• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen OLEH: Tia Setiawati (Halaman 24-40)

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Demam 1. Pengertian demam

Demam diartikan sebagai peningkatan suhu tubuh lebih dari 38oC, pengukuran di rectal. Demam dikenal juga sebagai manifestasi penting terjadinya infeksi pada

anak-anak (Rudolpho, Hoffman, & Rudolph, 2006). Pada tahun 2005, demam

pada anak ditandai dengan suhu 37oC per aksila, atau 37,8oC per oral, atau 38oC per timpani atau per rektal (Walsh, 2008). Peneliti lain menyebutkan bahwa

demam ditandai dengan suhu lebih atau sama dengan 38,3oC (Laupland, 2009).

Demam merupakan respon tubuh terhadap stimulus yang membahayakan tubuh.

Demam juga sebagai indikator penting untuk menilai perkembangan penyakit

(Totapally, 2005).

Suhu tubuh normal dipengaruhi oleh lingkungan, usia, jenis kelamin, aktivitas

fisik, dan suhu udara. Suhu tubuh akan lebih rendah 0,5oC dari rata-rata pada pagi hari, dan meningkat pada sore hari. Oleh karena itu tidak ada nilai mutlak suhu

tubuh. Rentang suhu tubuh normal yaitu suhu aksila antara 34,7o – 37,3oC, suhu oral antara 35,5o – 37,5oC, dan suhu rektal antara 36,6o – 37,9oC (Avner, 2009).

   

 

Ikatan Dokter Anak Indonesia menetapkan suhu tubuh normal untuk anak

berkisar antara 36,5oC sampai 37,5oC.

Suhu tubuh dikontrol oleh hipotalamus. Ball dan Bindler (2003) menjelaskan

bahwa jika suhu tubuh lebih rendah dari normal, terjadi vasokonstriksi untuk

mempertahankan panas tubuh; kelenjar adrenalin akan memproduksi epinefrin

dan norepinefrin. Epinefrin dan norefinefrin tersebut menyebabkan peningkatan

metabolisme, vasokonstriksi, dan produksi panas. Selanjutnya dapat terjadi reaksi

“menggigil” (panas dingin) sebagai upaya tubuh meningkatkan produksi panas.

Ketika produksi panas berlebihan, tubuh berespon dengan cara meningkatkan

suhu. Kondisi ini disertai dengan peningkatan denyut jantung dan frekuensi

pernapasan. Akhirnya terjadi vasodilatasi, kulit tampak kemerahan, terasa hangat

saat diraba. Kemudian suhu tubuh akan menurun, anak mulai berkeringat, denyut

nadi dan frekuensi pernapasan kembali normal.

2. Penyebab demam

Demam dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, tumor, stress atau trauma.

Mikroorgnisma tersebut merangsang makrofag untuk melepaskan pyrogen dalam

pembuluh darah. Pirogen mengikuti sistem sirkulasi sampai ke hipotalamus.

Pirogen tersebut memicu produksi prostaglandin. Prostaglandin ini diyakini

meningkatkan titik basal termoregulator tubuh, sehingga menyebabkan demam

   

 

Demam menyebabkan anak-anak menjadi lebih cengeng dan mengeluh nyeri

kepala serta rasa tidak nyaman di seluruh tubuh. Demam juga menyebabkan

penurunan nafsu makan dan meningkatkan kebutuhan cairan pada anak. Hal ini

terjadi karena setiap kenaikan 1oC (di atas suhu 37oC) menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen sebesar 13%. Jika demam terjadi berkepanjangan, dapat

menyebabkan dehidrasi (Totapally, 2005). Efek demam yang lain adalah

perubahan status neurologik pada klien anak yang menderita penyakit otak

organik. Totapally (2005) menjelaskan bahwa peningkatan suhu tubuh

menyebabkan peningkatan aliran darah ke otak sehingga dapat menimbulkan

peningkatan tekanan intrakranial.

3. Penatalaksanaan demam

Umumnya, antipiretik diberikan kepada anak untuk menurunkan demam.

