• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parasit dapat dibedakan menjadi dua yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya menumpang di bagian luar dari tempatnya bergantung atau pada permukaan tubuh inangnya (host), contohnya jenis nyamuk (Culicidae), lalat (Muscidae), kecoa (Dictipotera), tungau (Parasitoformes), caplak (Acariformes), kutu (Pthiraptera), kutu busuk (Hemiptera), dan pinjal (Siphonaptera). Endoparasit adalah parasit yang dapat hidup di dalam tubuh inangnya diantaranya cacing dan protozoa (Gandahusada et. al 1998).

Menurut Levine (1995), anjing dapat terinfeksi berbagai jenis protozoa yang beredar di dalam sel darah merah, antara lain Trypanosoma rangeli, Hepatozoon canis, dan Babesia canis dan Theileria sp. Parasit ini ditularkan oleh caplak coklat anjing, Rhipicephalus sanguineus. Babesia canis terdapat pada anjing di seluruh dunia, tetapi jarang di Amerika Serikat. Parasit ini ditularkan oleh gigitan caplak dan lebih sering ditularkan oleh Rhipicephalus sanguineus, akan tetapi dapat juga ditularkan oleh Dermacentor sp., Haemaphysalis sp., dan Hyalomma sp. (Kumar et. al 2008).

Babesiosis dapat bersifat kronis, namun terkadang dapat juga bersifat akut dan menyebabkan kematian pada hewan yang terinfeksi. Infeksi parasit pada hewan dapat menyebabkan hewan kehilangan darah yang berdampak serius pada hewan tersebut (Soulsby1982) sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan, dan daya kerja. Penularan parasit ini tergantung dari populasi caplak yang menjadi vektor dari penyebaran parasit (Soulsby1982).

Rhipicephalus sanguineus

Rhipicephalus sanguineus adalah ektoparasit penghisap darah yang mempunyai peranan penting dalam bidang kesehatan hewan. Caplak dari spesies Rhipicephalus sanguineus disebut juga “the brown dog tick” dan merupakan jenis caplak yang paling sering pada anjing (Gambar 3). Secara umum tubuh caplak terbagi menjadi dua bagian yaitu gnatosoma (kepala dan toraks) dan idiosoma (abdomen) (Wijayanti 2007).

Gambar 3 Caplak Rhipicephalus sanguineus (Sumber: Ruedisueli dan Manship 2002).

Caplak ini dapat bertahan hidup pada inangnya dengan melengkapi siklus hidupnya pada lingkungan sekitar yang sesuai inang. Caplak masih dapat bertahan hidup pada suhu udara yang kurang mendukung baik suhu tinggi maupun rendah. Populasi caplak akan meningkat drastis bila suhu hangat. Caplak ini memiliki sifat toleransi terhadap perubahan cuaca (Lord 2001, Sugiarto 2005). Siklus hidup R. sanguineus membutuhkan tiga induk semang mulai dari penetasan telur hingga menjadi caplak dewasa. Induk semang yang diperlukan bisa dalam ras anjing yang sama ataupun ras anjing yang berbeda. Seluruh stadium hidup caplak ini dapat menghisap darah atau cairan tubuh kecuali pada stadium telur. Caplak dewasa akan lepas dari tubuh anjing setelah menghisap darah kemudian merayap mencari tempat berlindung di celah-celah hingga telurnya siap untuk dikeluarkan, kemudian caplak dewasa akan siap untuk bertelur di tanah. Apabila caplak tersebut mengandung protozoa (Babesia sp. dan Theileria sp.) dalam tubuhnya, kemudian caplak ini menggigit anjing maka anjing tersebut kemungkinan akan mengalami infeksi protozoa (James dan Leah 2001).

Gambar 4Siklus hidup Rhipicephalus sanguineus(Sumber: James dan Leah 2001).

Betin Dewasa Nimfa Nimfa Larva Larva Telur

Babesia sp.

