TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian PersediaanMenurut Slamet Sogiri Sodikin(2017:77) Diperusahaan dagang, hanya ada satu klasifikasi persediaaan, yaitu persediaan barang dagangan. Barang dagangan diperoleh dari pemasok dan dijual kembali kepada konsumen tanpa di ubah bentuknya. Barang dagangan inilah yang menjadi sumber utama perusahaan dagang.
Diperusahanan pemanufakturan terdapat tiga klarifikasi persediaan : persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku merupakan persediaan bahan yang akan diolah atau diubah bentuknya menjadi barang jadi . Persediaan barang dalam proses merupakan barang setengah jadi (bahan baku yang sedang mengalami proses produksi). Persediaan barang jadi adalah persediaan yang akan dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan menjadi sumber utama pendapatan bagi perusahaan pemanufakturan .
Sistem Akuntansi Persediaan bertujuan untuk mencatat mutasi jenis persediaan yang disimpan digudang. Sistem ini berkaitan erat dengan sistem penjualan, sistem retut penjualan, sistem pembelian, sistem retur pembelian, dan sistem akuntansi biaya produksi.
2. Pencatatan Persediaan
Menurut L.M.Samryn (2017:83) untuk tujuan pelaporan, masalah akuntansi persediaan dapat diselengarakan dengan mengunakan metode pencatatan dan metode penelitian. Metode pencatatan berkaitan dengan prosedur perekaman kuantitas dan mutasi masuk dan keluar, serta saldo persediaan. Sementara metode penilaian berkaitan dengan prosedur alokasi harga perolehan persediaan sebagai nilai persediaan akhir dan
pembebanannya sebagai harga pokok penjualan. Dua metode pencatatan persediaan yang lazim digunakan adalah metode fisik, dan metode perpetual.
Metode Pencatatan Persediaan Ada dua macam metode pencatatan persediaan menurut Baridwan (2011:150) yaitu:
1. Metode Persediaan Buku (perpetual) Dalam metode buku setiap jenis persediaan dibuatkan rekening sendiri-sendiri yang merupakan buku pembantu persediaan. Rincian dalam buku pembantu bisa diawasi dari rekening kontrol persediaan barang dalam buku besar. Rekening yang digunakan untuk mencatat persediaan ini terdiri dari beberapa kolom yang dapat dipakai untuk mencatat pembelian, penjualan, dan saldo persediaan. Setiap perubahan dalam persediaan diikuti dengan pencatatan dalam rekening persediaan sehingga jumlah persediaan sewaktu-waktu dapat diketahui dengan melihat kolom saldo rekening persediaan.
Jurnal :
- Saat pembelian
Persediaan barang dagang xxx
Kas/utang xxx - Saat penjualan
Kas/piutang xxx
Penjualan xxx Harga pokok penjualan xxx
Persediaan barang dagang xxx
2. Metode Persediaan Fisik (Periodik) Penggunaan metode fisik mengharuskan adanya perhitungan barang yang masih ada pada tanggal penyusunan laporan keuangan. Perhitungan persediaan ini diperlukan untuk mengetahui berapa jumlah barang yang masih ada dan kemudian diperhitungkan harga pokoknya. Dalam metode ini mutasi persediaan barang tidak diikuti dalam buku-buku, setiap pembelian barang dicatat
dalam rekening pembelian. Karena tidak ada catatan mutasi persediaan barang maka harga pokok penjualan juga tidak dapat diketahui sewaktu-waktu. Perhitungan harga pokok penjualan dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Persediaan Awal Rp xxx
Pembelian Rp xxx +
Barang tersedia untuk dijual Rp xxx
Persediaan akhir Rp xxx –
Harga Pokok Penjualan Awal Rp xxx
Biaya Persediaan Rp xxx +
Harga Pokok Penjualan Yang Dilaporkan Rp xxx Jurnal : - Saat pembelian Pembelian xxx Kas/utang dagang xxx - Saat penjualan Kas/piutang dagang xxx Penjualan xx Perbedaan Metode Fisik dan Perpetual
