• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

a. Definisi

Istilah asma berasal dari kata Yunani yang artinya

“terengah-engah” dan berarti serangan napas pendek (Purnomo, 2008).

Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang

terdapat di seluruh dunia dengan gejala bervariasi yang berhubungan

dengan peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu

episode mengi berulang (wheezing), sesak napas (breathlessness),

dada rasa tertekan (chest tightness), dispnea, dan batuk (cough)

terutama pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya

berhubungan dengan penyempitan jalan nafas, biasanya bersifat

reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan (PDPI,

2006; GINA, 2009).

b. Etiologi

Penyebab mendasar dari asma tidak sepenuhnya dipahami.

Asma tidak bisa disembuhkan, tetapi pengelolaan yang tepat dapat

mengontrol gangguan dan memungkinkan orang untuk menikmati

commit to user

Faktor imunologi juga berpengaruh pada penderita asma,

terjadi setelah pemaparan terhadap faktor lingkungan seperti debu

rumah, tepung sari, dan ketombe. Faktor endokrin menyebabkan

asma lebih buruk dalam hubungannya dengan kehamilan dan

menstruasi atau pada saat wanita menopause, dan asma biasanya

membaik pada beberapa anak saat pubertas. Faktor psikologis emosi

dapat memicu gejala-gejala pada beberapa anak dan orang dewasa

yang menderita asma, tetapi emosional atau sifat-sifat perilaku yang

dijumpai pada anak asma lebih sering dari pada anak dengan

penyakit kronis lainnya (Purnomo, 2008; Sundaru dan Sukamto,

2007).

c. Patogenesis

Mekanisme utama timbulnya gejala asma diakibatkan

hiperreaktivitas bronkus, sehingga pengobatan utama asma adalah

untuk mengatasi bronkospasme (Warner, 2001).

Konsep terkini yaitu asma merupakan suatu proses inflamasi

kronik yang khas, melibatkan dinding saluran respiratorik,

menyebabkan terbatasnya aliran udara dan peningkatan reaktivitas

saluran napas. Gambaran khas adanya inflamasi saluran respiratorik

adalah aktivasi eosinofil, sel mast, makrofag, dan sel limfosit T pada

mukosa dan lumen saluran respiratorik. Proses inflamasi ini terjadi

commit to user

Reaksi imunologik yang timbul akibat paparan dengan alergen

pada awalnya menimbulkan fase sensitisasi. Akibatnya terbentuk

IgE spesifik oleh sel plasma. IgE melekat pada Fc reseptor pada

membran sel mast dan basofil. Bila ada rangsangan berikutnya dari

alergen serupa, akan timbul reaksi asma cepat (immediate asthma

reaction). Terjadi degranulasi sel mast, dilepaskan

mediator-mediator : histamin, leukotrien C4(LTC4), prostaglandin D2(PGD2),

tromboksan A2, tryptase. Mediator-mediator tersebut menimbulkan

spasme otot bronkus, hipersekresi kelenjar, oedema, peningkatan

permeabilitas kapiler, disusul dengan akumulasi sel eosinofil.

Gambaran klinis yang timbul adalah serangan asma akut. Keadaan

ini akan segera pulih kembali (serangan asma hilang) dengan

pengobatan (Elias et al, 2003; Lenfant dan Khaltae, 2002; UKK

Pulmonologi PP IDAI, 2004).

Setelah 6-8 jam maka terjadi proses selanjutnya , disebut

reaksi asma lambat (late asthma reaction). Akibat pengaruh sitokin

IL-3, IL-4, GM-CSF yang diproduksi oleh sel mast dan sel limfosit T

yang teraktivasi, akan mengaktifkan sel-sel radang : eosinofil,

basofil, monosit dan limfosit. Sedikitnya ada dua jenis T-helper (Th),

limfosit subtipe CD4+ telah dikenal profilnya dalam produksi sitokin.

