• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka

Dalam dokumen Oleh : Endrasti Kiswandari NIM.R (Halaman 16-53)

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin pesawat, alat kerja dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.

Kesehatan Kerja adalah spesialisasi dari ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental, sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.

Dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1970 mengenai keselamatan kerja dijelaskan bahwa setiap tenaga kerja berhak medapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan dan setiap orang lain yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya serta setiap sumber produsi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien sehingga proses produkai berjalan lancar.

Tenaga kerja yang bekerja dalam suatu perusahaan perlu mendapat suatu perlindungan. Perlindungan tenaga kerja meliputi aspek yang cukup luas yaitu

perlindungan keselamatan, kesehatan dan pemeliharaan moral kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan norma agama. Perlindungan tersebut bertujuan agar tenaga kerja aman melakukan pekerja sehari-hari dan meningkatkan produksi.

(Suma'mur, 1996)

a. Keselamatan kerja di perusahaan

Keselamatan kerja merupakan sarana utama pencegahan kecelakaan, cacat dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan kerja yang baik adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja. Kecelakaan kerja selain berakibat langsung bagi tenaga kerja juga menimbulkan kerugian-kerugian secara tidak langsung yaitu kerusakan pada lingkugan kerja.

(Suma’mur, 1996)

b. Keselamatan Kerja di Tempat Kerja

Akan tidak ada artinya usaha-usaha pencegahan kecelakaan kerja seperti perundang-undangan, peraturan, pengawasan, nasehat ditambah konferensi, seminar. Apabila, di tempat kerja tidak ada usaha untuk meningkatkan keselamatan.

Pimpinan atau pengurus sebagai orang-orang penting perusahaan harus proaktif terhadap usaha-usaha meningkatkan keselamatan dan selalu mengutamakan mutu dan kuantitas hasil produksi, pemeliharaan mesin dan peralatan secara baik. Kemudian dari pimpinan atau pengurus ini masih perlu melimpahkan tanggung jawab kepada orang-orang atau staf-staf yang berkompeten seperti pendegelasian wewenang kepada staf pengawas, panitia keselamatan, ahli keselamatan, dan lain-lain.

Adapun materi peningkatan keselamatan di tempat kerja bisa berwujud perencanaan yang baik oleh pimpinan perusahaan, penerapan-penerapna cara kerja yang aman oleh tenaga kerja, ketentuan dan ketata rumah tangga yang baik, dan pemasangan pagar pengaman atau pelindung terhadap mesin-mesin bahaya. Kebiasaan-kebiasaan bekerja secara benar harus ditimbulkan dalam praktek di tempat kerja. Keteraturan dan ketata rumah tanggaan sebagaimana juga alat pengaman penting bagi produksi dan keselamatan.

(Suma'mur, 1996)

c. Pedoman Keselamatan Kerja

Suatu tindakan lain dalam keselamatan di perusahaan adalah dikeluarkannya pedoman dan petunjuk tentang keselamatan yang bertalian dengan pengolahan dan petunjuk tentang keselamatan yang bertalian dengan pengolahan material, menjalankan mesin atau pekerjaan-pekerjaan lain.

Mempersiapkan suatu pedoman atau petunjuk itu mudah, yang sulit adalah penerapannya. Cara terbaik agar pedoman atau petunjuk ditaati adalah pengikut sertaan para pelaku dalam perumusan pedoman atau petunjuk.

(Suma’mur, 1996) d. Disiplin

Baik perusahaan maupun pekerja memiliki fungsi dan tanggung jawab keselamatan kerja. Pengusaha lebih memikul tanggung jawab mengenai lingkungan, cara dan pengadaan mesin serta peralatan yang selamat. Pekerja harus mematuhi ketentuan yang telah digariskan dalam keselamatan.

Jika pekerja tidak memakai alat pelindung diri, oleh karena ia pikir hal itu tidak perlu, kenyataan ini suatu petunjuk bahwa kepatuhan kurang. Kalau sikap pekerja dapat membahayakan dirinya sendiri dan kawan sekerjanya, perlu tindakan untuk penegakan disiplin.

(Suma’mur, 1996)

e. Tenaga Kerja Baru

Perlu adanya pendekatan khusus bagi tenaga kerja baru. Ia harus diperkenalkan terhadap lingkungan kerja baru dan diberitahu yang diharapkan dari padanya. Kepadanya harus dijelaskan pula tentang bahaya-bahaya yang dihadapinya dan cara-cara untuk menghindari dengan melakukan pekerjaan secara baik dan dengan mematuhi ketentuan keselamatan kerja.