Antipiretik ini berfungsi menghambat produksi prostaglandin, menyebabkan anak

berkeringat dan vasodilatasi (Totapally, 2005). Antipiretik yang sering digunakan

sebagai penurun panas adalah parasetamol (Thomas, et al. 2008), acetaminophen

(Plaisance & Mackowiak, 2000; Tréluyer, et al. 2001), ibuprofen, naproxen,

dipyron (Alves, de Almeida, & de Almeida, 2008) dan indomethacin. Ibuprofen

merupakan antipiretik yang paling efektif menurunkan demam untuk anak usia 6

bulan lebih (Totapally, 2005). Pemberian antipiretik yang berlebihan perlu

   

10   

juga dilakukan terapi modalitas fisik yaitu sponging (tepid sponge) dan selimut

hipotermi (Totapally, 2005).

Sebagian besar anak yang menderita penyakit infeksi dan mengalami demam,

dirawat di rumah. Perawatan anak yang menderita demam (Ball & Bindler, 2003)

meliputi:

a. Pemberian cairan dengan meningkatkan pemasukan cairan.

b. Mencegah penggunaan baju atau selimut tebal yang berlebihan. Berikan anak

pakaian yang tipis dan menyerap keringat.

c. Lakukan kompres air hangat (tepid sponge) untuk menurunkan suhu tubuh

sambil menunggu antipiretik bekerja dalam tubuh. Tepid sponge terutama

dilakukan kepada anak dengan suhu tubuh lebih dari 40oC. Air hangat yang digunakan memiliki suhu minimal 26,6oC, maksimal 35oC.

d. Libatkan orang tua dalam perawatan anaknya yang menderita demam.

e. Terapkan pencegahan universal untuk mencegah penyebaran penyakit menular

yang diderita anak.

B. Tepid sponge

Tepid sponge sering direkomendasikan untuk mempercepat penurunan suhu tubuh.

Akan tetapi selama tepid sponge, terjadi penurunan suhu tubuh yang menginduksi

vasokonstriksi periferal, menggigil, produksi panas metabolik dan ketidaknyaman

   

11   

Tepid sponge sebagai salah satu cara untuk menurunkan demam masih menjadi topik

kontroversial dikalangan tenaga kesehatan di Brazil. Hasil penelitian yang dilakukan

oleh Alves, Almeida, dan Almeida (2008) menjelaskan bahwa setelah 15 menit

dilakukan tepid sponge plus dipyrone, suhu badan per aksila pada anak usia 6 bulan

– 5 tahun mengalami penurunan. Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan

bahwa setelah 2 jam pemberian dipyrone saja, demam akan turun. Akan tetapi pada

kelompok anak yang memperoleh tepid sponge plus dipyrone, anak cenderung

cengeng dan gelisah dibandingkan dengan anak yang hanya memperoleh dipyrone.

Mahar, et al. (1994) melakukan penelitian tentang tepid sponge di Bangkok dengan

jumlah partisipan sebanyak 75 anak, usia 6 bulan – 5 tahun. Hasil penelitian tersebut

menunjukkan bahwa 60 menit setelah dilakukan tepid sponge plus parasetamol,

terjadi penurunan suhu yang lebih cepat pada kelompok intervensi sebesar 0,5oC (38oC) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya memperoleh parasetamol (38,5oC). Pada anak-anak yang mendapat tindakan tepid sponge, selama tepid sponge anak-anak cenderung menangis, dan satu orang anak menggigil.

Penelitian lain (Aksoylar, et al., 1997; Agbolosu, et al., 1997; Sharber, 1997;

Bernath, Anderson, & Silagy, 2002; Thomas, et al., 2008; Geraldine, et al., 2001)

menunjukkan bahwa tindakan tepid sponge plus antipiretik lebih efektif menurunkan

   

12   

Tahap-tahap pelaksanaan tepid sponge (Rosdahl & Kowalski, 2008) meliputi:

1. Tahap persiapan

a. Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga cara tepid sponge.

b. Persiapan alat meliputi ember atau waskom tempat air hangat (26o – 35oC), lap mandi 6 buah, handuk mandi 1 buah, selimut mandi 1 buah, perlak besar

1 buah, termometer, selimut hipotermi atau selimut tidur 1 buah.