Meskipun kedua jenis limfosit T mensekresi IL-3 dan

Granulocyte-Macrophage Colony-Stimulating Factor (GM – CSF), Th l terutama

commit to user

terutama memproduksi sitokin yang terlibat dalam asma, yaitu IL-4,

IL-5, IL-9, IL-13, dan IL-16. Sitokin yang dihasilkan oleh Th 2

bertanggung jawab atas terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe

lambat. Masing-masing sel radang mempunyai kemampuan

mengeluarkan mediator inflamasi. Eosinofil memproduksi LTC4,

Eosinophil Peroxidase (EPX), Eosinophil Cathion Protein (ECP)

dan Major Basic Protein (MBP). Mediator-mediator tersebut

merupakan mediator inflamasi yang menimbulkan kerusakan

jaringan. Sel basofil mensekresi histamin, LTC4, PGD2. Mediator

tersebut dapat menimbulkan bronkospasme. Sel makrofag

mensekresi IL8, Platelet Activating Factor (PAF), Regulated upon

Activation novel T cell Expression and presumably Secreted

(RANTES) .Semua mediator di atas merupakan mediator inflamasi

yang meningkatkan proses keradangan, mempertahankan proses

inflamasi. Mediator inflamasi tersebut akan membuat kepekaan

bronkus berlebihan, sehingga bronkus mudah konstriksi, kerusakan

epitel, penebalan membrana basalis dan terjadi peningkatan

permeabilitas bila ada rangsangan spesifik maupun non spesifik.

Secara klinis, gejala asma menjadi menetap, penderita akan lebih

peka terhadap rangsangan. Kerusakan jaringan akan menjadi

irreversible bila paparan berlangsung terus dan penatalaksanaan

kurang adekuat (Elias et al, 2003; Lenfant dan Khaltae, 2002; UKK

commit to user

Karakteristik asma berupa obstruktif jalan napas pada bronkus,

ada 4 faktor yang mendukungnya meliputi:

1) Kontraksi otot polos bronkus yang merupakan respon terhadap

alergen spesifik

2) Edema selaput lendir yang dapat disebabkan karena

bertambahnya permeabilitas pembuluh darah

3) Hipersekresi kelenjar mukus dan sel goblet dengan

penyumbatan bronkus oleh lendir yang kental.

4) Airway remodeling (Baratawidjaja, 2003).

Airway remodeling” merupakan reaksi tubuh dalam

memperbaiki jaringan yang telah rusak akibat dari inflamasi

yang berjalan terus-menerus (Baratawidjaja, 2003). Inflamasi

yang terus-menerus akan mengakibatkan terjadinya perubahan

struktur pada jalan napas seperti hipertrofi otot polos,

pembentukan pembuluh darah baru, peningkatan sel-sel goblet

epitelial, fibrosis subepitelial, penebalan membrana basalis

(Boushey, 2000). Konsekuensi klinis airway remodeling

adalah peningkatan gejala dan tanda asma (PDPI, 2004), dan

biasanya terjadi pasa asma yang telah menjadi kronis

commit to user

Gambar 1.1 Patogenesis Asma

Sumber: GINA, 2002

d. Patofisiologi

Perubahan akibat inflamasi pada penderita asma merupakan

dasar kelainan faal yang terjadi pada pasien asma antara lain:

1) Obstruksi saluran napas

Penyempitan saluran napas akibat inflamasi saluran

pernapasan maupun peningkatan tonus otot polos bronkhioler

dan terjadi ketidakseimbangan ventilasi perfusi. Penyempitan

saluran napas menyebabkan gejala batuk, rasa berat di dada,

mengi, dan hiperesponsivitas bronkus (Price dan Wilson, 2004).

2) Hiperesponsivitas saluran napas

Hipereaksi saluran napas akibat proses inflamasi yang

akan menyebabkan terjadinya penyempitan saluran napas

commit to user 3) Hipersekresi mukus

Gambaran makroskopis biopsi pasien asma adalah oklusi

bronkus dan bronkiolus oleh sumbatan mukus kental dan

lengket (Matra dan Kumar, 2007).

4) Eksaserbasi

Eksaserbasi merupakan gambaran umum pada asma.

Faktor penyebab eksaserbasi antara lain rangsangan

bronkokonstriksi (inciter) seperti latihan, udara dingin, dan

rangsangan inflamasi (inducer) seperti pajanan alergen,

sensitisasi zat, dan infeksi saluran napas (GINA, 2006).

5) Asma nokturnal

Biopsi transbronkus pada penderita asma menunjukkan

akumulasi eosinofil dan makrofag pada malam hari di alveolar

dan jaringan peribronkus (O’Byrne, 2001).

