.,et al (2004) ukuran bobot badan merupakan salah satu representasi ekonomi yang penting dalam peternakan sapi potong. Selain itu, bobot
badan juga sangat berkaitan erat dengan aspek ekonomi lainnya meliputi produksi dan reproduksi.
Djagra (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan tubuh secara keseluruhan umumnya diukur dengan bertambahnya berat badan sedangkan besarnya badan dapat diketahui melalui pengukuran pada tinggi badan, panjang badan dan lingkar dada.
Taylor (1995) menambahkan bahwa berdasarkan curva sigmoid pertumbuhan sapi, pertumbuhan yang konstan dimulai pada saat ternak berumur 22 bulan atau lebih kurang 1 tahun.
Bobot badan memegang peranan penting dalam pola pemeliharaan yang baik selain untuk menentukan kebutuhan nutrisi, jumlah pemberian pakan juga dapat digunakan untuk menentukan nilai jual ternak tersebut. Di lapangan masih banyak dijumpai peternak yang memberikan pakan tidak mempertimbangkan jumlah kebutuhan berdasarkan bobot badan. Kurangnya pengetahuan peternak tentang cara penentuan jumlah pakan serta penentuan harga jual yang tidak lepas dari pengaruh bobot badan dan minimnya fasilitas untuk mengetahui bobot badan yang tepat menjadi salah satu alasan. Parameter tubuh adalah nilai-nilai yang dapat diukur dari bagian tubuh ternak termasuk ukuran-ukuran yang dapat diukur bagian tubuh ternak sapi, antara lain ukuran kepala, tinggi, panjang, lebar dan lingkar. Indikator penilaian digunakan dalam menilai produktivitas antara lain lingkar dada, tinggi badan dan panjang badan. Berat badan juga merupakan indikator penilaian produktivitas dan keberhasilan menejemen peternakan (Saladin, 1981).
Bahan pertimbangan untuk memilih ternak adalah bobot lahir, karena ada kecenderungan bahwa bobot lahir yang tinggi akan mengalami pertambahan bobot
badan yang lebih baik dan cepat dari pada ternak yang mempunyai bobot lahir rendah. Bobot badan dapat digunakan oleh seseorang yang terlah berpengalaman beberapa tahun (Ensminger, 1968), sedangkan tingkat keberadaannya sangat subjektif. Hal ini mengakibatkan bahwa tidak mudah sembarangan orang menduga bobot badan ternak, lagi pula sering berbias besar. Demikian pula halnya dengan menduga bobot lahir ternak. Pendugaan bobot badan memakai pita ukur buatan Dalton,Inggris, terutama digunakan untuk ternak sapi. Jelas bahwa pita ukur ini kurang tepat apabila dipergunakan untuk kerbau yang berbeda keadaan dan bangsanya.
Jumlah zat makanan yang dibutuhkan untuk hidup pokok sapi didasarkan pada bobot badan. Bobot badan sapi maupun ternak lainnya akan dapat diketahui dengan tepat, apabila sapi itu ditimbang dengan menggunakan timbangan sapi. Namun, harganya cukup mahal sehingga besar kemungkinan tidak terdapat dipeternak. Oleh karena itu, diperlukan alat pengukur lain selain timbangan tersebut meskipun hasilnya tidak setepat timbangan sapi. Alat yang biasa digunakan adalah tongkat ukur dan pita ukur. Keduanya untuk mengukur lingkar dada sapi. Hasil pengukuran dituangkan dalam persamaan regresi. Lingkar dada memiliki hubungan erat dengan bobot badan
Untuk mencari alternatif lain dalam pendugaan bobot hidup seekor ternak, digunakan ukuran-ukuran tubuh. Sesuai dengan pendapat Anderson dan Kisser (1963) dirujuk oleh Setiawati (2007) bahwa ukuran-ukuran tubuh seekor ternak mempunyaui hubungan yang erat dengan bobot hidup. Ukuran-ukuran tubuh ini dapat memberikan gambaran bobot hidup dari ternak tersebut. Dengan mengetahui
ukuran-ukuran tubuh diketahui apakah ternak itu berproduksi baik atau tidak.bobot hidup dari seekor ternak juga berguna dalam menentukan jumlah makanan yang akan diperlukan pada seekor ternak sapi.
Lingkar dada dan rumus Pendugaan
Pendugaan umur dan berat badan seekor ternak menjadi sangat penting untuk diketahui, khususnya bagi peternak dan pedagang ternak sehingga tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang dapat merugikan sebelah pihak (Suardi, 1993).
Dalam usaha untuk mengatasi kendala yang dihadapi jika alat ukur untuk menduga berat badan ternak yang berkapasitas besar tidak tersedia, dapat dilakukan penaksiran berat badan ternak tersebut dengan menggunakan dimensi tubuhnya. Misalnya melalui panjang badan dan juga lingkar dada, karena lingkar dada seekor ternak memiliki korelasi yang sangat kuat untuk menduga berat hidup ternak (Parakkasi, 1999).
