• Tidak ada hasil yang ditemukan

Limbah Sayuran

Menurut Hadiwiyoto (1983), sampah pasar yang banyak mengandung bahan organik adalah sampah-sampah hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan daun-daunan serta dari hasil perikanan dan peternakan. Limbah sayuran adalah bagian dari sayuran atau sayuran yang sudah tidak dapat digunakan atau dibuang. Limbah buah-buahan terdiri dari limbah buah semangka, melon, pepaya, jeruk, nenas dan lain-lain sedangkan limbah sayuran terdiri dari limbah daun bawang, seledri, sawi hijau, sawi putih, kol, limbah kecambah kacang hijau, klobot jagung, daun kembang kol dan masih banyak lagi limbah-limbah sayuran lainnya. Namun yang lebih berpeluang digunakan sebagai bahan pengganti hijauan untuk pakan ternak adalah limbah sayuran karena selain ketersediaannya yang melimpah, limbah sayuran juga memiliki kadar air yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan limbah buah-buahan sehingga jika limbah sayuran dipergunakan sebagai bahan baku untuk pakan ternak maka bahan pakan tersebut akan relatif tahan lama atau tidak mudah busuk.

Limbah sayuran berpotensi sebagai bahan pakan ternak, akan tetapi limbah tersebut sebagian besar mempunyai kecenderungan mudah mengalami pembusukan dan kerusakan, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk memperpanjang masa simpan serta untuk menekan efek anti nutrisi yang umumnya berupa alkaloid. Dengan teknologi pakan, limbah sayuran dapat diolah menjadi tepung dan silase dapat digunakan sebagai pakan ternak. Manfaat dari teknologi pakan antara lain dapat meningkatkan kualitas nutrisi limbah sebagai pakan, serta dapat disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama sebagai

cadangan pakan ternak saat kondisi sulit mendapatkan pakan hijauan (Syananta, 2009).

Limbah sayuran akan bernilai guna jika dimanfaatkan sebagai pakan melalui pengolahan. Hal tersebut karena pemanfaatan limbah sayuran sebagai bahan pakan dalam ransum harus bebas dari efek anti-nutrisi, terlebih toksik yang dapat menghambat pertumbuhan ternak yang bersangkutan. Limbah sayuran mengandung anti nutrisi berupa alkaloid dan rentan oleh pembusukan sehingga perlu dilakukan pengolahan ke dalam bentuk lain agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam susunan ransum ternak (Rusmana et al., 2007).

Tabel 1. Kandungan nutrisi beberapa limbah sayuran

Nama Bahan

Kandungan Nutrisi dalam 100% BK

Air Abu Protein Lemak Serat

Kasar Karbohidrat Daun Wortel a 86,22 2,66 3,61 0,23 1,38 5,90 Daun Kol a 93,64 0,29 1,26 1,26 1,73 1,65 Buncis b 90,96 0,59 2,26 0,22 2,34 - Kol b 83,61 1,76 3,03 0,48 3,75 - Sawi b 93,82 1,30 1,42 0,15 1,03 - Klobot Jagung c - 2,80 5,33 0,61 48,19 -

Sumber : a Balai Riset dan Standarisasi Industri Manado (2014). b Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak UNILA (2015). c Syananta (2009).

Pengolahan limbah sayuran untuk pakan alternatif ternak berpotensi untuk membantu menekan biaya pakan ternak yang umumnya dapat mencapai 70% dari seluruh biaya usaha tani ternak, serta untuk membantu dalam penyediaan bahan pakan ternak dengan jumlah kebutuhan pakan ternak kambing atau domba per hari per ekor mencapai 4% dari bobot badan, sehingga untuk satu ekor kambing dan domba dengan bobot badan 20 – 30 kg membutuhkan 0,8 – 1 kg pakan (Saenab dan Retnani, 2011).

Fermentasi

Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi sederhana yang melibatkan mikroorganisme. Proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan zat-zat makanan seperti protein dan energi metabolis serta mampu memecah komponen kompleks menjadi komponen sederhana (Zakariah, 2012). Fermentasi terbagi atas dua jenis, yakni homofermentatif dan heterofermentatif. Homofermentatif adalah fermentasi yang produk akhirnya hanya berupa asam laktat. Contoh homofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan yoghurt. Heterofermentatif adalah fermentasi yang produk akhirnya berupa asam laktat dan etanol sama banyak. Contoh heterofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan tape (Belitz et al., 2009).