Tabel 1
Perbedaan Metode Fisik dan Perpetual
TRANSAKSI METODE FISIK METODE PERPETUAL
Pembelian Pembelian
Utang Dagang/Kas
Persediaan barang Utang dagang/Kas Pembayaran Biaya Angkut
Pembelian
Beban Angkut Pembelian Kas
Persediaan barang dagang Kas
Penjualan Kas/Piutang Dagang
Penjualan
Kas/Piutang Dagang Penjualan (Menurut harga Jual) Harga Pokok Penjualan
Persediaan barang dagang (Menurut harga pokok)
Utang Dagang/Kas ReturPembelian& Potongan Harga
Utang dagang/Kas
Persediaan barang dagang
ReturPenjualan&Potongan Harga
ReturPenjualan&Potongam Harga
Kas/Piutang Dagang
Retur Penjualan & PH Kas/Piutang (Menurut Harga jual) Persediaan barang dagang HPP
(MenurutHargaPokok/peroleha n)
Pembayaran utang dalam periode/masa potongan
Utang Dagang
Potongan Pembelian Kas
Utang Dagang
Persediaan barang dagang Kas
Penerimaan piutang dalam periode / masa potongan
Kas Potongan Penjualan Piutang Dagang Kas Potongan Penjualan Piutang Dagang Pembayaran biaya angkut
penjualan
Beban angkut penjualan Kas
Beban angkut penjualan Kas
Perhitungan HPP Seperti yang dijelaskan di atas
HPP akan dihitung berdasarkan kartu persediaan barang
Penyesuaian Persediaan akhir
Iktisar L/R
Persediaanbarang dagang Persediaan barang dagang Ikhtisar L/R
Tidak perlu penyesuaian kecuali jika terdapat koreksi yang perlu disesuaiakan
Sumber Ly Samrin
3. Sistem dan prosedur yang bersangkutan dengan sistem akuntansi persediaan
Metode Identifikasi Khusus (Speciafic identification method)
Metode Identifikasi Khusus dapat dikatakan sebagai metode yang paling mudah tetapi memerlukan banyak waktu dan harga barangnya juga cukup mahal . untuk dapat mengaplikasikan metode ini, perusahaan harus menyelenggarakan catatan yang lengkap terhadap harga pokok dan kuantitas bahan baik untuk setiap kali terjadi transaksi maupun pemakaian.
Contoh :
Misalnya data persediaan pembelian dan pemakaian bahan baku-X pda suatu perusahaan dalam bulan april 1990 sebagai berikut :
Persediaan Awal Bulan 1000 unit @ Rp500,00
Pembelian
Tanggal 5 April 1200 unit @Rp600,00
Tanggal 15 April 1000 unit @Rp700,00
Tanggal 25 April 800 unit @Rp650,00
Jumlah 4000 unit
Pemakaian
Tanggal 3 April 800 unit Tanggal 10 April 600 unit Tanggal 17 April 700 unit Tanggal 27 April 900 unit Jumlah 3000 unit
Untuk Metode Indentifikasi Khusus, selanjutnya di umpamakan pemakaian bahan dan hasil perhitungan fisik persediaan pada akhir bulan sebagai berikut :
Tabel 2
Perhitungan Metode Indentifikasi Khusus
Kelompok Harga Pokok Pemakaian Hasil
Per Unit Bahan Bahan Perhitungan
Pers 1/4 Rp 500 Tgl 3/4 800 unit 200 unit Pbl 5/4 Rp 600 Tgl 10/4 600 unit
Tgl 17/4 300 unit 300 unit Pbl 15/4 Rp 700 Tgl 17/4 400 unit 300 unit Tgl 27/4 300 unit 300 unit Pbl 25/4 Rp 650 Tgl 27/4 600 unit 200 unit+
Jumlah 3.000 unit 1.000 unit
Sumber Diolah oleh penulis
Berdasarkan hasil perhitungan fisik bahan yang ada dalam persediaan pada akhir bulan tersebut diatas maka dapat ditentukan nilai persediaan akhir bulan sebagi berikut :
Tabel 3
Perhitungan Metode Indentifikasi Khusus
Tgl Kts Kts Kts Harga Persediaan Pembelian pembelian Dipakai Pers Pokok Akhir
(unit) (unit) (unit) (Rp) (Rp) 1/4 1000 800 200 x 500 = 100.000 5/4 1200 900 300 x 600 = 180.000 15/4 1000 700 300 x 700 = 210.000 25/4 800 600 200 x 650 = 130.000+
Jumlah 4.000 3.000 620.000
Sumber Diolah oleh penulis
Dengan demikian harga pokok bahan yang dikonsumsikan dalam bulan april dapat dihitung sebagai berikut :