2. Pelaksanaan

a. Beri kesempatan klien untuk menggunakan urinal sebelum tepid sponge.

b. Ukur suhu tubuh klien dan catat. Catat antipiretik yang telah diminum klien

untuk menurunkan suhu tubuh.

c. Buka seluruh pakaian klien. Letakkan lap mandi di dahi, aksila, dan pangkal

paha. Lap ekstremitas selama 5 menit, punggung dan bokong selama 10-15

menit. Lakukan melap tubuh klien selama 20 menit. Pertahankan suhu air

(26o-35oC).

d. Hentikan prosedur jika klien kedinginan atau menggigil atau segera setelah

suhu tubuh klien mendekati normal (37,5oC per oral). Selimuti klien dengan selimut tidur. Pakaikan klien baju yang tipis dan mudah menyerap keringat.

e. Catat suhu tubuh dan tingkat rasa nyaman klien sebelum dan setelah

   

13   

C. Hiperpireksia (hipertermia)

Hiperpireksi adalah suhu tubuh lebih dari 41,1oC (Trautner, et al., 2006). Lebih lanjut Trautner, et al. (2006) menjelaskan bahwa hiperpireksia merupakan kondisi

kegawatan dan membutuhkan penatalaksanaan segera. Hiperpireksi terjadi pada satu

dari 2000 kasus anak yang dirujuk ke unit gawat darurat pediatrik. Penyebab

hiperpireksia yang paling sering adalah infeksi bakteri, virus, sindroma neuroleptik

malignan, intoksikasi, dan suhu panas yang ekstrim.

Setiap orang mengalami gejala dan tanda hiperpireksia yang berbeda-beda. Tetapi

pada umumnya tanda gejala hiperpireksia meliputi: suhu tubuh tinggi (lebih dari

41oC, tidak adanya keringat, tanpa kulit panas kemerahan atau kulit kering kemerahan, nadi cepat, sulit bernapas, perubahan perilaku, halusinasi, bingung

(confusion), agitasi, disorientasi, kejang, dan koma (Trautner, et al., 2006).

Penatalaksanaan yang utama untuk anak dengan hiperpireksia adalah segera berikan

kompres dingin (suhu air antara 26o-28o C), letakkan klien di lingkungan yang sejuk dan kering, kipasi klien untuk meningkatkan evaporasi dan berkeringat, hidrasi

untuk mencegah dehidrasi, letakkan kantong es di aksila dan pangkal paha, dan tepid

   

14   

D. Karakteristik anak pra-sekolah dan usia sekolah 1. Karakteristik anak pra-sekolah (3-6 tahun)

Anak-anak usia sekolah berumur antara 3 sampai 5 tahun. Penampilan fisik

secara umum adalah lebih langsing, luwes, tangkas, dan postur tubuh yang

proporsional antara tinggi badan dengan berat badan. Tinggi badan rata-rata

bertambah 6,25 sampai 7,5 cm per tahun. Berat badan bertambah 2,3 kg per

tahun (Muscari, 2005).

Anak usia pra-sekolah sudah dapat melompat, berlari, dan beberapa dapat

berenang atau bermain sepatu roda. Perkembangan utama pada koordinasi

motorik halus, anak sudah dapat menggambar atau mewarnai sederhana

(Muscari, 2005).