Eko et al. (2012) menyatakan bahwa tujuan dari fermentasi yaitu untuk mengubah selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui dipolimerisasi dan memperbanyak protein mikroorganisme.

Limbah sayuran memiliki beberapa kelemahan sebagai pakan, antara lain mempunyai kadar air tinggi (91,56%) yang menyebabkan cepat busuk sehingga kualitasnya sebagai pakan cepat menurun. Oleh karena itu, limbah sayuran tidak bisa diberikan langsung kepada ternak perlu diolah terlebih dahulu untuk mempertahankan kualitasnya. Pengolahan dengan cara fermentasi telah mampu mengawetkan dan mempertahankan kualitas sampah organik sebagai bahan pakan (Muktiani et al., 2006).

Selama proses fermentasi terjadi, bermacam-macam perubahan komposisi kimia. Kandungan asam amino, karbohidrat, pH, kelembaban, aroma serta

perubahan nilai gizi yang mencakup terjadinya peningkatan protein dan penurunan serat kasar. Semuanya mengalami perubahan akibat aktivitas dan perkembangbiakan mikroorganisme selama fermentasi. Melalui fermentasi terjadi pemecahan enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana. Selama proses fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, selain dihasilkannya enzim juga dihasilkan protein ekstraseluler dan protein hasil metabolisme kapang sehingga terjadi peningkatan kadar protein (Sembiring, 2006).

Pakan

Kandungan zat makanan yang penting untuk diperhatikan dalam ransum kambing adalah energi dan protein. Protein banyak terdapat pada jaringan otot dan dapat digunakan sebagai sumber energi. Anggorodi (1990), menambahkan bahwa protein merupakan zat yang esensial bagi kehidupan karena zat tersebut merupakan protoplasma aktif dalam semua sel hidup. Protein merupakan bagian utama dari susunan saraf dan bagian penting dari tulang kerangka yang memberikan kekuatan dan kekenyalan pada tulang tersebut. Jika diberi pakan yang kandungan proteinnya melebihi kebutuhan hidup pokok ternak, produksi dan reproduksi, maka dalam batas-batas tertentu protein akan di deaminasi dalam hati untuk digunakan sebagai sumber energi.

Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (direnggut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian atau jenis

disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama didaerah tropis meskipun sering dipotong/direnggut langsung oleh ternak (Hartadi et al., 1997).

Rumput kolonjono memiliki komposisi kimia sebagai berikut; bahan kering 91,60 %, bahan organik 88,57%, protein kasar 6,82%, serat kasar 31,24 %, lemak kasar 1,63%, abu 16,63%, BETN 44,19%, kalsium 0,35% dan phosphor 0,87% (Harfiah , 2007).

Konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan pakan yang kaya karbohidrat dan protein seperti dedak padi, jagung kuning dan bungkil-bungkilan. Menurut Darmono (1993), bahwa pakan penguat atau konsentrat adalah pakan yang berasal dari biji-bijian dan mengandung protein

yang cukup tinggi dan mengandung serat kasar kurang dari 18%. Hartadi et al. (1997), menambahkan bahwa konsentrat adalah suatu bahan pakan

yang dipergunakan bersama bahan pakan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan makanan dan dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen (pelengkap) atau makanan pelengkap. Pakan penguat atau konsentrat diberikan dengan tujuan menambah nilai gizi pakan, menambah unsur pakan yang defisiensi dan meningkatkan konsumsi pakan (Murtidjo, 1993). Konsentrat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sumber protein dan konsentrat sumber energi. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energi apabila mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar 18%, sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20% (Tillman et al., 1991).

Tabel 2. Kebutuhan nilai nutrisi domba untuk pertumbuhan BB (Kg) BK Energi Protein Ca (g) P (g) (Kg) %BB ME (Mcal) TDN (Kg) Total (g) DD 5 0.14 2.8 0.60 0.61 51 41 1.91 1.4 10 0.25 2.5 1.01 1.28 81 68 2.30 1.6 15 0.36 2.4 1.37 0.38 115 92 2.80 1.9 20 0.51 2.6 1.80 0.50 150 120 3.40 2.3 25 0.62 2.5 1.91 0.53 160 128 4.10 2.8 30 0.81 2.7 2.44 0.67 204 163 4.80 2.3

Sumber: Haryanto dan Andi (1993)

Kebutuhan ternak akan zat-zat gizi bervariasi antar species ternak dan umur fisologis yang berlainan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan zat gizi antar lain adalah jenis kelamin, tingkat produksi keadaan lingkungan serta aktifitas fisik ternak. Zat makanan yang diperlukan ternak dapat dipisahkan menjadi komponen utama antara lain energi, protein, mineral dan vitamin. Zat-zat makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi (Haryanto, 1992).