Tabel 4
Perhitungan Metode Indentifikasi Khusus
Tgl Pembelian Kts Pembelian Hrg Pokok/Unit Jumlah
Pers.Awal 1/4 1.000 unit 500 500.000
5/4 1.200 unit 600 720.000
15/4 1.000 unit 700 700.000
Harga pokok bahan dipakai 2.440.000 Persediaan Akhir Bulan 620.000-
Harga Pokok Bahan Bulan April 1.820.000
Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (First In First Out)
Metode First In First Out (FIFO) adalah metode penilaian persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula. Pada umumnya perusahaan menggunakan metode ini, sebab metode ini perhitungannya sangat sederhana baik sistem fisik maupun sistem perpetual akan menghasilkan penilaian persediaan yang sama.
Cara menghitung persediaan akhir adalah sebagai berikut : Persediaan awal xxx
Pembelian xxx + Tersedia untuk dijual xxx Penjualan xxx – Persediaan akhir xxx
Metode FIFO yang didasarkan atas sistem fisik, nilai persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang terakhir kali masuk, bila saldo fisik ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk maka sisanya diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk sebelumnya. Sedangkan pada sistem perpetual pencatatan persediaan dilakukan secara terus menerus dalam kartu persediaan. Pada sistem ini apabila ada transaksi penjualan maka akan dijurnal dua kali, pertama mencatat harga pokok penjualan dan yang kedua mencatat harga pokok barang yang dijual, seperti berikut ini :
Kas/ Piutang Dagang xxx
Penjualan xxx HPP xxx
Persediaan barang xxx
Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama (Last In First Out)
Metode Last In First Out (LIFO) adalah metode penilaian persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali. Metode ini
memiliki konsep yang cukup sederhana namun sulit dilaksanakan. Pengaruh penggunaan metode LIFO terhadap penentuan laba bersih usaha, jika harga cenderung naik maka laba perusahaan terlalu kecil atau sebaliknya.
Metode LIFO secara sistem fisik ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang masuk pada awal periode bila saldo fisik ternyata lebih besar dari barang yang masuk pada awal periode maka diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk berikutnya. Sedangkan dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi baik pembelian maupun penjualan dicatat dalam kartu persediaan.
Metode rata-rata a. Rata-rata sederhana
Dalam metode ini harga per unit persediaan dihitung dengan cara: jumlah harga per unit setiap kali pembelian dibagi dengan jumlah atau frekwensi pembeliaannya.
Biaya perunit =Total harga perunit pembelian x Frekuensi pembelian Nilai persediaan akhir = Persediaan akhir x biaya perunit
Harga pokok penjualan = unit yang dikeluarkan x biaya perunit b. Rata-rata tertimbang
Dalam metode ini harga per unit persediaan dihitung dengan cara: jumlah total nilai pembelian dibagi dengan total unit yang dibeli.
Biaya perunit =Jumlah harga perunit x banyaknya unit Nilai persediaan akhir = persediaan akhir x biaya perunit Harga pokok penjualan = unit yang dikeluarkan x biaya perunit
Contoh:
PT. Angkasa Putra selama bulan Januari 2011 mempunyai data tentang persediaan sebagai berikut:
Jan. 1 Persediaan 1.000 unit @ Rp. 500/unit Jan. 10 Pembelian 800 unit @ Rp. 550/unit Jan. 18 Penjualan 900 unit
Jan. 20 Pembelian 700 unit @ Rp. 600/unit Jan. 27 Penjualan 500 unit
Tentukan nilai persediaan tanggal 31 Januari 2011 apabila besarnya persediaan akhir adalah 1.100 unit. dengan metode FIFO, LIFO, Rata-rata sederhana, rata-rata tertimbang!