Menurut Levine (1995) Babesia diklasifikasikan sebagai berikut: Phylum III : Apicomplexa

Subclass : Piroplasmia Ordo : Piroplasmida Family : Babesiidae Genus : Babesia Spesies : Babesia sp. Morfologi

Babesia sp. Merupakan parasit obligat intraseluler dengan induk semang adalah anjing, ruminansia, dan satwa liar. Pada induk semang Babesia sp. berhabitat di dalam sel darah merah, biasanya bentuknya berpasangan seperti buah pir yang membentuk sudut pada kedua ujungnya, kadang-kadang dapat juga dijumpai yang tidak berpasangan (Gambar 6). Menurut OIE (2010), ukuran Babesia sp. diperkirakan panjang 1-1.5 µm dan lebar 0.5-1.0 µm. Ada dua bentuk Babesia yaitu bentuk yang besar (sudutnya kecil) misalnya Babesia bigemina dan Babesia motasi serta Babesia bentuk yang kecil (sudutnya lebih besar daripada bentuk yang besar). Babesia divergens dan Babesia ovis (Levine1995). Babesia sp. adalah parasit darah yang dapat menyebabkan babesiosis. Penyakit ini sering ditemukan di daerah yang beriklim tropis, subtropis, dan beriklim sedang (Astyawati et. al 2010). Babesia canis dan Babesia gibsoni paling sering ditemukan pada anjing (Cleveland et. al 2002; OIE 2010).

Siklus Hidup

Secara umum Babesia sp. dalam siklus perkembangbiakannya dilakukan secara aseksual (skizogoni) yang terjadi pada induk semang dan seksual (gametogoni dan sporogoni) yang terjadi pada caplak (Gambar 5). Penyebaran babesia dimulai ketika inang tergigit caplak yang mengandung babesia dalam bentuk gametosit. Dalam tubuh caplak, babesia mengalami periode gametogoni yaitu terjadi perkawinan antara mikrogamet dan makrogamet lalu membentuk

zigot. Tahap selanjutnya zigot berkembang menjadi ookinet (Uilenberg 2006). Ookinet dapat menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung, ookinet akan membesar di tempat ini dan disebut ookista. Di dalam ookista dibentuk ribuan sporozoit (ini yang disebut dengan periode sporogoni). Beberapa sporozoit menembus kelenjar ludah caplak dan bila caplak menggigit anjing makas porozoit masuk kedalam darah anjing dan mulailah siklus pre eritrositik.

Gambar 5 Siklus Hidup Babesia sp. (Sumber: Gardiner et. al 2002).

Perkembangan secara aseksual pada tubuh induk semang (anjing) dimulai pada saat caplak mengisap darah, dengan menginokulasikan sporozoit Babesia sp. melalui kelenjar ludah ke dalam tubuh anjing sebagai hospes perantaranya. Sporozoit kemudian akan mengikuti sistem limfe dan membentuk trofozoit dan selanjutnya menginfeksi sel parenkim hati, dan dalam beberapa hari membentuk badan yang berinti banyak disebut skizont. Dalam perkembangannya skizont akan membentuk merozoit di dalamnya. Semakin banyak jumlah merozoit dalam skizont akan menyebabkan skizont ini pecah. Skizont yang pecah kemudian melepaskan ribuan merozoit ke dalam aliran darah. Merozoit lalu menginfeksi eritrosit, kemudian berubah menjadi trofozoit muda yang kemudian matang dan

tropozoit Bentuk amoboid pembelahan Bentuk piriforom merozoit Bentuk “criciform” Infeksi pada usus Vektor caplak Infeksi tropozoit Sirkulasi pada induk semang vertebrata

berubah menjadi skizont. Skizont kembali pecah dan kembali melepaskan merozoit yang akan menginfeksi eritrosit lain (Gardiner et. al 2002).