Perkembangan kognitif anak usia pra sekolah adalah mereka sudah mampu

mengelompokkan, menghitung benda dan menghubungkan beberapa objek, akan

tetapi belum memahami prinsip-prinsip yang mendasari konsep tersebut. Anak

pra-sekolah sudah memiliki rasa cemas dan takut yang berhubungan dengan

harapan orang tua atau orang terdekatnya. Hubungan anak dengan orang lain

makin luas termasuk teman dan guru di sekolah. Rasa nyaman anak usia

pra-sekolah timbul pada lingkungan yang sudah dikenalnya, walaupun dihadapkan

   

15   

Anak pra-sekolah sudah dapat menyusun kalimat lengkap. Akan tetapi

kemampuan bahasa tersebut masih belum sempurna, sehingga dapat

menimbulkan salah persepsi dari orang dewasa. Interpretasi yang tepat oleh

tenaga kesehatan diperlukan untuk mencegah timbulnya trauma hospitalisasi

pada anak (Ball & Bindler, 2003). Penatalaksanaan keperawatan yang perlu

meliputi intervensi fisik yang aman dan nyaman. Memberi kesempatan anak

untuk terlibat dalam perawatan dirinya, mempertahankan kendali atas fungsi

tubuhnya, memberi keyakinan kepada anak bahwa sakit bukan kesalahan

dirinya, serta member kesempatan anak untuk mengekspresikan perasaanya

melalui cerita atau gambar (Muscari, 2005).

2. Karakteristik anak usia sekolah

Anak-anak usia sekolah adalah mereka yang berumur 6 sampai 12 tahun. Tinggi

badan anak usia sekolah rata-rata akan bertambah sekitar 6 – 7 cm per tahun. Berat badan anak usia sekolah akan bertambah sekitar 2,5 – 3,5 kg per tahun. selanjutnya, saat anak memasuki usia pubertas, berat badan dan tinggi badan anak akan bertambah dengan cepat. Anak perempuan cenderung lebih berat dari anak laki-laki. Tubuh anak akan terus berubah sesuai dengan pertumbuhan fisik.

Tulang, otot, lemak, dan kulit mereka tumbuh dan berkembang. Perubahan ini

terjadi dengan cepat sampai dia mencapai masa pubertas. Masa pubertas adalah

masa di mana tubuh matang secara seksual. Rambut di bagian tubuh tertentu

   

16   

tumbuh payudaranya. Kemudian, mereka juga mulai menstruasi. Pubertas

mungkin dimulai pada awal usia tujuh tahun pada anak perempuan, dan sembilan

tahun pada anak laki-laki (Muscari, 2005).

Kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi (kemampuan untuk bergerak dengan

lancar) pada anak usia sekolah mulai baik. Kelancaran dan kecepatan dalam

kegiatan fisik mempermudah anak untuk berpartisipasi dalam olahraga. Kontrol

jari dan tangan juga meningkat (Muscari, 2005).

Anak dapat menyebutkan angka dan huruf dengan mudah. Pada awal usia enam

tahun, anak dapat membaca kata-kata tunggal dan memahami apa yang ia baca.

Selanjutnya anak mungkin dapat membaca dengan lancar dan mengucapkan

kata-kata dengan benar. Anak usia sekolah mulai berpikir logis. Ia dapat

memahami apa yang terjadi di sekelilingnya. Mampu untuk memahami ide dan

kemampuan mengingat berkembang dengan baik. Ia dapat menempatkan,

mengurutkan dan mengelompokkan obyek sesuai perintah. Ia dapat mengikuti

petunjuk dan aturan yang lebih rumit, dan memecahkan masalah dengan lebih

baik (Muscari, 2005).

Anak usia sekolah mengalami perkembangan akan rasa takut yang tidak dikenal.

Dia mungkin takut hantu, monster, atau tempat gelap. Dia mulai memahami

peristiwa buruk dan mungkin takut akan pencurian, kecelakaan, dan kematian.

   

17   

sikap menerima penting untuk anak. Hal ini harus diberikan oleh keluarganya.

Anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temannya, pengaruh

keluarga tidak sekuat seperti usia prasekolah. Saat anak usia sekolah tumbuh

besar, teman-temannya menjadi lebih penting. Dia akan merasa perlu untuk

bersaing dengan anak lain, dan memiliki sebuah grup. Dia mungkin berkumpul

dengan teman-teman sesama jenis kelamin. Dia mulai berbagi rahasia dengan

teman-teman yang dapat ia percaya. Teman kelompok membantu anak

menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan dan

kegiatan sekolah. Kelompok teman juga mendukung anak menghadapi

pengalaman hidup yang penuh dengan tekanan ((Ball & Bindler, 2003).