Secara umum ada dua teknik penentuan bobot badan seekor ternak, yaitu penimbangan (weight scale) dan penaksiran. Kedua teknik tersebut memiliki keuntungan dan keterbatasannya masing-masing. Metode penimbangan merupakan cara paling akurat tetapi memiliki beberapa kelemahan, antara lain membutuhkan peralatan khusus dan dalam beberapa kasus membutuhkan operator relatif lebih banyak (terutama dalam peternakan besar dengan sistem ranch) sehingga menjadi kurang efisien, dan tidak semua ranch memiliki peralatan (weight scale) tersebut. Adapun metode penaksiran atau pendugaan umumnya dilakukan melalui ukuran-ukuran tubuh ternak, misalnya melalui lingkar dada, tinggi pundak, dan lain lain. Metode pendugaan ini memiliki keunggulan dalam hal kepraktisan, akan tetapi
memiliki kendala dengan tingkat akurasi pendugaannya dan masih perlu terus dikembangkan terutama dalam konteks ternak-ternak lokal di Indonesia (Gunawan,1990).
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan mengukur panjang badan dan lingkar dada. Terdapat beberapa rumus penduga bobot badan ternak menggunakan lingkar dada, yaitu Schrool, Winter, dan Denmark. Rumus-rumus tersebut dapat digunakan untuk sapi, kambing, domba, babi dan kerbau (Gafar, 2007). Brookes dan Harmiington (1960) menyatakan bahwa korelasi tertinggi antara bobot hidup dengan ukuran-ukuran badan adalah lingkar dada (r = 0,90). Lingkar dada (L), panjang badan (P) dan tinggi pundak (T) .
Pengukuran lingkar dada dilakukan dengan mengatur dahulu posisi berdiri sapi dengan tegak. Sehingga keempat kakinya terletak dalam segi empat diatas bidang datar. Penafsiran berat badan sangat penting dilakukan oleh para peternak untuk mengetahui bobot badan ternak. Cara ini merupakan cara lain untuk mengetahui berat badan ternak selain penimbangan berat badan. Apabila setiap kaki harus selalu dilakukan penimbangan, hal ini dirasa kurang praktis disamping timbangan ini jumlahnya terbatas 2015). Rumus penentuan badan sapi berdasarkan ukuran tubuh bertolak dari anggapan bahwa tubuh ternak sapi berupa tong. Oleh karena itu, ukuran tubuh yang digunakan untuk menduga bobot tubuh biasanya adalah panjang badan dan lingkar dada. Rumus yang telah dikenal adalah rumus schrool yang mengemukakan pendugaan bobot badan ternak sapi berdasarkan lingkar dada sebagai berikut (Wahyudin,2007) :
Bobot badan (kg) = (Lingkar dada (cm) + 22)² 100
Keterangan :
1 inchi = 2,54 cm 1 lbs = 0,4536 kg
Menurut Gafar (2007) rumus-rumus yang dapat digunakan untuk menduga bobot badan adalah :
Rumus Schrool (lbs) = (LD + 22)² 100
Rumus Smith (lbs) = (LD + 18)² 100 Keterangan: LD = Lingkar Dada
PB = Panjang Badan
Makin bertambah ukuran-ukuran tubuh seekor ternak maka semakin bertambah bobot hidupnya. White dan Green diacu dalam Yurnalis (2007) menyatakan bahwa koefisien korelasi antara lingkar dada, panjang badan, dan tinggi pundak dengan bobot hidup sangat tinggi dibandingkan dengan ukuran tubuh lainnya. Ternak yang sedang tumbuh setiap pertumbuhan 1% lingkar dada diikuti oleh kenaikan bobot hidup sebesar 3%, ditambahkan oleh Kidwel (1965) penafsiran yang paling tepat dalam pendugaan bobot hidup ternak sapi adalah melalui ukuran lingkar dada.
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sapi asli Indonesia (Aceh, Pesisir, sMadura, Sumba-ongole dan Java-ongole) merupakan hibridisasi banteng termasuk sapi luar yang masuk ke Indonesia dan telah cukup lama berada di Indonesia sehingga berkembang biak sesuai dengan lingkungannya. Sapi Indonesia telah mengalami seleksi alam dengan berbagai beradaptasi terhadap wilayah seperti pakan berkualitas rendah dengan segala penyakit dan ekstoparasit lokal yang ada di wilayah tersebut, sehingga telah memunculkan fenotip-fenotip baru yaitu yang dimiliki sapi Aceh, Pesisir, Madura, Bali, dan PO (Abdullah.,et al.,2008).
Ternak ruminansia sebagai salah satu sumber utama protein hewani yang perlu terus ditingkatkan pengembangannya. Untuk meningkatkan produktifitas ternak sapi dalam rangka memenuhi protein hewani masyarakat, salah satu usaha diperlukan informasi mengenai bobot hidup sapi, bagi penentuan dosis obat dan keperluan dalam pengelolaan peternakan. Dalam proses jual beli ternak sapi, bila si pembeli dan penjual mengetahui bobot hidup sapi sebenarnya maka proses jual beli akan berjalan lancar. Bila timbangan tidak tersedia maka pendugaan bobot hidup yang bisa mendekati keadaan yang sebenarnya hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah berpengalaman. Bagi mereka yang tidak berpengalaman usaha satu-satunya yang digunakan adalah dengan menggunakan pita ukur.