Jawab: a. FIFO
Jumlah persediaan 1.100 unit terdiri dari:
Pembelian tgl 20 Januari 2011 = 700 x Rp. 600 = Rp. 420.000 Pembelian tgl 10 Januari 2011 = 400 x Rp. 550 =Rp. 220.000
Jumlah 1.100 Rp. 640.000 b. LIFO
Jumlah persediaan 1.100 unit terdiri dari:
Persediaan tgl 1 Januari 2011 = 1.000 x Rp. 500 = Rp. 500.000 Pembelian tgl 10 Januari 2011 = 100 x Rp. 550 = Rp. 55.000
Jumlah 1.100 Rp. 555.000 c. Rata-Rata Sederhana
Jumlah persediaan 1.100 unit Harga rata-rata per unit:
Rp. 500 + Rp. 550 + Rp. 600 = Rp. 550 3
Jadi besarnya nilai/harga pokok persediaan akhir sebesar 1.100 unit adalah:
1.100 X Rp. 550 = Rp. 605.000 b. Rata-Rata Tertimbang
Jumlah persediaan 1.100 unit Harga rata-rata per unit:
(1.0 x Rp. 500) + (800 x Rp. 550) + (700 x Rp. 600):1000 + 800 +700 (Rp. 500.000 + Rp. 440.000 + Rp. 420.000) : 2.500 = Rp. 544
Jadi besarnya nilai/harga pokok persediaan akhir sebesar 1.100 unit adalah: 1.100 x Rp. 544 = Rp. 598.400
Jika perusahaan menggunakan sistem perpetual, penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir dilakukan setiap perusahaan menjual barang. Untuk mempermudah pekerjaan menentukan harga pokok ini digunakan suatu kartu yang lazim disebut Kartu Persediaan. Satu jenis barang disediakan satu Kartu. Dengan demikian sistem ini baru cocok untuk persediaan yang nilainya tinggi.
Contoh:
PT. Angkasa Putra selama bulan Januari 2011 mempunyai data tentang persediaan sebagai berikut:
Jan. 1 Persediaan 1.000 unit @ Rp. 500/unit Jan. 10 Pembelian 800 unit @ Rp. 550/unit Jan. 18 Penjualan 900 unit
Jan. 20 Pembelian 700 unit @ Rp. 600/unit Jan. 27 Penjualan 500 unit
Tentukan nilai persediaan tanggal 31 Januari 2011 apabila besarnya persediaan akhir adalah 1.100 unit. dengan metode FIFO, LIFO, Rata-rata bergerak !
Jawab :
Metode FIFO:
Dalam metode ini diasumsikan bahwa harga pokok dari persediaan yang pertama kali masuk dari pembelian, dikeluarkan terlebih dahulu pada saat terjadi penjualan.
Tabel 5
Kartu persediaan dengan metode fifo
Tgl
Ket
Diterima Dikeluarkan Persediaan (saldo)
Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah
Dari kartu persediaan tersebut, besarnya nilai persediaan akhir adalah : 400 @ Rp. 550 = Rp. 220.000
700 @ Rp. 600 = Rp. 420.000 1.100 Rp. 640.000 Metode LIFO:
Dalam metode ini diasumsikan bahwa harga pokok dari persediaan yang terakhir masuk dari pembelian, dikeluarkan terlebih dahulu pada saat terjadi penjualan.