Cara memperkenalkan tenaga kerja baru kepada pekerjaan dan lingkungan berbeda-beda dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Perkenalan mungkin dilakukan ke bagian personil atau di tempat kerja.

Tenaga kerja baru harus merasa bahwa dengan adanya pengenalan lingkungan kerja ia tahu kepada siapa bertanya jika menemukan kesulitan. Dengan pengenalan, ia harus merasa ada kawan, merasa aman dan mendapat ketenangan pikiran yang penting untuk menghindari kecelakaan.

2. Kecelakaan Kerja a. Definisi

Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga, datangnya tiba-tiba dan kedatangannya tidak diharapkan serta dapat menyebabkan kerugian pada manusia, perusahaan dan lingkungan.

Disebut tak terduga karena dalam suatu kecelakaan tidak ada unsur kesegajaan atau direncanakan. Kejadian ini juga dikatakan tidak diharapkan karena sebagian besar kecelakaan mempunyai akibat yang bertingkat-tingkat dari ringan sampai berat, baik kepada individu yang mengalami kecelakaan tersebut atau kepada orang lain ataupun sistem yang melingkupi individu tersebut. Kecelakaan dapat dipandang sebagai sebuah keluaran yang tidak diinginkan.

Kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubungan dengan hubugan kerja pada perusahaan, atau kecelakaan yang terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. (Suma’mur,1996)

Resiko cukup besar dari kecelakaan yang terjadi adalah dalam bentuk korban manusia dan pemborosan ekonomi. Oleh sebab itu, pencegahan kecelakan di tempat kerja adalah merupakan tugas yang penting dan merupakan kebutuhan yang sangat vital.

b. Teori Penyebab Kecelakaan

Kecelakaan tidak datang dengan sendirinya. Ada rangkaian peristiwa sebelumnya yang mendahului terjadinya kecelakaan tersebut. Ada beberapa teori

yang menjelaskan tentang penyebab terjadinya kecelakaan yang dikemukakan oleh para ahli, yaitu menurut H.W Heinrich (1972) kejadian sebuah cidera disebabkan oleh bermacam-macam faktor yang terangkai dan pada akhir rangkaian itu dalah cidera. Kecelakaan yang menimbulkan cidera disebabkan secara langsung oleh perilaku seseorang yang tidak aman dan atau potensi bahaya mekanik atau fisik. Prinsip dasar ini kemudian dikenal dengan ”Teori Domino”, dalam hal ini Heinrich menggambarkan seri rangkaian tersebut menjadi 5 domino, masing-masing berlabel:

1. Kebiasaan

2. Kesalahan seseorang

3. Kondisi dan tindakan tidak aman 4. Kecelakaan

5. Cidera

Penggunaan teori domino ini dijelaskan sebagai petunjuk pertama, satu domino dapat menghancurkan empat domino yang lain. Kecuali, pada titik tertentu domino diangkat untuk menghentikan rangkaian. Domino yang paling mudah dan paling efektif untuk dihilangkan adalah domino yang tengah, berlabel ”Kondisi dan tindakan tidak aman”. Teori ini cukup jelas, praktis dan pragmatis sebagai pendekatan kontrol terhadap kerugian, pindahkan kondisi dan tindakan tidak aman tersebut. Salah satu kesulitan dari penggunaan teori Heinrich adalah model ini masih terlalu luas dan dapat diartikan dalam banyak cara. Model ini tidak menyediakan gambaran umum atau klasifikasi yang dapat dijadikan dasar penelitian ilmiah. Model ini juga

melibatkan faktor perilaku manusia dan faktor mekanik atau fisik dalam klasifikasi yang sama.

(Tarwaka, 2008)

c. Klasifikasi Kecelakaan

Penggolongan atau klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut Organisasi Perburuhan Internsional tahun 1962 adalah sebagai berikut:

1. Klasifikasi kecelakaan dalam industri berdasarkan jenis kecelakaannya: a. Terjatuh,

b. Tertimpa benda jatuh,

c. Tertumpuk atau terkena benda-benda, d. Terjepit oleh benda,

e. Gerakan-gerakan melebihi kemampuan, f. Pengaruh suhu tinggi,

g. Terkena arus listrik,

h. Kontak dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi,

i. Jenis-jenis lain, termasuk kecelakaan yang data-datanya tidak cukup atau kecelakaan lain yang belum masuk kriteria tersebut.