Gejala Klinis

Pada anjing, Babesia memasuki eritrosit dan dapat menyebabkan kenaikan suhu dan frekuensi nafas (Skotarczak 2008; Duh et. al 2004). Gejala yang tampak adalah, hemoglobinuria, ikterus, dan splenomegali (Yatim dan Herman 2006; Skotarczak 2008; Crnogaj et. al 2010). Gejala infeksi kronis yang nampak adalah demam, kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan sehingga anjing menjadi lemah, anoreksia (Skotarczak 2008; Sugiarto 2005; Crnogaj et. al 2010). Gejala infeksi akut yang nampak adalah ikterus dan anemia. Anemia terjadi ketika sel darah merah diinfestasi oleh parasit sehingga menyebabkan kelainan pada sel darah merah berupa permukaan yang tidak teratur. Bentuk sel darah merah yang tidak teratur ini akan mempengaruhi kandungan hemoglobin yang mengikat oksigen. Kemudian sel darah merah yang mengalami kelainan tersebut akan dikeluarkan dari sirkulasi oleh limpa (Price dan Wilson 2003). Adanya infestasi parasit juga dapat menyebabkan terjadinya hemolisis (intravaskuler) yang kemudian menyebabkan terjadinya anemia (Taylor et. al 2007). Berikut adalah gambaran infeksi Babesia sp. dalam darah:

Gambar 6 Babesia canis (A) dan Babesia gibsoni (B) pada sel darah merah anjing (Sumber: Cleveland et. al2002).

Theileriasp.

Menurut Levine (1995) Theileria diklasifikasikan sebagai berikut:

Phylum : Apicomplexa

Class : Sporozoa

Subclass : Piroplasmodia Ordo : Piroplasma Family : Theileriidae Genus : Theileria Spesies : Theileria sp. Morfologi

Bentuk Theileria sp. yang paling dominan adalah bentuk batang yang memiliki ukuran diperkirakan 1.5-2.0 x 0.5-1.0 µm. Bentuk lain yang sering dijumpai pada eritrosit yaitu bentuk oval, bundar, dan bentuk menyerupai koma (Gambar 7) (Soulsby 1982).

Gambar 7 Bentuk Theileria parva (bentuk-bentuk piroplasma dalam eritrosit) (Sumber:Soulsby 1982).

Siklus Hidup

Daur hidup Theileria sp. selain terjadi dalam tubuh caplak juga terjadi pada tubuh induk semang (Gambar 8). Daur hidup terdiri dari stadium sporozoit, skizon, merozoit, dan gamon. Sporozoit merupakan bentuk infektif yang masuk ke dalam tubuh anjing melalui gigitan caplak. Sporozoit menginfeksi inang melalui sistem limfe menuju jaringan limfoid terutama limfonodus dan limpa yang berkembang membentuk badan berinti yang banyak disebut skizont. Skizont ini berada dalam sitoplasma limfosit membentuk merozoit. Merozoit bergerak masuk ke dalam eritrosit kemudian terjadi binnary fussion di dalam eritrosit.

Beberapa merozoit masuk ke dalam eritrosit lain membentuk gamon (Siegel et. al 2006).

Selanjutnya gamon memasuki daerah intestinal nimfa caplak membentuk mikrogamon. Mikrogamon ini berinti empat, kemudian membelah membentuk mikrogamet dengan satu inti kemudian bergabung dengan makrogamet membentuk zigot. Zigot akan masuk ke dalam epitel usus dan mengalami transformasi membentuk kinet. Kemudian kinet bergerak mengikuti aliran limfe dan memasuki kelenjar saliva caplak dan mengalami perubahan menjadi sporoblast (Bishop et. al 2004). Sporoblast akan menghasilkan ribuan sporozoit. Sporozoit inilah yang kemudian menginfeksi mamalia melalui gigitan caplak yang terinfeksi (Siegel et. al 2006).

Gambar 8 Siklus hidup Theileria sp. (Sumber : IRLI 2006).