Parakkasi (1995), menyatakan bahwa pemberian konsentrat terlampau banyak akan meningkatkan energi konsentrasi pakan yang dapat menurunkan tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi energi sendiri dapat berkurang.

Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat tergantung pada jenis, umur, fase pertumbuhan (dewasa, bunting dan menyusui), kondisi tubuh (normal atau sakit), dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban dan nisbi udara) serta bobot badannya. Jadi setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda (Kartadisastra, 1997).

Domba

Ternak domba termasuk dalam phylum Chordata, kelas Mammalia, ordo Artiodactyla, subfamili Cuprinae, famili Bovidae, genus Ovis dan spesies Ovis aries (Damron dan Stephen, 2006). Subfamili Cuprinae berasal dari dataran tinggi di daerah pegunungan dan berkembang menjadi spesies, subspesies, varietas serta ras-ras lokal tertentu. Ternak domba dari Asia tersebar kesebelah barat antara lain Mediterania, termasuk Eropa dan Afrika serta kesebelah timur tersebar ke daerah subkontinen India dan Asia Tenggara (Devendra dan Mc Leroy. 1982).

Menurut Freer dan Dove (2002) domba merupakan ternak yang pertama kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara dan Eropa sampai ke Afrika. Di Indonesia, domba dikelompokkan menjadi 1. Domba ekor tipis (Javanese thin tailed); 2. Domba ekor gemuk (Javanese fat tailed); 3. Domba Priangan atau dikenal juga sebagai domba garut.

Pada awalnya proses pembudidayaan domba lebih banyak menggunakan sistem penggembalaan di padang pastura, namun sistem ini banyak terdapat kelemahan seperti area pastura yang semakin berkurang, manajemen pemeliharaan yang buruk, terlalu banyak parasit dan pendapatan yang diperoleh sedikit dan seiring dengan berkembangnya industri peternakan domba, metode pemeliharaan ternak mulai beralih ke sistem kandang (Ensminger et al., 1990).

Pendapat lain menyatakan bahwa bobot badan dewasa dapat mencapai 30-40 kg pada jantan dan betina 20-25 kg dengan persentase karkas 44-49% (Tiesnamurti, 1992).

Sistem Pencernaan Domba

Sistem pencernaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari saluran pencernaan yang dilengkapi dengan beberapa organ yang bertanggung jawab atas pengambilan, penerimaan dan pencernaan bahan pakan dalam perjalanannya menuju tubuh (saluran pencernaan) mulai dari rongga mulut sampai ke anus. Disamping itu sistem pencernaan bertanggung jawab pula atas pengeluaran (ekskresi) bahan-bahan pakan yang tidak terserap atau tidak dapat kembali (Parakkasi, 1995).

Proses utama pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik atau mikroba. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan dalam mulut dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh kontraksi otot sepanjang usus. Pencernaan enzimatik atau kimawi dilakukan oleh enzim yang dihasilkan oleh sel-sel dalam tubuh berupa getah-getah pencernaan (Tillman et al.,1991).

Saluran pencernaan pada ternak ruminansia lebih panjang dan lebih kompleks dibandingkan dengan saluran pencernaan ternak lainnya. Pada ternak ruminansia modifikasi lambung dibedakan menjadi empat bagian yaitu, rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab) dan abomasum. Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8% dan abomasum 7-8% (Prawirokusumo, 1994).

Ruminansia secara spesifik mampu mensintesis asam-asam amino dari unsur-unsur yang dihasilkan oleh berbagai proses yang terjadi di dalam rumen. Itulah sebabnya ruminansia mampu mengkonsumsi urea (yang merupakan

non-NH3 dan merupakan bahan utama pembentukan asam-asam amino. Selain dari bahan pakan yang dikonsumsinya, kebutuhan tubuh ruminansia terhadap protein juga dipenuhi dari mikroba rumen (Sodiq dan Abidin, 2002).