Sehubungan dengan penggunaan alat pelindung diri, klasifikasi kecelakaan menurut jenis kecelakaanya berguna untuk menentukan alat pelindung diri apa yang dapat digunakan untuk mengurangi akibat kecelakaan berdasarkan jenis kecelakaannya.

2. Klasifikasi kecelakaan dalam industri berdasarkan penyebab kecelakaan: a. Mesin

1) Pembangkit tenaga, terkecuali motor-motor listrik, 2) Mesin penyalur,

3) Mesin-mesin untuk mengerjakan logam, 4) Mesin-mesin pengolah kayu,

5) Mesin-mesin pertanian, 6) Mesin-mesin pertimbangan,

7) Mesin-mesin lain yang tidak termasuk klasifkasi diatas. b. Alat angkat-angkut

1) Mesin alat angkat dan peralatannya, 2) Alat angkutan diatas rel,

3) Alat angkutan lain yang beroda, terkecuali kereta api, 4) Alat angkutan udara,

5) Alat angkutan air,

6) Alat-alat angkutan lainnya. c. Peralatan lain

1) Bejana bertekanan,

2) Dapur pembakaran dan Pemanas, 3) Istalasi Pendingin,

4) Instalasi listrik, termasuk motor listrik, tetapi dikecualikan alat-alat listrik,

5) Alat-alat listrik,

6) Alat-alat kerja dan perlengkapannya, kecuali alat-alat listrik, 7) Tangga,

8) Perancah,

9) Peralatan lain yang belum termasuk klasifkasi tersebut. d. Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi

1) Bahan peledak,

2) Debu, gas, cairan dan zat-zat kimia, terkecuali bahan peledak, 3) Benda-benda melayang,

4) Radiasi,

5) Bahan-bahan dan zat-zat lain yang belum termasuk golongan tersebut. e. Lingkungan Kerja

1) Di luar bangunan, 2) Di dalam bangunan, 3) Di bawah tanah.

f. Penyebab lain yang belum termasuk golongan-golongan tersebut 1) Hewan,

2) Penyebab lain.

g. Peyebab-penyebab lain yang belum termasuk golongan diatas dan belum memadai.

Berkaitan dengan penggunaan alat pelindung diri, klasifikasi menurut penyebab ini berguna untuk menentukan desain, kekuatan dan bahan yang diperlukan untuk membuat alat pelindung diri tersebut. Klasifikasi ini juga dapat digunakan untuk melakukan standarisasi, misalnya:konstruksi yang memenuh berbagai syarat keselamatan, jenis peralatan industri tertentu, praktek kesehatan dan hygiene umum dan alat pelindung diri.

3. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan

Klasifikasi kecelakaan menurut penyebab ini digunakan untuk menggolongkan penyebab kecelakaan menurut kelainan atau letak luka-luka akibat kecelakaan. Penggolongan menurut sifat dan letak luka di tubuh berguna bagi penelaahan tentang kecelakaan kerja lebih lanjut dan terperinci.

a. Patah tulang,

b. Dikolasi atau keseleo, c. Regangan otot,

d. Memar dan luka dalam yang lain, e. Amputasi,

f. Luka-luka lain, g. Luka di permukaan, h. Gegar dan remuk, i. Luka bakar,

j. Keracunan-keracunan yang mendadak, k. Akibat cuaca,

l. Mati lemas,

m. Pengaruh arus listrik, n. Pengaruh radiasi,

o. Luka-luka yang banyak dan berlainan sifatnya, p. Lain-lain.

4. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka ditubuh a. Kepala, b. Leher, c. Badan, d. Anggota atas, e. Anggota bawah, f. Banyak tempat, g. Kelainan umum,

h. Letak lain yang tidak dimasukkan dalam klasifikasi diatas.

Penggolongan lainnya juga didasarkan pada jenis kelamin dan pengalaman kerja dari korban, waktu terjadinya kecelakaan atau bagian dari badan yang mendapat kecelakaan.