Gejala Klinis

Theileria sp. merupakan parasit pada hewan yang dapat menyebabkan theileriosis. Theileriosis adalah kondisi tubuh yang terinfeksi Theileria dan dapat

Sporozoit Limfosit Limfoblast tropozoit Sporozoit Sporoblast Kinet Zigot Kelenjar saliva Pencernaan caplak Merogoni Merozoit Skizon Gamet Piroplasma dalam eritrosit Parasit menyebar ke dalam sel

menyebabkan terjadinya anemia yang disertai demam, diarre dan pembengkakan kelenjar-kelenjar limfe. Menurut Morzaria (1990) patogenesitas Theileria untuk setiap spesies berbeda-beda tergantung kepada strain parasit, tingkat kepekaan inang dan jumlah parasit. Theileria mutans adalah salah satu jenis yang dikenal benign. Theileria mutans mengalami limfositik merogoni, pembelahan terjadi di eritrosit dan menyebabkan piroplasma parasitemia dan hemolitik anemia pada inang. Gejala klinis pada hewan yang terinfeksi Theileria yaitu letargi, anoreksia, membran pucat, hipertermia, hiperglobinuria, splenomegali, trombocytopenia, dan anemia (Simoes et. al 2011).

Darah

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah dan sel darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah (Evelyn 2006). Darah berfungsi sebagai media transportasi, yaitu membawa nutrisi dari saluran pencernaan menuju jaringan, produk akhir metabolisme dari sel menuju organ eksresi, oksigen dari paru-paru menuju jaringan, karbondioksida dari jaringan menuju paru-paru, berperan dalam mengatur suhu tubuh, menjaga konsentrasi ion hidrogen tubuh dan pertahanan terhadap serangan mikroorganisme (Cunningham 2002).

Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan. Sel darah terdiri dari tiga jenis eritrosit, leukosit, dan trombosit. Unsur ekstraseluler darah termasuk air, elektrolit, protein, glukosa, enzim, dan hormon terdapat dalam plasma. Eritrosit memiliki fungsi dalam pengangkutan oksigen ke jaringan dan membawa karbondioksida dari jaringan pada tubuh karena adanya hemoglobin di dalam butir darah merah (Colville dan Joanna 2002). Tekanan oksigen yang tinggi, temperatur yang rendah, dan pH yang tinggi dalam kapiler paru-paru menyebabkan pembentukan oxyhemoglobin. Sedangkan pada saat tekanan oksigen yang rendah, temperatur yang tinggi, dan pH yang rendah di jaringan menyebabkan pelepasan oksigen dari hemoglobbin (Ganong 2001). Fungsi hemoglobin adalah mengikat oksigen untuk dibawah ke jaringan. Leukosit berperan dalam pertahanan tubuh.

Anemia adalah suatu kondisi dimana jaringan kekurangan oksigen. Jaringan yang kekurangan oksigen bisa disebabkan oleh karena penurunan jumlah butir darahmerah (BDM), penurunan kadar hemoglobin, dan penurunan nilai hematokrit (PCV). Pada anemia dengan penurunan kadar hemoglobin disebut anemia defisiensi zat besi, dimana eritrosit menjadi berukuran kecil, mungkin dapat diperkirakan bahwa jangka hidupnya diperpanjang karena sel yang lebih muda memiliki ukuran lebih besar dibandingkan sel tua. Sebaliknya anemia tipe mikrositik adalah akibat dari sel-sel darah muda yang tidak dilepaskan ke dalam darah bersirkulasi dalam jumlah yang cukup untuk menggantikan sel-sel yang telah mati (Guyton dan Hall 2007).

Jika tubuh hewan mengalami gangguan fisiologi maka gambaran darah dapat mengalami perubahan. Perubahan gambaran darah dapat disebabkan faktor internal seperti pertambahan umur, status gizi, kesehatan, stres, siklus estrus, dan suhu tubuh. Faktor eksternal yang dapat menyebabkan perubahan gambaran darah antara lain infeksi kuman, perubahan suhu lingkungan dan fraktura terbuka. Hal lain yang diduga menjadi penyebab rendahnya jumlah eritrosit adalah investasi parasit kronis. Bila investasi parasit terjadi dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, maka sangat mungkin anjing mengalami anemia. Investasi ini terjadi akibat faktor kebersihan kandang yang kurang baik. Selain itu seringnya kontak antar anjing semakin mempermudah penularan parasit dari satu anjung ke anjing lainnya.

METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli2011 di Laboratorium Protozoologi, bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB.