Tabel 6
Kartu persediaan dengan metode lifo
Tgl Ket
Diterima Dikeluarkan Persediaan (saldo)
Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah
Jan1 Persediaan 1000 500 500.000 10 Pembelian 800 550 440.000 1000 800 500 550 500.000 440.000 10 Pembelian 800 550 440.000 1000 800 500 550 500.000 440.000 18 Dijual 900 500 450.000 100 800 500 550 50.000 440.000 20 Pembelian 700 600 420.000 100 800 700 500 550 600 50.000 440.000 420.000 27 Dijual 100 400 500 550 50.000 275.000 400 700 550 600 220.000 420.000 Lanjutan
18 Dijual 800 100 550 500 440.000 50.000 900 500 450.000 20 Pembelian 700 600 420.000 900 700 500 600 450.000 420.000 27 Dijual 500 600 300.000 900 200 500 600 450.000 120.000 Dari kartu persediaan tersebut, besarnya nilai persediaan akhir adalah :
900 @ Rp. 500 = Rp. 450.000 200 @ Rp. 600 = Rp. 120.000 1.100 Rp. 570.000 Metode Rata-Rata Bergerak:
Metode rata-rata yang digunakan pada metode perpetual ini biasanya disebut dengan Rata-rata bergerak. Dikatakan bergerak karena harga per unit persediaan selalu bergerak / berubah sesuai dengan terjadinya perubahan / mutasi pada jumlah unit persediaan yang dimiliki perusahaan. Berikut ini bentuk kartu persediaan dengan metode rata-rata bergerak:
Tabel 7
Kartu persediaan dengan metode rata-rata bergerak
Tgl
Diterima Dikeluarkan Persediaan (saldo)
Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah Unit Cost Jumlah
Jan1 1000 500 500.000
10 800 550 440.000 1800 522,2 940.000
18 900 522,2 469.980 900 522,2 469,980
20 700 600 420.000 1.600 556,2 889,980
27 500 556,2 278.100 1.100 556,2 611.820
Dari harga perhitungan diatas maka besarnya nilai persediaan sebanyak 1.100 unit adalah sebesar Rp. 611.820
4. Sistem Komputer
Sistem komputer terdiri dari perangkat keras (Hardware) dan perangkat lunak (Software). Tanpa perangkat lunak , perang keras hanya berfungsi sebagai
benda mati saja yang tidak dapat mengerjakan sesuatu. Tanpa perangkat keras, perngkat lunak hanya merupakan kode-kode komputer saja yang tidak dapat mengerjakan perangkat kerasnya. Oleh karena itu, perangkat keras dan perangkat lunak harus bekerja bersama-sama membentuk suatu sistem,yaitu sistem komputer. Jogiyanto (2012:123).
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian awal bahwa sistem komputer terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi satu sama lain. Komponen-komponen tersebut terdiri atas tiga bagian yaitu:
1. Hardware (Perangkat Keras)
Hardware atau biasa kita sebut perangkat keras adalah sebuah komponen dari sistem komputer yang memiliki wujud fisik dan dapat disentuh. Hardware pada sistem komputer juga terdiri dari beberapa unit komponen, yaitu: (CPU)
CPU atau Central Processing Unit adalah otak dari sistem komputer, unit ini bertanggung jawab atas semua kegiatan yang terjadi didalam komputer. CPU berfungsi sebagai pusat pengelolaan data dan mengontrol segala perangkat internal maupun yang eksternal yang terhubung pada komputer. Input
Sebuah data atau instruksi harus di input terlebih dahulu sebelum diolah menjadi informasi yang seperti kita inginkan, oleh karena itu dibutuhkan sebuah unit input yang menjadi sebuah gerbang untuk data yang dari dunia luar masuk ke dalam sistem komputer. Bentuk-bentuk data yang telah diinput akan dikonversi menjadi kode binary sehingga dapat dibaca oleh memori utama. Tentulah bentuk data pada tiap perangkat input berbeda-beda. Misalnya pada perangkat keyboard, bentuk data yang dihasilkan adalah sebuah huruf atau angka, berbeda dengan perangkat input mouse. Output
Output unit memiliki fungsi yang berkebalikan dengan Input unit. Jika pada input unit data yang dari luar dimasukkan ke dalam sistem komputer, maka output unit sebaliknya. Output Unit menghasilkan sebuah informasi atau
data yang merupakan hasil dari pemrosesan pada sistem komputer. Data yang dihasilkan dapat berupa sebuah infromasi, gambar, suara atau video. Storage
Data atau instruksi yang telah diinput pada sistem komputer melalui unit input terlebih dahulu di simpan pada unit storage sebelum benar-benar diproses. Begitupula dengan hasil data yang telah di proses, data tersebut terlebih dahulu disimpan pada unit storage sebelum dipindahkan pada unit output.