Semua penggolongan tersebut diatas dapat untuk menerangkan sebab-sebab yang sesungguhnya dalam kecelakaan-kecelakaan dalam industri dan tempat-tempat kerja lainnya, tetapi masih belum dapat menggambarkan keadaan atau peristiwa terjadinya kecelakaan kerja yang mungkin disebabkan karena kehamilan, sedih, murung, kurang sehat, kekecewaan, kejenuhan dan masalah mental fisik. Hal ini

mungkin dipengaruhi oleh keadaan diluar pabrik. Sering juga suatu kecelakaan terjadi disebabkan oleh gabungan dari gangguan yang bersifat teknik, fisik dan psikis. ( Suma’mur,1996)

d. Sebab-sebab kecelakaan

Dari penyelidikan ternyata faktor manusia dalam pemyebab timbulnya kecelakaan menduduki prosentase sampai 80-85%. Hal ini disebabkan karena kelalaian dan kesalahan manusia atau tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan. Bahkan ada suatu pendapat bahwa akhirnya langsung atau tidak langsung semua kecelakaan adalah dikarenakan faktor manusia. Kesalahan tersebut mungkin saja dibuat oleh perencanaan pabrik dari kontraktor yang membangunnya, pembuat mesin-mesin, pengusaha, insinyur, ahli kimia, ahli listrik, pimpinan kelompok, pelaksana atau petugas yang melakukan pemeliharaan mesin dan peralatan.

Tindakan manusia yang tidak memenuhi keselamatan yaitu tingkah laku atau perbuatan yang menyebabkan terjadinya kontak sehingga terjadi kecelakaan, misalnya:

1. Menjalankan peralatan diluar wewenang,

2. Tidak berhasil atau sama sekali tidak memberi tanda bahaya, 3. Menjalankan peralatan pada kecepatan yang tidak wajar, 4. berbuat hingga alat pengaman tidak berfungsi,

5. Melepaskan alat pengaman,

7. Memberi muatan tidak wajar, 8. Cara mengangkat-angkut salah, 9. Bersenda gurau,

10. Melakukan kerja pada posisi yang tidak tepat, 11. Merawat peralatan dalam keadaan bergerak, 12. Berpengaruh alkohol atau mabuk dalam bekerja,

13. Tidak menggunakan atau salah dalam menggunakan alat pelindung diri. Sedang kondisi berbahaya atau keadaan yang tidak selamat adalah suatu keadaan yang dapat menimbulkan kecelakaan, misalnya:

1. Kekurangan pada alat penutup atau pemagar, 2. Alat pelindung diri tidak sesuai,

3. Kerusakan pada perkakas, pealatan atau bahan,

4. berdekatan dengan sumber bahaya kebakaran atau ledakan, 5. Tempat kerja yang kotor atau semrawut,

6. Tingkat radiasi yang membahayakan, 7. Temperatur yang sangat panas 8. Kurang terang atau terlalu silau, 9. Kurang sirkulai udara atau pengap.

Selain sebab-sebab langsung diatas, ada juga sebab-sebab dasar yang menyebabkan munculnya tindakan bahaya dan kondisi berbahaya, seperti faktor manusia dan faktor kerja.

e. Usaha-usaha pengendalian

Usaha-usaha pengendalian ini meliputi bagaimana cara menanggapi setiap kecelakaan dan sebab-sebab serta akibat yang ditimbulkannya dari sebelum kejadian sampai setelah terjadinya kecelakaan.

Ketiga tingkat pengendalian tersebut adalah: 1. Sebelum kejadian (Pre-contact control)

Menyangkut segala usaha yang diterapkan melalui suatu program agar resiko kecelakaan dapat dihilangkan, mencegah kerugian atau korban dan merencanakan tindakan untuk mengurangi kerugian atau korban bila suatu kecelakaan terjadi.

2. Saat kejadian (Contact control)

Adalah usaha pengendalian yang dilakukan saat ini untuk menghadapi suatu kecelakaan bila suatu saat nanti terjadi, sehingga mengurangi kerugian atau korban yang lebih besar, misalnya:

a. Substansi jenis energi atau bahan yang lebih kecil daya rusaknya, b. Memperkecil jumlah energi yang disimpan atau digunakan,

c. Membuat pelindung, pagar pembatas atau isolasi yang memisahkan sumber energi dengan orang atau benda-benda yang berharga,

d. Melakukan perubahan atau modifikasi agar memperkecil kemungkinan kontak dengan energi,

e. Memperkokoh bangunan atau konstruksi. 3. Setelah kejadian (Post contact control)

Adalah segala upaya yang dilakukan untuk mengendalikan atau mengurangi jumlah kerugian atau korban yang lebih besar atau parah apabila kecelakaan telah terjadi, misalnya:

a. Melakukan prosedur darurat yang terncana, misalnya: SAR dan P3K, b. Penanggulangan segera pada kebakaran dan peledakan ,

c. Penggantian peralatan yang hancur atau rusak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,

d. Melaksanakan pembersihan pembocoran zat kimia yang cepat dan efektif,

e. Pengawasan dalam melakukan pembayaran dan penagihan suatu claim dalam peristiwa kebakaran,

f. Mengendalikan pelaksanaan pembuangan limbah,

g. Melaksakan rehabilitasi yang cepat dan efektif dalam menangani korban manusia.