Komponen Non Karkas

Non karkas ternak adalah hasil pemotongan ternak yang terdiri dari, kepala, kulit, organ-organ internal, kaki bagian bawah dari sendi karpal dan kaki, sendi tarsal dan kaki belakang (Soeparno, 2005). Menurut Sembiring et al. (2006) persentasi bobot non karkas dapat diperoleh dengan pembagian bobot non karkas (kulit, kepala, kaki, hati, limpa paru-paru, trakea, jantung, testis, lemak omental, ekor) dengan bobot tubuh kosong dikali 100%.

Bagian mamalia non karkas adalah bagian tubuh hewan mamalia selain karkas yang layak dimakan seperti kepala (terdiri dari otak, lidah, hidung, telinga dan tetelan kepala), kulit, kikil, ekor, tulang, kaki dan jeroan, setelah diberi perlakuan pembersihan yang cukup sehingga layak digunakan sebagai bahan pangan ( Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, 2015).

Non karkas merupakan hasil pemotongan ternak selain karkas dan lazim disebut offal. Non karkas terdiri dari bagian yang layak (offal edible) dan tidak layak dimakan (offal non edible). Hasil pemotongan ternak selain karkas adalah bagian non karkas. Non karkas terdiri dari bagian yang layak dimakan dan yang tidak layak dimakan (Soeparno, 2005).

Komponen sisa karkas terdiri dari organ internal dan organ eksternal. Organ internal terdiri atas hati, jantung, paru-paru, sedangkan yang termasuk eksternal adalah kepala, kulit dan kaki (Whytes dan Ramsay, 1979).

Bagian non karkas meliputi bobot kulit, jeroan merah (hati, ginjal, limfa dan paru-paru), jeroan hijau kosong (lemak internal, lambung yaitu rumen, retikulum, omasum, abomasum dan usus yang telah dibersihkan dari isi saluran pencernaan), kaki, kepala dan ekor. Bobot non karkas (kg) diperoleh dari hasil penimbangan komponen-komponen non karkas. Persentase non karkas (%) diperoleh dari bobot bagian non karkas dibagi dengan bobot karkas kemudian dikalikan 100% (Juliyanti, 2013).

Ridwan (1991), dalam Ginting et al. (2011) menyatakan bahwa yang menyatakan bahwa domba yang mengkonsumsi nutrisi yang tinggi mempunyai jantung, paru-paru yang lebih berat dari pada domba yang mengkonsumsi nutrisi yang lebih rendah.

Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang bagian non karkas. Persentase karkas diperoleh dengan membandingkan bobot karkas dan bobot potong, sedangkan persentase non karkas diperoleh dengan membandingkan bobot non karkas dengan bobot potong. Penimbangan non karkas dilakukan untuk masing-masing komponen yaitu kepala, darah, organ-organ dalam kecuali ginjal keempat kaki bagian bawah, ekor, kulit dan bulu (Pubowati, 2011).

Komponen sisa karkas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, bangsa ternak adalah pengaruh bangsa yang berhubungan dengan perbedaan genetik tiap bangsa dalam mencapai ukuran dewasa, tiap bangsa terdapat perbedaan kecepatan pertumbuhan dari komponen tubuh. Akibat perbedaan tersebut akan meningkatkan perbedaan proporsi tubuh pada berat yang sama. Peningkatan kandungan konsentrat pada ransum akan menurunkan isi perut dan meningkatkan persentase karkas. Apabila pemberian serat kasar tinggi akan

meningkatkan isi perut dan menurunkan persentase karkas (Whytes dan Ramsay, 1979).

Berat karkas juga dipengaruhi oleh umur ternak, jenis kelamin, kecepatan pertumbuhan, metode pemotongan, lingkungan serta berat bagian/organ non karkas. Ternak yang diberi pakan berenergi tinggi memberikan berat, ginjal, kulit dan bulu yang lebih berat dibandingkaan ternak yang diberi pakan berenergi rendah, sedangkan kepala, kaki dan ekor ternak yang laju pertumbuhannya lambat memberikan berat yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan cepat (Murray dan Slezacek, 1978).