Objek Penelitian

Penelitian ini menggunakan anjing ras Doberman dan ras Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok. Jumlah anjing yang digunakan dalam penelitian ini adalah tujuh ekor ras Doberman (empat ekor jantan dan tiga ekor betina yang berumur lebih dari tiga tahun) dan tujuh ekor ras Labrador Retriever (lima ekor jantan-dua ekor betina yang berumur lebih dari tiga tahun) anjing-anjing tersebut merupakan anjing impor yang sudah didomestikasi tanpa diberikan perlakuan apapun dan sebelum melakukan aktivitas rutin pelatihan anjing pelacak (Patmawati 2007; Aggayasti 2007).

Pengambilan Sampel Darah

Pengambilan darah dengan spuit pada anjing melalui vena cephalica antibrachii lateralis dan vena femoralis sebanyak 2 ml setelah dilakukan pemeriksan klinis terhadap anjing tersebut (Patmawati 2007; Anggayasti 2007).Setelah semua sampel darah diperoleh, sampel darah langsung dibawa dengan menggunakan termos dingin ke laboratorium Fisiologi Departemen Anatomi, Fisiologi & Farmakologi FKH IPB untuk langsung dilakukan pengamatan. Lama perjalanan dari Kennel Subdit Satwa POLRI sampai Laboratorium Fisiologi FKH IPB adalah 2-3 jam (Patmawati 2007; Anggayasti 2007).

Pembuatan Preparat Ulas Darah

Pembuatan preparat ulas darah dilakukan di Laboratorium Fisiologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Darah yang telah disiapkan diteteskan ke atas object glass/gelas objek, kemudian ditempelkan ujung gelas objek yang lain dengan membentuk sudut kurang lebih 45o, setelah itu gelas objek didorong dengan

kecepatan konstan sehingga didapatkan ulasan yang tidak terlalu tebal. Ulasan yang didapat dikeringkan di udara selama 3-5menit, setelah kering dilakukan fiksasi ulasan dalam metanol selama 5 menit. Ulasan kemudian dicelupkan ke dalam pewarna giemsa selama kurang lebih 30 menit. Ulasan kemudian diangkat dan dicuci menggunakan air yang mengalir sampai air bilasan tidak membawa warna giemsa dan dikeringkan di udara.

Pengamatan Ulas Darah

Hasil preparat ulas darah yang telah diwarnai, dengan Giemsa 10%, diamati di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 1000 X dengan minyak emersi. Selanjutnya dilakukan penghitungan dengan rumus:

Jumlah parasit/500 RBC x 100% (Alamzan et. al 2008).

Penghitungan darah mulai dilakukan jika ditemukan parasit pada satu lapang pandang, jika dalam satu lapang pandang tersebut jumlah eritrosit belum mencapai jumlah lima ratus maka penghitungan dilanjutkan terhadap eritrosit pada lapang pandang yang lain meskipun dalam lapang pandang tersebut tidak ditemukan lagi parasit. Dalam penghitungan eritrosit rata-rata dilakukan pada 3-4 lapang pandang untuk mencapai angka lima ratus eritrosit.

Analisis Data

Setelah dilakukan penghitungan rataan persentase parasit dalam darah selanjutnya dilakukan analisa statistik menggunakan softwere SPSS 16 dengan Uji t berpasangan (Dahlan 2001).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi Berdasarkan Morfologi

Berdasarkan hasil identifikasi preparat ulas darah anjing ras Doberman dan Labrador Retriever yang berasal dari kepolisian Kelapa Dua Depok, ditemukan dua jenis parasit darah yang mempunyai habitat di dalam sel darah merah (intraseluler) yaitu Babesia sp. dan Theileria sp., keduanya merupakan parasit darah yang sering menginfeksi hewan kecil diantaranya anjing. Phenzhorn (2006) melaporkan bahwa jenis parasit dalam sel darah merah hewan liar yang biasa ditemukan adalah jenis Babesia sp. dan Theileria sp. Dari ketujuh preparat ulas darah anjing ras Doberman ditemukan protozoa parasit darah dan dari setiap preparat ulas darah dapat ditemukan lebih dari satu jenis parasit darah yaitu Babesia sp. dan Theileria sp., begitupun dengan anjing ras Labrador Retriever dari ketujuh ekor anjing ditemukan protozoa parasit darah dan dari preparat ulas darah dapat ditemukan lebih dari satu jenis parasit Babesia sp. maupun Theileria sp. dari pemeriksaan tersebut semua anjing terinfeksi parasit Babesia sp. dan Theileria sp.