6) Analisis gas darah

Asma menyebabkan gangguan pertukaran gas (O’Byrne,

2001). Gangguan pertukaran gas ini akan bermanifestasi pada

hipoksemi yang dapat menyebabkan asidosis metabolik dan

konstriksi pembuluh darah paru (Sundaru dan Sukamto, 2007).

e. Faktor risiko

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2004) menyatakan

bahwa secara umum faktor risiko asma dibedakan menjadi 2

commit to user 1) Faktor penjamu :

a) Predisposisi genetik

b) Atopi : produksi Ig.E yang berlebihan dalam kontak

dengan alergen lingkungan.

c) Hiperesponsif jalan napas

d) Jenis kelamin

e) Ras/etnik

2) Faktor lingkungan

a) Alergen di dalam dan di luar ruangan

b) Polusi udara di dalam dan di luar ruangan, Asap rokok,

Sulfur dioksida

c) Infeksi pernapasan, Ekspresi emosi yang berlebihan,

Perubahan cuaca

d) Makanan, zat adiktif, obat-obatan tertentu (misalnya aspirin,

NSAID)

e) Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray

dan lain-lain)

f) Exercise induced asthma, penderita yang kambuh asmanya

ketika melakukan aktivitas fisik tertentu.

f. Diagnosis

Diagnosis asma didapatkan dari riwayat penyakit, pemeriksaan

commit to user 1) Riwayat penyakit

Riwayat penyakit dapat ditemukan berupa keluhan batuk,

sesak, mengi, atau rasa berat di dada. Gejala asma sering timbul

pada malam hari tetapi dapat juga muncul dalam waktu tak

menentu (Sundaru dan Sukamto, 2007).

2) Pemeriksaan fisik

Secara umum pasien yang sedang mengalami serangan

asma dapat dijumpai hal-hal sebagai berikut, sesuai derajat

serangan

a) Inspeksi : pasien terlihat gelisah, sesak nafas, dan

sianosis

b) Palpasi : biasanya tidak didapatkan kelainan, namun

pada serangan berat dapat terjadi pulsus

paradoksus

c) Perkusi : biasanya tidak didapatkan kelainan

d) Auskultasi: ekspirasi memanjang dan mengi.

3) Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam diagnosis

asma antara lain:

a) Pemeriksaan fungsi paru dengan alat spirometer

b) Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan alat peak flow

rate meter

commit to user

d) Uji provokasi bronkus, untuk menilai ada atau tidaknya

hiperaktivitas bronkus

e) Uji alergi (tes tusuk kulit atau skin prick test) untuk menilai

ada atau tidaknya alergi

f) Foto toraks, pemeriksaan ini dilakukan untuk

menyingkirkan penyakit selain asma

(DepKes RI, 2008).

g. Penatalaksanaan asma

Tujuan utama penatalaksanaan asma adalah untuk

menghi-langkan dan mengendalikan gejala asma serta berupaya untuk

mempertahankan atau meningkatkan fungsi paru seoptimal mungkin

(Afriwardi, 2008), dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien

asma dapat hidup normal tanpa hambatan aktivitas sehari-hari (asma

terkontrol) (Sundaru, 2007).

Pada prinsipnya penatalaksanaan asma diklasifikasikan

menjadi 2 golongan, yaitu:

1) Penatalaksanaan asma akut (Departemen Kesehatan RI, 2008).

Serangan akut adalah keadaan darurat dan membutuhkan

bantuan medis segera, penanganan harus cepat dan sebaiknya

dilakukan di rumah sakit/gawat darurat. Penilaian berat serangan

berdasarkan riwayat serangan, gejala, pemeriksaan fisik dan bila

memungkinkan pemeriksaan faal paru, agar dapat diberikan

commit to user

pemeriksaan faal paru dan laboratorium yang dapat

menyebabkan keterlambatan dalam pengobatan maupun

tindakan.

Serangan ringan, obat yang digunakan β2 agonis kerja cepat yang sebaiknya dalam bentuk inhalasi. Pada keadaan

tertentu (seperti ada riwayat serangan berat) kortikosteroid oral

diberikan dalam 3-5 hari.

Serangan sedang, diberikan β2 agonis kerja cepat dan kortikosteroid oral. Pada dewasa dapat ditambah ipratropium

bromida inhalasi, aminofilin IV. Bila perlu dapat diberikan

oksigen serta cairan IV.