Selain ketiga tingkat pengendalian tersebut di atas, pengendalian kecelakaan kerja pokok ada 5 usaha yaitu :

1) Eliminasi

Yaitu suatu upaya atau usaha yang bertujuan untuk menghilangkan bahaya secara keseluruhan.

2) Substitusi

Yaitu mengganti bahan, material atau proses yang beresiko tinggi terhadap bahan, material atau proses kerja yang berpotensi resiko rendah.

3) Pengendalian rekayasa

Yaitu mengubah struktural terhadap lingkungan kerja atau proses kerja untuk menghambat atau menutup jalannya transisi antara pekerja dan bahaya.

4) Pengendalian administrasi

Yaitu mengurangi atau menghilangkan kandungan bahaya dengan memenuhi prosedur atau instruksi. Pengendalian tersebut tergantung pada perilaku manusia untuk mencapai keberhasilan.

5) Alat pelindung diri

Pemakaian alat pelindung diri adalah sebagai upaya pengendalian terakhir yang berfungsi untuk mengurangi keparahan akibat dari bahaya yang ditimbulkan.

(Tarwaka, 2008) f. Usaha-usaha pencegahan

Pencegahan kecelakaan adalah suatu program terintegrasi berupa rangkaian aktivitas yang dikoordinasikan guna mengendalikan atau mengontrol tindakan tidak aman yang berdasarkan pada pengetahuan, perilaku atau sikap dan keahlian.

Dibawah ini bermacam-macam usaha yang dilakukan untuk meningkatkan keselamatan kerja di perusahaan-perusahaan atau tempat kerja yaitu dengan membuat dan mengadakan:

1. Peraturan perundang-undangan, 2. Standarisasi,

3. Pengawasan,

4. Penelitian bersifat teknik, 5. Risert medis,

6. Penelitian psikologis, 7. Penelitian secara statistik, 8. Pendidikan,

9. Latihan-latihan, 10. Penggairahan, 11. Asuransi,

12. Usaha keselamatan ditingkat perusahaan. (Suma’mur, 1996)

3. Alat Pelindung Diri (APD) a. Definisi

Alat pelindung diri adalah seperangkat peralatan yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya dan kecelakaan kerja. Secara teknis Alat Pelindung Diri tidaklah secara sempurna dapat melindungi tubuh, akan tetapi dapat mengurangi

tingkat keparahan yang terjadi. Dengan kata lain meskipun telah menggunakan Alat Pelindung Diri, upaya pencegahan dan pengendalian potensi bahaya adalah yang paling utama melalui pengendalian secara teknis dan atau administratif.

Adapun syarat-syarat Alat Pelindung Diri agar dapat dipakai dan efektif dalam penggunaan dan penyediaannya haruslah memenuhi beberapa kriteria diantaranya sebagai berikut :

1. Enak dipakai pada kondisi pekerjaan yang sesuai dengan desain alat tersebut. 2. Tidak mengganggu kerja, dalam arti alat pelindung diri tersebut harus pas sempit

dengan besar tubuh pemakainya dan tidak menyulitkan gerakan pengguna.

3. Memberikan perlindungan efektif terhadap jenis bahaya yang khusus sebagaimana alat pelindungan diri tersebut didesain.

4. Alat pelindung diri tersebut harus tahan lama.

5. Alat pelindung diri tersebut mudah untuk dibersihkan dan dirawat oleh pekerja. 6. Harus ada desain, konstruksi, pengujian dan penggunaan alat pelindug diri dengan

standar.

Menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian alat pelindung diri, yaitu:

1) Pengujian mutu

Alat pelindung diri harus memenuhi standar yang telah di tentukan untuk menjamin bahwa alat pelindung diri akan memberikan perlindugan sesuai dengan yang diharapkan. Semua alat pelindung diri sebelum dipasarkan harus diuji lebih dahulu mutunya.

2) Pemeliharaan alat pelindung diri

Alat pelindung diri yang akan digunakan harus benar-benar sesuai dengan kondisi tempat kerja, bahaya kerja dan pekerja sendiri agar benar-benar dapat memberikan perlindungan semaksimal mungkin pada tenaga kerja.

3) Ukuran harus tepat

Untuk dapat memberikan perlindungan yang maksimum pada tenaga kerja serta ukuran alat pelindung diri harus tepat. Ukuran yang tidak tepat akan mnimbulkan gangguan pada pemakaiannya.