Menurut Soeparno (2005), bahwa perlakuan nutrisional mempunyai pengaruh berbeda terhadap berat non karkas. Berat non karkas dapat mempengaruhi berat karkas, apabila berat non karkas semakin meningkat maka perolehan berat karkas yang dihasilkan akan semakin menurun. Hal ini terjadi karena jumlah non karkas yang dihasilkan lebih banyak daripada jumlah karkas dari ternak tersebut. Pola pertumbuhan organ seperti hati, ginjal, dan saluran pencernaan menunjukkan adanya variasi, sedangkan organ yang berhubungan digesti dan metabolisme menunjukan perubahan berat yang besar sesuai dengan status nutrisionalnya.

Tobing et al. (2004) dalam Hudallah et al. (2007), menyatakan bahwa kepala dan kaki merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan yang besar pada awal kehidupan, tetapi mengalami penurunan pertumbuhan pada akhir kehidupan, sedangkan bobot kulit dan volume darah pada domba sebanding dengan bobot potongnya. Domba yang digunakan adalah domba lokal (JEK)

sehingga deposisi lemak tidak berada pada bagian ekor, tapi pada bagian lain seperti viscera dan bagian bawah kulit.

Menurut Soeparno (2005), konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat pencernaan, tetapi sebaliknya bagi berat kepala dan kaki perlakuan dan nutrisi serta spesies pastura dan pangonan pada domba tidak mempengaruhi berat kepala, kaki dan kulit pada berat tubuh yang sama.

Pada waktu lahir bagian kepala, leher dan kaki depan ternak relatif telah berkembang dengan sempurna dan setelah itu proporsi dari ketiganya menurun relatif dengan meningkatnya proporsi bagian lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, pada saat lahir sampai tercapainya bobot dewasa oleh karena jantung dan paru-paru merupakan bagian tubuh yang sangat vital proporsinya menurun

masing-masing dari 0,8% menjadi 0,6% dan dari 1,8% menjadi 1,6%. (Suhendar ,1984).

Berg dan Butterfield (1976) dalam Lusyana et al. (2014), yang menyampaikan kadar laju pertumbuhan beberapa komponen non karkas hamper sama dengan kadar laju pertumbuhan tubuh, misalnya abomasum dan usus besar mencapai kedewasaan hampir bersamaan dengan tubuh. Usus kecil tumbuh lebih cepat dari pada usus besar dan abomasum. Berat rumen retikulum dan omasum meningkat dengan cepat pada awal kehidupan post natal. Meskipun demikian berat total saluran pencernaan menurun pada saat mencapai kedewasaan.

Menurut Wilson, (1958) bahwa bobot total saluran pencernaan pada waktu lahir proporsinya meningkat terhadap bobot tubuh pada saat tercapainya dewasa tubuh.

Komponen Non Karkas Layak Dimakan (offal edible)

Di Indonesia, bagian non karkas yang layak dimakan seperti darah, kulit, kepala, ekor dan viscera (hati, jantung, paru-paru dan saluran pencernaan) juga bernilai ekonomi tinggi, karena merupakan bahan pangan yang disukai masyarakat. Beberapa komponen non karkas yang tidak layak dimakan tetapi

diolah dengan teknologi tinggi dapat memberikan keuntungan financial yang

besar (Soeparno, 2005).

Menurut Goodwin (1977), proporsi hasil pemotongan sapi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu karkas (58%), non karkas yang dapat dimakan sebesar 13%, non karkas yang tidak dapat dimakan mempunyai proporsi 13%, isi saluran pencernaan dan darah 14%, sedangkan lain-lain 2%. Komponen nonkarkas yang dapat dimakan meliputi hati, jantung, paru-paru dan saluran pencernaan.

Menurut Balkely dan Bade (1991), komponen-komponen non karkas yang tidak layak dimakan dapat diproses dan dimanfaatkan menjadi produk-produk yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Rincian pemamfaatan bagian non karkas yang layak dimakan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pemamfaatan bagian offal/non-karkas ternak kambing atau domba yang layak dimakan

Komponen non Karakas Manfaat

Otak, jantung, ginjal, hati, paru-paru, limpa, pankreas dan lidah

Aneka ragam daging

Ekor Sup

Pipi dan tetelan kepala Bahan sosis

Ekstrak daging Sup

Lambung Renet untuk pembuatan keju

Bahan sosis, aneka ragam daging

Tulang Es krim dan agar- agar

Lemak Bahan peremah kue, kembang gula,

bahan pakan kalori tinggi.