Serangan berat, pasien harus dirawat dan diberi oksigen,

cairan IV, β2 agonis kerja cepat, ipratropium bromida inhalasi, kortikosteroid IV, dan aminofilin IV. Pemberian bronkodilator

diutamakan dalam bentuk inhalasi menggunakan nebulizer.

2) Penatalaksanaan asma kronik

Pasien asma kronik diupayakan untuk dapat memahami

sistem penanganan asma secara mandiri, sehingga dapat

mengetahui kondisi kronik dan variasi keadaan asma. Anti

inflamasi merupakan pengobatan rutin yang bertujuan

mengontrol penyakit serta mencegah serangan dikenal sebagai

commit to user

untuk mengatasi eksaserbasi/serangan, dikenal pelega (Bernstein

JA, 2003; Broide D, 2008).

Sundaru (2007) menyatakan bahwa obat asma terdiri dari

obat pelega dan pengontrol. Obat pelega diberikan pada saat

serangan asma, sedangkan obat pengontrol ditujukan untuk

pencegahan serangan asma dan diberikan dalam jangka panjang

secara terus-menerus.

Tabel 1.1 Tingkatan Kontrol Asma menurut Global Initiative for Asthma (GINA)

Karakteristik Terkontrol Terkontrol Sebagian

Tidak Terkontrol Gejala harian Tidak ada (dua

kali atau kurang per minggu)

Lebih dari dua kali seminggu Tiga atau lebih gejala dalam kategori asma terkontrol sebagian, muncul sewaktu-waktu dalam seminggu Pembatasan

aktivitas Tidak ada

Sewaktu-waktu dalam seminggu Gejala nokturnal/gangguan tidur (terbangun malam hari) Tidak ada Sewaktu-waktu dalam seminggu Kebutuhan akan relief atau terapi

rescue

Tidak ada (dua kali atau kurang dalam seminggu)

Lebih dari dua kali seminggu

commit to user

Fungsi paru (PEF

atau FEV1) Normal

< 80% nilai prediksi dalam beberapa hari

Eksaserbasi Tidak ada Satu/lebih per tahun

Satu dalam beberapa

minggu Sumber: GINA, 2006

2. Asthma Control Test (ACT)

Sampai saat ini terdapat 5 alat ukur berupa kuesioner dengan atau

tanpa pemeriksaan fungsi paru, tetapi yang lazim dipakai adalah tes

kontrol asma.

Kuesioner ini terdiri dari 5 pertanyaan, dikeluarkan oleh American

Lung Association dengan tujuan untuk memberi kemudahan kepada

dokter dan pasien dalam mengevaluasi asma pada penderita yang berusia

lebih dari 12 tahun dan menetapkan terapi pemeliharaannya (Nathan et

al., 2004). Pertanyaan tersebut mengenai gangguan aktivitas karena

asma, sesak napas, gangguan tidur terbangun malam hari karena gejala

asma, penggunaan obat pelega napas, penilaian pasien tentang seberapa

terkontrolnya penyakit asma (Yunus, 2005).

Interpretasi hasilnya adalah apabila jumlah skor/nilai ≤ 19 maka

asma dinyatakan tidak terkontrol, sedangkan apabila jumlah skor/nilai ≥

20 maka asma dinyatakan sudah terkontrol (ALA, 2004).

Kuesioner ini telah diteliti dan divalidasi sehingga dapat

digunakan secara luas untuk menilai dan memperbaiki kondisi asma

commit to user

3. Aktivitas Fisik a. Definisi

Aktivitas fisik adalah pergerakkan anggota tubuh yang

menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi

pemeliharaan kesehatan fisik dan mental, serta mempertahankan

kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari (Pusat

Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2006).

b. Manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan

Melakukan aktivitas fisik secara teratur memiliki beberapa

keuntungan terhadap kesehatan antara lain :

1) Terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker,

tekanan darah tinggi, kencing manis, dan lain-lain.

2) Berat badan terkendali.

3) Otot lebih lentur dan tulang lebih kuat.

4) Bentuk tubuh menjadi ideal dan proporsional.

5) Lebih percaya diri.

6) Lebih bertenaga dan bugar.