2. Software
Software adalah komponen dari sistem komputer yang tidak memiliki wujud atau bentuk fisik. Software memiliki wujud digital yang disimpan pada memori komputer. Terdapat berbagai macam jenis kategori software pada sistem komputer, yaitu:
System
System Software adalah kategori untuk software yang mengatur dan mengontrol komponen hardware pada komputer yang mana memungkinkan terjadinya interaksi antara hardware dengan tipe software lainnya. Salah satu contoh dari System Software adalah sistem operasi komputer, namun driver pada sebuah device juga dapat digolongkan dalam kategori ini. Utility
Utility Software adalah kategori untuk software yang menjaga dan melindungi sistem komputer namun tidak berhadapan lansung dengan hardware. Contoh software yang termasuk dalam kategori Utility
Software adalah software anti-virus, firewall, disk defragmenter dan
lainnya. Application
Application software adalah kategori untuk software yang digunakan oleh user untuk menyelesaikan sebuah tugas tertentu. Contoh software yang termasuk dalam kategori Application Software adalah web browser, software office, game dan lainnya.
Komponen yang terakhir dalam sebuah sistem komputer adalah Brainware. Brainware dapat diartikan sebagai orang maupun perangkat intelektual yang memakai, menggunakan atau mengoperasikan perangkat komputer.
5. Basisdata (Database)
Menurut Fatansyah (15:2015) Sistem basis data adalah suatu sistem menyusun dan mengelola record-record menggunakan komputer untuk menyimpan atau merekam serta memelihara data operasional lengkap sebuah organisasi atau perusahaan sehingga mampu menyediakan informasi yang optimal yang diperlukan pemakai untuk proses pengambilan keputusan.
Sistem pengelolaan Basis Data(Database Management System/DBMS) Pengelolaan basis data secara fisik tidak di lakukan oleh pemakai secara langsung, tetapi ditangani oleh sebuah Perangkat Lunak(Sistem) yang khusus. Perangkat lunak inilah yang disebut (Database Management System/DBMS) yang akan menetukan bagaimana data di organisasi , disimpan, diubah dan diambil kembali. Perangkat lunak yang termasuk DBMS seperti dBase, FoxBase, Rbase, MS-Access dan Borland Paradox, Borland-Interbase, MS-SQL Server, Oracle Database, IBM DB2, Informix, Sybase, MySQL, PostgreSQL.
Pemakai (USER)
Ada beberapa jenis/tipe pemakai terhadap suatu sistem basis data yang di bedakan berdasarkan cara mereka berinteraksi terhadap sistem :
o Programer Aplikasi
Pemakai yang berinteraksi dengan basis data melalui Data
Manipulation Language (DML), yang di sertakan (embedded)
dalam program yang ditulis dalam bahasa pemograman seperti C,C++, Pascal , PHP, Java, dan lain-lain).
o User Mahir (Casual User)
Pemakai yang berinteraksi dengan basis data tanpa menulis modul program. Mereka menyatakan query (untuk akses data) dengan bahasa query yang disediakan oleh DBMS.
Pemakai yang berinteraksi dengan sistem basis data melalui pemanggilan satu program aplikasi permanen (executable program) yang telah disediakan sebelumnya.
o User Khusus(Specialized User)
Pemakai yang menulis aplikasi basis data nonkonvensional, tetapi untuk keperluan-keperluan khusus, seperti untuk aplikasi Artifical,
Intellegency, Sistem Pakar, Pengolahan Citra, dan lain-lain yang
bisa mengakses basis data tanpa DBMS yang bersangkutan. Database Relasional
Aplikasi manajemen database mengenal dua macam bentuk database:flat-file: semua record tersimpan dalam satu tabel;database relasional: memiliki banyak tabel yang saling terkait, dengan sebuah unsur data yg berfungsi sebagai pengait (disebut primary key).Dengan semakin banyaknya data yang dikelola, hampir tidak mungkin bahwa semua rekaman (record) disimpan dalau satu tabel. Manfaat database relasional adalah membuat sistem pengolahan data menjadi lebih efisien dan tabel data dapat dipilahkan dengan kategori yang berbeda. Fungsi primary key sangat penting dalam menemukan relasi dan logika kaitan antar tabel. Audrey Wiselie(2017. Vol 5 No 1 :2).