Usus kecil dan besar Selongsong sosis dan aneka ragam

Daging

Sumber : Forrest et al. (1975) dalam Linda (2014).

Tidak Layak Dimakan ( Inedible Offal)

Menurut Goodwin (1977), proporsi hasil pemotongan sapi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu karkas (58%), non karkas yang dapat dimakan sebesar 13%, non karkas yang tidak dapat dimakan mempunyai proporsi 13%, isi saluran pencernaan dan darah 14%, sedangkan lain-lain 2%, komponen non karkas yang tidak dapat dimakan yaitu tulang kepala, kuku, kulit, tanduk dan isi saluran pencernaan.

Karkas merupakan hasil utama dari suatu penyembelihan ternak dan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada non karkas. Sisa karkas dibagi menjadi dua bagian, yaitu “Edible offal” dan “Inedible offal” (Gerrard, 1997). Sedangkan “Inedible offal” adalah bagian sisa karkas yang tidak layak dimakan, misalnya tanduk, bulu, saluran kantong kemih, kulit, tulang dan esophagus.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Domba lokal Sumatera memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan domba Jawa lainnya yakni memiliki daya adaptasi tinggi terhadap iklim basah, dapat dikawinkan sepanjang tahun serta memiliki daya resistensi terhadap internal parasit sehingga pemeliharaannya tergolong sederhana. Peranan domba dalam sistem usaha tani telah nyata dalam peningkatan sumber pendapatan petani, membuka kempatan kerja serta dalam berbagai fungsi sosial. Secara umum usaha ternak domba masih bersifat tradisional sehingga perlu dilakukan upaya pengembangan.

Peternakan domba sangat bergantung pada produktivitas hijauan pakan yang menentukan keberhasilan dari peternakan tersebut. Seperti diketahui bahwa produktivitas hijauan bersifat musiman, pada saat musim hujan hijauan pakan melimpah, tetapi pada musim kemarau hijaun pakan sangat sedikit bahkan tidak ada sehingga peternakan domba dapat mengalami penurunan produktivitasnya. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan upaya pencarian pakan alternatif pengganti hijauan pakan pada musim kemarau.

Mengingat bahwa ketersediaan lahan semakin sempit, baik sebagai tempat

berusaha maupun sebagai sumber pakan semakin terbatas, maka pemanfaatan sumber daya alternatif untuk menjamin kelanjutan serta efisiensi usaha ternak domba merupakan tuntutan mendesak yang perlu ditangani. Saat ini dibutuhkan suatu pemecahan masalah pakan untuk ternak domba. Salah satu faktor pembatas laju peningkatan suatu usaha peternakan yaitu ketersediaan pakan dan merupakan faktor pembatas terbesar adalah pembiayaan produksi peternakan.

Limbah sayuran selama ini menjadi sumber masalah bukan hanya karena bau yang ditimbulkan tetapi juga karena limbah pasar dapat menjadi sarang atau sumber penyakit dan sumber ketegangan sosial. Padahal tumpukan limbah dapat menjadi sumber nutrien yang berlimpah dan tidak sedikit nilainya. Jika dapat mengelolaanya dengan teknologi yang baik dan benar. Limbah organik saat ini bukan hanya digunakan untuk mendukung pertanian saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam bidang peternakan dan perikanan terutama limbah sayuran dan buah-buahan.

Limbah sayuran berpotensi sebagai bahan pakan ternak, akan tetapi limbah tersebut sebagian besar mempunyai kecenderungan mudah mengalami pembusukan dan kerusakan, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk memperpanjang masa simpan serta untuk menekan efek anti nutrisi yang umumnya berupa alkaloid. Dengan teknologi pakan, limbah sayuran dapat diolah menjadi tepung dan silase dapat digunakan sebagai pakan ternak. Manfaat dari teknologi pakan antara lain dapat meningkatkan kualitas nutrisi limbah sebagai pakan, serta dapat disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama sebagai cadangan pakan ternak saat kondisi sulit mendapatkan pakan hijauan.

Dengan demikian maka ketersediaan pakan yang kuantitatif dan kualitatifnya dapat terjamin sepanjang tahun sehingga produksi hasil ternak

Dokumen terkait