Protozoa parasit yang terlihat pada pemeriksaan preparat ulas darah merupakan protozoa intraeritrositik berbentuk seperti buah pir berpasangan dengan warna yang lebih gelap dibandingkan sitoplasma dari sel darah merah. Karakteristik ini sesuai dengan morfologi Babesia sp. (Cleveland et. al 2002) dan merupakan parasit eritrositik (Gambar 9). Selain Babesia sp. ditemukan pula protozoa parasit yang mengarah pada morfologi dari Theileria sp. pada preparat ulas darah yang diperiksa terlihat parasit yang berbentuk batang dan dan bentuk yang menyerupai koma dengan warna yang lebih gelap dibandingkan sitoplasma dari sel darah merah (Gambar 10). Karakteristik ini sesuai dengan morfologi Theileria sp. Menurut Soulsby (1982) bentuk Theileria sp. yang paling dominan adalah bentuk batang.

Infeksi parasit ini dapat menyebabkan perubahan gambaran darah pada hewan yang terinfeksi. Menurut Bandini (2001), jenis kelamin tidak mempengaruhi tingkat infeksi parasit. Akan tetapi jika ditemukan parasit dengan jumlah yang lebih banyak pada salah satu jenis kelamin maka kemungkinan hal

tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain faktor stres pada hewan. Tingkat stres pada hewan akan mempermudah infeksi parasit darah, karena kondisi yang menurun akan menyebabkan daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh akan menurun pula sehingga lebih rentan terhadap infeksi parasit.

Babesia sp.

Babesia sp. merupakan salah satu jenis parasit darah yang berasal dari filum apicomplexa dan famili Babesiidae. Dalam sel darah merah bentuk Babesia sp. berpasangan seperti buah pir berbentuk sudut pada kedua ujungnya, akan tetapi kadang-kadang dijumpai bentuk yang tidak berpasangan. Ukuran Babesia sp. diperkirakan memiliki panjang 1-1.5 µm dan panjang 0.5-1.0 µm (Soulsby 1982). Dua spesies dari genus Babesia yang dominan menginfeksi anjing, yaitu Babesia canis dan Babesia gibsoni. Babesia canis ini terbagi lagi menjadi tiga subspesies, yaitu Babesia canis canis, Babesia canis vogeli dan Babesia canis rossi (Caccio et. al 2002). Babesia canis memiliki bentuk menyerupai buah pir dan memiliki diameter 2.5-5.0 mikron, meruncing pada salah satu ujungnya dan pada ujung lain tumpul, dan berpasangan (Hunfeld et. al 2008). Masing-masing subspesies ini dapat dibedakan berdasarkan analisis rangkaian gen rRNA dan perbedaan sifat alami dan virulensinya pada anjing. Babesia canis canis dilaporkan paling sering menginfeksi anjing ras Doberman (Chauvin et. al 2009).

Gejala klinis yang biasanya terlihat pada anjing yang terinfeksi babesia berupa gejala demam, hemoglobinuria, ikterus, dan splenomegali (Yatim dan Herman 2006; Skotarczak 2008; Crnogaj et. al 2010). Gejala kronis yang yang biasanya terlihat adalah demam, kehilangan nafsu makan hingga menyebabkan bobot badan menurun (Skotarczak 2008; Sugiarto 2005; Crnogaj et. al 2010). Infeksi babesia dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kematian pada hewan (Nasution 2007).

Gambar 9 Babesia sp.(A) hasil pengamatan dan Babesia sp. dengan pembesaran 1000 X dan Babesia sp.(B) berdasarkan literatur (Cleveland et. al 2002).

Theileria sp.