7) Secara keseluruhan keadaan kesehatan menjadi lebih baik

(Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI 2006)

c. Sifat aktivitas fisik

Sifat aktivitas fisik menurut Pusat Promosi Kesehatan

Departemen Kesehatan RI (2006), meliputi:

commit to user

Aktivitas fisik yang bersifat untuk ketahanan, dapat

membantu jantung, paru-paru, otot, dan sistem sirkulasi darah

tetap sehat dan membuat orang lebih bertenaga. Untuk

mendapatkan ketahanan maka aktivitas fisik yang dilakukan

selama 30 menit (4-7 hari perminggu).

Contoh beberapa kegiatan yang dipilih seperti: berjalan

kaki, lari ringan, berenang, senam, bermain tenis, berkebun dan

bekerja di taman.

2) Kelenturan (flexibility)

Aktivitas fisik yang bersifat kelenturan dapat membantu

pergerakan anggota tubuh yang lebih mudah, mempertahankan

tubuh tetap lemas (lentur) dan sendi dapat berfungsi dengan

baik. Untuk mendapatkan kelenturan maka aktivitas fisik

dilakukan selama 30 menit (4-7 hari perminggu).

Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti:

peregangan, mulai dengan perlahan-lahan tanpa kekuatan atau

sentakan, lakukan secara teratur dalam 10-30 detik, bisa mulai

dari tangan dan kaki.

Contoh kegiatan yang lain yaitu mencuci pakaian atau

mobil, mengepel lantai.

3) Kekuatan (strength)

Aktivitas fisik yang bersifat untuk kekuatan dapat

commit to user

diterima, tulang tetap kuat, dan mempertahankan bentuk tubuh

serta membantu meningkatkan pencegahan terhadap penyakit

seperti osteoporosis (keropos pada tulang). Untuk mendapatkan

kelenturan maka aktivitas fisik yang dilakukan selama 30 menit

(2-4 hari per minggu).

Contoh beberapa kegiatan yang dapat dipilih seperti: push

up, naik turun tangga, angkat berat/beban, membawa belanjaan,

mengikuti kelas senam terstruktur dan terukur (fitness).

d. Pengaruh aktivitas fisik pada fisiologi tubuh

1) Aktivitas fisik mempengaruhi (Soebiyanto, 2004):

a) Jaringan tubuh, oleh karena perubahan biokimiawi.

b) Organ, terutama yang terlibat dalam pengangkutan O2

dalam tubuh, yaitu jantung, paru, dan pembuluh darah.

c) Komposisi tubuh, tingkat kolesterol, trigliserida, tekanan

darah, dan suhu tubuh.

2) Perubahan Aerobik selama latihan (Steven dan Foss, 1989)

a) Terjadi peningkatan mioglobin yang berkorelasi positif

dengan durasi latihan.

b) Peningkatan proses oksidasi karbohidrat dalam bentuk

glikogen, dimana kemampuan memecah glikogen menjadi

lebih efisien. Faktor yang mempengaruhi efisiensi tersebut

adalah terjadinya peningkatan jumlah, ukuran, volume dan

commit to user

konsentrasi enzim yang terlibat dalam sistem transpor

elektron dan siklus krebs.

c) Perbaikan sistem oksidasi lemak. Pada olahragawan

katabolisme lemak lebih tinggi daripada katabolisme

karbohidrat, terutama pada kondisi latihan submaksimal

yang adekuat, karena terjadinya penurunan deplesi glikogen

serta penurunan akumulasi asam laktat. Aktivitas fisik

teratur dan berimbang dapat mengurangi kelelahan otot

akibat penurunan asam laktat melalui proses di atas.

3) Perubahan anaerobik selama latihan (Steven dan Foss, 1989)

a) Meningkatnya sistem fosfagen (ATP-PC), dimana terjadi

peningkatan kadar enzim kunci ATP-PC. Pada kondisi

normal, otot skelet hanya mengandung 25% ATP, akan

tetapi aktivitas fisik teratur dapat meningkatkan kadar

tersebut. Enzim tersebut berupa ATPase, enzim pemecah

ATP, dan enzim resintesa ATP yaitu Creatin Kinase (CPK),

dan Miokinase (MK).

b) Meningkatnya kapasitas glikolitik anaerobik, sehingga

terjadi peningkatan asam laktat.

e. Sistem metabolisme energi yang dihasilkan selama aktivitas fisik

Menurut Guyton dan Hall (1997) Ada 3 sistem energi yang

commit to user

1) Sistem Fosfagen (ATP-PC), dimana ATP dipecah menjadi ADP,

kemudian AMP. Sistem fosfagen ini bersifat mendadak dan

dapat terjadi dalam 10 detik, meskipun energi yang dihasilkan

sangat sedikit. Contoh kegiatan yang dilakukan adalah: sprint,

melompat. Sistem fosfagen juga dihasilkan dari gabungan hasil

metabolisme pemecahan fosfokreatin.