4) Cara pemakaian yang benar

Sekalipun alat pelindung diri di sediakan oleh perusahaan, alat-alat ini tidak akan memberikan manfaat yang maksimal bila cara memakainya tidak benar. Untuk para tenaga kerja harus diberikan penerangan tentang :

a. Manfaat dari alat pelindung diri yang disediakan dengan potensi bahaya yang ada.

b. Menjelaskan bahaya potensial yang ada dan akibat yang akan diterima oleh pekerja jika tidak memakai alat pelindung diri yang diwajibkan.

c. Cara memakai dan merawat alat pelindung diri secara benar harus dijelaskan pada tenaga kerja.

d. Perlu pengawasan dan sanksi pada tenaga kerja menggunakan alat pelidung diri.

Alat pelindung diri harus dipelihara dengan baik agar tidak menimbulkan kerusakan ataupun penurunan mutu.

f. Penyimpaan

Alat pelindung diri harus selalu disimpan dalam keadaan bersih ditempat yang telah tersedia, bebas dari pengaruh kontaminasi.

b. Kelemahan Penggunaan Alat Pelindung Diri

1. Kemampuan perlindungan yang tidak sempurna karena : a) Memakai alat pelindung diri yang tidak tepat.

b) Cara pemakaian alat pelindung diri yang salah.

c) Alat pelindung diri yang tidak memenuhi persyaratan yang tidak diperlukan.

d) Sering alat pelindung diri tidak dipakai karena tidak enak atau kurang nyaman.

2. Agar alat pelindung diri berfungsi dengan baik maka penting pemeliharaan dan kontrol terhadap alat pelindung diri, seperti: a) Alat pelindung diri yang sangat sensitif terhadap perubahan

tertentu.

b) Alat pelindung diri yang mempunyai masa kerja tertentu seperti : kanister, filter dan penyerap (cartridge)

c) Alat pelindung diri yang dapat menularkan penyakit, bila dipakai berganti-ganti.

c. Aspek keamanan dan aspek ergnomis dari alat pelindung diri 1. Aspek keamanan (safety)

a) Alat pelindung diri harus dapat memberikan perlindungan yang adekuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya-bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.

b) Alat pelindung diri tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya, yang dikenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat karena salah dalam penggunaannya.

c) Alat pelindung diri tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya.

d) Alat pelindung diri harus dapat dipakai secara fleksibel. e) Alat pelindung diri tahan untuk pemakaian yang lama. f) Suku cadangnya harus mudah didapat.

g) Alat pelindung diri harus memenuhi standart yang telah ada. 2. Aspek ergonomis

a) Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.

b) Bentuknya harus cukup menarik. d. Petunjuk pemakaian

Memastikan bahwa semua karyawan mendapat petunjuk lengkap mengenai pemakaian yang benar dari peralatan pelindung diri, terutama peralatan

darurat. Program-program pelatihan perlu dilakukan secara berkala dengan membahas semua aspek secara rutin dan memperbaiki hal-hal yang diperlukan.

e. Lokasi dan penyimpanan

Memastikan bahwa semua peralatan pelindung diri ditempatkan sedekat-dekatnya dengan tempat kerja dimana alat-alat itu mungkin diperlukan. Peralatan darurat atau penyelamatan harus ditempatkan dilokasi dimana alat-alat itu kemungkinan besar akan dipakai dan disimpan baik-baik agar tidak memburuk atau rusak.

f. Perawatan

Semua alat pelindung diri harus dirawat dan disimpan dalam keadaan bersih serta bebas dari pengaruh kontaminasi. Semua peralatan pernafasan harus diservis secara berkala dan dirawat oleh teknisi-teknisi ahli.

g. Macam-macam alat pelindung diri 1. Alat pelindung kepala

Tujuan penggunaan alat pelindung kepala adalah untuk pencegahan : a) Rambut pekerja terjerat oleh mesin yang berputar

b) Bahaya terbentur oleh benda tajam atau benda keras yang dapat menyebabkan luka gores, potong atau tertusuk

c) Bahaya kejatuhan benda-benda atau terpukul oleh benda-benda yang melayang atau melucur dari udara

d) Bahaya panas radiasi, api dan percikan bahan-bahan kimia korosif e) Melidungi kepala terhadap debu.

Dalam dokumen Oleh : Endrasti Kiswandari NIM.R (Halaman 16-53)

Dokumen terkait