Penginterogasian (Querying) Sebuah Database Relasional
Karakteristik pokok pada model data relasional adalah bahwa setiap operasi selalu menghasilkan sebuah tabel baru. Ini berarti bahwa hasil query dapat menjadi obyek dari proses query berikutnya. Bahasa query relasional dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama yaitu : (1) bahsa query berbasis teks (text-based query languages), dan (2) bahasa query berbasis garfik (graphical query languages). Krismiaji(2015:122)
6. Application Design(Desain Aplikasi)
Menurut Indrajani (2017:9) Desain Aplikasi merupakan perancangan
user interfance dan program aplikasi yang menggunakan dan melakukan proses
terhadap basis data. Desain basis data dan aplikasi dilakukan secara paralel. Ada dua aktivitas yang ada didalamnya, yaitu :
User Intefance Design 7. Protyping (Prototipe)
Fungsinya adalah membuat model kerja suatu aplikasi basis data. Tahapan ini bersifat opsional. Tujan utama dari tahapan ini adalah :
Untuk mengidentifikasi fitur sistem yang sedang berjalan.
Untuk memberikan perbaikan-perbaikan atau penampakan fitur baru. Untuk klarifikasi kebutuhan user.
Untuk evaluasi kelayakan dan kemungkinan apa yang terjadi dari desain sistem.
8. Entity Relationship Diagram
Entity Relationship Diagram (ERD) memiliki dua komponen utama yaitu
Entitas (Entity) dan Relasi (Relation). Kedua komponen ini ,masing-masing dilengkapi dengan sejumlah atribut yang mempresentasikan seluruh fakta yang ada didunia nyata. Jurnal TEKNOIF Iswandy Eka ( 2015 Vol. 3 No. 2:73).
Entitas adalah objek dalam dunia nyata yang dapat dibedakan dengan objek lain, sebagai contoh mahasiswa,dosen,departemen. Entitias terdiri atas beberapa atribut sebagai contoh atribut dari entitas mahasiswa adalah nim,nama,alamat,email, dll. Atribut nim merupakan unik untuk mengidentifikasikan / membedakan mahasiswa yg satu dengan yg lainnya. Pada setiap entitas harus memiliki primary key. Atribut adalah Setiap entitas pasti mempunyai elemen yang disebut atribut yang berfungsi untuk mendeskripsikan karakteristik dari entitas tersebut. Isi dari atribut mempunyai sesuatu yang dapat mengidentifikasikan isi elemen satu dengan yang lain. Gambar atribut diwakili oleh simbol elips.
Ada dua jenis Atribut :
1) Identifier (key) digunakan untuk menentukan suatuentity secara unik (primary
key).
2) Descriptor (nonkey attribute) digunakan untuk menspesifikasikan karakteristik dari suatu entity yang tidak unik.
Relasi adalah hubungan antara beberapa entitas. sebagai contoh relasi antar mahaiswa dengan mata kuliah dimana setiap mahasiswa bisa mengambil beberapa
mata kuliah dan setiap mata kuliah bisa diambil oleh lebih dari 1 mahasiswa. relasi tersebut memiliki hubungan banyak ke banyak. Berikut adalah contoh ERD. Kardinalitas menyatakan jumlah himpunan relasi antar entitias. pemetaan kardiniliat terdiri dari :
· one-to-one :sebuah entitas pada A berhubungan dengan entitas B paling banyak 1contoh diatas relasi pegawai dan departemen dimana setiap pegawai hanya bekerja pada 1 departemen.
· one-to-many : sebuah entitas pada A berhubungan dengan entitas B lebih dari satu contoh diatas adalah 1 depertemen memiliki banyak pegawai
· many-to-many : sebuah entitas pada A berhubungan dengan entitas B lebih dari satu dan B berhubungan dengan A lebih dari satu jugan contoh diatas adalah relasi mahasiswa dengan mata kuliah.
Berikut adalah metode/tahap untuk membuat ERD : Menentukan Entitas
Menentukan Relasi
Menggambar ERD sementara