Anak usia sekolah mengembangkan kemampuan bicara seperti pada orang

dewasa, akan tetapi mereka mengalami kesulitan dalam mengekspresikan dirinya

secara verbal karena kesulitan menghadapi masalah yang rumit atau hipotesis

(Muscari, 2005). Selain itu, Muscari (2005) menjelaskan bahwa anak usia

sekolah beranggapan bahwa penyakit disebabkan oleh sesuatu dari luar dirinya.

Mereka juga menyadari perbedaan tingkat keparahan suatu penyakit.

E. Aplikasi teori Comfort pada anak penderita demam

Kolcaba (2003) menjelaskan bahwa comfort (rasa nyaman) didefinisikan sebagai

   

18   

comfort dapat meningkatkan perasaan sejahtera, dan klien merasa lebih kuat. Comfort juga dapat dipahami oleh klien dari berbagai tingkat perkembangan dan

orang tua dapat menjadi bagian dari program perawatan yang utuh.

Teori Comfort (Kolcaba, 2003) menjelaskan bahwa klien memiliki 3 kebutuhan

yaitu:

1. Relief yaitu kondisi yang dapat meredakan atau meringankan ketidaknyamanan.

2. Ease yaitu kondisi dimana tidak ada ketidaknyaman spesifik.

3. Transcendence yaitu kemampuan untuk melampaui ketidaknyamanan ketika rasa

tidak nyaman tersebut tidak dapat dikurangi atau dihindari.

Selain ketiga kebutuhan rasa nyaman (comfort) tersebut di atas, Kolcaba (2003) juga

menjelaskan bahwa teori ini memiliki konteks nyaman yaitu fisik, lingkungan,

sosiokultural, dan psikospiritual. Konteks fisik berkenaan dengan sensasi tubuh dan

homeostasis. Konteks lingkungan berkaitan dengan latar belakang eksternal

pengalaman individu. Konteks sosiokultural berkaitan dengan hubungan

interpersonal, keluarga, social, tradisi keluarga, dan ritual. Konteks psikospiritual

berkenaan dengan kesadaran internal akan diri, esteem (harga diri), seksualiti, dan

makna hidup. Gangguan kenyamanan dapat terjadi di konteks fisik, lingkungan,

   

19   

Tipe perawatan dalam teori Comfort (Kolcaba, 2003) meliputi tehnikal, coaching,

dan comforting. Tipe perawatan tehnikal bertujuan untuk mempertahankan

homeostasis. Tindakan tipe perawatan tehnikal berupa penatalaksanaan demam,

pencegahan komplikasi, pemberian obat, observasi efek samping. Tipe perawatan

coaching adalah pemberian informasi (pendidikan kesehatan), promosi kesehatan,

pemberian dukungan kepada klien. Tipe perawatan comforting meliputi empati,

memberi dukungan, sentuhan, menciptakan lingkungan yang tenang, memutar musik

kesukaan klien, memberi hadiah atau kenang-kenangan.

Dalam teori Comfort, terdapat variabel intervening. Variabel ini didefinisikan

sebagai interaksi yang mempengaruhi persepsi individu tentang kenyamanan.

Variabel ini terdiri dari pengalaman masa lalu, usia, perilaku, status emosional,

sistem pendukung, prognosis, status ekonomi, dan total elemen pengalaman individu

(Kolcaba, 1994; dalam Tomey & Alligood, 2006).

Berdasarkan penelitian Clinch dan Dale (2007), orang tua dapat menularkan

ketidaknyamanan mereka kepada anaknya. Bentuk ketidaknyamanan orang tua dapat

berupa rasa cemas sebagai respon mereka melihat anak mereka demam. Dampak

ketidaknyamanan orang tua terhadap penatalaksanaan demam pada anak adalah

kesalahan atau kurang tepatnya pemberian obat antipiretik untuk anak mereka, atau

   

20   

Jalil, et al. (2007) menjelaskan bahwa pengetahuan ibu, ketakutan dan

penatalaksanaan anak demam secara mandiri oleh ibu dapat mempengaruhi proses

pengobatan demam dan kenyamanan pada anak. Ibu yang memiliki pengetahuan

tentang perawatan anak demam, akan melakukan tindakan yang tepat untuk

mengatasi demam, seperti memberikan dosis antipiretik dengan benar, mengukur

suhu dengan termometer, dan menciptakan lingkungan yang nyaman untuk anaknya.