Sampai sekarang untuk menentukan bobot hidup tanpa timbangan dilakukan dengan memberikan dugaan berdasarkan pengalaman. Dugaan ini sering sangat
berbias dan tidak banyak orang yang bisa melakukannya dengan hasil yang mendekati. Ketidak cocokan bobot yang sebenarnya dengan bobot hidup pita ukur pada sapi-sapi Indonesia telah dilaporkan oleh Wachyudar yang diacu dalam Suardi (1993). Menurut yang bersangkutan pendugaan bobot hidup dengan pita ukur menghasilkan bobot hidup yang sangat nyata lebih tinggi dari bobot yang sebenarnya.
Suatu alat ukur dikatakan memiliki keterandalan (reliabilitas tinggi) atau dapat dipercaya jika alat ukur itu mantap dalam pengertian bahwa hasil yang diperoleh dengan penerapan alat tersebut tidak berbeda jauh dengan bobot hidup yang sesungguhnya. Untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur disebut mantap
,
maka perlu diketahui indeks atau koefisien reliabilitasnya. Indeks reliabilitas yang lebih rendah daripada 0.9 menunjukkan reliabilitas yang kurang artinya alat ukur yang digunakan masih belum dapat diandalkan (Natsir, 1985). Tingkat reliabilitas alat pengumpul data hanya dapat dilakukan dengan perhitungan korelasi dan data untuk perhitungan dapat diperoleh dari hasil ujicoba pada sejumlah individu di luar sampel tetapi berasal dari populasi yang sama (Nawawi, 1985).Masalah yang sering dihadapi dalam mengukur bobot badan ternak dalam jumlah yang besar serta biasanya tidak dikandangkan adalah membutuhkan peralatan, tenaga dan waktu yang banyak sehingga pekerjaan menjadi tidak efektif dan efisien. Menurut Takaendengan (1998), sudah cukup banyak jenis timbangan yang sifatnya dapat dibawa (portable) akan tetapi hal tersebut belum dapat mengatasi masalah pengukuran yang lebih praktis, mudah dan murah tanpa mengurangi efektifitas hasil
kerjanya. Beberapa parameter ukuran tubuh ternak yang memiliki hubungan yang erat dengan bobot badan sering dimanfaatkan sebagai penduga bobot badan.
Pengukuran bobot badan ternak yang dilakukan dengan baik adalah sangat membantu peternak dalam menentukan jumlah pemberian pakanyang tepat, pemberian dosis obat serta menetapkan nilai atau harga jual ternak secara benar (Hays.dan Brinks., 1982). Bobot badan ternak persisnya dapat diketahui langsung dengan cara menimbangnya menggunakan timbangan. Namun timbangan ternak berkapasitas besar misalnya untuk sapi hanya tersedia di lokasi tertentu saja seperti pasar hewan atau rumah potong, sedangkan pada peternakan rakyat sama sekal.i tidak ada atau tidak memilikinya.
Bilamana tidak tersedia timbangan, maka pengukuran bobot ternak sapi itu bisa dilakukan dengan teknik penaksiran oleh penaksir. Menurut Djagra (1994) bahwa penaksiran bobot badan ternak itu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penaksiran dengan menggunakan atau berdasarkan panca indera, namun penaksiran dengan panca indera ini bisa sangat subyektif sifatnya, karena hasilnya sangat tergantung dari kemahiran dan subyektivitas si penaksir. Cara yang lain adalah penaksiran dengan menggunakan rumus korelasional antara bobot badan dengan beberapa ukuran dimensi tubuh ternak sapi. Penaksiran dengan menggunakan rumus ini adalah untuk menghindari sifat subyektivitas sehingga hasil taksiran dapat lebih akurat. Menurut Hays dan Brinks (1982) dan De Rose et al (1988) beberapa dimensi tubuh pada sapi seperti lingkar dada, panjang badan, dan tinggi gumba diyakini memiliki korelasi cukup kuat dengan bobot badannya dan sifat korelasional itu dapat dimanfaatkan di dalam proses penaksiran bobot badan ternak sapi itu. Berdasarkan
atas analisis situasi tersebut, maka kegiatan ini dilaksanakan dalam upaya untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam melakukan penaksiran terhadap bobot badan ternak berdasarkan ukuran dimensi tubuh sehingga dihasilkan taksiran bobot badan dengan akurasi yang baik.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kehandalan pita ukur dan rumus pendugaan bobot badan berdasarkan lingkar dada terhadap ternak sapi (Bali, Aceh, Peranakan Ongole (PO), Brahman Cross dan Limousin), serta mengembangkan model pita ukur baru dan persamaan rumus baru.
Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai informasi bagi peternak dalam pemanfaatan pita ukur untuk pendugaan bobot ternak sebagai pengganti timbangan ternak besar. Sumber data dan informasi bagi penelitian berikutnya dan sebagai bahan penyusunan skripsi yang menjadi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
ERIKSON ADI SAPUTRA PARDOSI, 2016 : “PENGEMBANGAN MODEL