Theileria merupakan parasit darah yang berasal dari filum apicomplexa dan famili Theileriidae. Menurut Soulsby (1982) bentuk Theileria yang paling dominan adalah bentuk batang yang memiliki ukuran diperkirakan 1.5-2.0 x 0.5- 1.0 µm (Kaufmann 2001). Akan tetapi sering juga ditemukan bentuk lain yang sering dijumpai pada eritrosit yaitu bentuk oval, bundar, dan bentuk yang menyerupai koma 0.5 x 2.0 µm (Kaufmann 2001). Jenis Theileria yang sering menginveksi anjing yaitu Theileria annae (Dixit 2010). Simoes et. al (2011) menyatakan bahwa gejala klinis pada hewan yang terinfeksi Theileria sp. dapat berupa letargi, anoreksia, membran pucat, hipetermia, hiperglobinuria, splenomegali, trombositopenia, dan anemia.

Gambar 10 Theileria sp. (A) hasil pengamatan dengan pembesaran 1000 X dan Theileria sp. (B) berdasarkan literatur (Kaufmann 2001).

A B

Presentase Parasitemia

Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan diperoleh hasil nilai parasitemia yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Rataan persentase parasit pada anjing ras Doberman dan Labrador retriever.

Jenis anjing n Persentase parasit Babesia

Persentase parasit Theileria

Doberman 7 0. 6857± 0.1952 0.6486±0.2930

Labrador Retriever 7 0. 6771 ±0.1035 0.6857±0.0962

Keterangan: Hasil menunjukan hubungan yang tidak berbeda nyata ( p>0.1).

Tingkat parasitemia diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat ringan (mild reaction) yaitu bila ditemukan 1-4 parasit darah per 500 eritrosit (parasitosis <1%), tingkatan kedua adalah tingkat lebih berat (servere reaction) bila ditemukan 5-10 parasit per 500 eritrosit (parasitosis 3%), sedangkan tingkatan yang ketiga adalah tingkat berat sekali (very servere reaction) yaitu bila ditemukan lebih dari sepuluh parasit per 500 eritrosit (parasitosisnya 5-9%) (Birkenheuer et. al 2003; Camacho 2004).

Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa tingkat parasitemia Theileria sp. dan Babesia sp. pada anjing ras Doberman dan ras Labrador Retriever, nilai tersebut menunjukan bahwa tingkat parasitemia masih dalam stadium ringan (mild reaction) yaitu kurang dari 1 %. Mengacu dari referensi di atas, tingkat parasitemia yang kurang dari 1% hanya menyebabkan terjadinya parasitiasis (Soulsby 1982). Parasitiasis adalah keadaan dimana infeksi parasit belum menimbulkan lesi jelas atau tanda klinis pada induk semangnya. Menurut Simoes et. al (2011), gejala klinis dapat terjadi jika tingkat parasitemia dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi jika infeksi parasit terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi antar parasit dalam darah, tingkat parasitemia yang rendah (<1%) dapat memicu timbulnya gejala klinis (Birkenheuer et. al 2003).

Faktor yang dapat memicu timbulnya gejala klinis yaitu faktor eksternal misalnya tatalaksana pemeliharaan, suhu, dan musim, sedangkan faktor internal yang dapat memicu timbulnya suatu gejala klinis misalnya status imunitas individu dan status nutrisi seperti defisiensi vitamin dan asam folat (Guyton dan

Hall 2007). Tingkat stres pada hewan juga akan mempermudah infeksi parasit darah, karena kondisi yang menurun akan menyebabkan daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh akan menurun pula sehingga lebih rentan terhadap infeksi parasit. Penularan parasit darah dari satu hewan ke hewan lainnya dapat diperantarai oleh vektor seperti caplak. Infestasi caplak dalam jumlah banyak dapat menyebabkan timbulnya gejala klinis berupa anemia, karena caplak ini akan menghisap darah (James dan Leah 2001).

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya Patmawati (2007) dan Anggayasti (2007) melaporkan bahwa anjing-anjing yang diambil darahnya ditemukan investasi caplak dalam jumlah yang banyak. Caplak merupakan vektor dari parasit darah Babesia sp. dan Theileria sp. Peningkatan jumlah caplak diduga dapat

Dokumen terkait