2) Sistem glikogen anaerob dan glikolisis anaerob menghasilkan

asam laktat sebagai produk akhir pemecahan asam piruvat.

Akumulasi asam laktat yang berlebihan akan menyebabkan

kelelahan. Sistem anaerob terjadi pada kegiatan intensif jangka

menengah, sekitar 1,3 – 1,6 menit, contohnya: lari 400 m.

3) Sistem Aerob, energi yang dihasilkan ini berasal dari pemecahan

asam piruvat melalui jalur glikolisis aerob, metabolisme

karbohidrat dan lemak. Energi yang dihasilkannya tidak

terbatas, terjadi pada latihan jangka panjang dengan intensitas

rendah.

4. Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ)

World Health Organization (WHO) mengembangkan Global

Physical Activity Questionnaire (GPAQ) untuk pengawasan aktivitas

fisik di negara-negara terutama negara yang sedang berkembang. GPAQ

merupakan instrumen yang dirancang untuk menyediakan data valid

tentang pola aktivitas yang dapat digunakan untuk pengumpulan data

commit to user

adalah kuesioner valid dan reliabel, tetapi juga mudah beradaptasi

dengan perbedaan budaya di negara-negara berkembang (WHO, 2010).

GPAQ meliputi 4 area aktivitas fisik yaitu aktivitas fisik pada

hari-hari kerja, aktivitas fisik di luar pekerjaan dan olahraga, dalam

perjalanan ke suatu tempat, serta pekerjaan rumah tangga (Kristanti,

2002). Berikut ini adalah paparan cakupan pada 4 area dari aktivitas fisik

tersebut:

a. Aktivitas fisik pada hari-hari kerja

Kegiatan ini biasanya membutuhkan energi yang lebih banyak

daripada melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Aktivitas fisik di luar pekerjaan dan olahraga

Waktu luang diartikan berbeda pada kebanyakan orang dan

sering diartikan sebagai tidak aktif atau tidak melakukan kegiatan,

maka lebih tepatnya disebut kegiatan di luar pekerjaan rutin.

c. Transportasi

Transportasi di sini diartikan kegiatan yang dilakukan selama

perjalanan ke suatu tempat, seperti bersepeda, berjalan kaki juga

membutuhkan banyak energi.

d. Pekerjaan rumah tangga dan merawat anak/orang tua

Aktivitas ini juga membutuhkan banyak energi. Biasanya

dijumpai pada ibu rumah tangga dan keluarga dari kondisi ekonomi

commit to user

Untuk perhitungan indikator kategori, digunakan kriteria GPAQ

WHO 2010 yaitu total waktu yang dihabiskan dalam melakukan aktivitas

fisik selama 1 minggu. Tiga tingkatan aktivitas fisik yang disarankan

untuk mengklasifikasikan populasi tinggi, sedang, dan rendah melalui

kriteria sebagai berikut:

1) Tinggi

a) Melakukan aktivitas yang berat minimal 3 hari dengan

intensitas minimal 1500 MET-menit/minggu atau

b) Melakukan kombinasi aktivitas fisik yang berat, sedang, dan

berjalan dalam 7 hari dengan intensitas minimal 3000

MET-menit/minggu.

2) Sedang

a) Intensitas aktivitas kuat minimal 20 menit/hari selama 3 hari

atau lebih, atau

b) Melakukan aktivitas sedang selama 5 hari atau lebih atau

berjalan paling sedikit 30 menit/hari, atau

c) Melakukan kombinasi aktivitas fisik yang berat, sedang, dan

berjalan dalam 5 hari atau lebih dengan intensitas minimal 600

MET-menit/minggu

3) Rendah

Orang yang tidak memenuhi salah satu dari semua kriteria

yang telah disebutkan dalam kategori tinggi maupun kategori

commit to user

Untuk menilai intensitas aktivitas fisik yang dilakukan, GPAQ

mengelompokkan intensitas menjadi 3 tingkatan menurut nilai METs

(menit), yaitu:

a) Intensitas Ringan : <3 Mets

b) Intensitas Sedang : 3-6 Mets

c) Intensitas Berat : >6 Mets

Tabel 1.2 Nilai MET (metabolic energy turnover)