Kurangnya pengetahuan ibu tentang perawatan anak demam menyebabkan mereka

melakukan terapi yang salah. Kesalahan mereka meliputi pemberian antipiretik

berlebihan atau kurang dosisnya, menyelimuti anak dengan selimut tebal, dan

mempunyai kenyakinan bahwa tumbuh gigi merupakan penyebab demam.

Intervensi yang dapat meningkatkan rasa nyaman anak selama prosedur yang tidak

menyenangkan atau menyakitkan (Stephens,1999; dalam Kolcaba, 2005) meliputi:

1. Persiapkan anak dan orang tua, hindari kata sakit atau nyeri atau kata-kata yang

membuat anak takut saat menjelaskan prosedur (social comfort).

2. Undang atau hadirkan orang tua saat prosedur (sosial dan psikospiritual comfort).

3. Lakukan prosedur di ruang tindakan (kenyamanan lingkungan atau

environmental comfort).

4. Posisikan anak dalam kondisi atau posisi yang nyaman saat prosedur (physical

comfort).

5. Pertahankan atmosfir atau lingkungan yang tenang dan positif (environmental

   

21   

Pengukuran rasa nyaman pada anak didasarkan pada tingkat perkembangan anak,

tempat perawatan, dan tujuan pengukuran. Beberapa cara atau skala yang dapat

dilakukan untuk mengukur kenyaman (Kolcaba, 2005) adalah :

1. Pertanyaan tertutup, hanya memerlukan jawaban ya dan tidak dapat diajukan ke

anak usia 2 sampai 3 tahun.

2. Skala kenyamanan dengan bunga daisi (Kolcaba, 1997) dapat mengukur tingkat

kenyaman anak usia 1 sampai 4 tahun.

3. Visual analog scale yaitu anak meletakkan satu titik pada garis vertikal

sepanjang 10 cm untuk menilai tingkat kenyamanan dirinya. Posisi nyaman

berada di titik teratas, sedangkan rasa paling tidak nyaman berada di titik

terbawah.

4. Skala 1 sampai 10 (skala Kusher). Perawat meminta anak menunjuk nomor yang

dianggap dapat mewakili tingkat kenyamanan yang sedang dirasakan anak.

5. Kuesioner yang diadaptasi dari General Comfort Questionaire (GCQ) dapat

digunakan untuk mengukur tingkat kenyamanan pada anak remaja.

6. Comfort Behaviors Checklist (CBC) (Kolcaba, 1997) dapat digunakan untuk

   

22   

F. Kerangka Teori

Bagan 2.1. Kerangka teori penelitian berdasarkan teori comfort (Kolcaba, 2007)

Meningkatkan pemasukan cairan, memakaikan anak pakaian yang tipis dan menyerap keringat, kompres air hangat (tepid sponge) , antipiretik, pendidikan kesehatan, promosi kesehatan, pemberian dukungan kepada pasien, empati, sentuhan, menciptakan lingkungan yang tenang, memutar musik kesukaan anak, memberi hadiah atau kenang-kenangan.

Distress : fisikal, lingkungan, sosialkultural, psikospiritual Intervensi comfort : tehnikal, coaching, comforting Comfort Anak demam Variabel intervening: pengalaman, usia, perilaku, status

emosional, sistem pendukung/support social,

prognosis, status ekonomi

Suhu normal, 36,5o- 37,5oC Perilaku anak yang

menunjukkan nyaman , diukur dengan comfort daisies, pertanyaan tertutup, VAS, GCQ, CBC, skala Kusher.

23

Dalam dokumen OLEH: Tia Setiawati (Halaman 24-40)

Dokumen terkait