RINGAN Mets

Duduk, pekerja kantor yang ringan, pertemuan

Berdiri, ringan (penjaga toko, penata rambut dll)

Mencuci piring (sambil berdiri)

Memasak (sambil berdiri)

menyetrika

bermain musik, umum

merawat anak

berbaring atau duduk diam (sambil menonton TV, mendengarkan musik)

mengemudikan kendaraan

mengendarai bus, kereta api

menemudikan sepeda motor

berjalan, perlahan (<3,2 km/jam)

1,5 2,5 2,3 2,5 2,3 2,5 2,5 1,0 2,0 1,5 2,5 2,0 SEDANG Mets

Konstruksi umum di luar gedung

Tukang kayu, umum

5,5

commit to user Berdiri, sedang (pedagang, mengangkat barang yang ringan)

Membersihkan, umum (sambil berdiri)

menggosok lantai

lebih dari 1 pekerjaan rumah tangga

memperbaiki rumah, mereparasi kendaraan

mereparasi rumah, mengecat

mereparasi rumah, mencuci, dan memoles mobil

memotong rumput dengan mesin

memotong rumput dengan alat potong manual

memetik buah dari pohon

menanam tanaman

bersepeda umum, pergi-pulang tempat kerja (<16km/jam)

berjalan, sedang (4,8km/jam)

berjalan, cepat (6,4 km/jam)

bola basket , umum

bowling golf, umum berkuda, umum bermain skateboard tenis meja berenang, umum

berjalan, cepat (6,4 km/jam)

3,5 3,5 5,5 3,5 3,0 4,5 4,5 4,5 6,0 3,0 4,0 4,0 3,5 4,0 6,0 3,0 4,5 4,5 5,0 4,0 4,0 4,0

commit to user BERAT Mets berkebun, umum menarik becak bersepeda (16-22 km/jam) bersepeda (<22 km/jam)

bola basket, pertandingan

hoki es, umum

in-line skating

sepakbola, pertandingan

sepakbola, umum

squash

bola voli, pertandingan

bola voli pantai

berlari (8-10 km/jam)

berlari (11-13 km/jam)

berlari (14-16 km/jam)

bermain ski, umum

bermain ski, cross-country, mendaki bukit

6,5 6,5 6,5 10,0 8,0 8,0 7,0 10,0 7,0 10,0 8,0 8,0 8,0-10,5 11,5-14,0 14,5-17,0 7,0 16,0 Sumber: WHO, 2010

Tingkatan aktivitas fisik diklasifikasikan dengan ketentuan

penghitungan sebagai berikut:

commit to user

(a) (P2+P11) > 3 hari dan jumlah aktivitas fisik MET menit per

minggu > 1500 atau

(b) (P2 + P5 + P8 + P11 + P14) > 7 hari dan jumlah aktivitas fisik

MET menit per minggu > 3000

(2) Aktivitas fisik sedang.

(a) Jika aktivitas fisik tidak mencapai kriteria untuk aktivitas fisik

tinggi dan minimal satu dari kriteria sedang.

(b) (P2 + P11) > 3 hari dan ((P2 x P3) + (P11 x P12)) > 3 x 20

menit atau

(c) (P5 + P8 + P14) > 5 hari dan ((P5 x P6) + (P8 x P9) + (P14 x

P15)) > 150 menit atau

(d) (P2 + P5 + P8 + P11 + P14) > 5 hari dan jumlah aktivitas fisik

MET menit per minggu > 600.

(3) Aktivitas fisik rendah.

Jika aktivitas fisik tidak mencapai kriteria untuk aktivitas

fisik tinggi dan aktivitas fisik sedang.

Dimana jumlah aktivitas fisik MET menit per minggu = [(P2 x P3

x 8) + (P5 x P6 x 4) + (P8 x P9 x 4) + (P11 x P12 x 8) + (P14 x P15 x

4)]. P merupakan jawaban dari pertanyaan dalam kuesioner. P3, P6, P9,

commit to user

5. Hubungan Aktivitas fisik dan Asma

Aktivitas fisik merupakan salah satu yang sering memicu

terjadinya serangan asma. Sekitar 50-70% penderita asma melaporkan

Dokumen terkait